Cerita Silat Kho Ping Hoo
Serial Petualang Asmara
Jilid 40
AKHIRNYA
terdengar tarikan napas panjang, kemudian disusul suara dara itu. Halus lirih
dan mengandung isak tertahan, "Aku... aku cinta kepadamu bukan karena
kebaikanmu... aku cinta padamu karena engkau... dan aku menerimamu dengan
segala cacat celamu. Kau telah melakukan penyelewengan yang sudah kau sadari...
sudahlah, hal itu tak perlu dibicarakan lagi... dan anak itu... dia anakmu yang
harus kita rawat baik-baik..."
"Hong
Ing...!" Kun Liong terisak dan menjatuhkan diri berlutut di depan dara
itu. "Betapa mulia hatimu...!"
Sejenak Hong
Ing berdiri menunduk, air matanya bercucuran, lalu dia juga menjatuhkan diri
berlutut dan merangkul Kun Liong. Keduanya saling berpelukan, berciuman sambil
menangis, keharuan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu.
"Hong
Ing, engkau dewiku, engkau mulia dan berbudi...!"
"Hushhh,
aku merasa malu kepada Hwi Sian jika kau berkata demikian, terlalu memujiku.
Dialah wanita yang amat mencintamu..."
"Keliru,
Hong Ing. Dia telah mencelakakan diri sendiri. Dia mengira bahwa cinta hanyalah
hubungan badan... tapi sudahlah, betapa pun juga, Hwi Sian telah membuktikan
cintanya dengan mengorbankan diri untuk membantuku. Dan semua memang
kesalahanku... aku dulu terlalu nakal suka menggoda wanita, sungguh pun
godaanku tidak terlalu mendalam, tidak memancing hubungan badan namun telah
mendatangkan akibat-akibat yang sangat menyedihkan. Dahulu sebelum aku berjumpa
denganmu... ahh, harus kuceritakan semua kepadamu…"
Sambil duduk
di atas rumput dan saling berangkulan, Kun Liong lalu menceritakan semua
riwayatnya, semua petualangannya dengan banyak wanita yang dijumpainya, tentang
Yo Bi Kiok yang kini menjadi guru adik kandungnya dan yang menunjukkan cinta
terhadap dirinya, cinta yang garang dan mengerikan, kemudian dia bercerita pula
tentang wanita lain yang dijumpainya, di antaranya mendiang Souw Li Hwa, Cia
Giok Keng, Liem Hwi Sian dan Lauw Kim In, kemudian Pek Hong Ing sendiri.
Menceritakan betapa dahulu dia menggoda mereka itu.
Setelah
mendengarkan semua penuturan yang terus terang dari kekasihnya, Hong Ing
tersenyum lalu berkata. "Dengan menceritakan semua itu kepadaku berarti
bahwa mulai saat ini engkau telah menghentikan semua perbuatan itu."
"Memang
dahulu aku bodoh dan dungu sesuai dengan kepalaku yang gundul. Akan tetapi
sejak bertemu denganmu, perasaan yang luar biasa telah membuka mataku. Dahulu
aku memang sombong dan pongah, bodoh dan..."
"Dan
petualang asmara yang canggung!"
"Petualang
asmara?"
"Ya,
engkau seorang petualang asmara yang canggung dan yang sekarang terjerat oleh
asmara itu sendiri. Sekarang, sudah mengertikah engkau apa artinya
mencinta?"
Kun Liong
memeluk. "Sudah mengerti, kekasihku. Karena engkau yang telah mengajarku,
dengan sikapmu yang sederhana dan terbuka. Cintamu kepadaku begitu tulus dan
polos bersih, dan biarlah aku mencontohmu. Aku cinta padamu karena engkau
adalah engkau, Hong Ing, aku mencintamu dari ujung rambut kepalamu sampai ke
kuku jari kakimu, tidak ada kecualinya, aku mencintamu dengan segala kebaikanmu
dan semua keburukanmu, dengan segala kesempurnaanmu sampai kepada segala
cacatmu, apa bila memang ada keburukan dan cacatmu. Karena dengan cinta kasih,
tidak adalah cacat dan keburukan itu."
Hong Ing
balas memeluk dan suaranya agak manja ketika dia berkata, "Dan aku
hanyalah calon isterimu yang setia, bodoh dan penurut..."
"Suci
Hong Ing...! Liong-twako...!"
Sepasang
muda mudi yang sedang berpelukan itu cepat melepaskan diri masing-masing lantas
meloncat berdiri. Sambil tersenyum mereka memandang Bun Houw yang sedang
berlari-larian mendaki lereng itu dari bawah.
Cia Bun How,
putera pendekar Cia Keng Hong ini masih berada di Tibet. Kok Beng Lama menuntut
kepada Ketua Cin-ling-pai itu agar dia boleh menurunkan ilmu-ilmunya kepada Cia
Bun Houw yang sudah menjadi muridnya. Tadinya, Biauw Eng merasa keberatan, akan
tetapi karena suaminya merasa bahwa Bun Houw berhutang nyawa kepada kakek itu,
pula melihat bahwa kakek itu mempunyai ilmu kepandaian yang amat tinggi,
terpaksa meluluskan. Untuk menyenangkan hati isterinya, Cia Keng Hong menjanjikan
kepada Kok Beng Lama untuk kelak mengirim Bun Houw ke Tibet dan berguru
kepadanya setelah puteranya itu berusia lima belas tahun.
Kok Beng
Lama maklum bahwa suami isteri pendekar yang lihai itu ingin menanamkan
dasar-dasar kepandaian mereka kepada putera mereka lebih dulu, maka dia pun
setuju, hanya minta agar anak itu diperbolehkan tinggal di situ dan kelak
kembali ke Cin-ling-san bersama Kun Liong.
Demikianlah,
Cia Keng Hong dan isterinya kembali ke Cin-ling-san dan meninggalkan Bun How di
tempat itu. Pada pagi hari itu, Bun Houw berlari-lari dan memanggil-manggil Kun
Liong dan Hong Ing yang sedang duduk bercakap-cakap di lereng bukit.
"Ehhh,
Sute, ada apakah engkau berlari-lari menyusul kami?" Hong Ing bertanya
setelah anak itu tiba di depannya.
"Suhu
memanggil Suci dan Twako."
Mereka
bertiga lalu menuruni lereng, kembali ke markas yang sedang dibangun kembali
itu. Kok Beng Lama sudah menunggu mereka di bangunan samping yang masih utuh,
dan setelah mereka menghadap, dia menyuruh Bun Houw untuk keluar dari ruangan
dan bermain-main di luar.
"Kun
Liong dan Hong Ing," katanya ramah, "pinceng sudah mengetahui akan
hubungan kalian dan pinceng merasa gembira sekali serta memberi restu. Akan
tetapi, mengingat bahwa umur Hong Ing sudah cukup, pinceng minta kepadamu
mengirim pinangan agar hari pernikahan dapat ditetapkan dengan segera."
Mendengar
ini, wajah Hong Ing menjadi merah sekali. "Ihhhh... Ayah...!" katanya
sambil berlari keluar!
Kok Beng
Lama tertawa. "Engkau tentu mengerti, Kun Liong, bahwa penghargaan yang
terutama bagi seorang gadis adalah pinangan, karena hanya pinangan saja yang
menjadi bukti bagi seorang pemuda bahwa dia mencinta gadis itu dan
menghendakinya sebagai isterinya. Pinceng tahu bahwa selain kalian berdua sudah
saling mencinta dengan penuh kesetiaan, juga bahwa engkau sudah tidak punya
ayah bunda, dan pinceng pun sudah setuju, akan tetapi demi menghargai diri Hong
Ing, engkau harus mengajukan pinangan secara resmi."
Kun Liong
menunduk. "Hal itu sudah kami bicarakan tadi, Locianpwe. Saya akan pergi
ke Cin-ling-san, mengajak Adik Bun Houw pulang ke sana, sekalian minta tolong
kepada Supek dan Supek-bo untuk mengajukan pinangan secara resmi serta
menetapkan hari pernikahan itu. Akan tetapi... saya hanyalah seorang pemuda
sebatang kara yang... yang miskin dan..."
"Hushhh!
Apa kau kira bahwa pinceng hendak menjodohkan anak pinceng dengan harta
benda?"
"Maaf,
Locianpwe."
"Sudahlah,
kau berangkat hari ini juga dan ajaklah Bun Houw. Sampaikan pula salamku kepada
Cia Keng Hong Taihiap dan isterinya."
"Maaf,
saya tidak dapat berangkat hari ini karena ada satu urusan lagi yang harus saya
selesaikan lebih dulu."
"Huh,
apa lagi?!" kakek itu membentak.
Pada saat
itu, Hong Ing datang berlari. Tadi dia tidak pergi jauh, hanya bersembunyi di
balik pintu dan mendengarkan percakapan antara kekasihnya dengan ayahnya, maka
kini mendengar ucapan Kun Liong, dia cepat berlari masuk.
"Ayah,
aku dan dia mau pergi ke Kuil Kwan-im-bio di rumah mendiang Gak-taihiap untuk
mengambil seorang anak yang dititipkan di kuil itu."
"Huh?
Apa? Anak siapa?"
