Cerita Silat Kho Ping Hoo
Serial Sepasang Pedang Iblis
Jilid 13
Akan tetapi,
belum juga rencana ini memperoleh hasil, rombongan Koksu ini telah mengalami
hal yang menggemparkan, yang membuat Bhong Ji Kun marah bukan main karena dia
telah kehilangan dua orang pembantunya yang setia dan dapat diandalkan, yaitu
Tan Ki atau Tan-siucai, dan Thai Li Lama.
Hal itu
terjadi ketika dia dan pembantu-pembantunya bersembunyi di dalam hutan-hutan di
lereng Pegunungan Ciung-lai-san, mengurung dan mengawasi daerah tandus di kaki
gunung yang dijadikan tempat pertemuan oleh Thian-liong-pang itu. Karena daerah
pengawasan itu amat luas, mereka berpencar, demikian pula para pasukan yang
hanya beristirahat di hutan-hutan sambil bersiap-siap menanti perintah kalau
saat penyerbuan tiba.
Sehari
sebelum pertemuan tiba, pasukan pemerintah telah bersembunyi di hutan lereng
Pegunungan Ciung-lai-san itu, di antara mereka tampak Tan-siucai. Tan-siucai
yang masih penasaran karena belum berhasil membalas dendam kepada Suma Han yang
dianggap telah menyebabkan kematian tunangannya, yaitu Lu Soan Li, sekali ini
mengharapkan benar agar Suma Han muncul di tempat pertemuan. Dia maklum bahwa
dia sendiri tidak akan mampu mengalahkan musuh besar yang dianggap telah
menghancurkan kebahagiaan hidupnya itu, namun dia percaya penuh kepada gurunya
yang kini telah bergabung dengan orang-orang sakti seperti kedua Lama dan
Koksu. Dengan hadirnya tokoh-tokoh sakti ini dibantu oleh seribu orang pasukan,
mustahil kalau musuh besarnya itu akhirnya tidak akan tewas! Dia ingin sekali
memberi pukulan maut terakhir kepada Suma Han, dengan tusukan kedua pedangnya,
pedang hitam dan Hok-mo-kiam yang dibanggakannya.
Karena
menunggu adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan, dan waktu dirasakan
merayap amat lambat, Tan-siucai pergi berjalan-jalan seorang diri di dalam
hutan yang dianggapnya tempat yang paling aman. Seribu orang pasukan menjaga di
situ, dan dia sendiri memiliki kepandaian tinggi, tentu saja dia tidak takut
akan munculnya ular atau harimau. Dengan wajah berseri penuh harapan, apa lagi
mengingat akan kedudukannya sebagai pembantu koksu yang membuat hidupnya
terjamin dan penuh kemewahan dan kemuliaan, membuat dia dengan mudah memperoleh
pakaian mewah dan indah, makanan serba lezat, tidak kekurangan uang, dan boleh
dikata memungkinkannya untuk berganti teman wanita setiap malam.
Tan-siucai
melangkah perlahan mengagumi pohon-pohon dan kembang-kembang yang sedang mekar
di dalam hutan itu. Ia berjalan perlahan, hati-hati agar pakaiannya yang indah
dari sutera halus itu tidak sampai kotor oleh debu tanah atau tersangkut
tetumbuhan berduri. Senja hampir tiba, sinar matahari tidak begitu panas lagi
dan angin senja mulai bertiup seolah-olah menyampaikan selamat jalan kepada
matahari yang mulai condong ke barat, sebentar lagi akan meninggalkan permukaan
bumi sebelah sini.
Karena
dipenuhi harapan menggembirakan, Tan-siucai tersenyum-senyum, kemudian
bersenandung. Akan terjadi penyerbuan, dan dia girang mendapat kesempatan lagi
mengerjakan pedang hitamnya, memenggal leher orang, menusuk jantung lawan dari
dada sampai menembus punggung, melihat darah segar menyemprot keluar! Ha, dia
akan berpesta pora dengan pedangnya, di samping menyaksikan terlaksananya
dendam terhadap Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti, Suma Han Majikan
Pulau Es. Ha-ha, dia tertawa sendiri kalau teringat akan Pulau Es. Biar pun dia
belum berhasil membunuh musuh besar ini, namun menyaksikan tempatnya
dihancurkan dan dibakar, anak buahnya banyak yang tewas dan selebihnya terpaksa
melarikan diri menjadi buronan, dia sudah merasa girang dan puas sekali.
"Tan-siucai,
engkau kelihatan gembira sekali!" tiba-tiba terdengar suara orang menegur
dari belakangnya.
Tan-siucai
menghentikan senandungnya dan mengira bahwa yang menegurnya tentu seorang di
antara panglima pasukan. Sambil membalikkan tubuh dia tertawa dan berkata,
"Hidup hanya satu kali di dunia, mengapa tidak gembira?" Akan tetapi
ketika melihat bahwa yang berhadapan dengannya adalah seorang pemuda tampan
yang tersenyum-senyum, pemuda yang tubuhnya sedang, pakaiannya sederhana,
kuncirnya tebal hanya sebuah bergantung ke depan melalui pundak, seorang pemuda
yang sama sekali bukan panglima, bukan pula prajurit, ia menjadi sangat
terkejut.
"Engkau...
siapa...?" Tan-siucai agak tergagap karena heran, tetapi segera menyangka
bahwa tentu orang ini penduduk di lereng Pegunungan itu.
Pemuda itu
memperlebar senyumnya. "Aku setan penjaga gunung yang telah lama menanti
kesempatan ini untuk mencabut nyawamu!"
Tan-siucai
kaget dan marah mendengar ini, namun dia menjadi kaget lagi ketika tiba-tiba
tangan kiri pemuda sederhana itu dengan jari-jari terbuka meluncur ke arah
mukanya, menyerang kedua matanya. Gerakan pemuda itu cepat bukan main, dan dari
sambaran tangannya terasa hawa pukulan yang kuat! Tan-siucai tentu saja tidak
membiarkan kedua matanya dicongkel orang begitu saja. Dia cepat menarik tubuh
atas ke belakang.
"Plakk!
Rrrttttt!"
"Heiiiii...!
Kembalikan pedangku!" Tan-siucai berseru marah dan kaget sekali ketika
merasa betapa pedang Hok-mo-kiam yang selalu terselip di pinggangnya kini telah
dirampas pemuda itu. Dia sendiri tidak tahu bagaimana sampai dapat diambil dari
pinggangnya. Hanya terasa olehnya ketika ia menarik tubuh atas ke belakang
untuk menghindarkan tusukan pada matanya, pedang itu diserobot dengan kecepatan
kilat dan tahu-tahu pedang itu lenyap dari pinggangnya.
Dengan mata
terbelalak marah Tan-siucai melihat pemuda itu tersenyum-senyum sambil
mengikatkan sarung pedang ke punggungnya. Sikapnya demikian tenang sambil
tersenyum-senyum, seolah-olah pemuda itu sedang memasang pedangnya sendiri,
bukan bolehnya merampas punya orang lain.
"Kembalikan
pedangku, keparat!" Tan-siucai membentak.
Pemuda itu
bukan lain adalah Gak Bun Beng. Seperti diceritakan di bagian depan, setelah
berpisah dari Kwi Hong di pantai lautan utara, Bun Beng pergi ke kota raja
untuk mencari musuh-musuhnya. Setibanya di kota raja, kebetulan sekali ia
melihat pasukan besar dipimpin oleh musuh-musuhnya! Dia melihat Bhong Ji Kun,
Thian Tok Lama, Thai Li Lama, Maharya, Tan-siucai, Bhe Ti Kong dan para
panglima pengawal meninggalkan kota raja dengan berkuda dan melakukan
perjalanan cepat sekali. Melihat ini, Bun Beng tak berani turun tangan. Tak
mungkin dia turun tangan selagi orang-orang sakti itu berkumpul dan masih
dilindungi oleh pasukan yang besarnya kurang lebih seribu orang! Maka Bun Beng
lalu membayangi pasukan itu yang ternyata melakukan perjalanan jauh sekali
sampai berpekan-pekan.
Dan akhirnya
pasukan itu bersembunyi di dalam hutan, di lereng Pegunungan Ciung-lai-san. Juga
Bun Beng yang terus membayangi, mendengar akan pertemuan tokoh-tokoh dunia
persilatan yang diadakan oleh Thian-liong-pang di kaki pegunungan itu.
Diam-diam dia merasa heran. Apa lagi yang akan dilakukan oleh Puteri Nirahai,
ibu Milana dan isteri Pendekar Super Sakti yang telah menjadi Ketua
Thian-liong-pang itu? Apakah yang akan dilakukan wanita sakti yang cantik
jelita, yang menjadi aneh dan mengerikan sekali wataknya akibat terputusnya
cinta dan mengalami kekecewaan itu?
Akan tetapi
karena tujuan Bun Beng adalah mencari kesempatan untuk pertama-tama merampas
kembali Hok-mo-kiam, baru kemudian mencari kesempatan untuk membuat perhitungan
kepada musuh-musuhnya, maka dia tidak mempedulikan lagi urusan
Thian-liong-pang.
Akhirnya,
setelah membayangi pasukan itu selama beberapa pekan, pada menjelang senja hari
itu dia berkesempatan menemui Tan-siucai seorang diri dan berhasil merampas
Hok-mo-kiam secara mudah setelah dia melakukan serangan pancingan dengan tangan
kiri tadi, membuat Tan Ki menarik tubuh atas ke belakang dan pinggang depannya
tidak terlindung.
"Heiii!
Tulikah engkau? Kembalikan pedangku!" sekali lagi Tan Ki membentak.
Bun Beng
tersenyum tenang. "Pedangmu yang manakah? Hok-mo-kiam ini bukanlah
pedangmu. Lupakah engkau bahwa engkau mencuri pedang ini dengan menipu Pendekar
Super Sakti keluar meninggalkan pondok. Kemudian engkau bersama Gurumu Maharya
itu bahkan membunuh Kakek Nayakavhira yang membuat pedang ini? Dan engkau
sekarang masih berkulit muka tebal mengaku bahwa Hok-mo-kiam adalah
pedangmu?"
"Setan!
Siapa engkau...?" Tan Ki menjadi terkejut dan marah sekali mendengar
ucapan itu, sekaligus dia mencabut pedang hitamnya.
"Tidak
penting kau ketahui aku siapa, Tan-siucai. Hanya perlu kau ketahui bahwa pedang
ini akan kuserahkan kembali kepada yang berhak, yaitu Suma-taihiap."
"Engkau
ingin mampus!" Tan Ki membentak dengan pengerahan khikang sehingga
suaranya menjadi nyaring dan terdengar sampai jauh. Memang, orang yang licik
ini sengaja mengeluarkan suara keras agar terdengar oleh yang lain dan
membantunya menghadapi perampas pedangnya. Setelah membentak, pedangnya
berkelebat, sinar hitam menyambar ke arah tubuh Bun Beng.
Tan-siucai
bukanlah seorang lemah. Dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi sebagai murid
Kakek Maharya, dan selain ilmu pedangnya aneh dan cepat, dia pun memiliki
sinkang yang sudah kuat sekali. Namun, bagi Bun Beng dia merupakan lawan yang
ringan. Bun Beng yang melihat pedang hitam menyambar ke arah lehernya, hanya
miringkan kepala sedikit, dan berbareng tangan kanannya menampar.
"Plakkk!"
Bun Beng
menampar perlahan saja dan mengenai pipi kiri Tan-siucai, akan tetapi biar pun
perlahan, sudah cukup membuat Tan-siucai terbanting dan bergulingan. Ketika ia
meloncat bangun lagi dengan kepala nanar, pipinya telah menjadi bengkak membiru
dan semua giginya di pinggir kiri copot! Sambil meludahkan gigi dan darah, Tan
Ki memandang dengan marah sekali, namun hatinya menjadi jeri karena dalam
gebrakan pertama itu saja sudah terbukti betapa lihainya pemuda ini.
Teringatlah ia akan cerita tentang pemuda yang membela penghuni Pulau Es, yang
mengamuk dengan hebat, bahkan dapat melayani gurunya. Mukanya menjadi pucat
teringat akan ini dan dia sudah menoleh ke kanan kiri dan menengok ke belakang,
mengharapkan datangnya bala bantuan. Tak salah lagi tentu inilah pemuda yang
sakti itu!
"Tan
Ki, tamparanku tadi hanya untuk hukumanmu mencuri Pedang Hok-mo-kiam.
Semestinya mengingat akan pembunuhan terhadap Kakek Nayakavhira, kemudian
penculikan terhadap Nona Giam Kwi Hong, ditambah lagi engkau ikut menyerbu dan
membunuh anak buah Pulau Es, engkau sudah pantas dibunuh seratus kali! Akan
tetapi, yang berhak memutuskan hukuman adalah Pendekar Super Sakti, dan aku
tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu, maka biarlah sekali ini aku tidak
membunuhmu dan hanya merampas kembali Hok-mo-kiam. Nah, pergilah!"
Tetapi,
tentu saja Tan Ki tidak mau pergi meninggalkan orang yang telah merampas
Hok-mo-kiam, juga dia tidak berani menyerang lagi. Dia masih menanti datangnya
bantuan dan pada saat itu dia melihat berkelebatnya bayangan Thai Li Lama.
Hatinya menjadi besar, keberaniannya bangkit dan dia membentak nyaring.
"Engkau
pembela Pulau Es! Engkau pula yang melarikan murid Pendekar Siluman!"
Sambil
membentak demikian dia menyerang lagi dengan ganas, mengerahkan seluruh
tenaganya dan menggunakan jurus maut. Pedangnya berubah menjadi sinar hitam
yang meluncur cepat dan kuat, menusuk ke arah tenggorokan Bun Beng terus
digoreskan ke bawah untuk menyusul serangan itu kalau-kalau gagal.
Menghadapi
ini, dan melihat datangnya Thai Li Lama yang lihai, Bun Beng menjadi marah
sekali. Kalau dia tidak cepat turun tangan dan cepat pergi dari situ sampai
semua tokoh lawan datang dan pasukan dikerahkan, dia bisa celaka. Tangan
kanannya bergerak ketika ia melangkah mundur untuk mengelak. Tampak sinar kilat
yang luar biasa ketika Hok-mo-kiam terhunus, disusul sinar kilat menyambar ke
depan.
"Trakkkkk...!"
Tan Ki menjerit nyaring dan roboh.
Pedang
hitamnya patah menjadi dua oleh Hok-mo-kiam dan sinar kilat itu masih terus
menembus dadanya. Tan-siucai berkelojotan dan tewas dalam keadaan yang amat
mengecewakan kalau diingat bahwa dia dahulu adalah seorang sastrawan yang amat
pandai, yang berwatak baik ketika menjadi tunangan Lu Soan Li. Sayang dendam kebencian
membuat dia menyeleweng apa lagi setelah dia menjadi murid Maharya dan ilmu
yang dipelajarinya membuat dia menjadi tidak normal alias agak miring otaknya.
Kebencian dapat menyeret manusia ke dalam kesesatan, karena kebencian
menimbulkan perbuatan kejam, menimbulkan kekerasan dan kekeruhan batin.
"Jahanam...!"
Teriakan ini keluar dari mulut Thai Li Lama, disusul dengan pukulan geledek,
yaitu Ilmu Sin-kun-hoat-lek yang telah mengandung tenaga sinkang kuat, juga
mengandung hawa mukjizat dari ilmu hitamnya.
Bun Beng
cepat meloncat ke belakang menghindar. Dilihatnya Thai Li Lama telah banyak
berubah. Kepalanya masih tetap gundul, akan tetapi di bagian bawah kepala
dibiarkan tumbuh. Dengan demikian, pendeta Lama yang dahulunya gundul kelimis
itu kini seperti seorang yang botak, juga jubahnya yang merah terbuat dari kain
sutera!
"Haiiiittt,
lihat siapa aku? Orang muda, berlututlah engkau di depan Thai Li lama, orang
kepercayaan Koksu!" Suaranya amat berpengaruh, pandang matanya seperti
menyeluarkan sinar mukjizat.
Bun Beng
merasa tubuhnya menggigil dan matanya seperti melekat pada sepasang mata yang
seperti mata setan itu, kakinya lemas dan lututnya tak dapat ditahannya lagi,
tertekuk dan dia jatuh berlutut! Tiba-tiba berkelebat di otaknya bahwa ini tidaklah
sewajarnya, seperti ketika ia berhadapan dengan Maharya. Teringat pula dia akan
ilmu sihir yang dimiliki golongan sesat ini. Cepat ia menggigit bibirnya sampai
berdarah dan rasa nyeri ini melepaskan dia dari pada ikatan pandang mata yang
melekat! Cepat ia mengalihkan pandang mata ke bawah, menulikan telinganya dari
suara di luar dan keadaannya pulih kembali.
Pada saat
itu, dia merasa hawa yang amat panas menggerayang ke arah kepalanya, maklum
bahwa dia terancam bahaya maut karena tangan kiri pendeta itu tengah bersiap
mencengkeram ubun-ubun kepalanya selagi dia berlutut!
"Hyyaaaahhhhh!"
Bun Beng membentak nyaring melengking dan sinar kilat berkelebat dari bawah.
"Crokk!
