Cerita Silat Kho Ping Hoo
Serial Jodoh Rajawali
Jilid 29
Namun,
mengingat bahwa dia adalah keturunan keluarga Yu yang ‘besar’, maka dia menekan
perasaan hatinya dan hanya menundukkan mukanya tanpa menoleh. Terasa benar
olehnya betapa detak jantungnya seperti hendak memecahkan rongga dadanya! Dag…
dug… dag… dug.
Bukan hanya
Yu Hwi saja yang dapat terserang semacam ‘penyakit’, yaitu kehilangan kebebasan
dan kewajaran begitu dia ‘menempel’ kepada sesuatu yang lebih besar atau yang
dianggap lebih besar dari pada dirinya sendiri. Yu Hwi tadinya adalah seorang
dara yang bebas dan wajar, polos dan tidak berpura-pura, hidup lincah gembira
tanpa adanya penghalang apa pun. Akan tetapi, begitu dia merasa bahwa dia
adalah keturunan keluarga yang ‘besar’, maka dia menyamakan diri dengan
kebesaran nama keluarga itu dan merasa dirinya besar pula, dan begitu dia
merasa dirinya besar, lenyaplah kewajaran dan kebebasannya karena yang besar
itu tentu mempunyai sifat sifat besar tersendiri pula! Bukan hanya Yu Hwi yang
terserang penyakit itu, melainkan kita pada umumnya pun demikian!
Dapat kita
lihat di dalam kehidupan kita sehari-hari kalau kita mau membuka mata melihat
kanan kiri, depan belakang dan terutama sekali melihat ke dalam diri sendiri,
melihat batin sendiri. Betapa kita hidup dalam alam kepalsuan! Betapa kita
memaksa diri untuk berpura-pura, berpalsu-palsu, semua itu hanya karena ingin
‘menyesuaikan diri’ dengan kesopanan, dengan kebudayaan, dengan kebiasaan
masyarakat pada umumnya. Padahal, apa yang dinamakan kesopanan itu sesungguhnya
tidak sopan lagi kalau dilakukan dengan pura-pura, dengan paksaan. Apakah
artinya senyum di bibir kalau di dalam hati kita mencibir atau menangis? Apakah
artinya sikap sopan di lahir kalau di batin kita memandang rendah? Apakah
gunanya sikap ramah dan suka kalau di dalam hati kita membenci?
Dan semua
keadaan yang bertentangan ini terjadi setiap hari, setiap saat, di dalam
kehidupan manusia di seluruh dunia! Kita kehilangan kewajaran, kehilangan
kebebasan, karena kita INGIN DIANGGAP BAIK, kita ingin dianggap sopan, dianggap
ramah, maka kita mengejar anggapan itu dengan menggunakan kedok palsu bernama
kesopanan, keramahan, kebaikan dan selanjutnya! Betapa menyedihkan hal ini!
Betapa munafik dan palsunya kita ini. Dapatkah kita hidup tanpa kepalsuan ini,
dengan kesopanan yang tidak dibuat-buat, keramahan yang wajar dan tulus, senyum
yang memancarkan cahaya kegembiraan dari hati, bukan sekedar usaha agar kita
dianggap baik belaka? Dapatkah? Pertanyaan ini amat penting artinya bagi kita
kalau kita ingin mengenal dan menyelidiki diri sendiri.
Biar pun
sepasang mata Yu Hwi tidak menoleh, namun pendengaran telinganya dapat
menangkap setiap gerakan dari orang yang memasuki ruangan itu. Langkah-langkah
yang halus dan tetap, tidak tergesa-gesa, gerakan yang lembut.
“Suhu! Teecu
girang sekali melihat kedatangan Suhu, dan teecu menghaturkan hormat kepada
Suhu!” terdengar suara seorang pria dan hati dara itu tersentak kaget karena
dia merasa seperti sudah mengenal suara itu dengan baik sekali.
Akan tetapi
‘kesopanan’ masih membuat dia memaksa diri menundukkan muka, sama sekali tidak
berani mengerling ke arah pria yang kini berlutut tidak jauh di sebelah kiri
bangku yang didudukinya itu. Dia hanya dapat melihat baju yang sederhana di
pundak yang lebar.
Sai-cu
Kai-ong cepat berdiri dari duduknya, menyentuh pundak pemuda itu untuk ditarik
berdiri sambil tertawa. “Ha-ha-ha! Anak baik, bangkitlah dan perkenalkan calon
isterimu yang sudah hilang selama belasan tahun…”
Mula-mula Yu
Hwi hanya melirik dengan ujung matanya ketika melihat bayangan tubuh pemuda itu
membalik dan menghadap kepadanya, tetapi tiba-tiba matanya terbelalak ketika
dia sudah mulai dapat memandang wajahnya.
“Kau…?!”
“Ahhhh….”
Walau pun
dengan kata-kata yang berbeda, akan tetapi kedua orang ini berseru pada waktu
yang bersamaan. Tidak mengherankan apabila dua orang ini sama-sama terkejut
bukan main karena mereka sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa orang yang
akan ditemuinya adalah yang kini sedang berada di hadapannya. Sejenak mereka
hanya saling menatap dengan mata terbelalak, dan akhirnya Yu Hwi yang lebih
dahulu mengeluarkan suara setengah berteriak.
“Ternyata
kau adanya… laki-laki kurang ajar…!”
Setelah
berkata demikian, gadis itu langsung membalikkan badan dan lari ke arah pintu,
meninggalkan suara isak bercampur kemarahan. Dua orang kakek dan pemuda yang
ternyata Kam Hong adanya, sekejap hanya bengong terlongong, tidak menduga bahwa
kejadian akan berlangsung demikian.
Sai-cu
Kai-ong yang sadar lebih dahulu kemudian berseru, “Siauw Hong, cepat kejar anak
itu…!”
Seruan
Sai-cu Kai-ong ini menyadarkan Sin-siauw Sengjin dan Kam Hong, dan bagai kuda
dipecut, tanpa membuang waktu segera Kam Hong berkelebat ke arah pintu pula
mengejar bayangan Yu Hwi yang sudah tidak nampak itu. Di dalam ruangan itu kini
hanya tersisa dua orang kakek, Sai-cu Kai-ong dan Sin-siauw Sengjin.
Sai-cu
Kai-ong menarik napas, lalu dia berkata, “Aihhh, anak itu… dengan maksud baik
kuajak ke sini untuk memperkenalkannya kepada Kam Hong. Eh, tidak tahunya
mereka sudah saling mengenal, dan malah ada rahasia di antara mereka!” Kakek
ini menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau
begitu, lebih baik lagi,” kata Sin-siauw Sengjin. “Biarlah mereka saling
berkenalan agar kelak mereka tidak menyalahkan kita kalau dalam perjodohan
mereka terjadi ketegangan-ketegangan. Dan sebaiknya kalau Kam-kongcu yang
mencari sendiri, karena dia telah menguasai ilmu-ilmu nenek moyangnya secara
hampir sempurna. Sungguh hebat anak itu, ilmu-ilmu aneh yang selama puluhan
tahun tak dapat aku kuasai, kini dia kuasai intinya. Agaknya dia mendapat
petunjuk langsung dari arwah leluhur-leluhurnya.”
Ke manakah
perginya Yu Hwi? Dan mengapa Kam Hong yang mengejarnya belum juga kembali
setelah ditunggu selama semalam suntuk oleh dua orang kakek itu?
Pertanyaan
ini juga mengganggu hati Kam Hong yang mencari sampai semalam suntuk tanpa
hasil. Pemuda ini merasa khawatir bukan main. Padahal dia telah menggunakan
ilmu ginkang-nya yang membuat dia dapat berlari seperti terbang cepatnya. Sudah
dijelajahinya seluruh daerah itu, sudah dikejarnya ke empat penjuru, namun dia
tidak berhasil menemukan jejak dara yang telah menggerakkan hatinya semenjak
peristiwa pembukaan rahasia itu, dara yang ternyata adalah tunangannya, calon
isterinya sendiri!
Berbagai
perasaan mengaduk di hati Kam Hong. Diam-diam ada perasaan bahagia yang luar
biasa oleh kenyataan bahwa tunangannya, calon isterinya yang dipilihkan oleh
Sin-siauw Sengjin dan Sai-cu Kai-ong, adalah justeru gadis yang selama ini tak
pernah dapat dilupakannya itu! Akan tetapi, perasaan bahagia ini mulai berubah
menjadi perasaan gelisah ketika dia tidak berhasil menyusul dan menemukan Yu
Hwi. Padahal, dalam hal ilmu berlari cepat, dia menang jauh dibandingkan dengan
dara itu. Tidak mungkin rasanya dara itu dapat berlari sedemikian cepatnya
sehingga dia tidak mampu menyusulnya. Dia merasa cemas sekali karena menduga
tentu telah terjadi sesuatu atas diri tunangannya itu.
Maka, Kam
Hong kemudian mengambil keputusan untuk mencari terus sampai dia dapat
menemukan Yu Hwi dan tidak akan pulang ke tempat tinggal Sin-siauw Sengjin
sebelum dia dapat menemukan Yu Hwi.
Dan
mengingat bahwa cerita ini masih panjang, dan akan terlalu panjang kalau harus
mengikuti perjalanan Yu Hwi dan Kam Hong, maka terpaksa dua orang muda ini kita
tinggalkan, dan cerita tentang mereka akan dapat diketahui dalam sebuah cerita
terpisah yang akan terbit kemudian, merupakan sambungan atau juga cabang dari
cerita Jodoh Sepasang Rajawali ini. Cerita tentang Kam Hong dan Yu Hwi akan
merupakan sebuah cerita sendiri, karena keturunan terakhir dari Pendekar Suling
Emas dan dari keluarga Raja Pengemis Yu itu akan mengalami hal-hal yang amat
hebat. Dan kini kita mengikuti perjalanan tokoh-tokoh lainnya dari cerita ini,
yaitu tokoh-tokoh utamanya. Sabar…..
***************
Tek Hoat
rebah dengan kedua mata terpejam di atas pembaringan dalam kamar yang bersih
dan indah itu. Orang yang sudah mengenalnya tentu akan terkejut sekali kalau
melihat wajahnya pada saat itu. Wajahnya pucat dan kurus sekali sehingga
sepasang alisnya yang tebal itu nampak lebih hitam lagi. Kerut-merut di antara
kedua alisnya membayangkan kedukaan besar yang agaknya menindih perasaan pemuda
perkasa ini. Rambutnya yang dikuncir itu agak awut-awutan dan tubuhnya tertutup
selimut tebal.
Dua pelayan
wanita muda yang cantik duduk di atas lantai, di depan pembaringan. Mereka
adalah pelayan-pelayan yang menjaga, bergiliran dengan pelayan-pelayan lain.
Pemuda yang sedang menderita sakit ini selalu dijaga secara bergilir dan pada
saat saat tertentu pelayan menyuapkan obat dan makanan ke dalam mulut pemuda
itu yang menerima segala perawatan tanpa pernah bicara atau membantah, bahkan
jarang membuka mata. Dia hanya rebahan seperti orang tidur, kadang-kadang
berbisik-bisik, kadang-kadang mengeluh bahkan tidak jarang ada pelayan melihat air
mata berlinang dan menitik turun ke atas pipi yang pucat dan cekung itu.
Sebetulnya
semua luka yang diderita oleh Tek Hoat akibat pertempuran menghadapi para
pemberontak itu telah dapat disembuhkan sama sekali oleh ahli-ahli pengobatan
Kerajaan Bhutan. Akan tetapi luka di hatinya yang sukar disembuhkan. Para tabib
itu merasa khawatir juga. Pemuda itu kelihatan linglung tidak pernah dapat
sadar sama sekali dan selalu murung, seperti orang yang putus harapan.
Para pelayan
wanita itu, yang sebagian besar merupakan bekas pelayan-pelayan dari Puteri
Syanti Dewi, merasa terharu kalau mendengar betapa dalam igauannya, pemuda itu
sering kali menyebut-nyebut nama Syanti Dewi. Mereka semua tahu belaka bahwa
pemuda ini adalah bekas tunangan sang puteri dan betapa pemuda ini pernah
terusir dari Bhutan tanpa salah, betapa kemudian sang puteri juga lolos dari
istana untuk mencari pemuda kekasihnya ini. Mereka tahu bahwa ada hubungan
cinta kasih yang mendalam antara pemuda perkasa ini dan sang puteri, dan bahwa
pemuda ini jatuh sakit seperti orang linglung karena menyangka bahwa sang
puteri telah bermain gila dengan Mohinta, kemudian melihat sang puteri tewas
tanpa mengetahuinya bahwa yang tewas dan bermain gila dengan Mohinta itu
bukanlah Syanti Dewi yang asli!
Tiba-tiba
terdengar suara pengawal di luar pintu kamar dan dua orang pelayan itu cepat
berlutut. Raja Bhutan sendiri dengan dua orang tabib dan dikawal beberapa orang
pengawal, diiringi pula oleh Panglima Jayin, memasuki kamar itu. Sang raja
mendekati pembaringan, memandang wajah pemuda itu, lalu menarik napas panjang.
“Kasihan...,“
keluhnya, lalu dia menoleh kepada dua orang tabib tua itu. “Bagaimana
harapannya?”
Dua orang
tabib itu saling pandang, kelihatan was-was, kemudian seorang di antara mereka
berkata, “Hamba berdua telah berdaya sekuat tenaga, Sri baginda. Hamba telah
membersihkan darahnya sehingga tidak membahayakan keselamatan tubuhnya, akan
tetapi... penyakitnya bukan menyerang badan, melainkan batin dan hal ini amat
sukar diatasi dengan obat. Perasaan kecewa yang besar dan kedukaan yang hebat
telah meracuni jantungnya.”
“Hemmm...“
Sang raja mengusap jenggotnya. “Kalian maksudkan ada hubungannya dengan sang
puteri?”
Tabib itu
mengangguk. “Kiranya begitulah. Melihat semua peristiwa yang terjadi atas diri
wanita yang disangkanya sang puteri, terutama melihat wanita itu tewas, telah
mendatangkan guncangan yang amat hebat.”
Raja Bhutan
mengerutkan alisnya dan diam-diam dia merasa menyesal sekali. Kini telah
terbukti bahwa pemuda ini amat gagah perkasa dan setia, memang patut sekali
menjadi mantunya, dan pemuda ini amat mencinta Syanti Dewi. Dia merasa menyesal
pernah berusaha memisahkan dua orang muda itu dan sekarang akibatnya, Syanti
Dewi masih belum dapat ditemukan dan pemuda ini yang sudah dua kali berjasa
terhadap Bhutan, kini rebah dalam keadaan sakit hebat.
“Bagaimana
kalau dia diberi tahu bahwa Syanti Dewi masih hidup?” Akhirnya dia bertanya.
“Memang,
guncangan itu kiranya dapat disembuhkan dengan guncangan lain yang amat
berpengaruh terhadap batinnya, Sri baginda. Akan tetapi hamba juga khawatir
kalau-kalau guncangan lain itu bahkan akan mengakibatkan hal yang lebih parah
lagi.”
“Dapat
menewaskannya...?”
“Mungkin
saja.”
“Hemmm,
kalau begitu amat berbahaya. Biarlah saja dulu, tak usah diberi tahu sampai
kita berhasil menemukan Syanti Dewi. Panglima Jayin, bagaimana dengan usahamu
menyelidiki sang puteri?”
Panglima
Jayin memberi hormat. “Hamba sudah mengerahkan para penyelidik yang terpandai.