Hong Ing
yang merasa khawatir kalau-kalau kekasihnya yang jujur itu akan menceritakan
rahasianya bersama mendiang Hwi Sian, cepat-cepat mendahului Kun Liong dan
berkata, "Tahukah Ayah tentang suami isteri yang tewas di sini pada saat
mereka membela kami berdua? Mereka itu adalah murid-murid Gak-taihiap di
Secuan, sahabat-sahabat dari Kun Liong. Mereka telah mengorbankan diri demi
kami berdua, dan pada saat terakhir mereka minta kepada Kun Liong agar kami
berdua suka merawat anak mereka yang ditinggalkan di kuil itu. Bagaimana
menurut pendapat Ayah? Sesudah ayah bundanya tewas demi membela kami, apakah
kami tidak seharusnya memenuhi permintaan mereka itu?"
Kok Beng
Lama termenung, mengerutkan alisnya lalu mengangguk-angguk. "Tentu saja...
tentu saja! Aku akan membencimu apa bila kau tidak memenuhi permintaan mereka
itu. Nah, cepat ambil anak yang ditinggalkan itu. Kasihan dia!"
"Ayah,
aku bersama Kun Liong akan ke Secuan menjemput anak itu dan selain itu..."
"Apa
lagi?" Ayahnya membentak.
"Kami
berhutang budi kepada orang tuanya, maka, kami berdua telah bersepakat untuk
mengambil anak itu sebagai anak kami."
"Huh!
Belum menikah sudah mempunyai anak! Tapi... aku akan benci kalian kalau kalian
tidak melakukan itu!"
Hong Ing dan
Kun Liong berlari ke luar dan setelah tiba di luar bangunan itu, Kun Liong
merangkul kekasihnya dengan hati penuh keharuan.
"Hong
Ing, engkau..., engkau seorang dewi yang berhati mulia..."
Hong Ing
membalas pelukan Kun Liong, melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu dan
berkata lirih manja, "Ahh, aku hanyalah calon isterimu yang bodoh..."
Maka
berangkatlah Kun Liong dan Hong Ing ke Secuan. Setelah bertemu dengan Poa Su It
yang berduka sekali mendengar mengenai kematian sute dan sumoi-nya, mereka lalu
diajak oleh Poa Su It mengunjungi Kuil Kwan-im-bio kemudian dari ketua nikouw
(pendeta wanita) mereka menerima seorang anak perempuan yang baru berusia tiga
empat bulan!
Seorang anak
perempuan yang mungil dan sehat sekali karena sejak kecil, juga sesudah
ditinggalkan oleh ibunya, dia dipelihara secara baik oleh para nikouw di
Kwan-im-bio yang memanggilkan seorang inang pengasuh, dibesarkan dengan air
susu sapi.
Kun Liong
memandang anak itu dengan jantung seperti ditusuk-tusuk rasanya. Anaknya!
Keturunan dan darah dagingnya! Dia terharu sekali, apa lagi ketika melihat
betapa Hong Ing meraih dan memondong anak itu dengan penuh kasih sayang!
Poa Su It
merasa girang sekali dan berkali-kali menghaturkan terima kasih bahwa Kun Liong
dan Hong Ing, calon suami isteri itu, suka mengambil Mei Lan, demikian nama
anak itu, sebagai anak mereka! Tentu saja dia tidak pernah tahu bahwa anak itu
sebenarnya adalah anak Kun Liong! Disangkanya bahwa anak itu adalah anak Hwi
Sian dan Tan Swi Bu, hasil dari hubungan mereka sebagai suami isteri!
"Harap
Poa-toako suka merahasiakan pemungutan anak ini supaya kelak anak ini tidak
mengetahui bahwa dia hanyalah anak pungut," Kun Liong berkata.
"Tentu
saja! Sejak hari ini namanya menjadi Yap Mei Lan, anak Ji-wi berdua,” Poa Su it
menjawab. "Aku sudah merasa bingung sekali mendengar akan kematian ayah
bundanya, sama sekali tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan anak ini.
Syukur bahwa Ji-wi sudi mengambilnya sebagai anak memenuhi pesan terakhir
mereka."
Kun Liong
dan Hong Ing lalu berpamit kembali ke Tibet membawa Mei Lan bersama inang
pengasuhnya yang juga diajak untuk merawat anak itu, karena Hong Ing belum
memiliki pengalaman merawat anak kecil sehingga merasa khawatir dan tidak
berani.
Sesudah tiba
kembali di Tibet, Kun Liong lalu meninggalkan anak itu bersama Hong Ing dan
mengajak Bun Houw untuk meninggalkan Tibet, kembali ke Cin-ling-san. Kok Beng
Lama dan Hong Ing mengantar keberangkatan mereka sampai di ujung lereng pertama
dan Kun Liong didesak sampai berkali-kali mengucapkan janji bahwa dia tidak
akan lama pergi dan akan cepat mengajak Cia Keng Hong dan isterinya untuk
datang mengajukan pinangan yang dinanti-nanti itu.
***************
Cia Giok
Keng berjalan dengan wajah bersungut-sungut, ada pun Lie Kong Tek berjalan
melangkah dengan langkah-langkah tetap di belakangnya. Keduanya tidak bicara,
hanya berjalan dengan sunyi di dalam panas terik matahari siang itu.
Hati Giok
Keng mendongkol bukan kepalang. Telah berhari-hari dia melakukan perjalanan
bersama Kong Tek dan selama ini merasa betapa hatinya semakin tertarik dan
semakin kagum terhadap pemuda tinggi besar ini. Tampak jelas olehnya alangkah
jauh bedanya pribadi Kong Tek kalau dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain
seperti Kun Liong dan terutama sekali Bu Kong.
Pemuda ini
gagah perkasa, kuat dan tahan menderita, juga jujur dan pendiam, tak banyak
cakap, tidak pula suka menggodanya, bahkan sama sekali tidak pernah memujinya,
apa lagi menjilat atau bermuka-muka! Hal ini yang menimbulkan rasa kesal dan
mendongkol di hatinya.
Semua pemuda,
bahkan semua laki-laki yang dijumpainya, sudah pasti akan memandang dirinya
dengan sinar mata jelas membayangkan kekaguman, mata laki-laki yang bersinar
kagum dan kurang ajar, yang ceriwis dan nakal, namun yang diam-diam memuaskan
dan membuat hatinya bangga karena semua itu membuktikan kecantikan dan daya
tariknya. Akan tetapi Kong Tek memandangnya biasa saja, tanpa sinar berapi dan
kagum, bahkan seolah-olah dia dipandang sama seperti kalau pemuda itu memandang
pohon, awan, atau tanah saja! Mengkal hatinya!
Sudah
berkali-kali dia sengaja memancing perhatian Kong Tek, hanya untuk memancing
pujian, memancing pandang mata penuh gairah dan kagum, akan tetapi hasilnya
sia-sia belaka. Betapa pun dia menggigiti bibirnya sampai menjadi merah dan
basah hampir berdarah, betapa dia menyanggul rambutnya atau mengurainya hingga
terlepas panjang sampai ke pinggul, betapa dia mengatur pakaiannya hingga
serapi-rapinya, atau mencuci muka dan menggosoknya sampai kedua pipinya menjadi
kemerahan dan segar laksana sepasang buah tomat, betapa dia bergaya sampai
merasa menjadi seorang sripanggung pemain opera, hasilnya sia-sia saja! Sama
halnya dengan bersolek dan bergaya di depan sebuah patung mati yang berhati
batu!
Apa lagi
pengalamannya tadi yang membuat dia cemberut dan bersungut-sungut, penuh
kekecewaan dan kemendongkolan hati. Dia tadi sudah memancing pemuda itu dengan
omongan dan masih terngiang di telinganya jawaban-jawaban Kong Tek yang membuat
bibirnya makin cemberut.
Tadi mereka
sedang duduk di bawah pohon rindang, berlindung dari terik panas matahari.
Sambil mengusap peluhnya dari muka dan lehernya dengan sapu tangan, dia
berkata, "Lie-toako, kalau aku teringat akan pengalaman-pengalamanku di
Pek-lian-kauw, masih bergidik ngeri dan bangkit bulu tengkukku. Untung aku
tertolong, kalau tidak... hemmm, entah apa jadinya dengan diriku."
"Memang
kau beruntung sekali tidak jadi menjadi isteri Liong Bu Kong, Nona."
Sebutan nona
itu sudah mulai membuat hatinya tidak senang. Sudah beberapa kali dia
mengatakan bahwa pemuda itu tidak selayaknya menyebut dia nona sesudah mereka
menjadi sahabat, akan tetapi pemuda itu selalu lupa dan menyebutnya nona
sehingga dia tidak peduli lagi untuk menegurnya.
"Mengapa
beruntung, Toako?" dia mendesak.
"Ya,
beruntung karena tidak jadi isteri orang seperti dia."
"Lalu
pantasnya aku menjadi isteri orang macam apa, Toako?"
"Hemm,
pantasnya menjadi isteri seorang yang tidak seperti Liong Bu Kong."
"Siapa
misalnya?" Giok Keng mendesak lagi.
Kong Tek
menggerakkan kedua pundaknya yang lebar. "Entahlah, pendeknya yang tidak
jahat dan palsu seperti Bu Kong."