Auggghhhh...!" Thai Li Lama mencelat ke belakang dan darah mengucur keluar
dari lengan kirinya yang telah terbabat buntung oleh Hok-mo-kiam!
Sepasang
mata Thai Li Lama mendelik dan ia mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang
buas. Kemudian dia meloncat tinggi lalu meluncur ke arah Bun Beng dengan kedua
kakinya bergerak-gerak melakukan tendangan-tendangan maut bertubi-tubi dari
atas, menuju ke arah ubun-ubun, pelipis tenggorokan dan tengkuk. Sekali saja
terkena tendangan itu, Bun Beng takkan dapat bertahan, biar pun dia memiliki
tenaga sinkang yang bagaimana kuatnya.
Bun Beng
maklum akan kedahsyatan serangan ini, dan diam-diam merasa ngeri melihat kakek
yang lengan kirinya buntung itu seolah-olah tidak merasakan nyeri dan masih
dapat menyerangnya sedemikian hebat. Cepat ia meloncat mundur ke kanan kiri
menghindarkan diri dari tendangan-tendangan itu. Namun gerakan kedua kaki itu
aneh sekali, sama sekali tidak dikenal oleh Bun Beng dan dia tidak tahu
perkembangannya atau lanjutan geraknya, maka betapa pun cepatnya ia mengelak,
tetap saja pundaknya terkena dorongan tumit kaki ketika kaki Thai Li Lama
membalik yang merupakan lanjutan serangan tendangannya.
Biar pun
tulang pundaknya tidak patah, namun hawa dorongan itu membuat Bun Beng
terpelanting dan roboh miring. Pundaknya terasa setengah lumpuh dan pada saat
itu, Thai Li Lama yang terkekeh seperti iblis itu sudah melayang turun, kaki
kanannya bergerak menginjak ke arah perut Bun Beng, injakan maut karena dalam
gerakan menginjak dari atas ini mengandung tenaga yang bukan main besarnya.
Kalau sampai perut pemuda itu terkena injakan, tentu akan hancur isi perutnya!
"Crokkk...!
Aaiiihhhh!" Sinar kilat pedang Hok-mo-kiam yang digerakkan oleh Bun Beng
dalam keadaan terancam maut itu menyambar dan membabat kaki yang menginjak.
Buntunglah kaki kanan itu sebatas betis dan Thai Li Lama berdiri dengan kaki
kiri, matanya terbelalak berapi-api, mulutnya mengeluarkan busa, keadaannya
mengerikan sekali. Darah mengucur deras dari pangkal lengannya yang buntung dan
dari kaki kanan yang buntung di bawah lutut itu. Namun, dia masih dapat
terpincang-pincang menghampiri Bun Beng!
Bun Beng
membenci pendeta Lama ini yang merupakan seorang di antara mereka yang telah
membunuh Siauw Lam Hwesio, gurunya, akan tetapi kini menyaksikan keadaan Lama
itu, dia merasa ngeri dan juga kasihan. Untuk menghentikan penderitaan orang
yang menjadi musuhnya itu, dia cepat menubruk ke depan dan ketika sinar kilat
berkelebat, pedang Hok-mo-kiam telah menembus ulu hati Thai Li Lama sampai
menembus punggung. Bun Beng cepat hendak mencabut kembali pedang itu, akan
tetapi tiba-tiba pendeta Lama itu yang sudah buntung lengan kirinya, buntung
pula kaki kanannya, dan tertusuk tembus dadanya, masih dapat mengeluarkan
bentakan nyaring, dari mulutnya menyembur darah segar dan tangan kanan berhasil
memukul punggung Bun Beng dengan tamparan yang mengandung ilmu pukulan
Sin-kun-hoat-lek.
"Blukkk!"
"Auuuhhh...!"
Darah segar menyembur keluar dari mulut Bun Beng dan pemuda ini terguling
roboh, berbareng dengan robohnya tubuh Thai Li Lama yang telah menjadi mayat!
Bun Beng
mengeluh panjang, rasa nyeri dari punggung sampai ke dada menyesakkan napasnya.
Dia maklum bahwa pukulan dahsyat tadi telah melukainya, akan tetapi pikirannya
masih terang. Dia harus cepat pergi! Telah tampak bayangan para anak buah
pasukan yang mendengar bentakan-bentakan tadi mendatangi di antara pohon-pohon.
Cepat ia menghampiri mayat Thai Li Lama, bergidik menyaksikan bekas musuh ini,
mencabut Hok-mo-kiam, kemudian melarikan diri dari tempat itu secepat mungkin,
keluar dari hutan dan dilindungi kegelapan malam yang tiba, dia berhasil
meninggalkan para pengejarnya.
Setelah aman
dan tidak ada pengejaran lagi, Bun Beng duduk bersila di bawah pohon dalam
hutan besar dekat puncak gunung, mengatur pernapasannya, mengumpulkan hawa
murni dan mengerahkan sinkang-nya untuk mengobati luka di dalam dadanya yang
terguncang oleh pukulan dahsyat itu. Setahun yang lalu, sebelum dia melatih
sinkang di dalam lorong rahasia dari kitab yang dipelajari oleh Ketua
Thian-liong-pang, kalau terkena pukulan seperti itu, tentu nyawanya telah
melayang!
Demikianlah,
dapat dibayangkan betapa marah hati Im-kan Seng-in Bhong Ji Kun ketika ia
mendapatkan dua orang pembantunya tewas seperti itu. Di tempat itu, di mana
terdapat dia sendiri dan paman gurunya, Maharya yang sakti, bersama seribu
orang prajurit pasukan pengawal, dua orang pembantunva yang dipercaya dan boleh
diandalkan, terutama Thai Li Lama, tewas dalam keadaan mengerikan dan tak
seorang pun tahu siapa yang telah membunuh kedua orang itu! Thian Tok Lama
berduka sekali akan kematian sute-nya. Akan tetapi kepada siapakah dia akan
marah dan siapakah yang akan dibalas kalau tak seorang pun mengetahui siapa
pembunuh sute-nya?
"Mudah
saja! Pedang Hok-mo-kiam telah dirampasnya dari tangan muridku. Siapa yang
memegang pedang itu, dialah yang melakukan pembunuhan-pembunuhan ini. Aku
bersumpah untuk membunuh iblis terkutuk itu!" Maharya yang juga amat
berduka akan kematian muridnya, terutama sekali akan terampasnya Hok-mo-kiam
oleh orang lain, mengepal tinju.
"Yang
dapat melakukan ini tentulah orang yang berkepandaian tinggi sekali," kata
Bhong Ji Kun setelah memerintahkan anak buahnya mengurus dan mengubur kedua
jenazah itu. "Tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa, akan tetapi
siapakah? Banyak tokoh kang-ouw sedang berada di sekitar tempat ini untuk
menghadiri pertemuan besok pagi. Pasti seorang di antara mereka yang
melakukannya."
Thian Tok
Lama menggeleng kepalanya yang gundul. "Pinceng rasa bukan seorang di
antara tokoh-tokoh kang-ouw. Tak mungkin mereka berani melakukan pembunuhan-pembunuhan
ini karena mereka tahu bahwa Sute dan Tan-siucai adalah orang-orangnya
pemerintah. Pinceng kira pembunuhnya tentulah orang-orang yang telah menentang
kita di Pulau Es."
"Ahhh,
wanita Pulau Neraka yang seperti setan itu?" Maharya bertanya.
Thian Tok
Lama mengangguk. "Mungkin dia, mungkin pula bocah yang sekarang telah
menjadi lihai bukan main itu."
"Gak
Bun Beng?" Bhong Ji Kun menyambung.
Thian Tok
Lama mengangguk. "Keturunan Gak Liat itu sekarang luar biasa ilmunya dan
mengingat akan watak ayahnya yang liar, bisa saja dia melakukan hal-hal yang
tidak lumrah."
"Hemmm,
siapa tahu kalau-kalau Pendekar Siluman yang melakukan ini."
"Pendekar
Siluman...?" Thian Tok Lama dan Bhong Ji Kun berseru, keduanya terkejut
dan wajah mereka berubah. Mengapa mereka tadi tidak teringat akan Pendekar
Super Sakti itu? Kalau dia yang datang, memang tidak perlu diherankan lagi
kematian Thai Li Lama dan Tan-siucai!
"Lebih
banyak kemungkinan dia sendiri yang datang dan melakukan pembunuhan-pembunuhan
ini. Dan dirampasnya pedang itu menebalkan keyakinanku bahwa Pendekar Super
Sakti yang datang sore tadi. Akan tetapi, harap Taijin jangan khawatir. Memang
kita sedang menunggu munculnya orang-orang Pulau Es dan orang-orang Pulau
Neraka, bukan? Boleh jadi Pendekar Siluman lihai sekali, akan tetapi saya
pernah menandinginya, dan ternyata dia tidaklah lebih lihai dari pada saya,
atau boleh dibilang tingkat kami sebanding. Kalau dibantu oleh Taijin dan Thian
Tok Lama, tentu mudah saja mengalahkannya."
"Akan
tetapi, Susiok (Paman Guru), bagaimana kalau dia dibantu oleh Gak Bun Beng dan
oleh wanita Pulau Neraka itu?"
Maharya
menggeleng kepala. "Saya rasa wanita itu adalah Ketua Pulau Neraka yang
disohorkan. Antara Pulau Neraka dan Pulau Es belum pernah ada kerja sama, dan
kalau dia dahulu turun tangan, sama sekali bukan untuk membantu Pulau Es, hanya
karena marah bahwa daerahnya dilanggar. Andai kata dia maju pula, bersama pemuda
itu, tidak perlu kita takut. Para ciangkun memiliki ilmu kepandaian cukup
tinggi, dan seribu orang pasukan merupakan kekuatan yang melebihi sepuluh orang
Pendekar Siluman!"
Biar pun
kematian Thai Li Lama dan Tan-siucai merupakan pukulan yang cukup mengejutkan,
namun hati para pimpinan pasukan pemerintah ini masih besar. Malam itu tidak
ada peristiwa sesuatu dan pada keesokan harinya, setelah mengirim rombongan
mata-mata yang menyamar sebagai orang-orang kang-ouw, Bhong Ji Kun dan para
pembantunya mengintai tanah tandus yang dijadikan tempat pertemuan itu dari
atas lereng terdekat, mempergunakan teropong dan memeriksa keadaan.
Setelah
semua tamu berkumpul, Tang Wi Siang yang mewakili ketuanya berkata dengan suara
nyaring,
"Cu-wi
sekalian yang terhormat! Pangcu kami menghaturkan selamat datang pada Cu-wi
sekalian. Maksud dari undangan Pangcu kami mengumpulkan Cu-wi sekalian yang
dianggap mewakili dunia kang-ouw, adalah untuk mempererat persahabatan dan
untuk mendengarkan usul Pangcu yang akan disampaikan oleh Pangcu sendiri.
Silakan Cu-wi mendengarkan!"
Pintu pondok
di atas itu terbuka perlahan dan muncullah Ketua Thian-liong-pang yang mukanya
berkerudung. Melihat wanita itu, semua orang memandang dan mereka yang pernah
diculik dan pernah berhadapan dengan ketua itu, memandang dengan muka merah
masih merasa penasaran akan tetapi juga dengan hati jeri karena mereka tahu
akan kelihaian wanita itu.
Ada pun
mereka yang belum pernah bertemu dengan tokoh ini, memandang dengan hati penuh
kengerian karena mereka hanya mendengar bahwa Ketua Thian-liong-pang memiliki
ilmu kepandaian yang tidak lumrah manusia, sedangkan orangnya pun begitu
menyeramkan, mukanya dikerudung sehingga semua orang ingin melihat bagaimana
wajah yang bersembunyi di balik kerudung itu. Sudah tuakah? Ah, tak mungkin,
tubuh wanita itu biar pun tersembunyi di balik pakaian yang longgar, jelas
bukan tubuh seorang wanita tua! Dan tangan yang tersembul dari balik lengan
baju itu berkulit halus, berjari kecil meruncing dengan kuku yang kemerahan, terpelihara
baik-baik! Sepasang mata yang memandang dari balik lubang kerudung penutup muka
itulah yang menimbulkan rasa seram dan menundukkan hati orang, begitu terang,
begitu tajam dan penuh wibawa, mata seorang manusia yang agaknya tidak mengenal
bantahan!
Nirahai,
wanita berkerudung Ketua Thian-liong-pang itu, sejenak berdiri memandang
sekeliling dan dengan pandang mata cepat ia menyapu tokoh yang hadir, mengenal
mereka dan dapat menduga dari partai dan perkumpulan mana mereka itu. Dia
merasa kecewa bukan main ketika tidak melihat adanya rombongan Pulau Neraka dan
Pulau Es! Benar-benar menggemaskan, pikirnya. Mengapa Suma Han tidak muncul?
Dan di mana adanya tokoh-tokoh Pulau Neraka? Tanpa mengalahkan keduanya itu,
nama Thian-liong-pang takkan terangkat naik!
Tiba-tiba ia
melihat rombongan terdiri dari belasan orang yang tak dapat ia duga dari partai
atau golongan mana. Matanya mengeluarkan sinar penuh kecurigaan, akan tetapi
dia tidak menyatakan sesuatu, hanya mulai dengan bicaranya yang singkat, halus
merdu namun terdengar sampai jauh karena ia keluarkan dengan pengerahan khikang
yang luar biasa kuatnya.
"Cu-wi
sekalian! Untuk mempersatukan dunia kang-ouw, kita harus menentukan perkumpulan
mana yang patut menjadi perkumpulan induk, dan tokoh mana yang patut dijadikan
pemimpin yang dapat disebut Bengcu (pemimpin rakyat). Kami setelah mempelajari
dan meneliti keadaan, minta Cu-wi sekalian suka mengakui Thian-liong-pang
sebagai perkumpulan induk, dan aku sendiri menjadi Bengcu, kecuali kalau ada di
antara Cu-wi yang dapat membuktikan bahwa ada orang yang lebih patut menjadi
Bengcu dari pada aku. Kalau ada di antara Cu-wi yang tidak setuju, boleh
maju!"
Bukan main
takaburnya ucapan Ketua Thian-liong-pang ini sehingga semua orang memandang
dengan alis berkerut dan merasa tidak setuju, sungguh pun tidak ada yang berani
membantah dengan keras. Hanya terdengar suara-suara kontra, dan dari golongan
para hwesio dan tosu terdengarlah ucapan-ucapan,
"Omitohud..."
"Siancai...!"
Nirahai
bukanlah seorang bodoh, kalau dia tadi mengeluarkan ucapan itu memang dia
sengaja untuk memancing sikap menentang sehingga orang-orang yang memiliki
kepandaian tinggi akan bangkit dan menentangnya. Setelah bertahun-tahun dia
menggembleng diri, bahkan tidak segan-segan mencuri ilmu-ilmu dari lain partai,
dia menganggap bahwa tidak akan ada orang lagi yang dapat menandinginya, dan
satu-satunya yang dia anggap merupakan lawan berat kiranya hanyalah Suma Han
dan Ketua Pulau Neraka yang belum pernah dia jumpai.
"Cu-wi,
negara telah aman, pemerintah tidak menghendaki pertentangan. Karena itu, kalau
kita orang-orang dunia kang-ouw tidak bersatu dan tidak mempunyai seorang
pemimpin yang mempersatukan kita, bagaimana kita semua dapat menghadapi
urusan-urusan besar? Tanpa pemimpin selalu hanya akan timbul
pertentangan-pertentangan di antara kita sendiri yang mengakibatkan kehancuran
dan kelemahan, juga menimbulkan banyak korban. Karena itu, lebih baik sekarang
kita berhadapan secara gagah, memilih seorang Bengcu yang tepat dan
korban-korban dalam perebutan dan pemilihan ini tidak akan banyak, juga yang
kalah dan tewas, mati sebagai seorang gagah. Aku sudah bicara, terserah kepada
Cu-wi bagaimana menghadapinya!"
Setelah
berkata demikian Nirahai mengibaskan lengannya dan memasuki pondok. Pintu
pondok segera ditutup lagi.
"Ibu,
mengapa Ibu melakukan semua ini?" Di dalam pondok itu, Milana berbisik
kepada Ibunya. Nirahai melepas kerudung dan menghapus keringat dari muka dan
lehernya. Puterinya memandang wajah ibunya yang cantik itu berselimut awan
kesengsaraan batin.
"Untuk
memancing datangnya Majikan Pulau Es dan Pulau Neraka," jawabnya pendek,
lalu mengenakan kerudung kepalanya lagi.
Milana
menghela napas. Hening sejenak dan dara itu berbisik. "Ibu... begitu...
begitu bencikah Ibu kepada Ayah...?"
Mata di
balik kerudung itu memancarkan api. "Benci? Tidak ada orang lain yang
lebih kubenci di dunia ini!"
Milana
merasa jantungnya tertusuk dan ia menunduk. Kembali keadaan hening dan
tiba-tiba Milana mengangkat mukanya ketika mendengar isak tertahan. Ibunya
telah terisak menangis! Milana terharu, menggerakkan tangan menyentuh tangan
ibunya dan berbisik lagi
"Ibu...
sangat cintakah kepada Ayah...?"
Nirahai
memejamkan matanya dan mengangguk. Milana mengerti, keduanya diam dan
mencurahkan perhatian keluar pondok. Dari celah-celah dinding pondok mereka
dapat melihat seorang hwesio tinggi kurus dari rombongan Siauw-lim-pai
melangkah maju dan berkata nyaring sambil memandang pondok di atas.