Ada kabar baik, Sri Baginda. Ada kabar bahwa Sang Puteri Syanti Dewi
diberitakan berada di sebuah pulau pada beberapa tahun yang lalu, akan tetapi
beliau sudah meninggalkan pulau itu. Para penyelidik sedang melanjutkan
penyelidikannya. Setidaknya hasil penyelidikan itu membuktikan bahwa sang
puteri memang masih dalam keadaan sehat.”
Raja Bhutan
itu mengangguk-angguk, lalu mengomel, “Itulah susahnya kalau wanita diberi
pelajaran silat. Jayin, mulai sekarang umumkan di seluruh Bhutan bahwa dilarang
mengajarkan ilnmu silat kepada kaum wanita!”
Panglima Jayin
merasa geli oleh perintah ini, akan tetapi dengan wajah bersungguh-sungguh dia
mengambil sikap tegak dan menjawab, “Baik, Sri baginda!”
Setelah
memandang sekali lagi wajah pemuda itu, Raja Bhutan lalu keluar dari dalam
kamar, diiringkan oleh Panglima Jayin, para tabib dan para pengawal. Dua orang
pelayan tadi masih duduk di dalam kamar, di depan pembaringan setelah
menutupkan kembali pintu kamar.
Tidak ada
seorang pun yang melihatnya, juga Panglima Jayin yang lihai itu tidak dapat
melihat betapa ada bayangan yang amat cepat berkelebat di atas genteng kamar
itu. Bayangan itu berkelebat seperti setan saja saking cepatnya, demikian
ringan seperti seekor kucing yang berlompatan di atas genteng.
Setelah
rombongan raja meninggalkan kamar, bayangan yang amat ringan dan cepat
gerakannya itu melayang turun lalu meloncat ke depan pintu kamar Tek Hoat.
Dengan amat hati-hati sebuah tangan dengan jari-jari runcing kecil dan halus
kulitnya itu membuka pintu mengintai ke dalam, kemudian, daun pintu kamar itu
dibukanya dan secepat kilat tubuhnya melayang ke dalam. Gerakannya itu
sedemikian ringannya sehingga sama sekali tidak menimbulkan suara apa-apa dan
dua orang pelayan wanita yang duduk di atas lantai menghadapi pembaringan itu
sama sekali tidak mendengar apa-apa dan tidak menengok.
Tiba-tiba
mereka itu mengeluh dan roboh terguling, pingsan dan tidak sempat melihat siapa
orangnya yang menyerang mereka, bahkan tidak tahu apa yang terjadi karena
serangan dengan totokan kedua tangan ke arah tengkuk yang membuat mereka
pingsan itu demikian luar biasa cepatnya.
Bayangan itu
bukan lain adalah Syanti Dewi! Seperti telah kita ketahui, puteri Bhutan yang
cantik jetita ini telah melarikan diri dari Kim-coa-to karena jijik melihat
kenyataan betapa gurunya, yaitu Ouw Yan Hui, dan Maya Dewi si nenek India ahli
kecantikan itu melakukan perbuatan-perbuatan mengerikan, yaitu suka berjina
dengan sesama wanita. Sang puteri melarikan diri dengan perahu dan kini dia
telah berubah menjadi seorang wanita yang luar biasa cantiknya berkat ramuan
obat yang diberikan oleh Maya Dewi. Di samping kecantikan yang luar biasa,
bagaikan batu permata yang sudah digosok, dia pun kini memiliki kepandaian
istimewa, terutama sekali ilmu ginkang yang membuat dia dapat bergerak seperti
terbang cepatnya!
Dengan
kepandaiannya yang hebat itu, Syanti Dewi cepat menuju ke Bhutan. Dia sudah
merasa rindu kepada kampung halaman, dan merasa berdosa telah meninggalkan ayah
bundanya di Kerajaan Bhutan. Apa lagi ketika dia mendengar berita yang
didapatnya di sepanjang jalan bahwa di Bhutan terjadi pemberontakan dan bahwa
hampir saja Raja Bhutan menjadi korban, dia mempercepat perjalanannya menuju ke
Bhutan. Setelah tiba di daerah Bhutan, berita yang didapatnya lebih mengejutkan
hatinya karena berita ini menyatakan betapa dalam keadaan bahaya besar bagi
ayahnya dan Kerajaan Bhutan itu, kernbali muncul Ang Tek Hoat sebagai pahlawan
dan penolong! Akan tetapi, hatinya merasa gelisah bukan main ketika mendengar
bahwa pemuda itu luka-luka parah dan kini rebah di istana dalam keadaan
menderita sakit berat.
Syanti Dewi
mendengar pula akan adanya wanita yang memalsu dirinya, dan betapa
pemberontakan itu dipimpin oleh Mohinta yang telah tewas. Semua ini
mendatangkan tanda tanya besar baginya sehingga dia tidak mau memasuki Bhutan
secara terang terangan, melainkan memasuki daerah istana itu setelah malam
tiba. Bahkan dia bersembunyi di atas genteng ketika melihat rombongan ayahnya
memasuki kamar Tek Hoat, dan mendengarkan percakapan mereka tanpa diketahui
seorang pun. Dengan kepandaiannya yang sekarang, hal ini dapat mudah
dilakukannya karena semua gerakannya sedemikian ringan dan tidak menimbulkan
suara sedikit pun.
Setelah ayahnya
dan rombongan ayahnya meninggalkan kamar itu, untuk sejenak dia berdiam dengan
hati terguncang hebat. Apa yang didengarnya antara percakapan ayahnya dengan
Panglima Jayin dan tabib-tabib tadi benar-benar amat mengejutkan dan
mengharukan hatinya. Tek Hoat sakit parah dan mungkin tidak akan tertolong
keselamatannya! Tek Hoat bukan parah karena luka-lukanya, tetapi karena mengira
dia telah mati, belum tahu bahwa yang mati adalah wanita yang mertyamar sebagai
dia!
“Tek
Hoat...!” Setelah dia meluncur turun dan merobohkan dua orang pelayan sehingga
mereka berdua itu roboh pingsan tanpa mengenalnya, Syanti Dewi berlari
menghampiri dipan di mana tubuh Tek Hoat terbujur terlentang di atasnya.
“Tek
Hoat...!” Dia berbisik, menubruk pemuda itu dan duduk di tepi pembaringan, lalu
memandang wajah yang kurus pucat itu dengan hati penuh keharuan.
Dia merasa
terharu karena betapa pun juga, Tek Hoat telah membuktikan kesetiaannya
terhadap Bhutan dan cinta kasih yang mendalam kepada dirinya sendiri. Kekerasan
hatinya yang pernah marah terhadap Tek Hoat yang meninggalkannya tanpa pamit
itu melunak, akhirnya mencair bersama keluarnya air matanya dan bangkitlah rasa
cintanya terhadap pemuda ini yang memang belum pernah padam.
Perasaan
duka dan iba memang merupakan perasaan yang paling kuat untuk menggerakkan
cinta kasih dalam batin seorang wanita! Betapa sering dan banyak terbukti bahwa
seorang wanita yang menaruh iba dan merasa terharu, akan mudah sekali
menyatakan cinta kasihnya.
Agaknya
Puteri Bhutan itu juga tidak terkecuali dan pada saat itu, keharuan dan iba
hati mempengaruhi batinnya dengan amat kuatnya sehingga hatinya yang memang
sejak dahulu mencinta Tek Hoat, kini bagaikan api berkobar lagi.
“Tek Hoat,
ahhh... Tek Hoat...!”
Dia
meraba-raba pipi yang kurus itu, air matanya bertitik turun di sepanjang kedua
pipinya, semua keangkuhan terbang pergi meninggalkan batinnya dan sang puteri
yang cantik jelita seperti bidadari kahyangan ini merangkul, menunduk dan
mencium ujung mulut Tek Hoat dengan sepenuh perasaan kasih sayangnya.
Getaran
perasaan yang memuncak itu agaknya terasa pula oleh Tek Hoat yang sedang rebah
tidur atau dalam keadaan setengah sadar. Dia membuka matanya yang sayu. Pandang
mata yang sayu itu bertemu dengan sepasang mata yang amat dekat, sepasang mata
bening yang basah air mata, wajah yang cantik, yang begitu dekat sehingga dia
merasakan hembusan napas yang hangat, wajah yang selama ini membuat dia seperti
bosan hidup, wajah Syanti Dewi yang telah meninggal dunia!
Tiba-tiba
sepasang mata yang sayu itu terbelalak lebar, Tek Hoat tersentak kaget seperti
melihat setan. Ada kekuatan gaib yang menibuat dia seperti kemasukan kilat,
membuatnya bangkit duduk.
“Syanti
Dewi...!” dia menjerit, akan tetapi jeritannya itu hanya keluar seperti bisikan
halus saja. “Tak mungkin...! Tak mungkin...! Engkau telah... mati...!” Dengan
sepasang mata tak pernah berkedip, masih terbelalak, Tek Hoat berkata dengan
suara berbisik, dan dadanya bergelombang, napasnya terengah-engah.
Sambil
tersenyum dengan mata basah air nata, Syanti Dewi mengulur kedua tangannya,
memegang lengan pemuda itu dengan lembut sambil berkata, “Tidak, Tek Hoat,
tidak... aku tidak mati...“ Sungguh mengharukan sekali wajah yang cantik itu,
mulutnya tersenyum lebar sehingga nampak deretan giginya yang seperti mutiara,
akan tetapi air matanya masih membasahi matanya dan menuruni pipinya.
Tetapi lahir
batin Tek Hoat masih dalam keadaan belum sehat benar. Tiba-tiba saja dia
mengibaskan kedua tangan dara itu dari lengannya, sepasang matanya mengeluarkan
sinar kemarahan dan wajahnya menjadi merah sekali, mulutnya bersungut-sungut
dan kedua tangannya dikepal! Dia seperti melihat lagi bayangan Syanti Dewi
bercumbu dengan Mohinta, mendengar kata-kata penuh rayuan dan kegenitan Syanti
Dewi ketika bercumbu dalam kamar bersama pemberontak itu. Makin dikenang, makin
hebatlah kemarahannya dan akhirnya meledak dengan keras dalam bentuk kata-kata
yang parau penuh kebencian.
“Enyah
engkau, perempuan lacur! Perempuan hina dan rendah tak tahu malu! Engkau
mengotorkan negaramu, engkau mengotorkan cinta kasih kita, engkau mengotorkan
bumi dengan kecabulanmu. Pergi!”
Syanti Dewi
terhuyung ke belakang, memegangi pipinya seakan-akan baru menerima tamparan
keras dari Tek Hoat dengan kata-kata itu. Wajahnya berubah pucat, matanya
terbelalak memandang wajah Tek Hoat dan air matanya makin deras bercucuran. Dia
lalu memejamkan matanya, menggigit bibirnya agar jangan menjerit.
“Engkau
telah berjinah dengan Mohinta! Berani kau menyentuhku setelah melakukan
perbuatan keji dan kotor itu?” Setiap kata yang keluar dari rnulut Tek Hoat
seolah-olah menghujam di ulu hati Syanti Dewi, menimbulkan keperihan yang amat
hebat sehingga dia menjadi berduka sekali, kemudian kemarahan menguasai
dirinya.
Tiba-tiba
dia meloncat ke belakang. Mukanya berubah merah, matanya bersinar-sinar,
dadanya bergelombang dan napasnya sesak, dengan kemarahan yang luar biasa dia
menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Tek Hoat.
“Tutup
mulutmu yang kotor, Tek Hoat! Engkau laki-laki tolol, keji dan jahat! Aku...
aku... muak perutku melihat mukamu! Uhhhhh...!” Syanti Dewi menutupi mukanya
menahan tangis, lalu sekali berkelebat dia sudah meloncat keluar kamar itu.
Sejenak Tek
Hoat berdiri seperti patung. Mukanya sudah berubah pucat lagi, seperti mayat
hidup. Baru dia sadar betapa dia sudah menghina puteri itu, memaki puteri itu,
puteri yang selama ini tidak pernah dilupakannya, yang agaknya merupakan
bayangan satu-satunya yang masih mampu menahan sehingga nyawanya masih enggan
meninggalkan tubuhnya. Betapa dia mencinta wanita itu! Dan betapa dia telah
menghinanya dengan kata-kata keji dan maki-makian! Semua itu kini nampak nyata.
“Syanti
Dewi...!” Dia berteriak lantang dan cepat meloncat, terhuyung dan keluar dari
kamar itu melalui jendela, kemudian melakukan pengejaran secepat mungkin, tidak
lagi mempedulikan kepeningan yang mengganggu kepalanya dan yang membuat pandang
matanya kabur.
“Dewi...!
Syanti Dewi..., jangan tinggalkan aku...!” Berulang-ulang Tek Hoat berteriak
sekuatnya ketika akhirnya dia dapat melihat bayangan wanita itu.
Setengah
malam suntuk dia telah melakukan pengejaran, sampai bayangan wanita itu jauh
meninggalkan Kota Raja Bhutan, naik turun bukit dan fajar telah menyingsing
ketika akhirnya dia dapat melihat Syanti Dewi masih berjalan cepat di sebelah
depan.
“Syanti
Dewi..., jangan tinggalkan aku...!” Dia berteriak sambil mengeluh dan terus
berlari secepatnya.
Syanti Dewi
yang tahu betapa Tek Hoat mengejarnya sejak semalam dan sengaja dia tidak mau
berhenti, sambil menangis terus berjalan cepat, kini tiba-tiba berhenti dan
membalikkan tubuhnya, berdiri di tengah jalan hutan yang kecil itu, berdiri
tegak, bahkan bertolak pinggang menanti datangnya pemuda itu.
“Ah,
Dewi..., kau tunggu...!” Tek Hoat berkata lemah dan terhuyung-huyung sampai
juga di depan dara itu.
“Siapa yang
lari meninggalkan siapa? Tek Hoat, lupakah engkau betapa dulu engkau telah lari
dari Bhutan tanpa pamit, meninggalkan aku begitu saja? Tidak tahukah engkau,
atau pura-pura tidak tahu, betapa sampai mati-matian aku bersusah payah
mencari-carimu, menempuh banyak bahaya dan penderitaan, semua kulakukan untuk
dapat mencari dan menyusulmu? Beribu macam kesengsaraan kuderita demi untukmu
seorang! Dan sekarang, setelah kita saling bertemu, apa yang kudapatkan? Hanya
fitnah dari mulutmu yang keji, makian-makian dan kata-kata kotor! Aku muak! Aku
tak sudi!” Syanti Dewi lalu menangis dan menutupi mukanya, terisak-isak dengan
hati terasa perih sekali.
Tek Hoat
berdiri bingung, tubuhnya bergoyang-goyang, kepalanya masih pening, akan tetapi
pikirannya mulai berjalan, mulai sadar. Inilah Syanti Dewi yang asli, dan kalau
Syanti Dewi ini masih hidup, jelas bahwa yang mati itu bukanlah Syanti Dewi!
Dan kalau yang mati bukan Syanti Dewi, berarti yang berjinah dengan Mohinta
tentu juga bukan Syanti Dewi. Dan yang mencoba membunuh Raja Bhutan tentu bukan
yang berdiri di depannya ini pula!
“Syanti...
Dewiku... aku... aku bingung..., aku melihat engkau berjinah dengan Mohinta,
aku melihat engkau menyerang dan hendak membunuh Raja Bhutan ayahandamu
sendiri, kemudian aku melihat engkau... engkau mati...!”