Hening
sejenak dan hati Giok Keng sudah mulai tidak puas. Sukar betul membongkar hati
dan perasaan pemuda ini. Dari tindakan dan pembelaannya yang berani
mempertaruhkan nyawa, dia merasa yakin bahwa pemuda ini cinta kepadanya. Akan
tetapi dia tidak pernah menyatakannya, baik dari pandang mata, mau pun suara
mulut atau gerak-geriknya. Hal inilah yang membuat dia penasaran dan
tersinggung ‘harga dirinya’!
"Ehh,
Toako, sekarang sudah berapakah usiamu?"
Ditanyai
usianya, Kong Tek memandang kepadanya dengan mata terbelalak heran, akan tetapi
lalu menjawab juga, "Sudah dua puluh lima tahun."
"Dan
kau sudah menjadi duda."
"Aku
belum menikah!"
"Tapi
sudah bertunangan dengan Bu Li Cun."
"Ya,
kasihan sungguh gadis itu..." Kong Tek menghela napas dan termenung.
Giok Keng
mengerutkan alisnya. Agaknya pemuda yang luar biasa ini sudah ‘patah hati’
karena kematian tunangannya itu, pikirnya.
"Lie-toako,
cinta sekalikah engkau kepadanya?"
"Hah...?"
Kong Tek balas bertanya, matanya terbelalak karena belum menangkap maksud
pertanyaan itu.
"Engkau
tentu amat mencinta mendiang Bu Li Cun itu..."
Kong Tek
menghela napas panjang dan menyusut peluh dari dahinya sambil menggeleng
kepalanya. "Nona, selama hidupku, baru satu kali itu aku bertemu dengan
dia. Semenjak kecil kami ditunangkan oleh orang tua, aku tidak pernah kenal
dengan dia, mana bisa mencinta."
Hening
sampai lama, dan akhirnya suara Giok Keng kembali memecah kesunyian, "Akan
tetapi, usiamu sudah dua puluh lima tahun, dan engkau tentu telah mempunyai
banyak pengalaman selama perantauanmu dengan suhu-mu yang lihai."
"Memang
sudah banyak aku merantau, ikut bersama Suhu yang berbudi."
"Tentu
sudah banyak, atau setidak-tidaknya ada wanita yang saling jatuh cinta
denganmu, Toako."
Pemuda itu
menunduk dan kulit mukanya agak merah, akan tetapi dia menggelengkan kepalanya
dengan keras. "Tidak ada, tidak pernah!"
"Ehh,
kenapa kau marah?"
"Aku
tidak marah."
"Akan
tetapi jawabanmu kasar sekali."
"Aku
memang belum pernah saling jatuh cinta dengan wanita."
"Hemmm,
sungguh luar biasa. Engkau tampan dan gagah perkasa, usiamu sudah dua puluh
lima tahun, dan engkau belum pernah jatuh cinta. Hebat! Akan tetapi setidaknya
tentu ada wanita yang pernah jatuh cinta kepadamu, Toako. Aku berani bertaruh
tentu pernah ada!" Kembali Giok Keng mendesak dan memancing sambil menatap
wajah itu dengan tajam dan penuh selidik.
"Tidak!"
Kembali pemuda itu menggeleng kepala keras-keras. "Tidak, aku tak
sempat...!" Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, seolah-olah tercekik
oleh kata-katanya sendiri.
"Tidak
sempat apa, Toako? Tidak sempat bermain cinta?" Giok Keng terus mendesak
dan semakin berani menggoda ketika melihat betapa pemuda itu sibuk dan bingung.
"Tidak
sempat memikirkan itu."
"Hemm,
engkau memang aneh atau... engkau tidak jujur, Toako. Kalau aku, biar usiaku
jauh lebih muda dari padamu, aku sudah sering kali dicinta orang."
Kong Tek
mengangkat muka memandang, sinar matanya nampak biasa saja, akan tetapi dia
melanjutkan, "...dan mencinta..."
Giok Keng
tersenyum, diam-diam merasa tegang dan girang, mengharapkan pemuda itu akan
merasa iri dan cemburu! "Ya, dan mencinta! Banyak sudah laki-laki yang
tergila-gila dan mencintaku."
"Memang
sudah semestinya, engkau... seorang gadis luar biasa, tentu banyak laki-laki
yang jatuh hati dan mencintamu."
Giok Keng
merasa kecelik mendengar ucapan ini. Kiranya pemuda ini sama sekali tidak
merasa iri atau cemburu, apa lagi panas hati!
"Aku
tadinya saling mencinta dengan Liong Bu Kong, bahkan hampir menjadi
isterinya."
"Engkau
tertipu dan dikuasai ilmu sihir."
"Tapi,
tadinya aku memang jatuh cinta kepada Bu Kong."
"Memang
dia tampan dan menarik, sayang hatinya kotor sekali, dan sungguh beruntung
engkau belum sampai terjatuh dalam perangkapnya, Nona."
"Jadi
engkau tidak memandang rendah kepadaku, setelah aku... aku begitu bodoh jatuh
hati kepada seorang seperti dia? Ayah sendiri sampai marah dan pernah
mengusirku."
Kong Tek
menggeleng kepala dan menghela napas panjang. "Kenapa harus memandang
rendah? Aku malah kasihan kepadamu, Nona, dan aku kagum. Engkau telah salah
pilih, bukan kesalahanmu kalau engkau jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang
pada lahirnya tampak menarik, dan aku kagum bahwa di dalam cintamu itu, biar
pun kemudian ternyata bahwa engkau telah salah pilih, tapi engkau berani
bertanggung jawab dan menanggung semua akibatnya."
Giok Keng
menarik napas panjang. Sungguh sukar sekali! Menghadapi pemuda ini sama halnya
dengan menghadapi batu karang yang kokoh kuat, yang tidak goyah sedikit pun
meski terjadi gempa bumi! Atau sebongkah bukit es yang dingin! Dia menjadi
semakin penasaran.
Di antara
segala macam pria yang telah dijumpainya di dalam hidupnya, hanya ada dua orang
yang pernah menariknya. Pertama adalah Kun Liong dan kedua adalah Bu Kong. Akan
tetapi, baru sekarang dia bertemu dengan seorang laki-laki seperti Kong Tek!
Kun Liong dan Bu Kong ternyata masih lemah, begitu jelas membuktikan kekaguman
terhadap dirinya melalui pandang mata dan kata-kata, akan tetapi pemuda ini benar-benar
seperti batu karang yang mati!
"Lie-Toako,
kenapa engkau selalu membelaku mati-matian?"
Kalau tadi
Kong Tek menghadapi semua pertanyaan gadis itu dengan tenang, sekarang dia
kelihatan gelisah dan bingung!
"Kenapa?
Hal itu sudah semestinya, Nona, sudah menjadi kewajibanku seperti diajarkan
oleh Suhu untuk menolong sesama hidup yang dilanda bahaya."
"Tetapi
engkau membelaku dengan pengorbanan diri, beberapa kali engkau menghadapi maut
demi aku. Mengapa, Toako?"
Hening
sejenak, kemudian terpaksa Kong Tek menjawab, "Aku sendiri tidak tahu,
Nona. Akan tetapi aku tidak rela melihat engkau sengsara, aku tidak akan diam
saja bila melihat engkau diancam bahaya, aku hanya ingin melihat engkau
bahagia, Nona. Seorang seperti engkau ini... pantasnya hidup dalam kebahagiaan.
Itulah agaknya yang menyebabkan aku selalu siap membelamu, Nona."
Jawaban ini
keluar dari lubuk hati Kong Tek. Memang pemuda ini selama hidupnya tidak pernah
membohong, akan tetapi ketika menghadapi desakan dan pertanyaan-pertanyaan dari
Giok Keng dia merasa bingung untuk menjawab. Gurunya telah mengatakan bahwa dia
jatuh cinta kepada gadis ini, akan tetapi dia sendiri tidak tahu bagaimanakah
rasanya jatuh cinta itu! Gurunya malah hendak menjodohkan dia dengan gadis ini
dan dia merasa betapa hidupnya akan bahagia kalau hal itu dapat terlaksana,
namun betapa mungkin dia menyatakan hal ini kepada Giok Keng? Dia merasa malu
dan khawatir kalau-kalau hal itu akan menyusahkan hati Giok Keng, hal yang paling
tidak dikehendakinya.
"Toako,
mengapa tidak bicara terus terang saja? Kalau memang engkau cinta kepadaku,
mengapa tidak mau terus terang?"
Wajah Kong
Tek berubah merah sekali. "Aku... aku..."
"Ya,
kau cinta padaku, Toako. Kau cinta padaku!" Giok Keng berkata penuh
desakan.
Ingin Giok
Keng mendengar mulut pemuda itu mengaku cinta supaya dia dapat menebus rasa
penasaran hatinya, dapat memuaskan kemendongkolan hatinya dengan mengejek dan
mempermainkan pemuda yang seperti batu karang itu!
"Ahhh...
aku... aku..."
"Toako,
awas...!"
Giok Keng
menjerit dan dia sudah melempar tubuhnya ke belakang sambil menyambar lengan
Kong Tek sehingga pemuda itu pun melempar tubuh ke belakang.
"Wirrr...
wirrrrr...!"
Dua cahaya
putih menyambar dan lewat. Ternyata itu adalah dua batang hui-to (golok
terbang) yang dilemparkan orang untuk menyerang mereka, atau mungkin hanya
untuk menggertak belaka.