"Thian-liong-pangcu!
Pinceng menerima tugas dari Ketua kami untuk menyampaikan penyesalan
Siauw-lim-pai akan sepak terjang Thian-liong-pang selama ini yang melakukan
penculikan-penculikan terhadap tokoh-tokoh kang-ouw. Siauw-lim-pai tidak mau
ikut-ikut dalam soal pemilihan Bengcu, dan tak akan mengakui Bengcu mana pun
juga karena Siauw-lim-pai tidak mau mengikatkan diri, juga tidak ingin menanam
permusuhan. Hanya menjadi kewajiban Siauw-lim-pai untuk menegur perkumpulan
yang bertindak sewenang-wenang. Jika teguran Siauw-lim-pai ini tidak menyenangkan
hati Pangcu, pinceng sebagai wakil Siauw-lim-pai siap bertanggung jawab!"
Setelah
hwesio tinggi kurus itu mundur, majulah seorang tosu berambut putih dari
rombongan Hoa-san, dan dia pun berteriak nyaring.
"Pinto
mewakili Hoa-san-pai, juga memprotes penculikan atas diri sute kami Bhong
Tek-cu yang dilakukan oleh Thian-liong-pang, dan pinto mewakili Hoa-san-pai
untuk minta Thian-liong-pangcu mempertangung jawabkan perbuatan itu sekarang!
Tentang pemilihan Bengcu, Hoa-san-pai tidak akan mencampurinya!"
Setelah
melihat majunya wakil-wakil partai besar seperti Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai,
besarlah hati para tokoh kang-ouw, dan berturut-turut majulah Ang-lo-jin Ketua
Bu-tong-pai yang berkata, "Saya sebagai ketua Bu-tong-pai merasa terhina
atas perlakuan Thian-liong-pang yang lalu, maka saya minta pertanggungan jawab
Thian-liong-pangcu di tempat terbuka ini!" Dan dengan alasan yang sama
pula majulah wakil-wakil dari Sin-to-pang, Lam-hai-pang, dan Pek-eng-pai.
Melihat
perkembangan ini, Tang Wi Siang merasa gelisah juga dan beberapa kali dia
memandang ke atas seolah-olah mengharapkan ketuanya turun tangan. Tak lama
kemudian terdengar suara Ketua Thian-liong-pang.
"Wi
Siang, sebutkan wakil-wakil dari mana saja yang minta pertanggungan
jawabku?"
Dengan suara
gemetar karena tidak mengira akan demikian banyaknya partai yang menentang
ketuanya, Tang Wi Siang menjawab, "Dari Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai,
Bu-tong-pai, Lam-hai-pang, Sin-to-pang dan Pek-eng-pai, semua enam
partai!"
Tiba-tiba
pintu pondok terbuka dan muncullah Ketua Thian-liong-pang. "Hanya enam
partai saja? Ataukah masih ada lagi? Harap Cu-wi yang ingin mencoba
kepandaianku, tidak malu-malu, nyatakan saja terus terang!"
Setelah
tidak ada yang menjawab, Nirahai berkata, "Para wakil dari enam partai
yang minta pertanggungan jawab, persilakan maju!"
Dari
Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai masing-masing maju seorang hwesio dan seorang
tosu, dari Bu-tong-pai majulah Ang Siok Bi dan seorang suheng-nya, murid dari
ayahnya, sedangkan dari Sin-to-pang, Lam-hai-pang, dan Pek-eng-pai,
masing-masing maju tiga orang wakil yang merupakan murid-murid kepala.
Ang-lojin tidak maju sendiri karena dia merasa malu hati dan tidak enak kalau
sebagai ketua dia harus maju sendiri. Dengan demikian, wakil dari enam partai
itu berjumlah tiga belas orang, murid-murid kepala dari partai-partai yang
tentu saja memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
"Bagus!
Kulihat Cu-wi yang mewakili partai yang minta pertanggungan jawabku, ada tiga
belas orang telah berkumpul. Dan untuk membuktikan bahwa aku sebagai calon
Bengcu mempunyai tanggung jawab dan kepandaian untuk memimpin Cu-wi sekalian,
aku akan menghadapi Cu-wi sekaligus. Bersiaplah, aku akan mengalahkan
Cu-wi!" Setelah berkata demikian tampak tubuh wanita berkerudung itu
melayang dari atas pondok yang tinggi itu bagaikan seekor burung garuda,
langsung meluncur ke arah tiga belas orang itu.
Mereka ini
sudah siap dan tampak sinar senjata berkilauan ketika mereka mencabut senjata
mereka. Namun Nirahai tidak menghunus pedangnya yang masih tergantung di
punggungnya, tubuhnya terus meluncur, bagaikan seekor burung walet menyambar ke
arah mereka. Tiga belas orang itu menggerakkan senjata masing-masing menyambut
bayangan tubuh yang menyambar-nyambar itu, demikian cepat gerakan wanita ini
sehingga sukar diikuti pandangan mata.
Tampak
bayangan tubuhnya berkelebat di antara sinar senjata itu dan terdengarlah bunyi
berkerontangan, senjata-senjata terpental dan ketiga belas orang mengeluarkan
teriakan kaget disusul robohnya tubuh mereka seorang demi seorang, cepat sekali
sampai ketiga belas orang itu semua terpelanting roboh! Tubuh wanita
berkerudung itu berdiri di tengah tengah, antara mereka yang roboh ke kanan
kiri, ada yang terlentang, ada yang menelungkup, ada yang miring.
Tiga belas
orang itu terkejut bukan main, demikian pula mereka yang menyaksikan kehebatan
wanita berkerudung itu, hampir mereka tak dapat percaya betapa dengan tangan
kosong, wanita berkerudung itu benar-benar telah mengalahkan mereka dan
hebatnya mereka tidak terluka hebat, hanya roboh oleh dorongan-dorongan tenaga
sinkang yang amat kuat dan didahului kecepatan yang tidak tampak oleh mata
mereka!
Ang Siok Bi
yang tadinya merasa penasaran karena ayahnya pernah diculik kini bangkit
bersama yang lain-lain, memandang wanita berkerudung itu dengan muka pucat dan
diam-diam mereka semua mengakui bahwa kalau wanita itu menghendaki, kalau
wanita itu menggunakan senjata atau melakukan pukulan yang berat, tentu mereka
roboh untuk tidak bangkit kembali!
"Nah,
Cu-wi sudah menyaksikan bahwa aku telah berani mempertanggung jawabkan semua
perbuatanku dan sepak terjang Thian-liong-pang. Ketahuilah bahwa semua tokoh
yang pernah menjadi tamu kami tidak ada yang diganggu, mengapa Cu-wi merasa
penasaran? Sekarang, menggunakan kesempatan ini, aku mengajak siapa saja di
antara Cu-wi yang masih penasaran untuk menguji kepandaian, terutama sekali
kutujukan kepada Majikan Pulau Neraka dan Majikan Pulau Es!"
Tantangan
ini tidak ada yang berani menjawab, dan mereka semua saling pandang, mencari ke
kanan kiri mengharapkan munculnya dua jago yang selama ini namanya
menggemparkan dunia kang-ouw, yaitu Ketua Pulau Neraka yang tak pernah ada yang
melihatnya, dan Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es. Namun, tidak tampak
mata hidung kedua orang tokoh itu, bahkan tidak tampak seorang pun tokoh dari
kedua pulau itu.
Keadaan
menjadi sunyi, semua orang masih seperti terpesona, menyaksikan kelihaian Ketua
Thian-liong-pang, sedangkan tiga belas orang yang kalah tadi mengambil senjata
masing-masing dan kembali ke kelompok mereka, tidak ada yang berani melawan
lagi karena masing-masing maklum bahwa mereka bukanlah tandingan wanita
berkerudung yang hebat bukan main itu.
Tiba-tiba
terdengar suara tertawa dari rombongan orang yang tak dikenal Nirahai yaitu
rombongan dari lima belas orang yang tadi dicurigainya. "Ha-ha-ha! Pulau
Es sudah terbasmi, sedangkan Pulau Neraka pun penghuninya sudah melarikan diri
semua, bukankah Ketua Thian-liong-pang sama dengan menantang angin
kosong?"
Lima belas
orang itu adalah mata-mata yang dikirim oleh Bhong Ji Kun. Mereka terdiri dari
panglima-panglima yang berkepandaian tinggi, dan yang setelah tiba di situ
sekarang berkumpul menjadi sekelompok. Hati mereka besar dan mereka berani
bicara karena mengandalkan pasukan yang berada di sekeliling tempat itu. Pula,
mereka sengaja mengeluarkan kata-kata menghina kedua pulau itu untuk memancing
keluarnya tokoh-tokoh mereka seperti yang dikehendaki oleh Koksu.
Nirahai
memutar tubuhnya menghadapi rombongan itu, kemudian sekali kakinya tampak
bergerak, tubuhnya sudah mencelat ke depan mereka, mata di balik kerudung itu
menyambar-nyambar tajam.
"Kalian
siapakah? Dari golongan dan partai apa?" tanyanya tiba-tiba, suaranya
dingin.
Seorang di
antara mereka yang tinggi besar dan brewok, agaknya merasa tidak senang
menyaksikan sikap Ketua Thian-liong-pang itu, maka dia menjawab sambil
mengangkat dada, suaranya tegas dan nyaring, "Kami adalah orang-orang
kang-ouw perantau yang tertarik mendengar pertemuan ini dan ingin
melihat-lihat. Apakah hal ini dilarang?"
"Hemmm!
Memang undangan kami ditujukan kepada semua orang kang-ouw, tentu saja tidak
ada yang melarang orang menonton. Akan tetapi kalian telah berani menghina Pulau
Neraka dan Pulau Es, agaknya kalian memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari
pada mereka! Aku akan suka sekali mencoba dan melayani kepandaian kalian yang
telah berani bicara besar di sini."
Lima belas
orang itu adalah panglima-panglima yang biasanya membagi perintah dan dihormati
serta ditaati anak buah mereka. Kini menghadapi sikap Ketua Thian-liong-pang,
mereka menjadi marah sekali. Tidak biasa mereka diperlakukan seperti itu oleh
siapa pun juga!
"Heiii!
Thian-liong-pangcu! Kalau kami menghina Pulau Es dan Pulau Neraka, apa
hubungannya itu dengan Thian-liong-pang? Mereka adalah pemberontak-pemberontak
yang berani melawan pemerintah, maka dihancurkan dan dibasmi! Kami rasa
Thian-liong-pang tidaklah seperti iblis-iblis Pulau Neraka dan... augghhhh...!"
Tiga orang
anggota rombongan itu yang berdiri paling depan roboh dan tewas seketika
terkena sambaran sinar hitam yang tiba-tiba saja melayang ke arah si pembicara
dan dua orang temannya.
"Thian-liong-pangcu!
Engkau berani membunuh orang-orang pemerintah?" Tiba-tiba terdengar
bentakan dan Thian Tok Lama telah berada di situ!
Nirahai
cepat membalikkan tubuh dan....
"Srattttttt!"
Dia telah mencabut pedangnya, akan tetapi dia tidak memandang Thian Tok Lama,
melainkan memandang ke atas tanah yang bergoyang-goyang aneh! Dia tahu bahwa
yang menyambar dan menewaskan tiga orang tadi adalah gumpalan-gumpalan tanah
yang disambitkan dengan tenaga dahsyat sekali!
Tanpa
menoleh ke arah Thian Tok Lama, dia lalu berkata, "Thian Tok Lama, kiranya
mereka ini adalah mata-mata pemerintah yang sengaja engkau kirim untuk
melakukan penyelidikan?" Suaranya dingin sekali akan tetapi matanya masih
ditujukan ke atas tanah yang bergoyang-goyang aneh.
Thian Tok
Lama terkejut bukan main. Benar-benar seorang yang aneh sekali Ketua
Thian-liong-pang ini, sebab selain kepandaiannya tinggi, ternyata begitu
bertemu telah mengenalnya!
"Benar!"
jawabnya. "Akan tetapi mereka dan kami bertugas untuk menyelidiki
orang-orang Pulau Es dan Pulau Neraka, kalau mereka datang ke sini. Kiranya tiga
orang penyelidik kami malah kau bunuh!"
Tiba-tiba
terdengar ledakan keras. Tanah yang bergoyang tadi pecah seperti meletus dan
tampak debu dan uap mengepul tinggi. Tanah itu terbuka dan tampak... sebuah
peti mati yang perlahan-lahan terbuka dan dari dalam peti mati itu bangkit
sesosok mayat yang seperti baru saja hidup kembali. Tubuh seorang kakek tua
renta, berkepala botak, bertubuh kurus dan dalam keadaan... telanjang bulat!
Mukanya pucat, persis muka mayat yang tidak mempunyai darah sama sekali.
Jangankan
para tokoh yang berada di situ, sedangkan Nirahai sendiri, bahkan Thian Tok
Lama, berdiri terpukau di tempatnya, memandang dengan mata terbelalak.
‘Mayat
hidup’ itu batuk-batuk lalu bangkit berdiri, telanjang seperti bayi, lalu
meloncat keluar dari dalam peti mati. "Uhk-uhk-uhkkk... anak-anak kecil
berani menghina Pulau Neraka. Akulah orang Pulau Neraka dan yang membunuh tiga
orang itu, heh-heh... malah semua yang berani menghina Pulau Neraka akan
kubunuh."
Tiba-tiba
saja mayat hidup yang kelihatan lemah, kurus kering itu ‘terbang’ ke arah
rombongan panglima yang tinggal sepuluh orang lagi. Kelihatannya seperti
terbang karena gerakannya luar biasa sekali cepatnya, seolah-olah kedua kakinya
tidak menginjak tanah. Melihat ginkang sehebat itu, Nirahai sendiri sampai
terbelalak, dan Thian Tok Lama berkemak-kemik membaca doa dalam bahasa Tibet
karena dia menyangka bahwa mayat hidup itu benar-benar siluman yang muncul dari
bawah tanah!
Bukan main
cepatnya kejadian itu, sekali sambar, mayat hidup itu telah merangkul empat
orang panglima. Tangannya bergerak, mulutnya menyeringai dan... dijambaknya
rambut kepala mereka itu seorang demi seorang, diputarnya dan ditarik
sehingga... kepala itu coplok, lehernya putus, darah menyembur keluar. Tiga
orang lainnya hanya melongo dan pucat, seolah-olah tak mampu bergerak dalam
rangkulan mayat hidup itu, sehingga seorang demi seorang putuslah lehernya.
Mayat mereka
dilempar-lemparkan oleh Si Mayat Hidup yang sudah bergerak maju lagi ke arah
sisa para panglima. Enam orang panglima sudah mendapatkan kembali kesadarannya,
maklum akan datangnya bahaya mengancam, maka mereka itu sudah menghunus pedang
atau golok masing-masing. Melihat Si Mayat Hidup menerjang maju, enam orang
panglima ini membacok dan menusuk. Si Mayat Hidup sama sekali tidak
mempedulikan dan enam batang senjata datang menghantamnya seperti hujan.
"Tak-tok...
bak-buk...!" Senjata-senjata itu mengenai tubuh, akan tetapi semua
terpental seperti mengenai tubuh dari karet yang ulet, kenyal dan keras!
Kembali empat orang telah dirangkul, ‘dicopot’ kepala mereka dari badan dan
mayat mereka dilemparkan. Darah membanjir ke mana-mana, dan tubuh serta muka
kakek itu telah berlumuran darah segar! Melihat ini, dua orang panglima sisa
yang sepuluh orang tadi, membuang senjata mereka dan hendak lari.
"Heh-heh,
anak-anak nakal, hendak lari ke mana? Ke sinilah bersama Kakek!" Mayat
hidup itu berkata, dan tangan kanannya menggapai ke arah dua orang panglima
yang sedang lari dan... sungguh aneh, dua orang itu biar pun kelihatan masih
menggerakkan kedua kaki untuk lari, namun mereka bukannya maju ke depan
melainkan... mundur ke belakang seolah-olah ada tenaga ajaib yang menarik dan
membetotnya ke arah mayat hidup itu!
Akan tetapi,
sebelum dua orang itu sampai terpegang, Thian Tok Lama telah meloncat ke depan
dan sudah memasang kuda-kuda setengah berjongkok, perutnya berbunyi dan tangan
kanannya berubah biru. Kemudian, dengan pengerahan tenaga sinkang, dia memukul
ke arah punggung mayat hidup itu.
"Dessss!"
Mayat hidup
itu terlempar sampai tiga meter, akan tetapi tidak roboh dan membalikkan tubuh,
mulutnya menyeringai sedangkan Thian Tok Lama terkejut bukan main. Dia
seolah-olah memukul benda kering yang hanya terlempar, akan tetapi tenaganya
tidak dapat menembus tubuh itu!
"Heh-heh-heh!"
Mayat hidup itu melihat awan hitam yang keluar dari tangan Thian Tok Lama yang
memukul tadi. "Itukah Hek-in-hwi-hong-ciang? Eh, Gundul, kepandaianmu
lumayan juga!"
