Cerita Silat Kho Ping Hoo
Serial Sepasang Pedang Iblis
Jilid 15
Tidak
sembarang orang dapat menguasai ilmu silat dan menghimpun tenaga sakti Inti
Bumi itu karena caranya berlatih amat menyeramkan dan mempertaruhkan nyawa. Wan
Keng In sendiri yang banyak menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari Cui-beng
Koai-ong, masih belum berani melatih diri dengan ilmu mukjizat itu. Kwi Hong
yang berwatak berani mati dan nekat secara kebetulan sekali kini menjadi orang
ketiga di dunia ini yang melatih diri dengan Ilmu Inti Bumi.
Para anak
buah Pulau Neraka yang menjaga di tanah kuburan itu, tidak berani mengganggu,
bahkan mendekat saja mereka tidak berani. Mereka sudah mengenal dua orang datuk
Pulau Neraka yang amat mereka takuti itu, karena bagi dua orang datuk itu, apa
lagi Cui-beng Koai-ong, membunuh manusia seperti membunuh nyamuk saja, dan
watak mereka sukar sekali diikuti. Mereka maklum bahwa sebelum kakek pendek itu
keluar dari dalam tanah, mereka harus menjaga dengan mati-matian agar jangan
sampai kuburan itu diganggu orang. Kalau kakek dan muridnya yang baru itu sudah
keluar dari dalam tanah, barulah mereka bebas dari tugas berat ini, kecuali
tentu saja kalau ada perintah baru dari kakek pendek yang aneh itu.
Pada malam
hari ketiga, orang-orang Pulau Neraka itu menjadi terkejut ketika melihat
munculnya serombongan orang yang mereka kenal sebagai orang-orang
Thian-liong-pang! Rombongan itu terdiri dari delapan belas orang dipimpin oleh
seorang dara remaja cantik jelita dan yang mereka kenal sebagai puteri Ketua
Thian-liong-pang, dan seorang laki-laki tinggi besar yang lengan kirinya
buntung dan berwajah menyeramkan.
Laki-laki
berlengan satu ini wajahnya muram dan sinar matanya berkilat, orangnya pendiam
akan tetapi sikap semua anggota rombongan amat hormat kepadanya, bahkan puteri
Ketua Thian-liong-pang sendiri kelihatan bersikap manis kepadanya. Orang ini
adalah seorang tokoh baru yang telah berjasa mengorbankan tangannya untuk
Thian-liong-pang sehingga Ketua perkumpulan itu menaruh penghargaan kepadanya
dan menurunkan ilmu yang dahsyat kepadanya, yang membuat dia bahkan lebih lihai
dari pada sebelum lengan kirinya buntung!
Dia adalah
Kiang Bok Sam yang lengan kirinya buntung oleh Pedang Lam-mo-kiam di tangan Wan
Keng In dan kini telah menjadi seorang lihai sekali dengan lengan kanannya.
Nirahai telah menurunkan Ilmu Sin-to-ciang (Telapak Tangan Golok Sakti)
kepadanya sehingga lengannya itu lebih lihai dari pada lengan kiri mendiang Su
Kak Houw yang berjuluk Toat-beng-to itu. Dengan ilmu-ilmunya yang baru dia
terima dari Ketuanya sebagai pembalas jasanya mengorbankan lengan kiri, kini
dia menjadi orang kedua sesudah Tang Wi Siang di Thian-liong-pang. Bahkan
dibandingkan Sai-cu Lo-mo, dia masih lebih berbahaya karena sambaran tangan
kanannya atau permainan tongkat kuningan dengan tangan tunggalnya selalu
mendatangkan maut bagi setiap orang lawannya.
Orang-orang
Pulau Neraka yang sedang bertugas menjaga ‘kuburan’ Bu-tek Siauw-jin dan
muridnya yang sedang berlatih di bawah tanah tidak berani mencari perkara
dengan orang-orang Thian-liong-pang yang mereka tahu merupakan lawan yang amat
lihai. Rombongan Pulau Neraka ini dipimpin oleh Kong To Tek dan Chi Song, dua
orang tokoh Pulau Neraka yang bermuka merah muda yang pernah diutus oleh Ketua
mereka mengunjungi Thian-liong-pang untuk menguji kepandaian para pimpinan
Thian-liong-pang dan secara mudah dirobohkan oleh ‘ketua’ Thian-liong-pang yang
di luar tahu mereka pada waktu itu dipalsukan Gak Bun Beng.
Maka kini
melihat munculnya tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang dipimpin oleh puteri Ketua
Thian-liong-pang sendiri, mereka memberi isyarat dengan kedipan mata kepada
para anak buahnya agar tetap berdiam di tempat persembunyian mereka dan tidak
mengganggu orang-orang Thian-liong-pang yang kini berkumpul dan beristirahat di
sebuah bangunan kuburan kuno tidak jauh dari tempat persembunyian orang-orang
Pulau Neraka.
Tadinya
rombongan Pulau Neraka mengira bahwa rombongan Thian-liong-pang itu hanya lewat
dan kebetulan beristirahat saja di tanah kuburan itu, akan tetapi ternyata
bahwa sampai malam tiba, mereka tidak pergi dari situ, bahkan membuat api
unggun dan berjaga sambil bercakap-cakap, seolah-olah mereka itu dalam keadaan
siap menghadapi musuh!
Melihat sikap
orang-orang Thian-liong-pang itu, gelisah hati rombongan Pulau Neraka. Mereka
ingin sekali melihat datuk mereka menghabiskan atau menghentikan latihannya
agar mereka bebas tugas dan mereka dapat memilih dua kemungkinan, yaitu
menggempur orang-orang Thian-liong-pang atau meninggalkan tempat itu. Sekarang
mereka merasa serba salah. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan
orang-orang Thian-liong-pang itu, dan tidak tahu apakah musuh-musuh lama itu
sudah tahu akan kehadiran rombongan Pulau Neraka atau belum. Dalam keadaan
bersembunyi dan tidak menentu ini mereka merasa tidak enak hati sekali.
Pada
keesokan harinya, setelah matahari mulai tampak berseri mengusir embun pagi
yang menyelimuti hutan dan sebidang tanah kuburan di anak bukit itu, tampaklah
tujuh orang hwesio tua dengan langkah tenang dan wajah serius memasuki tanah
kuburan dan langsung berhadapan dengan rombongan Thian-liong-pang.
"Bagus
sekali, kiranya Thian-liong-pang sudah siap menanti di tempat ini! Ternyata
Thian-liong-pang masih merupakan sebuah perkumpulan besar yang suka memegang
janjinya!" Seorang di antara para hwesio tua itu, yang bertubuh kurus
bermuka tengkorak dan berjenggot hitam, tangan kiri memegang tasbih, tangan
kanan memegang hud-tim (kebutan) berkata sambil berkata tenang.
"Thian-liong-pang
selamanya memegang janji dan sejak dahulu adalah perkumpulan besar yang tiada
bandingnya!" Milana berkata nyaring sambil manyapu tujuh orang hwesio itu
dengan sinar matanya yang lembut. "Memenuhi permintaan para sahabat di
dunia kang-ouw untuk mengadakan pertemuan, kami menggunakan tempat yang sunyi
ini agar di antara kita dapat bicara dan bergerak tanpa mengacaukan manusia
lain karena di sini yang tinggal hanyalah orang-orang mati. Nah, setelah kami
yang mewakili Ketua Thian-liong-pang berada di sini dan Cu-wi Losuhu sudah
datang, apakah kehendak Cu-wi mengajukan tantangan kepada pihak kami untuk
mengadakan pertemuan?"
Seorang
hwesio berjenggot putih yang berwajah lembut melangkah maju, memandang kepada
Milana dan teman-temannya, lalu berkata, "Omitohud..., seorang dara remaja
yang lembut menyambut kami sebagai wakil Thian-liong-pang! Nona, di manakah
Ketua Thian-liong-pang sendiri? Mengapa mewakilkan urusan besar kepada seorang
gadis muda seperti Nona?"
Milana cepat
menjura dengan hormat, hatinya tidak enak menghadapi sikap hwesio yang agung
dan penuh wibawa, juga amat halus itu. Sering kali dia terpaksa merasa canggung
dan tertekan batinnya dalam memenuhi tugas dalam Thian-liong-pang atas perintah
ibunya. Biar pun ia tahu bahwa ibunya bukan orang jahat, dan Thian-liong-pang
adalah perkumpulan orang-orang gagah, namun kadang-kadang sikap keras hendak
menang sendiri dari perkumpulan yang dipimpin ibunya membuat gadis yang
memiliki dasar watak halus itu merasa canggung dan tidak enak.
"Harap
Lo-suhu suka memaafkan, Thian-liong-pangcu tidak dapat sembarangan hadir dalam
setiap pertemuan, apa lagi kami lihat bahwa Ketua Siauw-lim-pai sendiri pun
tidak datang memimpin rombongan Siauw-lim-pai. Oleh karena itu, Ketua kami
mewakilkan kepada kami yang bertanggung jawab penuh akan segala keputusan dalam
pertemuan yang diadakan di tempat ini."
Hwesio itu
mengangguk-angguk, tetapi pada wajahnya yang halus itu masih terbayang ketidak
puasan hatinya. Siauw-lim-pai adalah sebuah partai persilatan yang besar dan
terkenal sekali, sekarang rombongan Siauw-lim-pai yang terdiri dari tokoh-tokoh
bukan tingkat rendah, hanya disambut oleh seorang gadis muda Thian-liong-pang!
"Omitohud,
Nona yang muda pandai bicara. Bolehkah pinceng mengetahui, kedudukan apa yang
Nona miliki di Thian-liong-pang?"
"Nona
kami adalah puteri Pangcu, kalian ini hwesio-hwesio tua terlalu banyak bicara!
Nona kami wakil Pangcu dalam pertanggungan jawab, akan tetapi aku Kiang Bok Sam
juga berhak mewakili Pangcu menghadapi orang-orang yang banyak cerewet!"
Tiba-tiba Si Lengan Buntung itu telah meloncat maju, tangan tunggalnya telah
melintangkan toyanya di depan dada, sepasang matanya mendelik dan sikapnya
menakutkan.
Para hwesio
itu kelihatan tercengang dan hwesio tua itu cepat berkata, "Omitohud...,
maafkan pinceng yang tidak tahu bahwa Nona ini adalah puteri Thian-liong-pangcu
sendiri! Kalau begitu, kami merasa terhormat sekali. Pinceng adalah Ceng Sim
Hwesio, murid kepala dari Suhu yang menjadi Ketua Siauw-lim-pai."
"Harap
Lo-suhu suka menceritakan apa yang dikehendaki oleh Siauw-lim-pai maka menuntut
agar diadakan pertemuan dengan pihak kami." Milana cepat bertanya
mendahului Bok Sam yang ia tahu amat keras wataknya dan biar pun jarang bicara,
sekali mengeluarkan suara, dapat mengejutkan dan menyinggung perasaan hati
orang!
"Sudah
bertahun-tahun Siauw-lim-pai mendengar akan sepak terjang Thian-liong-pang yang
menyinggung perasaan dunia kang-ouw, menculik tokoh-tokoh kang-ouw, merampas
kitab pelajaran dan pusaka partai-partai lain..."
"Akan
tetapi kami selalu menjaga agar tidak mengganggu Siauw-lim-pai yang kami
pandang sebagai perkumpulan sahabat!" Milana cepat membantah.
"Sedangkan mengenai urusan dengan tokoh-tokoh dan perkumpulan lain,
mengenai peminjaman kitab atau pusaka, kami rasa tidak ada sangkut pautnya
dengan pihak Siauw-lim-pai seperti juga kami tidak pernah mencampuri urusan
dalam Siauw-lim-pai sendiri."