Giok Keng
dan Kong Tek sudah meloncat bangun dan bersiap menghadapi lawan. Ketika mereka
memandang, mereka berdua terkejut bukan main mengenal tiga orang itu yang
ternyata adalah Thian Hwa Cinjin, Ketua Pek-lian-kauw wilayah timur, Bong Khi
Tosu pendeta Pek-lian-kauw kurus seperti tengkorak hidup, dan Hwa-i Lojin kakek
ahli pedang pesolek yang bersekutu dengan Pek-lian-kauw. Tentu saja mereka
berdua amat terkejut karena maklum bahwa mereka berhadapan dengan tiga orang
lawan yang amat tangguh, terutama sekali Thian Hwa Cinjin ketua Pek-lian-kauw
wilayah timur yang amat lihai ilmu silatnya, juga amat lihai ilmu sihirnya itu!
"Ha-ha-ha-ha,
engkau sudah mengagetkan dua ekor burung ini, Lojin!" Thian Hwa Cinjin
tertawa girang karena memang hatinya senang sekali bertemu dengan puteri
pendekar Cia Keng Hong Ketua Cin-ling-pai itu. Dia mendendam kepada Ketua
Cin-ling-pai dan kalau dia berhasil menangkap puterinya ini, dia akan dapat
membalas dendam, bahkan akan dapat memaksa kepada pendekar itu untuk membantu
Pek-lian-kauw!
"Heh-heh-heh-heh,
janda kembang ini masih muda dan cantik bukan main!" Hwa-i Lojin berkata
sambil memandang kepada Giok Keng.
"Janda
apa? Dia masih perawan, belum sempat disentuh oleh Liong Bu Kong yang tolol,
heh-heh-heh!" Thian Hwa Cinjin yang berwatak cabul itu berkata,
"Hati-hati, jangan kalian sampai melukainya, kita harus dapat menangkap
dia hidup-hidup! Sayang sekali jika kulit yang halus itu ada yang lecet!"
"Pendeta-pendeta
palsu! Munafik-munafik keparat, lahirnya saja menjadi pendeta akan tetapi
batinnya kotor dan cabul!" Lie Kong Tek sudah tidak dapat menahan
kemarahannya lagi ketika mendengar percakapan antara Thian Hwa Cinjin dan Hwa-i
Lojin itu. Dia sudah mencabut Gin-hong-kiam dan segera menyerang Thian Hwa
Cinjin sebab dia tahu bahwa di antara mereka bertiga itu, Ketua Pek-lian-kauw
inilah yang merupakan pemimpin dan kepalanya.
"Cringgg...!"
Lie Kong Tek
melompat mundur. Tangannya yang memegang pedang tergetar hebat saat pedangnya
ditangkis oleh pedang Hwa-i Lojin.
"Ha-ha-ha.
Kauwcu (Ketua), biarkan aku menghadapi pemuda ini agar Ji-wi berdua dapat
menangkap gadis itu baik-baik," kata kakek berbaju kembang dan bersikap
sombong itu sambil meloncat ke depan dan memutar pedangnya menghadapi Kong Tek.
Pemuda ini
pun mengeluarkan gerengan marah, pedang Gin-hong-kiam langsung diputar cepat
hingga tampaklah segulungan sinar perak yang menyilaukan mata. Namun sambil
tertawa, Hwa-i Lojin si ahli pedang itu menyambut serangan ini dan mereka
segera terlibat dalam pertandingan yang seru dan mati-matian.
Kembali
secara diam-diam hati Giok Keng merasa terharu menyaksikan kegagahan Kong Tek
yang selalu tanpa ragu-ragu menyerang musuh serta membelanya mati-matian. Dia
maklum betapa lihainya tiga orang itu, maka dia mengambil keputusan untuk mengamuk
dan kalau perlu mengadu nyawa dengan mereka.
"Thian
Hwa Cinjin, biarlah aku mengadu nyawa dengan engkau tua bangka busuk yang
jahat!" bentaknya.
Dara ini pun
sudah memutar pedangnya yang seperti pedang di tangan Kong Tek, juga
mengeluarkan cahaya perak yang tentu saja jauh lebih cemerlang dan hebat dari
pada gerakan Kong Tek karena memang tingkat kepandaian puteri Cin-ling-pai ini
masih jauh lebih tinggi.
"Tranggg…!
Trakkk!"
Pedang
Gin-hwa-kiam di tangan Giok Keng telah ditangkis oleh tongkat di tangan Thian
Hwa Cinjin yang tertawa-tawa. Ketika melihat pembantunya, Bong Khi Tosu maju
pula untuk membantunya, Ketua Pek-lian-kauw itu berkata,
"Jangan
bantu aku, lebih baik engkau cepat membantu Hwa-i Lojin merobohkan pemuda nekat
itu!"
Bong Khi
Tosu menarik kembali tongkatnya lalu menyerbu Kong Tek, membantu Hwa-i Lojin
yang sudah mulai mendesak sehingga keadaan Kong Tek menjadi terancam sekali.
Akan tetapi pemuda itu tidak kelihatan gentar, bahkan mengamuk semakin hebat
sambil memutar pedangnya sambil beberapa kali mengeluarkan suara bentakan hebat
bagaikan gerengan seekor singa marah.
Ada pun Giok
Keng juga repot sekali menghadapi desakan tongkat hitam di tangan Ketua
Pek-lian-kauw yang lihai itu. Yang membuat hatinya semakin gelisah lagi adalah
melihat kenyataan betapa Kong Tek dikepung dan didesak hebat, dan dia tahu
bahwa dua orang kakek yang mengepung Kong Tek itu berniat untuk membunuh pemuda
itu.
Hatinya
menjadi gelisah sekali. Kong Tek tentu akan tewas, mana mungkin pemuda itu dapat
melawan dua orang kakek itu! Ngeri dia memikirkan Kong Tek tewas, pemuda yang
dikaguminya dan yang makin lama makin merampas perhatian dan hatinya itu.
Sekarang melihat betapa pemuda itu terancam dan betapa hatinya gelisah bukan
main, barulah dia sadar bahwa sebenarnya dia jatuh cinta kepada pemuda yang
dianggapnya dingin kaku dan yang hendak digodanya itu!
"Dessss...
auggghhh...!"
"Toako...!"
Giok Keng menjerit pada saat dia mendengar keluhan pemuda itu dan melihat
betapa pemuda itu roboh bergulingan dikejar oleh dua orang kakek sambil
tertawa-tawa. Pedang di tangan Hwa-i Lojin menyambar-nyambar, sedangkan tongkat
Bong Khi Tosu kembali menghantam dan hampir saja mengenai kepala Kong Tek kalau
pemuda itu tidak cepat menggelindingkan tubuhnya.
"Toako...!"
Giok Keng segera meloncat, meninggalkan lawannya untuk menolong pemuda itu,
akan tetapi tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh Thian Hwa Cinjin
sudah menghadang di depannya sambil tertawa-tawa.
"Ha-ha-ha,
Nona Cia yang manis. Untuk apa pemuda tolol itu. Biarkan dia mampus dan disiksa
oleh Bong Khi Tosu dan Hwa-i Lojin, sedangkan kau lebih baik menyerah dan ikut
bersama pinto ke Pek-lian-kauw. Percayalah, pinto tidak hendak mengganggumu
asalkan engkau suka menurut dan menyerah."
Sementara,
itu Kong Tek sudah meloncat bangun, namun terjungkal kembali oleh tusukan
pedang Hwa-i Lojin yang sengaja hendak mempermainkannya sehingga tusukan pedang
itu hanya menyerempet paha dan menimbulkan luka berdarah, akan tetapi sama
sekali belum membahayakan nyawanya.
"Toako...
ahh...! Thian Hwa Cinjin, dengarkan aku! Aku menyerah, aku tidak melawan asal
Lie-toako tidak dibunuh. Bebaskan dia dan aku menyerah!"
"Nona
Cia, jangan...!" Kong Tek membentak dan kembali memutar pedangnya.
Akan tetapi,
Thian Hwa Cinjin sudah menjawab, "Baik!"
Dia lalu
meloncat dekat Kong Tek, tongkatnya bergerak dan pedang di tangan Kong Tek
terlempar, kemudian pemuda itu roboh oleh totokan ujung tongkat hitam yang
lihai.
"Ha-ha-ha,
serahkan pedangmu, Nona. Kami tidak akan membunuhnya!" berkata Ketua
Pek-lian-kauw itu.
Giok Keng
sudah mengenal kakek ini, maklum akan kekejaman dan kepalsuan hatinya, maka dia
berkata, "Aku menyerah, akan tetapi dia harus ditawan bersamaku pula. Baru
aku yakin bahwa kalian tidak akan membunuhnya. Kalau tidak, aku akan melawan
sampai mati!"
"Hemmm...
hemmm... untuk apa orang macam dia ini?" Ketua Pek-lian-kauw itu masih
merasa mendongkol terhadap pemuda itu yang dianggapnya sebagai penyebab
kematian Bu Li Cun, gadis yang menjadi korbannya dan yang masih dicintanya.
"Pendeknya,
mau atau tidak? Kalau tidak mau, biar aku mengadu nyawa denganmu!"
"Baiklah,
baiklah!" Lalu dia berkata kepada Bong Khi Tosu, "Bawa dia bersama
kita."