Tiba-tiba
tampak bayangan berkelebat dan tubuh Nirahai telah berhadapan dengan mayat
hidup itu. Ia membentak sambil menodongkan pedangnya. "Orang tua, apakah
benar engkau dari Pulau Neraka? Apakah engkau Ketua Pulau Neraka?"
Bertanya demikian, Nirahai mengkirik ngeri, bukan karena gentar menyaksikan
kelihaian mayat hidup itu, namun dia merasa jijik berhadapan dengan seorang
laki-laki yang telanjang bulat, biar pun laki-laki itu seorang kakek.
Mayat hidup
itu menyeringai lebar, menggaruk-garuk punggungnya seolah-olah pukulan dahsyat
tadi hanya menimbulkan rasa gatal. "Banyak orang pandai sekarang! Aku
bukan ketua apa-apa, akan tetapi akulah orang yang paling tua di Pulau Neraka.
Aku adalah Cui-beng Koai-ong (Raja Aneh Pengejar Roh)!"
"Cui-beng
Koai-ong, aku Thian-liong-pangcu sekarang menantangmu untuk mengadu kepandaian.
Jagalah seranganku!"
Nirahai yang
merasa penasaran sudah menggerakkan pedangnya, menusuk ke arah dada mayat hidup
itu. Akan tetapi betapa kagetnya ketika melihat bahwa mayat hidup yang kini dia
percaya adalah seorang kakek yang masih hidup itu sama sekali tidak mengelak.
"Crokkkk!"
Pedang yang mengenai dada itu menempel dan tidak dapat menancap, dan dengan
gerakan yang cepat serta aneh sekali tangan kakek itu sudah meraih hendak
menangkap pergelangan tangan Nirahai.
"Aiiihhhh!"
Nirahai menarik pedangnya dan cepat meloncat ke samping, lalu mengirim serangan
lagi, memilih bagian yang lemah, yaitu leher kakek itu. Kembali Si Kakek Aneh
tidak menangkis, membiarkan pedang membacok lehernya sambil tangannya mencengkeram
ke arah lambung Nirahai!
"Plakk!"
Pedang itu kembali tidak dapat menembus kulit leher dan hampir saja lambung
Nirahai kena dicengkeram kalau saja dia tidak cepat mengelak dengan gerakan
yang amat cepat.
"Hayaaaa...!
Kau pun hebat, Ketua Thian-liong-pang!" Kakek itu terkekeh memuji.
Tiba-tiba
terdengar sorak sorai dan pasukan yang dipimpin oleh Bhong Ji Kun telah datang
menyerbu! Dari teropongnya Bhong Ji Kun menyaksikan betapa orang-orangnya tewas
secara mengerikan. Maklum bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat, dia lalu
mengerahkan pasukannya menyerbu, sedangkan dia sendiri bersama Maharya lari
mendahului untuk membantu Thian Tok Lama yang sudah ia suruh turun terlebih
dahulu tadi.
Melihat ini,
para tokoh kang-ouw yang tidak ingin terlibat dalam pertentangan dengan
pemerintah lalu mengundurkan diri dan pergi dari tempat itu. Ada pun para anak
buah Thian-liong-pang yang mengira bahwa pasukan-pasukan itu hendak menyerbu
mereka sudah menyambut dan terjadilah perang tanding di mana banyak sekali
pasukan roboh dan tewas menghadapi tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang amat lihai
itu.
"Dia
telah membunuh orang-orang kita!" Thian Tok Lama menuding ke arah kakek
telanjang yang masih bertanding melawan Nirahai.
Untung bahwa
Ketua Thian-liong-pang ini memiliki kegesitan yang luar biasa sehingga
cengkeraman-cengkeraman dan pukulan-pukulan Cui-beng Koai-ong selalu mengenai
angin kosong belaka, akan tetapi semua bacokan Nirahai tiada gunanya, tidak
dapat melukai tubuh kurus kering yang kebal itu. Nirahai menjadi makin penasaran
dan tidak mau mengalah begitu saja. Kini pedangnya berubah menjadi sinar yang
bergulung-gulung, sebagian melindungi tubuhnya, sebagian lagi melakukan
serangan-serangan kilat yang semua ditujukan ke arah sepasang mata kakek
telanjang.
"Hehhh,
kau lihai...!" Cui-beng Koai-ong berseru dan kini dialah yang harus
menangkis sinar pedang yang bergulung-gulung itu dengan kedua tangannya. Betapa
pun kebal tubuhnya, tak mungkin dia melatih mata menjadi kebal! Maka tentu saja
dia tidak ingin matanya dicokel keluar oleh ujung pedang lawan. Begitu kakek
ini mengeluarkan seruan memuji yang menyembunyikan kemarahannya, tubuhnya
bergerak cepat dan angin berdesir-desir menyambar keluar dari kedua tangannya.
Nirahai
diam-diam terkejut dan harus mengakui bahwa selama hidupnya, baru sekali ini
dia berhadapan dengan lawan yang memiliki ilmu kesaktian seperti kakek itu.
Maka dia berlaku hati-hati sekali dan mengandalkan ginkang-nya untuk selalu
menghindarkan diri, mengerahkan sinkang-nya untuk melawan sambaran angin pukulan
dahsyat itu.
Ketika Bhong
Ji Kun dan Maharya mendengar bahwa kakek telanjang itu adalah orang dari Pulau
Neraka yang telah membunuh para panglima, mereka lalu menerjang maju,
mengeroyok Cui-beng Koai-ong! Bhong Ji Kun menggunakan pecutnya yang langsung menyambar-nyambar
ganas, berusaha menangkap tubuh dan terutama kedua tangan kaki kakek telanjang
dengan ujung pecut. Maharya sudah mengeluarkan senjata bulan sabitnya dan
menyerang hebat, meniru taktik Nirahai menyerang ke arah kedua mata, sedangkan
Thian Tok Lama tetap mempergunakan Ilmu Pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang biar
pun tidak dapat melukai lawan, namun sedikitnya pukulan ini dapat membuat lawan
terlempar. Dan setelah dia mengerahkan pukulan-pukulannya ke arah pusar,
Cui-beng Koai-ong ternyata tak berani sembarangan menerima pukulan ampuh itu.
Dikeroyok
empat orang yang demikian saktinya, betapa pun lihai, Cui-beng Koai-ong
kewalahan juga, akan tetapi dia tertawa-tawa, "Heh-heh-heh, banyak orang
hebat!"
Maharya yang
menyaksikan kehebatan kakek telanjang itu menjadi penasaran dan ia membentak,
"Manusia telanjang tak tahu malu! Lihat aku siapa!"
"Heh-heh,
kau orang berkulit hitam berhidung seperti kakatua, heh-heh!" Cui-beng
Koai-ong dengan berani memandang muka dan menentang mata Maharya.
"Engkau
merasa kakimu lumpuh, rebahlah!"
"Heh-heh-heh,
otakmu miring, ya?"
Maharya
kaget setengah mati ketika merasa betapa ilmu sihirnya sama sekali tidak mempan
terhadap mayat hidup itu dan merasa betapa getaran ilmu sihirnya membalik,
seolah-olah terbentur pada benteng yang aneh dan kuat!
Cui-beng
Koai-ong terdesak hebat. Anehnya, kalau Ketua Thian-liong-pang bekerja sama
dengan pimpinan pemerintah menghadapi kakek ini, adalah orang-orang
Thian-liong-pang sendiri bertempur melawan pasukan yang dipimpin oleh para
panglima! Betapa pun lihai orang-orang Thian-liong-pang, dikeroyok ratusan
orang pasukan itu, mereka mandi keringat dan terdesak.
Tiba-tiba
dari atas gubuk melayang turun Milana yang terus mengamuk. Hebat tentu saja
gerakan dara ini dan sebentar saja belasan orang anak buah pasukan berikut dua
orang panglima roboh oleh sambaran pedangnya. Pertandingan makin hebat dan
kacau balau.
"Aku
ikut...! Ha-ha-ha, Twa-suheng, aku ikut, jangan borong sendiri ahhh!"
Tiba-tiba muncul seorang kakek berkaki telanjang yang mukanya lucu, berwarna
kuning. Dia ini bukan lain adalah Kwi-bun Lo-mo Ngo Bouw Ek, tokoh Pulau Nereka
yang suka merantau. Begitu masuk, dia lalu secara ngawur menerjang, membantu
twa-suheng-nya dan disambut oleh Thian Tok Lama.
Pendeta Lama
ini maklum bahwa orang yang menjadi sute dari mayat hidup tentu lihai sekali,
maka datang-datang dia memapakinya dengan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang
mengeluarkan uap hitam!
"Wah
berbahaya..." Kwi-bun Lo-mo tertawa, cepat mengelak dan menggunakan ilmu
memindahkan tenaga. Sambil mengelak dia menghantam dari samping, seolah-olah
memindahkan atau memutar tenaga lawan untuk menghantam pemiliknya sendiri,
ditambah tenaganya sendiri.
"Omitohud...!"
Thian Tok Lama sempat menarik kembali tangannya dan mencelat mundur, kalau
tidak tentu lengannya akan patah oleh tenaga dahsyat, campuran dari tenaganya
sendiri yang meliuk ditambah tenaga lawan baru ini.
Kwi-bun
Lo-mo tertawa-tawa, akan tetapi dia segera menjadi sibuk sekali setelah Thian
Tok Lama menjalankan pukulan. Memang tingkatnya masih kalah oleh pendeta Lama
itu, hanya karena kakek ini memang mempunyai banyak ilmu aneh, maka dia masih
mampu mempertahankan dirinya.
"Wah-wah-wah,
ada pesta besar! Sam-te engkau tak akan menang melawan Si Gundul itu. Berikan
kepadaku!" Tiba-tiba muncul seorang kakek lagi yang mukanya pucat seperti
muka Si Mayat Hidup, akan tetapi begitu dia datang dan menangkis pukulan Thian
Tok Lama, pendeta Lama ini terjengkang dan terhuyung-huyung ke belakang.
Melihat ini,
Maharya cepat menubruk maju dan menghadapi kakek yang baru tiba ini. Kakek ini
bentuk tubuh dan mukanya serupa benar dengan Kwi-bun Lo-mo, akan tetapi mukanya
selalu tertawa, matanya lebar sekali dan rambutnya riap-riapan.
"Tua
bangka gila, siapa kau?" Maharya membentak sambil melintangkan senjatanya
bulan sabit.
"Ha-ha-ha-ha!
Aku siapa dan engkau siapa? Tak tahulah aku perbedaannya, kecuali bahwa engkau
jangkung dan aku pendek, bahwa namamu Maharya dan aku disebut Bu-tek Siauw-jin
(Orang Rendah), tidak seperti kau yang tinggi. Ha-ha-ha!" Kakek itu
tertawa-tawa.
Dia adalah
orang aneh dari Pulau Neraka yang baru sekarang ini muncul, seperti halnya
Cui-beng Koai-ong. Dia adalah sute dari Si Mayat Hidup, dan ji-suheng (kakak
seperguruan kedua) dari Kwi-bun Lo-mo Ngo Bouw Ek. Ilmu kepandaian Bu-tek
Siauw-jin ini luar biasa sekali, bahkan twa-suheng-nya sendiri segan menghadapi
sute-nya ini yang biar pun tingkatnya masih kalah sedikit, namun ditutup oleh
aneka macam kepandaian ilmu aneh-aneh yang dimilikinya. Sifatnya seperti Ngo
Bouw Ek Si Muka Kuning, akan tetapi dia jauh lebih lihai!
Kini pasukan
pemerintah mulai mengeroyok orang aneh ini, membantu pimpinan mereka yang
benar-benar baru sekali ini menghadapi lawan berat. Biar pun pasukan itu
seperti sekumpulan nyamuk melawan api menghadapi orang-orang aneh Pulau Neraka,
namun jumlah mereka yang banyak membuat Cui-beng Koai-ong dan kedua orang
sute-nya kewalahan juga, apa lagi lawan-lawan mereka juga bukanlah orang-orang
sembarangan. Cui-beng Koai-ong dikeroyok dua oleh Nirahai dan Bhong Ji Kun,
keadaan mereka seimbang, Ngo Bouw Ek kewalahan melawan Thian Tok Lama yang
lebih lihai, sedangkan Bu-tek Siauw-jin mendapat lawan yang tangguh dalam diri
Maharya. Kalau mereka masih diganggu oleh ratusan orang pasukan, tentu saja
mereka menjadi repot juga!
"Aihhh,
Sucouw mengapa nekat membentur kekuatan yang jauh lebih besar? Sucouw nakal
sekali, tidak menurut omongan teecu!" Tiba-tiba berkelebat bayangan orang
dan muncullah seorang pemuda tampan.
Melihat
munculnya seorang pemuda tampan yang dengan tenang berjalan menuju ke medan
pertandingan antara orang-orang sakti itu, beberapa orang prajurit segera
mengepungnya. Akan tetapi pemuda ini melangkah terus seolah-olah tidak melihat
atau tidak mempedulikan mereka, matanya tetap memandang ke arah Cui-beng
Koai-ong yang sedang repot dikeroyok dua oleh Ketua Thian-liong-pang dan Bhong
Ji Kun.
Menyaksikan
sikap yang angkuh ini, para prajurit menjadi marah dan berbareng mereka
menerjang maju. Enam orang banyaknya yang mengepung pemuda itu menggerakkan
senjata, menyerangnya dari enam penjuru.
"Singggg...
sratttt!" Tampak sinar kilat berkelebat menyilaukan mata dan... enam orang
itu dengan pinggang hampir putus terbabat pedang yang menjadi sinar kilat tadi.
Kini tampak pemuda itu dengan mata masih memandang Cui-beng Koai-ong,
memasukkan kembali pedangnya yang bersinar kilat, melanjutkan langkah
seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Para prajurit lainnya memandang dengan
mata terbelalak penuh kemarahan akan tetapi juga gentar!
Pada saat
itu, terdengar bentakan nyaring Thian Tok Lama dan sekali ini dia berhasil
memukul lawannya. Kwi-bun Lo-mo Ngo Bouw Ek, tokoh Pulau Neraka yang bermuka
kuning, yang semenjak tadi memang sudah terdesak biar pun dia masih
tertawa-tawa, sekali ini tidak dapat mengelak atau manangkis, bahkan tidak
sempat menggunakan ilmu memindahkan tenaga, dadanya terpukul
Hek-in-hwi-hong-ciang hingga tubuhnya terpental, bergulingan dan dari mulutnya
terpancur darah segar.
"Eh,
Sam-te, kau terluka?" Bu-tek Siauw-jin yang melihat ini loncat mendekat,
langsung menghampiri dan tidak mempedulikan lagi Maharya yang mengejarnya.
"Heh-heh-heh,
ji-suheng, aku... aku hendak pamit... mendahuluimu..." Kwi-bun Lo-mo
terengah-engah, akan tetapi masih tersenyum lebar.
"Wuuuttt!"
Senjata bulan sabit di tangan Maharya menyambar dan cepat sekali Bu-tek
Siauw-jin menggulingkan diri, mengelak lalu melanjutkan pembicaraannya dengan
Kwi-bun Lo-mo yang sudah menggeletak dengan napas empas-empis.
"Wah,
kau licik, mau pergi dulu, membiarkan aku Si Tua Bangka melanjutkan hukuman di
dunia, ya?"
"Heh-heh,
Ji-suheng. Kau... kau pesan apa...?"
"Pesan
tempat! Kau pesankan untukku satu tempat yang baik, ya?" Kembali Bu-tek
Siauw-jin mengelak dan balas dengan sodokan tangan ke arah perut Maharya yang
membuat Maharya cepat meloncat ke belakang.
"Di
dalam neraka, mana ada tempat yang baik? Heh-heh... akan kupesankan untukmu,
Ji-suheng... dekat aku..., heh-heh-heh..." Dan terputuslah kata-kata kakek
muka kuning yang jenaka itu, berbareng dengan nyawanya yang melayang.
"Aihhhh...
Sam-sute, jangan lupa lho...!" Pada saat itu, Maharya sudah menerjang
lagi, marah bukan main melihat betapa lawannya melayaninya sambil omong-omong
seenaknya dengan orang lain yang mau mati!
"Siuuuutttt...
wessss...!" Senjatanya menyambar dan tiba-tiba tubuh pendek itu lenyap dan
ketika ia berdongak, dari atas menyambar sebuah benda hitam yang segera meledak
ketika menyentuh tanah di dekat Maharya!
Maharya
sudah cepat meloncat, akan tetapi betisnya masih terkena api yang panas sekali,
membuat dia makin marah. Akan tetapi, sambil tertawa-tawa Bu-tek Siauw-jin
sudah menaburi jenazah Kwi-bun Lo-mo dengan obat bubuk putih, kemudian
meledakkan senjata rahasia dan... jenazah itu terbakar, menyala-nyala tinggi
sehingga terciumlah bau sangit yang memenuhi tempat pertandingan itu.
"Sucouw,
mari kita pergi saja!" Pemuda tampan itu kini sudah berada dekat suhu-nya
yang masih dikeroyok dua.
"Aihhhh!
Orang baru enak-enak bercanda, kau ganggu saja!" Kakek telanjang itu
mengomel.
