Cerita Silat Kho Ping Hoo
Serial Cinta Bernoda Darah
Jilid 15
Suling Emas
juga menghentikan tiupan sulingnya dan ia menarik napas panjang lalu tersenyum.
Kata-kata itu tak perlu dia menjawabnya. Ia tahu bahwa untuk menghadapi malam
pertemuan bulan lima tanggal lima belas, yaitu malam nanti di mana akan
diadakan pertandingan untuk menentukan tingkat masing-masing, Siang-mou Sin-ni
berusaha untuk ‘mengukur keadaannya’ dengan suara yang-khim tadi. Dan menurut
pendapatnya bahwa biar pun ia tidak kalah oleh Siang-mou Sin-ni dalam
penggunaan sinkang di dalam suara, namun kemajuan wanita iblis itu tak boleh
dipandang ringan begitu saja dan malam nanti akan merupakan lawan yang tangguh.
Setelah
Siang-mou Sin-ni pergi, Suling Emas teringat kembali akan dua orang kakek yang
dicarinya. Ia lalu melanjutkan usahanya mencari jejak kedua orang itu.
“Dua
Locianpwe yang muncul di pondok Kim-sim Yok-ong, silakan keluar, saya mau
bicara!” Demikianlah berkali-kali ia berteriak dengan pengerahan khikang-nya
sehingga suaranya bergema sampai jauh. Namun hasilnya sia-sia, tidak ada
jawaban kecuali gema suaranya sendiri.
Ia melangkah
terus dan tiba di sebuah puncak lain. Di sini ia pun berdiri dan meneriakkan
panggilannya seperti tadi. Oleh karena suaranya memang keras, apa lagi dengan
pengerahan khikang, suara itu bergema dan burung-burung yang tadinya enak-enak
hinggap dan mengaso di atas cabang-cabang pohon, berlindung dari panasnya
matahari di antara daun-daun, menjadi kaget dan beterbangan sambil
bercuwit-cuwit. Sekelompok burung yang kebetulan berada di pohon dekat Suling
Emas berdiri, kaget dan kelepak sayapnya terdengar gaduh. Suling Emas
mengangkat muka memandang sambil tertawa.
Akan tetapi
suara ketawanya terhenti ketika ia melihat sinar hitam seperti asap menyambar
ke atas dan burung-burung yang jumlahnya belasan ekor itu runtuh ke bawah dan
berjatuhan di depan kaki Suling Emas. Ketika ia memandang teliti, ternyata
burung itu semua telah mati dan kulit mereka berubah menjadi hitam sedangkan
bulu-bulunya rontok! Tahulah ia bahwa bukan hanya Siang-mou Sin-ni saja yang
sudah hadir di Thai-san, agaknya para anggota Thian-te Liok-koai mulai
mendemonstrasikan kelihaiannya.
“Hek-giam-lo
iblis keji. Tak perlu kau memperlihatkan kekejamanmu di hadapanku, kalau kau
mau mulai bertanding, keluarlah!”
Tidak ada
jawaban kecuali suara dengus mengejek yang disusul oleh sambaran sinar hitam
yang cepat bagaikan kilat gerakannya. Diam-diam Suling Emas kagum dan mengerti
bahwa kepandaian Hek-giam-lo dalam hal melepas senjata rahasia Hek-in-tok-ciam
(Jarum Beracun Awan Hitam) telah maju dan jauh lebih berbahaya dari pada dahulu
ketika pertandingan di puncak Thai-san ini (baca jilid pertama).
Karena ini
Suling Emas tidak mau memandang rendah. Cepat tangannya sudah mencabut ke luar
kipas birunya dan dengan gerakan yang diisi lweekang sepenuhnya ia mengibas ke
depan. Runtuhlah jarum-jarum hitam itu, semua lenyap ke dalam tanah. Akan
tetapi sinar hitam kedua menyusul, malah lebih besar dan lebih kuat. Ketika
Suling Emas mengibaskan kipasnya lagi, sinar itu membalik, tapi hanya kurang
lebih dua meter, lalu terdorong maju lagi, mendesak terus, bahkan kini mulai
berpencar menjadi tiga bagian yang menerjang tubuh Suling Emas dari atas,
tengah, dan bawah!
Suling Emas
terkejut karena pada saat itu, di belakang sinar hitam yang sudah pecah menjadi
tiga bagian tampak belasan sinar berkilauan menyambar pula ke depan. Itulah
barisan hui-to (golok terbang), senjata rahasia dari Hek-giam-lo yang ampuh
sekali di samping senjata rahasia jarum-jarum beracunnya. Dengan cara luar
biasa sekali, iblis hitam itu dapat menyambitkan tiga belas batang golok kecil
(belati) sekaligus dan tiga belas batang pisau terbang itu secara tepat
mengancam tiga belas bagian tubuh yang kesemuanya mematikan!
“Hek-giam-lo,
terlalu kau!” seru Suling Emas dengan marah.
Tangan
kanannya sudah mencabut sulingnya dan bagaikan terbang tubuhnya sudah mencelat
ke atas. Ketika sinar-sinar hitam itu mengejar, ia mengibaskan kipasnya dan
berbareng ia memutar sulingnya merupakan lingkaran besar di depan tubuhnya.
Ketika belasan pisau terbang itu tiba, pisau-pisau itu ‘tertangkap’ oleh
lingkaran sinar suling, terus ikut berputar-putar merupakan bundaran sinar
berkilauan yang indah sekali.
“Terimalah
kembali!” bentak Suling Emas yang sudah turun ke bawah. Sulingnya digerakkan
seperti mendorong dan tiga belas batang pisau terbang yang tadinya beterbangan
memutar-mutar di depan Suling Emas, kini seperti belasan ekor burung terbang
kembali ke sarangnya!
Seperti juga
Siang-mou Sin-ni, tahu-tahu terdengar suara Hek-giam-lo dari jauh, “Malam nanti
kita bertanding!”
Suling Emas
mendongkol sekali, akan tetapi ia tidak mau mengejar karena memang saat yang
dijanjikan adalah malam nanti kalau bulan purnama sudah muncul menyinari bumi.
Ia berjalan terus mencari dua orang kakek sakti yang aneh dan kejam. Diam-diam
ia merasa khawatir juga. Dari peristiwa tadi ia mendapat kenyataan bahwa
Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo sudah memperoleh kemajuan pesat dan jauh lebih
berbahaya dari pada dahulu. Tentu iblis-iblis yang lain, It-gan Kai-ong dan
kakak beradik Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong juga telah memperdalam
ilmu-ilmu mereka. Dia tidak gentar menghadapi mereka, akan tetapi siapa tahu,
kalau dua orang kakek asing yang baru muncul mengacau di pondok Kim-sim Yok-ong
itu membantu para iblis, sukarlah untuk mencapai kemenangan.
“Aku harus
menghadapi dua orang kakek itu lebih dulu sebelum bertanding dengan Thian-te
Liok-koai,” pikirnya dan kembali ia melanjutkan usahanya mencari. Hari telah
menjelang senja ketika ia makin mendekati puncak di mana pertandingan antara
Thian-te Liok-koai akan diadakan.
Makin tinggi
orang mendaki gunung, makin dinginlah hawa udara. Suling Emas juga sudah mulai
merasa dingin, apa lagi menjelang senja itu, puncak Thai-san diliputi hailmun
yang cukup tebal. Ketika ia memasuki sebuah hutan pohon cemara tiba-tiba
terdengar suara hiruk-pikuk dan banyak pohon tumbang, malah ia lalu terpaksa
berloncatan ke sana ke mari untuk menghindarkan dirinya tertimpa batang-batang
pohon yang beterbangan ke arahnya!
Suling Emas
cepat menyelinap sambil meloncat ke sana-sini, kemudian tahulah ia bahwa yang
‘main-main’ dengan batang-batang pohon adalah Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim
Lo-tong! Agaknya mereka berdua juga melihatnya, karena kini mereka tertawa-tawa
dan semua batang pohon dan batu-batu besar yang mereka permainkan itu kini
menimpa ke arah Suling Emas! Pendekar ini memperlihatkan ketangkasan dan
kegesitannya.
Biar pun ada
‘hujan’ pohon dan batu-batu besar, bagaikan seekor kera ia menyelinap dan
mengelak ke sana-sini. Demikian cepat dan ringan gerakannya sehingga bajunya
saja tak pernah tergores cabang pohon yang menimpanya bertubi-tubi.
“Dua iblis
liar, beginikah cara kalian menandingiku?” Suling Emas membentak dan sudah siap
untuk balas menyerang. Akan tetapi sambil tertawa-tawa dua orang iblis itu
melarikan diri, dan Suling Emas tidak mau mengejar mereka. Ia melanjutkan
perjalanannya, sementara itu cuaca mulai menjadi remang-remang dan hawa udara
makin dingin.
Puncak
tertinggi sudah tampak menjulang tinggi di depan matanya. Ia sudah mulai putus
asa untuk bisa mendapatkan dua orang kakek aneh itu karena ia sudah tidak ada
waktu lagi untuk mencari mereka. Ia harus pergi ke puncak untuk menemui dan
menandingi iblis-iblis yang berkumpul, untuk mewakili ibu kandungnya yang dulu
ditantang oleh It-gan Kai-ong. Akan tetapi tiba-tiba ketika ia membelok, ia
melihat pemandangan aneh sekali di pinggir anak sungai yang mengalir deras dari
sumbernya.
Dua orang
kakek yang dicari-carinya selama sehari semalam itu ternyata tanpa diduga-duga
kini berada di depannya! Si kakek putih duduk bersila di tengah sungai,
tenggelam sampai sebatas lehernya. Bukan main! Hawa udara begitu dinginnya
menyusup tulang, dan air sungai itu pun dinginnya melebihi salju, akan tetapi
kakek ini duduk bersila merendam diri, kelihatannya enak-enak tidur ataukah
sedang semedhi dengan tenangnya! Akan tetapi bukan, ia bukan sedang tidur atau
bersemedhi karena mulutnya mengomel panjang pendek, “Wah, panasnya, tak enak,
sialan benar!” Hawa udara begitu dingin, berendam di air gunung lagi, masih
mengeluh kepanasan!
Ada pun
kakek merah tidak kalah anehnya. Kakek ini duduk di pinggir sungai, bersila di
atas tanah, dikelilingi api unggun yang menyala besar. Jarak antara tubuh kakek
itu dengan api yang mengelilinginya kurang dari satu meter, seluruh tubuhnya
yang sudah merah itu menjadi makin merah. Di depannya terdapat sebuah periuk
terisi air yang digodok di atas api, air yang mendidih. Dapat dibayangkan
betapa panasnya dikurung api besar sedekat itu, akan tetapi kakek ini malah
menggigil kedinginan dan kedua tangannya berganti-ganti ia masukkan ke dalam
periuk penuh air mendidih itu, lalu menyiram-nyiramkan air panas itu ke
mukanya. “Waduh dinginnya, tak tertahankan, hu-hu-huuu... dingin...!”
Alangkah
sombongnya mereka ini, pikir Suling Emas. Ia maklum bahwa kedua orang kakek ini
memang sengaja berdemonstrasi seperti itu untuk memamerkan kepandaian mereka.
Memang harus diakui bahwa demonstrasi ini jelas membuktikan kehebatan sinkang
mereka yang dapat membuat tubuh menjadi kebal akan rasa panas mau pun dingin.
Perbuatan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki
kesaktian, yang tenaga sinkang-nya sudah mencapai tingkat tinggi. Akan tetapi
sungguh suatu cara menyombongkan kepandaian yang amat menggelikan kalau
kepandaian seperti ini dibuat pamer, apa lagi terhadap dia!
Karena
merasa yakin bahwa dua orang ini sengaja memamerkan kepandaian kepadanya maka
terpaksa Suling Emas harus melayani mereka. Ia mendekati kakek putih yang
berendam di dalam air sebatas leher itu. “Ah, Locianpwe, memang kau benar,
hawanya amat panas, membuat orang ingin mandi terus. Akan tetapi aku tidak ada
kesempatan mandi, biar kurendam saja kepalaku!” Setelah berkata demikian,
Suling Emas lalu membenamkan kepalanya ke dalam air dan tidak dikeluarkannya
dari dalam air sampai lama sekali!
Biar pun
perbuatan ini hanya demonstrasi atau main-main, akan tetapi jelas menang
setingkat kalau dibandingkan dengan kakek putih yang biar pun tubuhnya terendam
air, akan tetapi hanya sebatas leher, kepalanya tidak. Dan merendamkan kepala
ke dalam air sedingin itu, apa lagi sampai lama sekali, tentu lebih sukar dari
pada merendam tubuh saja.
Ketika
mendengar air itu berguncang cepat Suling Emas mengangkat kepalanya. Ia maklum
bahwa pukulan dari dalam air dapat membuat air bergelombang dan kepalanya akan
terancam bahaya luka di dalam kalau tergencet hawa pukulan melalui gelombang
itu. Kiranya kakek putih sudah berdiri dalam air yang tingginya hanya sebatas
pahanya, bajunya yang serba putih basah kuyup dan kakek itu memandang dengan
mata marah.
Akan tetapi
Suling Emas tidak mempedulikannya, melainkan segera menghapus muka dan
kepalanya yang basah sambil menghampiri kakek merah yang duduk dikurung api
unggun dan main-main air mendidih.
“Kau
kedinginan, Locianpwe? Memang hawanya dingin bukan main. Untung kau membuat api
unggun!” Sambil berkata demikian Suling Emas menghampiri api dan memasukkan
kedua tangannya ke dalam api yang bernyala-nyala, bahkan membiarkan api itu
bernyala menjilat leher dan mukanya!
“Bocah
sombong! Berani kau memamerkan kepandaian kepada kami?!” Kakek putih membentak
marah dari dalam sungai.
“Huah-hah-hah,
orang muda, bukankah kau anjing penjaga Kim-sim Yok-ong? Apakah kau menantang
kami?”
“Ji-wi
Locianpwe, aku hanya mengimbangi cara kalian. Sama sekali bukan bermaksud
pamer. Aku bukan penjaga, melainkan sahabat baik Kim-sim Yok-ong yang kalian
ganggu dengan cara keji melukai banyak orang.”
“Huah-hah-hah,
ada delapan orang yang mampus, kan? Mengapa dia tidak mampu menghidupkan
mereka?” kata lagi kakek merah sambil berdiri di tengah-tengah api unggun.
“Kailan dua
orang tua benar-benar terlalu. Ji-wi ini siapakah dan mengapa melakukan
pembunuhan keji hanya untuk menguji kepandaian Kim-sim Yok-ong? Apakah dosanya
orang-orang itu dan apa pula kesalahan Yok-ong yang selalu menolong orang tanpa
pandang bulu? Tidak ada orang di dunia kang-ouw ini yang tidak menaruh sayang
dan hormat kepada Yok-ong yang berhati emas, akan tetapi kalian ini telah
mempermainkannya.”
“Heh, bocah
lancang! Siapakah kau berani bicara seperti ini kepada kami?” bentak si kakek
putih.
“Ha-hah, apa
peduliku dengan orang-orang kang-ouw cacing-cacing tiada guna itu?” kata pula
kakek merah. “Kau siapakah, bocah lancang?”
“Orang
mengenalku dengan sebutan Kim-siauw-eng, Si Suling Emas!”
“Suling
Emas, agaknya kau merasa menjadi pendekar muda. Usiamu paling banyak tiga puluh
tahun, masih bocah! Mana kau mengenal kami? Yang tua-tua pun belum tentu
mengenal kami. Akan tetapi kalau kau mau tahu, aku adalah Lam-kek Sian-ong
(Dewa Kutub Selatan) dan dia si putih itu adalah Pak-kek Sian-ong (Dewa Kutub
Utara)! Nah, kau sudah mengenal kami sekarang, dan kau harus mampus!” Si kakek
merah ini tiba-tiba menggerakkan tangannya ke arah api dan... bagaikan
bintang-bintang beterbangan, lidah-lidah api itu menyambar ke arah tubuh Suling
Emas!
Suling Emas
kaget sekali. Baru ia tahu bahwa demonstrasi yang dilakukan kakek ini tadi
hanyalah demonstrasi kecil saja, mungkin dilakukan karena memandang rendah
kepadanya. Akan tetapi serangan yang dilakukannya kali ini, benar-benar hebat
luar biasa, merupakan ‘pukulan berapi’ yang luar biasa, mengandung sifat panas
melebihi api sendiri. Ia maklum bahwa inti tenaga Yang ini amat kuat, ia takkan
mampu menandinginya kalau melawan dengan kekerasan, maka cepat Suling Emas
menggunakan kipasnya mengebut sambil meloncat ke sana ke mari.
Api
menyala-nyala yang menyambar itu merupakan api yang didorong oleh tenaga
pukulan jarak jauh. Begitu terkena dikebut, arahnya menyeleweng dan karena
kakek itu terus melakukan pukulan sedangkan Suling Emas terus mengibas sambil
mengelak, tampaklah pemandangan yang indah. Api-api itu beterbangan, merah
menyala dan padam apa bila runtuh menyentuh tanah, seperti kembang api yang
dinyalakan orang untuk menyambut datangnya musim semi!