Giok Keng
terpaksa menyerahkan pedangnya dan dia mengikuti tiga orang kakek itu yang
mengajaknya ke sarang Pek-lian-kauw di muara Sungai Huai di pantai Laut Kuning.
Kali ini dia terpaksa mengalah dan menyerah demi keselamatan Kong Tek, selain
itu dia juga maklum bahwa andai kata dia tidak menyerah dia tentu akan tewas
bersama Kong Tek di bawah senjata tiga orang kakek lihai itu! Harapannya timbul
ketika di dalam perjalanan menuju ke sarang Pek-lian-kauw, Thian Hwa Cinjin
menyatakan maksud hatinya menawan Giok Keng, yaitu untuk membujuk Ketua
Cin-ling-pai untuk membantu Pek-lian-kauw.
"Asal
engkau tidak mengganggu kami berdua, aku pun tidak akan melawan, dan mungkin
Ayah akan mempertimbangkan uluran tanganmu untuk bekerja sama asal engkau tidak
mengganggu kami," demikian jawabnya.
Dan Giok
Keng benar-benar tidak melawan sampai dia bersama Kong Tek tiba di sarang
Pek-lian-kauw. Kong Tek dimasukkan ke dalam sebuah kamar yang terjaga kuat, ada
pun Giok Keng mendapat kamar di sebelahnya, juga terjaga kuat. Giok Keng
diperbolehkan pula untuk merawat dan menjenguk sahabatnya itu.
"Ahhh...
di mana kita...?" Inilah ucapan Kong Tek pertama kalinya ketika dia siuman
dan mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan di dalam sebuah kamar,
sedangkan Giok Keng duduk di atas bangku dekat pembaringannya.
"Sssttt...!"
Giok Keng menaruh telunjuk di depan bibirnya. "Kita telah kalah dan tertawan."
Mendengar
ini, Kong Tek melompat turun dan menyeringai kesakitan. Dia telah menderita
luka-luka akibat pertandingan melawan dua orang kakek lihai, namun sambil
menahan sakit dan mengepal tinjunya dia berkata, "Mari kita lawan
mereka!"
Giok Keng memegang
lengan pemuda itu. "Tenanglah, Toako. Kau perlu istirahat supaya
luka-lukamu sembuh dulu. Aku memang telah menyerah kepada mereka setelah
melihat engkau hendak dibunuh."
"Ahhh!"
Kong Tek sekarang teringat dan dia merasa tidak setuju sama sekali. "Nona,
lebih baik mereka membunuh aku dari pada engkau menyerah dan menjadi
tawanan."
"Hushh,
jangan begitu, Toako. Aku pun tidak suka melihat engkau terbunuh. Kau kira aku
orang macam apa? Kalau kau terbunuh... aku... aku..."
"Kenapa,
Nona?" Aneh sekali. Baru sekarang suara pemuda ini dicekam keharuan dan
terdengar agak gemetar.
"Aku
juga akan melawan sampai mati!"
Kini
tiba-tiba saja Kong Tek memegang kedua tangan gadis itu. Baru sekali ini dia
berani melakukan hal seperti ini, dan suaranya gemetar ketika dia berkata
tergagap, "Keng-moi (Adik Keng), kau... kau...?" Mulutnya tidak
berani melanjutkan, namun sikap dan pandang matanya merupakan pertanyaan yang
amat jelas.
Giok Keng
tersenyum, mengangguk, dua titik air mata menuruni pipinya dan dia berbisik,
"Kalau kau tidak melihatnya, berati kau... tolol atau buta,
Toako...!"
"Ehh...
siapa berani mengharapkan kehormatan itu...? Ehh… Keng-moi, aku... aku
pun..." Kembali kata-katanya macet.
"Aku
tahu, Toako, aku pun tidak buta."
Mereka
saling berpegangan tangan, kini tanpa kata-kata, hanya sinar mata mereka yang
mengandung seribu satu macam pernyataan hati yang penuh kasih sayang!
"Mereka
menawanku untuk memancing Ayah datang ke sini sebab hendak diajak bekerja sama.
Maka biarlah kita menunggu, melawan pun tiada gunanya. Hanya Ayah yang akan
dapat membebaskan kita, maka kuminta agar kau menurut saja dan tidak
memberontak."
Kong Tek
mengangguk, masih terharu oleh kenyataan bahwa gadis yang dipuja-puja dan
dikagumi, yang dicintanya semenjak pertama kali melihatnya itu, ternyata juga
jatuh cinta kepadanya!

Bong Khi
Tosu memasuki kamar tahanan itu dan minta supaya Giok Keng keluar dari situ,
kembali ke kamarnya sendiri. "Dia sudah tak perlu dirawat lagi, sudah
sembuh dan sudah kami beri obat untuk menyembuhkan semua luka-lukanya."
kata pendeta Pek-lian-kauw itu sambil menyerahkan beberapa macam obat luka yang
diterima oleh Kong Tek tanpa banyak kata-kata lagi karena pemuda ini khawatir
bahwa kalau dia mengeluarkan suara terhadap musuh ini, dia tak akan dapat
menahan kemarahannya dan akan bersikap kasar kemudian memberontak.
Mereka
berdua harus sabar menanti. Selama mereka tidak diganggu Thian Hwa Cinjin,
mereka mengambil keputusan untuk diam saja dan tidak membuat keributan,
menunggu hingga munculnya Pendekar Sakti Cia Keng Hong. Dan betapa pun
mengilarnya hati yang penuh nafsu birahi dari Ketua Pek-lian-kauw itu terhadap
Giok Keng, akan tetapi dia lebih mementingkan ‘perjuangan perkumpulannya, maka
dia tidak mau mengganggu gadis itu dengan harapan agar ayah gadis itu yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi, berikut semua anak buah Cin-ling-pai, akan
suka membantu Pek-lian-kauw.
***************
Kalau
kebetulan ada yang melihat mereka, tentu orang yang melihatnya itu akan menjadi
ketakutan dan mengira bahwa dia melihat setan. Demikian cepatnya gerakan tiga
orang itu sehingga yang tampak hanya bayangan mereka saja yang berkelebatan
cepat sekali di antara pohon-pohon, menuju ke sarang Pek-lian-kauw yang
terletak di muara Sungai Huai, di pantai Laut Kuning itu.
Mereka
melakukan perjalanan cepat bukan main, bagaikan terbang saja, tanpa banyak
cakap namun wajah mereka membayangkan ketegangan, kesungguhan, dan kemarahan.
Mereka bertiga bukan lain adalah Pendekar Sakti Cia Keng Hong, isterinya yang
gagah perkasa Sie Biauw Eng, dan yang ke tiga adalah Yap Kun Liong, pemuda yang
sudah mempunyai ilmu kepandaian amat tinggi itu, bahkan tingkatnya sudah
menandingi tingkat Pendekar Sakti Cia Keng Hong sendiri!
Pada saat
suami isteri dari Cin-ling-san ini menerima surat Thian Hwa Cinjin yang isinya
membujuk Cin-ling-pai agar mau bekerja sama untuk ‘membalas budi’ Pek-lian-kauw
yang menawan Cia Giok Keng namun tidak mau mengganggu puteri mereka itu,
kebetulan Yap Kun Liong yang membawa pulang Bun Houw sudah tiba di
Cin-ling-san.
Pasangan
suami isteri itu sedang bersiap-siap untuk pergi mengunjungi Kok Beng Lama
untuk membicarakan tentang perjodohan Kun Liong dan Hong Ing, menjadi wali
pemuda ini. Akan tetapi tiba-tiba muncul utusan Pek-lian-kauw yang menyerahkan
surat itu.
Dapatlah
dibayangkan betapa terkejut dan marah hati suami isteri itu sesudah mereka
membaca surat dari Thian Hwa Cinjin. Maklumlah Keng Hong bahwa surat itu
merupakan surat yang hendak memaksa dia untuk membantu Pek-lian-kauw, dengan
puterinya yang dijadikan sandera. Dengan menahan kemarahannya karena dia tidak
ingin mengganggu seorang utusan, Keng Hong berkata singkat kepada utusan
Pek-lian-kauw itu,
"Katakan
kepada Thian Hwa Cinjin bahwa aku akan segera datang ke sana!"
Pada waktu
Kun Liong mendengar tentang isi surat itu, seketika dia menyatakan hendak
membantu dan menyerbu Pek-lian-kauw untuk membebaskan Giok Keng. Tentu bantuan
pemuda yang lihai itu amat diharapkan oleh suami isteri Cin-ling-san dan Keng
Hong lalu berkata,
"Kita
harus berangkat sekarang juga, mendahului utusan itu dan menyerbu Pek-lian-kauw
selagi mereka belum siap-siap sehingga mereka tidak sempat mengganggu Giok
Keng."
Maka berangkatlah
tiga orang berilmu tinggi itu dengan cepat, meninggalkan Bun Houw yang dijaga
oleh para anak buah murid Cin-ling-pai, berangkat dan melakukan perjalanan amat
cepat mendahului utusan yang telah kembali itu. Di sepanjang perjalanan, mereka
mengatur siasat penyerbuan, yaitu suami isteri itu akan menyerbu dengan
berterang dari pintu gerbang depan setelah memberi kesempatan kepada Kun Liong
untuk menyelinap melalui jalan belakang sehingga pemuda itu akan dapat mencari
serta melindungi Giok Keng. Selanjutnya perjalanan dilakukan cepat tanpa banyak
cakap lagi dan tentu saja mereka dapat jauh mendahului utusan itu.