Ceng Sim
Hwesio, murid kepala Ketua Siauw-lim-pai, Ceng Jin Hosiang, menarik napas
panjang dan melanjutkan kata-katanya yang dipotong oleh nona muda itu,
"Tepat sekali ucapan Nona dan kenyataannya pun kami pihak Siauw-lim-pai
tidak pernah mencampuri urusan itu, bukan? Akan tetapi semenjak pertemuan yang
menghebohkan di Pegunungan Ciung-lai-san, terjadilah hal-hal yang dilakukan
oleh Thian-liong-pang dan sekali ini karena menyangkut persoalan negara dan
rakyat, terpaksa kami harus mencampurinya!"
"Harap
Lo-suhu suka memberi penjelasan!" Milana berkata halus akan tetapi nyaring
karena dia merasa tersinggung juga mendengar bahwa perkumpulan ibunya dicela
orang lain.
"Terus
terang saja pinceng katakan bahwa Siauw-lim-pai telah mendengar akan sepak
terjang Thian-liong-pang yang merendahkan dirinya menjadi kaki tangan
Pemerintah Mancu! Dengan menghambakan diri kepada pemerintah penjajah untuk
menindas bangsa sendiri, hal ini sungguh bertentangan dengan kegagahan dan
berarti sudah menggunakan perkumpulan Thian-liong-pang untuk menjadi penjilat
dan pengkhianat."
Si Lengan
Buntung mencelat maju, akan tetapi Milana membentak nyaring.
"Kiang-lopek,
mundur dan jangan turun tangan sebelum ada perintah!"
Si Lengan
Buntung mendelik kepada para hwesio itu, akan tetapi tanpa membantah ia
melangkah mundur, sedangkan para anggota Thian-liong-pang lainnya sudah marah
dan bersiap turun tangan begitu ada perintah.
"Lo-suhu,
kata-kata Lo-suhu agaknya terdorong oleh nafsu amarah dan Lo-suhu belum
menyelidiki terlebih dahulu sebelum mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang kurang
baik terhadap perkumpulan kami. Kami tidak akan mengingkari kenyataan bahwa kami
membantu pemerintah dalam menghadapi para pemberontak. Bukankah hal itu berarti
bahwa Thian-liong-pang membersihkan kaum pemberontak yang akan mengacaukan
keadaan dan yang hanya akan memancing timbulnya perang yang menyengsarakan
penghidupan rakyat jelata? Ataukah... mungkin kini Siauw-lim-pai bahkan memihak
pemberontak yang jelas terdiri dari orang-orang yang mengejar kedudukan,
perampok-perampok yang berkedok pejuang?"
Muka para
hwesio berubah merah dan pandang mata mereka mengandung kemarahan. Namun suara
hwesio tua itu masih halus ketika dia berkata, "Perjuangan melawan
penjajah, di mana pun juga di dunia ini, adalah perjuangan kaum patriot pembela
bangsa dan tidak boleh dikotori dengan tuduhan keji memakai dalih apa pun juga.
Kami tidak bersekutu dengan kaum patriot dan pejuang yang kalian anggap sebagai
pemberontak, akan tetapi kami pun tidak sudi untuk menjadi kaki tangan
pemerintah mencelakakan bangsa sendiri yang berjuang menurut keyakinan dan
kebenaran mereka sendiri. Kami hanya minta kepada Thian-liong-pang, mengingat
bahwa Thian-liong-pang adalah parkumpulan orang gagah, untuk mundur dan jangan
mambunuhi rakyat dan bangsa sendiri."
Tentu saja
hati Milana menjadi panas mendengar ucapan itu, walau pun kata-kata itu diatur
dan dikeluarkan dengan halus. Dia tidak dapat menyelami kebenaran kata-kata
itu, tidak dapat merasakan alasan yang dikemukakan oleh Ceng Sim Hwesio. Bagai
mana ia dapat merasakan kebenaran itu kalau dia sama sekali tidak merasa bahwa
pemerintah yang sekarang adalah pemerintah penjajah?
Dia sendiri
adalah cucu Kaisar! Dalam pandangannya, bangsa Mancu adalah bangsa yang memang
berhak dan patut memimpin seluruh Tiongkok sebab telah menunjukkan kebesaran
dan kelebihannya! Mana bisa disamakan atau dibandingkan dengan bangsa pemberontak
yang hanya terdiri dari perampok kasar itu? Dia percaya sepenuhnya bahwa
pemerintah Kerajaan Ceng-tiauw membawa rakyat kepada kemakmuran dan kemajuan,
sedangkan para pemberontak itu hanya akan mencari kesempatan menggendutkan
perut sendiri dengan membawa nama rakyat dan perjuangan untuk menghalalkan
kejahatan mereka!
"Ceng
Sim Hwesio, sebagai wakil Siauw-lim-pai engkau minta kepada Thian-liong-pang
untuk mundur dan tidak boleh membantu pemerintah membersihkan para pemberontak,
dan sebagai wakil Thian-liong-pang saya menjawab bahwa Siauw-lim-pai tidak
boleh mencampuri urusan kami sendiri. Kami menolak permintaanmu itu, dan kami
akan tetap melanjutkan tugas kami membersihkan kaum pemberontak, bukan
semata-mata untuk membantu pemerintah, melainkan terutama sekali untuk
menjauhkan rakyat dari pada kekacauan dan peperangan baru yang ditimbulkan oleh
kaum pemberontak!"
"Kalau
begitu, Thian-liong-pang menentang kepada Siauw-lim-pai!" Hwesio bermuka
tengkorak yang memegang kebutan dan tasbeh berkata. Sikapnya tidaklah sehalus
Ceng Sim Hwesio dan mata di dalam tengkorak itu mengeluarkan sinar berkilat.
"Habis,
engkau mau apa?" Si Lengan Satu sudah membentak lagi, toya di tangan
kanannya diputar-putar sehingga terdengar suara angin bersuitan.
"Terserah
akan pendapat Siauw-lim-pai terhadap sikap kami, akan tetapi Thian-liong-pang
tidak akan tunduk terhadap siapa pun juga dalam menentukan sikap akan urusan
kami dengan pemerintah!" Milana berkata.
"Omitohud!
Sejak dahulu Thian-liong-pang memang ganas dan tinggi hati. Agaknya karena
semua tokohnya memiliki ilmu kepandaian tinggi!" kata Ceng Sim Hwesio yang
mulai panas hatinya.
"Ilmu
kepandaian curian semua!" Kembali hwesio muka tengkorak berkata mengejek.
"Cu-wi
Lo-suhu dari Siauw-lim-pai! Bukan kami yang mengundang kalian, melainkan
Siauw-lim-pai yang menuntut pertemuan ini. Akan tetapi ternyata Siauw-lim-pai
memperlihatkan sikap tidak bersahabat. Karena itu, karena kami yang menyediakan
tempat ini, berarti kami menjadi pihak pemilik tempat dan kalian adalah tamu.
Sekarang kami persilakan kalian pergi dari sini, pertemuan telah selesai!"
Milana berkata marah.
"Omitohud,
benar-benar Thian-liong-pang tidak memandang sebelah mata kepada
Siauw-lim-pai!" Ceng Sim Hwe-sio berkata. "Setelah kedua belah pihak
bertemu, bicara tanpa ada hasilnya, tidak boleh kita menyia-nyiakan kesempatan
ini untuk saling menguji sampai di mana ketinggian ilmu kepandaian
masing-masing. Biar pun kami hanya bertujuh dan jumlah kalian dua kali lebih
banyak, kami tidak akan mundur dan kami tantang Thian-liong-pang mengadakan
pertandingan menguji ilmu kepandaian sebagai penutup pertemuan ini!"
"Bagus!
Siapa takut kepada tujuh ekor kerbau gundul?" Bok Sam meloncat sambil
memutar toyanya.
"Trang-trangg...!"
Bunga api berpijar ketika toya itu bertemu dengan tombak pendek yang berada di
tangan seorang hwesio yang menangkis toya itu. Hwesio tua bertubuh tinggi besar
itu terhuyung mundur dengan wajah pucat karena merasa betapa dari toya itu
keluar tenaga dahsyat yang membuat kedua lengannya tergetar dan kuda-kudanya
tergempur!
"Kiang-lopek!
Harap mundur dulu! Aku tidak perkenankan tokoh-tokoh Thian-liong-pang yang
gagah perkasa melakukan pengeroyokan! Mereka hanya bertujuh, aku membutuhkan
enam orang pembantu saja untuk menghadapi mereka!" Milana lalu menyebutkan
nama enam orang pembantu yang dipilihnya, termasuk Si Lengan Buntung, kemudian
bersama enam orang pembantunya ia menghadapi para hwesio Siauw-lim-pai sambil
melintangkan pedang di depan dada dan berkata,
"Ceng
Sim Hwesio, apa yang kalian kehendaki sekarang?"
"Omitohud!
Kiranya Thian-liong-pang masih menjaga nama baik dan memiliki kegagahan!
Kouwnio (Nona) yang perkasa, biarlah pertemuan ini kita akhiri dengan menguji
kepandaian masing-masing sehingga akan lengkaplah pelaporan kami kepada Ketua
kami."
"Bagus
sekali. Majulah, jumlah kita sekarang sama!" Kemudian dia menoleh kepada
para pembantunya, "Kalian ingat baik-baik, pertandingan ini hanya sekedar
menguji ilmu. Aku tidak perkenankan kalian turun tangan membunuh. Cukup kalau
sudah mengalahkan orang-orang tua yang keras kepala ini!"
"Orang-orang
Thian-liong-pang yang sombong! Sambutlah serangan kami!" Ceng Sim Hwesio
membentak, memberi isyarat kepada rombongannya dan tujuh orang hwesio itu sudah
menerjang maju.
Yang mempelopori
adalah hwesio tua ini. Senjatanya hanya kedua lengan bajunya yang lebar, namun
sepasang senjata ini amatlah dahsyatnya, tidak kalah oleh senjata-senjata lain
karena begitu kedua tangannya bergerak, ujung lengan baju yang panjang itu
merupakan senjata yang menyambar kuat sekali, panjangnya lebih dari satu kaki
di depan tangannya.
"Wuuuut...
wuuuutttt!" Kedua lengan bajunya itu menerjang ke arah Milana.
Ketika dara
ini dengan gerakan yang gesit sekali mengelak dengan sebuah loncatan ke
belakang kemudian membalik, tahu-tahu dia melihat bahwa pemimpin rombongan
hwesio itu telah dihadapi oleh Bok Sam dengan putaran toyanya sehingga Ceng Sim
Hwesio cepat memutar kedua ujung lengan bajunya dan terjadilah pertandingan
seru di antara mereka. Milana tersenyum, maklum bahwa pembantunya yang paling
lihai ini tentu saja turun tangan menandingi hwesio yang dianggapnya paling
ampuh dan lihai di antara rombongan lawan sehingga nona muda puteri Ketuanya
itu tidak akan perlu bekerja terlalu keras!
Terpaksa
Milana melayani seorang hwesio lain, yang bertubuh tinggi besar dan yang
bersenjata sepasang tombak pendek, yaitu hwesio yang tadi menangkis toya Si
Lengan Buntung. Namun lawan ini terlalu lemah baginya dan dalam belasan jurus
saja Milana sudah mendesak sepasang tombak pendek itu sehingga lawannya hanya
dapat mengelak dan sibuk menangkis dengan sepasang senjatanya seolah-olah di
tangan Milana bukan terdapat sepasang pedang melainkan banyak sekali yang
membuat hwesio itu kewalahan.
