Cerita Silat Kho Ping Hoo
Serial Sepasang Pedang Iblis
Jilid 19
Melihat hal
ini, Si Muka pucat segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mundur.
Tentu saja keselamatan komandan pasukan yang menjadi utusan Koksu lebih
penting, dan kini dia yakin bahwa pemuda yang mengacau itu benar-benar seorang
yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, terlampau tinggi untuk mereka
tandingi dan kalau mereka melanjutkan pertandingan dan pengeroyokan dengan
jalan kekerasan, akibatnya akan berbahaya sekali.
"Mundur...
hentikan pertandingan!" teriak Si Kurus dengan suara nyaring, kemudian dia
melangkah maju menghadapi Bun Beng, menjura dan berkata,
"Orang
muda she Gak! Engkau tadi mengaku bukan mata-mata dan tidak memusuhi kami,
mengapa engkau membikin kacau dan menangkap seorang panglima dari kota
raja?"
Bun Beng
membelalakkan matanya lalu tertawa bergelak, nadanya mengejek, "Ha-ha-ha!
Kalau ada maling teriak maling, hal itu amat lucu dan dapat dimengerti karena
Si Maling ingin menyelamatkan diri. Namun kalau ada pemberontak teriak
pemberontak, hal ini sudah tidak lucu lagi, malah menyebalkan! Aku bukan
seorang penjilat Kaisar, juga bukan seorang pemberontak. Bukan aku yang
mengacau di sini, melainkan kalian sendiri yang memaksaku bertanding!"
Si Kurus
bermuka pucat itu kembali menjura. "Jika begitu, kami menerima salah,
harap engkau suka membebaskan panglima yang menjadi tamu kami."
"Panglima
ini harganya tentu lebih mahal dari seekor kuda," kata pula Bun Beng.
"Seekor
kuda...?" Si Kurus memandang tajam.
"Ya,
seekor kuda yang paling baik di antara semua kuda di sini."
Mengertilah
Si Kurus. Dia lalu memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk segera
mengeluarkan kuda tunggangannya sendiri, seekor kuda berbulu putih yang
benar-benar bagus dan kuat, merupakan kuda pilihan.
"Nah,
ini kudaku sendiri, pakailah kalau engkau memerlukannya," katanya.
Bun Beng
tertawa, melepaskan Si Perwira dan sekali meloncat dia telah berada di atas
punggung kuda. Dia sengaja berbuat demikian, karena dia ingin melihat sikap
mereka itu. Begitu melihat perwira itu dilepaskan, terjadi gerakan-gerakan
seolah-olah mereka hendak maju lagi menerjang Bun Beng yang bersikap tenang di
atas punggung kudanya. Akan tetapi Si Kurus bermuka pucat mengangkat tangan
kanan ke atas dan membentak,
"Jangan
bergerak! Biarkan Gak-kongcu lewat dan keluar dari sini tanpa gangguan!"
Bun Beng
melarikan kudanya dan menoleh ke arah Si Kurus sambil berkata, "Terima
kasih. Pemberontak atau bukan, engkau masih mempunyai sifat kegagahan!"
Kudanya lari terus keluar dari pintu pagar tanpa ada yang merintanginya, dan
pemuda ini melanjutkan perjalanan menuju ke selatan, ke kota raja.....
***************
"Haiiiiii...!
Maharya pendeta palsu tukang tipu! Hayo keluar kau jangan sembunyi saja!
Terimalah jawaban teka-tekimu. Hayo keluar, jika tidak, kucabut nanti bulu
jenggotmu!"
Yang
berteriak-teriak ini adalah Bu-tek Siauw-jin, kakek pendek cebol yang keluar
dari tempat tahanannya bersama Kwi Hong. Dara jelita ini bersikap tenang,
berjalan di samping gurunya. Dia tidak pedulikan gurunya yang berteriak-teriak
karena dia sudah maklum akan watak dan sifat gurunya yang aneh dan tidak lumrah
manusia. Dia sendiri tentu saja tidak khawatir keluar dari tempat tahanan, apa
lagi bersama gurunya yang sakti, sungguh pun dia maklum bahwa keadaan mereka
amat berbahaya karena mereka berada di tempat kediaman Koksu, berada di dalam
sarang harimau.
Ada beberapa
orang penjaga yang bingung tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, berlagak
hendak mencegah dua orang tahanan ini keluar. Yang berani menghadang hanya
empat orang penjaga. Mereka melintangkan tombak menghadang dan berkata,
"Tanpa
perkenan Koksu kalian tidak boleh keluar...!"
Empat kali
Kwi Hong menggerakkan tubuhnya, dan....
“Krekkk!
Plakkk!” Empat kali terdengar suara dan empat batang tombak patah-patah disusul
tubuh empat orang penjaga itu terlempar ke kanan kiri!
Ada pun
kakek cebol itu masih berteriak-teriak memanggil nama Maharya, seolah-olah
tidak melihat muridnya merobohkan empat orang penghalang tadi. "Maharya
pendeta palsu! Di mana engkau? Koksu, suruh pembantumu Si Pendeta konyol itu
keluar...!"
"Ser-serr-serrr...!"
Tampak sinar
menyambar dari kanan kiri dan depan. Dengan tenang sekali Kwi Hong
menggerak-gerakkan kedua lengan bajunya seperti yang dilakukan oleh gurunya dan
belasan batang anak panah yang menyambar ke arah mereka itu runtuh ke bawah.
"Ha-ha!
Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, beginikah seorang Koksu negara menghadapi
tamu?" Bu-tek Siauw-jin tertawa mengejek, sedangkan Kwi Hong memandang ke
depan dan kanan kiri dengan alis berkerut marah.
Daun pintu
besar yang menembus ruangan belakang gedung Koksu tiba-tiba terbuka dan
muncullah Bhong-koksu bersama Maharya beserta belasan orang panglima yang
menjadi kaki tangan dan sekutu Koksu itu, diiringkan pula oleh sepasukan
tentara yang berjumlah lima puluh orang lebih bersenjata lengkap!
"Heh-heh-heh,
Siauw-jin. Engkau adalah seorang hukuman, tanpa ijin Koksu berani membobol
penjara dan merobohkan penjaga. Sungguh tidak tahu aturan!" Maharya
berkata sambil tertawa mengejek.
Bu-tek
Siauw-jin memandang dengan mata melotot. "Siapa jadi orang hukuman? Kami
menjadi tamu! Dan teka-tekimu yang palsu itu mudah saja menjawabnya! Maharya,
lekas kau ambil pisau penyembelih babi, lekas!"
Karena nada
suara kakek cebol itu mendesak dan disertai pengerahan tenaga sinkang, maka
mempunyai wibawa yang kuat sekali sehingga Maharya yang menjadi ahli sihir itu
pun sampai terpengaruh dan otomatis bertanya heran, "Pisau penyembelih
babi? Untuk apa?"
"Ha-ha-ha-ha!
Untuk memotong ujung hidungmu yang terlalu panjang itu! Bukankah sudah begitu
perjanjian antara kita? Kalau aku bisa menjawab teka-tekimu, engkau harus
memotong ujung hidungmu, kemudian engkau, Koksu dan pendeta Tibet... eh, mana
Si Gendut itu, mengapa tidak ikut pula menyongsongku? Dan jangan lupa, Pulau Es
dan Pulau Neraka juga harus dibangun kembali!"
"Siauw-jin,
kematian sudah berada di depan mata, engkau masih berani bersombong. Orang
macam engkau tak mungkin dapat menjawab pertanyaanku itu..."
"Apa?
Pertanyaan licik yang penuh akal bulus dan palsu itu siapa yang tidak dapat
menjawabnya? Dengar baik-baik, Maharya. Aku Sejati yang kau tanyakan itu adalah
Aku Sejati yang palsu, khayalan pikiranmu sendiri yang kotor itu, yang hanya
meniru-niru dari orang lain yang sebetulnya juga tidak tahu apa-apa. Semua itu
palsu, sepalsu hati dan pikiranmu, Maharya!"
"Ihhh,
engkau gila...!" Maharya membentak dengan muka merah.
"Paman
guru, perlu apa buang waktu melayani orang gila ini?" Tiba-tiba Koksu
berkata sambil mencabut pedang dengan tangan kanan dan mengeluarkan cambuk
merah dengan tangan kiri, kemudian mengangkat cambuk ke atas sebagai aba-aba.
Para panglima melihat ini, lalu mencabut senjata mereka dan semua anak buah
pasukan tentara pengawal juga siap dengan senjata masing-masing.
"Suhu,
teecu rasa tidak perlu lagi melayani mereka ini!" Kwi Hong juga berkata
dan tampaklah sinar berkilat mengerikan ketika dara itu sudah mencabut keluar
pedang Li-mo-kiam!
"Serbu...!"
Bhong-koksu mengeluarkan aba-aba dan menyerbulah pasukan pengawal dipimpin oleh
belasan orang panglima itu.
Memang Koksu
telah siap untuk mengeroyok Bu-tek Siauw-jin dan karena dia tahu betapa
lihainya kakek itu bersama muridnya yang memegang pedang mukjizat, maka dia
sendiri pun telah mengeluarkan pedangnya, sebatang pedang pusaka yang jarang
dia pergunakan karena biasanya, dengan sebatang pecut merahnya saja Koksu ini
sudah sukar menemukan tanding.
"Ha-ha-ha,
pendeta palsu, Koksu pengecut!" Bu-tek Siauw-jin tertawa-tawa ketika
melihat pasukan pengawal itu menyerbu.
Namun Kwi
Hong tidak seperti gurunya. Dara ini sudah berkelebat ke depan didahului sinar
pedangnya yang menyilaukan mata. Para pengawal yang belum mengenal dara dan
pedangnya yang mukjizat itu menerjang dengan senjata tombak, golok atau pedang.
"Singgg...
trang-trang-krek-krek-krekkk...!"
Tombak,
golok dan pedang beterbangan di udara dalam keadaan patah-patah, disusul pekik
kaget dan kesakitan, pekik kematian dari mulut lima orang pengawal yang tak
dapat menghindarkan diri dari sambaran sinar pedang Li-mo-kiam!
Melihat ini
terkejutlah semua anak buah pasukan. Mereka mengurung dan mengeroyok lebih
hati-hati, dipimpin oleh belasan orang panglima yang memiliki ilmu kepandaian
tinggi pula. Karena maklum bahwa dia sama sekali tidak boleh memandang ringan
pengeroyok yang jumlahnya amat banyak itu, Kwi Hong tidak bertindak sembrono,
dan hanya berdiri di tengah-tengah, pedang melintang depan dada, tidak bergerak
dan hanya sepasang matanya yang indah itu saja yang bergerak, mengerling ke
kanan kiri menanti gerakan lawan.
Dua belas
orang panglima yang menjadi kaki tangan Bhong-koksu, yang rata-rata memiliki
kepandaian tinggi, dengan hati-hati mengurung Kwi Hong dan di belakang mereka
bergerak, siap siaga dengan pengurungan yang amat nekat.
Tiba-tiba
terdengar seorang panglima tertua mengeluarkan seruan sebagai aba-aba. Puluhan
anak buah mereka bersama dua belas orang panglima itu serentak menerjang Kwi Hong,
dibantu oleh anak buah mereka dari belakang. Kembali tubuh Kwi Hong berkelebat
dan lenyap bersembunyi di balik sinar pedang yang amat menyilaukan mata,
seperti kilat menyambar-nyambar. Dia berhasil mematahkan beberapa batang
senjata lawan, namun karena dua belas orang panglima itu memang sudah maklum
akan keampuhan pedang di tangan gadis itu, mereka bersikap hati-hati dan tidak
mau mengadu senjata sehingga yang menjadi korban hanya senjata para pengawal
yang berani menyerang terlalu dekat.
Betapa pun juga,
Kwi Hong tidak dapat mencurahkan perhatian untuk merobohkan lawan di depan
karena dia dikepung ketat dan senjata-senjata lawan datang bagaikan hujan di
sekeliling tubuhnya, sedangkan tangan yang menggerakkan senjata-senjata itu pun
tangan terlatih dan cukup kuat dan cepat.
Sementara
itu Maharya yang bersenjata sebatang tombak bulan sabit, senjata barunya
setelah dia meninggalkan senjatanya yang dahulu berupa ular putih hidup dan
sarung tangan emas, sudah menerjang maju melawan Bu-tek Siauw-jin dibantu oleh
Koksu yang bersenjatakan pedang di tangan kanan dan cambuk di tangan kiri.
"Ha-ha-ha,
kalian ini tiada lebih hanyalah tukang-tukang keroyok yang menjijikkan!"
Bu-tek Siauw-jin tertawa mengejek, akan tetapi dia harus cepat-cepat menghindar
dan mengebutkan lengan bajunya karena ujung tombak bulan sabit itu telah
menyambar ganas ke arah lehernya, disusul tusukan pedang Bhong-koksu ke arah
ulu hatinya dan sambaran cambuk ke arah ubun-ubun kepalanya.
"Tarrrrr...!"
Sambaran cambuk yang datang terakhir itu tidak dielakkan dan ditangkis,
melainkan diterima begitu saja oleh ubun-ubun kepalanya, akan tetapi akibatnya,
ujung cambuk itu membalik dan telapak tangan Bhong-koksu lecet-lecet!
"Serang
lima tempat dari mata ke bawah!" Maharya berseru, dan kini Bhong-koksu
menerjang lagi membantu paman gurunya, menujukan serangan-serangannya ke arah
kedua mata, tenggorokan, pusar, dan bawah pusar!
"Heh-heh-heh,
Maharya pendeta palsu, dukun lepus! Mari-mari kita main-main sebentar!"
Setelah berkata demikian, kakek pendek itu membalas dengan pukulan-pukulan
jarak jauh.
Dua telapak
tangannya mengeluarkan hawa pukulan yang amat kuat, kadang-kadang mengandung
hawa panas, kadang-kadang dingin sehingga Maharya mau pun Bhong-koksu berlaku
hati-hati dan tidak berani menghadapi langsung pukulan-pukulan itu, melainkan
mengelak sambil mengirim serangan-serangan balasan dari samping. Dalam hal ini,
hanya cambuk di tangan kiri Bhong-koksu saja yang lebih berguna karena cambuk itu
cukup panjang untuk mengirim serangan dari jarak jauh. Sedangkan tubuh Maharya
menyambar-nyambar, menggunakan kesempatan setiap Bu-tek Siauw-jin mengelak dari
sambaran cambuk, menerjang dengan tombak bulan sabitnya.
Bu-tek
Siauw-jin masih tertawa-tawa dan menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong
saja. Memang kakek aneh dari Pulau Neraka ini sudah puluhan tahun meninggalkan
senjata, dan hal ini pun tidaklah aneh kalau diingat bahwa dengan kaki
tangannya dia sudah cukup kuat menghadapi serangan lawan. Betapa pun juga,
menghadapi pengeroyokan dua orang sakti seperti Maharya dan Bhong-koksu, kakek
cebol ini repot juga dan biar pun mulutnya tertawa-tawa, dia harus memeras
keringat untuk menghindarkan diri dari hujan serangan maut itu.
Tingkat
kepandaiannya hanya lebih tinggi setingkat dari Maharya, dan mungkin tidak ada
dua tingkat dari kepandaian Bhong-koksu. Untung bagi kakek cebol Pulau Neraka
ini bahwa dia kebal terhadap ilmu sihir biar pun dia sendiri tidak suka
mempelajari ilmu itu sehingga kekuatan ilmu sihir yang dimiliki Maharya tidak
ada artinya kalau ditujukan terhadap Bu-tek Siauw-jin dan di samping ini dia
menang jauh dalam hal kekuatan sinkang, maka dia dapat menahan tekanan dua
orang itu dengan tenaga sinkang-nya.
Dibandingkan
dengan gurunya, keadaan Kwi Hong jelas lebih payah. Dua belas orang panglima
itu berkepandaian tinggi, dan andai kata hanya mereka yang mengeroyok, kiranya
Kwi Hong akan mampu menandingi dan mengatasi mereka. Akan tetapi, di samping
dua belas orang panglima itu, masih terdapat puluhan, bahkan kini ratusan orang
tentara pengawal yang mengepungnya! Hal ini membuat dia lelah sekali setelah
berhasil merobohkan tiga puluh orang lebih! Tetap saja dia masih terkepung
ketat karena yang datang jauh lebih banyak dari pada yang roboh.
Sekarang
enam orang panglima yang melihat betapa Kwi Hong sudah terkepung ketat,
meninggalkan pimpinan pengeroyokan kepada enam orang temannya dan mereka
sendiri lalu membantu Bhong-koksu menyerbu Bu-tek Siauw-jin.