Akan tetapi
pemuda itu yang bukan lain adalah Wan Keng In, putera Majikan Pulau Neraka yang
menjadi muridnya, telah menyambar tangannya kemudian mengajak suhu-nya melompat
jauh. Nirahai dan Bhong Ji Kun hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba pemuda
itu melemparkan sesuatu ke atas tanah dan... asap hitam membubung tinggi,
membentuk tirai yang gelap dan mengeluarkan bau yang memuakkan, membuat Nirahai
dan Bhong Ji Kun terpaksa mundur lagi.
"Wah-wah,
keringat kalian bau sekali! Aku tidak tahan lagi...!" Tiba-tiba Bu-tek
Siauw-jin berkata dan dia pun meloncat meninggalkan Maharya dan Thian Tok Lama
yang sudah mulai mengeroyoknya.
Dia pun
melemparkan benda hitam yang mengeluarkan asap hitam tebal dan sebentar saja
menghilang. Di sepanjang jalan ke arah perginya tiga orang manusia aneh dari
Pulau Neraka itu, para prajurit yang mencoba menghalang roboh terpelanting ke
kanan kiri dalam keadaan tidak bernyawa lagi!
Nirahai
tertegun, dan diam-diam dia harus mengakui bahwa tokoh-tokoh Pulau Neraka
merupakan lawan berat. Dia kini baru sadar bahwa anak buahnya masih bertanding
melawan para prajurit pemerintah, bahkan kini Thian Tok Lama, Maharya dan Bhong
Ji Kun sudah mengurungnya dengan sikap mengancam.
"Bhong-koksu,
hentikan pertempuran ini!" katanya kepada Bhong Ji Kun.
"Hemm,
Thian-liong-pang sudah berani memberontak, akan kami hancurkan!" jawab
Bhong Ji Kun sambil menyerang, diikuti oleh Maharya dan Thian Tok La-ma.
"Bhong
Ji Kun, aku mau bicara, mari ikut ke atas!" Tubuh Nirahai melayang ke atas
gubuknya. Bhong Ji Kun merasa heran dan meloncat pula mengejar.
"Kalian
jangan ikut!" Nirahai membentak ke bawah ketika melihat Maharya dan Thian
Tok Lama hendak meloncat naik pula. "Apakah kalian tidak percaya
kepadaku?!"
Bhong Ji Kun
berkata ke bawah, "Jangan naik, biarkan aku bicara dengan
Thian-liong-pangcu!" Ia lalu mengikuti masuk ke dalam gubuk itu.
Nirahai
menghadapi Bhong-koksu, sambil menarik kerudungnya terbuka. "Bhong-koksu
lihat siapa aku!"
Bukan main
kagetnya Bhong Ji Kun ketika ia melihat wajah yang cantik jelita dan agung
berwibawa itu. Cepat ia menjura sambil berkata, "Kiranya Paduka Puteri
Nirahai yang menjadi Ketua Thian-liong-pang."
Nirahai
memasangkan kerudungnya kembali. "Jangan beritahukan kepada orang lain.
Tahukah engkau bahwa aku tidak ingin memusuhi pasukan ayahku sendiri? Aku
sedang hendak menguasai dunia kang-ouw agar tidak terjadi lagi pemberontakan!
Kau sudah menyaksikan sendiri kelihaian orang-orang Pulau Neraka, dan tanpa
kerja sama mana mungkin kau akan menumpas atau menguasai mereka? Lekas
perintahkan pasukanmu mundur!"
Maharya dan
Thian Tok Lama yang menanti di bawah, sudah siap untuk meloncat naik dan
membantu kalau koksu terancam bahaya. Akan tetapi, alangkah heran hati mereka
ketika melihat koksu muncul lagi, lalu berseru dari atas,
"Semua
pasukan! Hentikan pertempuran dan mundur!"
Juga Nirahai
muncul dan melengking nyaring. "Wi Siang, hentikan pertempuran!"

Teriakan-teriakan
ini amat nyaring sehingga terdengar oleh semua orang yang sedang bertanding,
dan seketika kedua belah pihak masing-masing mundur dan menghentikan
pertandingan. Milana yang tahu bahwa ibunya tentu tidak menghendaki pertempuran
melawan pasukan Kaisar, kakeknya sendiri, segera memimpin orang-orangnya mundur
dan mengelilingi gubuk. Ada pun Bhong Ji Kun lalu melompat turun memerintahkan
sisa panglima untuk menarik semua pasukan dan dia sendiri memandang ke atas,
kepada wanita berkerudung, menjura dan berkata,
"Thian-liong-pangcu!
Thian-liong-pang bukan musuh kami, bukan pula pemberontak, maka kami mohon
diri!"
Nirahai
mengangkat tangan melambai dan pergilah pasukan itu membawa yang terluka dan
meninggalkan yang tewas. Nirahai lalu mengajak anak buahnya pergi pula dari
tempat itu.
"Kiang-lopek,
ke sinilah, kuobati lukamu!" kata Nirahai setelah melompat turun dan
melihat betapa lengan kiri Kiang Bok Sam, seorang tokoh Thian-liong-pang yang
bertubuh tinggi besar seperti raksasa telah buntung. Raksasa ini dalam
pertempuran tadi, menghadapi pula Wan Keng In dan lengan kirinya kena disambar
Lam-mo-kiam sehingga buntung. Namun dia masih terus mengamuk melawan pasukan
pemerintah!
"Hemm,
engkau seorang yang gagah dan setia, Kiang-lopek." Nirahai memuji sambil
menaruh bubuk obat dan membalut lengan yang buntung itu. "Jangan khawatir,
buntungnya lengan kirimu tidak akan mengurangi kegagahanmu. Aku sendiri akan
menurunkan ilmu kepadamu."
Maka
pergilah rombongan Thian-liong-pang itu, dan setelah tiba di pusat mereka,
benar saja Nirahai mengajarkan ilmu silat tinggi yang membuat Kiang Bok Sam
menjadi seorang yang lebih lihai dari pada sebelum lengannya buntung, bahkan
ilmu tongkat dengan satu tangan yang diajarkan Nirahai membuat dia lebih lihai
dari pada Sai-cu Lo-mo sendiri! Mungkin hanya tinggal Tang Wi Siang saja yang
masih dapat menandinginya, dan tentu saja dia masih kalah tingkat kalau
dibandingkan dengan Milana.
Padang
tandus yang gersang itu kini berubah sunyi mengerikan. Di sekeliling pondok
yang tinggi itu berserakan mayat-mayat manusia, dan tanah yang kering itu kini
basah, bukan oleh air, melainkan oleh darah manusia!
Menjelang
senja, tampak seorang penunggang kuda menjalankan kudanya perlahan memasuki
padang tandus itu. Orang ini adalah Gak Bun Beng. Dia terpaksa berdiam di dalam
hutan dan bersemedhi, mengobati luka di dalam dadanya akibat pukulan maut
terakhir dari Thai Li Lama. Setelah merasa bahwa bahaya telah lewat dan dadanya
tidak begitu sesak lagi, Bun Beng bangkit.
Hari telah
menjadi sore ketika mendadak dia melihat beberapa ekor kuda tanpa penunggang
berlari ke dalam hutan seperti ketakutan. Cepat ia menyambar kendali seekor
yang terseret, dan dengan ringan dia meloncat ke atas punggung kuda itu. Kuda
itu meringkik dan berjingkrak ketakutan, akan tetapi setelah mendapat kenyataan
bahwa yang menungganginya tidak mengganggunya, dia menjadi jinak, keempat
kakinya menggigil dan tubuhnya lemas.
"Hemm,
agaknya terjadi sesuatu yang hebat di tempat pertemuan di bawah sana. Kuda yang
patut dikasihani, engkau tentu telah menyaksikan hal-hal yang menakutkan.
Tenanglah, dan bawa aku turun ke sana." Dia lalu menunggang kuda itu
menuruni lereng gunung, perlahan-lahan karena kudanya sudah lelah sekali.
Beberapa ekor kuda itu adalah kuda tunggangan para panglima yang roboh tewas
dan binatang-binatang itu melarikan diri, naik ke gunung dengan ketakutan.
Dapat
dibayangkan betapa ngeri dan kaget hati Bun Beng ketika kudanya membawanya ke
tempat bekas terjadinya pertandingan itu. Di sana-sini berserakan mayat-mayat
manusia yang berpakaian seperti orang-orang kang-ouw. Itulah mayat-mayat para
mata-mata, yaitu para panglima yang berpakaian sebagai orang kang-ouw, ada yang
putus kepalanya, ada yang mati dalam keadaan tidak terluka sama sekali.
Dan banyak
lagi orang-orang berpakaian biasa yang tewas dekat tiang gubuk, akan tetapi
lebih banyak lagi mayat-mayat berpakaian tentara. Tempat itu menjadi tempat
pesta burung-burung gagak yang memekik dan terbang pergi ketika Bun Beng lewat
di atas kudanya, akan tetapi mereka turun kembali setelah Bun Beng lewat,
melanjutkan pesta mereka mematuki daging segar dari luka-luka di tubuh
mayat-mayat itu yang masih ada darah segarnya!
Bung Beng
menghentikan kudanya, memandang ke sekeliling dan menarik napas panjang. Betapa
mengerikan akibat perbuatan manusia, pikirnya. Setelah memandang mayat-mayat
itu, dia terharu, dan lenyaplah semua rasa benci. Mayat-mayat itu sekarang sama
saja, tidak terpisah-pisah oleh golongan-golongan lagi, kesemuanya mendatangkan
rasa iba dan haru di hatinya. Mayat-mayat manusia yang mati secara sia-sia,
setelah menjadi mayat pun masih tersia-sia. Haruskah manusia saling bunuh
seperti ini?
Kembali dia
menarik napas panjang, lalu turun dari atas punggung kuda. Ia memungut sebatang
golok besar, kemudian digalinya lubang-lubang di tempat itu dan dikuburnya
mayat-mayat itu. Lima buah mayat selubang, tanpa membedakan pakaian mereka.
Ketika ia melihat setumpuk mayat yang telah menjadi arang, sebuah mayat yang
agaknya terbakar, tanpa mengetahui bahwa itu adalah mayat Kwi-bun Lo-mo Ngo
Bouw Ek, kakek jenaka dari Pulau Neraka yang pernah mengajarnya mengendalikan
layang-layang raksasa sehingga tanpa disengaja menurunkan ilmu memindahkan
tenaga kepadanya, Bun Beng menggeleng-geleng kepala dan tak dapat mengerti
mengapa ada yang mati terbakar! Dia lalu mengubur pula arang bekas mayat itu.
Sampai jauh
malam barulah selesai dia menguburkan semua mayat itu, kemudian menunggangi
pula kudanya dan meninggalkan tempat mengerikan itu dengan hati berat dan
perasaan muak terhadap ulah para manusia yang haus darah. Dia mengerti bahwa
mereka yang menjadi korban itu hanyalah manusia-manusia yang diperalat, yang
bertempur karena perintah tanpa ada permusuhan pribadi, tanpa alasan, hanya
menurutkan perintah semata. Dan yang memerintahkan tentulah orang-orang yang
dibencinya itu, Koksu dan kaki tangannya dan... agaknya Ketua Thian-liong-pang
juga! Diam-diam dia merasa penasaran dan kecewa sekali, apa lagi kalau dia
teringat kepada Milana. Mengapa gadis seperti itu, puteri Pendekar Super Sakti,
terlahir di tengah-tengah lingkungan yang penuh kekejaman itu? Dia menghela
napas dan menepuk-nepuk punggung kudanya.
"Kuda,
engkau hanya binatang, akan tetapi pernahkah terjadi di dunia ini binatang
berperang saling bunuh-membunuh seperti yang dilakukan manusia, makhluk yang
merasa diri paling suci itu?"
Kuda itu
tentu saja tidak bisa menjawab, akan tetapi tepukan-tepukan penuh perasaan pada
punggungnya membuat dia menggerak-gerakkan ekornya sambil berjalan perlahan
meninggalkan tempat itu.
***************
Kwi Hong dan
Phoa Ciok Lin yang hidup bersama sisa anak buah Pulau Es di tepi pantai utara
menanti kedatangan Pendekar Super Sakti sampai beberapa lamanya, namun yang
dinanti-nanti tak kunjung datang. Mereka menjadi prihatin sekali dan untung
bagi mereka bahwa pantai yang bertebing tinggi dan di bawahnya terdapat goa itu
merupakan tempat persembunyian yang baik.
Pula di atas
tebing terdapat hutan-hutan yang menjamin mereka dengan sayur-sayuran dan
buah-buahan, juga mereka dapat pergi ke dusun-dusun jauh ke daratan untuk
mendapatkan segala keperluan hidup mereka sehari-hari. Untuk keperluan daging
mereka tidak kekurangan karena selain mereka bisa mencari ikan laut, juga di
hutan terdapat binatang-binatang hutan yang dapat mereka buru. Phoa Ciok Lin
hanya menyuruh mereka yang dapat dipercaya untuk naik ke daratan mencari
kebutuhan mereka dengan pesan keras agar jangan sampai ada orang tahu tentang
keadaan mereka dan jangan sekali-kali menimbulkan keributan.
Yang paling
menderita batinnya adalah Kwi Hong. Dara ini sudah tidak betah lagi tinggal di
tempat itu, dan ingin sekali dia pergi merantau, akan tetapi selalu Phoa Ciok
Lin mencegahnya dan mengatakan bahwa pamannya tentu akan marah kalau dalam
keadaan seperti itu pamannya datang sedangkan Kwi Hong tidak berada di situ.
Untuk
melewatkan waktu dan menghibur diri, Kwi Hong menyibukkan diri dengan mencari
ikan atau berburu binatang di dalam hutan-hutan. Pada suatu hari, ketika dia
mencari ikan ke pantai yang agak jauh dari tempat sembunyi mereka, di pantai
dangkal, tiba-tiba ia melihat sebuah benda terapung di laut, terbawa ombak dan
minggir. Setelah dekat, tampak olehnya bahwa benda itu adalah sebuah peti
persegi panjang, diikat dengan tali. Sebagian tali terlepas dan terseret peti
yang terbawa ombak.
Kwi Hong
cepat lari menghampiri ketika peti terbawa sampai ke tepi dan diam-diam merasa
heran mengapa peti yang kelihatan berat itu sampai dapat terbawa ombak kecil ke
pantai, seolah-olah ada yang menggerakkannya. Dia menangkap ujung tali yang
terlepas, lalu menarik peti ke darat. Memang cukup berat dan diam-diam ia
menduga-duga benda apakah gerangan yang berada di dalam peti. Agaknya angkutan
sebuah perahu yang terguling atau terjatuh ke laut, kemudian oleh ombak
terdorong sampai ke tepi, pikirnya sambil menarik terus peti itu ke atas pasir
sehingga ombak air laut tidak dapat mencapainya.
Dengan hati
berdebar, dia membuka tali yang mengikat peti itu, kemudian dibukanya penutup
itu. Dengan pengerahan tenaga, dapat dia memaksa penutup yang tertutup rapat
itu.
"Braaaakkkk...!"
Tutup peti terbuka dan Kwi Hong cepat menjenguk peti dengan hati yang tidak
sabar lagi.
"Haiiiihhhh...!"
Dara itu menjerit dan hampir dia pingsan saking kagetnya, otomatis kedua
tangannya meraba sepasang pipinya yang menjadi pucat, matanya terbelalak
memandang ke dalam peti.
Biar pun Kwi
Hong seorang dara perkasa yang tidak takut menghadapi setan sekali pun, namun
sekali ini dia benar-benar terkejut dan ngeri karena tidak menyangka-nyangka
bahwa peti itu terisi sebuah... mayat! Hati siapa takkan terkejut membuka peti
yang dikira berisi barang berharga, ternyata terisi mayat seorang kakek tua
yang pakaiannya masih baru akan tetapi potongannya tidak karuan itu?
"Iihhh...
hiihh... hiiihhhh...!" Kwi Hong menjerit lagi dan matanya terbelalak makin
lebar, kemudian dia menggosok-gosok kedua mata dengan tangan seolah-olah tidak
percaya akan pandang matanya sendiri.
Mayat itu
dapat bergerak! Mula-mula pelupuk mata yang tadinya terpejam itu
bergerak-gerak, lalu mata itu terbuka, kemudian mulut yang tak bergigi itu
menyeringai dan tertawa.
"Heh-heh-heh-heh!"
Kakek yang kurus kering itu melompat keluar dari dalam petinya!
Setelah kini
merasa yakin bahwa yang dihadapinya adalah makhluk hidup, bukan mayat yang
hidup kembali, hati Kwi Hong menjadi tenang dan keberaniannya timbul kembali.
Ia segera memandang penuh perhatian dan mendapat kenyataan bahwa biar pun
kelihatannya seperti mayat, namun sesungguhnya yang berdiri di depannya,
bertubuh tinggi kurus kering ini adalah seorang kakek yang sangat tua, begitu
tuanya sampai tidak berdaging lagi, mukanya pucat tak berdarah seperti mayat
dan matanya mengerikan karena batas antara manik mata hitam dan putihnya sudah
kabur, membuat mata itu seperti berwarna putih semua.
Kakek tua
renta yang seperti mayat hidup ini bukan lain adalah Cui-beng Koai-ong, tokoh
utama dan pertama dari Pulau Neraka yang selama ini menyembunyikan diri saja!