“Serahkan
dia padaku!” seru si muka putih dan tiba-tiba dari arah sungai melayang
sinar-sinar putih berkeredepan dan setelah dekat, Suling Emas merasa hawa
dingin yang menembus kulit menyelinap ke tulang-tulang.
Kagetlah ia
dan maklum bahwa juga kakek putih ini benar-benar sakti. Inti tenaga Im yang
dimiliki kakek itu sudah sedemikian hebatnya sehingga ia mampu membuat air
sungai dikepal menjadi salju atau es dan dilontarkan merupakan peluru-peluru
yang mengandung hawa pukulan dingin mematikan! Seperti juga serangan api tadi,
kini serangan es yang dingin tak mampu ia menghadapinya dengan perlawanan
tenaga, maka ia pun cepat mengelak ke sana ke mari sambil menyelewengkan hujan
es itu. Sebentar saja Suling Emas menjadi sibuk sekali, kipasnya mengibas hujan
api dari kanan, sulingnya menangkis hujan peluru es dari kiri!
Ada pun
kedua orang kakek itu agaknya begitu penasaran sehingga mereka tidak mau
menggunakan cara lain untuk menyerang. Berkali-kali terdengar mereka berseru
kaget dan kagum. “Aneh, dia dapat bertahan!” disusul seruan-seruan tak percaya,
“Masa semua tidak mengenai sasaran?”
Agaknya
karena penasaran inilah mereka terus melontarkan pukulan seperti tadi dan
Suling Emas terus-menerus menangkis dan meloncat ke sana ke mari menyelamatkan
diri tanpa mampu balas menyerang. Namun ginkang-nya memang sudah hebat dan gerakan
kaki tangannya sudah sempurna, maka biar pun dihujani api dan es dari kanan
kiri, pendekar ini tetap dapat mempertahankan diri. Sementara itu, senja sudah
mulai terganti malam dan bulan mulai menampakkan dirinya. Bulan bundar dan
penuh, kebetulan tidak ada awan menghalang, halimun pun sudah pergi, maka
keadaan menjadi terang benderang.
“Suling
Emas...! Mengapa kau tidak muncul? Takutkah engkau?” terdengar teriakan yang
bergema, datangnya dari arah puncak.
Suling Emas
sibuk sekali. Dua orang kakek ini lihai bukan main, tak mungkin ia dapat
meninggalkan mereka. Ia pun tahu akan kelihaian dan kejahatan iblis-iblis yang
berada di puncak. Kalau mereka tahu bahwa ada dua orang kakek asing yang amat
sakti memusuhinya, tentu mereka akan mempergunakan kesempatan baik ini untuk
memukul roboh padanya. Maka ia pun diam saja.
“Huah-hah-hah,
agaknya bocah ini banyak musuhnya. Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), biar kita
beri kesempatan padanya untuk menghadapi musuhnya, baru nanti kita turun
tangan, takkan terlambat.”
“Baiklah,
Ang-bin-siauwte (Adik Muka Merah) kita nonton, sampai di mana kepandaian
tokoh-tokoh jaman sekarang!”
Seketika
hujan api dan hujan es itu terhenti dan ketika Suling Emas memandang, kedua
orang kakek itu sudah lenyap dari tempat itu! Ia menarik napas panjang,
menyusut peluhnya dan berkata seorang diri, “Berbahaya...! Mereka benar lihai.
Apa maksud kedatangan mereka di dunia ramai? Nama mereka tidak dikenal di dunia
kang-ouw, tanda bahwa mereka adalah pertapa-pertapa yang puluhan tahun
menyembunyikan diri. Mengapa sekarang tiba-tiba mereka muncul dan mengganggu
Kim-sim Yok-ong?” Suling Emas mengerutkan keningnya dan diam-diam ia ingin
melihat gerakan ilmu silat mereka untuk mencoba-coba menerka, dari golongan
manakah kakek merah dan kakek putih itu. Tingkat tenaga inti dari Im dan Yang
sedemikian tingginya, kiranya hanya dicapai oleh para guru besar dari partai-partai
persilatan besar pula, hasil latihan matang selama puluhan tahun.
“Suling
Emas! Apakah kau tidak berani muncul?” kembali terdengar seruan suara parau
yang menggunakan khikang.
Suling Emas
mengenal suara ini, suara It-gan Kai-ong, maka ia lalu mengerahkan khikangnya,
berseru keras. “Aku Kim-siauw-eng datang!”
Tubuhnya
berkelebat cepat bagaikan terbang menuju ke puncak itu. Bulan purnama bersinar
terang, dan Suling Emas memang sudah sering kali mendaki pegunungan ini
sehingga ia hafal akan jalannya, maka di bawah penerangan bulan purnama,
sebentar saja ia sudah sampai di puncak.
Ternyata
mereka sudah hadir lengkap di puncak yang merupakan tanah terbuka ditumbuhi
rumput hijau. Lengkap hadir para anggota Thian-te Liok-koai yang kini hanya
tinggal lima orang itu. It-gan Kai-ong, Siang-mou Sin-ni, Hek-giam-lo,
Toat-beng Koai-jin, dan adiknya, Tok-sim Lo-tong. Mereka sudah tidak sabar lagi
menanti, dan mengomel panjang pendek ketika akhirnya Suling Emas muncul.
“Anggota
Thian-te Liok-koai selalu berlomba untuk lebih dulu hadir dalam pertemuan
mengadu kepandaian, membuktikan bahwa ia berani. Dia ini main lambat-lambatan,
anggota macam apa ini?” Toat-beng Koai-jin mendengus dan marah-marah.
“Memang dia
tidak patut menjadi anggota Thian-te Liok-koai! Cuhhh!” It-gan Kai-ong meludah
dengan sikap menghina sekali.
“Sudah
menjadi pendirian Thian-te Liok-koai bahwa anggota-anggotanya terdiri dari pada
orang-orang gagah yang suka melakukan perbuatan berani dan gagah! Akan tetapi
dia ini tidak gagah berani, melainkan lemah dan pengecut, buktinya dia selalu
memperlihatkan watak lemahnya dengan menolong orang-orang!”
Mendengar
ucapan Hek-giam-lo ini semua orang mengangguk-angguk membenarkan. Diam-diam
Suling Emas mengeluh di dalam hatinya. Memang, baik dan jahat, gagah dan
pengecut, semua hanya sebutan manusia, dan karenanya baik atau pun busuk, gagah
atau pun pengecut, sepenuhnya tergantung dari pada orang yang mengatakannya,
yaitu berdasarkan pandangannya.
Iblis-iblis
berupa manusia ini memang wataknya berlainan dengan manusia biasa, akan tetapi
mereka tidak sengaja bersikap demikian, karena memang menurut pendapat mereka,
pandangan mereka itu pun benar pula! Dari jaman dahulu sampai kini banyak
terdapat orang-orang seperti ini, yang hatinya sudah tertutup dan kotor
sehingga pandangannya pun kotor dan nyeleweng tanpa mereka sadari.
Perbuatan
ugal-ugalan, mengganggu orang, menindas, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan,
mengganggu wanita baik-baik, menonjolkan kekurang-ajaran, semua perbuatan ini
mereka anggap sebagai perbuatan gagah berani, atau setidaknya sebagai bukti
bahwa mereka ini gagah berani dan mereka bahkan menjadi bangga karena
perbuatan-perbuatan itu. Sebaliknya, orang-orang yang menghindari
perbuatan-perbuatan semacam ini, yang selalu berusaha mengasihi sesamanya,
mengulurkan tangan menolong sesamanya, dianggap sebagai tanda dari watak
penakut dan pengecut!
“Hi-hi-hik!”
Siang-mou Sin-ni tertawa terkekeh dan memasang muka semanis-manisnya ketika ia
mendekati Suling Emas, memandang wajah yang tampan itu, lalu berkata, “Betapa
pun juga, kepandaiannya cukup lumayan untuk membuat ia patut menjadi anggota
Thian-te Liok-koai. Tentang sifat-sifat gagah berani itu, biarlah kelak aku
sendiri yang akan membimbingnya. Aku akan membuat hatinya lebih kuat dari pada hati
kalian, aku akan mengajarnya menjadi seorang yang paling gagah dan paling
berani di dunia ini!” Kembali iblis betina itu terkekeh dan dari rambutnya
tercium semerbak bau wangi. Tentu saja yang dimaksudkan dengan ‘hati kuat’
adalah hati yang kejam dan ganas, sedangkan ‘gagah berani’ adalah suka
melakukan perbuatan yang paling jahat dan mengerikan.
Ketika
Siang-mou Sin-ni mengulurkan tangan hendak menggandengnya, Suling Emas
melangkah mundur sambil mengelak.
“Eh, Suling
Emas, mengapa kau mundur? Bukankah tadi kita sudah main-main dan permainan
bersama kita menghasilkan perpaduan yang sedap didengar? Percayalah, kalau kau
dan aku bersatu, kelak kita akan mempunyai seorang putera yang akan menjadi
raja yang menguasai seluruh jagad!”
Suling Emas
melangkah maju dan berkata, suaranya keren, “Dengarlah kalian berlima! Aku
datang bukan dengan maksud hendak menjadi anggota Thian-te Liok-koai, oleh
karena itu tidak perlu kalian menilai diriku apakah aku patut atau tidak
menjadi rekan kalian! Aku datang mewakili mendiang ibuku yang ditantang oleh
It-gan Kai-ong untuk ikut dalam adu ilmu di antara Thian-te Liok-koai, dan di
samping itu, aku hendak minta kembali tongkat pusaka Beng-kauw dari tangan
Hek-giam-lo, juga sekalian aku memang mempunyai perhitungan dengan kalian
semua. It-gan Kai-ong harus mengembalikan kitab yang dirampasnya dari tangan
Locianpwe Bu Kek Siansu, juga Hek-giam-lo, sedangkan Siang-mou Sin-ni harus
mengembalikan yang-khim. Ada pun Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong yang
kena dibujuk It-gan Kai-ong untuk menjadi kaki tangan Suma Boan, sebaiknya
kembali saja ke tempat asal kalian di pulau-pulau kosong!”
“Wah-wah,
dia cukup berani! Memaki-maki kita, mengusir kami berdua! Biarkan dia ikut
dalam adu kepandaian!” kata Toat-beng Koai-jin. Memang tokoh-tokoh hitam ini
paling suka melihat orang yang berani, apa lagi yang kejam, karena watak ini
cocok dengan selera mereka.
“Baiklah,
kita mulai dan kali ini kita harus bersungguh-sungguh untuk dapat menentukan
urutan tingkat dalam Thian-te Liok-koai, siapa yang paling pandai disebut twako
(kakak tertua), yang kedua ji-ko (kakak kedua) dan seterusnya. Yang mampus dalam
adu ilmu ini takkan dikubur, bangkainya akan menjadi makanan binatang buas dan
burung gagak, tulang-tulangnya akan diperebutkan anjing-anjing hutan!” kata
It-gan Kai-ong sambil meludah-ludah.
“Bagus, kita
mulai!” teriak Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo berbareng.
Lima orang
itu serentak meloncat mundur, masing-masing melompat mundur kira-kira dua
tombak jauhnya dan kini mereka memasang kuda-kuda, mata mereka melirik-lirik
mencari korban. Karena maklum bahwa mereka ini adalah orang-orang sakti yang
aneh, Suling Emas juga tidak mau menjadi sasaran di tengah-tengah dan ia pun
melompat mundur. Kini enam orang itu merupakan lingkaran yang menghadap ke
dalam, menanti saat untuk merobohkan lawan dalam pertandingan campuran itu, di
mana tidak ada kawan, semua adalah lawan yang harus dikalahkan, kalau perlu
dibunuh!
“Siapa
berani menyerangku?” It-gan Kai-ong mengejek.
Kesempatan
ini dipergunakan oleh Tok-sim Lo-tong yang menerjangnya dari samping kiri
sambil mengeluarkan senjatanya yang berupa seekor ular hidup. Terjangan ini
dibarengi pekik nyaring yang tidak menyerupai pekik manusia lagi, melainkan
lebih pantas keluar dan mulut seekor binatang buas atau agaknya begitulah suara
iblis.
Memang aneh
sekali watak orang-orang ini. Tok-sim Lo-tong bersama kakaknya, Toat-beng
Koai-jin tadinya dapat diperalat It-gan Kai-ong dan bekerja sama dengan raja
pengemis itu. Akan tetapi dalam pertemuan di puncak Thai-san ini, di mana
mereka hendak memperebutkan kedudukan sebagai saudara tua yang paling lihai di
antara mereka, lenyaplah segala persahabatan, segala hubungan, satu-satunya
nafsu yang menguasai mereka adalah menang sendiri dan menjadi jagoan nomor
satu!
Serangan
Tok-sim Lo-tong ini hebat sekali, tangan kirinya yang mencengkeram ke depan
mengeluarkan sambaran angin pukulan yang mengeluarkan bunyi seperti suara
tikus, bercicitan, sedangkan ular yang ia pegang dengan tangan kanan itu
meluncur ke depan menggigit dan mengeluarkan racun dari semburan mulutnya!
Jangan
dipandang rendah racun ular itu karena binatang yang dijadikan senjata ini
adalah ular beracun yang amat berbahaya, yang mempunyai bisa disebut ‘racun
api’ karena racun itu dapat membakar hangus apa saja yang disentuhnya. Juga
cengkeraman tangan kiri Bocah Tua Hati Racun (Tok-sim Lo-tong) ini mengandung
tenaga dalam yang penuh dengan racun dingin, merupakan racun yang berlawanan
dengan ular di tangan kanannya, namun tidak kalah hebatnya karena sekali saja
pukulan tangan kirinya mengenai sasaran, dapat membikin beku jantung dan darah.
Namun
Tok-sim Lo-tong boleh jadi berbahaya bagi lawan manusia biasa, menghadapi
It-gan Kai-ong ia menemukan tanding. Dengan suara ketawa terbahak raja pengemis
ini menyambut serangan Tok-sim Lo-tong dengan sama dahsyatnya. Kakek mata satu
ini mengangkat tongkat bututnya, ditusukkan ke arah mulut ular sedangkan dia
sendiri meludah tiga kali berturut-turut yang ditujukan ke arah tiga jalan
darah di sepanjang lengan kiri lawan yang menyerangnya. Jadi serangan Tok-sim
Lo-tong itu dibalas serangan pula oleh It-gan Kai-ong!
“Uh-uh!” Lo-tong
menjerit marah dan tentu saja ia menggerakkan kedua lengannya, yang kanan untuk
menghindarkan ularnya dari tusukan maut sedangkan yang kiri untuk menghindari
sambaran air ludah yang lebih berbahaya dari pada senjata rahasia beracun.
Kemudian ia mendesak lagi dengan memutar ularnya seperti kitiran angin
cepatnya, sedangkan tangan kirinya tetap melakukan pukulan sebagai selingan.
“Heh-heh-heh!”
It-gan Kai-ong tertawa mengejek dan ia pun memutar tongkatnya mengimbangi lawan
dan di lain saat keduanya sudah berhantam dengan seru.
Biar pun
tongkat di tangan It-gan Kai-ong itu hanya tongkat butut, namun kalau sudah ia
mainkan seperti itu dapat melawan senjata baja yang bagaimana keras dan tajam
pun. Sebaliknya, senjata hidup di tangan Tok-sim Lo-tong juga demikian. Kecuali
bagian lemah yang terletak di mulut dan mata ular itu, tubuh ular telah
dilindungi kulit yang kebal dan tahan bacokan senjata tajam. Pertandingan
antara dua orang tokoh iblis dunia ini hebat sekali. Angin yang berputar-putar
seperti angin puyuh membuat pohon-pohon di sekitar tempat itu bergoyang-goyang
dan daun-daun pohon banyak yang rontok!
Sementara
itu, Hek-giam-lo, orang kedua yang sama licik dan curangnya dengan It-gan
Kai-ong, segera menggerakkan senjata sabitnya yang mengerikan dan tajam seperti
pisau cukur itu. Tanpa peringatan lagi ia menerjang Toat-beng Koai-jin yang
berdiri di sebelah kirinya. Mengapa ia memilih lawan Toat-beng Koai-jin? Inilah
kecerdikan setan hitam itu. Menurut perhitungannya, dibandingkan dengan
Siang-mou Sin-ni, apa lagi dengan Suling Emas, Toat-beng Koai-jin ini adalah
lawan yang lebih empuk, maka ia tidak menyia-nyiakan waktu terus saja meniilih
Toat-beng Koai-jin sebagai lawannya yang ia yakin akan dapat ia jatuhkan dalam
waktu singkat.
Toat-beng
Koai-jin si manusia liar bertelanjang baju yang gendut berpunuk seperti kerbau
itu menggereng seperti binatang beruang luka, kemudian kedua tangannya
mencakar-cakar dengan kuku-kukunya yang panjang runcing. Di lain saat sudah ada
tiga buah batu besar dan dua batang pohon menyambar ke arah Hek-giam-lo. Iblis
Hitam ini tentu saja dapat mengelak cepat, akan tetapi ketika ia menerjang
lagi, si punuk liar itu sudah memegang sebatang pohon besar, dipergunakan
sebagai senjata, mengamuk dan menerjang Hek-giam-lo!