"He-he-he,
bagus...! Majulah semua, maju yang banyak agar lebih menggembirakan!"
Bu-tek
Siauw-jin tertawa dan tiba-tiba tubuhnya roboh menelungkup ke depan, lalu
berputar dan tahu-tahu kedua kakinya menendang ke belakang, inilah ilmu yang
baru, Si Jangkrik menyentik atau Si Kuda menyepak yang didapatkan ketika dia
mengadu jangkrik. Serangan ini amat tiba-tiba dan tidak terduga oleh Maharya
dan Bhong-koksu, sehingga biar pun mereka berdua cepat menghindar, tetap saja
angin tendangan kedua kaki itu menyambar ke arah muka mereka dan celakanya tapak
kaki itu berlepotan tanah sehingga muka mereka terkena tanah dan lumpur!
Pada
detik-detik berikutnya terdengar jerit nyaring dan dua orang panglima roboh
tewas terkena tendangan kaki yang kekuatannya tidak kalah oleh sepakan lima
ekor kuda itu! Andai kata Maharya atau Bhong-koksu yang terkena sepakan itu,
tentu paling hebat tubuh mereka akan terlempar. Akan tetapi dua orang panglima
yang tingkat sinkang-nya kalah jauh itu, begitu terkena sepakan pada dada
mereka, seketika tewas dengan tulang-tulang iga remuk dan jantung tergetar
pecah!
"Tar-tar-tar-tarrr...!"
Cambuk panjang di tangan Bhong-koksu melecut seperti halilintar
menyambar-nyambar ke arah kepala Bu-tek Siauw-jin.
"Aihhh...
wuuutttt!"
Ujung cambuk
itu terkena sambaran tangan Si Kakek cebol dan dicengkeramnya. Tentu saja
Bhong-koksu mempertahankan senjatanya itu dan mereka bersitegang. Cambuk yang
terbuat dari bahan yang ulet dan dapat mulur itu meregang dan tiba-tiba Bu-tek
Siauw-jin melepaskan ujung cambuk. Terdengar suara nyaring dan ujung cambuk ini
menyambar ke arah muka Bhong-koksu sendiri! Bhong-koksu kaget bukan main,
melepaskan gagang cambuk dan menundukkan muka merendahkan tubuh.
"Aduhhhh...!
Aduhhhh...!" Dua orang panglima pembantu yang berdiri di belakangnya
berteriak dan roboh, merintih-rintih karena yang seorang kepalanya benjol besar
dihantam gagang cambuk sedangkan orang kedua kulit dadanya robek disambar ujung
cambuk.
Dengan
kemarahan meluap Bhong-koksu sekarang menerjang maju dengan hanya menggunakan
pedangnya, sedangkan Maharya juga mendesak dengan tombak bulan sabitnya.
"Kwi
Hong, kau larilah!" Tiba-tiba tubuh kakek cebol itu berkelebat melewati di
atas kepala Bhong-koksu dan Maharya, sambil berteriak ke arah muridnya yang
terdesak hebat dan terkurung ketat. Akan tetapi, begitu tubuhnya tepat berada
di atas kedua orang musuhnya terdengar suara memberobot disusul bau yang cukup
membikin Bhong-koksu dan Maharya merasa muak hendak muntah!
"Tidak,
Suhu. Kita hajar mampus semua anjing ini!" Kwi Hong yang tahu-tahu melihat
gurunya sudah berada di sampingnya dan dengan mudah mendorong-dorong roboh
beberapa orang pengeroyok, membantah.
"Hushh,
musuh terlampau kuat dan banyak. Buat apa mati konyol di sini? Heran sekali
pamanmu, Pendekar Siluman itu. Ke mana saja dia minggat dan kenapa membiarkan
kita dikeroyok tanpa membantu? Hayo kau pergi cari pamanmu, minta
bantuannya!"
"Suhu
yang harus pergi!"
"Hushhh,
aku masih belum kenyang main-main di sini. Pula, perutku mules ingin buang air
besar. Lekas kau pergi keluar dari sini, cari pamanmu sampai dapat dan katakan,
kalau dia tidak mau membantu aku, kelak aku pun tidak sudi membantunya kalau
dia membutuhkan tenaga bantuan. Hayo!"
"Tapi,
Suhu sendiri..."
"Ihhhhh,
anak bandel! Sungguh tolol sekali aku mengapa mengambil murid engkau perawan
bandel ini. Pergi, atau minta kugaplok?"
Kwi Hong
maklum bahwa gurunya berwatak sinting, maka bukanlah tidak mungkin kalau dia
benar-benar akan digaploknya. Dia masih penasaran melihat Bhong-koksu dan
Maharya belum roboh, tetapi dia mengerti juga kalau pertandingan ini
dilanjutkan, dia tentu akan kehabisan tenaga dan akhirnya akan kalah.
"Baik,
Suhu. Hati-hati menjaga dirimu, Suhu!"
"Weh-weh!
Kau kira aku anak kecil, ya? Pakai ditinggali pesanan segala. Pergilah, aku
membuka jalan!"
Kakek itu
lalu menerjang ke depan, kedua lengannya bergerak dan setiap kedua lengan
dikembangkan dan didorongkan, tentu pihak pengeroyok bubar dan terhuyung ke
kanan kiri, membuka jalan. Kwi Hong berkelebat ke depan, tubuhnya dilindungi
sinar pedang Li-mo-kiam sehingga senjata-senjata rahasia dan anak panah yang
berusaha mencegah dia lari, runtuh semua dan tak lama kemudian lenyaplah dia
keluar dari tempat itu.
Kini kemarahan
Bhong-koksu dilimpahkan seluruhnya kepada Bu-tek Siauw-jin. "Kakek tua
bangka keparat! Kalau belum memenggal lehermu dengan pedangku, aku Im-kan
Seng-jin takkan mau sudah!"
"Singg...
siuuutt...!" Hampir berbareng, pedang di tangan Bhong-koksu menyambar dari
kanan dan tombak bulan sabit di tangan Maharya menyambar dari kiri.
Namun,
tiba-tiba tubuh cebol itu roboh ke atas tanah. Dua orang lawannya terkejut dan
terpaksa menahan serangan dan bersikap waspada karena mengira bahwa si cebol
itu tentu akan menggunakan jurus tendangan menyepak yang lihai tadi. Akan
tetapi mereka kecele karena Si Cebol tua renta itu sama sekali tidak menendang,
melainkan terus menggelundung menuju ke belakang dan keluar dari pintu memasuki
taman.
"Kejar...!"
"Tangkap...!"
"Bunuh...!"
Teriakan-teriakan
nyaring ini keluar dari mulut para panglima dan pengawal, namun yang berkelebat
lebih dulu melakukan pengejaran adalah Bhong-koksu dan Maharya. Mereka mengejar
ke dalam taman yang besar dan indah itu, akan tetapi tidak tampak bayangan
Bu-tek Siauw-jin.
"Celaka,
jangan-jangan dia telah berhasil melarikan diri...." Bhong-koksu berkata.
"Belum
tentu, kalau dia melompat keluar dari taman tentu kita tadi melihatnya,"
kata Maharya sambil mencari terus ke seluruh taman.
Para
panglima dan pasukan pengawal yang ikut mengejar telah tiba di situ pula, akan
tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang melihat bayangan kakek cebol
yang lihai itu.
"Heiiii,
kalian mencari apa? Aku berada di sini!"
Semua orang
memandang dan kiranya kakek yang mereka cari-cari itu berada di atas pohon,
duduk ongkang-ongkang di atas dahan dalam keadaan telanjang bulat, tampak
pakaiannya tergantung di cabang pohon.
Tentu saja
Bhong-koksu dan Maharya marah sekali dan mereka sudah berlari menghampiri pohon
yang berdiri di tepi telaga di dalam taman.
"Aku
gerah sekali, lelah melayani kalian. Aku mau mandi lebih dulu nanti kita
lanjutkan lagi." Setelah berkata demikian, tubuh kakek cebol itu melayang
ke bawah dan terjun ke dalam air telaga.
"Byuuurrr!"
Air muncrat tinggi dan sampai lama tubuh itu tenggelam. Ketika dia muncul lagi
yang tampak hanya kepala sebatas dada. Kiranya telaga itu tidak dalam dan di
dasarnya terdapat tanah lumpur sehingga ketika terjun tadi sebagian tubuh
Bu-tek Siauw-jin terbenam ke dalam lumpur. Tentu saja muka dan kepalanya penuh
lumpur ketika dia tersembul keluar sambil megap-megap!
"Siauw-jin,
engkau akan mampus dalam keadaan yang lebih rendah dari pada seorang siauw-jin
(manusia hina). Engkau akan mampus seperti seekor anjing yang bangkainya hanyut
di air!" Maharya berseru dan kini semua orang telah mengurung telaga itu
dengan senjata disiapkan.
Bu-tek
Siauw-jin yang gelagapan tadi kini sudah mencuci kepala dan mukanya dengan air.
Air telaga itu jernih sekali, dan di situ terdapat banyak ikan emas peliharaan
Koksu. Sambil menyembur-nyemburkan air dari mulut dan menggosok kedua matanya,
Bu-tek Siauw-jin memandang kepada Koksu dan Maharya, terkekeh gembira
mempermainkan dan mengejek.
"Ha-ha-ha,
sejak jaman dahulu, belum pernah kerajaan memiliki seorang Koksu segagah Im-kan
Seng-jin Bhong Ji Kun, mengerahkan pasukan pengawal dan anjing peliharaan Maharya
pendeta palsu untuk mengeroyok seekor anjing yang sedang mandi! Eh, Bhong-koksu
dan Maharya, tahukah engkau mengapa aku harus mandi dulu?"
Maharya yang
sudah banyak pengalamannya dan maklum akan kelihaian kakek cebol itu menahan
gejolak kemarahan hatinya. Maka dia pun tersenyum lebar, sungguh pun senyumnya
agak pahit, kemudian berkata, "Tentu saja aku tahu, Siauw-jin. Memang
tepat sekali kalau engkau mandi lebih dulu agar tubuhmu bersih, karena setelah
mati tidak akan ada yang sudi membersihkan mayatmu. Biarlah engkau mati dalam
keadaan bersih tubuhmu, kami sabar menantimu di sini."
Jawaban itu
dikeluarkan dengan suara yang halus dan ramah, namun sebetulnya merupakan
ejekan yang menyakitkan hati.
"Bukan!
Bukan begitu! Jawabanmu ngawur dan memang sejak dahulu aku tahu engkau seorang
manusia tolol dan berkedok pendeta biar dianggap suci dan pintar, Maharya! Akan
tetapi engkau tidak bisa mengelabui aku! Engkau bertapa di puncak gunung-gunung
bukan untuk membersihkan batin melainkan untuk memupuk ilmu agar dapat kau
pergunakan untuk merebut kemuliaan di dunia ramai! Engkau memakai cawat dan
pakaian sederhana, makan seadanya, memamerkan hidup sederhana, bukan untuk
mempertajam pandang mata batin melainkan kau pakai untuk kedok agar lebih mudah
engkau menipu orang, seperti seekor serigala berkedok bulu domba. Mau tahu
mengapa aku mandi? Karena sudah terlalu lama aku bertanding dengan kalian, dan
terlalu banyak kotoran kalian mengotori tubuhku. Maka itu harus membersihkan
dulu tubuhku agar tidak sampai keracunan oleh kotoran dari kalian tadi,
ha-ha-ha!"
Bhong-koksu
marah bukan main. Dia melambaikan tangan kiri memberi aba-aba dan mulailah para
panglima dan anak buah mereka menyerang kakek cebol yang sedang mandi itu
dengan senjata rahasia. Beterbanganlah anak panah, piauw (pisau terbang),
peluru besi, paku dan lain-lain ke arah tubuh Bu-tek Siauw-jin. Sambil tertawa
kakek itu mengelak ke kanan kiri kemudian tenggelam.
Karena
pergerakannya, tentu saja air menjadi keruh dan tubuhnya tidak tampak.
Tahu-tahu dia telah muncul jauh dari tempat sasaran dan kedua tangannya
digerak-gerakkan menyambit ke daratan. Berhamburanlah air keruh, lumpur dan
batu-batu kecil ke arah para pengurungnya! Bahkan ada dua buah benda kekuningan
menyambar ke arah muka Koksu dan Maharya. Dua orang ini cepat mengelak dan dua
buah benda itu dengan tepat mengenai muka dua orang panglima yang berada di
belakang Koksu dan Maharya.
"Plok!
Plok! Uuhhhgg... hak... haek-haek...!"
Dua orang
panglima itu muntah-muntah karena dua ‘benda’ yang mengenai mulut dan hidung
mereka itu adalah tahi (kotoran manusia) yang lembek, lunak dan masih hangat!
Kiranya kakek cebol itu bukan hanya mandi, melainkan juga membuang air besar!
Kiranya dia tadi tidak membohong ketika menyuruh muridnya pergi dan dia ingin membuang
air besar lebih dulu. Pantas saja dia merendam tubuh bertelanjang bulat dan
ketika ia membuang air besar diam-diam ditampungnya kotoran dengan tangan dan
kini dipergunakan untuk membalas serangan senjata rahasia lawan dengan ‘senjata
rahasia’ yang luar biasa itu!
"Ha-ha-ha-ha,
benar-benar anjing yang suka makan tahi!" Bu-tek Siauw-jin tertawa
bergelak, akan tetapi terpaksa harus slulup (menyelam) kembali karena dari
pihak pengurungnya telah datang anak panah seperti hujan menyerang dirinya.
Terjadilah
main kucing-kucingan antara kakek cebol dan para pengurungnya. Kalau dihujani
serangan, dia menyelam, lalu timbul di lain bagian sambil membalas dengan
sambitan batu-batu dan lumpur. Agaknya permainan ini mendatangkan kegembiraan
besar di hati Bu-tek Siauw-jin, apa lagi ketika dia berhasil mengotori pakaian
Koksu dan sorban di kepala Maharya dengan lumpur, membuat dua orang sakti itu
memaki-maki dan menyumpah-nyumpah. Kakek cebol tertawa bergelak, mengejek ke
kanan kiri sambil menjulurkan lidah.
"Ambil
minyak! Kita bakar permukaan telaga!" Tiba-tiba Bhong-koksu mengeluarkan
perintah.
Perintahnya
ini hanya gertakan saja, akan tetapi cukup membuat Bu-tek Siauw-jin terkejut
dan khawatir. "Wah, itu licik sekali namanya! Biar kulawan kalian lagi di
atas daratan kalau begitu!"
Akan tetapi
Bhong-koksu, Maharya dan para panglima beserta anak buah mereka telah menanti
di tepi telaga, membuat kakek itu sukar mendarat dan terpaksa ke tengah telaga
kembali sambil memaki-maki.
"Kalian
cacing-cacing busuk, pengecut licik, tak tahu malu, ya?"
"Singgg...
cuppp...! Wirrrr!"
Maharya dan
Bhong-koksu terbelalak memandang gagang pedang yang tergetar di atas tanah di
depan mereka itu, sebatang pedang yang tadi meluncur dari atas lalu menancap di
atas tanah di depan mereka. Pada detik berikutnya, sesosok bayangan berkelebat
dan tahu-tahu di depan mereka, dekat pedang di atas tanah tadi, telah berdiri
seorang wanita bertubuh tinggi langsing dan mukanya berkerudung, Ketua
Thian-liong-pang!
"Pa...
paduka...?" Bhong-koksu berseru, lupa diri dan menyebut paduka kepada
Ketua Thian-liong-pang yang dikenalnya sebagai puteri kaisar, Nirahai.
"Aihhh,
Ketua Thian-liong-pang hendak memberontak?" Maharya juga berseru.
"Bhong
Ji Kun manusia rendah budi, pengkhianat dan pemberontak hina! Engkaulah yang
hendak mengkhianati kaisar, hendak memberontak dan bersekutu dengan orang-orang
Mongol dan Tibet dibantu orang-orang Nepal, hendak menjatuhkan kaisar dan
diperalat Pangeran Yauw Ki Ong yang hendak merebut tahta kerajaan. Berlututlah
engkau pengkhianat busuk agar kutangkap dan kuhadapkan kaisar!" Ketua
Thian-liong-pang atau Puteri Nirahai itu membentak dengan suaranya yang
nyaring.
Dapat
dibayangkan betapa kagetnya hati Bhong-koksu dan semua panglima yang menjadi
kaki tangannya mendengar betapa rahasia mereka telah terbuka. Untuk
menyembunyikan rasa khawatirnya, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun tertawa.
"Ha-ha-ha!