Barulah sesudah tanpa disengaja dia bertemu dengan Wan Keng In dalam
persembunyiannya di Pulau Neraka dan dia mengambil pemuda itu sebagai muridnya,
kakek ini mulai mau berkenalan lagi dengan dunia ramai, bahkan dengan dunia
kang-ouw.
Akan tetapi
karena sudah puluhan tahun dia mengasingkan diri, mempelajari ilmu yang
aneh-aneh, melakukan tapa dan pantangan yang tidak lumrah, bahkan tempat
pertapaan yang paling digemarinya adalah di dalam peti-peti mati bekas mayat
yang sudah tua sekali sehingga dia seolah-olah dalam puluhan tahun ini tidur
bersama kerangka-kerangka manusia, maka sekali keluar di dunia ramai dia
membuat geger dengan kelakuannya yang tidak lumrah manusia!
Dia ternyata
amat sayang kepada Wan Keng In sehingga hanya pemuda yang menjadi muridnya itu
saja yang dapat menguasainya dengan bujukan-bujukan bahkan kadang-kadang dengan
teguran-teguran seperti kalau orang menghadapi anak kecil. Ketika mendengar
dari muridnya akan pertemuan orang-orang pandai dari dunia persilatan yang
diadakan oleh Thian-liong-pang, kakek ini menyatakan ingin menghadirinya. Keng
In sudah melarang gurunya karena maklum bahwa gurunya tentu akan membikin
kacau, sedangkan dia sendiri masih prihatin memikirkan Pulau Neraka yang dibumi
hanguskan oleh pasukan-pasukan pemerintah.
Akan tetapi
kakek itu nekat dan muncul secara tak terduga-duga karena sebelumnya dia sudah
bersembunyi di dalam peti mati di bawah tanah dan begitu dia muncul, benar saja
menimbulkan geger! Anehnya, kakek ini seperti memiliki getaran yang ajaib
sehingga secara luar biasa muncul pula dua orang sute-nya di tempat pertemuan
orang kang-ouw itu yang mengakibatkan tewasnya Kwi-bun Lo-mo Ngo Bouw Ek. Keng
In membawa pergi gurunya dan setengah memaksa gurunya untuk mengenakan pakaian
yang telah dibelinya. Kakek itu menurut, tetapi beberapa hari kemudian ia
lenyap kembali tanpa pamit!
Demikianlah,
secara tak terduga-duga, kakek ajaib itu berada dalam peti yang didaratkan Kwi
Hong. Kiranya kakek ini timbul rindunya untuk mengunjungi Pulau Neraka, agaknya
dia lupa akan penuturan muridnya bahwa Pulau Neraka telah dibumi hanguskan oleh
pasukan pemerintah. Akan tetapi, sebelum tiba di Pulau Neraka kakek itu
ketiduran di dalam petinya sehingga peti yang merupakan perahu, dan tempat
tidur itu, terbawa ombak sampai minggir dan secara kebetulan saja dia bertemu
dengan Kwi Hong.
"Heh-heh-ha-ha-ha,
bocah kurang ajar! Orang sedang enak-enak tidur diganggu! Kau agaknya minta
dihajar!" Cui-beng Koai-ong yang sudah berdiri di depan Kwi Hong menegur
dan biar pun dari kerongkongannya terdengar suara kekeh seperti orang tertawa,
akan tetapi mulutnya yang tak bergigi lagi itu cemberut, dan kedua kakinya bergantian
dibanting-banting ke atas pasir seperti seorang anak kecil kalau marah dan
kecewa.
Kwi Hong
adalah seorang dara yang berhati keras, akan tetapi menyaksikan keadaan kakek
yang seperti anak-anak ini, yang amat aneh dan yang dapat ia duga tentu bukan
orang sembarangan, segera menjura dengan sikap hormat dan berkata,
"Mohon
maaf sebanyaknya, Locianpwe. Karena tidak tahu maka tanpa sengaja saya berani
mengganggu, tidak mengira bahwa Locianpwe yang berada dalam peti itu..."
"Hayo
berlutut dan mengaku kakekmu sebagai Sucouw (Kakek Guru Besar), baru aku mau
mengampunimu!" Dahulu ketika pertama kali berjumpa dengan Wan Keng In,
kakek itu juga berkata demikian dan Keng In menuruti kemauannya, maka pemuda
itu lalu diambil murid dan diajari ilmu-ilmu yang amat luar biasa.
Akan tetapi
Kwi Hong adalah seorang gadis yang keras hati. Sebagai keponakan dan juga murid
Pendekar Siluman yang terkenal tentu saja dia tidak sudi mengaku kakek itu
sebagai sucouw, karena hal itu sama saja mengakui kakek ini sebagai kakek guru
dari pamannya! Kalau dia melakukan ini, berarti sebuah penghinaan telah
dilontarkan kepada nama besar Pendekar Super Sakti.
"Locianpwe,"
jawabnya dengan suara dingin, "saya telah melakukan kesalahan yang tidak
saya sengaja dan untuk itu telah mohon maaf kepadamu. Harap Locianpwe tidak
menuntut yang terlalu berat. Locianpwe bukan sucouw saya, tidak mungkin saya
mau mengakui Locianpwe sebagai Sucouw. Sudahlah, saya mempunyai banyak
pekerjaan!" Setelah berkata demikian, Kwi Hong membalikkan tubuhnya dan
melangkah pergi meninggalkan kakek yang menimbulkan rasa ngeri di hatinya itu.
"Heeiiiihh!
Berhenti! Jangan harap kau bisa pergi sebelum berlutut dan mengakui aku sebagai
Sucouw!"
Kwi Hong
terkejut bukan main. Dia sedang melangkah cepat, akan tetapi baru lima enam
langkah, setelah meninggalkan kakek itu kurang lebih empat meter jauhnya,
tiba-tiba tubuhnya terhenti dan kakinya tak dapat digerakkan ke depan,
seolah-olah ada tenaga mukjizat menahannya dari depan, atau lebih tepat lagi,
tenaga mukjizat itu menyedot dan menahannya dari belakang!
Dia menjadi
penasaran, dikerahkannya sinkang-nya dan dia memaksa diri melangkah ke depan.
Kakinya dapat digerakkan, namun langkahnya tetap di tempat, sama sekali tidak
dapat maju sejengkal pun!
"Heh-heh-heh-heh,
anak nakal! Mana bisa kau pergi begitu saja sebelum memehuhi permintaanku? Hayo
kembali ke sini!"
Makin
kagetlah Kwi Hong ketika tubuhnya tertarik ke belakang oleh tenaga yang amat
dahsyat, yang membuat dia ketika bertahan hampir terjengkang. Cepat ia
membalikkan tubuhnya dan melihat betapa kakek itu hanya melambaikan tangan
kiri, dari mana menyambar tenaga dahsyat yang menariknya. Maklumlah dia bahwa
dia berhadapan dengan orang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa dan yang
tidak berniat baik terhadap dirinya.
Dia merasa
menyesal sekali mengapa dia meninggalkan Li-mo-kiam, karena untuk menghadapi
lawan yang begini pandai, dia harus melawan dengan mati-matian, dan kalau
pedang pusaka itu berada di tangannya, tentu dia akan dapat melawan lebih baik.
Betapa pun juga, melihat betapa kakek itu menyeringai mengerikan dan tubuhnya
seperti terbetot ke depan, Kwi Hong membentak marah,
"Kiranya
engkau iblis yang jahat!" Dia lalu meloncat ke depan dan memukul dengan
tenaga Swat-im Sin-ciang, yaitu tenaga inti es yang merupakan pukulan paling
ampuh dari gadis perkasa ini.
"Cieeettt...
bukkk...!" Tubuh kakek itu terpental bergulingan dan dia bangkit lagi
sambil menggigil.
"Ihhh,
dingin...! Eh, apakah kau dari Pulau Es?" tanyanya.
Kwi Hong terbelalak.
Pukulannya yang mengenai dada tadi hebat sekali, dia telah mengerahkan seluruh
tenaga sinkang-nya. Namun kakek itu hanya terpental, dan cepat dapat bangkit
lagi sambil sedikit menggigil kedinginan, bahkan dari suaranya dapat ia ketahui
bahwa kakek itu sama sekali tidak terluka! Mendengar pertanyaan itu, Kwi Hong
menjawab cepat untuk membikin kakek yang lihai luar biasa itu menjadi takut.
"Benar!
Aku adalah keponakan dan murid dari Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es.
Harap Locianpwe jangan mengganggu aku dan suka pergi, agar jangan membikin
marah Pamanku!"
Kakek itu
tertawa lebar dan Kwi Hong merasa makin ngeri. Kakek itu tertawa seperti mayat
tertawa. Hanya mulutnya saja yang terbuka dan menyeringai sehingga dari
kerongkongannya keluar suara terkekeh, namun biji matanya yang putih, wajahnya,
sama sekali tidak ikut tertawa!
"Heh-heh-hah-hah-hah!
Jadi engkau murid Pendekar Siluman? Kebetulan sekali. Telah lama aku rindu
untuk mengadu ilmu dengan Pendekar Siluman, sekarang bertemu dengan muridnya,
dapat kuukur sampai di mana kehebatannya!" setelah berkata demikian kakek
itu menyerang!
Serangannya
amat luar biasa, tubuhnya mengkerut pendek, kemudian tiba-tiba mencelat ke arah
Kwi Hong. Kaki tangannya bergerak kacau, akan tetapi tahu-tahu kedua tangan
yang jari-jarinya kurus seperti kerangka itu mengirim lima kali totokan secara
bertubi-tubi. Gerakan ini mengingatkan Kwi Hong akan gerakan binatang kuda laut
yang meloncat, atau semacam ulat yang kalau hendak meloncat selalu menekuk dan
mengerutkan tubuhnya, baru tiba-tiba mencelat ke depan. Cepat ia menggerakkan tubuhnya
mengelak, lima kali berturut-turut akan tetapi yang terakhir betapa pun cepat
gerakannya, tetap saja pundaknya tertotok dan tubuhnya menjadi lemas dan
lumpuh.
"Heh-heh-heh-heh!
Tidak seberapa!" Kakek yang mengerikan itu terkekeh, tangannya bergerak
lagi ke arah pundak dan totokannya buyar.
Lalu Kwi
Hong meloncat bangun lagi! Ngeri hati dara ini, karena maklum bahwa kakek itu
sengaja mempermainkannya, setelah berhasil menotoknya lalu membebaskan totokan
itu agar dia dapat melawan lagi. Perasaan ngeri ini sama sekali bukan berarti
dia takut, malah sebaliknya. Dia menjadi penasaran dan biar pun maklum bahwa
kakek itu sakti sekali, namun dia mengambil keputusan untuk melawan
mati-matian. Maka ia cepat membalas dengan serangan cepat, mengunakan ilmu silat
yang ia pelajari dari pamannya, semacam ilmu silat yang memiliki dasar ilmu
Soan-hong-lui-kun. Akan tetapi tentu saja tidak seperti Soan-hong-lui-kun yang
asli karena ilmu mukjizat itu hanya dapat dilatih secara sempurna oleh seorang
yang kakinya tinggal sebuah.
Pendekar
Super Sakti telah mencipta sebuah ilmu silat yang dasarnya memakai ilmu itu,
akan tetapi gerakan kakinya tentu saja disesuaikan dengan orang yang berkaki
dua. Namun ilmu ini cukup hebat, tubuh Kwi Hong mencelat ke sana ke mari dan
pukulan kedua tangannya menggunakan Hwi-yang Sin-ciang yang panas, sedangkan
kadang-kadang dirubah dengan Swat-im Sin-ciang yang dingin.
"Hebat...
hebat... eh, ilmu apakah ini?" Kakek itu terkekeh-kekeh, mengelak ke sana
ke mari dan kadang-kadang memberi komentar ketika menangkis pukulan-pukulan
itu, "Eh, panas... Hwi-yang Sin-ciang, ya? Aduhhh, dinginnya, inilah
Swat-im Sin-ciang! Ha-ha-ha, akan tetapi bukan apa-apa bagiku!"
"Plak!
Plak!"
Ketika Kwi
Hong memukul dengan kedua tangannya berturut-turut selagi tubuhnya mencelat ke
atas, menukik dan mengirim pukulan Yang-kang dan Im-kang dengan kedua tangan
mengarah ubun-ubun kepala kakek itu, Cui-beng Koai-ong menerima pukulan itu
dengan kedua telapak tangannya dan... Kwi Hong merasa betapa kedua telapak
tangannya melekat kepada kedua tangan kakek itu, tak dapat terlepas lagi
seperti tersedot oleh hawa yang mukjizat. Tubuhnya masih berada di udara, kedua
kaki ke atas dan kedua tangannya tersangga oleh kedua tangan Si Kakek sehingga
kelihatannya dua orang itu sedang main akrobat!
"Heh-heh-heh!"
Kakek itu tertawa dan sekali dia dorongkan kedua tangannya, tubuh Kwi Hong
terlempar jauh ke atas dan ke belakang.
Untung bahwa
dara ini memiliki ginkang yang sudah cukup tinggi sehingga dia dapat berjungkir
balik dan jatuh ke atas tanah dengan kedua kaki yang ditekuk lututnya terlebih
dulu, tidak sampai terbanting. Kwi Hong melongo dan dia maklum bahwa kalau
dilanjutkan, dia akan celaka. Lebih baik lari mengambil pedang Li-mo-kiam lebih
dulu, atau minta bantuan bibinya, Phoa Ciok Lin. Kalau dia menggunakan pedang
itu dan dibantu bibinya, tentu akan dapat merobohkan kakek sakti ini. Maka dia
lalu membalikkan tubuhnya dan lari!
"Eiiiiiittt!
Baru enak-enaknya bertanding mau pergi ke mana?"
Kembali Kwi
Hong terkejut karena seperti tadi, tubuhnya tidak dapat maju biar pun kedua
kakinya tetap bergerak lari. Dia hanya lari di tempat, padahal jarak antara dia
dan kakek itu ada tujuh meter jauhnya! Bulu tengkuknya berdiri, ini tidak
lumrah, pikirnya. Bukan kepandaian manusia!
Tiba-tiba
terdengar pekik burung di udara. Kwi Hong menengok dan diam-diam mengeluh.
Celaka, burung rajawali dari Pulau Neraka. Kalau bocah bengal dari Pulau Neraka
yang datang, dia lebih celaka lagi! Dikerahkannya tenaga sinkang-nya, namun
tetap saja tubuhnya tak dapat maju dan kakek itu terkekeh-kekeh sangat girang
karena dapat mempermainkan dara itu.
Burung
rajawali menyambar turun dan tiba-tiba dari atas punggungnya meloncat turun
seorang laki-laki berkaki buntung sebelah. Pendekar Super Sakti Suma Han! Begitu
meloncat turun, Suma Han menggerakkan tangan kanannya didorongkan ke depan di
antara keponakannya dan kakek itu. Serangkum tenaga dahsyat menyambar, dan
‘terputuslah’ tenaga kakek yang menyedot tubuh Kwi Hong. Akibatnya, Kwi Hong
yang mengerahkan tenaga lari ke depan itu, terdorong ke depan dan nyaris
hidungnya yang kecil mancung itu mencium tanah kalau saja dia tidak cepat
menekuk leher dan membiarkan bahunya yang terbanting, lalu bergulingan dan
hanya pakaiannya saja yang kotor, akan tetapi kulit tubuhnya tidak sampai
terluka.
Ia meloncat
bangun dan betapa girangnya ketika ia melihat pamannya telah berada di situ.
Dengan heran Kwi Hong menoleh ke arah burung rajawali yang kini bertengger di
batu karang dan terlihat tenang-tenang saja. Pamannyalah yang datang menunggang
rajawali. Sungguh aneh!
Suma Han
berdiri dengan kaki tunggalnya, bersandar tongkat dan memandang kakek kurus itu
dengan sinar mata tajam dan dia berkerut. Kakek itu pun memandang dan agaknya
dia lupa akan kebiasaannya terkekeh, karena kini dia melongo dan meneliti Suma
Han dari kakinya yang tinggal sebelah sampai ke rambut kepalanya yang putih
berkilau seperti benang-benang perak itu.
"Kau...
kau... Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es...?" Kakek itu bertanya,
suaranya agak gemetar!
Suma Han
mengangguk, masih tidak menjawab, hanya sedang meneliti kakek di depannya. Dia
tidak mengenal kakek itu, akan tetapi yang membuat dia heran adalah muka yang
pucat tak berdarah, dan sukar sekali menaksir usia kakek ini, tentu lebih dari
seratus tahun! Juga kulit pembungkus tulang tanpa daging itu kelihatan
kebiruan, dan dia maklum bahwa orang ini memiliki kekebalan yang tidak lumrah
dimiliki manusia, maka dia bersikap hati-hati. Betapa herannya ketika dia
menjawab dengan anggukan kepala, tiba-tiba kakek itu menjatuhkan diri berlutut!
"Sebelumnya
hamba, Cui-beng Koai-ong mohon maaf sebanyaknya kepada To-cu Pulau Es bahwa
hamba seorang buangan berani bersikap kasar terhadap pemilik Pulau Es!"
Suma Han
mengerutkan alisnya yang masih hitam, berbeda dengan rambut kepalanya, kemudian
terdengar dia bertanya dengan suara halus dan hormat,
"Locianpwe
siapakah? Dan mengapa minta maaf kepadaku?"