“Itulah
karena matamu telah buta! Buta oleh cemburu! Tidak sadar bahwa engkau sendiri
yang mengkhianati ikatan cinta kita, engkau pergi meninggalkan aku begitu saja!
Engkau tidak tahu bahwa wanita itu adalah wanita lain yang dipergunakan oleh
Mohinta untuk memalsu aku! Dan engkau telah memaki aku dengan kata-kata kotor,
menghina diriku seperti belum pernah ada manusia berani menghinaku selama
hidupku ini...“ Kembali Syanti Dewi menangis.
Mulai
teranglah kini bagi Tek Hoat terhadap semua kenangan dan gambaran yang amat
membingungkan hatinya itu dan makin jelaslah baginya betapa dia telah melakukan
hal yang amat keji dan menyakitkan hati kekasihnya itu. “Dewi... ahhh, Dewi...
aku telah bersalah besar, aku berdosa padamu, kau maafkanlah aku, Dewi, kau
ampunkan aku...“
“Apa? Maaf?
Ampun? Setelah apa yang kuderita selama setahun lebih, setelah apa yang kau
katakan dengan kata-kata keji terhadap diriku? Tidak! Aku tak sudi merendah
lagi, aku sudah cukup merangkak-rangkak dengan mencari-carimu selama ini! Aku
tidak mau menyembah-nyembah lagi, aku tidak mau mendamba cintamu dengan
mengemis! Tidak, kini sudah tiba masanya, tiba saatnya bahwa engkau yang harus
benar-benar menunjukkan cintamu kepadaku. Engkau yang harus menyembah-nyembah,
harus menderita kalau mau mendapatkan cintaku! Nah, dengar kau, Tek Hoat. Aku
muak melihatmu, aku... ah, aku...“ Dia menutupi mukanya dan menangis makin
keras sampai sesenggukan.
Wajah Tek
Hoat menjadi pucat sekali, tubuhnya gemetar, kedua kakinya menggigil. Dia tahu
akan kesalahannya. Kata-katanya memang terlampau keji, padahal, kalau dia
mengingatkan betapa wanita ini telah menderita hebat demi untuk mencarinya
setelah dia meninggalkannya begitu saja! Ah, betapa besar dosanya.
”Syanti
Dewi... Puteri... ampunkanlah hamba...!” Dia menangis sesenggukan dan
menjatuhkan diri berlutut di depan Syanti Dewi, menyembah-nyembahnya dengan
muka pucat dan air mata bercucuran.
Syanti Dewi
terbelalak memandang kepada pemuda yang berlutut dan menyembah itu, mukanya
membayangkan kekagetan hebat, menjadi pucat kemudian merah dan dia menjadi
semakin marah. Dengan gemas dia membanting-banting kakinya.
“Uhhhhh!
Laki-laki macam apakah engkau? Laki-laki lemah, laki-laki canggung, laki-laki
cengeng! Uh, mual perutku melihatmu!” Dia terisak dan membalik, terus lari
secepat kijang melompat.
“Syanti
Dewi...!” Tek Hoat mengangkat muka, terbelalak memandang gadis itu yang lari.
Dia pun cepat meloncat dan lari mengejar, akan tetapi terhuyung dan terguling
roboh karena matanya gelap. Dia merangkak, bangkit lagi dan berlari lagi
terhuyung mengejar Syanti Dewi yang sudah lari jauh di depan.
“Dewiiiii...!
Tungguuuuu...., jangan tinggalkan aku...!”
Akan tetapi
wanita itu tidak mau peduli, berlari makin cepat dan karena kini dia telah
memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi, sebentar saja Tek Hoat tertinggal jauh
dan akhirnya dia lenyap dari pandang mata pemuda itu yang masih terus lari
mengejar dengan terhuyung-huyung dan akhirnya Tek Hoat merasa matanya gelap
sehingga dia menabrak sebatang pohon dan terpelanting, pingsan!
Sunyi sekali
di tempat itu setelah Syanti Dewi pergi dan Tek Hoat roboh pingsan. Sinar
matahari pagi menimpa wajah pucat dari pemuda yang menggeletak terlentang tak
sadarkan diri itu. Burung-burung berkicau saling bersahutan sambil berloncatan
di atas dahan-dahan pohon. Mereka itu bernyanyi menyambut datangnya matahari
ataukah mereka sedang membicarakan persoalan manusia yang hidupnya selalu penuh
dengan duka dan sengsara itu?
Matahari
telah naik semakin tinggi dan burung-burung telah meninggalkan pohon-pohon di
hutan itu untuk bertebaran keempat penjuru mengikuti jalan sendiri-sendiri
untuk mulai mencari makan ketika serombongan pasukan yang dipimpin sendiri oleh
Panglima Jayin memasuki hutan itu dan menemukan Tek Hoat yang masih menggeletak
pingsan.
Panglima
Jayin terharu dan girang dapat menemukan pemuda ini, lalu digotonglah pemuda
itu dengan hati-hati, kembali ke istana di Kota Raja Bhutan. Panglima ini telah
dengan cepat memimpin pasukan untuk mengikuti jejak Tek Hoat dan mencarinya
setelah ada dayang yang menjenguk kamar sang pendekar dan melihat dua orang
pelayan masih roboh tak bergerak karena tertotok dan pendekar itu lenyap dari
atas pembaringan. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Syanti Dewi, maka
mereka semua, termasuk Panglima Jayin, menyangka bahwa Tek Hoat, dalam keadaan
bingung dan belum sadar benar, telah menotok dua orang pelayan itu dan
melarikan diri dari dalam kamarnya.
Ketika
siuman dari pingsannya setelah dirawat oleh para tabib, Tek Hoat gelisah dan
mulutnya memanggil-manggil Syanti Dewi. Melihat keadaan pemuda ini, sri baginda
lalu mendesak kepada Panglima Jayin untuk menggiatkan kembali pencarian terhadap
puterinya sampai dapat.
Guncangan
batin yang hebat diderita oleh Tek Hoat sehingga untuk kedua kalinya dia rebah
dan sakit, kadang-kadang berteriak-teriak memanggil Syanti Dewi seperti orang
gila, kadang-kadang merenung dan menangis seorang diri seperti anak kecil.
Dalam penderitaan ini, teringatlah dia akan semua perbuatannya sebelum dia
berjumpa dengan Syanti Dewi dan dia merasa menyesal sekali. Agaknya dosa-dosa
yang pernah dilakukannya di masa lalu itulah yang kini berbuah dengan
kesengsaraan batin yang amat hebat sebagai hukuman baginya…..
***************
Dia
menjatuhkan dirinya yang sudah amat lelah itu ke atas rumput tebal di dalam
hutan yang sunyi itu, di bawah sebatang pohon, menangis terisak-isak. Makin
diingat, makin sakitlah rasa hatinya. Syanti Dewi menangis sampai mengguguk dan
memijit-mijit betis kakinya yang terasa amat lelahnya. Dia tadi telah
mengerahkan seluruh tenaga dan ilmunya berlari cepat, berlari terus sampai dia
tidak kuat lagi dan akhirnya terpaksa menjatuhkan diri di situ.
“Tek
Hoat...!” Nama ini keluar dari bibirnya seperti rintihan dan memang dia
merintih karena jantungnya terasa perih dan nyeri.
Dia tidak
merasa syak lagi bahwa dia amat mencinta pemuda itu. Akan tetapi, sikap Tek
Hoat amat menyakitkan hatinya. Dia pun tahu bahwa Tek Hoat salah sangka,
mengira wanita palsu yang menyamar seperti dia itu adalah dia yang sesungguhnya
sehingga makian Tek Hoat bukan tidak beralasan. Namun, pengertian ini tidak
cukup kuat untuk meredakan kemarahan dan sakit hatinya karena sambutan Tek Hoat
itu sungguh menyakitkan hati.
Dia telah
bertahun-tahun menderita karena pemuda itu, dia telah sengsara dan beberapa
kali terancam bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut sendiri dalam
usahanya mencari kekasihnya. Dia telah berkorban lahir batin untuk Tek Hoat,
akan tetapi pemuda itu malah memakinya dengan kata-kata keji! Hati siapa tidak
akan menjadi panas karenanya? Makin diingatnya peristiwa tadi ketika Tek Hoat
memakinya, makin marahlah hati Syanti Dewi dan makin membuyar pengertiannya
bahwa pemuda itu melakukannya bukan tanpa sebab.
Marah, dalam
bentuk apa pun juga, sudah pasti ditimbulkan oleh kekecewaan karena merasa
dirinya dirugikan, lahir mau pun batin. Dirinya itu pada hal-hal biasa adalah
si aku, tetapi sering kali juga meluas sifatnya menjadi si kami, keluargaku,
golonganku, bangsaku dan selanjutnya yang sesungguhnya tiada bedanya dengan si
aku karena di dalam semua itu bersembunyi si aku yang menyamakan dirinya. Si
aku ini selalu ingin senang, oleh karena itu kalau dia tidak dibikin senang,
marahlah dia.
Dari
pengalaman, atau pelajaran kebudayaan, atau pelajaran agama, kita mengenal
akibat-akibat kemarahan yang mendatangkan kekerasan, permusuhan, kebencian dan
kesengsaraan. Oleh karena ini maka timbullah daya upaya untuk melenyapkan
kemarahan, atau setidaknya menekannya dan mengesampingkannya. Maka muncullah
pelajaran untuk bersabar. Apakah ‘belajar sabar’ ini dapat membebaskan kita
dari pada kemarahan? Kiranya hasil belajar sabar ini hanya untuk sementara
saja. Belajar sabar berarti penekanan terhadap kemarahan dan biar pun kadang
kala nampaknya berhasil, namun sesungguhnya kemenangan itu hanya sementara
saja.
Api
kemarahan itu masih ada, hanya ditutup secara paksa oleh kesabaran yang
dilandasi pengetahuan bahwa kemarahan itu tidak baik. Api kemarahan itu masih
belum padam, hanya nampaknya saja padam karena tertutup oleh kesabaran, seperti
api dalam sekam, nampaknya tidak bernyala namun sebenarnya di sebelah dalam
masih membara dan sewaktu-waktu akan dapat meledak dan menyala kembali! Belajar
sabar menyeret kita ke dalam lingkaran setan, marah, ditekan kesabaran, marah
lagi, bersabar lagi dan seterusnya seperti yang dapat kita lihat kenyataannya
sehari-hari. Akhirnya, bukan api kemarahan yang padam, melainkan api semangat kita
sendiri, membuat kita menjadi apatis, tak acuh, tidak peduli, atau sinis!
Belajar sabar hanya pemulas, di sebelah dalam, batin, kita marah, akan tetapi
di luar, lahir, kita sabar.
Setelah
melihat kenyataan ini semua, tindakan apakah yang harus kita ambil dalam
menanggulangi kemarahan dalam batin? Bagaimana pula kita harus melenyapkan
kemarahan yang setiap saat muncul apa bila kita merasa diganggu dan dirugikan
lahir batin?
Melakukan
tindakan apa pun juga untuk melenyapkan kemarahan tidak akan berhasil
membebaskan diri dari pada kemarahan. Kemarahan tidak dapat dilenyapkan oleh
daya upaya. Kemarahan adalah si aku itu sendiri, satu di antara sifat si aku
yang selalu ingin senang, maka kalau kesenangannya terganggu, tentu marah.
Jalan satu-satunya bagi kita hanyalah mengenal aku, mengenal kemarahan,
mengerti kemarahan dan hal ini hanya dapat terjadi apa bila kita mau menghadapi
kemarahan tanpa ingin mengubah, tanpa ingin menekan atau melenyapkan!
Kalau
kemarahan datang, yang membuat jantung berdebar panas, yang membuat napas
terengah, muka merah dan mata mendelik, kalau kita merasa tidak senang lalu
marah, kita menghadapi kemarahan itu seperti kenyataannya, kita mengamatinya,
memandang dan mengamati saja penuh perhatian, penuh kewaspadaan tanpa pamrih
apa-apa, tanpa ingin menguasai menekan atau melenyapkan. Kalau kita memandang
dan mengamati dengan penuh perhatian tanpa perasaan atau keinginan apa-apa,
berarti kita sadar waspada, maka semua akan nampak terang dan kemarahan akan
musnah tanpa kita hilangkan atau tekan.
Hal ini tak
mungkin dapat dimengerti tanpa penghayatan, tanpa pelaksanaan dalam kehidupan
sehari-hari! Dan kalau kemarahan sudah lenyap sendiri, tanpa dilenyapkan, kalau
api kemarahan sudah padam, bukan ditutup sekam, melainkan padam sama sekali,
kalau di dalam batin sudah tidak ada lagi kemarahan, apa perlunya kita belajar
sabar? Tidak dibutuhkan lagi apa yang dinamakan kesabaran itu.
Kemarahan
dalam hati Syanti Dewi mendatangkan perasaan nelangsa, iba diri dan duka. Dia
merasa hidupnya sengsara, penuh derita batin, dan tidak bahagia.
“Ahhh,
betapa buruk nasibnya...,“ dia mengeluh di antara tangisnya. “Betapa jauh dari
kebahagiaan...“
Gadis ini
menghapus air matanya, lalu duduk bersandarkan batang pohon, termenung dengan
hati sayu dan sepi. Mulailah Puteri Bhutan ini bertanya-tanya apakah
sesungguhnya kebahagiaan hidup! Apakah yang dapat mendatangkan kebahagiaan?
Harta bendakah?
Dia adalah
seorang puteri kerajaan yang tentu kaya raya, dan apa pun juga yang
diinginkannya dalam bentuk benda, sudah pasti akan dapat dia peroleh. Dia
memiliki harta benda berlimpahan, namun tetap tidak berbahagia. Jelas bukan
dalam harta bendalah letaknya kebahagiaan! Lalu di mana? Apakah dalam kedudukan
dan kemuliaan? Juga tidak, karena sebagai puteri raja yang dimanja,
kedudukannya tinggi dan terhormat, kemuliaan selalu dirasakan semenjak dia
kecil, namun semua itu akhirnya, seperti juga pada harta benda, mendatangkan
kebosanan dan dia tetap tidak berbahagia. Apakah dalam petualangan hidup? Juga
tidak. Hal itu pun hanya berlalu begitu saja, yang tinggal hanya kenangan
hampa. Ataukah dalam cinta? Dia saling mencinta dengan Tek Hoat, akan tetapi
selama ini lebih banyak dukanya dirasakan dari cintanya ini dari pada sukanya.
Memang
kasihan sekali dara jelita puteri bangsawan ini. Wajahnya pucat dan basah air
mata, rambutnya yang hitam panjang dan halus itu kusut seperti pakaiannya pula,
sinar mata yang biasanya bening, jeli dan tajam itu kini sayu tak bercahaya,
dan segala yang nampak oleh sepasang mata itu buruk dan membosankan belaka,
seolah-olah matahari sudah kehilangan cahayanya. Dia terbenam dalam lautan duka
yang makin mendahsyat oleh gelombang iba diri.
Memang
kasihanlah Puteri Syanti Dewi atau siapa saja yang menganggap cinta kasih
sebagai suatu hal yang harus menjadi sumber kesenangan menjadi suatu hal yang
harus menjadi pemuas keinginan diri sendiri belaka, karena siapa saja yang
beranggapan demikian sudah pasti akan menemui kegagalan dalam cinta, sudah
pasti pada suatu waktu akan kecewa karena cinta kasih yang tadinya dianggap
sebagai sumber kesenangan ternyata tidaklah seperti yang diharapkan semula.