Engkau puteri buronan, puteri pelarian yang telah mencemarkan nama kerajaan,
berpura-pura hendak bersikap seperti seorang setiawan. Kebetulan sekali,
Nirahai, engkau menjadi musuh kerajaan dan hadapilah kematianmu di ujung
pedangku sendiri!" Bhong-koksu melintangkan pedang di depan alisnya
sedangkan Maharya telah menggerakkan senjata tombak bulan sabitnya.
"Haiii...
engkaukah Ketua Thian-liong-pang? Gagah perkasa benar engkau, akan tetapi aku Bu-tek
Siauw-jin tidak minta bantuanmu! Menghadapi coro-coro kecoa bau itu aku belum
membutuhkan bantuanmu!" Bu-tek Siauw-jin berteriak-teriak dari tengah
telaga, kemudian meloncat ke darat dekat Ketua Thian-liong-pang.
Nirahai,
wanita berkerudung itu secepat kilat telah menyambar pedangnya yang tadi
dilontarkan menancap tanah, ketika ia melirik ke kiri dari balik kerudungnya,
mukanya menjadi merah padam melihat betapa kakek cebol di sebelahnya itu
bertelanjang bulat!
"Kakek
sinting, pergilah!" bentaknya ketus. "Aku tidak butuh
bantuanmu!"
Bu-tek
Siauw-jin mengerutkan alisnya, menghadapi Nirahai dan bertolak pinggang, lupa
sama sekali betapa lucu sikapnya, bertolak pinggang membusungkan dada tipis dan
sama sekali tidak berpakaian! "Wah-wah-weh-weh! Siapa yang membantu dan
siapa yang dibantu? Sebelum kau muncul aku sudah mereka keroyok sampai
kelelahan dan terpaksa aku mandi dan buang air dulu. Engkau mau dibantu atau
tidak, aku terpaksa harus menggempur mereka ini, terutama si botak Koksu dan si
palsu Maharya!"
Maharya,
Bhong-koksu, dan lima orang panglima sudah menerjang maju, tidak dapat menahan
kemarahannya lagi. Bhong-koksu yang menganggap bahwa Nirahai lebih berbahaya,
bukan ilmunya karena mungkin Si Kakek cebol itu lebih sakti, melainkan
berbahaya karena Nirahai telah mengetahui rahasianya, sudah cepat-cepat
menerjang Nirahai dengan pedangnya. Pedang itu dengan gerakan cepat membabat
leher Nirahai, ketika dielakkan dilanjutkan dengan tusukan ke arah perut yang
dapat ditangkis pula oleh pedang Nirahai, akan tetapi pedang di tangan Koksu
yang seperti hidup, tahu-tahu sudah membabat ke arah kedua kaki lawan!
Nirahai
maklum bahwa lawannya bukan orang sembarangan, melainkan seorang ahli silat
tinggi yang sakti, maka cepat tubuhnya mencelat ke atas, kedua kakinya ditarik
ke atas menghindarkan babatan pedang, namun kaki itu tidak hanya mengelak saja,
melainkan dari atas mengirim tendangan beruntun ke arah dada dan muka lawan!
"Wuuut!
Wuuutt!"
Bhong-koksu
berseru kaget dan nyaris dagunya tercium ujung sepatu lawan kalau saja dia
tidak cepat-cepat mencelat mundur dan keadaannya yang terdesak itu tertolong
oleh majunya tiga orang panglima pembantunya yang mengurung dan menyerang
Nirahai sehingga wanita berkerudung itu tidak dapat mendesak Bhong-koksu yang
dibencinya.
Biar pun
dihadapi tiga orang panglima yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi,
Nirahai masih dapat mencelat melalui mereka dan pedangnya menyambar ke arah
Maharya yang berada di tempat lebih dekat dengannya dari pada Bhong-koksu yang
melompat mundur tadi. Dia sengaja menyerang pendeta ini karena dia maklum bahwa
di antara para pembantu Bhong-koksu, pendeta inilah yang paling berbahaya.
Pedangnya
yang berkelebat seperti halilintar menyambar itu mengejutkan Maharya yang cepat
menggerakkan tombak bulan sabitnya sambil membentak, "Robohlah!"
Tangkisan
Maharya dengan tombaknya mengenai pedang Nirahai, menimbulkan bunyi nyaring
sekali, dan bentakannya tadi mengandung pengaruh mukjizat ilmu sihirnya, namun
selain Nirahai telah memiliki sinkang yang amat kuat, juga muka wanita ini
terlindung kerudung sehingga sinar mata Maharya yang penuh kekuasaan mukjizat
itu tidak mempengaruhinya. Namun, tetap saja bentakan itu mendatangkan getaran
hebat bagi Nirahai yang cepat mengerahkan sinkang melindungi jantungnya. Lebih
hebat lagi, tangkisan tombak kepada pedang itu disambung dengan meluncurnya
tiga batang jarum yang keluar dari leher tombak menyambar ke arah Nirahai!
"Pendeta
curang...!" Tiba-tiba Bu-tek Siauw-jin berteriak dan tiga batang jarum
beracun itu runtuh semua oleh sambitan Si Kakek cebol ini yang menggunakan
lumpur! Sambitan ini menyelamatkan Nirahai sungguh pun belum tentu wanita
perkasa ini akan menjadi korban jarum andai kata tidak dibantu Bu-tek
Siauw-jin, akan tetapi baju Nirahai terkena noda sedikit lumpur.
"Singgg...
wuuusss... hayyaaa...!"
Bu-tek
Siauw-jin menggulingkan tubuhnya ketika tiba-tiba pedang Nirahai menyambar ke
arah lehernya! "Wah-wah-wah, Ketua Thian-liong-pang benar ganas! Diberi
madu membalas racun! Ditolong malah membalas dengan niat membunuh!"
"Siapa
membutuhkan pertolonganmu? Engkau mengganggu saja!"
"Weh-weh,
sombongnya! Kalau tidak kubantu, apa engkau kira akan mampu menang melawan
mereka ini?"
"Aku
tidak sudi dibantu orang gila tak tahu malu. Hayo berpakaian dulu kau, kakek
tua bangka tak bermalu, baru nanti kita bicara tentang bantuan!" Nirahai
terpaksa sudah meninggalkan Bu-tek Siauw-jin lagi untuk mengamuk dengan
pedangnya karena Bhong-koksu dan Maharya sudah menerjangnya lagi. Suara
pedangnya menangkis senjata mereka dan senjata para panglima terdengar nyaring
berdenting dan bertubi-tubi kemudian terdengar teriakan dua orang pengawal yang
roboh terkena sambaran sinar pedang wanita berkerudung yang sakti itu.
Bu-tek
Siauw-jin yang merasa penasaran karena tidak boleh ikut bertanding, sambil
mengomel meloncat ke atas pohon menyambar pakaiannya dan karena tergesa-gesa
mengenakan pakaiannya beberapa kali dia memakai pakaian dengan terbalik!
Akhirnya selesai juga dia berpakaian.
"Thian-liong-pangcu!
Lihatlah, aku sudah sopan sekarang, sudah berpakaian, uhh-uhh! Pikiran gila
yang menganggap bahwa berpakaian tanda sopan! Hayoh kita berlomba, siapa lebih
banyak merobohkan cacing-cacing tanah ini!"
Dari atas,
tubuh yang cebol itu melayang turun, berputar-putar seperti gerakan seekor anak
burung belajar terbang dan akhirnya tubuh cebol itu menyambar dari atas ke arah
kepala Maharya. Memang pendeta inilah yang dicarinya! Begitu Bu-tek Siauw-jin
menyambar, kakek cebol ini menggunakan tangan kiri menyambar lengan yang
memegang tombak bulan sabit, tangan kanan mencengkeram ke arah ubun-ubun
kepala, kedua kaki menendang bergantian ke arah punggung dan lambung sedangkan
mulutnya masih mengeluarkan suara "cuhhh!" meludah ke arah tengkuk
Maharya!
Diserang
secara luar biasa itu, Maharya gelagapan. Dia dapat menyelamatkan diri dengan
memutar senjatanya melindungi kepala dan membuang tubuh ke bawah lalu
bergulingan, akan tetapi tetap saja dia tidak dapat mengelak dari air ludah
yang berubah menjadi hujan kecil menimpa sebagian dagunya!
"Siauw-jin
manusia kotor!" Dia membentak setelah mencelat berdiri sambil menyerang
ganas, dibantu oleh beberapa orang panglima.
Bu-tek
Siauw-jin maklum akan kelihaian Maharya dan para pembantunya, cepat dia
menggerakkan kaki tangan untuk mengelak dan menangkis, mulutnya tertawa-tawa
mengomel. "Heh-heh, kau kira engkau ini manusia bersih? Mana yang lebih
baik, kotor luarnya tapi bersih dalamnya dibandingkan dengan engkau yang bersih
luarnya kotor dalamnya? Heh-heh-heh! Aku memang Bu-tek Siauw-jin, namaku saja
sudah manusia rendah, apanya yang aneh kalau aku kotor! Engkau adalah seorang
pendeta, baik pakaian mau pun namamu menunjukkan bahwa engkau pendeta, akan
tetapi sepak terjangmu sama sekali berlawanan!"
"Mampuslah!"
Maharya membentak dan senjatanya yang ampuh itu sudah menyambar dan tampak
sinar kilat berkelebat.
Namun dengan
tubuhnya yang cebol, Bu-tek Siauw-jin dapat mencelat ke kiri, kakinya menendang
sebatang golok di tangan seorang pengawal yang coba menyerangnya. Pengawal itu
terhuyung ke depan, diterima oleh pinggul kakek cebol yang digerakkan ke
samping.
"Desss!
Augghh...!" Tubuh pengawal yang kena disenggol pinggul kakek itu terlempar
dan menabrak dua orang temannya sendiri sehingga mereka bertiga jatuh
terguling-guling.
Hanya
Maharya dan Bhong-koksu saja yang masih dapat menandingi amukan Bu-tek
Siauw-jin dan Nirahai secara berdepan, sedangkan para panglima dan anak buah
mereka yang banyak jumlahnya itu hanya berteriak-teriak dan membantu mengurung
serta menyerang kalau ada kesempatan, dari kanan kiri atau belakang, karena
amukan kakek cebol dan wanita berkerudung itu benar-benar amat dahsyat dan
sudah banyak jatuh korban di antara para pengawal yang berani menyerang
terlampau dekat.
Memang kalau
dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Maharya masih kalah tinggi oleh Bu-tek
Siauw-jin, sedangkan Bhong-koksu pun masih kalah setingkat oleh Nirahai yang
pada tahun-tahun lalu memperoleh kemajuan banyak sekali berkat mengambil inti
sari ilmu-ilmu silat tinggi dari partai-partai lain.
Akan tetapi,
dengan bantuan pengeroyokan banyak anak buah mereka, sedangkan para panglima
yang membantu juga memiliki kepandaian lumayan, maka kakek cebol dan wanita
berkerudung itu terkurung ketat dan belum juga mampu merobohkan Maharya dan
Bhong-koksu. Tiba-tiba muncul belasan orang Tibet dan Mongol yang memiliki
gerakan cepat dan jelas bahwa tingkat mereka lebih tinggi dari pada kepandaian
para panglima. Mereka adalah bala bantuan yang didatangkan oleh seorang
panglima dan kini mereka langsung menerjang maju mengeroyok Bu-tek Siauw-jin
dan Nirahai!
Terpaksa dua
orang yang terkurung itu kini saling membantu dengan beradu punggung saling
membelakangi. Bu-tek Siauw-jin sudah mandi keringat. Kakek ini telah merampas
sebatang toya dan melindungi tubuhnya dengan toya itu sampai senjata itu remuk,
lalu dirampasnya sebatang golok untuk melanjutkan gerakannya melindungi tubuh
sendiri dari serangan yang datang bagaikan hujan lebatnya.
"Kita
harus segera keluar dari sini," tiba-tiba Bu-tek Siauw-jin berkata kepada
Nirahai di belakangnya.
"Hemmm,
apakah engkau takut?" Nirahai balas bertanya dan ujung sepatu kirinya
berhasil merobohkan seorang Nepal, dengan menendang pusar orang itu sehingga
roboh berkejotan untuk tak dapat bangun kembali.
"Siapa
takut? Yang terlalu adalah Pendekar Super Sakti, sampai sekarang pun tidak
muncul batang hidungnya. Terlalu ini namanya! Aku sendiri yang disuruh
menghadapi cacing-cacing ini!"
"Aku
tidak butuh bantuan dia atau siapa juga!" Mendengar disebutnya Pendekar
Super Sakti, Nirahai marah. "Kalau kau takut, pergilah. Aku tidak butuh
bantuanmu."
"Eh-eh,
benar-benar kau wanita sombong dan galak! Untung bukan isteriku!"
Nirahai
terbelalak di balik kerudungnya dan memutar pedangnya menangkis serangan yang
datang bertubi-tubi sehingga tampak bunga api berpijar menyusul suara
berdencing nyaring.
"Apa
kau bilang? Mengapa untung?"
"Punya
isteri galak macam engkau benar-benar mendatangkan neraka dunia!" Bu-tek
Siauw-jin berkata lagi. "Sudah dibantu, tidak menerima malah bicara galak
dan sombong. Eh, Thian-liong-pang-cu, aku menganjurkan kita keluar dari sini
bukan karena takut melainkan aku khawatir saat ini perkumpulanmu sedang
dihancurkan oleh mereka!"
"Apa...?"
"Bodoh!
Apakah engkau melihat pembantu-pembantu mereka itu lengkap? Engkau kena
dipancing di sini, kalau kau tidak cepat-cepat keluar menolong perkumpulanmu,
akan habislah Thian-liong-pang!"
Karena
percakapan itu dilakukan dengan suara keras, tentu saja terdengar oleh
Bhong-koksu yang tertawa bergelak,
"Si
Cebol busuk ini benar-benar pandai! Memang sekarang Thian-liong-pang sedang
kami gempur habis, ha-ha-ha!"
"Singgg...
tranggg...!"
Bhong-koksu
terkejut dan cepat dia melempar tubuhnya ke belakang. Serangan Nirahai tadi
benar-benar hebat bukan main, dilakukan dengan pengerahan seluruh tenaga saking
marahnya sehingga tangkisan Bhong-koksu membuat kakek ini terpental dan hampir
saja pundaknya tercium pedang lawan. Para pembantunya, orang-orang Tibet dan
Mongol yang lihai segera mengurungnya kembali.
Kini dua
orang sakti itu mengamuk lagi, akan tetapi kalau tadi mengamuk untuk membunuh
lawan sebanyaknya, kini mereka mengamuk untuk membuka jalan darah dan keluar
dari tempat itu, keluar dari taman istana Koksu untuk menyelamatkan
Thian-liong-pang. Tentu saja Nirahai yang mempunyai keinginan ini, sedangkan
Bu-tek Siauw-jin sama sekali tidak peduli akan nasib Thian-liong-pang karena
dia sendiri ingin mencari muridnya di samping sudah lelah sekali bertempur
sejak tadi. Sudah bosan dia dan ingin menyusul muridnya, ingin bertemu dengan
Pendekar Super Sakti yang dikagumi akan tetapi yang juga menimbulkan
kemendongkolan hatinya karena sampai sekian lamanya pendekar itu tidak muncul
juga membantunya!
Ada pun
Bhong-koksu dan Maharya yang maklum bahwa dua orang itu berusaha keluar dari
kepungan, berkali-kali meneriakkan aba-aba untuk mengepung lebih ketat lagi
sehingga terjadilah pertandingan yang lebih hebat dan mati-matian.....
***************
Dugaan
Bu-tek Siauw-jin memang benar. Biar pun kakek cebol ini kelihatan sinting dan
ketolol-tololan, namun dia adalah seorang yang sudah berpengalaman dan berada
di tempat itu selama beberapa hari, mendengar percakapan-percakapan antara
Koksu dan Nirahai, percakapan-percakapan yang dilakukan para pengawal ketika
dia dan muridnya ditahan, sudah cukup baginya untuk mengerti duduknya perkara.
Dugaannya
bahwa Thian-liong-pang diserang selagi ketuanya mengamuk di taman, memang tepat
sekali. Hal ini memang sudah direncanakan oleh Bhong-koksu yang menganggap
bahwa kalau Thian-liong-pang belum dihancurkan lebih dahulu, tentu perkumpulan
yang amat kuat itu akan menjadi penghalang bagi pemberontakan yang diaturnya
bersama Pangeran Yauw Ki Ong karena Nirahai tentu akan memimpin perkumpulannya
itu untuk membela ayahnya kaisar.