Sementara
itu, lima orang hwesio lainnya sudah pula bertanding melawan lima orang
pembantu Milana dan terjadilah pertandingan yang seru di tanah kuburan. Melihat
bahwa ternyata anggota Thian-liong-pang yang berada di situ sama sekali tidak
ada sangkut-pautnya dengan mereka, rombongan Pulau Neraka kini menjadi lega
hatinya dan menonton pertandingan sambil bersembunyi. Mereka diam-diam merasa
kagum sekali kepada puteri Ketua Thian-liong-pang dan Si Lengan Buntung yang
ternyata hebat bukan main.
Pertandingan
antara Bok Sam yang buntung lengan kirinya melawan Ceng Sim Hwesio merupakan
pertandingan yang paling seru dan seimbang, dibandingkan dengan pertandingan
lain di antara kedua rombongan itu. Biar pun lengannya hanya sebuah, namun toya
yang diputar di tangan kanan itu benar-benar dahsyat sekali gerakannya sehingga
Ceng Sim Hwesio yang amat lihai itu pun tidak mampu mendesaknya dengan kedua
ujung lengan bajunya, bahkan hwesio tua itu kelihatan terkejut sekali dan
bersilat dengan amat hati-hati.
Hwesio-hwesio
Siauw-lim-pai terkenal memiliki ilmu silat yang tinggi, dengan dasar yang kokoh
kuat dan boleh dikata di antara semua ilmu silat yang sesungguhnya bersumber
satu itu, ilmu silat Siauw-lim-pai adalah ilmu silat yang masih dekat dengan
sumbernya, masih murni dibandingkan dengan cabang-cabang persilatan lain. Hal
ini adalah karena para pengembang ilmu silat Siauw-lim-pai terdiri dari
hwesio-hwesio yang berwatak bersih, jujur dan tekun serta setia kepada
pelajaran guru-guru mereka.
Berbeda
dengan cabang persilatan lain yang mengalami perubahan karena tokoh-tokohnya
terdiri dari orang-orang kang-ouw atau petualang yang banyak merantau sehingga
di sana sini mereka menemukan cara-cara baru yang mereka masukkan dalam ilmu
silat mereka sehingga makin lama, biar pun ilmu mereka banyak yang menjadi aneh
dan bermacam-macam coraknya, juga tidak kalah lihainya, namun makin menjauh
dari dasar atau sumbernya. Karena inilah, maka ilmu silat Siauw-lim-pai menjadi
ilmu silat yang tertua dan yang paling asli, tidak berubah semenjak ratusan tahun
yang lalu.
Ceng Sim
Hwesio adalah murid kepala dari Ketua Siauw-lim-pai pada waktu itu. Tentu saja
dia telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, dan memiliki tenaga sinkang
yang amat kuat. Sebetulnya, dibandingkan dengan Bok Sam, baik mengenai kematangan
latihan mau pun tingkat kepandaian, hwesio ini tidak kalah bahkan lebih unggul
dan lebih matang, juga tenaga saktinya tidak kalah kuat. Akan tetapi, lawannya
itu telah memperoleh gemblengan khusus dari Ketua Thian-liong-pang, dan ilmu
yang dimilikinya adalah ilmu golongan hitam yang mempunyai banyak
gerakan-gerakan mengandung tipu daya yang aneh-aneh dan tidak dikenal oleh
seorang pendeta yang mengutamakan kejujuran seperti Ceng Sim Hwesio.
Ketika
dengan gerakan yang kuat sepasang lengan baju hwesio itu menyambar ke arah toya
yang menyerang, melibat kedua ujung toya itu dengan sepasang lengan bajunya
untuk merampas senjata lawan, secara tak terduga dan tiba-tiba, Si Lengan Satu
itu melepaskan toyanya dan menggunakan kesempatan selagi lawan tidak bebas karena
kedua lengan dipakai untuk berusaha merampas toya, tangan kanan yang mempunyai
ilmu dahsyat ‘telapak tangan golok’ itu telah membabat ke arah pundak Ceng Sim
Hwesio!
Hwesio tua
itu terkejut sekali. Dari sambaran hawa pukulan tangan kanan itu dia dapat
menduga bahwa lawannya memiliki pukulan ampuh yang berbahaya sekali. Untuk
menangkis, tidak keburu lagi karena kedua tangannya tidak bebas, sepasang ujung
lengan bajunya sudah melibat toya, maka jalan satu-satunya baginya hanyalah
miringkan tubuh dan menerima hantaman tangan miring itu dengan pangkal bahunya
yang berdaging sambil mengerahkan sinkang-nya.
"Desss!"
Hebat bukan
main pukulan tangan miring dari Bok Sam ini. Dia telah menerima latihan khusus
dari Ketua Thian-liong-pang dan kekuatan tangan tunggalnya itu amat dahsyat.
Bukan seperti tangan yang mengandung tenaga sinkang biasa yang dapat memecahkan
batu karang, akan tetapi tangan kanan Bok Sam ini dapat dipergunakan seperti
sebatang golok yang tajam, dapat mematahkan senjata lawan dan dapat dipakai
membacok putus leher manusia!
Ketika
tangan yang dihantamkan miring itu bertemu dengan pangkal lengan Ceng Sim
Hwesio yang mengandung tenaga sinkang amat kuat sehingga menjadi kebal, tubuh
hwesio itu tergetar hebat dan biar pun dia tidak terluka karena ‘bacokan’
tangan itu dilawan oleh sinkang-nya, namun dia roboh terpelanting, libatan
kedua ujung lengan bajunya pada toya terlepas dan toya itu telah dirampas
kembali oleh Bok Sam yang menggunakan toya untuk menodong dada hwesio yang
sudah rebah terlentang.
"Pinceng
sudah kalah, perlu apa menodong dan mengancam? Kalau mau bunuh, lakukanlah,
pinceng tidak takut mati!" kata Ceng Sim Hwesio yang merasa terhina dengan
penodongan toya di atas dadanya itu.
Milana yang
sudah merobohkan lawannya dan sedang meloncat ke atas sebuah kuburan untuk
menyerang hwesio muka tengkorak yang ternyata telah merobohkan dua orang
pembantunya berturut-turut cepat berseru,
"Kiang-lopek!
Jangan lancang membunuh!"
Bok Sam
tentu saja tidak berani melanggar larangan puteri ketuanya. Dia menodong hanya
untuk membuktikan keunggulannya saja, maka kini ujung toyanya bergerak cepat
menotok jalan darah di pundak Ceng Sim Hwesio, membuat hwesio itu mengeluh dan
tak dapat bergerak lagi.
Sementara
itu, hwesio muka tengkorak yang memegang kebutan dan tasbih, ternyata dengan
gerakan kebutannya telah berhasil merobohkan pula seorang anggota
Thian-liong-pang yang tadi menerjangnya dengan sebatang pedang. Gerakan hwesio
ini amat hebat. Begitu memandang, tahulah Bok Sam bahwa hwesio kurus itu
ternyata jauh lebih lihai dari pada Ceng Sim Hwesio! Hwesio kurus itu telah
merobohkan tiga orang temannya dan seorang lagi telah roboh oleh hwesio lain.
Kini di
pihak Thian-liong-pang hanya tinggal tersisa dia, puteri Ketuanya, dan seorang
pembantu lagi, yaitu Su Kak Liong yang masih bertanding seru melawan seorang
hwesio pendek bersenjata toya. Biar pun dia lihai, Su Kak Liong terdesak juga
oleh dua orang pengeroyoknya. Milana sudah menerjang hwesio kurus yang
bersenjata hud-tim dan tasbih, dikeroyok oleh hwesio itu dan seorang hwesio
lain yang bersenjata pedang.
Karena
percaya akan kelihaian Milana, Bok Sam membiarkan Milana menghadapi dua orang
pengeroyoknya dan dia sendiri cepat meloncat ke depan membantu Su Kak Liong.
Begitu Si Lengan Buntung ini maju, keadaan berubah sama sekali. Hwesio pendek
yang bersenjata toya sama sekali bukan tandingan Si Lengan Buntung, biar pun
senjata mereka serupa dan hwesio itu menggunakan kedua tangannya untuk mainkan
senjatanya. Dalam belasan jurus saja, hwesio pendek itu tak kuat bertahan lagi,
toyanya patah menjadi dua dan dia roboh dengan sambungan lutut terlepas karena
hantaman toya lawan. Juga hwesio muda yang bersenjata golok sudah roboh oleh Su
Kak Liong, terluka pundaknya.
Bok Sam
cepat meloncat dan membantu Milana yang masih dikeroyok dua. Ternyata hwesio
kurus bermuka tengkorak itu benar-benar lihai sekali. Permainan kombinasi
sepasang senjatanya yang aneh memiliki gerakan-gerakan aneh dan tenaga sinkang
yang terkandung dalam gerakan senjata-senjatanya amat kuat. Kebutan di tangan
kanan itu kadang-kadang lemas dan dipergunakan untuk membelit pedang untuk
merampasnya, akan tetapi kadang-kadang dapat menjadi keras dan kaku
bulu-bulunya sehingga dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah. Sedangkan
tasbihnya menyelingi gerakan kebutan dengan sambaran-sambaran ke arah kepala
lawan.
Milana
terkejut dan tertarik sekali. Dia sudah mengenal dasar ilmu silat
Siauw-lim-pai, maka dia menjadi heran sekali ketika melihat bahwa dasar ilmu
silat hwesio kurus ini jauh berbeda dengan Siauw-lim-pai, bahkan mendekati ilmu
silat dari barat! Setelah kini Bok Sam maju membantunya dan menghadapi hwesio
yang bersenjata pedang, Milana mendapat kesempatan untuk menghadapi hwesio muka
tengkorak itu satu lawan satu dan dengan mengerahkan ginkang-nya yang luar
biasa, Milana dapat memancing hwesio itu mengeluarkan semua jurus-jurusnya yang
sama sekali bukan ilmu silat Siauw-lim-pai.
Tiba-tiba
untuk kesekian kalinya, tasbih menyambar dari udara, mengeluarkan bunyi
bersuitan. Tasbih itu telah dilepas oleh tangan kiri hwesio kurus, dan
melayang-layang seperti seekor burung menyambar ke arah kepala Milana. Dara ini
tidak menjadi gugup. Tadi pun dia pernah diserang seperti itu dan ketika ia
mengelak, tasbih itu dapat kembali ke tangan lawan! Kini dia sengaja
menggunakan pedangnya menangkis dengan hantaman miring dari samping ke arah
tasbih sambil membagi perhatian ke depan karena selagi tasbih itu melayang
turun, hud-tim di tangan kanan lawannya juga tidak tinggal diam, bahkan
mengirim penyerangan cepat sekali.
"Cringgg!"
Milana
terkejut karena tangkisan itu membuat tangannya tergetar dan ternyata bahwa
tasbih itu tidak tertolak oleh tangkisannya, melainkan terus melibat pedangnya.
Kiranya tasbih itu dilempar dengan gerakan berputar sehingga ketika ditangkis
terus melibat! Padahal pada saat itu kebutan di tangan kanan hwesio itu telah
meluncur datang, ujung kebutan bergerak cepat sekali seolah-olah ber-ubah
menjadi banyak dan mengirim totokan Secara bertubi-tubi ke arah jalan-jalan
darah di bagian depan tubuh Milana dan pinggang ke atas.
"Wuuuuttt...
singgg!"
Milana
menggunakan ginkang-nya, tubuhnya mencelat ke atas, pedang dikelebatkan dengan
pengerahan sinkang sehingga tasbih yang melilit pedangnya itu terlepas
menyambar ke depan, menangkis ke arah kebutan.
"Wuuuut!"
Dengan
lihainya hwesio kurus itu menggerakkan kebutan menangkap tasbihnya, dan sudah
siap untuk menerjang lagi sambil diam-diam memuji ketangkasan dara itu.
"Tahan!"