Setiap bentuk kesenangan sudah pasti tak terpisahkan lagi dari rasa takut
kehilangan, kekecewaan dan kedukaan, maka jika cinta kasih disamakan dengan
sumber kesenangan sudah pasti tak terpisahkan lagi dari rasa takut kehilangan,
kekecewaan dan kedukaan, maka jika cinta kasih disamakan dengan sumber
kesenangan, jelaslah bahwa hal itu berarti bahwa cinta kasih juga merupakan
sumber kekecewaan dan kedukaan! Kesenangan mempunyai kebalikannya, yaitu
kedukaan. Maka, kalau kesenangan terluput, datanglah kekecewaan atau kedukaan.
Patutkah
kalau kita menyamakan cinta kasih dengan kesenangan? Benarkah anggapan
sementara orang bahwa cinta kasih adalah pemuasan birahi belaka? Tepatkah kalau
cinta kasih mendatangkan cemburu, kemarahan, kebencian, dan kedukaan?
Tidaklah
mungkin untuk menentukan bahwa cinta kasih adalah begini atau begitu. Cinta
kasih bukanlah benda atau hal mati yang sudah dapat ditentukan sifatnya. Namun
jelas bukan cinta kasih kalau mendatangkan duka! Dan pementingan mendatangkan
duka, pengejaran kesenangan mendatangkan duka, jadi semua itu bukanlah cinta
kasih!
Yang
menimbulkan suka dan duka bukan cinta kasih. Yang masih dicengkeram suka duka
tak mungkin mengenal bahagia. Cinta kasih atau bahagia tentu jauh lebih tinggi
di atas alam suka duka!
Merasa
betapa dirinya amat celaka dan bernasib buruk, Syanti Dewi merasa nelangsa dan
iba diri. Semenjak menjadi murid Ouw Yan Hui, sedikit banyak watak dan sifat
dingin keras dari tokoh wanita majikan Pulau Ular Emas itu menular kepadanya.
Tidak,
pikirnya sambil mengepal tinju. Aku tidak akan membiarkan diri merendah lebih
lama lagi! Dia tidak akan sudi merendah kepada Tek Hoat, betapa besar pun rasa
cintanya kepada pemuda itu. Sudah tiba saatnya dia bersikap sebagai seorang
puteri raja! Kini sudah tiba waktunya bagi Tek Hoat untuk menerima giliran,
bersusah payah mencarinya, menderita karena dia, dan akhirnya bertekuk lutut
padanya, membuktikan cinta kasihnya, kalau memang Tek Hoat benar cinta
kepadanya!
Syanti Dewi
terbangun dengan kaget karena dia seperti mendengar teriakan-teriakan suara Tek
Hoat yang memanggil-manggilnya. Dia terloncat dan membelalakkan mata, memandang
ke kanan kiri namun sunyi saja. Kiranya dia mimpi! Tanpa disadari, ketika
melamun dengan hati penuh duka di bawah pohon tadi, dia tertidur saking
lelahnya. Dan kini matahari telah condong ke barat, keadaan di dalam hutan itu
sudah mulai remang-remang.
Perutnya
terasa lapar bukan main. Syanti Dewi meneliti keadaan di sekeliling tempat itu.
Hutan yang sunyi, bahkan suara burung pun tidak didengarnya, padahal pada saat
seperti itu biasanya burung-burung beterbangan kembali ke sarang mereka. Jelas
bahwa tempat ini tidak dihuni burung, dan ini berarti pula bahwa di tempat itu
tidak terdapat pohon-pohon yang berbuah. Padahal perutnya amat lapar. Di hutan
itu tidak dapat mengharapkan memperoleh makanan, dan dia pun tidak tahu mana
dusun terdekat. Agaknya dia harus menahan rasa lapar di perutnya sampai lewat
malam itu!
“Hemmm, pada
hari dan malam pertama saja aku sudah harus menderita lagi karena ulah Tek
Hoat!” Dia menggerutu sambil mengepal tinju dengan hati gemas.
Kalau tidak
ada Tek Hoat yang bersikap menyakitkan hatinya, tentu saat itu dia berada di
istana ayahnya, melepas rindunya kepada ayah bundanya dan mereka tentu sedang
bercakap-cakap dengan gembira, menghadapi hidangan-hidangan yang amat lezat dan
yang disukainya. Dia berjalan menyusup lebih dalam ke hutan itu, dengan harapan
akan melihat rumah-rumah orang. Kalau ada dusun, dia tentu akan bisa
mendapatkan makanan, baik secara meminta, membeli, atau mencuri sekali pun!
Akan tetapi ternyata hutan itu kecil saja dan setelah dia menembus hutan itu,
dia tiba di padang rumput yang luas!
Sialan,
pikirnya memandang ke depan, pada padang rumput yang agaknya tidak bertepi itu.
Angin senja ditiup dan permukaan padang rumput itu bergelombang, merupakan
lautan hijau kemerahan karena bermandikan cahaya matahari senja. Bukan main
indahnya pemandangan di saat itu, akan tetapi keindahan itu tidak nampak oleh
mata Syanti Dewi karena dia sedang merasa jengkel dan duka, apa lagi rasa lapar
di perutnya amat menyiksa.
Memang
demikianlah keadaan hidup kita manusia ini. Keindahan dan kebahagiaan itu sudah
ada di mana pun dan kapan pun. Akan tetapi keindahan itu tidak nampak dan
kebahagiaan itu tidak terasa oleh kita apa bila batin kita penuh dengan masalah
masalah kehidupan, penuh dengan pertentangan, kekhawatiran, kemarahan, keputus
asaan, kebencian, yang kesemuanya itu mendatangkan duka.
Jelaslah
bahwa keindahan dan kebahagiaan itu tidak dapat dicari diluar diri kita, karena
sumber dari segalanya berada di dalam diri kita sendiri. Kalau batin kita sudah
bebas dari segala pamrih, bebas dari segala macam keinginan memperoleh hal-hal
yang tidak ada, maka akan nampaklah segala keindahan yang terbentang di hadapan
kita, di mana pun dan bilamana pun, akan terasalah kebahagiaan dan cinta kasih!
Hal hal seperti ini tidak mungkin dapat dimengerti kalau hanya dibicarakan
sebagai teori hampa belaka, melainkan harus dihayati di dalam kehidupan
sehari-hari itu sendiri.
Makin besar
penderitaannya, makin besar pula Syanti Dewi menimpakan kesalahannya kepada Tek
Hoat. Makin besar pula kemarahannya kepada pemuda itu dan makin besar pula
tekadnya untuk membiarkan Tek Hoat menderita sebelum dia mau ‘mengalah’. Dia
sudah membuktikan cintanya terhadap Tek Hoat, maka kini dia pun menuntut agar
pemuda itu membuktikan cintanya pula, dengan cara bersengsara untuknya! Aihhh,
betapa sudah gilanya orang yang tercengkeram oleh cinta! Cinta yang
sesungguhnya bukan lain hanyalah nafsu menyenangkan diri sendiri belaka,
melalui orang lain!
Tiba-tiba
Syanti Dewi mendengar suara gaduh dan dari depan nampak serombongan orang
berlari-lari ketakutan ke arah hutan dari mana dia muncul.
Ahhh, ada orang!
Hati puteri itu menjadi girang. Di mana ada orang tentu ada pula makanan! Akan
tetapi dia segera mengerutkan alisnya ketika melihat orang-orang itu semua
dalam keadaan ketakutan dan dari pakaian mereka, dia dapat menduga bahwa mereka
adalah orang-orang dusun. Anehnya, di antara mereka terdapat pula orang orang
yang agaknya memiliki kepandaian lumayan karena dapat berlari cepat dan
gerak-gerik mereka jelas menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang dusun!
Ketika
orang-orang itu melihat Syanti Dewi di tepi hutan, mereka memandang dengan
terheran-heran karena sungguh merupakan hal yang aneh melihat seorang dara yang
sedemikian cantiknya, lebih mirip bidadari dari pada manusia, sendirian saja di
tepi hutan pada waktu senja seperti itu! Orang-orang yang memang sedang panik
dan ketakutan ini makin menjadi takut, mengira bahwa Syanti Dewi sudah pasti
bukan manusia, karena kalau manusia, seorang gadis secantik jelita itu mana
mungkin sendirian saja di senja hari di tepi hutan! Maka mereka menjadi pucat
terbelalak, tidak tahu lagi harus lari ke mana.
Akan tetapi,
beberapa orang yang kelihatan gagah perkasa itu, memandang kepada Syanti Dewi
dengan kaget, kemudian mereka berseru girang dan lari menghampiri, terus
langsung menjatuhkan diri di depan kaki dara bangsawan itu.
“Sang
Puteri... tak disangka hamba dapat bertemu dengan Paduka di sini..., mari hamba
antarkan pulang dengan segera karena ada bahaya mengancam di dusun sana!”
Syanti Dewi
mengerutkan alisnya. Orang-orang ini telah mengenalnya dan hal itu tidak mengherankan
karena daerah ini tidak jauh dari Kota Raja Bhutan.
“Siapakah
kalian dan mengapa kalian berlari-lari seperti ini?” tanyanya tenang.
“Hamba
berlima adalah pengawal-pengawal yang diutus oleh Panglima Jayin untuk mencari
jejak Paduka. Hamba tadinya merupakan pasukan kecil terdiri dari dua belas
orang. Ketika hamba sekalian tiba di dusun di luar padang rumput ini, hamba
melihat serombongan orang kate yang aneh sedang mengacau di dusun. Sebagai
prajurit prajurit Bhutan tentu saja hamba sekalian segera turun tangan
menentang gerombolan itu, akan tetapi sungguh celaka, Sang Puteri...“
Melihat
orang yang bercerita itu kelihatan berduka dan empat orang prajurit lainnya
kelihatannya takut-takut dan menoleh ke arah belakang, Syanti Dewi mendesak,
“Mengapa? Apa yang terjadi selanjutnya?”
Sementara,
itu, orang-orang dusun yang ikut melarikan diri tadi kini pun sudah berlutut
menghadap Syanti Dewi ketika mereka mendengar bahwa dara cantik jelita itu
bukan lain adalah Puteri Bhutan yang amat terkenal itu. Mereka sudah mendengar
bahwa sang puteri ini selain cantik jelita seperti bidadari, juga memiliki
kepandaian tinggi, maka begitu melihat munculnya puteri jelita ini secara aneh
di tepi hutan, apa lagi melihat lima orang yang lihai itu demikian
menghormatinya, mereka pun menjadi girang dan timbul harapan dalam hati mereka
yang gelisah dan putus asa.
“Sungguh
celaka, Sang Puteri, gerombolan orang cebol itu lihai bukan main. Bukan saja
hamba sekalian dipukul mundur, bahkan tujuh orang teman hamba tewas oleh mereka
dan hamba berlima tentu akan tewas pula kalau tidak cepat melarikan diri untuk
mencari bantuan. Hamba hendak melapor ke kota raja.”
“Hemmm, siapakah
mereka itu? Dan apa yang mereka lakukan di dusun?” Syanti Dewi bertanya dengan
marah.
“Hamba
sendiri tidak tahu siapakah mereka. Menurut cerita para penghuni dusun, mula
mula yang muncul hanya seorang kakek cebol yang aneh, yang tinggal di dalam kuil
tua di dusun itu. Akan tetapi, munculnya kakek ini disusul kematian para hwesio
di kuil itu yang jumlahnya hanya empat orang dan kuil itu sama sekali
dikuasainya. Kemudian, berturut-turut bermunculan orang-orang cebol yang lihai
dan ternyata dusun itu mereka jadikan semacam tempat pertemuan besar antara
orang-orang cebol. Mereka lalu memaksa penduduk untuk melayani mereka,
menyediakan makanan setiap hari untuk mereka, dan selain mereka menuntut
makanan yang mahal-mahal, juga mereka mulai mengganggu wanita...!”
“Keparat!”
Syanti Dewi mengepal tinju dengan marah.
“Penduduk
dusun tidak ada yang berani melawan. Lalu hamba dua belas orang secara
kebetulan lewat di dusun itu dalam usaha hamba mencari jejak Paduka, dan begitu
mendengar laporan mereka, hamba lalu menyerbu ke kuil dan akibatnya, tujuh
orang teman hamba tewas dan orang-orang cebol itu mengamuk, membunuhi
orang-orang dusun karena menuduh penduduk dusun sengaja melapor kepada
prajurit-prajurit kerajaan.”
“Hemmm,
kalau begitu kalian boleh minta bantuan ke kota raja, dan aku sendiri akan
menghadapi mereka.”
“Akan
tetapi, mereka itu lihai bukan main...,“ prajurit itu berkata dengan khawatir.
“Aku tidak
takut. Besok pagi-pagi aku akan ke sana, biar diantar oleh beberapa orang
penghuni dusun, dan kalian sekarang juga boleh pergi ke kota raja mencari bala
bantuan.”
Lima orang
prajurit itu memberi hormat dan segera melanjutkan perjalanan mereka ke kota
raja, sedangkan Syanti Dewi mengajak para penghuni dusun itu bermalam di hutan
sambil mendengarkan penuturan mereka. Juga dia tidak ragu-ragu untuk minta
kepada mereka memasakkan makanan sekedarnya dari perbekalan mereka. Biar pun
masakan yang dihidangkan dari perbekalan mereka itu adalah masakan sederhana
sekali dari para penghuni dusun, namun nyatanya bagi Syanti Dewi, belum pernah
dia makan selezat itu selama ini! Sambil mendengar penuturan orang-orang dusun
sebangsanya itu, dia makan dengan lahap, tanpa mempedulikan tatapan mata penuh
kagum dan hormat dari puluhan pasang mata penghuni dusun yang mengungsi itu.
Nyammm….
Siapakah
sebenarnya gerombolan orang cebol yang telah mengacau dalam dusun itu? Kakek
cebol pertama yang memasuki dusun itu bukan lain ialah Su-ok Siauw-siang-cu,
orang keempat dari Im-kan Ngo-ok (Si Lima Jahat Dari Akherat)!
Seperti telah
kita ketahui, Twa-ok, Ji-ok, Su-ok, dan Ngo-ok telah bertemu dengan Pendekar
Super Sakti dan mereka berempat terdesak mundur. Karena merasa penasaran mereka
itu lalu mengajukan tantangan kepada Pendekar Super Sakti untuk mengadakan
pertemuan di gurun pasir yang berada di dataran Bukit Chang-pai-san dan
tantangan itu diterima pula oleh Pendekar Super Sakti!
Tentu saja
empat orang datuk kaum sesat itu cepat mengadakan persiapan untuk keluar
sebagai pemenang dalam pertemuan itu, karena mereka maklum betapa lihainya
Pendekar Super Sakti yang telah mengalahkan mereka berempat dan mereka
mengambil keputusan untuk dapat menebus kekalahan dengan persiapan sebaik
mungkin. Untuk persiapan inilah maka Su-ok, kakek cebol yang tingginya hanya
satu seperempat meter itu meninggalkan rombongannya, pergi ke barat untuk minta
bantuan dari saudara-saudaranya, yaitu sekumpulan orang cebol yang tinggal di
sebuah lembah di lereng Pegunungan Himalaya, di sebelah timur batas Kerajaan
Bhutan! Memang dari sinilah Su-ok berasal, dan di tempat ini dia mempunyai
saudara-saudara seperguruan yang selain lihai-lihai, juga semua bertubuh cebol
katai seperti dia!