Pada saat
Nirahai dan Bu-tek Siauw-jin mengamuk di taman istana koksu, sepasukan tentara
dipimpin oleh Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong panglima tinggi besar tangan kanan
Koksu, dan beberapa orang panglima yang berkepandaian tinggi dibantu pula oleh
orang-orang yang menjadi jagoan-jagoan dari Nepal dan Tibet, menyerbu markas
besar Thian-liong-pang di luar kota raja.
Karena
puteri Ketua Thian-liong-pang, Milana sudah mengetahui akan rahasia Bhong-koksu
dengan persekutuan pemberontaknya, maka begitu ibunya pergi meninggalkan markas
untuk membuat perhitungan dengan Koksu, dara jelita ini telah mengadakan
persiapan. Penjagaan dilakukan dengan ketat dan dibantu oleh para tokoh
Thian-liong-pang, yaitu Tang Wi Siang, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, dan Sai-cu
Lo-mo Bhok Toan Kok Si Kakek Muka Singa, dan para pembantu lainnya.
Jumlah anak
buah Thian-liong-pang bersama para pemimpinnya yang berkumpul di tempat itu
masih ada kurang lebih seratus orang. Mereka semua siap sedia menanti perintah
dari puteri ketua mereka dan di lain pihak Milana juga menanti kembalinya
ibunya dengan hati penuh ketegangan karena dia maklum bahwa pasti akan terjadi
sesuatu yang hebat berhubungan dengan pemberontakan yang diatur oleh Pangeran
Yauw Ki Ong dan dibantu oleh Koksu itu.
Karena
persiapan yang telah diadakan oleh Milana dan para tokoh Thian-liong-pang
inilah, maka ketika terjadi penyerbuan oleh pasukan pengawal yang dipimpin oleh
Thian Tok Lama, terjadi pertempuran yang amat seru dan hebat. Pihak
Thian-liong-pang mengadakan perlawanan mati-matian dan karena rata-rata anggota
Thian-liong-pang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, maka biar pun pasukan
tentara lebih besar dan lebih kuat, tidak mudah bagi mereka untuk menumpas
Thian-liong-pang tanpa jatuh banyak korban di pihak tentara.
Betapa pun
juga, ilmu kepandaian Thian Tok Lama amat lihai dan betapa pun para tokoh
Thian-liong-pang membela diri mati-matian, tak seorang pun di antara mereka
yang mampu menandingi pendeta Lama dari Tibet yang kosen ini. Agaknya hanya
Milana seoranglah yang hampir dapat mengimbanginya, tetapi pada saat penyerbuan
terjadi, Milana telah dikepung dan dikeroyok oleh lima orang Nepal serta dua
orang Tibet pembantu Thian Tok Lama.
Lama itu
sendiri memimpin orang-orangnya menyerbu ke dalam dan mengamuk, ditahan oleh
Tang Wi Siang, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, dan Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok.
Terjadilah pertandingan dahsyat di sebelah luar dan dalam markas
Thian-liong-pang. Pertandingan mati-matian yang berlangsung sampai setengah
hari lebih!
Betapa gigih
para tokoh Thian-liong-pang mempertahankan diri, tanpa adanya ketua mereka di
situ, akhirnya mereka itu runtuh juga. Seorang demi seorang roboh dan tewas,
mula-mula Tang Wi Siang tewas oleh Thian Tok Lama, kemudian Lui-hong Sin-ciang
Chie Kang bahkan Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok juga terluka parah dan hanya karena
di situ tidak ada ketuanya maka kakek ini memaksa diri untuk lari, bukan karena
dia takut mati, melainkan agar kelak dia dapat melaporkan kepada ketuanya, apa
lagi setelah dilihatnya betapa puteri ketuanya tertawan oleh Thian Tok Lama.
Hanya
beberapa orang saja yang berhasil lolos dari maut dalam penyerbuan itu, dan
seperti juga Sai-cu Lo-mo, para anggota Thian-liong-pang yang berhasil lolos
dan melarikan diri itu menderita luka-luka parah.
Karena telah
dapat menghancurkan Thian-liong-pang dan terutama sekali dapat menawan Milana,
Thian Tok Lama tidak melakukan pengejaran terhadap sisa orang Thian-liong-pang.
Hari telah menjadi sore dan dia hendak cepat-cepat membawa Milana sebagai
tawanan ke kota raja. Dara itu merupakan seorang tawanan penting sekali, karena
dengan adanya dara itu sebagai sandera, tentu Ketua Thian-liong-pang tidak akan
mampu berbuat hal-hal yang akan merugikan persekutuan yang dipimpin oleh
Pangeran Yauw Ki Ong dan Bhong-koksu.
Berangkatlah
sisa pasukan pengawal yang tinggal separuh itu meninggalkan markas
Thian-liong-pang yang telah terbasmi dan telah mereka bakar, menuju ke kota
raja. Milana dengan kedua tangan terbelenggu, menjadi tawanan dan dinaikkan ke
atas punggung seekor kuda, digiring di tengah-tengah mereka dan dikawal sendiri
oleh Panglima Bhe Ti Kong, Thian Tok Lama dan para pembantunya.
Yang menjadi
pelopor di depan adalah jagoan-jagoan Nepal yang bersorban dan rata-rata
bertubuh tinggi besar. Mereka merasa bangga karena dalam kemenangan ini mereka
melihat tanda yang baik bahwa persekutuan mereka akan berhasil, dan kalau
kaisar berhasil dijatuhkan, tentu mereka akan memperoleh kedudukan tinggi bukan
hanya dari kaisar baru, akan tetapi terutama dari raja-raja mereka sendiri
karena Pangeran Yauw Ki Ong sudah menjanjikan persahabatan, bukan penaklukan
seperti sekarang, baik kepada Nepal, Mongol mau pun Tibet.
Karena hari
sudah hampir gelap dan perjalanan melalui sebuah hutan besar, maka pasukan itu
melakukan perjalanan cepat. Terdengar suara derap kaki kuda mereka bergema di
dalam hutan dan pasukan yang berjalan kaki mengikuti dari belakang setengah
berlari. Sembilan orang jagoan Nepal yang merasa berjasa dan bergembira tidak
dapat menahan kegembiraan hati mereka dan terdengarlah suara mereka
bernyanyi-nyanyi dalam bahasa Nepal ketika mereka membedal kuda tunggangan
mereka mendahului pasukan karena memang mereka menjadi pelopor. Aneh dan
janggal sekali suara mereka itu, suara asing yang bergema di sepanjang hutan
yang dilalui pasukan itu.
Kadang-kadang
suara nyanyi hiruk pikuk panjang pendek itu diseling suara ketawa dan
teriakan-teriakan mereka bersendau gurau. Semua ini diperhatikan dan
didengarkan oleh Milana yang duduk dengan sikap tenang di atas kudanya. Dara
perkasa ini merasa berduka mengingat akan kehancuran Thian-liong-pang dan
kematian tokoh perkumpulan ibunya. Namun sedikit pun dia tidak merasa gelisah
atau takut. Hanya terpaksa dia ditawan. Akan tetapi setiap saat ia siap untuk
melawan dan memberontak jika terdapat kesempatan. Satu-satunya hal yang
dikhawatirkannya hanyalah keadaan ibunya. Ibunya belum tahu akan mala petaka yang
menimpa Thian-liong-pang dan dia tidak tahu di mana adanya ibunya, akan tetapi
dia dapat menduga bahwa tentu ibunya juga terancam bahaya besar yang
direncanakan oleh Koksu dan kaki tangannya.
Dengan sikap
angkuh dan agung Milana mengerling kepada Panglima Bhe Ti Kong dan Thian Tok
Lama dan yang menunggang kuda di dekatnya. Panglima itu menjadi orang
kepercayaan Koksu dan kedua orang ini, terutama Thian Tok Lama yang mengawal
dan menjaganya. Kalau saja tidak ada pendeta Tibet itu, agaknya masih ada harapan
baginya untuk meloloskan diri. Akan tetapi pendeta gundul itu benar-benar amat
lihai.
"Tidak
enakkah dudukmu, Nona? Menyesal sekali, terpaksa kami membelenggu kedua
tanganmu," terdengar Panglima Bhe Ti Kong berkata.
Milana tidak
menjawab, juga tidak menoleh sama sekali, melainkan tetap duduk tegak memandang
ke depan seolah-olah tidak mendengar suara panglima itu. Betapa pun juga, dia
adalah puteri Ketua Thian-liong-pang, malah lebih jelas lagi, puteri dari
Puteri Nirahai! Dia adalah cucu kaisar! Kedudukannya jauh lebih tinggi dari
pada kedudukan seorang panglima pembantu Koksu. Dengan pikiran ini, Milana
dapat duduk dengan tegak dan sikap agung dan sikap ini terasa sekali oleh Bhe
Ti Kong mau pun Thian Tok Lama.
"Hemm,
tiada gunanya bersikeras. Hanya orang bodoh dan tidak bijaksana saja yang tidak
mampu menghadapi kekalahan dan berkeras kepala." Kembali Bhe Ti Kong
berkata karena dia pun tahu bahwa dara jelita dan perkasa itu adalah cucu
kaisar, merupakan seorang tawanan yang amat penting dan membuat dia merasa
tidak enak sendiri.
Milana
tersenyum mengejek, mengerling dan berkata, "Perlu apa banyak cerewet?
Tunggulah saja kalau sampai kalian terjatuh ke tangan ibuku!"
Sebelum Bhe
Ti Kong atau Thian Tok Lama menjawab, tiba-tiba terdengar teriakan mengerikan
di sebelah depan. Sampai tiga kali terdengar jerit mengerikan itu, jerit
memanjang, jerit orang yang ketakutan, jerit kematian. Setelah gema suara jerit
itu lenyap, yang terdengar hanya derap kaki kuda dan suasana menjadi
menyeramkan dan menegangkan sekali.
"Harap
Ciangkun menjaga dia baik-baik, pinceng akan mengadakan pengawalan di belakang.
Kumpulkan semua tenaga untuk mengawal dia," kata Thian Tok Lama.
Bhe Ti Kong
mengangguk, kemudian memanggil para panglima dan jagoan-jagoan Nepal. Pasukan
itu bergerak maju, Milana di tengah-tengah mereka, dijaga ketat.
"Apakah
yang terjadi? Siapa yang menjerit tadi?" Bhe Ti Kong bertanya.
Para
pelopor, jagoan-jagoan Nepal itu mengangkat bahu. "Kawan-kawan yang berada
di depan tentu akan dapat memberi keterangan nanti," kata mereka. Mereka
adalah tiga orang di antara sembilan jagoan Nepal yang tadi bernyanyi-nyanyi
dan tertawa-tawa. Ada pun yang enam orang lain telah mendahului gerakan pasukan
sebagai pelopor dan pembuka jalan, juga sebagai pengawas agar jalan yang akan
mereka lalui aman.
Milana tetap
duduk tegak di atas kudanya dengan tenang. Dikurung di tengah-tengah antara
para panglima dan jagoan Nepal, kudanya lari mencongklang, membuat tubuhnya
terayun-ayun mengikuti gerakan kuda, dan rambut dara yang panjang itu berkibar.
Mereka memasuki bagian hutan yang lebat dan keadaan sudah mulai suram dan agak
gelap.
"Haiii...!
Lihat di depan itu...!" Tiba-tiba Bhe Ti Kong berteriak, disusul
seruan-seruan kaget para jagoan Nepal yang cepat membalapkan kuda mereka menuju
ke depan di mana tampak sesosok tubuh orang bersorban membujur di atas tanah.
Milana
memandang dengan jantung berdebar. Dari jauh saja dia sudah dapat melihat bahwa
orang yang rebah di atas tanah di tengah jalan itu tentulah seorang di antara
jagoan Nepal yang tadi bernyanyi-nyanyi. Dugaannya memang tepat. Setelah mereka
datang dekat dan para jagoan Nepal bersama Panglima Bhe Ti Kong meloncat turun
dari kuda memeriksa, ternyata bahwa tubuh itu adalah mayat seorang di antara
para jagoan Nepal yang mendahului jalan, rebah telentang dan tewas dengan
sebatang pisau, pisaunya sendiri yang menjadi kebanggaan para jagoan Nepal itu,
menancap di tenggorokannya!
Tiba-tiba
terdengar derap kaki kuda membalap dari arah depan dan belakang. Hampir
berbareng dua orang penunggang kuda itu tiba di situ. Yang datang dari belakang
adalah Thian Tok Lama yang telah mendengar akan kematian seorang pembantunya
dari Nepal, ada pun yang datang dari depan adalah seorang jagoan Nepal lain yang
bermuka pucat dan yang begitu datang melapor dengan suara terengah-engah kepada
Thian Tok Lama, "Celaka... di depan ada lagi tiga orang teman yang
tewas...!"
Thian Tok
Lama terkejut dan marah sekali. Sambil mengeluarkan suara menggereng keras dia
melayang turun dari atas punggung kudanya, berdiri dan memandang ke depan,
mulutnya mengeluarkan suara yang nyaring melengking sampai bergema di seluruh
hutan.
"Pinceng
Thian Tok Lama memimpin pasukan khusus dari Koksu, siapakah begitu berani mati
mengganggu kami dan membunuh empat orang anggota pengawal pasukan kami?"
Semua orang
diam dengan hati tegang membuka mata dan telinga menanti jawaban dan keadaan di
hutan itu sunyi sekali, sunyi dan menyeramkan. Sampai dua kali Thian Tok Lama
mengulang teriakannya namun belum juga ada jawaban.
Suara Milana
yang tertawa mengejek memecahkan kesunyian yang menyeramkan itu. "Hem,
mengapa kalian begini ketakutan?" Dara itu mengejek, hanya untuk
memperolok orang-orang yang dibencinya itu.
Dia sendiri
tidak tahu siapa pembunuh orang-orang Nepal itu, tidak dapat menduga apakah
pembunuh itu kawan ataukah lawan. Melihat caranya membunuh jagoan-jagoan Nepal
yang lihai jelas dapat diduga bahwa pembunuhnya tentulah seorang yang memiliki
kepandaian tinggi. Akan tetapi dia yakin bukan ibunya yang melakukan hal itu.
Cara yang dipergunakan ibunya selalu terbuka, tidak suka ibunya membunuh lawan
secara menggelap macam itu. Ibunya adalah seorang gagah perkasa sejati
sedangkan cara yang dipergunakan pembunuh ini menyeramkan penuh rahasia.
Tiba-tiba
terdengar suara yang nyaring, seolah-olah menyambut atau menjawab pertanyaan
mengejek dari Milana tadi.
"Kalau
Nona Milana tidak segera dibebaskan, sebentar lagi bukan hanya para pelopor
yang tewas, melainkan seluruh pasukan! Berani melawan dan menghina tunanganku,
berarti bosan hidup!"

Diam-diam
Milana terkejut dan kecewa sekali mendengar suara yang dikenalnya itu. Dia
merasa gelisah. Tahulah dia bahwa yang membunuh orang-orang Nepal itu adalah
pemuda Pulau Neraka yang amat dibencinya itu, dibenci akan tetapi juga
ditakutinya. Namun tentu saja dara jelita ini tidak memperlihatkan rasa
khawatirnya dan masih tetap bersikap biasa dan tenang seolah-olah tidak pernah
terjadi sesuatu yang membuat dia merasa khawatir.
Tentu saja
Thian Tok Lama menjadi marah sekali. Dia tidak tahu dan tidak dapat menduga
siapa orang yang mengeluarkan kata-kata sombong itu, akan tetapi dia menduga
bahwa tentulah orang itu berniat merampas tawanan. Satu-satunya orang yang
ditakutinya di dunia ini hanyalah Pendekar Super Sakti, dan biar pun dia tahu
bahwa Ketua Thian-liong-pang juga amat lihai dan mungkin saja ketua itu
tiba-tiba muncul untuk menolong puterinya, namun dengan bantuan para
jagoan-jagoan Nepal dan pasukannya yang kuat, dia merasa cukup kuat menghadapi
bekas puteri kaisar itu.
"Siapa
berani main-main dengan pinceng? Harap suka keluar untuk bicara!" Kembali
Thian Tok Lama mengeluarkan seruan dengan pengerahan khikang hingga suaranya
mengandung getaran berpengaruh.
"Blarrr...!"
Sebuah ledakan keras mengejutkan semua orang. Tempat itu menjadi gelap tertutup
asap hitam. Seorang panglima yang berlaku waspada cepat meloncat dekat kuda
yang diduduki Milana untuk menjaga jangan sampai dalam keadaan gelap itu
tawanan yang penting ini dilarikan orang.
"Pasukan
tenang, jangan gugup dan mudah dikacau orang. Asap ini sama sekali tidak
berbahaya...!" Thian Tok Lama berseru ketika ia mendapat kenyataan bahwa
asap hitam itu tidak mengandung racun.