Repot juga
Hek-giam-lo diterjang dengan senjata pohon yang penuh cabang ranting dan
daun-daun itu. Ia membabat dengan sabitnya dan beterbanganlah daun-daun dan
ranting pohon itu bagaikan hujan. Sebentar saja pohon di tangan Toat-beng
Koai-jin sudah tinggal batangnya saja yang dipergunakan oleh Toat-beng Koai-jin
sebagai senjata tongkat besar. Tongkatnya yang sebesar balok bergaris tengah
tiga puluh senti itu ia putar-putar di atas kepala sehingga sinar bayangannya
menyelimuti seluruh tubuhnya.
Segera kedua
orang iblis ini sudah saling terjang dan terlibat dalam pertandingan yang tidak
kalah serunya dengan pertandingan antara It-gan Kai-ong dan Tok-sim Lo-tong.
Hanya bedanya, pertandingan ini mengakibatkan batu-batu kecil beterbangan ke
atas dan tanah menjadi debu bergulung-gulung menyuramkan pandangan mata yang
hanya diterangi sinar bulan purnama.
Suling Emas
sudah siap siaga ketika ia melihat orang terakhir, Siang-mou Sin-ni melangkah
dan menghampirinya dengan langkah seperti harimau lapar, dengan pinggul
digoyang-goyang, lenggang dibuat-buat, disertai senyum manis dan sepasang mata
berkilat-kilat memantulkan sinar bulan. Deretan gigi putih berkilauan mengintai
dari balik bibir mengulum senyum, Suling Emas bersikap makin waspada dan siap,
karena ia cukup mengenal iblis betina ini. Makin manis sikapnya, makin
berbahayalah iblis ini.
Diam-diam ia
harus mengakui kecantikan Siang-mou Sin-ni. Seorang wanita yang sudah masak,
yang sukar dicari cacatnya dari rambut yang halus hitam panjang berbau harum itu
sampai kepada wajah cantik jelita dan bentuk tubuh yang ramping padat dan
sepasang kaki tangan yang kecil menarik. Patut disayangkan seorang wanita yang
berdarah bangsawan Kerajaan Hou-han ini tersesat menjadi seorang manusia iblis
yang keji.
Kalau Suling
Emas teringat akan perbuatan-perbuatan jahat Siang-mou Sin-ni, lenyaplah rasa
sayang dan kasihannya. Entah berapa banyak manusia dan kanak-kanak tidak
berdosa tewas di tangan iblis wanita ini, dihisap darahnya hidup-hidup untuk
dijadikan obat kuat! Mengingat akan kekejaman ini, ia bergidik dan timbul
niatnya untuk membasmi wanita iblis ini agar lenyap sebuah ancaman bagi
keselamatan manusia.
Akan tetapi
wanita itu tidak segera menyerangnya seperti yang disangka oleh Suling Emas,
bahkan mendekatinya sambil tersenyum-senyum dan matanya mengerling tajam.
“Suling
Emas, biarkan si goblok itu saling gempur sendiri. Kita tidak begitu goblok
untuk bunuh-membunuh di malam seindah ini, bukan? Lihat, betapa indahnya bulan,
betapa cemerlang dan sejuknya hawa udara. Suling Emas, kita biarkan mereka itu
saling gebuk dan saling bunuh, nanti dengan mudah kita bereskan mereka semua
anjing-anjing busuk itu. Sekarang mari kita menonton mereka sambil mengobrol di
bawah sinar bulan purnama, asyik dan nikmat, kan? Aku merindukan dirimu
semenjak pertama kita di sini dahulu. Marilah, sayang!” Sambil berkata
demikian, dengan bibir tersenyum dan mata setengah terkatup wanita itu
mengembangkan kedua lengannya seperti hendak memeluk Suling Emas.
Suling Emas
melangkah mundur, mengibaskan lengan bajunya dengan marah. “Siang-mou Sin-ni,
simpanlah bujuk rayumu untuk orang lain. Aku bukanlah laki-laki seperti yang
kau kehendaki. Lebih baik kau insyaflah, tebus dosa-dosamu dengan bertapa dan
membersihkan batin. Kalau tidak, mungkin aku sendiri yang akan mengantar kau
kembali ke alam asalmu!”
Tiba-tiba
sepasang mata yang tadi setengah terkatup bersinar mesra itu terbuka lebar dan
sinarnya kini penuh kekejian. Mulut itu masih tersenyum, akan tetapi matanya
membayangkan kebencian yang memuncak. Kemudian, tiba-tiba wanita itu menjerit
dan menubruk maju, didahului rambutnya yang panjang menyambar hendak menangkap
Suling Emas. Wanita yang tadinya seperti seorang puteri jatuh cinta, yang
gerakannya lemah gemulai dan penuh bujuk rayu itu, kini tiba-tiba berubah
menjadi siluman betina yang haus darah!
“Kalau
begitu, mampuslah kau!” teriaknya mengikuti serbuannya.
Suling Emas
cepat menggerakkan kipasnya mengebut pergi rambut itu dan sulingnya berkelebat
menjadi sinar keemasan menotok ke arah leher Siang-mou Sin-ni. Akan tetapi
wanita sakti ini dapat mengelak dan melanjutkan serangannya dengan dahsyat dan
penuh kebencian. Kini tangan kirinya memegang sebuah yang-khim sebagai senjata
dan bertempurlah mereka berdua dengan seru dan mati-matian.
Tempat yang
indah dan romantis, puncak Thai-san yang biasanya sunyi hening dan yang tentu
akan menarik perhatian kaum pertapa sebagat tempat suci itu kini menjadi medan
pertandingan mati-matian yang mengerikan. Enam orang yang sedang bertempur itu
kesemuanya memiliki kesaktian yang tinggi. Angin pukulan mereka membuat
daun-daun rontok, semua batu-batu pecah berhamburan dan debu mengebul tinggi.
Suara angin pukulan mereka berciutan mengerikan dan dalam jarak belasan meter
batang-batang pohon yang terlanda angin pukulan berguncang-guncang seperti
didorong oleh tenaga raksasa.
Dasar lima
orang manusia iblis itu berwatak aneh dan liar, maka dalam melakukan
pertandingan untuk menentukan siapa yang paling unggul, sama sekali tidak
dipergunakan aturan sehingga pertempuran itu menjadi kacau-balau dan penuh
nafsu membunuh. Dan memang masing-masing memiliki keistimewaan sendiri maka
tidaklah mudah bagi yang seorang untuk mengalahkan yang lain.
Betapa pun
juga, menghadapi It-gan Kai-ong yang luar biasa dan yang telah memiliki
sebagian dari pada kitab rampasan dari Bu Kek Siansu, lambat-laun Tok-sim
Lo-tong terdesak hebat. Karena merasa penasaran bahwa Tok-sim Lo-tong selalu
dapat menahan serangannya sungguh pun ia sudah mengerahkan seluruh tenaga,
akhirnya It-gan Kai-ong memekik keras dan mulailah ia menggerakkan tongkatnya
menurut ilmu barunya yang ia pelajari dari kitab rampasannya yang hanya
setengahnya itu. Namun hasilnya sudah hebat sekali. Serangkum angin pukulan
berpusing menyerbu ke arah Tok-sim Lo-tong. Iblis ini mengeluarkan seruan
kaget, cepat ia memutar pula ularnya.
“Prakkk!”
ujung tongkat It-gan Kai-ong tepat sekali menghantam kepala ular sehingga
kepala ular itu pecah berantakan.
Tok-sim
Lo-tong menjerit marah dan ia menyambitkan bangkai ular ke arah lawannya. Namun
sekali menangkis, bangkai ular itu terlempar ke samping, ke arah gerombolan
pepohonan di sebelah kiri. Terdengar jerit mengerikan dan tubuh seseorang yang
tak dikenal terguling-guling roboh, sebagian dari tubuh ular itu masuk ke dalam
dadanya. Demikian hebatnya sambitan itu! Kiranya orang yang terkena sambitan
itu adalah seorang tosu yang tadinya menonton sambil bersembunyi.
Pada saat
berikutnya terdengar Siang-mou Sin-ni terkekeh genit. Rambutnya menyambar ke
kanan dan di saat berikutnya rambutnya telah ‘menangkap’ seorang hwesio yang
tak mampu melepaskan diri, biar pun sudah meronta-ronta sekuat tenaga.
Siang-mou Sin-ni menggerakkan kepalanya dan tubuh hwesio itu terangkat lalu
diputar-putar seperti kitiran, dijadikan senjata melawan Suling Emas!
“Iblis keji!
Lepaskan dia!” seru Suling Emas yang terpaksa mengelak ke sana-sini karena
tidak mau menangkis yang akibatnya tentu menewaskan hwesio penonton yang tak
bersalah itu.
Akan tetapi
Siang-mou Sin-ni hanya terkekeh dan terus menerjang makin hebat. Dengan
menggunakan ginkang-nya, Suling Emas mendahului meloncat ke atas dan dari atas
sulingnya bergerak menghantam rambut yang mengikat hwesio itu, sedangkan tangan
kirinya merampas tubuh si hwesio. Hwesio itu dapat terampas dan terlepas, akan
tetapi alangkah kaget hati Suling Emas melihat bahwa hwesio itu sudah tewas,
lehernya hampir putus oleh jiratan rambut tadi! Ia melemparkan mayat itu ke
samping lalu menerjang maju penuh kemarahan. Wanita iblis itu menyambutnya
sambil terkekeh mengejek.
Agaknya
sudah banyak berkumpul tokoh-tokoh kang-ouw yang cukup tabah untuk menonton
pertandingan hebat ini, yang memang sudah tersiar luas di dunia kang-ouw.
Celakanya, ketabahan ini harus dibayar mahal sekali sehingga dalam waktu
beberapa detik saja, dua orang sudah menjadi korban. Lebih hebat lagi, agaknya
hal ini menimbulkan kegembiraan hati orang-orang yang buas dan liar itu, karena
terdengar It-gan Kai-ong tertawa-tawa, untuk sementara mengurangi desakannya
pada Tok-sim Lo-tong dan ia meludah sejadi-jadinya ke kanan kiri.
Terdengar
teriakan-teriakan dan beberapa orang sudah terluka oleh ludah-ludah itu.
Sibuklah kini di balik pepohonan itu karena orang-orang yang tadinya menonton
mulai jeri, beramai-ramai mengundurkan diri sambil membawa teman-teman yang
tewas atau terluka. Akan tetapi tampak sinar terang berkelebat dan dua orang di
antara mereka terjungkal tanpa kepala lagi. Kiranya Hek-giam-lo tidak mau
ketinggalan dan berpesta dengan senjata sabitnya. Hal ini ditambah dengan hujan
batu besar dan pohon-pohon yang dilontarkan oleh Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim
Lo-tong!
Setelah para
penonton yang tak diundang itu kalang-kabut pergi menjauhi tempat maut itu,
pertandingan dilanjutkan, lebih gembira dan lebih dahsyat dari pada tadi.
Tok-sim Lo-tong kini sudah meniru kakaknya, menggunakan sebatang pohon untuk
menghadapi It-gan Kai-ong. Akan tetapi karena keistimewaannya adalah senjata
ular hidup, ia tidaklah begitu cekatan seperti kakaknya. Beberapa belas jurus
kemudian, tongkat It-gan Kai-ong yang gerakannya berpusing aneh itu berhasil
mengetuk tangannya sehingga sambil berteriak kesakitan Tok-sim Lo-tong terpaksa
melepaskan senjatanya sambil bergulingan ke kiri, dikejar It-gan Kai-ong yang
tertawa-tawa.
Ketika
Tok-sim Lo-tong terguling di dekat Hek-giam-lo, mendadak iblis hitam ini
meninggalkan Toat-beng Koai-jin dan mengayun sabitnya membacok ke arah kepala
Tok-sim Lo-tong! Iblis gundul kurus kering ini cepat mengelak sambil meloncat
berdiri sehingga sabit itu luput makan lehernya dan amblas ke dalam tanah
sambil mengeluarkan api ketika terbentur batu-batu yang terbabat seperti
agar-agar saja!
Terdengar
teriakan keras dan pohon besar di tangan Toat-beng Koai-jin menyambar ke arah
Tok-sim Lo-tong yang baru saja terbebas dari maut di tangan Hek-giam-lo.
Tok-sim Lo-tong meloncat tinggi menghindari serangan kakaknya sendiri, akan
tetapi ia terhuyung-huyung oleh sambaran angin pukulan dengan batang pohon ini.
Hebatnya, Siang-mou Sin-ni agaknya melupakan Suling Emas dan kini wanita itu
pun menerjang Tok-sim Lo-tong yang sudah terhuyung-huyung, menggunakan
rambutnya yang panjang mengirim serangan maut!
Suling Emas
berdiri bengong. Lima orang itu memang patut dijuluki iblis. Mereka begitu
licik dan curang sehingga dalam pertandingan menentukan kedudukan ini, mereka
tidak segan-segan untuk menggunakan serangan-serangan maut mengeroyok Tok-sim
Lo-tong yang terdesak hebat. Bahkan Toat-beng Koai-jin, kakak Tok-sim Lo-tong
sendiri, ikut pula mengeroyok seakan-akan lupa bahwa yang dikeroyok itu adalah
adiknya sendiri! Adakah manusia yang lebih ganas dari pada mereka ini?
Namun
kepandaian Tok-sim Lo-tong boleh dipuji. Biar pun ia tadi terhuyung-huyung,
namun menghadapi serangan Siang-mou Sin-ni, ia masih dapat menggerakkan kedua
tangan mengirim pukulan-pukulan dengan sinkang sehingga gumpalan rambut yang
menyambar ke arahnya itu dapat tertahan oleh hawa pukulannya, malah kini
tangannya membentuk cakar setan untuk mencengkeram rambut itu!
Pada saat
itu tampak berkelebatnya sabit Hek-giam-lo yang membabat ke arah tangannya
sehingga terpaksa Tok-sim Lo-tong menarik kembali tangannya. Tongkat It-gan
Kai-ong menyambutnya dari belakang dan batang pohon di tangan Toat-beng
Koai-jin juga sudah menyambar pula dari depan! Tok-sim Lo-tong sibuk mengelak
dan menggunakan ilmunya menggelinding seperti bola ke sana ke mari, gesit dan
cepat sekali. Namun empat orang pengeroyoknya tidak memberi ampun dan pada saat
ia meloncat bangun menghindarkan bacokan Hek-giam-lo, pundaknya keserempet
tongkat It-gan Kai-ong. Si gundul kurus kering ini memekik kesakitan dan
membalikkan tubuh hendak mengamuk. Namun cabang-cabang pada batang pohon yang
menyambarnya telah menyapu kakinya sehingga ia roboh terguling.
“Tranggggg!”
Sinar kuning emas menangkis sabit yang membacok kepala Tok-sim Lo-tong dan
menangkis pula tongkat It-gan Kai-ong, bahkan kipasnya mengebut rambut-rambut
Siang-mou Sin-ni.
Kiranya
Suling Emas yang menolong Tok-sim Lo-tong. Pendekar ini tak dapat tinggal diam
saja menyaksikan pertandingan yang berat sebelah dan tidak adil. Mana ada
aturan mengeroyok orang yang sudah terdesak? Benar-benar mereka itu tidak
mengenal watak gagah, tidak mau peduli akan norma-norma yang berlaku pada
tokoh-tokoh kang-ouw.
Sungguh pun
golongan hitam yang terdiri dari para penjahat, biasanya mereka masih enggan
melakukan perbuatan yang memalukan dan bersifat pengecut. Akan tetapi
iblis-iblis ini benar-benar tak tahu malu dan terpaksa Suling Emas turun tangan
membantu Tok-sim Lo-tong yang dikeroyok oleh empat orang rekan-rekannya para
anggota Thian-te Liok-koai, termasuk kakaknya sendiri Toat-beng Koai-jin!
Campur
tangan Suling Emas membuat pertandingan menjadi kacau-balau dan secara otomatis
mereka itu masing-masing memilih lawan terdekat dan di lain saat It-gan Kai-ong
sudah bergebrak melawan Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni bertanding dengan
Toat-beng Koai-jin, sedangkan Tok-sim Lo-tong yang kini sudah menyambar
sebatang pohon itu kini menyerang mati-matian kepada Suling Emas yang baru saja
membebaskannya dari pada ancaman maut! Semua keadaan yang tidak tahu aturan,
tidak mengenal budi, dan liar ganas seenaknya sendiri ini berjalan tanpa
kata-kata.
Diam-diam
Suling Emas menjadi bingung juga. Ia tidak mau terlalu mendesak Tok-sim Lo-tong
karena ia tahu bahwa begitu si gundul kurus kering ini ia desak, tentu yang
lain-lain akan turun tangan mengeroyok Tok-sim Lo-tong! Oleh karena inilah maka
ia hanya mempertahankan diri sambil memperhatikan jalannya pertandingan antara
pasangan-pasangan lain. Juga ia sempat melihat bahwa banyak juga tokoh kang-ouw
yang masih bersembunyi menonton, akan tetapi mereka kini tidak berani terlalu
mendekati tempat itu, melainkan nonton dalam jarak yang cukup aman.