Tiba-tiba Milana membentak sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
"Siapa engkau? Aku yakin bahwa engkau bukanlah seorang hwesio tokoh
Siauw-lim-pai!"
Hwesio itu
tersenyum mengejek, kemudian memandang kepada enam orang hwesio yang semua
telah roboh terluka. Hwesio berpedang yang tadinya membantu dia mengeroyok
Milana telah roboh pula di tangan Bok Sam yang kini sudah berdiri dengan
memegang toya tegak lurus di depannya, siap untuk menerjangnya. Enam orang
temannya sudah kalah semua, tinggal dia seorang, sedangkan di pihak
Thian-liong-pang masih ada tiga orang termasuk nona muda yang amat lihai dan Si
Lengan Buntung yang juga lihai sekali itu.
"Pinceng
Mo Kong Hosiang memang bukan seorang tokoh Siauw-lim-pai, akan tetapi pinceng
adalah sahabat baik Ketua Siauw-lim-pai. Pinceng datang dari barat dan
mendengar akan sepak terjang Thian-liong-pang yang telah merendahkan diri
menjadi kaki tangan pemerintah penjajah, pinceng dan para sahabat ini..."
"Aihh,
kiranya engkau seorang pemberontak dari Tibet, bukan?" Milana memotong,
dan hwesio itu kelihatan terkejut.
"Bagaimana
Nona dapat menyangka demikian?"
"Aku
mengenal gaya bahasamu dan dasar gerak silatmu. Tibet sudah takluk, akan tetapi
banyak tokohnya diam-diam masih ingin memberontak. Tentu engkau adalah seorang
di antara mereka yang ingin memberontak, maka kini engkau menghasut para
Lo-suhu dari Siauw-lim-pai untuk menentang kami. Hemm, Mo Kong Hosiang, karena
engkau bukan orang Siauw-lim-pai, maka urusan antara engkau dan kami lain lagi.
Engkau seorang pemberontak dan sudah menjadi tugas kami untuk membasmi
pemberontak."
"Ha-ha-ha-ha,
perempuan sombong! Kau kira pinceng takut...?" Baru sampai di sini
ucapannya, terdengar suara gerengan keras dan Bok Sam telah menerjang maju
dengan dahsyat, menggerakkan toyanya menusuk ke arah dada hwesio kurus itu.
Mo Kong
Hosiang cepat mengelak sambil menggerakkan hud-tim di tangannya yang menyambar
dari samping ke arah lambung Si Lengan Buntung. Serangan berbahaya ini dapat
dielakkan oleh Bhok Sam dan segera terjadi pertandingan hebat antara kedua
orang itu. Sekali ini, pertandingan terjadi lebih hebat dari pada tadi karena
kalau tadi masing-masing pihak masih menjaga agar jangan sampai menjatuhkan
pukulan maut kepada pihak lawan, kini kedua orang ini bertanding dengan niat
membunuh!
Milana sudah
mengukur tingkat kepandaian hwesio kurus itu, maka kini ia mengerutkan alis
menyaksikan kelancangan Bok Sam yang terlalu berani turun tangan. Dia maklum
bahwa pembantu ibunya itu memiliki ilmu yang boleh diandalkan, akan tetapi dia
khawatir kalau pembantu ibunya itu bukan tandingan Mo Kong Hosiang yang amat
lihai. Biar pun hatinya tidak senang menyaksikan kelancangan dan kekerasan hati
Bok Sam, namun karena dia tahu bahwa Si Buntung ini mendahuluinya bukan hanya
karena keras hati akan tetapi juga karena menyayangnya menghadapi lawan
tangguh, maka di lubuk hatinya Milana merasa tidak tega dan tidak mau
membiarkan Si Lengan Buntung itu menghadapi bahaya maut. Diam-diam ia bersiap
sedia untuk menolong apabila pembantu ibunya itu terancam bahaya.
Kiang Bok
Sam bukan seorang bodoh. Begitu terjadi saling serang beberapa jurus saja,
tahulah dia bahwa lawannya ini benar-benar amat lihai, sama sekali tidak boleh
disamakan dengan Ceng Sim Hwesio. Gerakan hud-tim itu membingungkan hatinya
karena amat cepat dan aneh, selain itu, juga hud-tim yang kadang-kadang lemas
kadang-kadang kaku itu membuat dia sukar sekali menduga gerakan serangan lawan.
Namun dia
tidak menjadi jeri dan toyanya diputar amat cepatnya ketika dia membalas dengan
serangan-serangan maut yang tidak kalah hebatnya. Permainan toyanya yang khusus
diturunkan oleh Ketua Thian-liong-pang kepadanya memang dahsyat sekali, apa
lagi di balik toya ini tersembunyi lengan tunggal yang memiliki keampuhan luar
biasa. Toya ini selain merupakan senjata, juga merupakan semacam kedok yang
menyembunyikan senjatanya yang paling utama dan ampuh, yaitu tangan kanannya.
Lawan biasanya akan memandang rendah apabila dia kehilangan toyanya, dan hal
ini pun tadi telah mengakibatkan robohnya Ceng Sim Hwesio.
Mo Kong
Hosiang maklum bahwa lawan yang berbahaya adalah Si Buntung ini dan nona muda
itu, maka dia harus dapat merobohkan seorang di antara mereka baru dia
mempunyai harapan untuk keluar dari pertandingan dengan selamat. Maka kini
melihat gerakan toya Si Lengan Buntung, dia memandang rendah. Si Buntung ini
memang amat cepat dan kuat sinkang-nya, namun masih jauh kalau dibandingkan
lawannya dengan nona muda yang cantik itu. Dia harus dapat mengalahkan lawannya
dengan cepat.
Tiba-tiba
hwesio kurus itu mengeluarkan suara bentakan melengking hingga terkejutlah
lawannya karena bentakan ini mengandung tenaga khikang yang menggetarkan
jantung. Pada saat itu hud-tim di tangan Mo Kong Hosiang meluncur ke depan,
menjadi lemas dan telah melibat ujung toya yang tadi menusuk ke arah dadanya,
sedangkan tasbih di tangan kirinya sudah dilontarkannya ke atas dan kiri tasbih
itu meluncur turun ke arah kepala lawan selagi lawan masih terkejut dan
berusaha membetot toyanya.
"Sinngggg...
tranggggg!" Tasbih itu putus dan runtuh ke atas tanah, kesambar pedang
yang dilontarkan oleh Milana. Pedang itu pun runtuh ke atas tanah, akan tetapi
telah berhasil menyelamatkan Si Lengan Buntung dari ancaman maut!
Pada saat
itu Bok Sam melepaskan toyanya dan Mo Kong Hosiang menganggap hal ini sebagai
kemenangan. Dia berseru girang walau pun tadi kaget melihat tasbihnya runtuh,
dengan gerak kilat tangan kirinya menghantam ke arah lawan. Pukulannya cepat
dan keras bukan main sehingga didahului oleh hawa pukulan yang kuat. Seperti
juga Ceng Sim Hwesio, hwesio dari Tibet ini telah salah menduga keadaan lawan.
Disangkanya bahwa Si Lengan Buntung itu hanya mengandalkan toyanya, maka begitu
toya terlepas dianggapnya Si Lengan Buntung itu menjadi tidak berdaya dan
lemah. Hwesio kurus itu hanya tersenyum mengejek ketika Bok Sam menggerakkan
lengan tangannya menangkis dengan tangan terbuka miring.
"Krakkkk...!"
Mo Kong
Hosiang berteriak kaget setengah mati ketika pergelangan tangannya terasa nyeri
dan tulangnya ternyata patah begitu bertemu dengan tangan miring lawan.
"Celaka...!"
Dia cepat meloncat ke belakang, lengan kirinya tergantung lumpuh karena
tulangnya patah, namun hud-timnya berhasil merampas toya. Kini dia menggerakkan
hud-timnya dan toya itu meluncur seperti anak panah yang besar ke arah Bok Sam!
"Wuuuttt...
wirrrr!"
Tiba-tiba
toya yang meluncur itu berhenti dan tertarik ke atas oleh sinar hitam yang
meluncur cepat dari tangan Milana. Kiranya dara perkasa ini telah menggunakan
sebatang tali sutera, sebuah di antara senjatanya yang amat lihai,
dilontarkannya tali itu dan berhasil menangkap toya! Kini toya itu telah
kembali ke tangan pemiliknya yang mengangguk sebagai tanda terima kasih kepada
Milana. Lontaran toya tadi benar-benar tidak terduga dan amat cepatnya sehingga
kalau tidak ditolong Milana, tentu dia akan celaka, setidaknya terluka.
Sambil
menggereng seperti seekor harimau terluka, Bok Sam menerjang maju dan terpaksa
dilawan oleh Mo Kong Hosiang yang keadaannya tidak berbeda jauh dengan
lawannya. Kalau lawannya itu hanya menggunakan lengan kanan karena lengan
kirinya buntung, hwesio Tibet ini pun hanya menggunakan lengan kanan karena
lengan kirinya lumpuh dan patah tulangnya.
Maklum bahwa
selain terluka parah, juga di samping lawannya yang lihai ini masih terdapat
puteri Ketua Thian-liong-pang yang lebih lihai lagi, maka Mo Kong Hosiang
berlaku nekat, menubruk maju dengan dahsyat, ingin mengadu nyawa dan mengajak
lawannya mati bersama! Akan tetapi Bok Sam tentu saja tidak suka nekat seperti
lawannya karena dia sudah berada di pihak lebih kuat. Menghadapi terjangan
nekat ini, dia mengayun toyanya menangkis dengan pengerahan tenaga sekuatnya.
"Desss!
Krakkk!"
Hud-tim dan
toya di tangan kedua orang lawan itu patah menjadi dua disusul pekik Mo Kong
Ho-siang yang roboh terjengkang karena dadanya terkena pukulan tangan kanan Bok
Sam yang amat ampuh. Biar pun dengan sinkang-nya dia masih dapat membuat
dadanya kebal, namun getaran hebat membuat jantungnya pecah dan isi dadanya
rusak sehingga hwesio Tibet ini tewas seketika!
Milana cepat
menyuruh anak buahnya mundur, kemudian dia menghampiri enam orang hwesio
Siauw-lim-pai yang sudah bangkit berdiri saling bantu. Ceng Sim Hwesio berdiri
dengan muka pucat.
"Ceng
Sim Hwesio, engkau tadi telah mendengar sendiri bahwa kami membunuh Mo Kong
Hosiang bukan sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai. Menurut pengakuannya
sendiri, dia bukanlah seorang anggota Siauw-lim-pai. Kami membunuhnya sebagai
seorang pemberontak. Ada pun Cu-wi Lo-suhu, enam orang anggota Siauw-lim-pai
telah kalah dalam ujian kepandaian melawan kami, hal ini kami rasa sudah
sewajarnya, apa lagi kalau diingat bahwa yang menantang mengadu ilmu adalah
pihak Siauw-lim-pai sendiri. Harap saja Lo-suhu tidak akan memutar balikkan
kenyataan ini dalam laporan Lo-suhu kepada Ketua Siauw-lim-pai."
Ceng Sim
Hwesio tersenyum pahit lalu menghela napas panjang. "Biar pun Mo Kong
Hosiang bukan anggota Siauw-lim-pai, namun dia adalah seorang saudara kami,
sudah sepatutnya kalau kami membawa pergi jenazahnya. Tentang urusan antara
kita, hemmm... kami sudah kalah, tidak perlu banyak bicara lagi! Selamat
tinggal, mudah-mudahan dalam pertemuan mendatang kami akan lebih
berhasil." Setelah berkata demikian, Ceng Sim Hwesio mengajak anak buahnya
pergi sambil menggotong jenazah Mo Kong Hosiang.