Tepat
seperti telah mereka rencanakan, mereka tiba di sarang Pek-lian-kauw itu di
malam hari yang gelap. Suami isteri itu membiarkan Kun Liong menyelinap dan
berkelebat ke arah belakang sarang itu. Mereka percaya penuh bahwa pemuda itu
pasti akan berhasil memasuki sarang musuh dari belakang. Setelah menunggu
kurang lebih seperempat jam lamanya untuk memberi kesempatan kepada Kun Liong
memasuki markas dan mencari Giok Keng, Keng Hong bersama isterinya lalu dengan
terang-terangan menghampiri pintu gerbang yang dijaga oleh enam orang anggota
Pek-lian-kauw dan menerobos masuk.
Tentu saja
para penjaga itu cepat menghadang. "Heiii, siapa kalian...?"
Seruan ini
terhenti ketika mereka mengenali Keng Hong sebagai pendekar Cin-ling-san yang
pernah menyerbu sarang itu, akan tetapi mereka tak sempat berbuat banyak karena
suami isteri itu telah bergerak cepat. Maka robohlah enam orang itu
berturut-turut tanpa dapat melawan.
Akan tetapi
keributan tadi telah menarik perhatian para penjaga di sebelah dalam. Mereka
melihat betapa enam orang penjaga itu roboh, maka cepat memukul kentungan
sebagai tanda bahaya. Keadaan menjadi gempar dan puluhan orang anak buah Pek-lian-kauw
lari berserabutan, ada yang baru bangun tidur dan saling tabrak, semuanya
berlarian hendak mempersiapkan senjata untuk menghadapi serbuan musuh. Mereka
menyangka bahwa tentu pasukan pemerintah yang datang menyerbu.
Sementara
itu. Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng sudah mengamuk dengan hebatnya. Para
anggota Pek-lian-kauw bagaikan daun-daun kering tertiup angin, terlempar ke
sana sini dan keadaan menjadi semakin kacau balau.
Thian Hwa
Cinjin tentu saja terkejut bukan main sesudah mendengar kentungan tanda bahaya
dan kemudian melihat mengamuknya sepasang suami istri itu. Dia merasa heran
sekali. Utusannya belum kembali dan menurut perhitungannya pun tentu belum
kembali dari perjalanan jauh itu, akan tetapi mengapa suami isteri itu sudah
datang mengamuk? Cepat dia mempersiapkan diri dan sejenak berunding dengan Bong
Khi Tosu dan Hwa-i Lojin.
"Kau
cepat jalankan alat rahasia di dua kamar itu agar mereka terjeblos ke dalam
kamar bawah tanah, kemudian bantu kami di luar!" katanya kepada Bong Khi
Tosu.
Tosu ini
mengangguk dan cepat lari ke belakang. Pada waktu itu, dia mengira bahwa Cia
Giok Keng dan Lie Kong Tek tentu berada di kamar masing-masing yang terjaga
kuat, dan alat untuk menjalankan alat rahasia itu berada di luar kamar. Sekali
menekan tombol, lantai kamar itu akan terjeblos ke bawah, membawa mereka berdua
terjatuh ke dalam kamar-kamar rahasia di bawah tanah yang sukar dicari oleh
orang luar.
Akan tetapi,
ketika Bong Khi Tosu sampai di tempat itu, matanya terbelalak dan mukanya
menjadi pucat sekali. Belasan orang penjaga kedua kamar itu sudah menggeletak
di luar kamar tanpa bergerak lagi! Pintu kedua kamar itu sudah terbuka, dan
kamar-kamar itu telah kosong!
Selagi dia
hendak lari ke luar, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dan tahu-tahu dua
orang tahanan itu, Giok Keng dan Kong Tek, sudah berdiri di hadapannya dengan
muka penuh ancaman!
Dua orang
ini tadi memang telah dibebaskan oleh Kun Liong setelah pemuda perkasa ini
berhasil merobohkan semua penjaga sebelum mereka sempat membuat ribut.
"Harap
kalian membantu dari dalam, aku hendak membantu Supek dan Supek-bo di
luar." Kun Liong berkata kepada mereka tanpa banyak cakap lagi, lalu
segera berkelebat pergi karena dia sudah mendengar suara ribut-ribut di luar
sarang itu, tanda bahwa suami isteri Cin-ling-san itu telah turun tangan.
Ada pun Giok
Keng dan Kong Tek segera bersembunyi dan baru muncul ketika Bong Khi Tosu
datang. Dengan kemarahan meluap kedua orang itu lalu meloncat keluar sehingga
mengejutkan tosu itu.
Maklum bahwa
tidak ada gunanya lagi untuk bicara, Bong Khi Tosu sudah menggerakkan
tongkatnya dan mengeluarkan suara menggereng yang amat hebat. Itulah ilmunya
Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang dikeluarkan dengan pengerahan khikang kuat
sekali dan yang menggetarkan jantung lawan. Lawan yang kurang kuat sinkang-nya
akan langsung roboh hanya oleh gerengan ini saja.
Namun, tentu
saja Kong Tek, apa lagi Giok Keng, tidak mudah digertak oleh ilmu ini dan
mereka langsung menerjang maju dengan tangan kosong karena pedang mereka sudah
dirampas dan entah disimpan di mana oleh Thian Hwa Cinjin.
Bong Khi
Tosu memutar tongkat dengan ganas, juga beberapa kali kakinya menyambar dengan
jurus-jurus tendangan Soan-hong-tui yang sangat dahsyat. Memang hebat ilmu
tendangan kakek ini. Kong Tek yang masih belum sembuh benar dari luka-lukanya
akibat pertandingan yang lalu, kurang cepat mengelak sehingga lambungnya
tercium tendangan, membuat dia terhuyung-huyung.
"Toako,
mundurlah, biar aku yang menandingi tua bangka ini!" Giok Keng berkata dan
cepat dara ini mainkan Ilmu Silat San-in Kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung) yang
amat hebat, yang dipelajarinya dari ayahnya sendiri.
Dengan
gerakan indah, sesudah mengelak dan membiarkan tongkat lawan lewat di atas
pundak kirinya, dia lalu menyerang dengan jurus In-keng Hong-wi (Awan
Menggetarkan Angin dan Hujan). Pukulan tangan kirinya mengandung tenaga sinkang
yang sangat kuat menyambar ke arah dada lawan disusul dorongan tangan ke arah
kepala!
Bong Khi
Tosu terkejut dan segera meloncat ke belakang sambil memutar tongkatnya.
Pukulan dara tadi membuat tubuhnya tergetar dan kalau dia tidak cepat meloncat
mundur, tentulah dia akan terkena pukulan dahsyat itu. Akan tetapi baru saja
kakinya menginjak tanah, tubuh dara itu sudah mencelat ke depan dan kini Giok
Keng sudah menghantam iganya dengan kedua tangan dilonjorkan, menyerang dengan
jurus ke tiga dari Ilmu Silat San-in Kun-hoat, yaitu jurus Siang-in Twi-san
(Sepasang Awan Mendorong Bukit).
Kembali
kakek itu terkejut. Dari kedua tangan dara yang masih muda itu tampak uap putih
yang amat kuat, bahkan ketika dia memutar tongkat melindungi tubuhnya, dua
tangannya tergetar hebat dan kembali dia terpaksa melompat ke belakang.
Pada saat
itu, Kong Tek yang merasa tidak tenang membiarkan kekasihnya maju sendiri
menghadapi musuh, sudah menubruk dari samping, lantas mengirim pukulan. Bong
Khi Tosu cepat menggerakkan tongkatnya memukul ke samping untuk menyambut
serangan pemuda yang baginya jauh lebih lunak dibandingkan dengan dara itu.
Akan tetapi sekali ini Kong Tek berlaku nekat, melihat tongkat menyambar, dia
cepat menangkap tongkat itu dengan kedua tangannya!
Bong Khi
Tosu terkejut, cepat menarik kembali tongkatnya, namun Kong Tek tidak mau
melepaskannya. Terjadilah tarik-menarik dan Bong Khi Tosu sudah menggerakkan
kaki kanannya mengirim tendangan kilat yang amat berbahaya menuju pusar lawan!
"Wirrrr...
krekkkk!"
Bong Khi
Tosu memekik keras karena kakinya telah patah tulangnya, disambar pukulan
tangan Giok Keng dari samping pada saat kaki itu tadi menendang. Sebelum dia sempat
melakukan sesuatu karena rasa nyeri itu membuat dia seperti lumpuh, Kong Tek
sudah merampas tongkatnya dan sekali tusuk, tongkat itu menancap memasuki dada
tosu itu sampai hampir tembus ke punggung saking kerasnya pemuda itu menusuk.
Bong Khi
Tosu mengeluarkan suara menggereng hebat dan tubuhnya roboh terjengkang ketika
Kong Tek mencabut tongkat sambil menendang, dan tosu itu tewas seketika.
"Mari
kita menerjang keluar!" kata Kong Tek pada waktu melihat datangnya belasan
orang anggota Pek-lian-kauw berbondong datang ke tempat itu.