Seperti juga
Su-ok Siauw-siang-cu yang menjadi datuk kaum sesat, orang-orang cebol lihai
yang menjadi saudara-saudaranya itu pun bukan termasuk golongan orang baik
baik. Maka ketika mereka berkumpul di dusun yang dipilih oleh Su-ok sebagai
tempat berkumpul itu, mereka berlaku sewenang-wenang, bukan hanya memaksa
penduduk untuk memasakkan daging dan mencari arak untuk mereka berpesta-pora,
akan tetapi bahkan mereka tak segan-segan untuk memaksa wanita-wanita muda
untuk menemani mereka dan melayani mereka!
Daerah
Pegunungan Himalaya memang merupakan daerah yang liar dan penuh rahasia aneh.
Banyak bagian dari daerah ini yang masih belum pernah didatangi manusia karena
selain liar dan amat luas, juga terlampau tinggi, penuh salju dan amat berbahaya
dan sukar sekali didaki. Menurut dongeng, banyak daerah rahasia yang
tersembunyi dan tidak pernah dapat dipijak kaki manusia dan di tempat-tempat
rahasia ini tinggal mahluk-mahluk aneh, kabarnya menurut dongeng itu terdapat
manusia-manusia salju yang berbulu putih dan tinggi besar seperti raksasa, ada
pula manusia-manusia monyet, yaitu monyet-monyet besar yang bertubuh manusia
atau manusia-manusia raksasa berwajah monyet, dan bahkan di Himalaya ini pula
tempat tinggal para manusia dewa, pertapa-pertapa suci, dan sebagainya yang
aneh-aneh lagi menurut khayal kelompok dan golongan masing-masing menurut
kepercayaan masing-masing pula.
Dan
orang-orang cebol ini merupakan segolongan manusia aneh pula yang bertempat
tinggal di sebuah lereng Pegunungan Himalaya dan yang menjadi kampung halaman
Su-ok. Di sini dia mempunyai saudara-saudara pula dan hampir semua orang cebol
ini memiliki ilmu kepandaian yang aneh-aneh, bahkan di antara mereka ada lima
orang yang menjadi sute-sute (adik-adik seperguruan) dari Su-ok, maka dapat
dibayangkan betapa lihainya mereka itu setelah kini berkumpul menjadi satu di
dusun itu! Pertemuan ini selain dimaksudkan oleh Su-ok untuk mencari bantuan
saudara-saudaranya, juga merupakan semacam pertemuan dengan Su-ok yang lama
tidak meninjau kampung halaman, dan merupakan pertemuan gembira yang dirayakan
dengan pesta. Akan tetapi celakanya, orang-orang cebol itu yang hidup dalam
keadaan miskin sederhana di lereng mereka, kini berpesta di dalam dusun dan
memaksa penghuni dusun yang lemah untuk melayani mereka.

Karena
khawatir kalau-kalau tidak akan mampu menghadapi Pendekar Super Sakti yang amat
lihai, maka Su-ok bertugas untuk minta bantuan saudara-saudaranya, juga
sekalian mengundang Sam-ok atau Koksu Nepal yang berada di Nepal, tidak begitu
jauh dari tempat di mana dia berkumpul dengan saudara-saudaranya ini.
Sungguh
patut dikasihani para penduduk dusun yang didatangi orang-orang cebol itu. Biar
pun jumlah mereka hanya ada belasan orang, dan rata-rata bertubuh kecil pendek
pula, namun setiap orang penduduk dusun yang coba-coba berani menentang, dengan
sekali pukul saja roboh muntah darah! Maka, ketika mereka itu menculik beberapa
orang wanita muda, yang menjadi suami wanita itu, atau ayah atau keluarga
mereka, hanya mampu mengutuk dalam hati saja, dengan wajah pucat tangan
terkepal mereka hanya dapat melihat betapa wanita-wanita itu diseret dan dibawa
masuk ke dalam rumah-rumah terbesar di dusun itu yang untuk sementara waktu
diduduki oleh para orang cebol.
Su-ok
sendiri bersama lima orang sute-nya berpesta-pora dalam kuil, dilayani oleh
lima orang gadis tercantik di dusun itu yang telah dipilih oleh lima orang
sute-nya. Su-ok sendiri sudah sejak lama tidak lagi suka mengganggu wanita, dan
hanya membiarkan lima orang sute-nya dan para saudara lain untuk memuaskan diri
di dusun itu, sambil tersenyum melihat betapa wanita-wanita itu menjerit dan
menangis, takut dan juga jijik melihat lagak orang-orang katai yang buas itu.
Akan tetapi,
melihat betapa semua laki laki di dalam dusun itu tidak ada yang berani
menentang, akhirnya wanita-wanita yang dipilih oleh gerombolan orang cebol itu
terpaksa menerima nasib sambil menangis. Juga lima orang gadis yang kini
melayani Su-ok dan lima orang sute-nya makan minum di dalam kuil, tidak lagi
memperlihatkan sikap melawan, hanya melayani sambil bermuram durja, dengan
pakaian dan rambut kusut, muka pucat dan air mata sudah mengering, kalau
sekali-kali digoda oleh mereka dan tubuh mereka diraba, mereka itu hanya
menunduk saja tanpa menolak akan tetapi juga tidak pernah mau tersenyum.
Keadaan lima
orang sute dari Su-ok itu juga sama mengerikan seperti keadaan Su-ok
Siauw-siang-cu sendiri. Melihat wajah mereka, jelaslah bahwa mereka itu adalah
orang orang yang sudah berusia sedikitnya empat puluh tahun, dan tidak ada
seorang pun di antara mereka yang berwajah menyeramkan, sungguh pun tidak ada
pula yang dapat disebut tampan. Akan tetapi, karena tubuh mereka itu pendek
kecil, mereka itu nampak seperti anak-anak yang sudah tua!
Sebetulnya
mereka itu nampak lebih lucu dari pada menakutkan. Akan tetapi karena tindakan
mereka demikian buas, terutama sekali dalam menghadapi para wanita yang mereka
tawan, mereka itu demikian penuh nafsu sehingga sama sekali bukan kanak kanak
lagi, maka para wanita itu merasa jijik dan juga takut. Kelihatannya saja
mereka itu bertubuh kecil-kecil, namun kalau sudah menarik wanita-wanita itu ke
kamar masing masing, mereka buas melebihi binatang liar!
Setelah
disekap selama dua hari dua malam, lima orang gadis itu kelihatan jinak, akan
tetapi sebetulnya mereka itu bukan jinak, melainkan sudah patah semangat mereka
untuk melawan, penderitaan mereka sudah melampaui batas pertahanan sehingga
mereka itu menjadi seperti boneka-boneka hidup yang berwajah pucat dan bergerak
seperti dalam keadaan tidak sadar saja. Mereka menurut saja apa yang
diperintahkan oleh para orang cebol itu, seperti mayat-mayat hidup.
“Ehh,
Suheng, apakah engkau sekarang sudah menjadi pertapa betul-betul dan sudah
menjauhkan diri dari wanita?”
“Ha-ha-ha,
Suheng agaknya hendak menjadi dewa, maka tidak mau menjamah wanita!”
Mendengar
kelakar para sute-nya itu, Su-ok tertawa bergelak. “Siapa mau menjadi pertapa
atau dewa? Ha-ha-ha, aku masih suka akan semua kesenangan dunia, akan tetapi
terus terang saja, aku bosan dengan perempuan, kecuali kalau... ehh, kalau ada
seorang perawan yang benar-benar cantik molek. Katakanlah... ehh, puteri
istana. Nah, kalau ada perawan istana, tentu saja aku tidak menampik. Akan
tetapi segala macam perawan dusun? Huh, menghambur-hamburkan sumber tenaga
saja! Padahal kita akan menghadapi lawan tangguh.”
Lima orang
sute-nya menyeringai dan tangan kiri mereka segera meraih pinggang ramping dari
tawanan masing-masing dan menarik tubuh wanita-wanita itu sehingga mereka
terduduk di atas pangkuan lima orang cebol itu. Sambil menggunakan tangan kiri
untuk menggerayangi tubuh-tubuh wanita itu yang hanya memejamkan mata dan
menggeliat sedikit, lima orang cebol itu melanjutkan makan minum.
“Ha-ha-ha,
Suheng mengapa kini menjadi demikian kecil hati? Menghadapi seorang lawan saja,
apa sih beratnya? Biar pun lawan itu mempunyai nama menjulang setinggi langit
seperti... apa yang kau katakan tadi, Pendekar Super Sakti? Biar pun namanya
setinggi langit, menghadapi ilmu kami berlima yang baru kami ciptakan, tanggung
dia akan terjungkal!”
“Benar,
Suheng, tidak perlu khawatir. Selama Suheng pergi, kami tidak pernah lalai
menggembleng diri, bahkan kami telah berhasil menciptakan kerja sama berlima
yang merupakan barisan berlima dan kami namakan Khai-lo-sin Ngo-heng-tin
(Pasukan Lima Unsur Dari Malaikat Pembuka Jalan). Biar seorang lawan mempunyai
kepandaian seperti dewa sekali pun, menghadapi tin kami tentu akan celaka dia!”
Mendengar
ucapan para sute-nya itu, agak lega rasa hati Su-ok. Dia tahu bahwa
masing-masing sute-nya ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, hanya
setingkat lebih rendah dari pada tingkatnya sendiri, dan mungkin setingkat
dengan kepandaian Ngo-ok, maka kalau mereka berlima ini berhasil menciptakan
barisan seperti itu, agaknya tentu amat lihai. Dia akan dapat membanggakan diri
kalau sute-sute-nya ini berhasil mengalahkan Pendekar Super Sakti, dan siapa
tahu, berkat kelihaian para sute-nya, kedudukannya dalam Im-kan Ngo-ok dapat naik!
“Tapi engkau
hanya mau kalau mendapatkan perawan istana, wah, wah, jangkauanmu terlalu
tinggi, Suheng! Puteri istana? Ha-ha-ha, untuk itu engkau harus lebih dulu
menghadapi bala tentara kerajaan yang laksaan orang jumlahnya. Mana mungkin?”
Su-ok hanya
tersenyum lebar karena pada saat itu dia memang tidak berselera untuk main-main
dengan wanita. Mereka melanjutkan makan minum dan lima orang sute dari Su-ok
itu mulai mabuk, mereka tertawa-tawa dan mereka makin buas mempermainkan wanita
tawanan masing-masing secara terbuka sehingga lima orang wanita itu makin
tersiksa, akan tetapi rintihan dan keluhan mereka hanya lirih saja karena
mereka sudah tahu betapa tangis dan jerit tidak akan menolong keadaan mereka.
Malam makin
larut dan tiba-tiba pintu ruangan kuil itu terbuka dari luar dan muncullah
seorang cebol yang masuk dengan muka pucat. “Twako.... celaka... ada seorang
musuh menyerbu!” katanya sambil memandang kepada Su-ok.
Su-ok
bangkit berdiri, alisnya berkerut. “Hemmm, hanya ada seorang musuh saja, mengapa
engkau begitu ribut?”
“Tapi...
dia.... dia itu lihai bukan main... beberapa orang dari kami telah roboh...“
“Keparat!
Siapa dia?” Su-ok marah sekali mendengar di antara saudaranya ada yang roboh.
“Entahlah...
dia seorang wanita cantik... dan dia merobohkan A-chui yang berada dalam kamar
seorang wanita... dan dua orang saudara kami lagi roboh ketika mengeroyoknya.
Dia kini sedang dikepung, akan tetapi dia lihai sekali maka aku pergi mencari
Twako...“
“Biarkan
kami pergi, Suheng!” kata lima orang cebol itu yang sudah berdiri dan
melepaskan wanita tawanan masing-masing. Su-ok mengangguk dan dengan cepat lima
orang cebol itu meloncat keluar, diikuti oleh Su-ok.
Kagetlah
hati Su-ok dan lima orang sute-nya ketika mereka tiba di tengah dusun, di
pekarangan rumah kepala dusun yang diterangi oleh beberapa buah lampu gantung
besar sehingga keadaan di situ cukup terang. Mereka melihat belasan orang
saudara mereka mengeroyok seorang wanita cantik dan gerakan wanita itu sungguh
membuat mereka terkejut setengah mati karena gerakan itu amat cepatnya
seolah-olah tubuh wanita itu seperti seekor burung terbang saja! Dan sudah ada
tiga orang saudara mereka yang roboh dan merintih kesakitan, tak mampu bangun
lagi.
“Tahan...!”
bentak seorang di antara lima orang sute dari Su-ok dengan suara nyaring. Dia
ini adalah pimpinan dari lima orang cebol itu, tubuhnya juga kate seperti
saudara saudaranya, namun mukanya penuh brewok, rambutnya juga tebal panjang,
tidak seperti yang lain-lain karena sebagian besar dari orang-orang cebol itu
seperti Su-ok, miskin rambut dan banyak yang botak!
Melihat
munculnya Su-ok dan lima orang sute-nya, para orang cebol yang sudah kewalahan
itu menjadi girang dan mereka mundur, membiarkan enam orang tokoh jagoan mereka
turun tangan. Akan tetapi Su-ok yang ingin sekali menyaksikan kehebatan lima
orang sute-nya dan yang kini mendapatkan kesempatan untuk menguji mereka sudah
meloncat ke samping dan memberi isyarat kepada mereka semua untuk mundur
sehingga kini lima orang sute-nya yang mengurung wanita cantik itu.
Dia
memperhatikan dan merasa heran karena wanita ini belum pernah dilihatnya, akan
tetapi wanita ini benar-benar amat cantik jelita dan anggun. Sebagai seorang
yang bermata tajam dan banyak pengalaman, dia tahu bahwa wanita ini bukan
seorang muda lagi sungguh pun amat cantik dan kelihatan muda, tidak akan lebih
dari dua puluh lima tahun nampaknya, dan jelaslah bahwa wanita ini bukan
seorang perawan. Akan tetapi dia merasa kagum karena tadi dia telah melihat
gerakan ginkang yang amat luar biasa, dan dapat menduga bahwa wanita ini tentu
seorang ahli ginkang yang lihai sekali. Selain cantik jelita, juga wanita itu
memakai pakaian yang indah gemerlapan, dari sutera mahal, rambutnya digelung
tinggi ke atas dan dihias dengan taburan permata. Seperti seorang puteri
bangsawan saja!
Dugaan Su-ok
tidaklah benar, sungguh pun wanita itu memang patut menjadi seorang puteri atau
ratu istana! Dia itu bukan lain adalah Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui, majikan dari
Pulau Ular Emas! Tidaklah mengherankan kalau gerakannya amat cepat luar biasa,
karena dia berjuluk Bu-eng-kwi (Setan Tanpa Bayangan) dan dia telah mewarisi
ilmu ginkang yang amat hebat dari Kim Sim Nikouw.
Seperti
telah kita ketahui, wanita ini hidup sebagai ratu di Kim-coa-to dan telah pula
diceritakan bahwa selama beberapa bulan lamanya Puteri Bhutan Syanti Dewi
tinggal di pulau itu dan menjadi murid wanita cantik ini dan Syanti Dewi
akhirnya melarikan diri karena tidak tahan melihat kebiasaan aneh yang dianggap
mengerikan dan menjijikkan dari gurunya dan juga Maya Dewi, nenek cantik yang
memiliki ilmu mempercantik diri dan membikin wanita awet muda itu. Apa lagi
ketika dia pun mulai terancam oleh mereka itu untuk diajak melakukan perbuatan
yang dianggap mengerikan itu, yaitu permainan cinta antara wanita dengan
wanita, maka Syanti Dewi lalu melarikan diri.