Rombongan
Pulau Neraka yang bersembunyi sambil menonton, melihat bahwa biar pun pihak
Thian-liong-pang memperoleh kemenangan, akan tetapi rombongan itu tidak
meninggalkan tempat itu, hanya mengobati empat orang anggota yang terluka dalam
pertandingan tadi. Bahkan mereka bermalam lagi di tempat itu melakukan
penjagaan secara bergiliran.
Kiranya
bukan hanya dari partai persilatan Siauw-lim-pai saja yang datang. Pada esok
harinya datang pula rombongan orang-orang kang-ouw yang juga mempunyai niat
yang sama dengan rombongan Siauw-lim-pai, yaitu mereka menentang
Thian-liong-pang yang oleh dunia kang-ouw dianggap telah menyeleweng dari peraturan
kang-ouw, yaitu telah mencampurkan diri dengan urusan politik, bahkan telah
mengekor dan menghambakan diri kepada pemerintah penjajah.
Betapa pun
juga, partai-partai persilatan besar dan orang-orang gagah di dunia kang-ouw
itu biar tidak secara terang-terangan memberontak atau menentang pemerintah
penjajah, namun di dalam hati mereka masih tetap berpihak kepada orang-orang
yang memberontak terhadap kaum penjajah. Karena itu, mendengar betapa
Thian-liong-pang membantu pihak pemerintah, nnengejar-ngejar pemberontak dan
membasmi mereka, golongan kang-ouw menjadi marah dan sengaja menentang
Thian-liong-pang!
Setiap hari
terjadilah pertempuran di tanah kuburan itu dan karena di pihak
Thian-liong-pang terdapat Si Lengan Buntung yang amat lihai dan puteri Ketua
Thian-liong-pang yang sukar menemui tandingan, maka pihak Thian-liong-pang
selalu dapat menang dan mengusir musuh-musuh mereka dengan alasan yang sama
seperti yang mereka kemukakan kepada Siauw-lim-pai. Pihak yang merasa penasaran
mereka lawan dengan mengadu kepandaian.
Rombongan
Pulau Neraka sekarang mengerti mengapa Bu-tek Siauw-jin, datuk mereka yang aneh
sekali wataknya itu memilih tempat ini untuk berlatih! Kiranya kakek yang tidak
lumrah manusia biasa itu agaknya sudah tahu bahwa tempat itu dijadikan
gelanggang pertandingan oleh Thian-liong-pang yang menyambut musuh-musuhnya,
maka dia sengaja memilih tempat itu yang dianggapnya menarik!
Kalau tidak
untuk keperluan ini, apa perlunya kakek itu menyuruh belasan orang Pulau Neraka
menggotong-gotong peti mati kosong itu sampai ratusan mil jauhnya? Padahal
untuk latihan itu, di mana-mana pun ada tanah, di mana-mana pun ada tanah
kuburan! Diam-diam para anak buah Pulau Neraka merasa mendongkol sungguh pun
tentu saja tidak berani menyatakan ini, karena mereka berada dalam keadaan
serba salah, setiap hari harus menyaksikan ketegangan-ketegangan tanpa berani
berkutik.
Akhirnya
terlewat jugalah jarak waktu sepekan yang dibutuhkan oleh Bu-tek Siauw-jin
untuk latihan bersama muridnya! Akan tetapi, tepat pada hari terakhir itu terjadi
pula pertandingan antara Thian-liong-pang dan rombongan Hoa-san-pai yang
terdiri dari orang-orang pandai sebanyak sepuluh orang! Seperti juga ketika
menyambut rombongan Siauw-lim-pai, Milana mewakili ibunya memberi alasan-alasan
kuat, dan perbantahan itu berakhir dengan adu kepandaian pula, karena pihak
Hoa-san-pai itu adalah murid-murid Thian Cu Cin-jin Ketua Hoa-san-pai yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Pertandingan
hebat terjadi sampai lewat tengah hari dan berakhir dengan kemenangan pihak
Thian-liong-pang. Akan tetapi biar pun orang-orang Hoa-san-pai itu dapat diusir
pergi dalam keadaan luka-luka, pihak Thian-liong-pang sendiri kehilangan
seorang anggotanya yang terluka terlalu parah sehingga nyawanya tidak tertolong
lagi dan tewas tak lama setelah rombongan Hoa-san-pai pergi!
Melihat
betapa pihak musuh tiada hentinya datang menantang mereka, Milana merasa
penasaran dan juga berduka sekali, apa lagi setelah melihat di pihaknya jatuh
korban seorang tewas dan lima orang masih luka-luka.
"Lebih
baik kita meninggalkan tempat ini membuat laporan kepada Pangcu," katanya
kepada Bok Sam.
"Sebaiknya
demikian, Nona. Namun karena kebetulan kita berada di tanah kuburan, sebaiknya
kita mengubur jenazah anak buah kita yang tewas itu di tempat ini."
Milana mengerutkan
alisnya, tetapi menganggap bahwa memang sebaiknya demikian sehingga mereka
tidak perlu membawa-bawa jenazah. "Terserah kepadamu, Kiang-lopek, akan
tetapi di tempat jauh dari kota ini, bagaimana kau bisa mendapatkan sebuah peti
mati?"
Si Lengan
Buntung itu menengok ke kanan kiri yang penuh dengan batu nisan dan gundukan
tanah kuburan. "Hemm, banyak tersedia peti mati di sini, mengapa mesti
susah-susah mencari tempat jauh? Biar aku mencarikan sebuah peti mati yang
masih baik untuk jenazah kawan klta." Si Lengan Buntung ini lalu mengajak
beberapa orang anak buahnya mencari kuburan yang masih belum begitu lama
sehingga peti mati di dalamnya tentu belum rusak pula.
Tentu saja
perhatian mereka segera tertarik oleh gundukan tanah yang masih baru, yaitu
kuburan Bu-tek Siauw-jin dan Kwi Hong! Tanah yang digundukkan di situ baru
sepekan lamanya.
"Bagus,
ini kuburan baru sekali! Tentu peti matinya pun masih baik. Hayo kita gali dan
keluarkan peti matinya!" Bok Sam berkata dengan wajah berseri, berbeda dengan
biasanya yang selalu kelihatan muram. Memang dia merasa gembira mendapatkan
kuburan yang baru itu, hal yang sama sekali tidak disangka-sangkanya karena
tanah kuburan itu penuh dengan kuburan-kuburan yang sudah tua sekali.
Setelah
berkata demikian, Si Kakek Lengan Buntung ini memelopori anak buahnya,
menggunakan tangannya menggempur gundukan tanah dan sekali tangan tunggalnya
mendorong, gundukan tanah yang baru itu terbongkar dan tampaklah sebuah peti
mati di bawahnya, berjajar dengan sebuah peti mati lain yang masih tertutup
tanah. Peti mati yang tampak itu adalah peti mati Kwi Hong!
"Heii,
keparat! Tahan...!"
Orang-orang
Thian-liong-pang terkejut dan mereka semua melihat dengan mata terbelalak
ketika belasan orang Pulau Neraka muncul dari kanan kiri. Benar-benar
mengejutkan melihat orang-orang yang mukanya beraneka warna itu bermunculan di
tanah kuburan itu, tidak ubahnya seperti setan-setan kuburan. Si Lengan Satu
yang kehilangan lengan kirinya dalam pertandingan melawan orang-orang Pulau
Neraka, segera mengenal musuh-musuh lama ini, maka dia terkejut dan marah
sekali.
"Gerombolan
Iblis Pulau Neraka! Apakah kalian kembali hendak mengganggu urusan
Thian-liong-pang?" bentaknya marah sekali.
Kong To Tek,
tokoh Pulau Neraka yang berkepala gundul bermuka merah muda dan bertubuh gendut
pendek, menyeringai ketika menjawab. "Orang-orang Thian-liong-pang yang
sombong! Sudah sepekan kami berada di sini menyaksikan sepak terjang kalian dan
kami diam-diam saja. Siapa sudi mencampuri urusan orang lain yang tidak harum?
Akan tetapi kalian berani mengganggu kuburan yang kami jaga, tentu saja kami
turun tangan. Kuburan yang satu ini berada di bawah pengawasan kami dan tidak
ada seorang pun manusia atau iblis boleh mengganggunya. Jika kalian membutuhkan
peti mati, boleh mencari kuburan lain!"
"Kau
sudah bosan hidup!" Bok Sam membentak dan langsung menerjang ke depan,
disambut oleh Kong To Tek sehingga terjadilah perkelahian yang seru antara
kedua tokoh ini. Ternyata ilmu kepandaian mereka seimbang sehingga pertandingan
itu hebat bukan main. Anak buah Thian-liong-pang yang lain sudah pula
bertanding melawan anak buah Pulau Neraka.
Perkelahian
itu segera terdengar oleh Milana dan anak buahnya, maka dara ini cepat membawa
anak buahnya menyerbu dan kembali tempat itu menjadi medan perang kecil-kecilan
yang dahsyat sekali. Milana mempunyai rasa tidak suka kepada Pulau Neraka, maka
kini melihat betapa orang-orang dengan muka beraneka warna itu bertempur
melawan orang-orangnya, dia segera terjun ke medan pertandingan dan sepak
terjang dara ini membuat orang-orang Pulau Neraka terdesak hebat.
Bok Sam yang
bertanding melawan Kong To Tek merupakan tandingan seimbang dan seru, tetapi Si
Gundul Kong To Tek itu mulai terdesak karena lawannya menggunakan
pukulan-pukulan Ilmu Telapak Tangan Golok yang dahsyat bukan main. Kong To Tek
terkenal dengan ilmunya memukul sambil berjongkok dan dari mulutnya keluar asap
beracun. Tetapi karena dia pernah mengacau ke Thian-liong-pang dan
kepandaiannya ini sudah diketahui oleh Bok Sam, Si Lengan Buntung dapat menjaga
diri dan selalu meloncat tinggi melampaui kepala lawan yang berjongkok itu,
kemudian membalik dan melancarkan pukulan-pukulan maut dengan lengan tunggalnya
yang ampuh bukan main.
Ada pun
orang kedua yang lihai dalam rombongan Pulau Neraka itu adalah Chi Song, tokoh
Pulau Neraka yang tinggi besar dan berperut gendut. Chi Song ini memiliki dua
macam ilmu simpanan yang hebat dan pernah pula dia mengacau Thian-liong-pang
bersama Kong To Tek dan akhirnya dikalahkan oleh Gak Bun Beng yang pada waktu
itu menyamar sebagai Ketua Thian-liong-pang.
Dua ilmu
simpanannya itu memang dahsyat, yaitu Ilmu Pukulan Beracun yang amat berbahaya.
Jika ia mendorong dengan telapak tangan terbuka, dari telapak tangannya
menyambar uap beracun yang dapat merobohkan lawan sebelum pukulannya sendiri
mengenai sasaran. Ada pun keistimewaannya yang kedua adalah ilmu tendangan yang
dahsyat, yang dilakukan sambil meloncat sehingga dinamakan Tendangan Terbang.
Banyak lawan yang dapat menghindarkan diri dari pukulannya yang beracun roboh
oleh tendangan dahsyat yang amat cepat dan tidak terduga-duga datangnya ini.
Biar pun tingkat kepandaiannya masih kalah sedikit dibandingkan dengan Kong To
Tek, namun Chi Song bukanlah seorang tokoh rendahan saja di Pulau Neraka.
Sial
baginya, sekali ini dia bertemu dengan Milana, puteri Ketua Thian-liong-pang!