Sedangkan
dia sendiri diam-diam bergerak di dalam asap, memasang mata untuk mencari musuh
yang melepas asap hitam tebal. Akan tetapi tidak tampak ada gerakan sesuatu,
maka dia pun hanya berdiri dan bersikap waspada karena untuk bergerak di dalam
selimutan asap gelap itu benar-benar merupakan bahaya, salah-salah bisa
menyerang anak buah sendiri.
"Wir-wir-wirr-wirrr...!"
Asap hitam membuyar tertiup angin yang menyambar-nyambar sehingga tak lama
kemudian tempat di sekitar itu tidak begitu gelap lagi. Asap hitam mulai
menipis.
Thian Tok
Lama memandang dengan mata terbelalak, kaget bukan main melihat bahwa angin
yang menyambar-nyambar mengusir asap hitam itu keluar dari gerakan kedua lengan
seorang pemuda tampan yang tahu-tahu telah berdiri di dekat kuda yang
ditunggangi Milana, sedangkan seorang panglima tua yang tadi mendekati dan
menjaga tawanan telah menggeletak tak bernyawa di kaki kudanya sendiri.
"Keparat,
siapa engkau...?" Thian Tok Lama sudah menggerakkan tangan dan siap
menyerang.
Pemuda itu
mengangkat tangan kanannya ke atas dan terdengar suaranya tertawa. Thian Tok
Lama terasa seram. Pemuda itu tertawa, atau lebih tepat memperdengarkan suara
tertawa, akan tetapi mulut dan matanya tidak tertawa, hanya bibirnya bergerak
sedikit. Persis mayat tertawa!
"Ha-ha-ha-ha,
pendeta Lama. Kalau aku menjadi engkau, aku tidak akan sembrono menggerakkan
tangan menyerang!"
Sikap dan
kata-kata pemuda itu membuat Thian Tok Lama ragu-ragu dan curiga. Dia tidak
tahu siapakah pemuda aneh ini, kawan ataukah lawan karena keadaan masih agak
gelap, bukan hanya gelap oleh asap, akan tetapi karena senja mulai datang dan
tempat itu penuh dengan pohon-pohon besar. Akan tetapi ada sesuatu yang
seolah-olah membisikkan kewaspadaan kepadanya, maka sekarang dia melangkah maju
dan memandang penuh perhatian.
Tiba-tiba
pendeta Lama itu terkejut. Kini dia mengenal pemuda itu, seorang pemuda yang masih
remaja, akan tetapi yang memiliki sikap aneh luar biasa. Pemuda tampan yang
mempunyai mata seperti mata iblis, mukanya agak pucat dan gerak-geriknya
membayangkan ketinggian hati yang tidak lumrah. Pemuda dari Pulau Neraka yang
pernah muncul di padang tandus ketika Thian-liong-pang mengadakan pertemuan dan
pertandingan! Hatinya menjadi agak lega. Pemuda ini bukan tokoh
Thian-liong-pang, dan sebagai seorang tokoh Pulau Neraka, pasti sekali bukan
sahabat Thian-liong-pang, sungguh pun dia dan pasukannya tidak dapat
mengharapkan sikap baik dari penghuni Pulau Neraka yang telah dibasmi oleh
pasukan pemerintah itu.
"Orang
muda, kalau pinceng tidak salah mengenal orang, engkau adalah orang yang pernah
muncul sebagai tokoh Pulau Neraka, benarkah?"
Mendengar ucapan
Thian Tok Lama itu, para panglima dan jagoan Nepal terkejut, dan diam-diam
mereka bersiap-siap dengan pasukan mereka mengurung pemuda itu. Sedangkan
Milana yang diam-diam merasa cemas juga, tetap bersikap dingin dan tidak mau
mengacuhkan mereka semua, duduk diam dan tegak di atas kudanya, memandang
kejauhan.
Pemuda itu
adalah Wan Keng In, putera Ketua Pulau Neraka. Pemuda yang tergila-gila kepada
Milana itu, mendengar pertanyaan Thian Tok Lama tersenyum dingin dan hanya
mengangguk dan memandang rendah, sama sekali tidak menjawab karena dia sudah
menoleh lagi kepada Milana dengan pandang mata penuh kemesraan!
Melihat
sikap pemuda itu, diam-diam Thian Tok Lama mendongkol sekali. Dia tahu bahwa
pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang lihai dan aneh, akan tetapi dia
sendiri bukanlah seorang biasa yang mudah merasa gentar menghadapi lawan semuda
itu! Apa lagi melihat bahwa pemuda itu hanya seorang diri, tidak ditemani dua
orang kakek seperti setan yang pernah menggegerkan pertemuan yang diadakan
Thian-liong-pang. Dengan adanya pasukan dan para pembantunya, tentu saja dia
tidak takut menghadapi pemuda yang masih amat muda itu.
"Orang
muda, pinceng harap engkau tidak begitu nekat untuk menentang pasukan
pemerintah! Apakah engkau yang telah lancang membunuh orang-orang kami
itu?" Kembali Thian Tok Lama bertanya.
Dengan sikap
acuh tak acuh, Wan Keng In memaksa mukanya mengalihkan pandang mata dari wajah
Milana yang jelita kepada wajah Thian Tok Lama yang gemuk. Cuping hidungnya
yang tipis bergerak, mengeluarkan dengus menghina, lalu ia berkata, "Thian
Tok Lama, tak perlu menggertak aku dengan nama pasukan pemerintah. Aku tahu ini
pasukan apa, dan tahu pula apa yang akan dilakukan oleh Koksu bersama Pangeran
Yauw Ki Ong. Ha-ha-ha, apa kau kira aku tak melihat betapa kalian membasmi
Thian-liong-pang? Sungguh bagus...!"
Dapat
dibayangkan betapa kaget hati Thian Tok Lama mendengar ucapan itu, dan semua
anggota pasukan sudah meraba senjata. Akan tetapi karena pendeta Lama itu belum
memberi aba-aba, mereka semua hanya bersiap-siap menghadapi pemuda yang
mendatangkan suasana menyeramkan itu.
"Orang
muda, di pihak siapakah engkau berdiri?" Thian Tok Lama memancing, tidak
mau berpura-pura lagi karena maklum bahwa dia menghadapi orang luar biasa.
"Tentu
saja di pihakku sendiri, tolol!" Wan Keng In menjawab. "Kalian
membasmi Thian-liong-pang bukan urusanku karena Ketua Thian-liong-pang berani
menghina dan menolak pinanganku. Tetapi engkau telah berani menawan dan
menghina tunanganku ini, hemm..., benar-benar tak boleh dibiarkan begitu saja.
Kalau Koksu tidak minta maaf kepada Nona Milana, aku akan membasmi dia dan
semua kaki tangannya!"
"Manusia
sombong...!" Bhe Ti Kong berseru marah sekali.
Panglima ini
adalah seorang yang tangguh, kasar dan setia kepada Koksu. Sudah banyak dia
melihat orang pandai namun orang-orang pandai tunduk dan takut kepada Koksu,
maka kini melihat seorang pemuda bersikap demikian angkuh, dan melihat sikap
Thian Tok Lama yang dianggapnya terlalu merendahkan kedudukan dan wibawa Koksu,
dia menjadi marah sekali.
Sambil
membentak demikian, Bhe Ti Kong sudah menerjang maju, meloncat turun dari
kudanya dan langsung menyerang pemuda itu dengan senjatanya yang dahsyat, yaitu
sebuah tombak cagak yang bergagang pendek. Gerakan panglima ini kuat sekali,
dan bagaikan seekor burung rajawali dia menyambar dari atas, langsung tombaknya
melakukan gerakan serangan beruntun sampai tiga kali ke arah kepala, leher, dan
dada Wan Keng In.
"Plak-plak-plak...
bressss...!"
Enak saja
Wan Keng In menyambut serangan-serangan itu. Tanpa menggeser kedua kakinya yang
masih berdiri terpentang lebar, dengan sikap acuh tak acuh, dia tadi
menggerakkan tangan kiri, menyampok ke arah tombak setiap kali ujung tombak itu
menyambar. Tiga kali ia menangkis dan yang terakhir kalinya disusul dengan
dorongan yang membuat tubuh Panglima Bhe Ti Kong terbanting ke atas tanah dan
bergulingan sampai beberapa meter jauhnya! Melihat ini, para jagoan Nepal dan
para panglima terkejut dan sudah mencabut senjata masing-masing, bergerak
hendak mengeroyok.
"Tahan...!"
Thian Tok Lama mengangkat tangan ke atas sehingga pasukannya tidak berani maju,
hanya menoleh dan memandang kepadanya penuh pertanyaan. Thian Tok Lama
melangkah maju menghadapi Wan Keng In yang tersenyum mengejek.
"Orang
muda, engkau siapakah dan apa kehendakmu? Berikan penjelasan sebelum kami
terlanjur turun tangan yang akan mendatangkan penyesalan karena kami akan lebih
suka menarikmu sebagai sahabat. Pada waktu ini, Koksu membutuhkan bantuan
banyak orang pandai dan kalau engkau suka membantunya, pinceng yakin bahwa
kelak engkau akan memperoleh kemuliaan."
Pendeta itu
memang cerdik sekali. Biar pun dia tidak takut terhadap pemuda ini, akan tetapi
kalau sampai terjadi bentrokan, tentu akan jatuh banyak korban di antara
pembantu-pembantunya melihat pemuda itu telah mengalahkan Bhe Ti Kong secara
lihai bukan main, dalam segebrakan saja. Apa lagi kalau diingat bahwa siapa
tahu, muncul pula dua orang kakek setan yang mengerikan itu! Maka, jauh lebih
baik membujuk pemuda ini, karena kalau dia berhasil menarik pemuda lihai ini
sebagai sekutu, tentu Koksu akan menjadi girang bukan main dan akan memujinya.
Wan Keng In
mengeluarkan suara mendengus marah. "Huhhh! Kau kira aku ini orang macam
apa yang membutuhkan anugerah Koksu? Kalau Koksu sendiri mau datang ke sini dan
minta maaf kepada Nona Milana, kemudian mengundang aku, barulah aku akan
pikir-pikir tentang kerja sama yang kau sebut-sebut itu."
Dapat
dibayangkan betapa marahnya Thian Tok Lama mendengar ucapan yang amat sombong
itu! Namun, sebagai seorang yang sudah banyak pengalaman, dia dapat menduga
bahwa pemuda dari Pulau Neraka ini adalah seorang anak manja yang sejak kecil
memperoleh pendidikan kesaktian tinggi sehingga terlalu percaya kepada kepandaian
sendiri, juga karena ada yang diandalkan. Maka dia bersikap sabar, bahkan
tersenyum dan berkata,
"Ha-ha-ha,
tenaga seorang pandai memang amat mahal! Seorang pemimpin yang bijaksana tidak
akan segan-segan merendahkan diri untuk mendapatkan bantuan orang pandai.
Menteri Kiang Cu Ge pun baru mau mengabdi kepada kaisar setelah kaisar datang
sendiri mengundangnya. Pantas saja kalau Sicu (Orang Muda Gagah) mencontoh
perbuatannya. Namun, sebelum terbukti cukup berharga untuk diundang sendiri
oleh Koksu, Sicu harus lebih dulu diuji kepandaiannya. Pinceng adalah seorang
pembantu Koksu yang telah memperoleh kepercayaan, biarlah pinceng memberanikan
diri untuk menguji kepandaian Sicu, kalau Sicu suka memperkenalkan nama."
Mendengar
ucapan dan melihat sikap menghormat ini, Wan Keng In yang biasanya dimanja
menjadi bangga sekali. Pendeta itu adalah tangan kanan Koksu Negara, dan sudah
menyamakannya dengan Kiang Cu Ge, tokoh manusia dewa dalam sejarah lama (cerita
Hong-sin-pong) yang dipuja semua manusia karena kebijaksanaannya sehingga
sekalian setan dan iblis di neraka pun tunduk kepadanya!
"Thian
Tok Lama, aku Wan Keng In pun bukanlah seorang yang tidak tahu siapa yang pada
waktu ini patut dibantu. Aku tadi membunuh orang-orangmu karena aku marah
melihat kekasih dan tunanganku ditawan. Kalau engkau hendak mengujiku, silakan,
akan tetapi jangan menyesal kalau engkau tewas dalam pertandingan ini!"
Benar-benar ucapan yang amat sombong, akan tetapi pada saat itu Wan Keng In
sudah mencabut pedangnya yang membuat Thian Tok Lama terbelalak kaget dan
ngeri. Pedang di tangan pemuda itu mengeluarkan sinar maut yang berkilat-kilat.
"Aihh...
bukankah Lam-mo-kiam di tanganmu itu, Sicu?"
Wan Keng In
memandang pedangnya dan mengangguk bangga.
"Wan-sicu,
pinceng percaya bahwa Sicu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Biarlah tidak
perlu lagi pinceng menguji dan marilah Sicu langsung ikut bersama pinceng pergi
menghadap Koksu." Gentar juga pendeta ini melihat Lam-mo-kiam.
Wan Keng In
masih melintangkan pedangnya di depan dada, alisnya berkerut, lalu dia
menjawab, "Dengan dua syarat!"
"Katakanlah,
pinceng yakin Koksu akan dapat memenuhi syarat Sicu."
"Pertama,
Nona Milana ini adalah kekasih dan tunanganku, tidak boleh diganggu dan bahkan
harus disyahkan menjadi isteriku. Kedua, aku menjadi pembantu langsung dari
Koksu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, dan hanya mau menjadi bawahan orang yang
dapat mengalahkan kepandaianku!"
Diam-diam
Thian Tok Lama tertawa dalam hatinya. Orang muda ini benar-benar sombong dan
berkepala dingin! Akan tetapi dia tersenyum dan mengangguk-angguk. "Koksu
adalah seorang yang ahli dalam memilih pembantu, kalau sudah bertemu dengan
Wan-sicu dan menyaksikan kelihaian Sicu, tentu akan suka memberikan kedudukan
yang tinggi. Tentang Nona ini... ehhh...!"
Tiba-tiba
Thian Tok Lama tidak melanjutkan kata-katanya karena terkejut melihat betapa
kuda yang ditunggangi Milana itu mendadak meloncat ke depan dan kabur! Kiranya
ketika tadi Milana mendengar percakapan di antara mereka dan melihat
perkembangan yang tidak menguntungkan baginya, dara ini menjadi makin cemas.
Tadinya dia
mengharap akan terjadi bentrokan antara pihak Thian Tok Lama dan Wan Keng In
sehingga dalam kekacauan itu dia mendapat kesempatan untuk meloloskan diri.
Akan tetapi dengan kecewa dan mendongkol dia melihat perkembangan yang jauh
berbeda. Kedua orang itu bahkan bersekutu, maka habislah harapannya untuk
melihat mereka bertanding. Karena tidak melihat jalan lain, dan merasa ngeri
membayangkan terjatuh ke tangan pemuda gila itu, dia lalu berusaha mengaburkan
kudanya sambil mengerahkan tenaga sehingga belenggu kedua tangannya putus.
"Ha-ha,
tidak perlu khawatir, aku akan menangkapnya kembali. Heiii, manisku, engkau
hendak pergi ke mana? Jangan tinggalkan aku, kekasih...!" Wan Keng In
berseru dan tubuhnya sudah meluncur ke depan cepat sekali.
Milana
maklum bahwa dia harus melawan mati-matian, maka dengan nekat dia lalu menggerakkan
tangannya dan bekas tali yang tadi membelenggu tangannya, kini meluncur menjadi
sinar hitam menyambut tubuh Wan Keng In yang mengejarnya.
"Ha-ha-ha,
engkau mau main-main denganku?" Wan Keng In tertawa, tangan kiri menyambut
tali itu. Menangkap ujungnya dan terus disentakkan ke atas, tangan kanan
dipukulkan ke depan ke arah tubuh belakang kuda yang membalap.
Kuda yang
ditunggangi Milana mengeluarkan suara meringkik keras dan roboh berkelojotan
terkena pukulan jarak jauh yang dilakukan oleh Wan Keng In, sedangkan tubuh
dara itu terlempar ke atas ketika tali yang dipergunakan menyerang pemuda itu
tadi tertangkap oleh Keng In dan disentakkan ke atas. Pemuda itu benar-benar
hebat sekali ilmu kepandaiannya dan kini dia sudah meloncat ke depan untuk menyambut
tubuh Milana yang terlempar ke atas.
"Ehhhh...?"
Wan Keng In terbelalak heran dan memandang ke atas.