Mendadak
terdengar suara ‘cring-cring-cring’ yang amat nyaring dan menggetarkan jantung.
Suling Emas kaget sekali, mengenal suara itu yang ternyata keluar dari alat
musik yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni! Betul saja, karena bertanding
melawan Siang-mou Sin-ni, Toat-beng Koai-jin yang terserang suara ini tidak
kuat melawan pengaruh suara yang mengikat semangat ini, ilmu yang dicuri oleh
Siang-mou Sin-ni menggunakan yang-khim milik Bu Kek Siansu.
Kakek
berpunuk yang liar itu tiba-tiba menjadi pucat dan terhuyung-huyung ke
belakang. Tahu-tahu kedua kakinya sudah terkena sambaran rambut Siang-mou
Sin-ni yang menariknya sehingga kakek liar itu terjengkang ke belakang. Seperti
tadi ketika Tok-sim Lo-tong terdesak, kini mereka berempat, Hek-giam-lo, It-gan
Kai-ong, dan Tok-sim Lo-tong bersama Siang-mou Sin-ni serentak menyerang
Toat-beng Koai-jin yang sudah roboh!
“Pengecut,
tahan!” seru Suling Emas melompat untuk membantu Toat-beng Koai-jin.
Namun Suling
Emas terlambat karena ketika ia tiba di dekat kakek itu, sabit di tangan
Hek-giam-lo telah membacok kepala, sedangkan tongkat It-gan Kai-ong sudah
menusuk dada dalam detik hampir berbareng, sedangkan rambut Siang-mou Sin-ni
yang terbagi menjadi dua merobek tubuh kakek itu dengan menarik kedua kaki ke
kanan kiri disusul oleh hantaman balok pohon oleh Tok-sim Lo-tong. Betapa pun
saktinya Toat-beng Koai-jin, tubuhnya seketika menjadi remuk dan terobek-robek,
hancur!
“Kejam!
Kalian iblis-iblis ganas!” bentak Suling Emas yang segera mengamuk dengan
sulingnya. Saking hebatnya gerakan Suling Emas, Tok-sim Lo-tong tak dapat
menghindarkan dirinya dan sekali dadanya terkena totokan suling, kakek ini pun
roboh dengan nyawa putus, rohnya melayang menyusul kakaknya.
“Heh-heh-heh,
Toat-beng Koai-jin menjadi anggota ke enam karena dia mampus lebih dulu.
Tok-sim Lo-tong menjadi anggota kelima, setingkat lebih tinggi dari pada
kakaknya. Lucu!” kata It-gan Kai-ong tertawa-tawa. Hek-giam-lo hanya mendengus
dan Siang-mou Sin-ni cekikikan. Kini tinggal empat orang yang masih hidup dan
otomatis mereka berdiri di empat sudut, memasang kuda untuk memperebutkan
kemenangan.
“Kalian
iblis-iblis ganas, malam ini aku Suling Emas bersumpah hendak membasmi kalian
bertiga!” seru Suling Emas. Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak cepat
sekali dan dia sekaligus sudah membagi-bagi serangan kepada tiga orang lawannya
secara beruntun.
Karena
maklum bahwa tiga orang lawannya ini merupakan orang-orang terlihai dari
Thian-te Liok-koai, maka dalam serangannya ini Suling Emas mengeluarkan ilmunya
berdasarkan Hong-in-bun-hoat yang dahulu ia terima dari Bu Kek Siansu. Tidak
saja gerakannya berdasarkan ilmu silat huruf yang hebat ini, juga ia
mengerahkan tenaga Kim-kong Sin-im sehingga ketika bergerak sulingnya mengeluarkan
bunyi yang dahsyat dan menggetarkan isi dada ketiga orang lawannya.
Hebat sekali
gerakan Suling Emas ini. Sulingnya berubah seperti halilintar menyambar,
sinarnya menyilaukan mata para lawannya. Apa lagi dibarengi suara melengking
tinggi itu, benar-benar mengejutkan lawan yang sambil memekik mereka melompat
mundur dengan gerakan mempertahankan diri. Mereka selamat dari penyerangan
pertama ini, namun tidak urung mereka merasa gentar juga dan jantung mereka
berdebar-debar.
Tiga orang
iblis ini adalah orang-orang yang cerdik dan licik. Maklumlah mereka bahwa
pendekar muda ini benar-benar tak boleh dibuat main-main, kepandaiannya
meningkat hebat semenjak pertemuan terakhir. Oleh karena itu kini pendirian
mereka pun berubah. Mereka tidak mau saling serang antara kawan sendiri dan
bermaksud menggabungkan tenaga tiga orang untuk menghadapi Suling Emas. Tanpa
kata-kata, tiga orang iblis ini sudah bersepakat dalam hal ini, maka otomatis
mereka melakukan gerakan menyudut dan mengurung Suling Emas dari sudut segi
tiga.
Rambut yang
hitam halus dan panjang dari Siang-mou Sin-ni melebar tegak lurus seperti duri
landak, penuh tenaga dan siap dipergunakan, sedangkan alat musik khim yang
berada di tangan kanannya diangkat ke atas kepala, digerak-gerakkan perlahan
untuk mengubah-ubah posisi, mencari kesempatan yang baik. Wanita yang cantik
ini sekarang kelihatan mengerikan dan agaknya pantas kalau mulutnya yang
menyeringai itu diberi tambahan caling di kanan kiri seperti gambar siluman
betina yang haus akan darah manusia.
Hek-giam-lo
juga berdiri dengan siap. Kedua kakinya terpentang lebar, kokoh kuat, mukanya
yang berkedok tengkorak amat mengerikan karena dari lubang di bagian matanya
berjelalatan. Sabit yang tajam berkilau diangkat tinggi ke atas, terkena sinar
bulan berkeredepan menyilaukan, sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari
terbuka didorong lurus ke depan, seperti tangan setan hendak mencengkeram
korbannya.
Yang paling
menjijikkan adalah It-gan Kai-ong. Kakek raja pengemis ini berdiri agak
terbongkok dengan kedua kakinya ditekuk rendah bagian lututnya. Tongkat
bututnya melintang di depan dada, matanya yang tinggal sebelah itu merah
terbelalak tak pernah berkedip, mulutnya agak terbuka dan air liurnya
menetes-netes dari ujung kanan.
Suling Emas
yang terkurung di tengah-tengah tampak tenang-tenang saja. Lenyap sudah kerut
merut kemarahan dari mukanya. Memang pendekar sakti ini sudah berhasil
menghalau nafsu marah di hatinya dan inilah syarat utama bagi seorang pendekar
silat, yaitu tidak boleh sekali-kali dipengaruhi nafsu perasaan di hatinya. Ia
berdiri dengan kuda-kuda biasa, kaki kiri diangkat ke atas dengan lutut
ditekuk, kaki kanan berdiri di ujung jari kaki.
Suling di
tangan kanannya melintang di depan kening, tangan kiri memegang kipas biru yang
bergerak-gerak, tertutup terbuka, perlahan-lahan tanpa mengeluarkan bunyi.
Sepasang matanya tidak memandang ke mana-mana, seakan-akan memandang ujung
hidungnya sendiri seperti keadaan seorang dalam semedhi, namun seluruh urat
syarafnya telah ‘dipasang’ dan panca inderanya mengikuti gerak-gerik tiga orang
lawannya.
Sunyi hening
di saat itu. Empat orang itu seperti patung-patung mati, bahkan pernapasan
mereka pun tidak terdengar. Jengkerik dan walang yang biasanya ramai berdendang
menghias kesunyian puncak, kini berhenti seakan-akan mereka ikut nonton dengan
penuh ketegangan dan kecemasan, seperti para tokoh kang-ouw yang sembunyi
sambil menonton di sekeliling tempat itu.
Tiba-tiba
empat ‘patung’ itu bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata
biasa, disertai suara-suara mengejutkan.
“Hiaaaaattttt!”
sabit di tangan Hek-giam-lo menyambar cepat sekali, seperti kilat dan hanya
tampak cahayanya saja.
“Siuuuttttt!”
hanya satu sentimeter saja selisihnya dari leher Suling Emas yang dengan mudah
miringkan tubuh membiarkan sabit menyambar di dekatnya.
“Huah-ha-ha-ha...
wuuuuttttt!” Tongkat It-gan Kai-ong melakukan serangan tusukan maut dari
samping selagi Suling Emas miringkan tubuh, disusul pada detik berikutnya oleh
sambaran yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni yang menghantam pusar dengan
gerakan kuat-kuat sehingga yang-khim mengeluarkan bunyi berdesing.
Namun dengan
amat cekatan, seakan-akan berubah menjadi segulung asap, Suling Emas sudah
bergerak menyelinap di antara gulungan sinar senjata lawan dan tak sebuah pun
di antara hujan senjata lawan dan tak sebuah pun di antara lembaran rambut
Siang-mou Sin-ni yang mengirim serangan susulan dapat menyentuhnya!
Namun
Hek-giam-lo sudah menerjang lagi, sabitnya menyambar-nyambar laksana burung
hantu dari udara. Sedangkan tongkat It-gan Kai-ong juga bergerak-gerak seperti
ular hitam menotok pelbagai jalan darah mematikan, dibantu oleh
hantaman-hantaman yang-khim dan sambaran-sambaran rambut yang mengeluarkan
suara berciutan. Suling Emas memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya. Ia
meloncat, mendekam, memutar tubuh, berjungkir-balik.
Setelah
lewat lima menit mereka berempat bergerak-gerak sedemikian cepatnya sehingga
bayangan mereka campur aduk menjadi satu, tampak Suling Emas meloncat tinggi
sekali dan tahu-tahu sudah berdiri sejauh empat meter di depan tiga orang
lawannya. Kembali seperti tadi, mereka berempat tak bergerak, saling pandang
penuh rasa benci dan penasaran. Kini Suling Emas tidak terkurung lagi,
melainkan menghadapi mereka bertiga yang berada di depannya.
Perlahan-lahan
tiga orang itu melangkah maju dan otomatis membentuk barisan segi tiga. Namun
Suling Emas tidak mau terkurung lagi. Ia ingin membalas, tidak mau dijadikan
umpan serangan mereka tanpa mendapat kesempatan membalas sama sekali. Ia maklum
bahwa kecepatan mereka itu amat hebat dan kalau ia sudah terkurung seperti
tadi, serangan mereka bertubi-tubi tak pernah berhenti dan keadaan demikian itu
tentu saja amat berbahaya dan tidak menguntungkan. Ia tersenyum mengejek, lalu
berkata.
“Bagus,
tokoh-tokoh Thian-te Liok-koai! Menghadapi aku saja dengan tiga lawan satu,
kalian gentar, apa lagi mau menghadapi mendiang Ibuku! Eh, apakah kalian takut?
Kalau takut....”
“Sssrrr...
srrr... srrrrr...!”
“Cuiiiiittttt...!”
“Sing...
sing... singgg!”
Suling Emas
tentu saja sudah waspada. Malah ini yang ia kehendaki, maka ia tadi sengaja
mengejek untuk memanaskan hati mereka. Pancingannya berhasil karena secara
beruntun mereka melepas senjata rahasia.
Pertama-tama
Siang-mou Sin-ni yang melontarkan jarum-jarum beracun dari arah kiri, sebanyak
tujuh belas yang kesemuanya menuju ke jalan-jalan darah utama. Kemudian disusul
oleh senjata rahasia It-gan Kai-ong yang menjijikkan namun tak kalah jahatnya,
yaitu air ludahnya, menyerang dari arah kanan dan paling akhir Hek-giam-lo
telah menggunakan pisau-pisau terbangnya menyerang dari depan langsung dengan
kecepatan luar biasa.
Biar pun
orang sesakti Suling Emas, andai kata ia lengah, tentu akan sukar melepaskan
diri dari ancaman bahaya maut dari tiga penjuru ini. Baiknya ia memang sudah
waspada dan sudah menduga lebih dulu, maka begitu tampak sinar melayang dari
tiga jurusan, ia telah mendahului mereka, tubuhnya mendadak mumbul ke atas
seperti terbang, lebih cepat dari pada sambaran senjata-senjata rahasia itu, dan
kini dia melayang di atas senjata-senjata rahasia itu.
Langsung ia
menerjang tiga orang lawannya dari atas dengan serangan sulingnya dalam
jurus-jurus rahasia dari Hong-in-bun-hoat. Kini giliran tiga orang iblis itulah
yang kaget setengah mati ketika tiba-tiba ada suara mendengung-dengung dan
melengking di atas kepala mereka, disusul oleh sinar keemasan yang menyilaukan
mata. Mereka sama sekali tidak menduga akan terjangan Suling Emas sehebat itu.
Karena tiga
orang iblis itu memang sakti dan berilmu tinggi, biar pun terkejut dan terdesak
hebat oleh serangan Suling Emas dari atas yang dahsyatnya bagaikan sambaran
halilintar di musim hujan itu, namun mereka bertiga dapat juga menyelamatkan
diri. It-gan Kai-ong berhasil menjatuhkan diri ke belakang sambil memutar-mutar
tongkatnya melindungi dirinya, sehingga ia berhasil memecahkan sinar
bergulung-gulung yang menyambarnya dan hanya pakaiannya saja yang sebagian
besar robek oleh sambaran sinar suling lawannya.
Hek-giam-lo
juga berhasil melompat ke belakang sambil berteriak nyaring dan menangkis
dengan sabitnya. Terdengar suara keras dan ujung senjatanya itu patah, akan
tetapi ia selamat tidak terluka. Hanya Siang-mou Sin-ni yang kurang beruntung
karena ketika dalam kagetnya ia menggerakkan rambutnya menangkis, rambutnya itu
terbabat sinar kuning emas dan putuslah rambutnya yang hitam panjang sehingga
tinggal sampai ke pundaknya saja! Wanita ini menjerit ngeri dan menangis.
Akan tetapi
tidak hanya sampai di situ Suling Emas menyerang. Kini tubuhnya sudah berada di
atas tanah dan tanpa membuang waktu lagi ia melanjutkan serangannya,
bertubi-tubi ia menyerang tiga orang lawannya sambil tetap mainkan Ilmu Silat
Hong-in-bun-hoat yang amat luar biasa itu.
It-gan
Kai-ong dan Hek-giam-lo terdesak, mereka maklum akan kelihaian ilmu ini maka
mereka main mundur menjauhkan diri. Tidak demikian dengan Siang-mou Sin-ni yang
menjadi marah sekali karena rambut yang menjadi kebanggaan dan menjadi senjata
ampuhnya itu telah ‘berondol. Dengan nekat wanita ini menyambut serangan Suling
Emas dengan kekerasan. Ia mainkan yang-khim di tangannya dan menyambut pukulan
dengan pukulan pula.
Betapa pun
juga, Siang-mou Sin-ni terpaksa mengakui kehebatan Hong-in-bun-hoat karena
belum sampai sepuluh jurus, ia sudah terdesak dan terancam hebat. Dengan
gerakan nekat tanpa mempedulikan keselamatan dirinya, Siang-mou Sin-ni menjerit
dan menghantamkan yang-khim pada saat suling lawannya bergulung-gulung
mengitari dirinya.
Suling Emas
kaget sekali, tidak menyangka lawannya akan berlaku nekat mengadu nyawa. Tiada
waktu lagi untuk mengelak, maka ia menggerakkan kipasnya yang sudah tertutup
untuk menangkis.
“Brakkkkk!”
keras sekali suara ini terdengar dan yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni pecah
menjadi empat potong, tetapi kipas biru di tangan Suling Emas juga patah
menjadi dua.
Detik amat
berbahaya itu dipergunakan Suling Emas dengan baiknya karena sulingnya sudah
meluncur ke depan dan tiga kali sulingnya berhasil menotok tiga jalan darah
yang berbahaya dari Siang-mou Sin-ni.
“Aihhhh...!”
Siang-mou Sin-ni menjerit.
Sisa
yang-khim yang berada di tangannya ia lemparkan ke bawah, berbareng dengan
kipas Suling Emas yang juga dibuang ke bawah. Kemudian tiba-tiba wanita itu
tertawa nyaring dan... sinar merah menyambar dari mulutnya ke arah muka Suling
Emas.
Pendekar
sakti ini kaget sekali, maklum apa artinya sinar merah yang mengeluarkan bau
busuk memabukkan itu. Wanita iblis itu telah mempergunakan ilmunya yang
terakhir, yaitu Tok-hiat-hoat-lek, ilmu menyemburkan darah beracun yang amat
berbahaya. Kipasnya sudah tidak ada padanya, padahal kipas itulah yang paling
tepat untuk menghadapi serangan dahsyat mengerikan ini. Terpaksa ia lalu
melempar tubuhnya ke belakang.