Giok Keng
mengangguk dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, langsung menyambut rombongan
anggota Pek-lian-kauw terdepan, merampas pedang dan mengamuk seperti seekor
naga sakti. Juga Kong Tek menggerakkan tongkat rampasannya tadi, merobohkan
siapa saja yang berani menghadang di depan mereka!
Pertempuran
di luar sarang itu masih berlangsung dengan hebatnya. Kini Cia Keng Hong
berhadapan dengan Thian Hwa Cinjin, sedangkan Sie Biauw Eng bertanding melawan
Hwa-i Lojin. Kalau saja tidak terdapat begitu banyaknya anggota Pek-lian-kauw
yang mengeroyok, tentu dengan mudahnya suami isteri itu akan dapat mengalahkan
dua orang kakek itu.
Akan tetapi
pengeroyokan belasan orang tokoh Pek-lian-kauw dan puluhan orang anak buahnya
membuat suami isteri itu kewalahan juga! Apa lagi karena Keng Hong masih tidak
tega untuk menyebarkan maut di antara mereka, hanya merobohkan mereka tanpa membunuh.
Tapi berbeda
dengan Biauw Eng yang tidak mempunyai pantangan lagi saking marahnya. Sabuk
sutera putihnya dan dibantu dengan pukulan beracun Ngo-tok-ciang (Pukulan Lima
Racun) yang sudah lama tidak dipergunakannya lagi namun masih dilatihnya, menyebar
maut di antara para pengeroyoknya.
Nyonya ini
tidak peduli bahwa di bawah pengeroyokan ketat itu dia telah menderita dua kali
bacokan golok yang membuat pundak kirinya serta paha kanannya terluka sehingga
berdarah. Bahkan rasa nyeri di kedua tempat ini membuat dia menjadi makin ganas
dan mengamuk makin hebat.
"Supek,
teecu sudah berhasil membebaskan Sumoi dan Lie-toako yang mengamuk dari
dalam!"
Munculnya
Kun Liong dengan seruannya ini membuat hati suami isteri itu lega sekali, dan
Kun Liong tidak dapat bicara lebih banyak lagi karena dia pun sudah harus
menghadapi pengeroyokan banyak sekali anggota Pek-lian-kauw. Seperti juga Keng
Hong, pemuda ini mengamuk sambil menjaga jangan sampai dia sembarangan membunuh
orang.
Pertempuran
itu tentu akan berlangsung lebih lama lagi kalau saja tidak terjadi hal yang
mengejutkan hati Thian Hwa Cinjin dan anak buahnya. Terdengar suara
teriakan-teriakan tinggi nyaring dan menyerbulah dua puluh orang wanita yang
dipimpin oleh seorang gadis cantik yang gerakannya amat ganas dan lihai sekali!
Mereka ini langsung menyerang para anggota Pek-lian-kauw sehingga mereka itu
terkejut dan kepungan mereka menjadi cerai berai, sedangkan pemimpin rombongan
wanita itu sendiri langsung membantu Kun Liong mengamuk!
"Bi
Kiok...!" Kun Liong berseru. Dia merasa kaget, heran dan juga gembira
karena gadis bersama rombongannya ini datang-datang sudah membantunya.
"Mengapa kau berada di sini dan siapa mereka itu?"
Bi Kiok
tersenyum. Dengan tenang pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat berkelebat
tiga kali, maka robohlah tiga orang pengeroyok dengan kepala terpisah dari
tubuhnya! Kun Liong bergidik menyaksikan keganasan ini.
"Mereka
adalah anak buahku, dan aku sengaja datang untuk menghajar Pek-lian-kauw yang
sudah berani menculik seorang anak buahku. Kebetulan kita dapat berjumpa di
sini. Ini namanya jodoh!"
Kun Liong
bergidik, teringat akan desakan dara ini untuk mengajak hidup bersama. Maka dia
tidak banyak cakap lagi dan segera menerjang ke depan, melempar-lemparkan dua
orang pengeroyok yang terdekat.
Kini Keng
Hong dan Biauw Eng dapat mendesak kedua orang lawannya. Bahkan dengan pekik
melengking nyaring, sabuk sutera di tangan Biauw Eng menyambar-nyambar dan
sekaligus mengirim serangan totokan ke tujuh belas bagian jalan darah yang terpenting
di tubuh Hwa-i Lojin.
Kakek ini
terkejut, menangkis dengan pedangnya dan berusaha menangkap ujung sabuk dengan
tangan kirinya, namun hasilnya sia-sia belaka. Setelah kini langsung berhadapan
sendiri dengan kakek itu, tanpa ada pengeroyok lainnya, Biauw Eng dapat
mencurahkan perhatiannya sehingga daya serangnya amat hebat. Terdengar kakek
itu memekik keras ketika jalan darah di pinggangnya terkena totokan ujung sabuk
sutera. Dia terhuyung dan pada saat itu, ujung sabuk sutera sudah menyambar lagi.
"Cratttt...!"
Tidak begitu
jelas bagaimana caranya ujung sabuk itu menghantam, akan tetapi tahu-tahu Hwa-i
Lojin roboh terguling dan berkelojotan sekarat. Ternyata bahwa ujung sabuk
sutera tadi telah mengenai pelipis kepalanya, membuat bagian kepala yang lemah
itu retak dan tentu saja nyawanya melayang tak lama kemudian!
Melihat ini,
Thian Hwa Cinjin terkejut dan cepat dia mengeluarkan seruan keras. Tiba-tiba
dari ujung tongkatnya keluar asap hitam yang tebal. Keng Hong cepat-cepat
meloncat ke belakang, maklum betapa licik dan curangnya Ketua Pek-lian-kauw
ini.
"Semuanya
berhenti...! Jangan berkelahi...! Aku, Thian Hwa Cinjin memerintahkan kalian!
Berhenti berkelahi...!"
Suara ini
bergema menyeramkan dan mengandung kekuatan mukjijat yang menggetarkan jantung.
Keng Hong sendiri sampai tercengang dan sejenak seperti tak mampu bergerak,
demikian pula mereka yang sedang bertanding tiba-tiba berhenti dan memandang ke
arah kakek itu seperti patung-patung hidup!
"Kalian
semua berlututlah...! Berlutut dan taat terhadap semua perintahku! Dengarkanlah
baik-baik…!" Kembali suara ini memaksa banyak orang menekuk lutut di luar
kehendak mereka sendiri. Hanya Kun Liong, Keng Hong, Biauw Eng serta Yo Bi Kiok
yang masih belum bertekuk lutut sungguh pun mereka juga terpesona oleh pengaruh
mukjijat dalam suara Thian Hwa Cinjin yang kini berdiri di dalam selubungan uap
hitam itu.
Tiba-tiba
saja terdengar suara ketawa nyaring dan muncullah seorang kakek aneh yang
pakaiannya kedodoran terlalu besar, celananya kotak-kotak bajunya kembang-kembang,
kepalanya memakai kopyah bayi! Dia ini bukan lain adalah Hong Khi Hoatsu, kakek
ahil Hoatsut (sihir), guru dari Lie Kong Tek.
"Ha-ha-ha,
si tukang sulap kembali mengeluarkan ilmu hitamnya untuk menyelamatkan diri.
Ha-ha-ha-ha, betapa tidak gagahnya, alangkah curangnya. Cu-wi sekalian mengapa
berlutut? Dia hanya main gertak belaka!" Suara ketawa dari kakek ini
terdengar aneh dan mengandung kekuatan luar biasa pula yang seakan-akan
membuyarkan pengaruh ajalb yang ditimbulkan oleh suara Thian Hwa Cinjin tadi.
Semua orang
terkejut dan insyaf, lalu meloncat bangun dan mulai menyerang lagi kepada para
anggota Pek-lian-kauw!
"Hong
Khi Hoatsu keparat...!" Ketua Pek-lian-kauw itu membentak marah dan
tongkatnya digerakkan secara hebat sambil meloncat ke arah kakek itu, menerjang
dengan pukulan maut!
"Trakkk...
krekkk!"
Tongkat itu
patah menjadi dua bertemu dengan Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Harum) di tangan
Cia Keng Hong yang sudah sadar dan melindungi Hong Khi Hoatsu.
Thian Hwa
Cinjin terkejut sekali, cepat dia meloncat ke belakang dan lari masuk ke dalam
sarangnya, dengan niat untuk bersembunyi dan melarikan diri melalui lorong
rahasia.
"Sing-singgg...!"
Sinar-sinar menyilaukan mata menyambar dan mengejar kakek ini.
"Aduhhhh...!"
Thian Hwa Cinjin tidak berhasil mengelak dari semua senjata rahasia yang
dilontarkan oleh Biauw Eng kepadanya ketika dia lari. Tengkuknya kena dihantam
oleh bola putih berduri dan punggungnya menjadi sarang sebatang tusuk konde bunga
bwe. Dia terhuyung namun masih dapat berlari terus meloncat ke ruangan depan
dan pada saat itu, dari dalam muncullah Giok Keng dan Lie Kong Tek.
Ketika
mereka melihat kakek yang amat dibencinya ini hendak lari ke dalam dan sudah
terluka dan terhuyung-huyung, mereka segera menubruk ke depan dan menyerang.