Dia merasa
kecelik karena tubuh dara yang dinantikan itu sama sekali tidak kelihatan
melayang turun, bahkan ketika ia menarik lagi tali yang dicengkeramnya, tali
itu putus dan hampir menghantam mukanya sendiri. Dan dapat dibayangkan betapa
heran dan marahnya ketika melihat bahwa kini Milana telah duduk di atas dahan
pohon tinggi, berhadapan dengan seorang pemuda dan mereka asyik bercakap-cakap!
Thian Tok
Lama dan para panglima serta jagoan-jagoan Nepal sudah memburu ke bawah pohon,
dan kini mereka itu mengurung pohon bahkan pasukan lalu dikerahkan untuk
menjaga di sekeliling pohon supaya gadis tawanan itu jangan sampai dapat
meloloskan diri.
"Milana,
manisku, turunlah engkau!" Wan Keng In berkata halus, dan dia pun belum
mengenal siapa adanya laki-laki muda yang bercakap-cakap dengan dara itu.
Akan tetapi
baik Milana mau pun pemuda di atas pohon itu tidak mempedulikannya, tidak
mempedulikan mereka yang mengurung pohon karena mereka berdua itu sedang saling
berbantah. Melihat sikap mereka itu, mau tak mau Wan Keng In mendengarkan
percakapan mereka. Dia merasa heran dan marah bukan main!
Pemuda yang
berada di atas itu bukan lain adalah Gak Bun Beng! Seperti telah diceritakan di
bagian depan, pemuda sakti ini meninggalkan markas pasukan istimewa pembantu
para pemberontak di perbatasan utara, kemudian dia menuju ke kota raja. Tanpa
disengaja, secara kebetulan sekali di dalam hutan itu dia melihat pasukan yang
dipimpin Thian Tok Lama sedang diganggu oleh Wan Keng In.
Tentu saja
Bun Beng menjadi terkejut sekali dan girang melihat musuh-musuh besarnya,
terutama sekali Thian Tok Lama dan Bhe Ti Kong, dua orang di antara mereka yang
dahulu mengeroyok dan membunuh gurunya, Siauw Lam Hwesio tokoh Siauw-lim-pai.
Akan tetapi ia tercengang melihat Wan Keng In dan ia segera mengenal pemuda
Pulau Neraka yang amat lihai itu.
Timbul
kemarahannya karena ia teringat betapa dia pernah dikalahkan dan dihina oleh
pemuda iblis itu, bahkan pedang Lam-mo-kiam telah dirampas oleh pemuda Pulau
Neraka yang semenjak kecil sudah amat jahat itu. Akan tetapi, yang membuat dia
terkejut sekali adalah ketika ia melihat Milana duduk di atas punggung kuda
sebagai seorang tawanan! Bertemu dengan semua ini, Bun Beng bersikap hati-hati.
Tentu saja
paling utama dia harus menolong Milana, dara jelita yang telah melepas budi
banyak sekali kepadanya. Namun dia maklum bahwa bukanlah hal yang mudah untuk
menolong Milana dari tangan pasukan yang kuat dan dipimpin orang-orang pandai
itu, apa lagi di situ terdapat pemuda Pulau Neraka. Karena inilah dia bersabar
dan bersembunyi sambil mengintai dan mendengarkan mereka.
Mula-mula
dia pun merasa heran ketika mendengar percakapan antara Wan Keng In dan Thian
Tok Lama, bahkan seperti juga Milana, diam-diam dia mengharapkan kedua pihak
ini akan bertanding sehingga dia mendapat banyak kesempatan untuk menolong dara
itu. Akan tetapi betapa kecewanya ketika akhirnya pemuda Pulau Neraka itu dapat
terbujuk dan bahkan bersekutu, maka terpaksa dia siap untuk menggunakan kekerasan
menyelamatkan Milana. Pada saat itulah Milana merenggut tali belenggunya dan
berusaha mengaburkan kuda.
Melihat
Milana dikejar Wan Keng In, kudanya dirobohkan dan dara itu sendiri terlempar
ke atas, Bun Beng cepat melayang ke atas pohon besar dan menyambar lengan dara
itu. Bagaikan dalam mimpi Milana melihat Bun Beng di depannya, di atas dahan
pohon tinggi sehingga untuk beberapa lamanya dara ini hanya bisa terbelalak
memandang, kemudian perlahan-lahan kedua pipinya berubah merah sekali,
jantungnya berdebar.
"Kau...?"
Hanya demikian dia dapat mengeluarkan suara.
"Nona,
syukur sekali secara kebetulan aku lewat di tempat ini. Serahkan mereka itu
kepadaku, akan tetapi engkau harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Berbahaya
sekali di sini."
Milana menggeleng
kepala keras-keras. "Membiarkan engkau menghadapi mereka sendiri dan aku
lari? Tidak! Aku akan membantumu melawan mereka!"
"Aahhh,
jumlah mereka terlalu banyak dan kulihat orang-orang pandai di antara mereka.
Harap engkau suka menurut, Nona. Sungguh berbahaya sekali kalau memaksa diri
melawan."
"Hemm,
Gak-twako. Kau bilang berbahaya bagiku kalau melawan, habis engkau
sendiri?"
"Nona..."
"Gak-twako,
begini sombongkah engkau? Sejak dahulu?"
Bun Beng
gelagapan ditegur seperti itu dan dia memandang dengan mata terbelalak lebar.
"Sombong! Aku...?"
"Apa
kau tidak suka bersahabat denganku?"
"Tentu
saja, aku..."
"Sudah
mengenal sejak dahulu, mengapa engkau masih selalu sungkan dan menyebut aku
nona? Namaku Milana dan engkau tahu ini, bukan?"
"Habis...
habis...?"
"Aku
tidak mau kau sebut nona! Nah, sebut namaku atau adik, atau... sudah jangan
mengenal aku lagi kalau kau begini angkuh!"
"Eh...
ohh... Nona... eh, Adik Milana! Jangan main-main begini...!" Bun Beng
menegur, terheran-heran mengapa dalam keadaan terancam seperti itu dara yang
dahulu bersikap halus dan lemah lembut itu meributkan soal sebutan!
"Gak-twako,
tidak girangkah engkau bertemu denganku?"
Bun Beng
makin bingung sehingga memandang dengan alis berkerut. Celaka, pikirnya. Jangan-jangan
dara ini keracunan, atau telah bingungkah pikirannya? Ia mengangguk.
"Aku...
aku girang sekali, Twako tidak tahu engkau betapa girangku... dan ahhh...
kau... kau tolonglah aku, Twako...!" Tiba-tiba Milana terisak menangis dan
ketika dengan kaget Bun Beng menyentuh lengannya, dara itu memeluknya dan
menangis terisak-isak, menyembunyikan muka di dadanya!
Tentu saja
Bun Beng menjadi bengong! Dia tidak tahu bahwa sesungguhnya Milana telah
menderita guncangan batin yang cukup hebat, menderita tekanan batin yang
ditahan-tahannya semenjak dia melihat Thian-liong-pang terbasmi,
pembantu-pembantu ibunya gugur dan dia sendiri menjadi tawanan. Dara itu tentu
saja berduka sekali melihat perkumpulan ibunya hancur, melihat Tang Wi Siang,
Lui-hong Sin-ciang Chie Kang dan yang lain-lain roboh dan tewas, dan kemudian
dia sendiri menjadi tawanan, bahkan kemudian terjatuh ke tangan Wan Keng In
pemuda yang mengerikan, sedangkan dia belum tahu apa yang telah terjadi dengan
ibunya.
Dalam
keadaan hampir putus asa itu, secara tiba-tiba, secara tidak terduga-duga, di
atas pohon, muncul Gak Bun Beng, orang yang selama ini dirindukannya! Inilah
sebabnya mengapa dara itu bersikap demikian aneh, seperti orang mabok atau
seperti orang yang berubah ingatannya dan kini dia menangis tersedu-sedu,
teringat akan semua kedukaannya dan hanya mengharapkan bantuan orang yang amat
dipercayanya ini.
Tentu saja
Bun Beng salah sangka. Apakah dara ini telah berubah menjadi seorang yang amat
penakut dan menangis menghadapi ancaman bahaya? Jantungnya berdebar tidak
karuan. Dara yang menangis di dadanya itu membuat dia merasa betapa dekatnya
wajah jelita itu yang menempel di dadanya, terasa olehnya kehangatan air mata
membasahi kulit dada dan tercium olehnya harum rambut Milana.
"Nona...
eh, Moi-moi (Adik)... hentikan tangismu. Jangan takut, aku akan melindungimu
dari mereka itu, percayalah..."
"Keparat,
mampuslah engkau!" Tiba-tiba seorang panglima meloncat ke atas dan
menggerakkan goloknya membacok Bun Beng.
"Prakk...,
bresss...!"
Tubuh panglima
itu terlempar dan terbanting roboh ke atas tanah oleh tangkisan Bun Beng.
"Aku
tidak takut... ah, Twako... kau tidak tahu... mereka telah membasmi
Thian-liong-pang... Bibi Tang Wi Siang dan para paman... mereka telah
tewas..."
Terkejutlah
Bun Beng. Dia sudah tahu bahwa para pemberontak yang dipimpin Koksu memusuhi
Thian-liong-pang, akan tetapi tidak disangkanya pasukan ini demikian mudah
membasmi Thian-liong-pang.
"Mana
mungkin? Di mana ibumu?" Dia tidak dapat percaya Thian Tok Lama dan
kawan-kawannya itu dapat menandingi Ketua Thian-liong-pang yang demikian sakti.
"Ibu
tidak ada, mungkin di kota raja. Kami melawan mati-matian, akan tetapi percuma,
dan aku tertawan..."
Bun Beng
mengangguk-angguk dan tiba-tiba dia melakukan gerakan menampar ke bawah.
"Desss...!"
Dahan di
mana Bun Beng berjongkok itu tergetar hebat, akan tetapi tubuh Wan Keng In yang
tadi meloncat dan memukul juga terdorong kembali ke bawah saat pukulannya
tertangkis oleh Bun Beng. Diam-diam Bun Beng terkejut. Pemuda Pulau Neraka itu
benar-benar hebat sekali kepandaiannya! Di lain pihak Wan Keng In yang belum
mengenal Bun Beng karena di dalam pohon sudah mulai gelap, lebih kaget lagi
melihat ada orang yang mampu menangkis pukulannya bahkan membuat tubuhnya seperti
dibanting ke bawah dengan kekuatan dahsyat!
"Milana,"
Bun Beng berbisik, tidak bersikap sungkan lagi. "Sekarang tak banyak waktu
lagi. Mereka itu benar-benar lihai dan jumlahnya banyak. Kalau kita berdua
melawan, mungkin engkau akan tertangkap lagi atau terluka. Engkau harus lari
lebih dulu. Tunggu setelah aku mengamuk di bawah, engkau melompat jauh dari
tempat ini, melalui pohon-pohon dan menghilang dalam gelap. Bawa pedang
ini..."
"Tidak!
Aku akan melawan, bertanding di sampingmu sampai mati..."
Bun Beng
merasa lehernya seperti dicekik mendengar ini. "A... apa...?"
"Gak-twako,
apa masih perlu aku menjelaskan lagi? Tidak cukupkah ketika dahulu aku membela
dan melindungimu ketika kau terluka?"
Gemetar
seluruh tubuh Bun Beng, tangannya menggigil ketika ia memegang tangan Milana.
"Tidak cukup...? Duhai... terlalu cukup, terlalu banyak... bahkan itulah
yang menyiksa hatiku. Milana... betapa aku berani menyatakan kekurang-ajaran
ini? Akan tetapi..., ahhh, kata-katamu tadi... Milana, orang yang paling kumuliakan
di dunia ini karena baik budimu, yang paling kucinta di dunia ini... maafkan
aku... akan tetapi aku cinta padamu... dan... dan kau bilang ingin bertanding
di sampingku sampai mati...? Benarkah pendengaranku?"
"Singg...!
Krekkk... plakkk! Aduhhh...!"
Tubuh
seorang jagoan Nepal yang tadi menyerang dengan tombaknya terpelanting,
tombaknya patah dan kepalanya pecah oleh pukulan Bun Beng yang menangkis dan
memukul tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah Milana.
Sepasang
mata itu basah air mata, akan tetapi bibir yang gemetar tersenyum.
"Gak-twako, mengapa baru sekarang kau menyatakan isi hatimu yang sejak
dahulu tampak membayang dalam pandang matamu?"
"Milana...
betapa aku berani... kau... seorang dara mulia, puteri Ketua Thian-liong-pang,
puteri Pendekar Super Sakti yang kumuliakan, malah cucu kaisar sendiri! Ya
Tuhan, betapa beraniku menyatakan cinta! Kalau tidak mendengar ucapanmu tadi...
perasaan hatiku akan kusimpan sebagai rahasia sampai mati."
"Terima
kasih, Twako. Sekarang aku tidak ragu-ragu lagi! Aku puas, aku bahagia. Apa pun
yang akan terjadi, biar orang sedunia menentangnya, aku akan selalu berbahagia
di sampingmu, hidup atau mati. Marilah, Twako. Mari kita menerjang ke bawah,
kita lolos dan selamat berdua atau mati bersama!"
"Tidak...!
Seribu kali tidak! Setelah aku tahu bahwa harapan hidupku tidak sia-sia,
setelah aku tahu bahwa engkau pun mencintaku, mana mungkin aku membiarkan
engkau terancam bahaya? Tidak! Milana, dengarlah baik-baik. Lihat pedang ini.
Ini adalah Hok-mo-kiam yang sudah dapat kurampas kembali. Bawalah pedang ini,
cari ibumu di kota raja dan serahkan pedang ini kepada ayahmu, Pendekar Super
Sakti. Dengan pedang ini engkau akan dapat melindungi dirimu. Aku akan hadapi
mereka di bawah itu... hemmm... akan kuhajar cacing-cacing busuk yang telah
berani menghina dewi pujaan hatiku!"
"Tidak,
Twako..."
"Husshhh,
demi cinta kita, taatilah aku sekali ini saja, sayang! Aku tidak akan dapat
memaafkan engkau, memaafkan aku sendiri atau siapa juga kalau sampai engkau
ikut turun dan menderita celaka. Nah, aku terjun, siaplah meloncat dan lari.
Sampai jumpa, sayang!" Tanpa menanti jawaban, Bun Beng yang hampir
bersorak saking gembira hatinya itu turun. Dia hanya mendengar suara Milana
terisak, akan tetapi hatinya lega ketika dia mulai merobohkan beberapa orang
pengawal dan memandang ke atas, pohon itu telah kosong dan bayangan Milana
telah lenyap.
"Thian
Tok Lama pendeta palsu!" Dia membentak ketika melihat kakek itu membuat
gerakan hendak melakukan pengejaran kepada Milana. Sebuah pukulan kilat yang
dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkang mengejutkan pendeta itu, apa lagi
ketika dia mengelak sambil menangkis, tetap saja hawa pukulan dari tangan Bun
Beng membuatnya terpelanting.
"Wan
Keng In, tikus Pulau Neraka, hendak ke mana kau?" Bun Beng sudah meloncat
ke depan, menerjang Wan Keng In yang kelihatan ragu-ragu dan agaknya
mencari-cari Milana yang lenyap.
Diterjang
secara hebat oleh Bun Beng, Wan Keng In terpaksa melayaninya. Dengan penasaran
dan marah Keng In mengerahkan tenaganya, menyambut pukulan Bun Beng ke arah
dadanya itu dengan dorongan telapak tangannya pula.
"Dessss...!"
Kalau tadi
mereka saling mengadu lengan di atas pohon, kini mereka mengadu kedua telapak
tangan yang saling bertumbukan. Akibatnya, tubuh Wan Keng In terlempar ke
belakang sampai lima meter lebih! Makin pucat wajah Wan Keng In dan biar pun
dia tidak terluka, namun dia terkejut setengah mati dan barulah kini sepasang
matanya memandang dengan sinar berkilat-kilat ke arah Bun Beng. Betapa hatinya
tidak sangat terkejut. Di dalam dunia ini, kiranya hanya ada dua orang, gurunya
sendiri dan paman gurunya, dua kakek setan Pulau Neraka, yang dapat membuatnya
terlempar seperti itu!
Pekik
melengking yang menyeramkan keluar dari dada pemuda Pulau Neraka itu ketika dia
meloncat ke depan lalu membentak,
"Jahanam!
Siapa engkau?"
"Plak-plak-dess-dess!"
Empat orang
anggota pasukan terpelanting ke kanan kiri dan tak dapat bangkit kembali
terkena hantaman kaki tangan Bun Beng yang merasa betapa tubuhnya ringan dan
enak sekali, seringan dan seenak hatinya yang gembira bukan main. Pemuda ini
mengerling ke kanan kiri, tertawa ketika melihat para pengawal tidak berani
maju dan hanya mengurung dari jarak jauh.