Namun, biar
pun ia tidak terkena semburan darah beracun, hawa beracun dari darah yang
mengeluarkan bau busuk melebihi mayat busuk ini telah mempengaruhinya dan
mendatangkan pusing pada kepalanya dan pandang matanya berkunang-kunang. Ia
cepat mengerahkan sinkang dan setelah tubuhnya terlempar ke belakang, segera ia
berjungkir-balik dan melompat jauh ke kanan. Baiknya ia seorang yang hati-hati
dan gesit, karena benar seperti yang ia khawatirkan, semburan darah itu tadi
mengejarnya. Kalau saja ia tidak cepat-cepat berjungkir-balik dan melompat,
tentu ia akan menjadi korban.
Kini ia
melihat wanita iblis itu terhuyung-huyung dan tertawa-tawa. Hal ini membuat
Suling Emas diam-diam mengagumi Siang-mou Sin-ni. Totokannya tiga kali tadi
hebat sekali dan kesemuanya mendatangkan maut. Seorang yang bagaimana pandai
dan kuatnya tentu akan roboh dan tewas seketika. Akan tetapi Siang-mou Sin-ni
masih mampu mengeluarkan ilmunya yang terakhir, mampu tertawa-tawa dan hanya
terhuyung-huyung. Hebat! Wanita itu sambil tertawa memuntahkan darah yang
beracun, lalu berlari-larian seperti orang gila dan akhirnya terdengar jeritnya
melengking ketika tubuhnya terjungkal ke dalam jurang tak jauh dari situ.
Agaknya ia seperti gila dan buta oleh luka-lukanya dan lari tanpa melihat lagi
sehingga terjungkal memasuki jurang yang ratusan kaki dalamnya.
Tiba-tiba
Suling Emas berteriak keras dan tubuhnya melesat ke kanan kiri sambil memutar
sulingnya. Secara serentak ia diserang hebat oleh It-gan Kai-ong dan
Hek-giam-lo. Karena pandang matanya masih berkunang-kunang dan kepalanya masih
pening, ia hanya dapat mengelak sambil menjaga diri dengan suling. Agaknya
keadaannya ini diketahui pula oleh dua orang manusia iblis itu, yang terus
mendesaknya dengan serangan-serangan kilat.
Setelah dua
orang iblis ini mengeroyok berdua saja, mereka mendapat kenyataan yang mengagumkan,
yaitu bahwa ilmu silat yang mereka mainkan untuk mengeroyok Suling Emas kini
menjadi berlipat ganda ampuhnya. Ilmu silat mereka itu saling mengisi
kekosongan yang ada dan dimainkan bersama-sama dapat menjadi semacam daya
serang yang luar biasa! Insyaflah mereka akan hal ini, karena memang
sesungguhnya ilmu silat baru mereka itu adalah bagian-bagian dari pada sebuah
ilmu yang kitabnya mereka rampas dari tangan Bu Kek Siansu. It-gan Kai-ong
dalam perebutan berhasil mendapatkan kitab bagian depan sedangkan Hek-giam-lo
bagian belakang.
Suling Emas
juga kaget karena terasa olehnya betapa hebat desakan kedua orang ini. Ia
berusaha menghalau hawa beracun yang mendesak di dadanya dan ke otaknya, akan
tetapi kedua orang lawannya tidak memberi kesempatan kepadanya. Terpaksa ia
harus mengandalkan sulingnya untuk melindungi tubuh sehingga suling itu berubah
menjadi gulungan sinar kuning emas yang menyelimuti dirinya, tak memungkinkan
sabit dan tongkat menyentuhnya. Mereka seakan-akan hanya mengadu tenaga dan keuletan.
Akan tetapi berapa lama ia akan dapat bertahan?
Dalam ilmu
silat, menyerang lebih menguntungkan dari pada bertahan, kecuali kalau
pertahanan itu dapat diubah cepat menjadi penyerangan balasan. Dalam hal ini,
Suling Emas sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membalas. Hal ini
adalah karena ia masih berada dalam pengaruh hawa beracun Tok-hiat-hoat-lek
dari Siang-mou Sin-ni tadi, dan kedua karena penggabungan ilmu silat kedua
orang iblis itu benar-benar memperlipat ganda kehebatan daya serang mereka.
It-gan
Kai-ong dan Hek-giam-lo adalah tokoh-tokoh kawakan yang sudah matang ilmunya,
maka tentu saja dalam hal ilmu silat mereka merupakan orang-orang yang banyak
pengalaman dan cerdik sekali. Setelah mainkan bagian ilmu rampasan kitab Bu Kek
Siansu bersama-sama, segera mereka menarik kesimpulan bahwa apa bila kedua ilmu
mereka itu digabungkan, maka akan merupakan ilmu yang hebat sekali.
“Kiri buka,
atas tekan!” tiba-tiba It-gan Kai-ong berseru.
Hek-giam-lo
mendengus dan berteriak. “Kanan tutup, bawah dorong!”
Kiranya yang
diucapkan It-gan Kai-ong adalah merupakan sebagian dari pada ilmu pukulan yang
paling hebat, akan tetapi karena ia hanya dapatkan setengahnya, maka selama ini
merupakan rahasia baginya dan tak dapat ia pergunakan. Ada pun ucapan
Hek-giam-lo sebagai imbangannya adalah lanjutan dari pada jurus itu, maka
keduanya segera bergerak.
It-gan
Kai-ong lebih dulu lari disambung oleh Hek-giam-lo. Bukan main dahsyatnya
terjangan ini, sebuah jurus rahasia yang kini dimainkan secara bersambung oleh
dua orang! Begitu otomatis gerakan mereka, ganti-berganti sehingga merupakan
serangkaian serangan yang serba sulit dihadapi.
Suling Emas
kaget sekali. Hampir saja ia terkena bacokan sabit setelah ia berhasil
menghindarkan tusukan maut tongkat It-gan Kai-ong. Akan tetapi begitu sabit itu
lewat sedikit di atas pundaknya, secara aneh sekali tongkat kakek raja pengemis
sudah menyambar, ujungnya tergetar menjadi lima dan menyerang ke arah lima
bagian tubuhnya dari sebelah atas, disambung dengan sambaran sabit bertubi-tubi
dari bawah!
Suling Emas
sudah berusaha menyelamatkan diri dengan memutar sulingnya, namun karena ia
masih pusing dan sulingnya hanya merupakan senjata pendek yang sukar menghadapi
senjata-senjata panjang yang menyerang dari atas dan bawah secara aneh dan
bertubi-tubi, ketika tubuhnya melompat miring, pundaknya terkena hantaman
tongkat It-gan Kai-ong.
“Brukkk!”
Hantaman ini keras sekali. Batu karang juga akan hancur terlanda pukulan ini.
Suling Emas sudah mengerahkan lweekangnya ke arah pundak, namun tetap saja ia
terbanting dan bergulingan di atas tanah!
“Heh-heh-heh!”
It-gan Kai-ong tertawa gembira dan mukanya beringas ketika ia mengejar dengan
tongkat terangkat, siap memberi tusukan terakhir.
“Mampus
kau!” Hek-giam-lo mendengus dan berlomba dengan kakek pengemis itu untuk
berusaha mendahuluinya membacokkan sabitnya ke arah tubuh Suling Emas yang
bergulingan dan kelihatannya tak berdaya lagi itu. Hampir berbareng, tongkat
dan sabit itu menyambar ke arah tubuh Suling Emas.
Tiba-tiba
terdengar suara melengking tinggi yang getarannya seakan-akan mencopot jantung
It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo. Suara ini adalah suara yang ditiup Suling Emas
dalam keadaan bahaya itu. Sejenak Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong tertegun dan
gerakan mereka terhenti beberapa detik. Namun beberapa detik ini cukuplah bagi
pendekar sakti seperti Suling Emas yang sudah melompat bangun dan menggerakkan
sulingnya.
“Trang-trang...
duk... duk...!” Tubuh It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo terlempar dan melayang
bagaikan layang-layang putus talinya, sedangkan sabit dan tongkat mereka
patah-patah! Kemudian robohlah dua orang iblis sakti itu, mengeluh dan dari mulut
mereka muntah darah segar. Mereka telah terluka hebat.
Akan tetapi
di lain pihak, Suling Emas berdiri dengan terhuyung-huyung. Ia berusaha
mengusir kepeningan kepalanya akibat hawa beracun Siang-mou Sin-ni tadi, karena
luka di pundaknya akibat gebukan tongkat It-gan Kai-ong tidaklah amat parah
baginya kalau dibandingkan dengan hawa beracun itu.
“Huah-hah-hah,
anjing muda boleh juga!”
“Semua sudah
roboh, tinggal dia yang harus roboh!” Sambung suara kedua dan muncullah kakek
putih dan kakek merah.
Keduanya
menggerakkan tangan, kakek merah dari depan Suling Emas sedangkan kakek putih
dari belakangnya karena munculnya kedua orang kakek itu berpencar. Suling Emas
yang sudah berkurang tenaganya karena pusing, juga karena luka di pundaknya,
cepat miringkan tubuh dan mementangkan kedua lengannya, didorong ke arah kanan
kiri untuk menghadapi serangan dua orang kakek itu. Ia kaget sekali ketika
menerima dorongan tenaga sakti yang berlawanan, dari kanan tenaga kakek merah
panas seperti api, sedangkan dari kiri tenaga kakek putih dingin seperti salju!
Inilah
hebat, pikirnya. Tak mungkin ia mengerahkan dua macam tenaga untuk menghadapi
serangan maut ini, akan tetapi Suling Emas bukanlah seorang sakti yang sudah
kenyang akan gemblengan hebat kalau ia menjadi panik atau gentar. Ia
mengerahkan seluruh tenaganya, semua hawa murni ia kerahkan untuk menahan
gelombang serangan itu, sepasang matanya meram, dari balik kain kepalanya
mengepul uap putih. Gelombang tenaga makin dahsyat dari kanan kiri, tubuh
Suling Emas sudah gemetar, hampir tak kuat lagi.
“Orang-orang
tak tahu malu, pengecut! Mengeroyok kakakku yang sudah terluka!” Tiba-tiba
seorang pemuda meloncat ke depan. Dia ini bukan lain adalah Bu Sin! Pemuda ini
mencabut pedangnya. Sesosok bayangan lain berkelebat dan cepat menarik
tangannya.
“Bu Sin,
jangan...! Tiarap...!” Dengan sentakan keras bayangan yang ternyata adalah
seorang nikouw (pendeta wanita Buddha) ini berhasil membuat Bu Sin roboh
terguling. Akan tetapi ia hanya berhasil menyelamatkan Bu Sin saja karena
sekali kakek merah mengibaskan tangan kirinya ke arahnya, nikouw yang bukan
lain adalah Kui Lan Nikouw, bibi guru Bu Sin ini, roboh terguling sambil
mengeluh.
Pada saat
itu, Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong sudah merangkak bangun. Terdengar It-gan
Kai-ong terkekeh biar pun napasnya terengah-engah dan mulutnya mengeluarkan
darah, sedangkan Hek-giam-lo mendengus aneh, juga napasnya terengah-engah.
Kedua orang kakek ini lalu dengan langkah terhuyung-huyung menghampiri Suling
Emas yang berdiri dengan kedua lengan terpentang kaku, tangan mereka memegang
sisa senjata yang sudah patah lebih setengahnya. Jelas bahwa mereka hendak
menurunkan tangan maut terhadap Suling Emas yang sama sekali sudah tidak
berdaya itu.
Mereka ini
sudah terluka berat di sebelah dalam tubuhnya akibat totokan suling, akan
tetapi nafsu mereka masih besar untuk membunuh Suling Emas yang sudah berada
dalam keadaan ‘terjepit’ antara dua tenaga raksasa yang amat dahsyat. Biar pun
keadaan dua orang iblis itu sudah terluka dan lemah namun karena mereka adalah
orang-orang sakti, tentu saja tanpa perlawanan Suling Emas, sekali pukul dengan
senjata-senjata sepotong itu sudah akan cukup untuk membunuh perdekar ini.
Mereka kini sudah berada dekat sekali dan sabit serta tongkat sudah diangkat,
siap untuk dipukulkan.
“Plakkk!”
Dua sosok bayangan manusia berkelebat cepat, sebatang pedang bersinar kuning
menangkis sabit membuat sabit itu kini terpotong tinggal gagangnya saja,
sedangkan sebuah tengan yang kecil halus menangkis tongkat sehingga tongkat itu
terpental. Kiranya yang muncul adalah dua orang gadis, Lin Lin dan Sian Eng
yang muncul di saat yang bersamaan dari dua jurusan!
Hek-giam-lo
dan It-gan Kai-ong terkejut dan terhuyung mundur. Lin Lin sambil berseru keras
mengayun pedangnya menyerang Hek-giam-lo. Iblis hitam ini tentu saja tidak
takut menghadapi Lin Lin, akan tetapi oleh karena ia telah terluka hebat dan
senjatanya yang ampuh sudah musnah, ditambah lagi karena dalam tangkisan tadi
ia mendapat bukti bahwa Lin Lin telah memiliki ilmu dan tenaga mukjijat,
Hek-giam-lo mendengus marah lalu melompat jauh, menghilang di tempat gelap.
Juga It-gan Kai-ong yang sudah terluka parah ketika menerima tangkisan lengan
Sian Eng, kaget setengah mati karena tangannya terasa panas dan gatal-gatal. Ia
maklum bahwa keadaannya yang sudah terluka itu tidak menguntungkan dirinya,
maka ia pun lalu melompat dan lenyap di tempat gelap.
Lin Lin dan
Sian Eng saling pandang gembira.
“Enci Sian
Eng...!” seru Lin Lin gembira.
Akan tetapi
Sian Eng tidak menjawab dan Lin Lin melihat betapa wajah enci-nya yang tersinar
cahaya bulan itu aneh sekali. Sian Eng seakan-akan tidak mempedulikannya, malah
kini Sian Eng dengan tangan kosong menerjang kakek putih yang berjuluk Pek-kek
Sian-ong. Dari mulutnya terdengar lengking yang amat aneh, yang membuat bulu
tengkuk Lin Lin serasa berdiri karena ia teringat akan lengking yang keluar
dari si mayat hidup Cui-beng-kwi!
Akan tetapi
ia pun segera sadar bahwa Suling Emas terancam bahaya, maka dengan pedang
terhunus ia lari menghampiri Lam-ek Sian-ong kakek muka merah, lalu menerjang
dengan ilmu pedangnya berdasarkan ilmu silat yang ia pelajari dari dalam
tongkat pusaka Beng-kauw!
Melihat dua
orang gadis yang gerakan-gerakannya ganas sekali menerjang, baik Lam-kek
Sian-ong mau pun Pak-kek Sian-ong terkejut sekali dan sama sekali mereka tidak
menduga-duga terjadinya hal ini. Tadi, melihat betapa dua orang gadis muda
remaja itu sekali tangkis dapat membuat It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo yang sudah
mereka saksikan kelihaiannya lari tunggang-langgang saja sudah membuat mereka
terheran-heran.
Maka mereka
berbareng lalu mengerahkan tenaga mendesak Suling Emas. Karena keadaannya
memang sudah payah, Suling Emas yang ‘dijepit’ seperti itu tak dapat menahan
lagi, ia mengeluh panjang dan roboh terguling dalam keadaan pingsan dan mukanya
pucat sekali seperti sudah mati!
Sian Eng dan
Lin Lin memuncak kemarahannya. Lin Lin memutar pedangnya dan menyerang
kalang-kabut sambil memaki-maki, “Kakek tua bangka mau mampus! Kau berani
mencelakai dia? Kucukur jenggotmu kutabas hidungmu kupenggal lehermu!” Ia
memaki-maki sambil menyerang.
Serangannya
hebat bukan main karena dalam keadaan marah itu ia mengeluarkan jurus-jurus
paling hebat dari ilmu silat barunya yang sudah ia latih lagi atas petunjuk
Gan-lopek. Ada pun Sian Eng yang juga menyaksikan keadaan Suling Emas, kini
memaki-maki dan melengking-lengking secara aneh, namun gerakan-gerakan kedua
tangannya ketika menerjang kakek muka putih dahsyat bukan main, mengeluarkan
angin yang mengeluarkan bunyi bersuitan. Lin Lin dan Sian Eng yang marah
melihat Suling Emas roboh dan menyerang kedua orang kakek itu, tidak melihat
betapa sesosok bayangan berkelebat cepat sekali, menyambar tubuh Suling Emas
dan dibawa lari dengan kecepatan seperti terbang.
“Eh, siapa
kau dan hendak kau bawa ke mana kakakku? Berhenti!” Bu Sin yang tadinya bingung
berlutut di dekat tubuh bibi gurunya yang terluka, kini meloncat ketika melihat
seorang wanita cantik baju hijau melarikan Suling Emas yang masih pingsan.
“Bodoh!
Kubawa dia ke pondok Kim-sim Yok-ong agar diobati!” wanita itu membentak Bu Sin
sambil terus lari.