Tiba-tiba
kakek itu bangkit berdiri, tertawa dan berkata, "Aku sudah memenuhi sumpah
dan kewajiban, sebagai orang buangan dari Pulau Neraka telah minta maaf.
Sekarang, karena kita bertemu bukan di Pulau Es, tingkat kita menjadi sama-sama
orang pelarian, ha-ha-ha!"
"Locianpwe
dari Pulau Neraka?" Suma Han teringat akan Lulu dan kembali diam-diam dia
merasa heran sekali. "Masih ada hubungan apakah dengan Ketua Pulau
Neraka?"
"Ketua
Pulau Neraka? Wanita itu? Heh-heh, dia hanya Ketua palsu, Ketua boneka,
ha-ha-ha! Kamilah yang sebetulnya menjadi pimpinan Pulau Neraka! Kami berdua,
aku Cui-beng Koai-ong dan Sute-ku Bu-tek Siauw-jin Si Gila Otak Miring itu!
Wanita itu bisa apa? Kalau aku menghendaki, mana bisa dia menjadi Ketua Pulau
Neraka?"
Suma Han
makin terheran-heran dan diam-diam mengkhawatirkan keadaan Lulu. "Mengapa
Locianpwe membiarkan dia menjadi Ketua?"
"Engkau
tertarik sekali kepadanya, bukan? Heh-heh, Pendekar Siluman, karena dia itu
adik angkatmu, karena dia mendendam kepadamu, maka kami biarkan saja! Kami
senenek moyang kami telah disumpah untuk menjadi orang buangan dari Pulau Es,
tidak diperbolehkan menginjakkan kaki ke Pulau Es! Betapa pun inginku
menandingi yang menjadi Ketua Pulau Es, kalau aku tidak boleh datang ke sana,
bagaimana mungkin? Maka kubiarkan wanita Adik Angkatmu itu menjadi Ketua,
karena dialah merupakan umpan agar aku dapat berhadapan denganmu di luar Pulau
Es. Sayang, ketika kau berani datang ke Pulau Neraka, aku dan Sute-ku sedang
pergi merantau. Akan tetapi, sekarang Pulau Es telah menjadi abu, juga Pulau
Neraka, kita sama-sama tidak berpulau, sama-sama menjadi pelarian dan kebetulan
kita saling jumpa di sini. Pendekar Siluman, hayo kita mengadu ilmu di sini!
Biarlah dendam Pulau Neraka yang sudah ratusan tahun itu kita selesaikan di
sini, kau sebagai To-cu Pulau Es harus membayarnya!"
"Nanti
dulu, Locianpwe! Setelah kini Pulau Neraka dibumi hanguskan oleh pasukan pemerintah,
lalu bagaimana dengan kedudukan Ketua Pulau Neraka?" Suma Han masih
khawatir akan nasib Lulu yang dicintanya.
"Dia?
Heh-heh, biarlah menjadi Ketua orang-orang pelarian itu. Tadinya akan kubunuh
dia, akan tetapi mengingat bahwa puteranya menjadi muridku, maka... eh,
sudahlah, banyak ngobrol. Hayo kau kalahkan aku!"
Berkata
demikian, kakek itu sudah menerjang maju dengan gerakan aneh tetapi ganas dan
dahsyat sekali ke depan. Suma Han lantas mencelat ke atas menghindar dan batu
karang pecah berhamburan terkena hantaman kakek itu, debu mengebul menandakan
betapa hebatnya pukulan tadi.
"Kwi
Hong, pergilah, tempat ini berbahaya untukmu!" Suma Han berkata ketika
melihat keponakan dan muridnya itu tampak maju untuk membantunya.
Mendengar
kata-kata yang nyaring ini, Kwi Hong menghentikan niatnya dan matanya
terbelalak menyaksikan pamannya yang sudah bertanding dengan kakek itu. Matanya
menjadi silau dan pandang matanya kabur menyaksikan gerakan pamannya yang telah
mainkan Soan-hong-lui-kun untuk menghadapi lawan yang amat tangguh itu. Dia
harus membantu, akan tetapi benar kata pamannya, dia membantu hanya akan
mengantar nyawa saja, dan sama sekali tidak akan menguntungkan pamannya.
Li-mo-kiam,
sebuah di antara Sepasang Pedang Iblis itu! Teringat ini, Kwi Hong lalu
meninggalkan tempat itu, berlari cepat sekali. Melihat ini, Suma Han menjadi
agak lega hatinya. Lawannya ini berbahaya sekali, biarlah andai kata dia
sendiri yang menjadi korban. Namun, dia kecewa juga melihat betapa keponakannya
itu lari seperti orang ketakutan setengah mati dan tidak mengira bahwa
keponakannya ternyata bernyali demikian kecil.
"Desssss!"
Dua telapak tangan saling bertemu bagaikan dua sinar kilat bertumbukan ketika
Suma Han menangkis pukulan maut kakek itu. Akibatnya, keduanya terdorong mundur
sampai lima langkah.
"Heh-heh-heh,
kau boleh juga! Akan tetapi masih jauh kalau dibandingkan dengan kesaktian Bu
Kek Siansu. Aku masih sanggup menandingimu, ha-ha-ha!" Kakek itu tertawa
dan siap menerjang lagi.
"Locianpwe,
dengarlah dulu. Aku Suma Han biar pun tinggal di Pulau Es dan menjadi pemimpin
di sana, namun belum pernah aku memusuhi Pulau Neraka. Aku bukanlah keturunan
raja yang dahulu berkuasa di Pulau Es, dan aku tidak pernah membuang orang ke
Pulau Neraka. Bukan sekali-kali karena aku takut menghadapimu, Cui-beng
Koai-ong, akan tetapi perlu apa kita bertanding mati-matian sedangkan kita
mengalami nasib yang sama? Pulau kita dibakar pasukan pemerintah tanpa dosa,
apakah kita harus saling gempur sendiri?"
"Cukup
banyak bicara! Dendam Pulau Neraka yang turun-temurun harus dilunasi sekarang
juga!" Kakek itu membentak dan tiba-tiba tubuhnya meluncur ke depan
seperti terbang, atau seperti sebatang tombak dilontarkan menuju ke tubuh Suma
Han.
Pendekar ini
terkejut dan kagum, cepat kaki tunggalnya menjejak tanah dan tubuhnya sudah
mencelat ke atas mengelak. Kakek itu menahan luncurannya, akan tetapi kedua
tangannya ketika meluncur tadi sudah mengirim pukulan dahsyat yang tidak dapat
ditariknya kembali, dan terus hawa pukulan itu menghantam jauh ke depan.
"Brakkkkkk!"
Batu karang di mana burung rajawali bertengger itu hancur. Burung itu terbang
dan memekik ketakutan, kemudian hinggap di atas batu karang yang lebih tinggi
lagi, matanya jelalatan memandang ke bawah dengan ketakutan.
"Bukan
main," Suma Han diam-diam memuji. "Kakek ini memiliki kepandaian yang
amat tinggi."
Ketika dia
turun, kembali kakek itu menyerang, akan tetapi secepat burung terbang, Ilmu
Soan-hong-lui-kun membuat tubuh Suma Han terus mencelat ke sana ke mari,
seolah-olah seekor kumbang yang beterbangan di atas setangkai bunga,
berkelebatan mengelak dan dari atas membalas dengan pukulan-pukulan yang tidak
kalah ampuh dan dahsyatnya sehingga berkali-kali kakek itu mengeluarkan seruan
memuji.
"Bukkk!"
Sebuah tamparan tangan kiri Suma Han mengenai pundak kakek itu, namun dia hanya
tergetar saja dan terhuyung, sama sekali tidak terluka, padahal tamparan
Pendekar Super Sakti itu cukup kuat untuk menumbangkan sebatang pohon yang
besarnya setubuh manusia!
Suma Han
makin kagum. Dalam hal kecepatan, jelas dia menang karena dengan ilmunya
Soan-hong-lui-kun, kiranya tidak akan ada yang dapat menandinginya dalam hal
kecepatan, juga dalam hal tenaga sinkang, keadaan mereka berimbang dan hal ini
dapat diketahuinya ketika mereka tadi mengadu tenaga dan saling terpental ke
belakang. Akan tetapi kakek ini memiliki kekebalan tubuh yang hebat, dalam hal
inilah dia kalah. Kalau dia yang terkena pukulan oleh tangan sakti kakek itu,
tentu dia takkan dapat bertahan seperti yang dibuktikan oleh kakek itu. Maka
dia berlaku hati-hati sekali dan kini dia tidak hanya menyerang dengan tangan,
melainkan totokan-totokan dengan ujung tongkatnya.
Setelah
pertandingan yang luar biasa itu berlangsung seratus jurus lebih, dalam sebuah
serangan kilat dari atas, ujung tongkat Suma Han berhasil menotok kepala kakek
itu. Tadinya dia maksudkan menotok tengkuk, akan tetapi gerakan mengelak kakek
itu membuat tongkatnya mengenai kepala dan diam-diam Suma Han menyesal karena
sesungguhnya dia tidak bermaksud membunuh kakek yang sama sekali bukan musuhnya
ini.
"Trakkk!"
Rasa
menyesal terganti kekaguman dan keheranan ketika kakek itu yang jelas tertusuk
tongkat kepalanya, hanya menjadi miring saja tubuhnya, akan tetapi sama sekali
tidak terluka! Bukan main! Kalau kekebalannya itu sudah menjalar sampai ke
kepala, tidak tahu lagi Suma Han bagaimana dia harus mengalahkan kakek ini.
Satu-satunya jalan baginya hanyalah mengerahkan serangan-serangannya pada kedua
mata kakek itu. Dan dugaannya benar karena kakek itu sama sekali tidak mau
terserang matanya yang selalu terlindung oleh kedua tangannya sehingga setiap
serangan pukulan mau pun tusukan tongkat ke arah mata selalu dapat ditangkis
dengan lengan tangannya yang biar pun hanya tulang terbungkus kulit, namun amat
kuat dan kebal itu.
Diam-diam
Suma Han menghela napas dan merasa repot sekali. Betapa mungkin dia akan dapat
menang? Tubuh lawan tak dapat dia lukai, sedangkan dia selalu harus mengelak
dan menangkis karena sekali saja dia terkena pukulan-pukulan yang amat dahsyat
itu, sedikitnya dia tentu akan menderita luka di dalam tubuh. Dan berapa lama
dia akan dapat bertahan kalau begini?
Di lain
pihak, Cui-beng Koai-ong juga merasa kagum bukan main. Ilmu silat yang
dimainkan oleh Pendekar Siluman itu benar-benar tak dikenalnya dan amat
cepatnya, mengingatkan ia akan dongeng tentang Kauw Cee Thian atau Sun-go-kong,
tokoh siluman atau raja kera yang terdapat dalam dongeng See-yu-ki yang dapat
mencelat-celat dari bukit ke bukit dengan kecepatan laksana kilat. Dia memutar
otaknya karena kecepatan di udara yang digerakkan tubuh lawannya itu tidak
memungkinkan dia untuk menyerang dengan tepat.
Tiba-tiba
Suma Han meloncat jauh ke belakang dan duduk bersila dengan sebelah kakinya,
kedua lengannya bersedekap dan tongkatnya dikempit. Tiba-tiba dari ubun-ubun
kepala Pendekar Siluman itu keluar bayangan Suma Han yang memegang tongkat dan
bergerak-gerak hendak melawan kakek itu. Sejenak kakek itu melongo, kemudian
terkekeh-kekeh dan tanpa mempedulikan bayangan itu, dia menubruk tubuh Suma Han
yang masih bersila.
"Aihhhh!"
Suma Han mencelat ketika mengelak. Celaka, agaknya kakek ini juga kebal
terhadap kekuatan mukjizat! Dia mencoba lagi, mengerahkan pandang matanya dan
membentak,
"Cui-beng
Koai-ong, robohlah!" dengan tongkatnya ia menuding dan baik dalam sinar
mata, mau pun dalam suara dan gerakan tangannya itu terkandung hawa mukjizat
yang amat berpengaruh.
"Heh-heh-heh,
nanti dulu. Aku belum kalah mana mau roboh?" jawab kakek itu dan menyerang
terus.
Suma Han
benar-benar kewalahan. Jelas bahwa tenaga mukjizat dalam dirinya tidak mempan
melawan kakek yang sudah puluhan tahun sering kali bertapa di antara
mayat-mayat dan kerangka-kerangka manusia itu, sehingga dia telah memiliki
kekebalan terhadap segala pengaruh batin dan ilmu sihir.
Pertandingan
dilanjutkan dengan mati-matian. Kedua pihak mengeluarkan ilmu-ilmunya yang
tinggi sehingga debu dan pasir mengebul berhamburan, batu-batu karang yang
berdekatan pecah berantakan dan pohon-pohon di sekitar tempat itu tumbang,
mengeluarkan suara keras. Kalau dilihat dari jauh, pantasnya ada dua ekor gajah
yang mengamuk dan saling serang itu, bukan seorang kakek yang seperti mayat
hidup dan seorang yang sebelah kakinya buntung.
"Heh-heh,
aku tahu bagaimana harus menghadapi ilmumu yang aneh!" Tiba-tiba kakek itu
berkata dan... dia melempar tubuh ke belakang, kakinya mencelat ke depan dan
menendang bergantian ke arah muka dan pusar Suma Han. Pendekar ini terkejut
sekali, merendahkan tubuh mengelak tendangan ke mukanya dan menangkis dengan
tangan kirinya ke arah kaki yang menendang pusar.
"Desss!"
Tubuh kakek itu terpelanting dan dia bergulingan sambil menyeringai, akan
tetapi ia segera bergulingan dan rebah terlentang!
Suma Han
menjadi girang karena maklum bahwa dia menemukan titik kelemahan kakek aneh
itu, yaitu pada telapak kakinya. Buktinya, kalau bagian tubuh lain amat kebal,
telapak kaki itu ketika bertemu dengan tangannya, Si Kakek merasa nyeri. Hal
ini membuktikan bahwa telapak kakek itu tidaklah sekuat bagian tubuh yang lain.
Dia sudah mencelat ke atas dan melihat kakek itu rebah terlentang, dia segera
meluncur turun dan menyerang dari atas. Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu
menggerakkan kedua tangannya mendorong ke atas.
"Wusss...
bukkk!" Tubuh Suma Han terlempar dan terpelanting, jatuh ke atas tanah,
akan tetapi dia dapat cepat meloncat lagi. Dia kaget bukan main akan ilmu kakek
yang aneh ini. Kiranya dengan tubuh terlentang itu, pukulan Si Kakek menjadi
berlipat ganda kuatnya, seolah-olah kakek itu telah mempergunakan daya tahan
bumi!
Dan kakek
itu tertawa girang, tetap terlentang. "Nah, pergunakan ilmumu Sun-go-kong
berloncatan itu sekarang!"
Suma Han
maklum bahwa kakek yang seperti iblis itu ternyata cerdik sekali. Kelihaian
Soan-hong-lui-kun adalah mengandalkan kecepatan gerak kaki tunggal yang
memantul menurut keseimbangan tubuh yang berkaki satu, dan dengan kecepatan itu
membuat bingung lawan sehingga dapat mengirim serangan tiba-tiba dari samping,
depan atau belakang lawan. Kini kakek itu hanya rebah terlentang, tentu saja
tubuh bagian belakang terlindung tanah, juga sukar menyerang dari kanan kiri.
Satu-satunya tempat untuk diserang hanyalah depan dan yang depan ini terlindung
oleh kedua tangan kakek yang mempunyai kekuatan lipat ganda setelah rebah
terlentang itu. Benar-benar sukar mengalahkan kakek ini.
Namun Suma
Han yang juga merasa penasaran, masih terus menyerang dengan tongkat dan tangan
kirinya yang kesemuanya dapat ditangkis oleh kakek itu sambil ‘tiduran’
seenaknya! Kalau Suma Han berhenti menyerang dan turun berdiri ke atas tanah,
tiba-tiba saja tubuh yang terlentang itu meluncur dan menyerangnya dengan
dahsyat, bagaikan tombak besar dilontarkan kepadanya! Dan kalau dia menggunakan
Soan-hong-lui-kun, kembali kakek itu rebah terlentang!
Dua ratus
jurus lewat dan pertandingan antara dua manusia sakti dan aneh itu masih
berlangsung seru, belum ada yang kalah atau menang, bahkan belum ada yang
terdesak. Baru sekali ini selama hidupnya Suma Han bertemu dengan lawan yang
begini lihai, yang kesaktiannya mengatasi semua lawan sakti yang pernah
dilawannya.
"Heh-heh-heh,
kau memang hebat, Pendekar Siluman. Akan tetapi coba sekarang kau terima
ini!" Kakek yang masih terlentang itu tiba-tiba mengeluarkan pekik dahsyat
yang mendirikan bulu roma, tidak seperti manusia lagi dan tubuhnya sudah
mencelat dan menubruk ke arah Suma Han dengan kedua tangan terpentang. Dari
kedua tangan itu menyambar hawa yang berputar-putar seperti angin puyuh.
Suma Han
maklum bahwa kalau dia mengelak, ada bahayanya dia terkena sambaran angin
pukulan itu. Jalan satu-satunya yang paling aman adalah menyambut pukulan itu,
mengadu sinkang, keras lawan keras. Apa lagi dia memang sudah bosan untuk terus
bermain kucing-kucingan dengan kakek ini, maka jalan satu-satu-nya untuk
menentukan kemenangan hanyalah mengadu tenaga sinkang yang ia percaya tidak
akan kalah mengingat bahwa dia telah berlatih sampai matang di Pulau Es.