Betapa pun lihainya, dan biar pun dia telah dibantu oleh tiga orang untuk
mengeroyok Milana, tetap saja dia dan kawan-kawannya dihajar babak belur oleh
tali sutera hitam yang dimainkan sebagai cambuk tangan Milana! Kalau dara
remaja ini menghendaki, tentu dengan mudah dia dapat menyebar maut di antara
rombongan orang-orang Pulau Neraka itu.
Akan tetapi
biar pun dia puteri Ketua Thian-liong-pang yang terkenal berwatak keras dan
ganas, pada hakekatnya Milana memiliki watak halus dan tidak tega membunuh
orang kalau tidak secara terpaksa sekali. Dia tidak suka kepada orang-orang
Pulau Neraka, akan tetapi karena yang mengeroyoknya hanya orang-orang yang
tingkatnya jauh lebih rendah dari padanya, dia tidak mau menurunkan tangan
maut, dan hanya menghajar mereka dengan lecutan-lecutan tali suteranya sehingga
mereka itu terdesak mundur, bahkan beberapa kali Chi Song roboh bergulingan,
pakaiannya robek-robek dan kulitnya lecet-lecet.
Sepak
terjang Milana ini hebat sekali, membuat para anak buah Pulau Neraka menjadi
kacau balau. Apa lagi ketika Bok Sam berhasil melukai pundak Kong To Tek dengan
Telapak Tangan Goloknya sehingga tokoh gundul Pulau Neraka itu terpaksa mundur
untuk mengobati lukanya dan Si Lengan Buntung itu kini mengamuk secara lebih
hebat dari pada Milana karena Si Lengan Buntung ini tidak menaruh segan-segan
untuk membunuh atau menimbulkan luka parah di antara pengeroyoknya, pihak Pulau
Neraka benar-benar terdesak hebat dan hanya main mundur.
Tiba-tiba
terdengar pekik dari atas, disusul kelepak sayap dan seekor burung rajawali
hitam menyambar turun, langsung mencengkeram ke arah Si Lengan Buntung Kiang
Bok Sam yang sedang mengamuk dan menyebar maut di antara orang-orang Pulau
Neraka!
"Haiiiitttt!"
Bok Sam berseru kaget, cepat melempar tubuh ke bawah dan bergulingan di atas
tanah. Burung rajawali mengejar dan menyambar. Tiba-tiba Bok Sam meloncat
bangun, tangan kanannya bergerak memukul ke arah sebuah di antara sepasang
cakar yang menyambarnya.
"Desssss!"
Burung
rajawali itu memekik keras, tetapi tubuh Bok Sam juga terlempar bergulingan
sampai jauh. Kiranya ketika kaki burung itu bertemu dengan pukulan Telapak
Tangan Golok, ada sebuah tangan lain yang mendorong ke bawah dengan kekuatan
yang amat dahsyat, yang selain menyelamatkan kaki burung itu, juga membuat
tubuh Si Lengan Buntung bergulingan. Burung itu hinggap di atas tanah dan dari
punggungnya meloncat seorang pemuda yang bertubuh jangkung dan berwajah tampan
sekali. Kemudian burung itu terbang ke atas, hinggap di atas cabang pohon.
Su Kak
Liong, tokoh Thian-liong-pang yang melihat betapa hampir saja Bok Sam celaka
oleh pemuda dengan burung rajawalinya ini, menerjang maju dengan sebatang golok
besar. Pemuda itu sedang berdiri sambil bertolak pinggang memandang ke
sekeliling, sama sekali tidak memperhatikan atau mempedulikan terjangan Su Kak
Liong dengan golok, juga dia tidak meraba gagang pedangnya yang tersembunyi di
balik jubahnya yang panjang.
Sikapnya
tenang sekali, alisnya yang tebal agak berkerut, matanya bergerak ke kanan
kiri, mulutnya tersenyum simpul seperti orang mengejek, namun sikapnya angkuh
seolah-olah dia memandang rendah pada semua orang yang berada di sekelilingnya.
Golok di tangan Su Kak Liong menyambar dekat, hampir menyentuh lehernya.
Tiba-tiba tanpa mengubah kedudukan kedua kakinya, pemuda itu membalikkan tubuh
atas, tangan kirinya bergerak menangkap golok yang sedang menyambar, dijepit di
antara jari tangannya sehingga golok itu tiba-tiba terhenti gerakannya.
Su Kak Liong
memandang dengan mata terbelalak hampir tidak percaya bahwa ada orang mampu
menyambut hantaman goloknya dengan jari tangan menjepitnya sedemikian rupa
sehingga dia tidak mampu lagi menggerakkan goloknya. Matanya masih tetap
terbelalak akan tetapi mulutnya mengeluarkan pekik menyeramkan dan segera
disusul menyemburnya darah segar ketika tangan kanan pemuda itu menepuk ulu
hatinya dan seketika robohlah Su Kak Liong dalam keadaan tak bernyawa lagi!
"Keparat...!
Kau berani membunuhnya? Rasakan pembalasanku!" Bok Sam yang tadi melihat
peristiwa ini menjadi marah bukan main.
Biar pun dia
maklum bahwa pemuda itu benar-benar lihai sekali, namun dia tidak menjadi
gentar. Kemarahannya membuat ia lupa diri dan dengan nekat dia menerjang maju,
tangan tunggalnya diangkat ke atas kepala dengan telapak tangan terbuka, dia
sudah mengerahkan tenaga Telapak Tangan Golok dan siap membacokkan tangannya ke
arah kepala pemuda itu.
Si Pemuda
tetap berdiri dan kini bahkan melongo memandang ke arah Milana yang mengamuk
dengan sabuk suteranya, sama sekali tidak mempedulikan makian dan serangan Si
Lengan Buntung yang kini menggunakan Ilmu Telapak Tangan Golok sekuatnya itu!
"Plakkk!"
ketika tangan kanan Bok Sam itu sudah dekat kepalanya, Si Pemuda tiba-tiba
mengangkat tangan kanannya ke atas, melindungi kepala dan menyambut pukulan itu
sehingga kedua telapak tangan mereka bertemu dan melekat!
Bok Sam
mengerahkan seluruh tenaganya, tenaga sinkang yang istimewa untuk ilmu Telapak
Tangan Golok-nya. Tetapi betapa pun ia menekan, tetap saja tangan pemuda itu
tidak dapat didorongnya, bahkan dia tidak dapat lagi melepaskan tangannya dari
telapak tangan Si Pemuda. Kemarahannya memuncak.
Pemuda
inilah yang telah membuntungi lengan kirinya, maka tadi dia marah sekali dan
telah mengerahkan seluruh tenaga untuk membalas dendam dan membunuhnya. Siapa
kira kini pukulannya yang istimewa disambut oleh pemuda itu seenaknya saja dan
dia tidak mampu menarik kembali tangannya. Dengan kemarahan meluap, Bok Sam
lalu menggunakan kepalanya. Untuk menggunakan tangan kiri, dia sudah tidak
mempunyai lengan kini, menggunakan kedua kaki, jarak mereka terlalu dekat
karena tangan mereka sudah saling melekat, maka satu-satunya yang dapat dia
pergunakan untuk menyerang musuh yang paling dibencinya ini adalah menggunakan
kepalanya! Dengan menunduk, dia lalu membenturkan kepalanya dengan sekuat
tenaga ke arah dada pemuda itu!
Pemuda itu
bukan lain adalah Wan Keng In, putera dari Ketua Pulau Neraka, murid yang amat
lihai dari Cui-beng Koai-ong, datuk pertama dari Pulau Neraka! Melihat serangan
kepala ini, Wan Keng In tetap tenang bahkan dia meloncat sedikit ke atas
sehingga kepala lawan tidak mengenai dada, melainkan mengenai perutnya.
"Cappp!"
Perut itu mengempis dan kepala itu menancap di perut sampai setengahnya, tak
dapat dicabut kembali.
Bok Sam
merasa betapa kepalanya nyeri bukan main, seolah-olah telah memasuki tempat
perapian, makin lama makin panas. Dia meronta-ronta akan tetapi karena tangan
kanannya sudah melekat dengan tangan pemuda itu, kepalanya sudah terjepit di
rongga perut, yang bergerak hanya pinggul dan kedua kakinya yang
menendang-nendang tanah!
"Manusia
tak tahu diri, mampuslah!" Pemuda itu menggumam sambil mengerahkan tenaga
mukjizat di rongga perutnya.
Terdengar
bunyi keras ketika kepala Bok Sam retak-retak oleh tekanan perut yang amat kuat
itu dan ketika Wan Keng In melontarkan tubuh Si Lengan Buntung dengan jalan
mengembungkan perutnya, tubuh itu telah menjadi mayat dengan kepalanya
retak-retak dan berwarna kehitaman!
Semua ini
dilakukan oleh Wan Keng In tanpa mengalihkan pandang matanya dari Milana yang
masih menghajar orang-orang Pulau Neraka dengan tali suteranya yang
meledak-ledak di udara seperti cambuk. Pandang matanya menjadi berseri, mulutnya
tersenyum ketika ia melangkah dengan tenang, menghampiri tempat pertempuran
itu, seolah-olah dia terpesona oleh gerak-gerik tubuh yang tinggi semampai dan
lemah gemulai itu, oleh wajah yang amat cantik manis, bahkan amukan Milana pada
saat itu menambah kejelitaan dalam pandang mata Wan Keng In ketika ia melangkah
terus makin dekat.
"Aduhai,
Nona yang cantik jelita seperti dewi kahyangan! Siapakah gerangan engkau?"
Para anak
buah Pulau Neraka yang terdesak hebat oleh rombongan Thian-liong-pang kini
menjadi girang bukan main ketika melihat munculnya Wan Keng In. Terdengar
seruan di antara mereka.
"Siauw-tocu
(Majikan Muda Pulau) telah datang!"
Ketika
mendengar seruan ini, Milana menengok dan kalau tadinya dia terheran mendengar
kata-kata yang dianggapnya menyenangkan akan tetapi juga kurang ajar itu, kini
dia kaget bukan main. Kiranya pemuda ini adalah Majikan Muda Pulau Neraka!
Teringat ia akan cerita Bun Beng kepadanya dan marahlah hatinya. Pemuda ini
yang telah merampas pedang Lam-mo-kiam dari tangan Bun Beng. Ketika ia
memandang, baru sekarang tampak olehnya bahwa Su Kak Liong dan Bok Sam telah
menggeletak menjadi mayat! Tahulah dia bahwa dua orang pembantunya yang paling
lihai itu telah tewas, dan melihat munculnya pemuda Pulau Neraka ini, mudah
diduga bahwa tentu mereka tewas di tangan pemuda ini.
Agaknya Wan
Keng In dapat menduga isi hati Milana ketika melihat dara jelita itu memandang
ke arah mayat kedua orang tokoh Thian-liong-pang dengan wajah berubah, maka dia
tertawa lalu berkata, "Ha-ha-ha, jangan kaget, Nona manis. Kedua orang itu
telah berani menyerangku, terpaksa aku bunuh mereka. Orang-orang macam itu
sungguh tidak patut menjadi pembantu-pembantumu. Nona, siapakah engkau? Heran
sekali di dunia ini bisa terdapat seorang dara secantik jelita engkau, dan
selama ini aku tidak pernah bertemu denganmu. Nona, baru sekali ini hatiku
tergetar hebat dengan seorang wanita. Aku yakin, engkaulah satu-satunya wanita yang
diciptakan di dunia ini, khusus untuk menjadi pasanganku!"
Bukan main
marahnya hati Milana. Tak dapat disangkal lagi, pemuda itu amat tampan menarik,
masih muda, sebaya dengannya, pakaiannya indah, kulit mukanya putih bersih,
matanya bersinar-sinar, pendeknya dia seorang pemuda yang tampan gagah sukar
dicari keduanya. Akan tetapi sinar matanya yang agak aneh itu mengandung
sesuatu yang mengerikan, sedangkan kata-kata dan sikapnya membuat Milana merasa
muak dan membangkitkan perasaan tidak senang yang mendekati kebencian.