Bu Sin yang
mengejarnya sebentar saja kehilangan bayangan wanita itu yang bukan lain adalah
Tan Lian, gadis yang memiliki ginkang luar biasa itu dan yang tentu saja tak
dapat dikejar oleh Bu Sin. Karena mengkhawatirkan keadaan bibi gurunya dan
kedua orang adiknya, apa lagi karena mendengar bahwa wanita tadi hendak
mengobatkan Suling Emas, terpaksa Bu Sin kembali ke tempat pertandingan.
Memang harus
diakui bahwa di luar kesadaran, bahkan diluar kehendak mereka atau tidak
disengaja, baik Lin Lin mau pun Sian Eng telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat
luar biasa, yang secara mukjijat telah mendatangkan tenaga sinkang yang amat
kuat. Namun ilmu itu baru saja mereka dapatkan dan belum mereka latih
masak-masak. Kini mereka menghadapi tokoh-tokoh seperti dua orang kakek sakti
yang aneh itu, sudah tentu saja bukan lawan mereka. Tadi pun ketika menghadapi
Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong, mereka dapat dan kuat menangkis hanya karena
kedua orang iblis itu sudah menderita luka dan kehabisan tenaga. Kalau dua
orang iblis itu dalam keadaan sehat dan segar, tentu saja Lin Lin dan Sian Eng
takkan mampu menandingi mereka.

Sepasang
kakek yang aneh itu, Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, juga hanya sebentar
saja merasa heran dan kaget, akan tetapi setelah menghadapi Lin Lin dan Sian
Eng, maklumlah orang-orang sakti ini bahwa dua orang gadis itu sungguh pun
mewarisi ilmu mukjijat, namun ternyata masih ‘mentah’. Segera terdengar mereka
tertawa-tawa. Begitu kedua orang kakek ini menggerakkan kedua tangan mereka,
tubuh Lin Lin dan Sian Eng ‘tersedot’ dan ‘hanyut’ dalam arus hawa pukulan yang
berputaran seperti angin puyuh! Lin Lin dan Sian Eng berusaha mempertahankan
diri, namun sia-sia, mereka terputar-putar seperti kitiran angin oleh dua orang
kakek sakti.
Bu Sin
bingung sekali. Bibi gurunya masih pingsan dengan muka pucat. Melihat kedua
orang adiknya terputar-putar seperti itu, hatinya ingin menolong, akan tetapi
ia pun maklum bahwa tenaga dan kepandaiannya jauh dari yang diharapkan untuk
bisa menolong adik-adiknya. Betapa pun juga, pemuda ini sudah siap menerjang
kedua orang kakek itu. Dengan gerakan nekat ia meloncat dan membentak.
“Dua orang
kakek siluman, lepaskan adik-adikku!” Akan tetapi begitu meloncat, segera ia
terbanting roboh ke belakang dekat bibi gurunya, terdorong oleh sebuah tenaga
ajaib yang datang tiba-tiba.
Tahu-tahu di
situ sudah berdiri seorang kakek lain, kakek tua yang berjenggot panjang, yang
berdiri tersenyum memandang kepadanya, akan tetapi yang cukup membuat Bu Sin
terhenyak kaget ketika mengenal kakek itu sebagai kakek sakti yang pernah
menolongnya dan melatihnya di bawah pancuran air.
“Mereka
bukan lawanmu,” terdengar kakek itu berkata lirih.
“Locianpwe,
tolonglah adik-adikku....”
Akan tetapi
kakek itu yang bukan lain adalah Bu Kek Siansu, sudah melangkah maju dan
berkata, suaranya lirih namun suara ini menembus seluruh udara, mendatangkan
gema yang nyaring berpengaruh.
“Sayang...
puluhan tahun bertapa ternyata tak mampu mengendalikan nafsu!” Ia mengangkat
kedua lengannya, digerakkan perlahan ke depan dan... dua orang gadis itu
seakan-akan tertarik dan bebas dari pada pusaran hawa pukulan kedua kakek,
terhuyung-huyung dan roboh dengan kepala pening namun tidak menderita sedikit
pun juga.
Si kakek
merah dan si kakek putih terdesak mundur oleh hawa halus yang keluar dari
gerakan tangan Bu Kek Siansu sehingga kuda-kuda mereka terbongkar. Mereka kaget
sekali, memandang Bu Kek Siansu dengan penasaran.
“Siapa
kau?!” hardik Lam-kek Sian-ong si muka merah.
“Berani kau
menentang kami?!” Pak-kek Sian-ong juga membentak.
“Damai di
bumi...,” Bu Kek Siansu berbisik lirih, lalu menarik napas panjang dan balas
memandang dengan wajah berseri dan mulut tersenyum. “Pak-kek Sian-ong, siapa
adanya aku bukanlah soal yang perlu diributkan karena aku tiada bedanya dengan
kalian berdua atau orang lain. Aku manusia biasa, tiada bedanya dengan kalian.
Hanya sayang kalian....”
“Kau
mengenal nama kami?” seru Pak-kek Sian-ong terheran-heran karena puluhan tahun
mereka berdua merupakan tokoh tersembunyi dan tak seorang pun tokoh kang-ouw
mengenal mereka, apa lagi yang baru-baru.
“Kau
siapa?!” bentak Lam-kek Sian-ong. “Kau yang berani menentang kami, apakah kau
begitu pengecut untuk menyembunyikan nama?”
Bu Kek
Siansu tersenyum, “Aku sama sekali tidak menentang kalian.”
“Kau bilang
tidak menentang akan tetapi kau turun tangan terhadap kami dan menolong dua
orang bocah itu!”
“Aku memang
turun tangan,” jawab kakek sakti itu dengan penuh kesabaran, “akan tetapi sama
sekali dasarnya bukan untuk menentang kalian!”
“Lalu, apa
dasarnya?”
“Pertama,
karena aku sayang kepada kalian, sayang akan jerih payah kalian bertapa sampai
puluhan tahun dan kini tak dapat mengendalikan nafsu hendak membunuh dua orang
anak perempuan ini. Kedua, aku merasa sayang, kalau bocah-bocah yang masih muda
remaja, yang atas kehendak Thian telah mewarisi ilmu-ilmu tinggi, yang masih
akan melanjutkan riwayat hidupnya dan meramaikan dunia ini dengan
perbuatan-perbuatan mereka, kalian habiskan riwayatnya sampai di sini saja.
Pula, memang agaknya sudah menjadi kehendak Thian bahwa dua orang anak ini
tidak semestinya tewas pada saat ini, maka kebetulan sekali aku lewat....”
“Manusia
sombong!” bentak si muka merah.
“Betulkah
mereka takkan tewas setelah kau datang? Heh, manusia besar mulut, kalau
sekarang kami turun tangan membunuh mereka, kau bisa berbuat apa?”
Bu Kek
Siansu menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang, akan tetapi wajahnya
tetap tenang, sabar, dan ramah. “Penentuan mati hidup berada sepenuhnya di
tangan Yang Menghidupkan! Hanya manusia yang buta hati saja yang tidak melihat
kenyataan mutlak ini. Membunuh? Terbunuh? Tak seorang pun mampu menentukan
hal-hal rahasia ini. Kalau Tuhan menghendaki seseorang meninggalkan raganya,
biar pun seribu dewa takkan mampu menunda atau membatalkannya. Sebaliknya kalau
Tuhan menghendaki seseorang tetap hidup di dunia, biar pun seribu setan takkan
mampu menewaskan orang itu. Hanya orang-orang sesat saja yang mengira bahwa
dia, dengan kekuasaannya, dengan kekuatannya, dapat menentukan mati hidup orang
lain, berlawanan dengan kehendak Tuhan, karena dengan perkiraannya itu, berarti
dia hendak menentang kekuasaan Tuhan!”
“Tua bangka
besar mulut! Apakah kau anggap kami ini anak-anak kecil dan kau seorang pendeta
yang hendak memberi wejangan tentang kebatinan? Huh, lamunan kosong belaka
semua kata-katamu itu. Yang Maha Kuasa, Thian, hanya menuruti kehendak yang
menang, yang berkuasa dan kuat. Mau bukti? Sekarang juga kami sanggup membunuh
dua orang gadis itu, juga kau sendiri!” bentak si muka merah yang agaknya lebih
berangasan dari pada si muka putih yang mendengarkan dan mengangguk-angguk
membenarkan.
“Damai...
damai....” Kakek itu bersabda, lirih seperti orang berbisik. Kemudian ia
memandang tajam dan dengan wajah masih berseri ia berkata lagi.
“Alangkah
kosong rasa hati mendengarkan ucapan, Saudara. Dan hebatnya, apa yang kau
katakan itu justru menjadi anggapan sebagian besar manusia, dan tak dapat
dibantah lagi, perkembangan di dunia memang sejalan dengan pikiranmu itu.
Anugerah paling suci yang diberikan kepada manusia, yaitu akal budi, yang dapat
membuat manusia mengungkap segala rahasia alam, yang membuat manusia merupakan
makhluk yang terpandai, ternyata oleh manusia sendiri disalahgunakan. Anugerah
ini malah dipergunakan untuk menentang Sang Pemberi. Makin pandai manusia,
makin gila dia. Makin pandai manusia, makin kacau dunia. Semua ini adalah
akibat dari pada jalan pikiran yang telah kau ucapkan tadi. Wewenang dipakai
mencari menang. Kekuasaan menjadi alat penindas. Kepandaian dipergunakan
sebagai alat pemuas nafsu. Ya Tuhan, turunkanlah kiranya kekuasaanmu untuk
menyapu bersih segala kotoran yang menutup dan menyuramkan api suci dalam jiwa
manusia....”
“Tua bangka.
Pendeta kepalang tanggung, tosu bukan hwesio bukan. Mau apa kau banyak mulut?”
Lam-kek Sian-ong.
“Eh,
sahabat, kami berdua sengaja turun dari pertapaan untuk mencari tanding di
seluruh permukaan bumi!” kata Pak-kek Sian-ong.
“Hemmm,
menandingi diri sendiri saja masih belum mampu, menandingi orang lain?
Saudaraku yang baik, kau kalahkan dulu dirimu sendiri dan kau akan menaklukkan
dunia,” jawab Bu Kek Siansu.
“Kami akan
bunuh dua orang gadis ini. Lihat, kau dapat berbuat apa?” Lam-kek Sian-ong
membentak dan diturut oleh Pak-kek Sian-ong, dia sudah bergerak maju.
Lin Lin dan
Sian Eng yang sejak tadi mendengarkan dengan heran, kini bersiap untuk menjaga
diri. Akan tetapi Bu Kek Siansu mengangkat tangan kanannya ke atas dan entah
bagaimana, isyaratnya ini agaknya mempunyai pengaruh untuk menyetop kedua orang
kakek jagoan itu untuk sementara.
“Mengapa
kalian begini bernafsu untuk memukul orang? Dari pada memukul anak-anak, kalian
boleh memukul aku dan aku takkan melawan.”
“Sombong!
Kau tahu bahwa Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong semenjak turun dari
pertapaan tak pernah menemui tanding? Tua bangka, jangan kau sombong, sekali
pukul kami mampu membikin tubuhmu separuh hangus separuh beku!” teriak si muka
merah yang merasa dipandang rendah.
“Biarlah
kalau Thian menghendaki demikian. Aku hanya ingin mewakili dua orang anak itu
dari pukulan-pukulanmu.”
“Ang-bin-siauwte,
mengapa banyak bicara melayani kakek gila ini? Mari kita pukul dia, hendak
kulihat bagaimana macam mayatnya nanti,” kata Pak-kek Sianong.
Keduanya
lalu melangkah maju setindak dan dengan gerakan berbareng mereka memukul dengan
pukulan jarak jauh. Biar pun tidak mengeluarkan suara apa-apa, namun dari
tangan kedua orang kakek itu dengan jelas sekali tampak menyambar dua macam
cahaya putih dan merah. Yang merah mendatangkan hawa panas sekali sedangkan
yang putih mendatangkan hawa dingin. Dua cahaya itu bagaikan dua gulung asap
menyambar ke arah tubuh Bu Kek Siansu dan... tidak terjadi apa-apa!
Tubuh tua
itu masih tetap berdiri di situ, wajahnya tetap berseri, matanya membayangkan
keterangan, kesabaran dan cinta kasih terhadap sesama hidup, sedikit pun tidak
ada tanda-tanda bahwa Bu Kek Siansu merasakan pukulan jarak jauh yang dahsyat
itu. Dua orang kakek muka merah dan muka putih, tetap berdiri sambil
menggerak-gerakkan kedua tangan, agaknya mengerahkan tenaga dan memperkuat daya
pukulannya.
Namun Bu Kek
Siansu tidak mempedulikan mereka, bahkan ia menghampiri Kui Lan Nikouw yang
masih rebah pingsan. Pada saat gulungan cahaya kemerahan dan keputihan
menyambar punggungnya, Bu Kek Siansu menggerakkan kedua tangannya ke arah tubuh
Kui Lan Nikouw dan pendeta wanita itu mengeluh, bergerak, lalu bangkit duduk!
Kiranya Kui
Lan Nikouw yang pingsan karena sambaran hawa pukulan kedua orang kakek sakti
ketika ia menyelamatkan Bu Sin, sekarang oleh Bu Kek Siansu diobati dengan hawa
pukulan yang sama, yaitu kakek sakti ini ‘memindahkan’ hawa pukulan dua orang
kakek aneh itu ke tubuh Kui Lan Nikouw dan karenanya pendeta wanita ini segera
sembuh kembali. Setelah menyembuhkan Kui Lan Nikouw, Bu Kek Siansu lalu bangkit
berdiri dan menghadapi dua orang kakek aneh itu kembali.
“Cukupkah
kalian memukul? Belum puaskah nafsumu?”
Pak-kek
Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong saling pandang dengan mata terbelalak. Apakah
ilmu mereka mendadak melempem seperti kayu bakar terendam air? Mereka merasa
yakin bahwa pukulan mereka mengandung tenaga sepenuhnya, hal ini terasa benar.
Akan tetapi mengapa kakek yang punggungnya membawa alat yang-khim ini seperti
tidak merasakan sesuatu.
“Belum,
belum cukup!” Pak-kek Sian-ong membentak.
“Rasakan
ini!” Lak-kek Sian-ong menyambung.
Mereka lalu
serentak maju dan kini mereka menyerang Bu Kek Siansu. Pukulan mereka ini hebat
sekali. Batu hawa pukulannya saja mampu merobohkan lawan, bahkan Suling Emas
sendiri, seorang pendekar sakti, tadi juga digencet oleh hawa pukulan mereka.
Apa lagi kalau pukulan itu langsung mengenai kulit lawan, dapat dibayangkan
bahayanya!
Akan tetapi,
tepat seperti yang dikatakannya tadi, Bu Kek Siansu sama sekali tidak melawan,
tidak menangkis mau pun mengelak. Ia berdiri tenang dan tegak, memandang dengan
sinar mata orang tua yang menghadapi kenakalan kanak-kanak.
“Buk-buk-plak!”
beberapa kali secara bertubi-tubi telapak tangan kedua orang kakek aneh itu
mengenai tubuh Bu Kek Siansu.
Namun
seperti juga tadi, Bu Kek Siansu sama sekali tidak bergeming. Bahkan kedua
orang kakek itu yang menjadi pucat dan mundur-mundur dengan jeri karena ketika
menampar dan mendorong tadi, mereka merasa bahwa tubuh kakek sakti itu ‘kosong’
sehingga pukulan-pukulan mereka seperti batu-batu berat yang tenggelam ke dalam
laut dan tidak meninggalkan bekas.
“Mengapa
kalian mundur? Sudah puaskah sekarang kalian memukulku? Kalau belum puas, boleh
ditambah lagi kelak dengan mencari aku di puncak-puncak gunung. Cari saja di
mana adanya Bu Kek Siansu....” Tiba-tiba kakek sakti ini lenyap dari depan dua
orang kakek aneh yang tiba-tiba terbelalak matanya ketika mendengar nama Bu Kek
Siansu itu, dan biar pun sudah lenyap bayangannya, namun masih terdengar suara
kakek sakti itu melanjutkan kata-katanya. “Bahagialah orang yang sadar akan
kekurangan, kelemahan dan kebodohan sendiri....”
Pak-kek
Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong sejenak tertegun seperti patung, kemudian mereka
mengeluh panjang dan sekali berkelebat mereka lenyap dari tempat itu.
“Omitohud...
pinni (aku) merasa bahagia sekali mendapat kesempatan untuk bertemu kakek sakti
Bu Kek Siansu dan mendengar suaranya...,” Kui Lan Nikouw merangkap sepuluh jari
di depan dada dan memuji-muji sebentar, kemudian ia membuka mata memandangi
ketiga orang keponakannya sambil berkata. “Dan amat menggirangkan hatiku
bertemu dengan Sian Eng dan Lin Lin pula di sini. Hal yang tak terduga-duga
sama sekali. Akan tetapi di manakah adanya Bu Song? Benarkah dia tadi Bu Song?”