Suma Han
menancapkan tongkatnya di atas tanah lalu menggunakan kedua tangan menerima
dorongan kakek itu.
"Jieeetttt!"
Dua pasang
tangan bertemu, melekat dan keduanya kini berdiri membungkuk, saling
mengerahkan sinkang yang mengalir penuh melalui kedua pasang tangan mereka.
Pertandingan mati-matian terjadi karena kini tidak ada lagi istilah mengelak.
Yang ada hanya saling menekan dan mendorong, dan siapa kalah kuat tentu akan
binasa!
Kedua orang
itu kalau dilihat sungguh tidak seperti orang sedang mengadu nyawa, lebih mirip
dua orang kanak-kanak yang sedang bermain-main. Keduanya berdiri tanpa
bergerak, tampaknya tidak mengerahkan tenaga sama sekali. Akan tetapi kalau
orang melihat kedua kaki Si Kakek dan kaki tunggal Pendekar Super Sakti, orang
akan terkejut melihat kaki mereka itu amblas ke dalam tanah sampai selutut!
Lebih dari setengah jam mereka mengadu sinkang ini. Dari ubun-ubun kepala Suma Han
keluar uap putih, sedangkan dari kepala botak kakek itu mengepul uap kehitaman.
Muka kedua orang sakti itu penuh keringat yang besar-besar dan mata mereka
saling pandang tanpa berkedip.
Pada saat
itu tampak bayangan berkelebat dan Kwi Hong telah datang dengan pedang di
tangan kanan, pedang yang mengeluarkan sinar kilat. Li-mo-kiam sebatang dari
Sepasang Pedang Iblis! Tanpa banyak cakap lagi, Kwi Hong yang melihat betapa
pamannya mengadu sinkang dan berada dalam keadaan yang amat berbahaya, lalu
menerjang maju dan menggerakkan pedangnya menusuk ke arah mata kakek itu.
Cui-beng
Koai-ong terkejut sekali. Melihat sinar pedang yang seperti kilat yang
mendatangkan hawa yang mukjizat itu, tahulah dia bahwa pedang itu merupakan
pusaka yang amat ampuh. Dia mengeluarkan pekik mengerikan, dari mulutnya
menyembur darah merah ke arah muka Suma Han. Pendekar sakti ini kaget, cepat
dia pun mengerahkan tenaganya sekuatnya mendorong, membarengi gerakan kakek itu
yang juga mendorong dan keduanya terpental ke belakang, sedangkan pedangnya
tidak mengenai sasaran.
Melihat
pamannya terpental dan terhuyung, juga kakek itu terhuyung, Kwi Hong cepat
menerjang lagi, yang diarah adalah sepasang mata kakek itu. Sekali ini,
Cui-beng Koai-ong tidak berani menangkis, hanya cepat mengelak dan tangannya
meluncur ke depan, hendak merampas pedang sedangkan tangan kanannya
mencengkeram kepala Kwi Hong.
Dara itu
terkejut sekali, menarik kembali pedangnya karena khawatir terampas sambil
melempar tubuh ke belakang, namun tetap saja pundaknya tersentuh jari tangan
kakek itu dan ia terpelanting, merasa betapa seluruh pundak kirinya seperti
lumpuh!
"Heh-heh-heh,
pedang setan, seperti milik muridku. Serahkan padaku!"
Kakek ini
menubruk lagi dan Kwi Hong segera terdesak hebat memutar pedang melindungi
tubuhnya. Untung ia melakukan hal ini karena kalau hanya mengelak, tentu dia
akan celaka. Kecepatannya masih kalah jauh, tidak dapat mengelak hawa sinkang
kakek yang luar biasa itu. Akan tetapi begitu ia memutar pedang, membuat pedang
itu membentuk gulungan sinar yang merupakan perisai bagi tubuhnya, kakek itu
tidak berani menyerangnya.
Suma Han
sudah bangkit berdiri, akan tetapi betapa kagetnya ketika ia merasa hawa panas
menyerang dada, terus turun ke pusar. Cepat ia menahan napas dan tahulah dia
bahwa adu tenaga tadi telah membuat dia terluka sebelah dalam tubuhnya! Dia
tidak tahu bahwa kakek itu pun terluka di sebelah dalam, dan karena Si Kakek
nekat menyerang Kwi Hong maka tidak tampak bahwa kakek itu pun terluka.
Karena
khawatir akan keselamatan keponakannya yang kini dia tahu bukan melarikan diri
karena takut, melainkan mengambil pedang Li-mo-kiam, maka Suma Han berkata,
"Kwi Hong, serang kakinya! Telapak kakinya!"
Biar pun
seruan ini merupakan pesan aneh yang membingungkan Kwi Hong, akan tetapi tanpa
ragu-ragu ia menurut petunjuk pamannya dan kini dari gulungan sinar pedang itu
meluncur sinar kilat yang membabat ke arah telapak kedua kaki Cui-beng
Koai-ong! Kakek ini kaget, sama sekali tidak mengira bahwa rahasianya telah
diketahui Suma Han, maka tentu saja dia tidak mau membiarkan bagian tubuhnya
yang tidak begitu kebal itu tertusuk atau terbabat pedang. Melihat sinar pedang
itu, terpaksa ia mengibaskan tangannya menangkis.
"Crakkk!"
Tangkisan itu membuat Kwi Hong terlempar, akan tetapi jari kelingking tangan
kiri kakek itu pun terbabat putus oleh Li-mo-kiam! Anehnya, tidak ada darah
keluar dari luka itu!
Si Kakek
menjadi marah sekali, lalu menerjang maju dengan ganas. Melihat ini, Suma Han
cepat meloncat pula ke depan.
"Bresss!"
Dua orang itu saling pukul dan mereka terlempar lagi ke belakang.
Suma Han
merasa betapa kepalanya pening dan pandang matanya berkunang, akan tetapi kakek
itu masih dapat bangkit dengan cepat. Kwi Hong melihat bahwa pamannya tetap
duduk di atas tanah, akan tetapi kakek itu pun berdirinya bergoyang-goyang
tidak tegak lagi. Melihat ini, dan karena hatinya besar menyaksikan betapa
pedangnya dapat membuntungi kelingking lawan, ia menerjang lagi, menggerakkan
pedangnya, dibacokkan ke arah kepala. Kini dia merasa yakin bahwa pedangnya
akan dapat menembus kekebalan kakek luar biasa itu.
"Trangggg...
aihhhh!" Kwi Hong menjerit kaget ketika pedangnya tertolak ke belakang dan
ketika ia memandang, ternyata yang menangkis pedangnya adalah yang memegang
pedang persis pedangnya sendiri, hanya agak lebih panjang! Ternyata pedang
pemuda itu sanggup menandingi pedangnya dan ia teringat kini wajah yang tampan
itu, dan ingat pula akan cerita Bun Beng, bahwa pedang Lam-mo-kiam terampas
oleh putera Pulau Neraka.
"Kau...?
Keparat...!" Dia membentak.
Tetapi
pemuda itu sudah menyambar tubuh Cui-beng Koai-ong dengan lengan kirinya,
kemudian setelah memandang dengan mata mendelik penuh kebencian kepada Suma
Han, lalu meloncat dengan gerakan yang luar biasa cepatnya meninggalkan pantai
itu.
"Tunggu,
jahanam...!" Kwi Hong membentak dan hendak mengejar.
"Kwi
Hong, jangan kejar...!" Suma Han berseru.
Dara itu
berhenti, menengok dan terkejutlah dia ketika melihat pamannya muntahkan darah
segar dari mulutnya. "Aihhh, Paman...!" Ia meloncat menghampiri.
Akan tetapi
Suma Han mengangkat tangan mencegah gadis itu menyentuhnya. "Tidak
apa-apa, Cui-beng Koai-ong luar biasa saktinya, dan pemuda tadi gerakannya pun
hebat. Kalau kau mengejar, bisa berbahaya... coba ambilkan tongkatku..."
Kwi Hong
mencabut tongkat pamannya dan menyerahkan kepadanya. "Mari kita menemui
bibimu Phoa Ciok Lin...," katanya menuding dan dari utara tampak Phoa Ciok
Lin datang berlari-lari, diikuti oleh beberapa orang tokoh Pulau Es yang
membawa senjata. Mereka sudah mendengar dari Kwi Hong akan munculnya kakek
sakti dan hendak membantu. Alis Ciok Lin berkerut penuh kekhawatiran ketika ia
melihat Suma Han terluka, namun Suma Han tetap tenang, lalu bersuit memanggil
burung rajawali yang segera terbang turun.
"Rajawali
Pulau Neraka...," katanya tersenyum duka. "Beterbangan bingung
kehilangan tempat, lalu dapat kutundukkan... kau pelihara baik-baik Kwi Hong.
Mari kita ke tempat kalian... aku perlu mengaso..."
Dengan
perawatan penuh perhatian dan sangat teliti oleh Phoa Ciok Lin, Suma Han mengobati
sendiri lukanya di dalam dada dengan jalan mengatur napas dan bersemedhi. Dia
sering kali tampak termenung memikirkan perkembangan hidupnya yang makin
diselimuti kesukaran dan kegagalan. Hatinya masih tertindih oleh duka kalau dia
teringat akan Nirahai dan Lulu, dan kini Pulau Es dihancurkan pula oleh pasukan
pemerintah.
Di dalam
perjalanannya dia mendengar akan hal itu. Ketika ia cepat menuju ke Pulau Es,
dilihatnya pulau itu telah hancur dan terbakar. Dapat dibayangkan betapa duka
hatinya ketika ia melihat mayat-mayat anak buahnya yang telah mulai rusak.
Dengan keharuan yang ditekannya, Suma Han mengubur semua mayat itu seorang diri
saja, kemudian meninggalkan pulau itu dan cepat menuju ke Pulau Neraka karena
dia pun mendengar bahwa pulau ini pun menjadi sasaran penyerbuan pasukan
pemerintah pula. Juga di pulau ini dia melihat kehancuran, hanya tidak ada
sebuah pun mayat di situ.
Di pulau
inilah ia bertemu dengan rajawali yang dapat ia tundukkan ketika rajawali yang
kebingungan itu menyerangnya. Kemudian dia menunggang rajawali, dengan niat
untuk mencari Maharya, merampas Hok-mo-kiam dan menghukum orang-orang yang
telah menghancurkan kedua pulau, yang ia tahu dipimpin oleh Koksu Bhong Ji Kun.
Akan tetapi, dia tidak berhasil menemui mereka karena mereka itu pergi ke
Cui-lai-san, di mana diadakan pertemuan antara orang-orang kang-ouw atas
undangan Thian-liong-pang.
Suma Han
menyusul ke sana dan menyaksikan pertandingan-pertandingan dari udara. Dia
tidak akan mau mencampuri, karena dia maklum bahwa pasukan pemerintah pasti
tidak akan mudah dilawannya dan dia harus menanti kesempatan yang lebih baik
untuk menghadapi Bhong Ji Kun dan pembantu-pembantunya, tanpa ribuan orang
pasukan yang menjaganya.
Maka
terbanglah rajawali itu ke utara, di mana dia tahu tentu bersembunyi sisa anak
buahnya di pantai utara yang telah ia beritahukan Phoa Ciok Lin sebagai tempat
mengungsi kalau terjadi sesuatu di Pulau Es. Memang jauh sebelum peristiwa
menyedihkan di Pulau Es, Suma Han telah bersiap-siap mencari tempat di mana
anak buahnya dapat pergi mengungsi karena dia maklum bahwa yang sudah jelas,
Lulu dengan anak buah Pulau Neraka bermaksud menyerbu Pulau Es, juga
Thian-liong-pang yang makin besar kekuasaan dan kekuatannya itu memperlihatkan
sikap memusuhi Pulau Es.
Demikianlah,
secara kebetulan dia melihat keponakan atau muridnya terancam oleh kakek yang
amat lihai sehingga akhirnya dia sendiri terluka. Kurang lebih sebulan
kemudian, sembuhlah lukanya, akan tetapi kembali Suma Han harus mengalami
tekanan batin ketika mendengar bahwa Kwi Hong telah meninggalkan tempat itu
tanpa pamit, tidak tahu ke mana perginya dan tak seorang pun mengetahui apa
kehendak dara yang kadang-kadang memiliki watak keras dan aneh itu. Mendengar
laporan itu, Suma Han menghela napas panjang.
"Biarlah,
ia sudah dewasa dan sudah mampu menjaga diri sendiri. Hanya aku khawatir,
dengan pedang itu di tangannya, akan terjadi banyak bencana. Mudah-mudahan saja
tidak demikianlah."
"Taihiap,
mengapa kau tidak minta saja pedang itu? Sepasang Pedang Iblis adalah pedang
yang mengandung hawa jahat. Memang benar bahwa Hong-ji memiliki dasar yang baik
dan kuat, akan tetapi dia masih begitu muda dan pedang itu benar-benar
mengandung hawa yang mengerikan."
"Hemmm,
betapa mungkin kuminta? Pedang itu adalah pemberian Gak Bun Beng, aku tidak
berhak memintanya. Segala apa biarlah kuserahkan ke tangan Tuhan, dan aku
sendiri akan mencari Hok-mo-kiam, karena hanya dengan Hok-mo-kiam sajalah
Sepasang Pedang Iblis dapat ditundukkan. Yang berada di tangan Kwi Hong kiranya
tak perlu dikhawatirkan, akan tetapi yang berada di tangan anak itu..."
Dia
mengerutkan alisnya dan terbayanglah wajah pemuda tampan murid Cui-beng
Koai-ong yang memandangnya dengan sinar mata penuh kebencian. Pemuda itu
gerakannya lihai sekali dan Lam-mo-kiam berada di tangannya!
"Anak
yang mana, Taihiap? Apakah Lam-mo-kiam telah diketahui berada di tangan
siapa?"
Suma Han
mengangguk "Di tangan putera dari Ketua Pulau Neraka..."
"Aihhhh...!"
Ciok Lin menjerit dan saking kasihan kepada Suma Han, dia sampai lupa diri dan
menyentuh lengan pendekar itu. Setelah dia sadar akan hal ini, cepat-cepat dia
menarik kembali tangannya dan menarik napas panjang. "Putera... Lulu...?"
Suma Han tidak
heran akan hal ini. Phoa Ciok Lin dapat dikatakan bukan orang lain, seperti
bibi sendiri dari Kwi Hong dan yang mendidik sejak kecil adalah wanita inilah.
Tentu Kwi Hong telah menceritakan semua pengalamannya ketika terculik di Pulau
Neraka.
"Lalu...
bagaimana baiknya, Taihiap?"
"Aku
harus mendapatkan Hok-mo-kiam, aku juga harus menghajar mereka yang telah
menghancurkan Pulau Es dan Pulau Neraka. Aku harus mencari Lulu dan Nirahai...
dan aku akan mengumpulkan Sepasang Pedang Iblis untuk kuhancurkan agar kelak
jangan menimbulkan banyak keributan lagi di dunia ini," kata Suma Han
dengan suara tegas.
Ciok Lin
menghela napas panjang lagi. "Mudah-mudahan kau berhasil, Taihiap.
Terutama sekali... eh, menemukan kembali Lulu dan Nirahai dan berhasil berkumpul
lagi dengan mereka...," terdengar suara wanita itu yang mengandung isak
tertahan.
Kini Suma
Han yang menggerakkan tangan memegang lengannya.
"Ciok
Lin, aku tahu semua perasaan yang terkandung dalam hatimu, dan aku merasa
betapa engkau telah melimpahkan banyak budi terhadap diriku. Akan tetapi,
engkau pun tentu tahu pula akan keadaan hatiku, Ciok Lin. Andai kata tidak ada
kedua orang wanita itu di dunia ini, aku tentu akan berbahagia sekali hidup
bersamamu. Akan tetapi, mereka..."
Phoa Ciok
Lin mengejap-ngejapkan kedua matanya sehingga dua titik air mata yang
bergantung di bulu matanya jatuh ke bawah kemudian dia memaksa diri tersenyum
dan memaksa wajahnya berseri ketika berkata, "Taihiap, saya mengerti bahwa
hidupmu hanya untuk Lulu dan Nirahai... dan saya bukanlah seorang yang hanya
mengejar kesenangan sendiri, Taihiap, Saya akan merasa berbahagia sekali
melihat engkau dapat berkumpul dan hidup bahagia bersama mereka."
Suma Han
menggenggam jari-jari tangan wanita itu dan memandang penuh rasa syukur dan
berterima kasih. "Engkau seorang wanita yang amat mulia, Ciok Lin,"
katanya dan kata-kata ini memang keluar setulusnya dari dalam hati. Dia maklum
bahwa cinta kasih seperti yang terdapat di hati Ciok Lin terhadap dirinya
itulah yang merupakan cinta kasih murni, cinta yang bebas dari rasa sayang
diri, bersih dari rasa ingin memiliki dan ingin senang untuk diri sendiri,
melainkan seratus prosen ditujukan untuk melihat orang yang dicinta
berbahagia...
Terima kasih telah membaca Serial ini
No comments:
Post a Comment