"Jadi
engkau adalah bocah Pulau Neraka yang amat jahat itu? Engkaulah yang sudah
merampas pedang Lam-mo-kiam milik Gak Bun Beng?"
Wan Keng In
mengerutkan alisnya yang tebal hitam. "Eh, engkau mengenal Gak Bun Beng?
Dia sudah mati, bukan? Engkau siapa, Nona?"
"Siauw-tocu,
dia inilah puteri Ketua Thian-liong-pang. Dia lihai sekali," seorang
anggota Pulau Neraka tiba-tiba berkata sambil mencoba untuk bangkit. Tulang
kakinya pecah terkena cambukan tali sutera Milana tadi.
"Aihhhh,
kiranya puteri Ketua Thian-liong-pang? Pantas saja cantik jelita dan lihai.
Sungguh tepat kalau begitu. Engkau puteri Ketua Perkumpulan Thian-liong-pang
yang terkenal di seluruh dunia, aku pun putera Majikan Pulau Neraka yang tidak
kalah terkenalnya. Sungguh merupakan jodoh yang setimpal sekali!"
"Tutup
mulutmu yang kotor!" Milana memaki dan tangannya bergerak.
"Tar-tar!"
Ujung tali
sutera hitam melecut di udara dan menyambar ke arah kedua pelipis kepala Wan
Keng In dengan kecepatan kilat. Sekali ini, Milana bukan sekedar menggerakkan
senjata untuk menghajar, melainkan dia memberi serangan totokan yang merupakan
serangan maut.
Biasanya Wan
Keng In memandang rendah kepada semua orang. Akan tetapi begitu bertemu dengan
Milana, entah bagaimana, hatinya tertarik seperti besi tertarik oleh besi
sembrani. Belum pernah selama hidupnya dia tertarik oleh wanita seperti itu.
Dia bukan seorang mata keranjang sungguh pun dia biasa disanjung wanita dan
biasanya dia memandang rendah wanita-wanita cantik yang dianggapnya belum cukup
untuk duduk berdampingan dengannya! Sekali ini, begitu melihat Milana, dia
tergila-gila. Ketika dia menyaksikan gerakan ujung tali sutera, dia menjadi
makin gembira dan kagum. Gerakan ini bukanlah gerakan sembarangan dan sama
sekali tidak boleh dipandang ringan!
"Engkau
hebat, Nona!" Dia memuji akan tetapi cepat ia miringkan kepala untuk
menghindarkan totokan maut itu, kemudian tangannya cepat menyambar untuk
menangkap ujung tali sutera hitam.
"Cuiittt...
taaar!"
Lihai sekali
Milana bermain tali sutera yang digerakkan seperti pecut itu. Begitu totokannya
pada pelipis yang bertubi-tubi menyerang pelipis kanan-kiri itu tidak mengenai
sasaran, bahkan hampir dicengkeram oleh tangan Wan Keng In, dara itu telah
membuat gerakan dengan pergelangan tangannya dan ujung tali sutera itu sudah
melecut dan menotok ke arah jalan darah di pergelangan tangan yang hendak
menangkapnya!
"Trikkkk!"
"Engkau
memang hebat, Nona manis!" Keng In kembali memuji sambil tersenyum lebar.
Akan tetapi
Milana kini terkejut bukan main. Pemuda itu tadi telah menggunakan jari
telunjuknya untuk menyentik ujung tali suteranya yang menotok ke arah
pergelangan tangan. Gerakan itu demikian tepat mengenai ujung tali sutera
sehingga ujung tali terpental. Hanya orang yang telah memiliki ilmu kepandaian
tinggi saja yang dapat melakukan hal ini!

Namun, tentu
saja Milana tidak menjadi jeri. Dia tidak pernah mengenal takut dan dia pun
sudah percaya penuh akan kepandaian sendiri. Biar pun tak mungkin dia dapat mewarisi
seluruh ilmu kepandaian ibunya yang amat banyak itu, namun kiranya hanya
beberapa macam ilmu yang amat tinggi dan terlalu sukar saja yang belum
diajarkan ibunya kepadanya dan kalau hanya melawan musuh yang sebaya dengannya
saja, kiranya di dunia ini sukar ada yang akan dapat menandinginya.
"Jahanam
busuk, bersiaplah untuk mampus!" bentaknya dan kini terdengarlah
ledakan-ledakan nyaring ketika ujung tali sutera itu menari-nari di tengah
udara, membentuk lingkaran-lingkaran yang besar kecil saling telan, kemudian
lingkaran-lingkaran hitam itu berjatuhan ke bawah, susul-menyusul dalam
serangkaian serangan maut ke arah tubuh Wan Keng In dengan kecepatan kilat yang
menyilaukan mata karena lingkaran itu tidak lagi berupa sabuk atau tali sutera,
melainkan tampak seperti sinar hitam saja.
"Bagus
sekali...!" Wan Keng In kembali memuji dan tiba-tiba tubuhnya bergerak
lenyap, lalu tampak berkelebatan seperti bayangan setan menari-nari di antara
sinar hitam yang bergulung-gulung dan melingkar-lingkar!
Wan Keng In
tidak mau menggunakan pedangnya yang ampuh. Jika dia menggunakan pedang
Lam-mo-kiam, sekali sambar saja tentu akan putus tali sutera hitam itu. Akan
tetapi dia tidak mau melakukan hal ini, karena selain dia tidak mau menghina
Milana, juga dia ingin memamerkan kepandaiannya. Memang hebat sekali pemuda
ini. Gerakannya yang cepat itu hanya membuktikan bahwa ginkang-nya sudah
mencapai tingkat yang amat tinggi sehingga tubuhnya itu amat ringan dan amat
cepat, dapat mengelak dari setiap sambaran sinar tali sutera!
Menyaksikan
pertandingan yang amat hebat, luar biasa dan indah dipandang ini, otomatis
perkelahian-perkelahian antara rombongan Pulau Neraka dan rombongan
Thian-liong-pang terhenti. Mereka menonton karena maklum bahwa pertandingan
antara kedua orang muda putera dan puteri ketua masing-masing rombongan itu
merupakan pertandingan yang menentukan. Kalah menangnya pertandingan antara
kedua orang muda yang lihai bukan main itu berarti kalah menangnya pula perang
kecil antara kedua rombongan itu!
Gerakan tali
sutera itu makin hebat dan bukan lagi lingkaran-lingkaran yang dibentuk oleh
sinar hitam itu, melainkan bentuk-bentuk segi tiga, segi empat, bahkan ada
kalanya sinar itu membentuk segi delapan. Ujung sabuk itu menyerang dari
delapan penjuru, setiap gerakan merupakan totokan maut dan didasari tenaga
sinkang yang sangat kuat. Bukan hanya amat indahnya sinar hitam itu membentuk
segi tiga yang ajaib itu, juga gerakannya mengeluarkan bunyi bercuitan,
seolah-olah sinar hitam itu hidup!
Itulah
permainan tali sutera atau sabuk yang gerakannya berdasarkan Ilmu Silat
Pat-sian-sin-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa) warisan dari kitab-kitab pusaka
peninggalan Pendekar Wanita sakti Mutiara Hitam! Nirahai telah menciptakan ilmu
dengan tali sutera ini khusus untuk puterinya setelah dia memperoleh kenyataan
bahwa puterinya berbakat baik sekali dalam menggunakan sabuk atau tali sutera
halus dan lemas sebagai senjata yang ampuh.
Diam-diam
Wan Keng In terkejut dan makin kagum. Dia maklum bahwa kalau dia menghadapi
permainan tali sutera lawan yang amat lihai ini dengan tangan kosong saja,
lama-lama dia terancam bahaya maut. Ternyata tingkat kepandaian puteri Ketua
Thian-liong-pang ini benar-benar mengejutkan hatinya. Kalau dia berpedang,
agaknya dia masih akan dapat keluar sebagai pemenang dengan membabat putus tali
itu. Akan tetapi, kalau dia menggunakan pedang dan terpaksa merusak tali sutera
itu, tentu dara yang menjatuhkan hatinya itu akan tersinggung dan marah.
Sebaliknya kalau hendak menaklukkan dara ini dengan tangan kosong, benar-benar
merupakan hal yang amat sulit, betapa pun tinggi ilmu kepandaiannya.
Dia harus
menggunakan akal dan hal ini merupakan kelebihan dalam kepala Wan Keng In
dibandingkan dengan orang-orang muda lainnya. Pemuda ini cerdik bukan main,
pandai menggunakan siasat-siasat yang tak terduga-duga dalam keadaan darurat
seperti saat itu.
Ketika ujung
sabuk atau tali hitam itu untuk kesekian kalinya menotok ke arah jalan darah
Kin-ceng-hiat di pundak kiri, tempat yang tidak begitu berbahaya dan yang dapat
ia tutup dengan hawa sinkang, dia sengaja berlaku lambat dan ujung tali sutera
itu dengan tepat menotok pundaknya yang sudah ia tutup jalan darahnya dan
terlindung oleh sinkang yang kuat.
"Prattt!"
Tepat pada
saat ujung tali sutera itu menotok pundak, tangan kanan Wan Keng In menyambar
dan ia berhasil menangkap ujung tali sutera hitam! Milana terkejut bukan main.
Tadinya dia sudah merasa girang karena totokannya berhasil, namun alangkah
kagetnya ketika ia melihat bahwa pemuda itu sama sekali tidak menjadi lumpuh,
bahkan telah berhasil menangkap ujung tali suteranya! Namun, Milana tidak menjadi
panik.
Dia kerahkan
sinkang-nya, mainkan pergelangan tangannya dan dengan penyaluran tenaga sinkang
dia menggerakkan tali suteranya dan... tubuh Wan Keng In terbawa oleh
meluncurnya tali sutera itu ke udara! Milana terus menggerakkan tali suteranya,
memutar tali itu ke atas, makin lama makin cepat sehingga tubuh Wan Keng In
yang masih berada di ujung tali karena pemuda itu tidak mau melepaskan ujung
tali sutera, terbawa pula terputar-putar!
Para anak
buah rombongan kedua pihak yang menjadi penonton dengan hati diliputi penuh
ketegangan itu menonton dengan mata terbelalak. Demikian tegang rasa hati
mereka itu menahan napas ketika menyaksikan pertendingan mati-matian yang
kelihatannya seperti main-main atau permainan akrobat yang dilakukan oleh dua
orang muda-mudi yang elok dan tampan!
Wan Keng In
sengaja membiarkan dirinya terbawa oleh tali yang diputar-putar itu. Kalau dia
mau, tentu saja dia dapat mengerahkan sinkang dan mengadu kekuatan dengan dara
itu memperebutkan tali sutera. Namun hal ini tentu akan mengakibatkan tali itu
putus, hal yang tidak dia kehendaki karena putusnya tali itu bukan berarti
bahwa dia telah menang, akan tetapi yang jelas gadis itu tentu akan marah dan
benci kepadanya. Tidak, dia tidak menggunakan akal itu, melainkan hendak menggunakan
akal lain.
Kalau dia
dapat merayap melalui tali, makin lama makin dekat, tentu akhirnya dia akan
berhadapan dengan dara jelita itu dan kalau sudah begitu, mudahlah baginya
untuk membuat dara itu tidak berdaya tanpa melukainya. Dengan hati-hati dan
perlahan, mulailah Wan Keng In merayap melalui tali yang panjang itu, sedikit
demi sedikit, bergantung dengan mengganti-ganti tangan sambil tubuhnya masih
terputar-putar cepat sekali sehingga dalam pandangan orang lain, tubuhnya
berubah menjadi banyak sekali!