Agaknya
saking tertarik oleh peristiwa munculnya kakek sakti Bu Kek Siansu tadi, Lin
Lin dan Sian Eng juga begitu terpesona sehingga mereka seakan-akan melupakan
Suling Emas. Baru sekarang mereka kelihatan kaget setelah menoleh dan
mencari-cari dengan pandang matanya. Lebih-lebih Lin Lin yang menjadi bingung
sekali. Bu Song? Kakak tirinya yang sulung? Mengapa bibi guru ini
menyebut-nyebut nama Bu Song?
Tiba-tiba
muncul banyak orang dari balik gerombolan pepohonan, yaitu tokoh kang-ouw yang
sengaja datang hendak menonton pertandingan puncak antara tokoh-tokoh Thian-te
Liok-koai dan bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang tewas. Dari dalam
gelap berkelebat bayangan orang mendekati Lin Lin sambil berkata.
“Suling Emas
diculik seorang wanita baju hijau, kulihat lari ke arah sana!”
Mendengar
ini, bagaikan kilat menyambar cepatnya, Lin Lin berkelebat mengejar ke arah
itu. Hatinya panas bukan main. Bukankah wanita baju hijau itu wanita yang
dipukulnya di tanah kuburan, yang kemudian dibawa pergi oleh Suling Emas? Dia
tadi mati-matian membantu dan membela Suling Emas, akan tetapi wanita siluman
itu malah yang sekarang menggondol kekasihnya!
“Tunggu,
Lin-moi...! Aku tahu...,” akan tetapi Lin Lin sudah tak mendengarnya karena
sudah lari terbang cepat sekali.
Sian Eng
yang kini berada dalam keadaan ‘normal’ memegang tangan kakaknya dan bertanya,
“Apa yang kau ketahui, Sin-ko?”
“Tadi ada
wanita baju hijau memondong Bu Song Koko. Ketika kukejar, dia bilang hendak
menolong Koko, membawanya kepada Kim-sim Yok-ong untuk diobati.”
“Ah, mari
kita kejar...!” dan tiba-tiba saja Bu Sin merasa tangannya dipegang adiknya dan
di lain detik tubuhnya telah terseret seperti terbang cepatnya, mengagetkan dan
mengherankan hati Bu Sin yang benar-benar tidak mengerti bagaimana adiknya ini
sekarang memiliki tenaga dan ginkang begini hebat.
Seperti
mereka, para tokoh kang-ouw yang tadinya menjadi ‘penonton’ kini mengelilingi
Kui Lan Nikouw dan ramai membicarakan dan memuji-muji Lin Lin dan Sian Eng yang
demikian berani dan gagah. Juga mereka tiada habisnya membicarakan Bu Kek
Siansu yang selama hidup mereka baru sekali itu mereka lihat dan buktikan
kesaktiannya yang tak dapat diukur lagi tingkatnya.
Ketika
mereka membicarakan Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, timbul kekhawatiran
besar di hati para tokoh ini. Mereka maklum kalau Suling Emas saja tidak mampu
mengalahkan mereka berdua, siapa lagi yang akan dapat menahan mereka kalau
mereka mengacau di dunia kang-ouw? Satu-satunya manusia yang dapat menghadapi
mereka kiranya hanya Bu Kek Siansu, akan tetapi kakek sakti ini bukan manusia
biasa dan tadi pun tidak mau menurunkan tangan keras terhadap kedua kakek iblis
itu.
“Harap Cu-wi
jangan khawatir akan hal itu,” akhirnya Kui Lan Nikouw berkata dengan suaranya
yang halus dan tenang, “Betapa pun tingginya uap air terbang ke angkasa,
akhirnya akan runtuh kembali ke bumi menjadi hujan. Betapa pun pandai dan
jahatnya manusia menyeleweng dari pada kebenaran, akhirnya ia pun akan runtuh
dan pasti ada yang mengalahkannya. Kita serahkan saja kepada Yang Maha Kuasa.
Maafkan, Cu-wi sekalian, pinni tidak dapat melayani Cu-wi (Anda sekalian) lebih
lama bercakap-cakap karena pinni harus menyusul dan mencari keponakan-keponakan
pinni tadi.” Kui Lan Nikouw lalu menjura dengan hormat dan meninggalkan
orang-orang yang masih ramai membicarakan peristiwa hebat tadi sampai pagi
hari.
***************
“Nona,
lepaskan aku....”
Tan Lian
kaget dan juga girang. Ia tadinya lari memondong tubuh Suling Emas yang
pingsan. Mendengar kata-kata ini, ia segera menurunkan Suling Emas dengan
hati-hati di atas rumput. Kemudian ia sendiri berlutut dam memegangi lengan
pendekar itu.
“Kau tidak
apa-apa? Ah syukur kepada Tuhan. Aku... aku tadi khawatir sekali... kalau...
kalau kau mati... aku pun tidak mau hidup lagi...” Gadis ini lalu
menelungkupkan mukanya di atas dada Suling Emas sambil menangis!
Suling Emas
dengan gerakan halus mendorong pundak gadis itu, lalu ia bangkit duduk, malah
terus berdiri.
“Nona Tan,
harap kau suka sadar dan ingat! Insyaflah bahwa kau terseret oleh nafsu
perasaan yang tidak benar. Ah, mengapa kau selemah ini?”
Tan Lian
kaget, seakan-akan disiram air dingin kepalanya. Ia pun meloncat berdiri dan
menghadapi Suling Emas. Untung sinar bulan agak kemerahan sehingga
menyembunyikan warna merah pada sepasang pipinya. “Apa... apa maksudmu?”
Suling Emas
menarik napas panjang. Berat rasa hati dan lidahnya untuk bicara, akan tetapi
ia maklum bahwa betapa pun juga akibatnya, ia harus bicara secara terus terang
kepada nona ini. Pura-pura tidak tahu hanya akan menambah berat penanggungan
batin nona yang patut dikasihani itu.
“Nona,”
suaranya perlahan dan agak tersendat, “terus terang saja, aku telah tahu akan
semua isi hatimu yang kau curahkan di depan Kim-sim Yok-ong. Aku tahu akan
semua persoalanmu dan tahu pula akan niat hatimu. Aku merasa terhormat sekali, Nona,
dengan maksudmu untuk... untuk mengubah ikatan permusuhan orang tua kita dengan
ikatan... ikatan jodoh antara kita. Akan tetapi hal itu tidak mungkin, Nona.
Bukan sekali-kali karena aku tidak menghargai perasaan hatimu, akan tetapi...
aku... aku tidak dapat menerima itu dan... dan hendaknya kau ingat pula akan
tunanganmu! Mana mungkin kita akan demikian tidak mengenal aturan sehingga
mementingkan kesenangan diri sendiri dengan mengesampingkan perasaan orang lain
yang terluka? Nona, kau kembalilah kepada tunanganmu, dan antara kita...
biarlah kita tetap menjadi sahabat atau saudara. Kita lenyapkan permusuhan
antara orang tua kita dengan kesadaran, bukan dengan... dengan ikatan
jodoh....”
Selama
bicara, Suling Emas tidak berani menentang muka nona itu. Dan memang hebat
akibat kata-kata ini yang tiap kata merupakan ujung pisau beracun yang menikam
jantung Tan Lian. Dengan muka pucat dan tubuh gemetar nona itu beberapa kali
membuka mulutnya tanpa ada suara yang keluar. Akhirnya ia dapat memaksa
mulutnya bertanya.
“Kau... kau
menolakku...?” Tidak ada tikaman yang lebih hebat dan parah akibatnya bagi
seorang gadis dari pada tikaman berupa penolakan cinta kasih oleh seorang
pemuda!
“Bukan
begitu, Nona. Aku menolak karena tidak mungkin melaksanakan maksud hatimu itu.
Aku... aku tidak mempunyai niat untuk berumah tangga, di samping itu, kita
harus ingat kepada tunanganmu....”
“Cukup...!
Kau... kau dua kali menghancurkan hatiku, membasmi harapanku...! Ahhh...!”
Gadis itu lalu lari sejadi-jadinya sehingga tidak melihat adanya sebatang pohon
yang ditabraknya begitu saja. Ia roboh terguling, merangkak bangun dan lari
lagi sambil menangis.
Seluruh urat
syaraf di tubuh Suling Emas bergerak mendorongnya hendak mengejar dan
menghibur, namun ia mengeraskan hati. Lebih baik begini, pikirnya. Lebih baik
dia membenciku dari pada aku harus memberi harapan yang kelak akan lebih
menghancurkan hatinya. Biarlah ia pergi dengan marah, karena hanya jalan inilah
yang akan mengurangi kepatahan hati gadis itu agaknya. Biarlah dia membenciku,
pikirnya. Akan tetapi segera terasa dadanya sesak dan cepat-cepat ia
mengerahkan tenaga untuk menahan rasa nyeri yang menyesak dada, kemudian ia
lalu berlari cepat menuju ke pondok Kim-sim Yok-ong.
“Wah, kau
terluka berat...!” seru Kim-sim Yok-ong dan begitu Suling Emas merebahkan
dirinya di atas bangku panjang, tabib sakti itu cepat-cepat membuka baju atas
pendekar itu dan memeriksanya.
“Aiiihhh!
Dua orang kakek iblis itu lagi-lagi yang menurunkan tangan kejamnya!” serunya
kaget. “Dua macam tenaga Im dan Yang menyerangmu. Hebat... ganas! Baiknya
tenaga sinkang dalam tubuhmu cukup kuat, Kim-siauw-eng. Mudah-mudahan aku akan
berhasil menolongmu. Tunggulah sebentar, aku membakar jarum-jarumku.”
Suling Emas
telentang dan mengatur napasnya. Dadanya makin sesak dan ia harus mengakui
kehebatan bekas tangan kedua orang lawannya. Ia menjadi penasaran sekali,
karena ia diam-diam merasa bahwa andai kata ia tidak terpengaruh oleh racun
jahat Siang-mou Sin-ni, kiranya belum tentu ia akan terluka oleh pukulan jarak
jauh Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong. Rasa sesalnya ini merugikannya,
karena dadanya makin sesak dan untuk kedua kalinya Suling Emas roboh pingsan
setelah mengeluh panjang.
Kim-sim
Yok-ong mendengar keluhan dan menengok. Ia cepat menghampiri dan memeriksa,
mencium pernapasan Suling Emas, lalu menggeleng-geleng kepalanya, “Luar biasa
sekali. Sepantasnya ini hasil kerja Siang-mou Sin-ni, racun darah yang luar
biasa jahatnya. Hemmm, pendekar yang begini gagah tak boleh mati sebelum
iblis-iblis berupa manusia itu lenyap dari muka bumi.”
Ia kembali
kepada jarum-jarumnya. Dengan tekun tabib sakti itu membuat persiapan-persiapan
dengan jarumnya dan sementara itu, malam sudah berganti pagi. Matahari mulai
menyinar, menerobos masuk melalui jendela ruangan yang dibukanya lebar-lebar.
Mendadak
berkelebat sesosok bayangan orang dan Lin Lin sudah memasuki pondok itu. Begitu
melihat Suling Emas telentang di atas bangku panjang dengan muka pucat dan mata
meram, ia loncat mendekat. Kemudian ia melihat kakek yang sedang membakar
jarum, dan melihat banyak bahan-bahan obat di situ. Seketika harapannya timbul
dan ia segera menegur.
“Kakek yang
baik, bagaimana dengan dia...? Ah, tolonglah dia, Kek... kau sembuhkan dia dan
aku akan berlutut seribu kali kepadamu...”
Sepasang
mata Kim-sim Yok-ong bersinar-sinar. “Nona cilik, tanpa kau minta aku pun
memang sedang berusaha mengobatinya. Upah berupa penghormatanmu sampai seribu
kali itu terlalu melelahkan. Aku tidak pernah minta upah untuk usahaku
mengobati orang.” Setelah berkata demikian, Kim-sim Yok-ong melanjutkan
pekerjaannya membakari jarum.
Lin Lin
dapat menduga bahwa kakek itu tentulah seorang tabib pandai, akan tetapi ia
diam-diam merasa curiga. Tadi ia mendengar dari seorang di antara penonton
pertandingan bahwa Suling Emas dibawa lari seorang gadis berbaju hijau, akan
tetapi mengapa sekarang ia temukan di dalam pondok ini dalam keadaan pingsan?
Kemana perginya gadis baju hijau? Siapa tahu, kakek ini masih ada hubungannya
dengan gadis baju hijau itu.
Berpikir
begini, Lin Lin segera memasuki ruangan dan kamar lain, mencari-cari dan
melakukan pemeriksaan! Hatinya lega ketika mendapatkan kenyataan bahwa pondok
itu memang tidak menyembunyikan si nona baju hijau. Ketika ia kembali ke
ruangan pengobatan, kakek itu masih sibuk dengan jarum-jarumnya sedangkan wajah
Suling Emas dalam pandangan Lin Lin makin pucat saja! Mulai bingunglah Lin Lin.
“Kek,
lekaslah, Kek... mengapa kau berlambat-lambat benar? Jangan-jangan dia takkan
dapat kau tolong lagi. Lihat, dia begini pucat...!” Lin Lin meraba-raba muka
Suling Emas dengan jari-jari tangannya, meraba-raba dadanya dan ingin ia
menangis di atas dada itu.
Ketika
Kim-sim Yok-ong menengok dan menyaksikan keadaan Lin Lin demikian itu, ia
segera bertanya, “Nona, apamukah Suling Emas?”
“Bukan
apa-apa, akan tetapi kalau aku hidup dia harus hidup pula, sebaliknya kalau dia
mati aku pun tidak mau hidup lagi. Kek, kau harus tahu, kalau kau dapat
menyembuhkan dia, kau pun akan hidup, sebaliknya kalau dia mati, kau pun akan
ikut kami!”
Sejenak
sepasang mata kakek ini terbelalak, kemudian ia menggeleng-geleng kepalanya.
Wah, bocah ini memiliki sifat liar, pikirnya, akan tetapi tak dapat disangsikan
lagi, dia mencinta Suling Emas. Teringat ia akan Tan Lian yang juga mencinta
pendekar itu. Kembali Yok-ong menghela napas. Sungguh ruwet liku-liku cinta
kasih dan diam-diam ia merasa kasihan kepada Suling Emas. Dicinta dara-dara
‘nekat’ macam Tan Lian dan apa lagi Lin Lin, benar-benar berabe!
Setelah
selesai membakari jarum-jarumnya, Kim-sim Yok-ong lalu berjalan menghampiri
Suling Emas dan mulailah ia menusuk-nusukkan jarum-jarum emas dan peraknya ke
dada, leher, pundak dan bagian pusar. Lin Lin hanya menonton dari pinggir
dengan hati penuh ketegangan, pandang matanya tak pernah meninggalkan wajah Suling
Emas yang masih pucat. Akan tetapi, sepuluh menit kemudian terdengar pendekar
ini mengeluh panjang dan wajahnya mulai merah. Diam-diam Lin Lin girang bukan
main.
Pada saat
itu terdengar suara di luar pondok, “Ah, di sini agaknya!”
Ketika Lin
Lin menengok, makin girang hatinya karena yang datang adalah Sian Eng bersama
Bu Sin. Dua orang ini tersenyum girang dan hendak menegurnya dengan kata-kata.
Akan tetapi Lin Lin cepat menaruh telunjuk di depan mulut, mencegah mereka
mengeluarkan suara berisik. Bu Sin dan Sian Eng ketika melihat tanda ini dan
melihat seorang kakek sedang mengobati Suling Emas dengan tusukan-tusukan
jarum, segera melangkah maju dengan hati-hati dan tidak mengeluarkan suara.
Tiga orang
muda itu segera berdiri mengelilingi Suling Emas yang terlentang di atas meja,
sedangkan Kim-sim Yok-ong membungkuk dan mulai mencabuti jarum-jarumnya. Setiap
kali jarum dicabut, Suling Emas mengeluh dan setelah jarum terakhir di lehernya
dicabut, mulailah ia membuka kedua matanya. Ia mula-mula memandang wajah
Kim-sim Yok-ong, lalu memandang Lin Lin, kemudian Sian Eng dan Bu Sin. Ia
mengejap-ngejapkan kedua matanya sejenak, lalu mengeluh lagi, “Kepalaku... ah,
pusing....”
“Bagus, itu
tandanya dua hawa pukulan yang bertentangan itu sudah mulai bergerak ke luar.
Lekas kau menelungkup. Bagian belakang tubuhmu mendapat giliran ditusuk!” kata
Kim-sim Yok-ong dengan wajah berseri.
Tanpa
diperintah dua kali Suling Emas segera menelungkup di atas bangku itu,
dikelilingi adik-adiknya dan si tabib sakti yang memegang jarum dengan jepitan
telunjuk dan ibu jari tangan kiri, siap menusukkan ke jalan darah tertentu.
Sian Eng
yang keadaannya normal kembali tiba-tiba teringat akan pelajaran yang ia baca
di dalam goa di bawah tanah. Tiba-tiba ia berseri-seri, sepasang matanya
bersinar-sinar dan tangannya diangkat ke atas. Jari-jarinya bergerak-gerak lalu
meluncur ke atas punggung Suling Emas, menotoknya secara aneh sampai tiga kali
beruntun, mendahului jarum di tangan Kim-sim Yok-ong! Totokan aneh itu dengan
jitu mengenai pusat jalan darah di tengkuk, punggung dan pinggang.