Ketika
mengetahui bahwa puteri itu melarikan diri, Ouw Yan Hui terkejut bukan main,
karena dia sudah benar-benar jatuh cinta kepada muridnya itu. Dia merasa
menyesal telah membikin takut muridnya, dan dia merasa bahwa kalau dia harus
berpisah dari Syanti Dewi, dia tentu akan merasa berduka selalu, maka wanita
ini lalu melakukan pengejaran dan mencari-cari. Karena dia menduga bahwa
muridnya itu tentu kembali ke Bhutan, maka dia pun tidak ragu-ragu melakukan
perjalanan jauh sampai ke tapal batas negara Bhutan dan pada sore hari itu
tibalah dia di dusun, di mana gerombolan orang cebol sedang membikin kekacauan.
Ketika
mendengar jerit tangis wanita dari sebuah rumah, Ouw Yan Hui cepat menyerbu
rumah itu dan melihat seorang laki-laki cebol sedang memperkosa seorang wanita,
kemarahannya memuncak. Seperti kita ketahui, Ouw Yan Hui adalah seorang wanita
yang membenci pria karena dia pernah dibikin patah hati oleh pria. Karena
inilah maka dia lebih mendekati wanita dan melakukan praktek-praktek perjinahan
antara sesama wanita. Maka, begitu melihat seorang wanita muda menjerit-jerit
dan meronta-ronta dalam terkaman seorang laki-laki cebol yang buas itu, dia
segera menerjang maju dan sekali tangkap dan renggut, dia dapat melepaskan laki-laki
cebol itu dari wanita yang diperkosanya, kemudian melemparkan laki-laki cebol
itu keluar.
Sebelum
laki-laki itu sempat bangkit, Ouw Yan Hui yang bergerak ringan seperti burung
terbang telah berada di sampingnya dan dengan penuh kebencian wanita ini lalu
mengejar laki-laki cebol yang telanjang bulat itu dengan tendangan-tendangan
kakinya. Laki-laki itu berusaha mengelak dan menangkis karena dia bukanlah
orang lemah, namun setiap kali hendak bangkit, dia roboh lagi oleh
tendangan-tendangan yang amat tepat dan amat keras datangnya. Akhirnya,
laki-laki itu roboh pingsan setelah muntah darah dan seluruh tubuhnya penuh
luka akibat tendangan-tendangan yang dilakukan dengan penuh kemarahan itu.
Tentu saja
peristiwa ini menimbulkan kegemparan besar. Dua orang cebol yang mendengar
suara gaduh itu memburu keluar dan dapat dibayangkan betapa kaget dan marah
hati mereka melihat seorang wanita cantik sedang menyiksa seorang kawan mereka
dengan tendangan-tendangan keras yang membuat kawan mereka terguling guling tanpa
mampu melawan sama sekali, bahkan kawan mereka itu terkulai seperti mati.
“Dari mana
datangnya siluman betina ini?” bentak seorang di antara mereka.
“A-khui,
bunuh saja dia!” bentak orang kedua.
Dua orang
cebol itu sudah menyerang Ouw Yan Hui dari kanan kiri dan wanita ini maklum
bahwa orang-orang cebol di situ ternyata memiliki kepandaian yang hebat. Si
cebol yang disiksanya tadi pun amat kuat sehingga tendangan-tendangannya
akhirnya hanya membuat dia pingsan setelah muntah darah, tanda bahwa orang itu
memiliki tenaga dalam yang kuat. Kini, serangan dua orang cebol ini amat hebat
pula, biar pun mereka itu bertubuh kecil pendek, namun gerakan mereka gesit dan
pukulan-pukulan mereka mengandung kekuatan besar.
Dia cepat
mengelak dan begitu dia mengerahkan ginkang-nya, dua orang cebol itu berseru
kaget karena mereka kehilangan bayangan lawan. Selagi mereka bingung, tiba tiba
seorang dari mereka memekik keras dan terpelanting karena tengkuknya telah kena
dihantam dengan tangan miring oleh Ouw Yan Hui sehingga dia terbanting dan
pingsan seketika. Orang kedua menubruk, akan tetapi dengan lincahnya Ouw Yan
Hui sudah mengelak dan lenyap lagi saking cepatnya gerakan tubuh wanita ini.
Untuk kedua kalinya, wanita ini merobohkan lawan dengan pukulan dari belakang
pada saat lawan bingung mencarinya.
Akan tetapi,
kini datanglah belasan orang cebol mengeroyoknya! Ouw Yan Hui terkejut. Tak
disangkanya di tempat itu demikian banyak terdapat orang-orang cebol yang
lihai. Dia tidak takut, akan tetapi juga tidak berani memandang ringan, maka
dengan mengandalkan ginkang-nya ia mengelak dan berloncatan ke sana-sini sambil
membalas setiap kali terbuka kesempatan. Dia dikeroyok banyak orang yang lihai,
namun karena menang cepat, dia bahkan berhasil mengobrak-abrik mereka dan
mendesak para pengeroyok yang menjadi kebingungan karena sebentar-sebentar
wanita di tengah tengah mereka itu lenyap!
Dan pada
saat itulah muncul Su-ok dan lima orang sute-nya. Kini lima orang sute dari
Su-ok itu telah mengepung Ouw Yan Hui. Melihat sikap mereka, Ouw Yan Hui dapat
menduga bahwa tentu mereka ini merupakan pimpinan-pimpinan dari orang-orang
cebol itu, maka dia bersikap waspada, melihat betapa lima orang itu mengambil
kedudukan di lima penjuru angin.
Si brewok
yang mengepalai Khai-lo-sin Ngo-heng-tin itu menghadapi Ouw Yan Hui, memandang
dengan penuh selidik dan diam-diam kagum akan kecantikan wanita yang telah
matang ini, yang selain memiliki wajah yang cantik dan kulit muka yang halus,
juga memiliki bentuk tubuh yang padat menggairahkan di balik pakaian indah itu.
Dia lalu
berkata dengan suara angker, “Siapakah nama Toanio dan mengapa Toanio
merobohkan tiga orang saudara kami?”
Pertanyaan
ini biasa dilakukan apa bila dua orang atau dua pihak kang-ouw saling jumpa dan
sebelum memulai pertandingan. Tetapi Ouw Yan Hui tersenyum mengejek karena dia
masih marah dan jijik melihat si cebol memperkosa wanita tadi, maka tentu saja
dia tidak sudi berkenalan dengan orang-orang ini.
“Siapakah
namaku tidak perlu kalian ketahui dan aku pun tidak butuh mengenal nama kalian.
Aku merobohkan orang bukan tanpa sebab. Si cebol jahanam itu memperkosa wanita,
masih baik aku belum keburu bikin mampus binatang itu! Dan dua orang cebol lain
roboh karena mereka menyerangku. Kalian sekarang mau apa?”
Bukan main
marahnya lima orang cebol yang menjadi sute Su-ok itu. Mereka memang tidak
ternama, tidak terkenal di dunia kang-ouw, namun suheng mereka adalah seorang
di antara Im-kan Ngo-ok yang menurut suheng mereka merupakan datuk-datuk kaum
sesat paling terkenal di dunia, dan wanita ini sama sekali tidak memandang mata
kepada mereka!
“Perempuan
sombong! Hayo lekas kau berlutut minta ampun, kemudian melayani kami berlima
sampai kami puas, baru engkau masih ada harapan untuk hidup terus!” bentak si
brewok yang mempunyai watak paling mata keranjang di antara mereka berlima.
Ouw Yan Hui
memang pembenci pria, akan tetapi yang paling dibencinya adalah laki laki mata
keranjang yang suka menghina wanita. Kini mendengar ucapan itu, kedua pipinya
yang putih halus itu sudah menjadi merah sekali, matanya mengeluarkan sinar
berkilat dan kedua tangannya dikepal. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara
melengking nyaring dan tanpa berkata apa-apa lagi, tubuhnya berkelebat dan dia
sudah menyerang si brewok dengan pukulan maut!
Cepat bukan
main gerakan Ouw Yan Hui ini, sampai si brewok menjadi terkejut dan tidak
melihat gerakan wanita itu, tahu-tahu tangan wanita itu sudah menusuk ke arah
ulu hatinya. Serangan maut! Si brewok berteriak kaget dan cepat melempar
tubuhnya ke belakang karena hanya itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan
diri dari cengkeraman maut itu. Dia melempar tubuh ke belakang, terus
bergulingan dan empat orang saudaranya sudah menyerbu dan menyerang Ouw Yan Hui
sehingga wanita ini tidak mampu untuk terus mendesak si brewok yang sudah
berloncatan bangun kembali dengan muka pucat dan keringat dingin bercucuran.
Nyaris nyawanya melayang dalam gebrakan pertama itu!
Kini
terjadilah perkelahian yang amat seru. Gerakan Ouw Yan Hui memang cepat bukan
main, akan tetapi kini dia menghadapi lima orang yang bergerak secara teratur
dan terlatih baik sehingga seolah-olah dia menghadapi seorang lawan saja yang
memiliki lima pasang tangan dan kaki, yang tentu saja dapat mengimbangi
kecepatannya, bahkan mengatasinya! Betapa pun dia mengerahkan ginkang-nya,
namun karena gerakan lima orang lawan itu seperti otomatis, terarah dan senada,
payah juga wanita itu menghadapi penyerangan yang tiada hentinya,
susul-menyusul dan sifatnya berubah-ubah itu.
Memang
itulah kehebatan Ngo-heng-tin dari lima orang ini. Selain dapat bekerja sama
dengan amat baiknya, saling membantu dan saling melindungi seperti dikemudikan
oleh satu otak saja, juga mereka menggunakan tenaga yang berubah-ubah sesuai
dengan sifat lima unsur (ngo-heng) dan karena mereka itu rata-rata telah
memiliki sinkang yang amat kuat, maka mereka merupakan kesatuan lima tenaga
yang amat hebat! Kalau melawan satu demi satu, jelas bahwa mereka berlima ini
bukan tandingan Ouw Yan Hui yang lihai. Andai kata mau dibuat ukuran, tingkat
kepandaian Ouw Yan Hui itu kurang lebih setingkat dengan kepandaian tiga di
antara pengeroyoknya disatukan! Jadi, kalau dia dikeroyok tiga, barulah seimbang.
Dan andai
kata lima orang itu tidak memiliki Khai-lo-sin Ngo-heng-tin yang membuat mereka
bergerak seolah-olah dikendalikan oleh satu otak, kiranya juga tidak mungkin
dapat mengalahkan Ouw Yan Hui. Akan tetapi, lima orang itu bergerak sedemikian
rupa sehingga seolah-olah lima orang menjadi satu, dan ini terlalu kuat bagi
Ouw Yan Hui. Dalam mengadu tenaga, lima orang itu selalu menyatukan tenaga
sehingga kembali Ouw Yan kewalahan.
Betapa pun
juga, berkat ginkang-nya yang memang luar biasa sekali, berkali-kali wanita itu
dapat menghindarkan diri dari ancaman bahaya dan baru setelah lewat dua ratus
jurus, akhirnya kakinya kena ditendang oleh si brewok, tepat mengenai sambungan
lutut dan wanita itu jatuh berlutut dengan satu kaki dan sebelum dia mampu meloncat,
lima orang itu telah menubruknya dan menotoknya, kemudian menelikungnya
sehingga dia tidak mampu bergerak lagi!
Lima orang
itu tertawa dan si brewok berkata gemas, “Hemmm, mari kita kerjakan dia
beramai-ramai, kita berpesta dan biar dia yang liar ini menjadi jinak.
Ha-ha-ha, ingin aku melihat sikapnya kalau dia sudah kita paksa melayani kita
berlima!” Empat orang saudaranya pun tertawa-tawa dan mereka hendak menyeret
tubuh Ouw Yan Hui yang sudah tak mampu bergerak itu ke dalam kuil.
“Tahan,
Sute!” Tiba-tiba Su-ok berseru dan dia meloncat dekat.
Lima orang
sute-nya memandang kepadanya dan si brewok segera tertawa bergelak. “Ha-ha-ha,
engkau tertarik kepadanya, Suheng? Bagus, dia ini agaknya memang puteri istana
yang kau rindukan!”
Akan tetapi
Su-ok menggeleng kepala. “Tidak, biar pun dia cukup cantik jelita dan pantas
menjadi puteri istana, namun dia sudah terlalu tua dan dia bukan perawan
seperti yang kuidamkan. Tidak, aku minta kepada kalian agar jangan
mengganggunya lebih dulu. Kita pergunakan dia sebagai umpan.”
“Sebagai
umpan? Apa maksudmu, Suheng?” Lima orang itu bertanya.
“Orang
seperti dia yang demikian cantik dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu
tidak datang sendiri. Biar kita tahan dia di kuil dan biarkan teman-temannya
datang agar tidak kepalang kita membasmi mereka.”
Lima orang
cebol itu tidak membantah, apa lagi karena mereka juga telah mempunyai wanita
tawanan mereka yang lebih muda, biar pun tentu saja tidak ada yang mampu
menandingi kecantikan Ouw Yan Hui yang luar biasa itu. Maka mereka menyerahkan
wanita itu kepada Su-ok yang mengempitnya dan membawanya ke kuil, sedangkan
para orang cebol lainnya segera merawat teman-teman mereka yang terluka oleh
wanita cantik yang lihai itu.
Lima orang
sute dari Su-ok kembali ke kamar masing-masing, sedangkan Su-ok sendiri lalu
membawa Ouw Yan Hui ke dalam kuil, kemudian dia mengikat kedua tangan wanita
itu kepada sebuah pilar besar di bagian belakang kuil, mempergunakan rantai
yang amat besar dan kokoh kuat. Jangankan dalam keadaan lemas tertotok seperti
itu, andai kata dalam keadaan sehat sekali pun, tidak mungkin bagi Ouw Yan Hui
untuk dapat melepaskan dirinya dari belenggu. Kedua lengannya ditarik ke
belakang, melingkari pilar besar dan kedua pergelangan tangannya dibelenggu
rantai besi yang kokoh kuat. Dan tak jauh dari situ bersembunyi Su-ok pula yang
mengintai dan menunggu kalau kalau ada datang kawan-kawan dari wanita cantik
ini seperti yang disangkanya. Andai kata Ouw Yan Hui melakukan usaha untuk
membebaskan diri sekali pun, sebelum berhasil tentu telah diketahui oleh Su-ok.
Ouw Yan Hui
maklum bahwa dia berada dalam bahaya yang mengerikan. Namun, sebagai seorang
wanita gagah, dia memandang bahaya dan kematian sebagai hal yang biasa saja
dalam kehidupan, maka sedikit pun dia tidak merasa cemas atau takut. Dia
menanti datangnya maut dengan mata terbuka, dan melihat bahwa dia dibelenggu di
situ, dia masih melihat harapan untuk dapat lolos. Sebelum maut merenggut
nyawanya, dia tidak akan putus asa, sungguh pun pada saat itu dia maklum bahwa
dia sama sekali tidak berdaya melepaskan diri dan apa yang dapat dilakukannya hanya
berdiri tegak dan diam, mencoba untuk mengumpulkan hawa murni lewat hidungnya
untuk berusaha membebaskan totokan yang membuat tubuhnya lemas itu…..