Dengan
tenang dia lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Wan Keng In, tersenyum mengejek
dan memandang dengan sinar mata berseri. Dunia seolah-olah berubah bagi hati
Bun Beng dan biar pun dia berhadapan dengan musuh-musuh yang berbahaya, dia
tetap gembira. Tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, tidak ada kekhawatiran
dan semua orang kelihatan menggembirakan. Agaknya wajahnya yang berseri itu
membuat semua orang terheran-heran dan curiga, sedangkan Wan Keng In mulai
mengingat-ingat siapa gerangan pemuda tampan yang wajahnya berseri-seri
tertimpa cahaya obor yang dinyalakan oleh beberapa orang pengawal. Dia merasa
seperti mengenal wajah itu, akan tetapi dia lupa lagi di mana dan kapan.
Selain
kebahagiaan karena cinta kasihnya terbalas oleh Milana, hal yang sama sekali
tak pernah disangka-sangkanya atau diharapkannya itu, membuat hatinya sangat
riang gembira, juga Bun Beng sengaja hendak memancing perhatian mereka agar
Milana mendapat kesempatan untuk melarikan diri jauh-jauh. Kalau Milana sudah
selamat, dan pedang Hok-mo-kiam sudah dapat dibawa pergi dara itu untuk
diberikan kepada yang berhak, yaitu ayah dara itu, Pendekar Super Sakti, tidak
ada apa-apa lagi di dunia ini yang menyusahkan hatinya! Dia sendiri akan
menghadapi bahaya apa pun juga dengan hati ringan.
"Wan
Keng In, engkau bocah setan ini makin jahat dan tersesat saja. Sekali ini aku
tidak akan membiarkan kau terlepas sebelum memberi hajaran kepadamu! Dan Thian
Tok Lama agaknya masih melanjutkan kejahatan-kejahatannya. Sudah lama aku
menanti kesempatan ini, untuk bertemu denganmu dan membalas kematian Suhu Siauw
Lam Hwesio."
Ucapan Bun
Beng itu agaknya menyadarkan dua orang ini dan teringatlah mereka kini.
Disebutnya nama Siauw Lam Hwesio sebagai guru mengingatkan Thian Tok Lama akan
murid kakek tokoh Siauw-lim-pai itu, Gak Bun Beng yang pernah dan sempat
dilihatnya pula ketika pemuda itu membantu Pulau Es pada waktu pasukan
pemerintah membasmi pulau itu. Ada pun Wan Keng In sekarang teringat akan
pemuda yang telah menemukan Sepasang Pedang Iblis, pemuda bernama Gak Bun Beng
yang tadinya dia pandang rendah akan tetapi yang sekarang mampu membuatnya
terlempar sampai lima meter!
"Manusia
she Gak keparat!" Wan Keng In memaki.
"Gak
Bun Beng, engkau anak haram dari Setan Botak Gak Liat yang kurang ajar
itu...!"
"Wuuuuttt...
plakkk!"
Untuk kedua
kalinya dalam waktu yang singkat itu tubuh Thian Tok Lama terpelanting saat dia
tergopoh-gopoh menangkis pukulan Bun Beng yang marah sekali mendengar makian
dan penghinaan itu. Akan tetapi dia tidak dapat mendesak musuh besarnya itu
karena Wan Keng In sudah menyerangnya dengan pukulan-pukulan maut. Pukulan
pemuda Pulau Neraka ini dilakukan dengan jari-jari tangan terbuka seperti cakar
harimau, akan tetapi dari setiap ujung jari keluar hawa pukulan beracun yang
amat dahsyat.
Bun Beng
maklum akan kelihaian Keng In, maka dia sudah cepat mencelat ke kiri
menghindarkan serangan sambil menerima tusukan tombak dan golok dari dua orang
Nepal, membetot dua buah senjata itu sambil menendang. Dua orang Nepal itu
mengaduh dan tubuh mereka terjengkang. Dua orang pengawal yang menerjang maju,
roboh oleh tombak dan golok yang dirampas Bun Beng dan disambitkan menyambut
terjangan mereka.
Terjadilah
pertandingan yang amat hebat. Bun Beng mengamuk seperti seekor burung garuda,
dikeroyok oleh puluhan orang anak buah pasukan. Tentu saja mereka itu merupakan
lawan lunak bagi pemuda sakti ini dan dalam waktu beberapa menit saja sudah ada
belasan orang tentara pengawal roboh termasuk beberapa orang Nepal dan
panglima.
Melihat
sepak terjang Bun Beng yang demikian hebat, Thian Tok Lama dan Wan Keng In
menjadi penasaran sekali. Pendeta Lama itu mengeluarkan senjatanya, sebatang
golok melengkung yang mengeluarkan sinar hijau, sedangkan Wan Keng In sudah
mencabut Lam-mo-kiam. Mereka ini, dibantu oleh Bhe Ti Kong dan sisa para
panglima serta jagoan Nepal lain, mengurung Bun Beng. Ada pun anak buah pasukan
yang juga membentuk pengepungan ketat di sebelah luar, siap pula dengan senjata
di tangan sedangkan di empat penjuru, delapan orang memegang obor untuk
menerangi tempat yang mulai terselimut malam gelap.
"Kok-kok-kok
heeehhhh!" Perut gendut Thian Tok Lama mengeluarkan suara berkokok,
kemudian menyusul bentakannya dia menyerang maju, tangan kiri memukul, tangan
kanan menggerakkan goloknya dengan cepat dan kuat sekali.
"Singgg...
syet-syet-syettt...!"
Sinar hijau
menyambar-nyambar dan bergulung-gulung ke arah tubuh Bun Beng yang tidak berani
memandang rendah. Cepat dia menggerakkan tubuhnya mencelat ke kanan kiri dan
belakang. Betapa pun cepat serangan Thian Tok Lama, gerakan Bun Beng lebih
cepat lagi sehingga gulungan sinar golok berwarna kehijauan itu tak pernah
dapat mendekati sasaran.
"Hyaaattt...
singgg... cing-cing...!"
"Hemmm...!"
Bun Beng mengeluarkan suara kaget.
Cepat dia
melempar tubuhnya ke belakang dengan kecepatan kilat ketika melihat sinar kilat
menyambar ganas dengan kecepatan seperti halilintar dan sinar itu mengandung
hawa menyeramkan sekali sehingga dia sendiri merasa ngeri, tengkuknya terasa
dingin. Melihat berkelebatnya sinar kilat yang menyilaukan mata, tahulah dia
bahwa Wan Keng In telah turun tangan menyerangnya dengan menggunakan pedang
Lam-mo-kiam. Maka dia tidak berani berlaku lambat, begitu melempar tubuh ke
belakang, dia berjungkir balik dan melanjutkan dengan meloncat jauh ke kanan.
"Syuuuuutttt...
singggg!"
Bun Beng
menelan ludah. Bukan main hebatnya Lam-mo-kiam. Biar pun dia sudah bergerak
cepat sekali, masih saja dia tadi nyaris tergores punggungnya. Namun dia tidak
sempat memikirkan hal itu karena begitu dia terhindar dari bahaya serangan Keng
In, serentak dua orang panglima dan dua jagoan Nepal telah menyerangnya dengan
berbareng. Dua orang Nepal yang bersorban itu menyerangnya dengan senjata
mereka yang membuat mereka ditakuti, yaitu pisau belati yang kecil namun amat
runcing dan tajam, dua buah banyaknya dipegang setengah bersembunyi di balik
lengan kanan kiri.
Serangan
dari depan oleh dua orang Nepal itu amat cepat, gerakan mereka aneh dan
kecepatan mereka menjadi hebat karena lengan mereka panjang. Dalam sedetik itu,
dua orang ini menyerang secara berbareng dan empat buah pisau belati menyambar
ke arah leher, ulu hati, perut dan lambung! Dalam setengah detik berikutnya,
menyambar pula sebatang golok besar di tangan seorang panglima brewok, berlomba
cepat dengan tombak gagang pendek di tangan Bhe Ti Kong yang menghujani ke arah
punggung Bun Beng!
"Heiiittt!"
Bun Beng berseru keras sekali.
Tubuhnya
membuat gerakan berpusing, demikian cepatnya sehingga sukar diikuti pandang
mata oleh lawan, akan tetapi tahu-tahu jari-jari tangannya secara
berturut-turut telah mengetuk terlepas sambungan siku kedua tangan orang Nepal,
merampas golok besar dan menangkis tombak gagang pendek Bhe Ti Kong dengan
golok itu setelah merobohkan pemilik golok dengan tendangan.
"Tranggg...!"
Bhe Ti Kong
berseru kaget. Cepat ia menarik kembali tombaknya, memutar senjatanya untuk
melindungi tubuh. Dua kali dia berhasil menangkis dan harus bergulingan dan
jatuh bangun, terus dikejar sinar golok rampasan Bun Beng yang mengenal
panglima ini sebagai musuh besarnya dan yang mendesak untuk membunuhnya.
"Singgggg...!"
Sinar kilat pedang Lam-mo-kiam sudah menyambar lagi menyelamatkan nyawa Bhe Ti
Kong.
"Cringgg!"
Bun Beng yang tadinya mendesak Bhe Ti Kong terkejut melihat sinar kilat,
terpaksa membuang diri sambil menangkis dengan golok rampasan, akan tetapi
sekali bertemu dengan Lam-mo-kiam, golok besar itu patah menjadi dua potong!
"Trangg-tranggg...!"
Kembali Bun
Beng yang baru meloncat bangun itu menangkis dengan golok buntungnya, menangkis
serangan golok Thian Tok Lama yang sudah membantu Keng In mengeroyoknya pula.
Biar hanya mempergunakan golok buntung, namun tangkisan ini membuat Thian Tok
Lama terhuyung.
Bun Beng
menyambitkan golok buntungnya kepada Wan Keng In ketika melihat pemuda itu
sudah menerjang lagi. Biar pun hanya disambitkan, namun golok buntung itu
meluncur dengan kekuatan dahsyat sehingga Keng In tidak berani bersikap
sembrono dan cepat menggerakkan Lam-mo-kiam untuk menangkis. Golok buntung itu
runtuh dan patah-patah. Tetapi, ketika Keng In menangkis sambitan golok
buntung, kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Beng untuk menerjang ke kiri,
merobohkan empat orang panglima dan orang Nepal, dan merampas sebatang tombak
lagi. Gerakannya kuat dan cepat sekali sehingga ketika Wan Keng In dan Thian
Tok Lama menyerangnya lagi, dia sudah dapat menghadapi mereka dengan tombak di
tangan!
Akan tetapi,
dengan adanya Keng In yang bersenjata Lam-mo-kiam, Bun Beng benar-benar
kewalahan. Sekali bertemu, tombak rampasannya patah-patah lagi dan hampir saja
dia termakan sinar pedang Lam-mo-kiam yang amat ampuh. Untung baginya bahwa
jumlah pengeroyok amat banyak sehingga dia dapat menerjang dan menyelinap di
antara para pengeroyok. Hal ini membuat Keng In merasa agak sukar untuk
menekannya, dan pemuda Pulau Neraka itu dibantu oleh Thian Tok Lama selalu
mengejar-ngejar Bun Beng yang mengamuk di antara para panglima, orang Nepal,
dan pasukan pengawal.
Betapa pun
dia mencobanya, Wan Keng In dan Thian Tok Lama tidak memberi kesempatan sedikit
pun juga kepada Bun Beng untuk dapat melarikan diri. Pemuda itu dikepung ketat
dan terpaksa dia mengamuk, merobohkan dan menewaskan banyak sekali anak buah
pasukan, sedangkan keselamatannya selalu terancam dan berkali-kali nyaris saja
terluka oleh Lam-mo-kiam dan golok di tangan Thian Tok Lama.
Telah lebih
dari dua puluh orang anak buah pasukan roboh, lebih setengah jumlah panglima
dan jagoan Nepal tewas, dan pertandingan itu telah berjalan sampai hampir
tengah malam! Bun Beng berhasil sebegitu jauh menyelamatkan diri dari ancaman
Lam-mo-kiam, akan tetapi karena pengeroyokan ketat dan untuk menghindarkan luka
senjata, terpaksa dia menerima hantaman tangan kiri Thian Tok Lama sampai dua
kali dan tamparan tangan kiri Wan Keng In satu kali.
Tamparan
pemuda Pulau Neraka itu hebat bukan main, membuat dada yang terkena tamparan
terasa seperti akan pecah dan napas menjadi sesak. Bun Beng maklum bahwa isi
dadanya terguncang dan bahwa pukulan Wan Keng In mengandung racun. Dia tidak
takut akan pukulan beracun karena tubuhnya sudah kebal oleh jamur-jamur
beracun, akan tetapi guncangan itu membuat tenaganya berkurang.
Keadaannya
amat berbahaya. Dia tidak takut mati, tetapi dia akan merasa kecewa kalau belum
berhasil membalas kematian gurunya. Karena itu, dia mencurahkan perhatian dan
kepandaiannya untuk memilih sasaran, yaitu Bhe Ti Kong dan Thian Tok Lama, dua
di antara para pembunuh gurunya.
"Thian
Tok Lama, bersiaplah kau menyusul Thai Li Lama...!" Tiba-tiba dia berseru
ketika melihat lowongan.
Secepat
kilat dia menubruk maju, menendang sebatang pedang yang menyambar dari samping,
mengelak dari tusukan Lam-mo-kiam, kemudian menggunakan tangan kanan
mencengkeram golok Thian Tok Lama. Pendeta itu terkejut sekali, bukan hanya
karena tahu bahwa yang membunuh saudaranya itu adalah pemuda ini, akan tetapi
terutama sekali melihat betapa dengan tangan kosong pemuda lihai itu berani
menangkap dan mencengkeram goloknya! Dia berusaha menarik golok untuk melukai
tangan Bun Beng, akan tetapi tiba-tiba Bun Beng sudah menggerakkan tangan kiri
menampar ke arah kepalanya!
Hebat bukan
main serangan ini dan kalau tamparan ini mengenai sasaran, tak dapat
disangsikan lagi nyawa Thian Tok Lama tentu akan melayang. Akan tetapi pada
saat itu, sebuah pukulan yang keras dari tangan kiri Wan Keng In mengenai
tengkuk Bun Beng pada saat yang amat tepat.
"Desss...!"
Berbareng
jatuhnya pukulan Keng In pada tengkuk Bun Beng dengan tamparan, tangan Bun Beng
yang menyeleweng tidak jadi mengenai kepala melainkan hanya menghantam pundak
Thian Tok Lama. Biar pun menyeleweng, namun cukup membuat pendeta itu
terpelanting dan muntah darah! Akan tetapi hantaman yang keras dari Keng In itu
pun membuat Bun Beng terjengkang!
Bhe Ti Kong
menubruk dengan tombaknya, menusuk ke arah ulu hati Bun Beng dengan tombak
gagang pendeknya sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Dia merasa yakin bahwa
sekali ini dia tentu berhasil membunuh pemuda yang berbahaya ini, apa lagi
melihat pemuda itu telah terpukul dan mulutnya menyemburkan darah seperti yang
dialami Thian Tok Lama.
Tombak itu
meluncur tepat ke arah ulu hati Bun Beng. Pemuda ini tak dapat mengelak lagi,
maka terpaksa dia memasang kedua telapak tangan ke depan dada dan begitu ujung
tombak menyentuh telapak tangannya, dia membuat gerakan menyentak sambil
mengerahkan tenaga sinkang-nya. Pengerahan tenaga ini membuat dadanya terasa
nyeri bukan main, pandang matanya berkunang dan darah makin banyak keluar dari
mulutnya, tetapi tombak itu membalik secara tiba-tiba, menyambut dada Panglima
Bhe Ti Kong yang terdorong ke depan.
"Crappp....
auggghhh...!"
Bun Beng
menjadi gelap mata dan pingsan, tidak tahu bahwa tubuh Bhe Ti Kong menimpa
tubuhnya dan betapa darah yang membanjir keluar muncrat-muncrat dari dada
musuhnya itu menyiram tubuhnya. Panglima itu berkelojotan dan tewas dengan dada
tertembus tombaknya sendiri.
"Tahan,
Wan-sicu. Jangan bunuh dia...!" Thian Tok Lama mencegah ketika melihat Wan
Keng In mengelebatkan Lam-mo-kiam untuk membunuh Bun Beng.
Wan Keng In
menoleh, menahan pedang dan mengerutkan alisnya. "Manusia macam dia perlu
apa dibiarkan hidup? Dia membuat Milana hilang dan sudah mendatangkan banyak
korban...!" Kembali Lam-mo-kiam bergerak.