“Auuuhhhhh...!”
Suling Emas mengeluh dan membalikkan kepala menoleh.
“Hebat...!
Luar biasa...!” Kim-sim Yok-ong berseru.
“Enci Sian
Eng...!” Lin Lin berseru, terkejut dan marah.
“Eng-moi,
apa yang kau lakukan...?!” Bu Sin juga membentak.
Akan tetapi
secara tiba-tiba keadaan Sian Eng sudah berubah. Kini ia menoleh ke arah
jendela yang terbuka, matanya liar, mukanya merah padam dan mendadak ia
mengeluarkan lengking aneh sekali yang seolah-olah menggetarkan seisi ruangan
itu, disusul tubuhnya yang berkelebat melayang ke luar jendela.
“Enci
Eng...!” Lin Lin loncat mengejar.
“Sian
Eng..., tunggu...!” Bu Sin juga mengejar.
Sementara
itu Kim-sim Yok-ong berdiri terbelalak keheranan melihat Suling Emas sudah
dapat meloncat turun dan hendak mengejar pula. Akan tetapi Suling Emas ingat
bahwa ia berada dalam keadaan setengah telanjang, maka ia tidak jadi lari
mengejar, melainkan cepat-cepat ia menyambar baju dan memakainya.
“Hebat,
gadis itu... ia memiliki tenaga dan ilmu mukjijat! Im-yang Tiam-hoat (Ilmu
Menotok Im Yang) seperti itu hanya dimiliki ketua Siauw-lim-si...,” kata si
tabib sakti itu.
“Dia adikku,
harus kukejar. Ada sesuatu yang tidak wajar terjadi...,” kata Suling Emas dan
ia pun melompat ke luar jendela. Akan tetapi ia mengeluh dan melompat masuk
lagi, lalu duduk bersila mengerahkan sinkang. Ketika melompat tadi, dadanya
kembali sesak rasanya.
“Kau sudah
sembuh sama sekali oleh totokan Im-yang Tiat-hoat tadi, akan tetapi luka di
dalam dadamu belumlah sembuh benar. Tak boleh kau bergerak mengeluarkan tenaga
dalam sebelum istirahat dan minum obat,” kata Kim-sim Yok-ong.
Suling Emas
menarik napas panjang. Hebat memang akibat pukulan dua orang kakek itu. Ia
sudah sembuh, akan tetapi sekali mengeluarkan tenaga sinkang atau lweekang,
lukanya akan terasa nyeri. Sedikitnya ia harus beristirahat dua hari sehingga
lukanya sembuh betul.
Sementara
itu, Lin Lin yang mengejar dengan cepat ternyata tidak dapat melihat bayangan
Sian Eng. Begitu cepatnya dan begitu anehnya gerakan Sian Eng sehingga dalam
sekejap mata saja lenyaplah enci-nya itu. Namun Lin Lin tetap mengejar dengan
hanya mengira-ngirakan arah yang dapat ditempuh enci-nya. Karena pengejaran
yang dilakukan secara kira-kira ini, maka jurusan yang diambil Lin Lin berbeda
dengan jurusan yang diambil oleh Bu Sin. Dalam mengejar saudara mereka itu
kedua orang muda ini berpencar.
Setelah
melalui dua buah hutan di lereng Thai-san tanpa menemukan jejak Sian Eng, Lin
Lin tiba-tiba teringat akan keadaan Suling Emas dan ia menghentikan
pengejarannya. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan diri Suling Emas. Sudah
sembuhkah dia? Ataukah totokan Sian Eng, yang aneh tadi malah membahayakan
keselamatan nyawanya?
Lin Lin
merasa khawatir sekali dan akhirnya ia berlari kembali menuju ke pondok Kim-sim
Yok-ong. Kiranya ia telah menghabiskan waktu beberapa jam dalam pengejaran itu
dan karena ia belum hafal akan daerah hutan-hutan gunung Thai-san ini, ia mulai
menjadi bingung ke mana ia harus mencari pondok Kim-sim Yok-ong! Lin Lin
mengingat-ingat jalan yang ditempuhnya tadi dan beberapa kali ia meloncat naik
ke puncak pohon tinggi untuk mencari-cari pondok si tabib sakti.
***************
“Locianpwe...
tolonglah...! Selamatkan dia!”
Suara
setengah menangis ini membangunkan Suling Emas dari semedhinya. Ia membuka mata
dan bangkit berdiri. Kim-sim Yok-ong sedang sibuk mencari daun-daun dan
akar-akar obat di sebelah belakang, maka agaknya tidak mendengar suara orang di
depan pondok itu. Suling Emas melangkah ke luar pintu pondok dan melihat
seorang pemuda kurus pucat berlutut di depan pintu pondok sambil menangis.
Karena memang Suling Emas mengintai dari tempat jauh ketika pemuda ini untuk
pertama kali datang ke pondok, maka ia mengenal bahwa pemuda ini adalah
tunangan Tan Lian, pelajar yang bernama Thio San itu.
“Apakah yang
terjadi? Ceritakan!” Suling Emas bertanya, di dalam hatinya ia merasa amat
tidak enak dan kasihan karena ia merasa dirinya menjadi ‘gara-gara’
kesengsaraan hati pemuda ini.
Thio San,
pemuda itu mengangkat muka dan ia agak bingung melihat seorang laki-laki gagah
yang tak dikenalnya. Ia mengharapkan pertolongan tabib sakti, bukan orang muda
ini.
“Jangan
ragu-ragu, sahabat. Aku tahu bahwa kau adalah tunangan Nona Tan Lian. Saudara
Thio San, apakah yang terjadi? Aku adalah sahabat baik tunanganmu itu.
Ceritakanlah apa yang terjadi, aku akan menolongmu.”
Pada saat
itu, Kim-sim Yok-ong berjalan mendatangi dari belakang. Melihat kakek itu
muncul, Thio San menangis lagi dan berkata, “Locianpwe, tolonglah dia! Dia...
dia hendak menjadi nikouw, hendak menggunting rambutnya, dan hendak bunuh diri!
Saya tidak kuasa menahannya...!”
Mendengar
ini, Suling Emas cepat menyambar tangan pemuda itu dan menariknya pergi.
“Cepat, antarkan aku kepadanya!”
Jantung
Suling Emas berdebar-debar tegang, dan ia merasa khawatir sekali. Sedikit pun
tak pernah ia menyangka bahwa hati Tan Lian akan sekeras itu, tak mengira bahwa
gadis itu akan menempuh jalan nekat. Tak berani ia berlari cepat. Sambil
berjalan setengah berlari biasa, pikiran Suling Emas membayangkan keadaan Tan
Lian.
Mula-mula
gadis itu bersumpah hendak membalaskan dendam ayahnya, kemudian gadis itu
kecewa karena tidak mampu mengalahkannya, bahkan lebih celaka lagi, gadis itu
jatuh cinta kepadanya. Kemudian, di depan makam ayahnya, Tan Lian bersumpah
hendak memusuhi anak isteri Suling Emas, kemudian melihat kenyataan bahwa
Suling Emas tidak beristeri, lalu timbul kembali cinta kasihnya dan berhasrat
menghabiskan permusuhan dengan perjodohan. Akan tetapi kembali harapan ini
buyar ketika Suling Emas dengan terus terang menyatakan tak dapat menerimanya.
Ia dapat
membayangkan betapa hancur hati gadis itu, kecewa, menyesal, malu, merasa
terhina. Gadis yang tadinya merupakan seorang pendekar wanita, keturunan
pendekar besar mendiang Hui-kiam-eng Tan Hui, anak berbakti, kini telah
mengambil keputusan nekat untuk menjadi nikouw, bahkan hendak membunuh diri.
Dan semua ini dialah yang menjadi gara-garanya.
Kalau Tan
Lian berhasil membunuhnya, atau kalau dia mau menerimanya sebagai isterinya,
tentu takkan terjadi hal-hal ini. Akan tetapi itu bukanlah merupakan jalan
keluar yang baik. Apa lagi menerima gadis itu menjadi isterinya. Bukankah itu
berarti merebut hak orang lain? Dan dia pun tidak ada rasa kasih terhadap Tan
Lian! Sayang, seorang gadis yang baik, seorang anak yang berbakti!
Berbakti!
Kata-kata ini mendatangkan ilham bagi Suling Emas. Inilah agaknya senjata yang
dapat ia pergunakan untuk memecahkan persoalan Tan Lian ini.
“Mari cepat,
di mana dia?”
“Di depan
itu, di balik gunung-gunungan batu, di tepi jurang!” kata Thio San, suaranya
gemetar penuh kegelisahan.
“Dia ini
calon suami yang amat baik,” pikir Suling Emas. Dengan hati penuh cinta kasih
murni, pemuda ini akan dapat mendatangkan bahagia di hati Tan Lian.
Benar saja,
ketika mereka memutari gunung-gunungan batu, tampaklah Tan Lian duduk menangis,
berlindung dari teriknya matahari di bawah batu yang menonjol, jurang curam
yang luas terbentang tak jauh di depan.
“Lian-moi...!”
Thio San berseru dengan isak tertahan.
Tan Lian
mengangkat mukanya dan ia meloncat karena kaget melihat Suling Emas datang
bersama tunangannya. Ada pun Suling Emas berdiri seperti patung, hatinya serasa
tertusuk melihat gadis itu. Muka gadis itu pucat sekali, kedua pipinya basah
air mata, matanya kemerahan dan kepalanya gundul plontos. Rambut yang tadinya
gemuk hitam dan panjang, yang ia lihat diurai ketika gadis itu bersumpah di
depan makam ayahnya, kini lenyap sama sekali. Wajah itu tetap cantik, dan
kegundulan kepalanya sama sekali tidak mengakibatkan lucu, melainkan
mendatangkan rasa iba.
“Kau... kau
bawa dia datang bersamamu? Kau... kalian terlalu menghinaku! Apa gunanya hidup
lagi?” Gadis itu lalu berlari cepat menuju ke tepi jurang, siap hendak
meloncat.
“He, tunggu
dulu, Nona! Dengar dulu omonganku...!” Suling Emas berlari maju dan Thio San
juga lari mengejar dengan kedua lengan dikembangkan, wajahnya makin pucat.
Di tepi
jurang Tan Lian menoleh, kedua tangannya sudah berkembang siap meloncat ke
dalam mulut maut yang ternganga lebar di bawah kakinya. “Jangan dekat! Aku akan
meloncat dan tak seorang pun dapat mencegahku. Mau bicara apa, boleh bicara,
tapi jangan mendekat!”
Dengan hati
tegang terpaksa Suling Emas menghentikan langkahnya. Ia maklum bahwa kalau ia
mendekat lagi, gadis nekat ini akan meloncat turun tanpa mendengarkan lagi kata-katanya.
Hatinya perih melihat titik-titik air mata menetes dan sepasang mata yang lebar
dan jeli itu memandang kepadanya penuh sesal.
“Nona Tan,
ingat dan sadarlah. Pikirlah masak-masak. Apa kau tidak kasihan kepada Saudara
Thio San, tunanganmu ini? Dia amat mencintamu, mencinta dengan murni, dengan
sepenuh jiwa raganya. Nona, dia bersedia melupakan segala-galanya, bersedia
menerimamu dan melanjutkan perjodohan kalian. Tak seorang pun laki-laki di
dunia ini yang dapat mencintamu seperti dia....”
Sepasang
mata itu terbelalak memandangnya. Bibir yang gemetar itu berkata lemah, “Dia...
dia...?”
Tertusuklah
hati Suling Emas oleh pandang mata dan kata-kata ini. Ia maklum apa artinya
itu. Pandang mata dan dua kata itu merangkai pertanyaan tak berbunyi, “Mengapa
dia dan dia saja, mengapa bukan engkau?”
“Sudahlah,
pergilah kalian. Atau... barangkali kalian ingin melihat aku terjun?” Kembali
Tan Lian siap untuk terjun ke depan.
“Lian-moi...!
Kalau kau bertekad hendak mati, biarlah aku menemanimu ke alam baka!” teriak
Thio San. Teriakan ini agaknya meragukan Tan Lian.
Melihat
bahwa tidak ada jalan lain untuk menghalangi maksud gadis keras hati itu,
tiba-tiba suling Emas berkata keras. “Nona Tan Lian, kau ternyata adalah
seorang anak yang paling murtad dan tidak berbakti di dunia ini! Arwah ayahmu
pasti akan merasa malu sekali!”
Cepat sekali
Tan Lian membalikkan tubuhnya. Matanya memandang penuh kemarahan kepada Suling
Emas. “Suling Emas! Tutup mulutmu! Kau sudah menghinaku, apakah kau juga hendak
menghina ayah? Tak boleh kau sebut-sebut nama ayah, dan aku... karena baktiku
kepada ayah maka sampai begini!”
Suling Emas
sengaja tersenyum mengejek. “Huh, orang seperti engkau ini masih mengaku
berbakti kepada ayah? Kau durhaka dan tidak berbakti. Orang seperti Saudara
Thio San ini, barulah bisa disebut setia dan berbakti. Ia berbakti dan
menjunjung tinggi perintah ayahnya untuk menjadi jodohmu dan ia setia kepadamu
sampai mati. Akan tetapi engkau? Huh, kau durhaka terhadap ayah, masih
pura-pura merasa diri berbakti? Memalukan!”
“Jahanam,
tutup mulutmu! Buktikan apa yang kau katakan tidak berbakti itu. Kalau kau
tidak dapat membuktikan, hemmm... aku akan mengadu nyawa denganmu!”
Suling Emas
tertawa memanaskan hati. “Kau sudah bersumpah membalaskan dendam ayahmu, tidak
terlaksana. Hal itu masih bisa dimengerti karena ibuku yang hendak kau balas
sudah meninggal dunia. Pula untuk membalas dendam itu kepadaku, memang kau
tidak mampu menangkan aku. Akan tetapi ayahmu telah memilih Thio San menjadi
jodohmu. Perintah ayahmu ini bukan tak dapat kau penuhi, karena Thio San masih
ada dan pemuda itu mencintamu. Mengapa kau mengingkarinya? Mengapa kau hendak
melanggar janji perjodohan yang ditentukan ayahmu? Bukankah dengan demikian
berarti kau menyeret ayahmu ke jurang kehinaan sebagai orang yang mengingkari
janji ikatan jodoh? Huh-huh, kukira kalau kau sekarang meloncat terjun ke dalam
jurang itu dan mampus, arwahmu akan disambut penuh kemarahan dan kebencian oleh
arwah ayahmu. Nah, kau loncatlah, biar kulihat!” Suling Emas berdiri tegak
sambil memangku tangan.
“Kurang
ajar!” Thio San berteriak sambil berlari menghampiri Suling Emas. Kemarahannya
membuat wajah pemuda ini merah padam, “Kau kurang ajar sekali berani
mengeluarkan kata-kata menghina seperti itu kepada Lian-moi. Biar pun kau
seorang pendekar yang pandai ilmu silat, biarlah aku yang mengadu nyawa
denganmu untuk mencuci penghinaanmu!” Setelah berkata demikian Thio San
menggerakkan kedua tangannya, bertubi-tubi memukuli muka dan dada Suling Emas
yang menerima semua pukulan itu tanpa melawan dan dengan mata tidak berkedip.
“San-koko...
jangan...!”
Thio San
yang tadinya sudah merasa betapa sia-sia memukuli ‘manusia baja’ yang seperti
tidak merasakan pukulannya dan yang sebaliknya malah membuat kedua tangannya
sakit itu, tercengang dan cepat menengok mendengar sebutan ‘koko’ dari
tunangannya. Ia melihat tunangannya itu menangis tersedu-sedu menutupi muka
dengan kedua tangan.
“Lian-moi,
dia kurang ajar!”
“...
tidak... dia benar... Ya Tuhan... ayah, ampunkan anakmu ini, ayah...!”
Thio San
cepat maju memeluk tubuh tunangannya yang terhuyung-huyung hendak roboh. Gadis
itu makin tersedu-sedu di atas dada tunangannya. “Koko... kau... pun maafkanlah
aku...,” isaknya.
Thio San
hanya dapat mengusap pundak gadis pujaan hatinya dengan air mata bercucuran.
Ketika ia menengok, ia melihat Suling Emas sudah melangkah pergi dari situ
dengan wajah berseri dan bibir tersenyum. Thio San mengejap-ngejapkan matanya
menahan haru yang menguasai hatinya. Ia takkan melupakan pendekar itu selama
hidupnya. Tahulah ia sekarang bahwa sesungguhnya nyawa Tan Lian tertolong oleh
Suling Emas, bukan hanya nyawa Tan Lian, melainkan juga nyawanya, kebahagiaan
hidupnya! Cepat-cepat ia lalu memapah dan merangkulTan Lian, diajak pergi
meninggalkan jurang yang tetap menganga dan sunyi, seakan-akan merenungi
peristiwa itu tanpa perasaan apa-apa...
Terima kasih telah membaca Serial ini
No comments:
Post a Comment