Giok Keng menusukkan pedangnya dan Kong Tek menghantamkan tongkatnya ke arah
kepala kakek itu.
"Trakk!
Blesss... aughhhh...!"
Kakek itu
dapat menerima hantaman tongkat di kepalanya, membuat tongkat itu terpental
bahkan terlepas dari tangan Kong Tek, akan tetapi tusukan pedang yang dilakukan
oleh Giok Keng dengan pengerahan tenaga sinkang, menancap di ulu hatinya dan
menembus sampai ke punggungnya.
"Keparat...
kau harus mampus...!" Kakek itu masih dapat memaki dan tangannya diulur ke
depan hendak mencengkeram dada Giok Keng.
"Dessss...!"
"Lie-toako...!"
Kiranya
melihat kakek itu masih sanggup menyerang bahkan mengancam keselamatan Giok
Keng, Kong Tek cepat mempergunakan lengannya menangkis sehingga lengannya yang
kena dicengkeram oleh tangan kakek itu. Biar pun pemuda ini sudah mengerahkan
tenaganya, namun tetap saja tulang lengannya patah dan kakek itu tergelimpang,
tewas.
"Ahhh,
lenganmu...!" Giok Keng menghampiri Kong Tek dan memeriksa lengannya yang
berlumuran darah.
"Tidak
apa-apa... untung engkau selamat." Kong Tek berkata sambil tersenyum
menahan sakit.
"Toako...
kau... kau selalu berkorban untukku..."
"Hemmm,
sudah semestinya..."
Giok Keng
merobek ujung bajunya lalu membalut erat-erat luka pada lengan pemuda itu.
Ketika ayah bundanya dan Hong Khi Hoatsu menghampiri, dia masih membalut dengan
sikap penuh perhatian sehingga diam-diam Hong Khi Hoatsu tertawa dan Cia Keng
Hong bertukar pandang dengan isterinya.
Para anggota
Pek-lian-kauw membuyar dan melarikan diri setelah melihat tewasnya ketua mereka
dan para pimpinan mereka. Biauw Eng memeluk puterinya dan Giok Keng yang merasa
sudah membuat banyak kesusahan kepada orang tuanya itu, menangis di dalam
pelukan ibunya.
"Ha-ha-ha-ha-ha,
pinto sudah melihat semuanya dan kini, di depan puterimu dan isterimu,
Cia-taihiap, pinto mengulangi pinangan pinto untuk menjodohkan murid pinto Lie
Kong Tek dan puterimu Cia Giok Keng. Bagaimana?"
"Aku
menyerahkan keputusannya kepada isteriku," jawab Keng Hong sambil melirik
ke arah isterinya.
"Dan
aku menyerahkan jawabannya kepada Keng-ji," kata Biauw Eng.
"Ha-ha-ha-ha,
ehh, Kong Tek, bagaimana pendapatmu? Apakah Nona ini sudah setuju?"
"Kami
sudah saling setuju, Suhu..." Kong Tek menjawab singkat sambil menunduk.
"Keng-moi, harap kau suka menjawab agar melegakan hati para orang
tua."
Giok Keng
mengangkat mukanya yang merah sekali. "Aku... aku menyerahkan kepada Ayah
dan Ibu saja."
Keng Hong dan
isterinya saling pandang, kemudian sinar kegembiraan terpancar di wajah mereka.
"Bagus, memang sudah semestinya kalau anak selalu berunding dengan orang
tua mengenai hari depannya, karena pandangan orang tua tentu lebih mendalam dan
luas. Kami sudah setuju sekali mempunyai mantu seperti Lie Kong Tek ini,
Keng-ji." kata Keng Hong. "Marilah kita semua pergi ke Cin-ling-san
untuk membicarakan persoalan ini, dan Kong Tek harus pula beristirahat dan
berobat. Dan Kun Liong... ehh, mana dia...?"
Semua mata
menoleh dan mencari. Ternyata Kun Liong sedang berdebat dengan Bi Kiok!
"Kun
Liong. Kau tahu bahwa adikmu tidak mau berpisah dari aku, dan dia akan menjadi
murid tunggal dan ahil waris dari semua ilmuku. Kau tahu pula bahwa aku cinta
padamu, maka demi kebahagiaan kita bertiga, aku mengulang lagi permintaanku
agar engkau suka hidup bersama-sama."
Kun Liong
memandang Bi Kiok dengan wajah terharu dan dia menggelengkan kepala. "Bi
Kiok, kau maafkanlah aku. Kau terlampau memudahkan urusan jodoh. Jodoh tak
mungkin dapat dilaksanakan apa bila cinta kasih hanya datang dari sepihak saja.
Jika dipaksakan, kelak hanya akan mendatangkan kekecewaan dan penyesalan
belaka. Aku suka padamu sebagai sahabat atau saudara, akan tetapi aku sudah
jatuh cinta kepada seorang wanita lain, Bi Kiok. Aku hanya titip adikku agar
kau rawat dan didik baik-baik."
Bi Kiok
menyusut air matanya. "Baiklah, kalau kau tidak mau menjadi suamiku,
ingatlah bahwa kau akan mempunyai seorang musuh untuk selama hidupmu, yaitu Yo
Bi Kiok!" Setelah berkata demikian, wanita ini menggerakkan pedangnya
memberi isyarat kepada dua puluh anak buahnya untuk pergi dari situ.
"Bi
Kiok...!" Kun Liong memanggil. Akan tetapi gadis itu sudah pergi tanpa
menoleh lagi, sambil mengusap air matanya.
Mereka
menghampiri Kun Liong yang masih berdiri termenung memandang bayangan Bi Kiok.
"Kun
Liong, apakah yang telah terjadi? Siapa dia yang membantu kita?"
Kun Liong
baru sadar ketika mendengar suara supek-nya itu. Mukanya menjadi merah sekali.
Tentu saja dia tidak dapat menceritakan apa yang terjadi, karena semua itu
hanya akan membuka rahasianya sebagai seorang pemuda petualang asmara yang
ceriwis dan mendatangkan banyak akibat yang baru dirasakannya sekarang!
Andai kata
dia dahulu tidak suka menggoda wanita, andai kata dia tidak bersikap ceriwis
dan menggoda Bi Kiok, tidak mungkin Bi Kiok menjadi jatuh hati kepadanya dan
mengira bahwa dia pun mencinta dara itu!
"Supek,
dia adalah bekas muridnya Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci yang sudah bertobat dan
menjadi orang baik-baik, dahulu adalah sahabat saya. Bahkan... adik kandung
saya, Yap In Hong kini telah menjadi muridnya."
Ohhh...!"
Biauw Eng berseru kaget.
Mengerti
akan kekagetan dan keheranan nyonya ini, Kun Liong lalu berkata, "Saya
telah bertemu dengan Adik In Hong secara kebetulan. Akan tetapi ternyata Adik
In Hong lebih senang tinggal bersama gurunya yang sudah menolongnya itu. Yo Bi
Kiok tadi datang bersama-sama anak buahnya secara kebetulan saja karena dia pun
bermusuhan dengan Pek-lian-kauw yang telah berani menculik salah seorang anak
buahnya." Setelah menutur demikian Kun Liong tidak mau membuka mulut lebih
lebar lagi tentang diri Bi Kiok, yang berarti akan mengungkapkan semua rahasia
pribadinya.
Beramai-ramai
mereka semua lalu meninggalkan Pek-lian-kauw, menuju ke Cin-ling-san. Kun Liong
merasa lega dan gembira sekali mendengar bahwa Giok Keng akan berjodoh dengan
Kong Tek yang dianggapnya seorang pemuda gagah perkasa dan sangat pantas
menjadi menantu Ketua Cin-ling-pai.
Perjodohan
yang tadinya diusulkan oleh supek-nya, yang kemudian diputuskan oleh dia dan
Giok Keng, selama ini selalu mengganggu hatinya, membuatnya merasa tidak enak
hati terhadap supek-nya. Akan tetapi, sesudah kini Giok Keng memperoleh jodoh,
hal itu tentu saja tidak menjadikan gangguan lagi.
***************
Beberapa
bulan kemudian, dilangsungkanlah pernikahan ganda yang dirayakan secara meriah
di Cin-ling-san, yaitu pernikahan antara Yap Kun Liong dengan Pek Hong Ing, dan
Lie Kong Tek dengan Cia Giok Keng. Perayaan ini disaksikan oleh banyak tamu
yang terdiri dari orang-orang ternama di dunia kang-ouw, bahkan Yang Mulia
Menteri The Hoo sendiri berkenan menghadiri perayaan pernikahan itu dan
memberikan restunya! Tidak ketinggalan tokoh-tokoh tua terhormat seperti Thian
Kek Hwesio Ketua Siauw-lim-pai, Tio Hok Gwan pengawal setia dari The Hoo, Kok
Beng Lama, Hong Khi Hoatsu, dan para pimpinan partai-partai persilatan besar.
Hanya satu
hal yang membuat hati Kun Liong merasa agak gelisah dan tidak nyaman, yaitu
ketidak hadiran adik kandungnya beserta gurunya, yaitu Yo Bi Kiok yang
bersumpah akan menjadi musuhnya selama hidup.
T A M A T
Serial Selanjutnya : Dewi Maut
********** Sahabat Karib.com **********
Terima kasih telah membaca Serial ini.
No comments:
Post a Comment