"Jangan,
Wan-sicu! Dia adalah seorang tawanan penting sekali! Dialah yang telah merampas
Hok-mo-kiam. Dia yang melepaskan puteri Ketua Thian-liong-pang! Terlalu enak
bagi dia kalau dibunuh begitu saja, dan dia perlu diseret di depan Koksu untuk
meringankan kesalahan kita..."
"Hmm..."
Wan Keng In menyimpan pedangnya, akan tetapi dia lalu mengayun tangan kanannya
ke arah punggung tubuh Bun Beng yang rebah miring.
"Desss!"
Pukulan itu
hebat sekali dan Wan Keng In mengomel. "Biar pun nyawanya rangkap, pukulanku
ini akan mencabut nyawanya dalam waktu dua puluh empat jam."
Thian Tok
Lama juga terluka di dalam tubuh, namun tidak membahayakan nyawanya. Dia lalu
turun tangan sendiri, menelikung dan membelit-belit tubuh Bun Beng dengan tali
yang amat kuat, lalu mengikat tubuh pemuda yang masih pingsan itu di atas
punggung kuda.
"Dia
telah kuberi pukulan Toat-beng-tok-ci (Jari Beracun Pencabut Nyawa). Jangankan
untuk melawan, dibiarkan pun dia akan mampus sebelum malam besok." Wan
Keng In mencela melihat betapa pendeta itu bersusah payah membelenggu tubuh
yang dia tahu sudah takkan mampu melawan lagi itu.
"Kita
tidak boleh gagal lagi membawa dia ke kota raja, Wan-sicu." Thian Tok Lama
membantah dan Wan Keng In mendengus, mengangkat pundak dan sikapnya menjadi
murung karena dia marah-marah dan kecewa telah kehilangan Milana. Betapa pun
juga, dia harus ikut dan bertemu dengan Koksu. Setelah dia menyaksikan sendiri
betapa lihainya Bun Beng, diam-diam pemuda ini merasa jeri juga.
Bukan
terhadap Bun Beng yang tinggal menanti maut itu, akan tetapi baru Bun Beng
sudah demikian lihainya, apa lagi ibu Milana Si Ketua Thian-liong-pang, belum
lagi Pendekar Super Sakti! Maka dia harus bersikap cerdik dan harus dapat
mencari kawan, dan agaknya kedudukannya akan kuat sekali kalau dia dapat
bersekutu dengan Koksu yang selain memiliki kedudukan tinggi dan pengaruh
besar, juga mempunyai banyak orang pandai itu.
Dengan
murung dan tergesa-gesa, membawa teman-teman yang terluka, mereka pergi keluar
dari hutan menuju ke kota raja. Kuda yang membawa tubuh Bun Beng yang kaki
tangannya ditelikung dan diikat di atas punggung binatang itu, berada di
tengah-tengah dan dikawal sendiri oleh Thian Tok Lama dan Wan Keng In. Kini
mereka siap dengan senjata di tangan memegang senjata masing-masing dan
bersikap waspada. Baik Wan Keng In mau pun Thian Tok Lama sudah mengambil
keputusan untuk pertama-tama menggerakkan senjata membunuh Bun Beng apabila
terjadi suatu gangguan di tengah perjalanan ini.
Bun Beng
membuka matanya. Ketika ia merasa betapa tubuhnya tergantung di atas punggung
kuda, bergoyang-goyang dan kaki tangannya terbelenggu, dia teringat semua dan
tersenyum! Tubuhnya lemah dan tak bertenaga, sakit-sakit, akan tetapi hatinya
riang! Teringat dia akan Milana dan rasa bahagia di hatinya masih mengatasi
semua kesengsaraan yang diderita tubuhnya. Milana mencintanya! Puteri Pendekar
Super Sakti cinta kepadanya! Bukan main! Cucu kaisar sendiri! Dan dia hanyalah
seorang anak haram, keturunan seorang tokoh sesat yang dikutuk dunia! Apalah
artinya siksa dan mati setelah menghadapi kenyataan yang berbahagia itu? Dan
dia telah berhasil menyelamatkan Milana. Dara itu telah bebas! Dia akan
menyambut kematian atau apa pun juga dengan senyum bahagia!
Ia
mengerling ke arah kiri dan melihat Thian Tok Lama duduk di atas seekor kuda,
memegang sebatang golok. Hemmm, sayang. Dia belum berhasil membunuh pendeta
ini, juga belum berhasil membalas Bhong-koksu atas kematian gurunya. Baru Thai
Li Lama dan Panglima Bhe Ti Kong yang telah menebus kematian gurunya.
Bun Beng
mencoba mengerahkan sinkang-nya. Hawa panas di pusarnya segera menjawab
pengerahannya, akan tetapi tiba-tiba dada dan punggungnya terasa nyeri bukan
main, tak tertahankan! Tahulah dia bahwa dadanya terluka dan punggungnya
menderita lebih hebat lagi! Darah mengalir dari dalam leher ke mulutnya dan dia
tahu bahwa dia telah menderita luka akibat pukulan yang mungkin membawa maut.
Tentu
perbuatan Wan Keng In atau Thian Tok Lama. Agaknya lebih tepat kalau dia
menduga pemuda Pulau Neraka itulah yang memukulnya. Luka di tulang punggung ini
bukan pukulan biasa, dan kiranya hanya pemuda itulah yang dapat melakukan
pukulan sekeji ini. Dia menghela napas panjang. Tidak ada harapan untuk
menggunakan saat terakhir itu mencoba melepaskan diri dan membunuh Thian Tok Lama.
Kalau dia melanjutkan pengerahan sinkang-nya tentu dia akan mati sebelum sempat
bergerak!
Dia tidak
putus asa. Mereka telah menawannya, dan biar pun agaknya ketika dia pingsan dia
menderita pukulan gelap yang amat membahayakan nyawanya, namun pada saat itu
dia belum mati dan selama dia belum mati dia tidak akan kehabisan harapan.
Mereka belum membunuhnya, berarti bahwa dia masih mempunyai harapan untuk dapat
menyelamatkan diri. Bun Beng tidak berusaha lagi untuk mengerahkan tenaga,
bahkan dia lalu melemaskan tubuhnya agar dapat bergantung pada punggung kuda
dengan enak.
Rombongan
itu melalui hutan terakhir yang penuh dengan pohon bambu. Daerah ini memang
terkenal dengan pohon bambu yang bermacam warna dan bentuknya. Hati Thian Tok
Lama terasa lega karena kota raja sudah dekat. Tembok kota raja yang tinggi
sudah tampak dari tempat tinggi itu, merupakan bayangan hitam memanjang yang
tertimpa sinar bintang-bintang di langit yang remang-remang.
Angin malam
mempermainkan daun-daun bambu, menimbulkan rasa berkelisik. Tiba-tiba terdengar
suara teriakan-teriakan dan serta merta terjadilah kekacauan ketika rombongan
itu diserang oleh daun-daun bambu yang datang bagaikan anak panah atau senjata
rahasia piauw yang runcing. Tadinya mereka mengira bahwa daun-daun bambu itu
rontok oleh angin besar, akan tetapi setelah daun-daun bambu ini menancap dan
melukai kulit daging, barulah mereka terkejut dan menjadi kacau! Kekacauan
menjadi-jadi ketika sampai batang-batang bambu yang panjang tiba-tiba meliuk
dan menyerang mereka, seolah-olah rumpun bambu itu menjadi hidup dan digerakkan
oleh setan-setan menyerang rombongan itu. Terdengar suara berdebuk disusul
robohnya orang susul-menyusul ketika tubuh-tubuh itu dihantam oleh batang
bambu.
Thian Tok
Lama dan Wan Keng In cepat dapat menduga bahwa amukan pohon-pohon dan daun-daun
bambu itu tentulah perbuatan musuh yang lihai. Akan tetapi pada saat mereka
menggerakkan senjata hendak membunuh Bun Beng, tiba-tiba sebatang pohon bambu
yang besar dan panjang terbang menyerang mereka, berikut cabang-cabang dan
daun-daunnya.
Tentu saja
keduanya menjadi terhalang dan mereka menggerakkan senjata membabat runtuh
batang bambu itu. Akan tetapi kuda yang membawa tubuh Bun Beng sudah meringkik
keras, terlempar dan roboh dengan perut tertembus batang bambu, sedang Bun Beng
sendiri yang tadinya menelungkup di atas punggung kuda, melintang, sudah
lenyap!
"Tawanan
lenyap!"
"Kejar...!"
"Tangkap
pengacau!"
Teriakan-teriakan
para panglima itu menambah kekacauan dan di antara suara hiruk-pikuk mereka
terdengarlah suara terkekeh menyeramkan, suara yang terdengar makin menjauh dan
akhirnya lenyap.
"Tidak
perlu dikejar, percuma saja karena dialah yang datang menolong Bun Beng,"
kata Wan Keng In yang menjadi lemas tubuhnya ketika mendengar suara ketawa itu.
Thian Tok
Lama menahan kudanya. "Siapakah dia?"
Wan Keng In
menarik napas panjang. "Siapa lagi kalau bukan Bu-tek Siauw-jin? Kalau dia
muncul dan ikut-ikut, kita takkan mampu menghadapinya. Dan setelah dia muncul,
orang satu-satunya yang dapat melawannya hanyalah guruku. Karena itu, aku tidak
akan ikut bersamamu ke kota raja, Thian Tok Lama. Aku harus mencari guruku,
minta bantuannya untuk menghadapi tua bangka cebol itu. Sampai jumpa!"
Tanpa menanti jawaban, Wan Keng In yang merasa jeri mendengar suara ketawa
susioknya, Bu-tek Siauw-jin, berkelebat dan lenyap dari depan Thian Tok Lama.
Pendeta
Tibet ini menarik napas berulang-ulang, menggeleng kepala dan dengan hati risau
terpaksa memimpin sisa pasukannya yang ketakutan itu ke kota raja. Memang dia
telah berhasil membasmi Thian-liong-pang akan tetapi pasukannya pun rusak,
tawanan lenyap dan banyak panglima tewas, termasuk pembantu kepercayaan Koksu,
Panglima Bhe Ti Kong.
Sementara
itu, jauh dari situ, di dalam hutan yang gelap, Bu-tek Siauw-jin berjalan
seorang diri sambil memanggul sebatang bambu panjang dan di ujung bambu itu
terpikul tubuh Bun Beng yang masih terbelenggu kaki tangannya.....
***************
Sementara
itu, di dalam istana kaisar sendiri terjadilah hal yang amat hebat dan penting.
Kaisar sendiri yang sibuk dengan urusan pemerintahan, dalam usahanya untuk
mendatangkan kemakmuran kepada rakyat agar pemerintahannya, pemerintah
penjajah, mendapat kesan baik di hati rakyat, sama sekali tidak menduga bahwa
di antara para pembantunya yang paling dipercaya sedang mengatur pemberontakan
untuk menjatuhkannya.
Kaisar Kang
Hsi memang seorang kaisar yang pandai. Akan tetapi, sebagai seorang manusia
biasa yang tak lepas dari pada kekurangan, Kaisar yang menjadi pembangun
dasar-dasar kekuatan pemerintah Mancu ini mempunyai kelemahan terhadap wanita.
Banyak sekali selirnya dan banyak pula anaknya. Karena terlalu banyak inilah
maka terjadi perebutan dan iri hati, dan Pangeran Yauw Ki Ong adalah seorang di
antara putera-puteranya dari selir yang demi cita-cita dan kemurkaannya tidak
segan-segan melakukan pengkhianatan dan mengadakan persekutuan untuk
memberontak dan menggulingkan ayahnya sendiri!
Selir yang
ratusan orang jumlahnya masih belum memuaskan hati Kaisar yang selalu haus akan
wanita muda yang baru. Kelemahan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh mereka
yang ingin menjilat dan mencari kedudukan lebih tinggi. Mereka selalu mengincar
dara-dara muda yang cantik jelita untuk digunakan sebagai ‘persembahan’, dan
tentu saja dengan harapan akan mendapatkan balas jasa.
Kelemahan
Kaisar ini menciptakan pembantu-pembantu yang palsu dan di samping ini, juga
menimbulkan persaingan dan pertentangan di kalangan para selir itu sendiri.
Mereka adalah wanita-wanita cantik yang masih muda. Dengan adanya terlalu
banyak selir, sudah pasti mereka menderita dan tentu saja akibatnya
memungkinkan terjadinya pelanggaran dan ketidak setiaan. Untuk mengatasi hal
ini, para selir itu dikurung dan dijaga keras oleh pengawal-pengawal yang semua
terdiri dari thaikam (manusia kebiri). Penjagaan dan pengawasan keras ini
mendatangkan penderitaan lahir batin bagi wanita-wanita muda itu sehingga
mereka merupakan segolongan orang yang mudah dihasut untuk membenci Kaisar yang
mereka anggap sebagai orang yang menyiksa mereka dan membuat hidup merupakan
kesunyian dan kesengsaraan bagi mereka.
Malam hari
itu, para selir yang seperti biasanya melewatkan malam sunyi dengan celoteh,
saling berbisik mempercakapkan Kaisar dengan hati penuh iri, karena malam hari
itu, semenjak sore hari, Kaisar telah mengeram dirinya di dalam kamar bersama
seorang selir baru! Seorang dara yang kabarnya cantik sekali dan baru malam
hari itu mendapat tugas kehormatan melayani Kaisar, seorang dara istimewa
karena dara ini adalah persembahan dari Koksu sendiri! Menurut berita yang
didengar sebagian para selir yang tidak melihat sendiri, mendengar penuturan
para thaikam penjaga, dara itu selain muda remaja, juga memiliki kecantikan
yang luar biasa, bermata agak kebiruan, hidungnya mancung dan kulitnya putih
kemerahan, seorang dara asing dari see-thian (dunia barat)!
Sebagai
persembahan dari Koksu sendiri, tentu saja dara itu mempunyai kedudukan
istimewa. Para thaikam tidak berani bersikap kurang hormat karena takut kepada
Koksu, bahkan para selir yang biasanya suka mengeluarkan perasaan iri mereka
terhadap selir lain dengan berani, sekarang hanya berani mempercakapkan selir
baru ini dengan bisik-bisik. Semua orang di istana, bahkan para selir dan para
pelayan sekali pun, tahu belaka akan kekuasaan Koksu yang ditakuti!
Malam itu
memang istimewa. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh para selir dan para thaikam
yang bertugas jaga, melainkan terutama sekali oleh Kaisar sendiri. Semenjak
Kaisar menerima gadis persembahan Koksu yang datang menghadap pagi hari itu,
Kaisar merasakan sesuatu yang lain dari pada biasa. Belum pernah dia melihat
kecantikan seorang dara seperti dara peranakan Nepal ini. Kecantikan yang khas,
dan yang sekaligus menjatuhkan rasa sayang dan membangkitkan gairah di hati
Kaisar itu. Terangsang oleh gairah ingin cepat-cepat berdua saja dengan Si
Jelita ini, Kaisar menunda semua urusan, dan baru saja matahari mengundurkan
diri Kaisar sudah memasuki kamar peraduannya yang istimewa dan memerintahkan Si
Juwita datang menghadap dan melayaninya.
Kamar ini
luas sekali, berbau harum dan dindingnya yang berwarna hijau muda dihias
bunga-bunga dan lukisan-lukisan indah. Lantainya dari batu pualam yang jernih
dan satu-satunya perabot kamar itu hanyalah kasur-kasur tebal yang memenuhi
bagian tengah, ditilami kain berbulu yang halus dan hangat, dengan
bantal-bantal terhias sarung sutera bersulam indah.
Kaisar telah
duduk setengah rebah di atas kasur ketika Thaikam kepala membuka pintu kamar.
Thaikam berlutut di luar pintu dan tampak seorang dara yang bertubuh tinggi
ramping dengan langkah gontai dan lemah lembut. Setelah dara itu memasuki
kamar, daun pintu tertutup lagi di belakangnya dan terdengar langkah-langkah
halus Thaikam kepala meninggalkan depan pintu disusul suaranya berbisik-bisik
mengatur penjagaan. Seperti biasa, setiap kali Kaisar bermalam di kamar ini, di
empat penjuru luar kamar selalu dijaga oleh pengawal-pengawal thaikam yang
berkepandaian tinggi, di samping pelayan-pelayan wanita yang berlutut di luar
kamar, diam tak bergerak seperti arca akan tetapi siap untuk memasuki kamar
apabila tenaga dan pelayanan mereka dibutuhkan...
Terima kasih telah membaca Serial ini
No comments:
Post a Comment