***************
Kakek itu
melangkah satu-satu di daerah tandus itu, tubuhnya yang bongkok nampak semakin
bongkok karena mukanya menunduk, seolah-olah dia meneliti setiap batu yang
dilalui kakinya, atau seolah-olah dia menghitung setiap langkahnya. Keadaan
kakek itu sungguh menyedihkan, dan janggallah melihat dia melakukan perjalanan
di tempat yang liar dan sukar ini.
Melihat
wajahnya, mudah diduga bahwa kakek ini sudah tua renta, dan keadaan tubuhnya
yang tua itu cacat, punggungnya bongkok dan lengan kirinya buntung sebatas
pundak! Pantasnya seorang tua renta yang cacat seperti itu tinggal di rumah saja,
dilayani cucu-cucunya. Akan tetapi, kakek ini berjalan seorang diri di tempat
sunyi itu, melangkah satu-satu dengan tubuh bongkok dan tangan tunggalnya,
hanya yang kanan saja itu memegang sebatang tongkat kayu yang agaknya
dipergunakan untuk membantu menopang tubuhnya yang bongkok. Seorang kakek yang
cacat dan lemah.
Kakek lemah?
Orang akan kaget dan kecelik kalau tahu siapa adanya kakek ini. Sama sekali
bukan kakek lemah sungguh pun nampaknya demikian, karena kakek ini bukan lain
adalah Go-bi Bu Beng Lojin (Kakek Tanpa Nama Dari Go-bi), yaitu Si Dewa
Bongkok! Dewa Bongkok sama sekali bukanlah seorang kakek lemah, sebaliknya
malah. Dia adalah penghuni dari Istana Gurun Pasir, dan kesaktiannya sedemikian
luar biasa sehingga dia dijuluki dewa!
Namanya amat
terkenal, dan di daerah utara yang liar itu tidak ada seorang pun raja suku
bangsa liar yang berani mengganggunya. Sedangkan di selatan, namanya terkenal
sebagai seorang tokoh dongeng karena memang tidak sembarang orang dapat
mengunjungi istana di gurun pasir itu. Namanya sejajar dengan nama majikan
Pulau Es yang juga dikenal sebagai seorang tokoh dongeng. Akan tetapi, nama
Go-bi Bu Beng Lojin masih jauh lebih dulu dikenal dalam dongeng dari pada nama
majikan Pulau Es, karena memang Dewa Bongkok ini jauh lebih tua.
Tentu orang
akan merasa heran mengapa kakek sakti yang dikenal sebagai tokoh dongeng dan
tidak pernah menampakkan diri di dunia ramai itu sekarang melakukan perjalanan
seorang diri? Apa lagi orang lain, bahkan kakek itu sendiri pun merasa heran!
Hal ini terbukti dari gerutunya di sepanjang perjalanan di pagi hari itu.
“Hemmm, mana
mungkin manusia hidup sendiri? Mana mungkin melepaskan diri dari segala sesuatu
di dunia ini? Membebaskan diri dari pikirannya sendiri saja sudah merupakan hal
yang amat sukar, apa lagi membebaskan diri dari segala sesuatu yang nampak.
Uhhhhh, betapa lemahnya manusia... hemmm, sudah setua ini, setelah puluhan
tahun tidak lagi menaruh khawatir sedikit pun juga atas diri sendiri lahir
batin, sekarang mengkhawatirkan orang lain. Huhhh... memang manusia tidak
mungkin bisa hidup sendirian saja. Manusia adalah bagian dari dunia dan
kehidupan ini, tak mungkin melarikan diri...“
Tidaklah
aneh kalau kakek itu menggerutu. Selama puluhan tahun lamanya dia hidup di
Istana Gurun Pasir, menjauhi kehidupan ramai dan tidak pernah memikirkan
tentang persoalan hidup lahiriah. Akan tetapi, semua itu berubah setelah dia
mempunyai cucu! Yaitu, setelah muridnya, murid tunggal yang bernama Kao Kok Cu,
yang berjuluk Naga Sakti Gurun Pasir, bersama isterinya, mempunyai seorang
anak.
Anak dari
muridnya itulah yang membuat kakek ini merasa terikat! Timbul rasa kasih sayang
yang tidak sewajarnya dan dia merasa lemah. Apa lagi ketika cucunya itu yang
diberi nama Kao Cin Liong, diculik orang. Dia ikut merasa khawatir. Sudah
berbulan bulan muridnya pergi meninggalkan Istana Gurun Pasir untuk mencari Cin
Liong yang lenyap diculik orang dan sampai sekarang tiada kabar beritanya.
Akhirnya tidak dapat kakek ini menahan diri lagi dan pergilah dia meninggalkan
Istana Gurun Pasir untuk pergi menyusul dan ikut mencari cucunya yang hilang!
Hanya
kebetulan saja pada saat itu kalau ada orang melihat Dewa Bongkok berjalan
seperti seorang kakek tua renta yang tapa daksa, berjalan melangkah satu-satu
dengan lambat sekali. Akan tetapi ada kalanya dia berlari seperti terbang
cepatnya sehingga tidak lagi dapat diikuti oleh pandang mata!
Memang bukan
merupakan hal yang wajar kalau manusia ingin mengasingkan diri dan hidup
sendirian saja di tempat sunyi, di puncak gunung, di dalam goa, menjauhi
manusia lain dan tidak mempedulikan hal-hal yang terjadi di dunia! Ini hanya
merupakan suatu pelarian saja, suatu pemaksaan diri yang berbahaya dan juga
tidak ada gunanya sama sekali.
Kita tidak
mungkin mengatasi dan menanggulangi sesuatu dengan jalan melarikan diri dari
sesuatu itu. Memang kehidupan ini kejam, kadang-kadang membosankan, dan lebih
banyak deritanya dari pada sukanya. Namun, kita tidak mungkin dapat mengakhiri
semua itu dengan jalan melarikan diri ke tempat sunyi! Pelarian diri itu bukan
lain hanyalah suatu bentuk pengejaran kesenangan juga!
Mungkin
kalimat terakhir itu mengejutkan dan akan ditentang, maka sebaiknya mari kita
membuka mata dan menyelidiki hal itu dengan seksama, jauh dari pendapat pribadi
atau golongan, melainkan memandang keadaannya sebagaimana adanya. Kalau kita
mengatakan bahwa kita pergi ‘bertapa’ ke gunung atau ke goa karena kita sudah
tidak menginginkan apa-apa di dunia ini, bahwa kita sudah terbebas dari nafsu
keinginan, benarkah perkataan kita itu?
Kalau memang
kita sudah tidak menghendaki apa-apa, lalu mengapa kita bertapa di tempat
sunyi? Bukankah pergi bertapa ke tempat sunyi, menjauhkan diri dari segala
keramaian dan manusia lain, itu sudah merupakan suatu tindakan yang menunjukkan
bahwa kita menghendaki sesuatu? Bahkan kita bosan dengan dunia ramai dan kita
ingin tentram? Bukankah ini merupakan suatu keinginan pula, keinginan untuk
ketenteraman diri pribadi, untuk kedamaian diri pribadi, yang bukan lain
hanyalah merupakan wajah lain dari pada keinginan untuk kesenangan diri
pribadi? Bukankah karena kita membayangkan bahwa tempat sepi, jauh dari manusia
lain, itu akan menjauhkan kita dari kepusingan, jadi berarti mendekatkan kita
kepada ketenteraman dan kedamaian yang kita anggap menyenangkan maka kita
melakukan pertapaan itu?
Karena pada
hakekatnya hanya merupakan pengejaran kesenangan belaka, biar pun diberi nama
yang lebih agung seperti kesempurnaan, kedamaian, ketenteraman dan sebagainya,
maka pada akhirnya, para pengejar kedamaian melalui tempat-tempat sunyi itu
akan kecewa! Di sana pun, di tempat sunyi, di puncak gunung, di dalam goa, di
tepi pantai, mereka akan ditelan kehampaan!
Mengapa
demikian? Karena jelas bahwa segala pengejaran keinginan itu akan menuntun kita
kepada kehampaan dan kekecewaan, kepada perbandingan dan selalu akan membuka
mata kita bahwa apa yang kita bayang-bayangkan selagi mencari itu ternyata
tidaklah seindah seperti yang dibayangkan! Akan timbul kebosanan, akan timbul
keinginan untuk mencari dengan cara lain, yang dianggap lebih unggul, lebih
agung, lebih mendalam dan seterusnya.
Mempelajari
tentang hidup tidaklah mungkin tanpa kita terjun ke dalamnya! Dan hidup adalah
hubungan antar manusia, hubungan antara manusia dengan benda-benda, antara
manusia dengan pikiran-pikirannya. Segala persoalan yang kita namakan
mengandung suka atau duka, bukanlah keluar dari si peristiwa itu sendiri,
melainkan timbul dari pikiran. Pikiranlah yang membanding-bandingkan,
pikiranlah yang menilai, lalu pikiran yang mengambil kesimpulan, memutuskan
bahwa peristiwa ini merugikan lahir atau batin, karenanya mendatangkan duka,
dan peristiwa itu menguntungkan lahir atau batin, karena mendatangkan suka.
Karena semua
kesengsaraan timbul dari pikiran kita sendiri, maka benarkah itu kalau kita
mencoba membebaskan diri dari keadaan lahiriah dengan jalan mengasingkan diri?
Bukankah batin kita yang menjadi sumber segalanya? Selama hati dan pikiran
(yaitu batin) kita masih sibuk dengan seribu satu macam persoalan, biar kita
sembunyi di puncak gunung tertinggi sekali pun, kita masih akan mempunyai
persoalan-persoalan, baik yang menyenangkan mau pun yang menyedihkan. Sebaliknya,
kalau kita sudah bebas dari pikiran yang menjadi sumber suka-duka, biar pun
kita berada di tengah tengah keramaian dunia, kita akan mengalami keadaan hidup
yang lain sama sekali.
Dewa Bongkok
adalah seorang pertapa semenjak dia masih muda. Dia sudah terbiasa dengan
tempat sunyi. Akan tetapi, begitu dia mempunyai seorang cucu, demi sang cucu
inilah maka dia kini meninggalkan tempat pertapaannya dan berkelana di dunia
ramai untuk mencari cucunya. Dan kegelisahan mulai menggerogoti hatinya yang sudah
tua.
Manusia
memang amat lemah, selalu mengikatkan diri dengan apa yang disenanginya. Kita
mengingatkan diri dengan isteri, anak, keluarga, harta benda, kedudukan, serta
kepandaian dan sebagainya. Karena mengikatkan diri, karena kita merasa memiliki
secara batiniah, maka yang kita senangi dan miliki itu melekat dalam batin,
berakar. Dan karena berakar inilah maka setiap kali yang melekat itu diambil,
baik melalui kematian, kehilangan atau pertentangan, batin kita menjadi sakit,
dicabutnya sesuatu yang sudah berakar dalam batin kita itu mendatangkan luka
berdarah!
Dapatkah
kita hidup tanpa ikatan apa-apa? Dapatkah kita mempunyai, baik keluarga, harta
benda dan sebagainya, dalam arti kata mempunyai secara lahiriah saja, tanpa
memilikinya secara batiniah? Bukan berarti bahwa kita lalu menjadi tak acuh,
bukan berarti kita harus tidak peduli. Sebaliknya malah. Cinta kasih bukan lagi
cinta kasih kalau didasari nafsu ingin memiliki, ingin menguasai. Cinta kasih
adalah kebebasan!
Dewa Bongkok
melangkah satu-satu sambil termenung. Akan tetapi, ilmu kepandaian yang amat
tinggi sudah mendarah daging pada diri kakek ini, bahkan dia telah memiliki
kepekaan yang luar biasa, semacam indera ke enam yang dimiliki oleh setiap
orang ahli apa pun di bidang masing-masing sehingga dia seperti melihat atau
mendengar segala ketidak wajaran yang terjadi di sekelilingnya.
Memang
setiap orang yang sudah ahli memiliki indera ke enam ini. Bagi seorang ahli
silat tingkat tinggi, indera ke enam ini berupa kewaspadaan terhadap segala macam
bahaya yang mengancam, dari mana pun datangnya, sehingga indera ke enam ini
bisa menjaganya di waktu dia tidur sekali pun! Bagi seorang pelukis, mungkin
dengan indera ke enam itu dia melihat bentuk-bentuk, garis-garis, sifat-sifat
dan perpaduan-perpaduan yang tidak dapat dilihat oleh orang awam, yang lalu
dituangkannya di atas kanvas. Bagi seorang pengarang, mungkin dengan indera ke
enam itu dia dapat menangkap segala sesuatu tentang lika-liku kehidupan manusia
dan alam yang kemudian dituangkannya dalam karangannya.
Tiba-tiba
Dewa Bongkok nampak seperti orang terkejut, mukanya yang tadi menunduk itu
digerakkan menoleh ke kiri dan sekelebatan nampaklah olehnya bayangan orang
amat cepatnya. Dan pada saat itu juga, Dewa Bongkok menggerakkan kedua kakinya
dan tubuhnya melesat seperti menghilang saja!
Siapakah
bayangan orang yang berkelebat cepat itu? Dia ini juga seorang kakek, dan
sungguh pun tidak setua Dewa Bongkok, namun usianya tentu sudah ada tujuh puluh
tahun. Gerakannya gesit seperti terbang. Kakek ini berwajah menyeramkan, kurus
seperti tengkorak, mukanya putih seperti kapur, tubuhnya tinggi kurus. Biar pun
kini dia tidak lagi memakai pakaian hitam karena dia sedang menjadi buronan
pemerintah seperti yang lain, namun orang-orang kang-ouw tentu akan mengenal
siapa adanya kakek ini yang bukan lain adalah Hek-hwa Lo-kwi!
Dialah ketua
Huang-ho Kui-liong-pang di lembah Huang-ho, sarangnya yang kemudian dijadikan
benteng para pemberontak yang dipimpin oleh Pangeran Liong Bian Cu itu. Setelah
benteng itu dihancurkan oleh pihak pemerintah, dan semua tokohnya melarikan
diri, Hek-hwa Lo-kwi juga ikut melarikan diri dan dia berganti pakaiannya yang
biasanya berwarna hitam karena tidak ingin dikenal oleh orang-orang pemerintah
yang dia tahu disebar untuk mencarinya.
Hek-hwa
Lo-kwi berada di tempat itu, karena dia sudah berjanji dengan Hek-tiauw Lo-mo
untuk saling bertemu di tempat itu untuk kemudian bersama-sama pergi ke gurun
pasir. Mereka telah menerima undangan Twa-ok untuk membantu Im-kan Ngo-ok
menghadapi musuh besar mereka, yaitu Pendekar Super Sakti. Sungguh sama sekali
tidak pernah disangkanya bahwa di tempat itu, dia akan bertemu dengan Dewa
Bongkok!
Seperti
pernah diceritakan di bagian depan, Hek-hwa Lo-kwi ini dahulunya adalah seorang
pelayan yang terkasih dari Dewa Bongkok, dan ketika itu dia bernama Thio Sek.
Karena terbujuk oleh Hek-tiauw Lo-mo, juga karena dia ingin sekali memperoleh
kitab rahasia dari majikannya yang akan menambah tingkat kepadaiannya, Thio Sek
ini lalu melarikan diri bersama Hek-tiauw Lo-mo, setelah mereka berdua berhasil
mencuri sebuah kitab yang akhirnya mereka perebutkan dan seorang memperoleh
separuh.
Inilah
sebabnya maka begitu dia melihat Dewa Bongkok, dia menjadi terkejut setengah
mati. Walau pun kakek bongkok itu berada di tempat jauh, akan tetapi melihat
bekas majikannya itu, Hek-hwa Lo-kwi cepat melarikan diri. Kalau ada manusia di
dunia ini yang ditakutinya, dan padahal dia tidak takut kepada setan sekali
pun, maka manusia itu adalah Dewa Bongkok.
Hatinya agak
lega ketika dia melarikan diri jauh sekali dan tiba di tepi sebuah hutan. Dia
menghentikan larinya, menarik napas panjang dan menghapus keringat dingin yang
membasahi muka dan lehernya.
“Mau apa
iblis tua itu di sini...?” tanyanya pada diri sendiri. Untung dia belum
ketahuan dan dia dapat cepat melarikan diri! Kalau sampai berjumpa, hemmm...
dia bergidik ketakutan.
Hutan di
depan ialah tempat di mana dia telah berjanji untuk bertemu dengan Hek-tiauw
Lo-mo. Maka dia mengibaskan lengan bajunya dan mulai melangkah maju ke depan.
Tiba-tiba dia berhenti dan mukanya yang putih seperti kapur itu menjadi makin
pucat sampai kehijauan, matanya terbelalak memandang ke depan dan kedua kakinya
menggigil. Dewa Bongkok sudah berdiri di depannya, agak jauh di depannya,
seolah olah menantinya dengan muka menunduk! Bagaimana mungkin ini? Bukankah
tadi dia telah lari secepatnya dan jelas meninggalkan kakek itu sebelum kakek
itu sempat melihatnya?
Akan tetapi
dia tidak mau membuang waktu dengan berheran-heran, cepat dia sudah meloncat ke
belakang, jauh, dan lari dari kakek yang mendatangkan rasa takut hebat dalam
hatinya itu. Akan tetapi, begitu dia turun, dia melihat Dewa Bongkok sudah
menanti di depannya! Dia cepat menoleh dan ternyata kakek yang tadi berdiri di
tepi hutan sudah tidak ada, dan entah kapan kakek itu bergerak! Hek-hwa Lo-kwi
makin ketakutan dan kembali dia membalikkan tubuh dan lari ke dalam hutan. Akan
tetapi, kembali dia melihat Dewa Bongkok bersandar pada tongkatnya di dalam
hutan, hanya kurang lebih dua puluh meter di depannya, tanpa memandangnya dan
hanya menundukkan muka!
Mau rasanya
Hek-hwa Lo-kwi menjerit dan menangis ketakutan. Tubuhnya sudah penuh dengan
peluh. Dia akan lebih suka berjumpa dengan raja setan sendiri dari pada dengan
bekas majikannya ini! Dengan menahan napas dia lalu meloncat ke atas pohon, dan
berloncatan dari pohon ke pohon. Akan tetapi, setelah melewati lima batang
pohon, terpaksa dia berhenti lagi karena di pohon sebelah depan telah menanti
Dewa Bongkok yang duduk di atas cabang pohon di depannya itu.
Hek-hwa
Lo-kwi menjadi makin panik, dan pada saat itu dia sempat melihat bayangan
rekannya, Hek-tiauw Lo-mo, bersembunyi di balik sebatang pohon. Melihat ini,
timbul harapannya. Ada kawan di sini dan hal ini agak membesarkan hatinya. Dia
cepat melayang turun ke arah temannya itu. Akan tetapi baru saja kakinya
menyentuh bumi di dekat pohon di mana Hek-tiauw Lo-mo bersembunyi, dia melihat
bayangan berkelebat dan tahu-tahu Dewa Bongkok sudah berdiri tepat di depannya.
“Thio Sek,
apakah engkau masih hendak lari lagi? Tiba-tiba Dewa Bongkok menegur dengan
suara halus namun mengandung nada kereng yang membuat jantung Hek-hwa Lo-kwi
tergetar hebat. Kedua kakinya menjadi lemas dan manusia iblis yang biasanya
amat ditakuti orang itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Dewa
Bongkok!
“Loya...
ampunkan hamba...,“ Hek-hwa Lo-kwi berkata, suaranya gemetar, tubuhnya
menggigil. Memang sungguh aneh sekali kalau ada orang kang-ouw melihat keadaan
manusia iblis ini. Seperti tidak masuk akal kalau orang seperti Hek-hwa Lo-kwi
masih bisa ketakutan seperti itu!
Dewa Bongkok
tersenyum dan biar pun wajah yang tua itu membayangkan kelembutan, namun sinar
matanya yang mencorong seperti mata naga sakti itu sungguh penuh wibawa dan
menyeramkan.
“Thio Sek,
tak perlu bicara tentang pengampunan. Di mana adanya kitab yang kau curi itu?”
terdengar Dewa Bongkok berkata dengar suara penuh teguran.
“Hamba...
hamba... membagi dua kitab itu dengan Hek-tiauw Lo-mo...“
“Hemmm, lalu
di mana sekarang kitab itu?”
“Bagian
hamba... sudah hamba bakar karena hamba khawatir kalau sampai terjatuh ke
tangan orang lain. Sedangkan bagian yang ada pada Hek-tiauw Lo-mo... hamba
tidak tahu...“
Hek-hwa
Lo-kwi mengangkat mukanya dan dia melihat betapa Hek-tiauw Lo-mo yang bersembunyi
di balik batang pohon itu memberi semacam isyarat kepadanya. Dia dapat
menangkap isyarat itu. Hek-tiauw Lo-mo mengajak dia menyerang Dewa Bongkok
secara tiba-tiba dan bersama-sama pula. Jantungnya berdebar dan memang itulah
satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri!
“Harap Loya
sudi mengampuni hamba... hamba mengaku salah... hamba telah mata gelap karena
ingin memiliki kitab pelajaran yang tinggi...”
Dewa Bongkok
adalah seorang manusia yang waspada, maka dia dapat melihat pula sikap tidak
wajar dari bekas pelayannya itu, seperti ada sesuatu yang disembunyikan, maka
dia membentak, “Hayo kau ceritakan semua apa yang akan kau lakukan dan mengapa
pula kau berada di sini! Hukumanmu mencuri kitab itu tergantung dari
kejujuranmu dalam menjawab pertanyaanku ini.”
Suara kakek
bongkok itu angker dan sungguh menggetarkan perasaan Hek-hwa Lo-kwi yang memang
sudah merasa jeri sekali. Dia merangkak maju lebih dekat, kemudian membenturkan
dahinya di atas tanah. Perbuatan ini seolah-olah membuktikan bahwa dia benar-benar
menyesal dan minta ampun, padahal dia melakukannya untuk dapat lebih mendekati
kakek bongkok itu.
“Hamba...
hamba memenuhi undangan Im-kan Ngo-ok...“ Dia berhenti, terkejut karena dalam
rasa takutnya dia sampai membuka rahasia rencana Im-kan Ngo-ok.
Akan tetapi
dia sudah terlanjur bicara dan apa lagi mengingat akan isyarat Hek-tiauw Lo-mo
tadi. Bukankah semua ini hanya untuk memancing perhatian Dewa Bongkok agar
lebih mudah bagi mereka berdua untuk melancarkan serangan mendadak?
Dan Dewa
Bongkok memang tertarik saat mendengar disebutnya nama Im-kan Ngo-ok itu.
“Im-kan Ngo-ok mengundangmu? Ada perlu apakah?”
“Im-kan
Ngo-ok mengadakan perjanjian dengan Pendekar Super Sakti untuk bertemu dan
kemudian mengadu kepandaian di gurun pasir yang terletak di daratan Gunung
Chang-pai-san. Im-kan Ngo-ok minta bantuan hamba untuk menghadapi lawan tangguh
itu...“
Sekali ini
Dewa Bongkok benar-benar terkejut. “Hemmm, kapankah diadakannya pertemuan itu?”
“Pada bulan
purnama bulan depan...”
“Dan kau
bermaksud membantu mereka menghadapi Pendekar Super Sakti?” bentak Dewa
Bongkok.
Pada saat
Dewa Bongkok membentak ini, Hek-tiauw Lo-mo dengan langkah hati-hati telah
keluar dari balik batang pohon dan mendekati kakek bongkok itu. Betapa pun
tinggi kepandaian seseorang, dan betapa pun tajam perasaannya, namun seorang
manusia tidak mampu membagi-bagi kesibukan batinnya. Selagi dia bicara dengan
marah, tentu saja kewaspadaan Dewa Bongkok berkurang, semua perhatian ditujukan
kepada bekas pelayannya, dan juga ketajaman pendengarannya penuh oleh suara
dari kata-katanya sendiri sehingga dia tidak tahu bahwa ada orang mendekatinya
dari belakang.
Hek-hwa
Lo-kwi melihat ini dan dia mengangkat kedua tangannya menyoja, berkata dengan
suara menyesal, “Ampunkan hamba, Loya... hamba sebetulnya tidak berani akan
tetapi...“
Dan pada
saat itu, diam-diam Hek-hwa Lo-kwi sedang mengumpulkan tenaganya untuk
mengerahkan ilmunya yang dahsyat, yaitu Pek-hiat-hoat-lek! Kemudian, kedua
tangan yang menyoja itu secepat kilat meluncur ke atas dan menghantam ke arah
dada Dewa Bongkok! Pada saat yang sama, Hek-tiauw Lo-mo juga sudah menggerakkan
tangan kanannya, dengan telapak tangan terbuka dia lantas melancarkan hantaman
dengan pengerahan tenaga Hek-coa-tok-ciang.
“Blukkk!
Desss...!”
Dua pukulan
itu dengan tepatnya mengenai dada dan punggung Dewa Bongkok yang tidak sempat
mengelak lagi karena datangnya pukulan dari depan dan belakang itu sama sekali
tak disangkanya sehingga kakek tua renta ini hanya mampu mengerahkan
sinkang-nya untuk menerima kedua pukulan itu. Akan tetapi, demikian hebatnya
tenaga sinkang dari penghuni Istana Gurun Pasir ini sehingga begitu kedua
pukulan itu mengenai punggung dan dadanya, tubuh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa
Lo-kwi terpental mundur, terjengkang dan mereka tewas dalam keadaan mengerikan,
mata mereka membalik dan dari semua lubang di telinga, mata, hidung dan mulut
keluar darah! Ternyata bahwa pukulan mereka itu terbentur kepada hawa sinkang
amat kuat sehingga tenaga mereka terpental, membalik kemudian menghantam mereka
sendiri hingga mengakibatkan mereka tewas seketika!
Dewa Bongkok
masih kelihatan berdiri tegak di tempat yang tadi, sama sekali tidak bergerak
seolah-olah dua pukulan itu tidak terasa olehnya. Akan tetapi, kalau orang
melihat mukanya, akan tahulah dia bahwa Dewa Bongkok menderita luka hebat. Muka
yang tua itu pucat sekali dan di ujung kanan mulutnya nampak darah mengalir
bertetes tetes.
Ternyata
kakek sakti ini telah muntah darah! Pukulan Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi
yang dilakukan dari jarak dekat itu terlampau dahsyat dan tidak terduga
datangnya. Kalau bukan Dewa Bongkok yang terkena hantaman seperti itu, betapa
pun lihainya, tentu akan tewas seketika.
Setelah
berdiri sejenak seperti arca dengan kedua mata terpejam, mengumpulkan hawa
murni untuk memperkuat diri, akhirnya Dewa Bongkok membuka kedua matanya,
menarik napas panjang dan menoleh ke arah mayat dua orang itu. Dengan gerakan
perlahan dan menahan nyeri pada dadanya, kakek ini lalu mengumpulkan
dahan-dahan yang cukup banyak, meletakkan dua buah mayat itu di atas
dahan-dahan dan menutupinya dengan banyak dahan dan daun kering, kemudian
membakarnya. Dia maklum bahwa ranting-ranting itu cukup banyak dan akan dapat
membakar dua jenazah itu sampai habis. Setelah memandang sejenak, dia lalu
membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, jalannya agak tersaruk-saruk dibantu
oleh tongkatnya…..
***************
Luka yang
diderita oleh Go-bi Bu Beng Lojin atau Dewa Bongkok memang amat parah. Apa lagi
ditambah dengan usianya yang sudah amat tua sehingga tentu saja daya tahan
tubuh sudah tidak begitu kuat lagi, maka akibatnya dua pukulan dahsyat itu
membuat kakek ini benar-benar menderita hebat.
Setelah
berjalan perlahan-lahan sampai setengah hari meninggalkan hutan itu dan tiba di
pegunungan yang penuh batu-batu dan sukar dijalani, kakek ini merasa tidak
dapat menahan lagi dan duduklah dia bersila di atas batu besar untuk menghimpun
kekuatan dan mengumpulkan hawa murni sebanyaknya guna mengobati luka yang
dideritanya.
Dengan
merasakan keadaan lukanya, kakek ini maklum bahwa sedikitnya dia harus
beristirahat satu bulan untuk dapat memulihkan kembali kekuatannya, dan paling
tidak selama tiga hari tiga malam dia harus duduk bersemedhi untuk
menyelamatkan nyawanya. Dengan penghimpunan hawa murni selama tiga hari tiga
malam terus menerus, barulah ada harapan luka di dalam dadanya itu dapat
disembuhkan sehingga dia hanya tinggal menanti pulihnya kekuatannya saja.
Kebetulan sekali tempat itu amat baik, sunyi dan bersih, hawanya murni sehingga
tepat untuk dipakai menjadi tempat bersemedhi.
Dua hari dua
malam sudah kakek ini duduk bersila di atas batu tanpa pernah bergerak. Dia
seolah-olah sudah mati, atau sudah berubah menjadi arca batu, menjadi satu
dengan batu besar yang didudukinya. Hanya ujung pakaiannya saja, jenggotnya
atau sedikit rambut di sekeliling kepalanya yang kadang-kadang bergerak kalau
ada angin kencang bertiup.
Pada hari
ketiga itu, Dewa Bongkok sudah merasa betapa luka-luka di dalam dadanya telah
banyak mendingan. Rasa nyeri di bagian kiri yang tadinya terasa paling hebat
telah lenyap dan tinggal sedikit rasa nyeri di bagian kanan. Dalam sehari
semalam ini tentu lukanya ini pun akan lenyap dan dia tinggal beristirahat saja
untuk memulihkan kekuatannya selama sedikitnya sebulan.
Akan tetapi,
pagi hari itu terjadi hal di luar perhitungan kakek sakti ini. Ketika dia masih
tenggelam ke dalam semedhi, tiba-tiba muncul seorang wanita cantik yang
memiliki gerakan ringan dan wanita ini telah sejak tadi memperhatikan Dewa
Bongkok yang sedang bersemedhi. Wanita ini bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li
Lauw Hong Kui, Siluman Kucing yang cabul dan lihai itu!
Seperti juga
suheng-nya, yaitu Hek-tiauw Lo-mo, dia pun telah menerima undangan dari Im-kan
Ngo-ok untuk membantu mereka menghadapi Pendekar Super Sakti dan dia pun
berjanji dengan suheng-nya untuk bertemu di dalam hutan itu. Akan tetapi, dasar
Siluman Kucing ini tidak pernah dapat sembuh dari penyakitnya, yaitu gila
laki-laki, di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang pemuda tampan yang
amat menarik hatinya. Dia lalu merayu pemuda ini dan memuaskan nafsunya
sehingga dia lupa akan janjinya dan setelah dia, seperti biasanya, merasa bosan
dan meninggalkan pemuda yang telah dibunuhnya pula itu, dia tiba di dalam hutan
yang dijanjikan dalam keadaan terlambat dua hari!
Terima kasih telah membaca Serial ini
No comments:
Post a Comment