Mungkin bagi
penonton lain tidak ada yang tahu akan usaha Wan Keng In mendekati lawan dengan
cara merayap perlahan-lahan melalui tali sutera yang panjang itu, akan tetapi
Milana dapat melihat atau lebih tepat lagi dapat merasakan gerakan lawan yang
berada di ujung tali sutera itu. Dara ini tidak bodoh, dan maklum bahwa kalau
sampai pemuda itu dapat mendekatinya, belum tentu dia akan dapat menandingi
pemuda yang memiliki kepandaian luar biasa itu.
Maka begitu
melihat pemuda itu perlahan-lahan merayap mendekat, diam-diam Milana
menggerakkan tangan kirinya dan hanya memutar tali itu dengan tangan kanan
saja. Tangan kirinya menyusup ke dalam kantung jarumnya, kemudian tampak tiga
kali dia menggerakkan tangan kirinya ke depan. Gerakan tangan yang tidak begitu
tampak, karena sambitan jarum-jarumnya itu ia lakukan dengan pergelangan tangan
dan jari-jari tangan. Namun, tiga kali tampak sinar halus menyambar ke arah
tubuh Wan Keng In yang terbawa tali berputaran, sinar kemerahan halus dari
jarum-jarum Siang-tok-ciam (Jarum Racun Wangi)!
"Celaka...!"
Wan Keng In berseru kaget ketika melihat menyambarnya sinar halus dan mencium
bau harum. Tahulah dia bahwa dia yang sedang diputar-putar seperti kitiran itu
kini diserang dengan senjata-senjata rahasia yang amat halus dan mengandung
racun yang baunya harum pula!
Namun selain
telah mempelajari ilmu-ilmu tingkat tinggi dari ibunya, Wan Keng In juga sudah
menerima gemblengan dari Cui-beng Koai-ong yang sakti, maka walau pun
keadaannya itu amat berbahaya, namun dia masih bersikap tenang dan tiba-tiba
tubuhnya yang berada di ujung tali sutera itu membuat gerakan berputar pula!
Hebat bukan main pemandangan di waktu itu. Tubuh di ujung tali sutera itu
berputaran, sedangkan tali itu sendiri berputar cepat. Dengan gerakan berputaran
ini, Wan Keng In dapat menyelamatkan diri dan mengelak dari sambaran
jarum-jarum Siang-tok-ciam. Namun dia juga telah menemukan akal baru yang luar
biasa dan cerdik sekali.
Dengan
pengukuran tenaga yang tepat, Wan Keng In dapat mengerahkan sinkang-nya dan
memberatkan tubuhnya sehingga tiba-tiba tali sutera yang berputar itu tak dapat
dikuasai lagi oleh kedua tangan Milana dan berputar melibat tubuh dara itu.
"Aihhhhh...!"
Milana menjerit kaget, sadar setelah terlambat karena tali yang berputar cepat
itu sekarang telah membuat beberapa putaran mengelilinginya dan karena tali
menurun akibat beratnya tubuh Wan Keng In, maka tali itu membelit-belit
tubuhnya, menelikung kedua lengannya sendiri!
Terdengar
suara Wan Keng In tertawa-tawa sambil terus membuat gerakan mengayun sehingga
tali itu biar pun tidak lagi dipegang oleh Milana, masih terus berputar melibat
tubuh Milana yang berusaha meronta-ronta.
"Ha-ha-ha,
Nona manis. Bukankah dengan begini berarti engkau telah tertawan olehku seperti
tertawannya hatiku olehmu?"
"Krakkkkkkk!"
Tiba-tiba terdengar bunyi keras. dan dari dalam lubang kuburan tampak bayangan
berkelebat, didahului sinar kilat menyambar ke arah tali sutera.
"Bretttt!"
Tali sutera itu putus dan tubuh Wan Keng In yang masih terayun di ujung tali,
tentu saja terpelanting. Untunglah pemuda itu masih mampu berjungkir balik
sehingga tidak terbanting ke atas tanah.
Milana
mempergunakan kesempatan baik itu untuk melepaskan diri. Ketika dia melihat
bahwa yang muncul adalah seorang wanita muda yang cantik, segera dia mengenal
wanita itu sebagai gadis yang pernah mengacau Thian-liong-pang ketika di rumah
penginapan. Dia menjadi terkejut dan khawatir sekali, maka menggunakan
kesempatan selagi gadis itu berhadapan dengan Wan Keng In, dia memberi isyarat
kepada anak buahnya dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Anak buahnya
pergi sambil membawa jenazah-jenazah para kawan yang menjadi korban. Rombongan
Pulau Neraka tidak mencegah mereka melarikan diri karena merasa jeri terhadap
Milana, apa lagi kini tuan muda mereka sedang menghadapi lawan baru berupa dara
perkasa yang galak, murid dari datuk mereka yang selama sepekan ini berlatih di
dalam tanah kuburan bersama datuk mereka, Bu-tek Siauw-jin! Mereka menjadi
bingung dan tidak berani turut campur, memandang dengan hati penuh ketegangan.
"Keparat,
siapa engkau...? Ehhh, kiranya kau, bocah setan dari Pulau Es? Ha-ha-ha, kukira
siapa! Dan Li-mo-kiam masih berada di tanganmu? Bagus...! Kau harus berikan
Li-mo-kiam kepadaku, agar dapat kuhadiahkan kepada calon isteri... haiiii! Ke
mana dia...?" Wan Keng In menoleh dan ketika dia melihat Milana sudah
tidak berada di situ lagi, dia menjadi bengong dan mencari ke sana-sini dengan
pandang matanya.
"Siauw-tocu,
mereka telah pergi...!" kata seorang di antara anak buahnya.
"Tolol!
Goblok kalian semua! Mengapa kalian bolehkan pergi? Hayo kita..." belum
habis ucapannya, Wan Keng In terkejut sekali dan terpaksa dia melempar tubuh
terjengkang ke belakang untuk menghindarkan sinar kilat yang menyambar
tubuhnya. Kiranya Kwi Hong telah menyerang dengan menusukkan Li-mo-kiam ke arah
dadanya. Gerakan gadis ini cepat sekali sehingga hampir saja dia menjadi
korban. Marahlah Wan Keng In.
"Kau berani
melawan aku? Hemm, apa yang kau andalkan? Pedang itu? Baik, kita lihat siapa
yang lebih unggul antara murid Pulau Neraka dan murid Pulau Es!"
Setelah
berkata demikian, Wan Keng In menggerakkan tangan kanannya, meraba punggung di
balik jubah. Ketika tangannya diangkat, tampak sinar kilat dan Lam-mo-kiam
sudah berada di tangannya!
Kwi Hong
amat membenci pemuda ini. Kemarahannya memuncak ketika dia melihat Lam-mo-kiam
di tangan pemuda itu. Dia tahu bahwa itu adalah pedang Gak Bun Beng yang
dirampas oleh Keng In. Semenjak dia masih belum dewasa, bocah Pulau Neraka ini
sudah menjadi musuhnya.
"Keparat
jahanam! Manusia tidak kenal malu! Pedang curian kau pamerkan di sini. Bukan
aku yang harus menyerahkan Li-mo-kiam kepadamu, melainkan engkau yang harus memberikan
Lam-mo-kiam itu kepadaku sebelum lehermu putus!"
"Singgggg...!"
sinar kilat di tangan Kwi Hong menyambar ke depan, disambut sinar kilat yang
sama di tangan Wan Keng In.
"Wuuuuiiiitttt!"
Dua orang
itu terkejut bukan main karena pedang mereka tertolak ke belakang sebelum
bertemu! Seolah-olah dari sepasang pedang itu timbul hawa yang ajaib yang
membuat kedua pedang tidak dapat saling sentuh, melainkan terdorong membalik
oleh tenaga mukjizat tadi!
Namun Kwi
Hong tidak mempedulikan hal ini dan cepat dia menyerang lagi. Terjadilah perang
tanding yang amat hebat, lebih menegangkan dari pada pertandingan antara Wan
Keng In dan Milana tadi, karena kini kedua orang muda itu mempergunakan
sepasang pedang yang membuat para penonton merasa tubuhnya panas dingin. Baru
sinar dan hawa pedang itu telah membuat mereka yang berada di situ meremang
semua bulu di badan dan mengkirik. Hal ini tidaklah mengherankan karena kini
yang mengeluarkan sinar adalah Sepasang Pedang Iblis yang memiliki hawa
mukjizat seolah-olah dikendalikan oleh roh-roh dan iblis-iblis yang haus darah!
Memang hebat
sekali pertandingan antara kedua orang muda itu. Hebat, menyilaukan mata dan
amat aneh sehingga menyeramkan para penonton. Betapa tidak aneh kalau kedua
orang itu bergerak cepat sehingga bayangan mereka tertutup gulungan dua sinar
pedang yang seperti kilat berkelebatan, akan tetapi sama sekali tidak pernah
terdengar suara beradunya senjata? Seolah-olah tidak pernah ada yang menangkis,
padahal kedua orang itu mainkan pedang secara dahsyat dan ada kalanya untuk
menyelamatkan diri, jalan satu-satunya hanya menangkis. Akan tetapi, begitu
seorang di antara mereka menggerakkan pedang menangkis, serangan lawan terhalau
oleh tangkisan tanpa kedua pedang itu saling bersentuhan karena keduanya tentu
terpental oleh tenaga mukjizat. Seolah-olah Sepasang Pedang Iblis itu keduanya
saling tidak mau bersentuhan.
Sebetulnya,
kalau ditilik dasarnya, ilmu silat kedua orang muda ini masih satu sumber. Wan Keng
In adalah putera dari Lulu yang sejak kecil menerima gemblengan ilmu dari
ibunya ini. Lulu adalah adik angkat Pendekar Super Sakti dan biar pun kemudian
Lulu menjadi murid Nenek Maya, namun sumber dari ilmu silatnya masih tetap
sama, yaitu yang berasal dari Pulau Es, berasal dari Bu Kek Siansu. Tentu saja
karena tingkat kepandaian Pendekar Super Sakti jauh lebih tinggi dari pada
tingkat kepandaian Lulu, apa yang diajarkan kepada Kwi Hong sebenarnya bermutu
lebih tinggi pula dari pada pelajaran yang diterima Wan Keng In dari ibunya.
Akan tetapi,
setelah Keng In digembleng oleh kakek sakti yang tidak seperti manusia,
Cui-beng Koai-ong, kepandaian pemuda itu meningkat secara tidak lumrah sehingga
tingkatnya kini bahkan sudah melampaui tingkat kepandaian ibunya sendiri!
Keng In
merasa penasaran sekali. Kalau saja tidak mengingat bahwa gadis ini adalah
murid Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, tentu dia
sudah mengeluarkan ilmu-ilmu-nya yang mukjizat, yang ia dapatkan dari gurunya.
Akan tetapi dia tak mau membunuh Kwi Hong. Dia ingin menawannya untuk
menunjukkan kepada Majikan Pulau Es yang dibencinya, orang yang telah membikin
sengsara hati ibu kandungnya, bahwa dia tidak takut menghadapi Pulau Es, dan
dia bahkan ingin mempergunakan nona ini untuk memancing datangnya Pendekar
Siluman untuk bertanding!
Tiba-tiba
Wan Keng In mengeluarkan suara gerengan yang tidak lumrah manusia. Gerengan
yang keluar dari pusarnya, melalui kerongkongan dan mengeluarkan getaran yang
seolah-olah membuat bumi tergetar! Kwi Hong sendiri menjadi pucat wajahnya dan
biar pun dia telah mengerahkan sinkang, tetap saja jantungnya tergetar dan
gerakannya tidak tetap. Pada saat itu, ilmu pedang yang dimainkan oleh Keng In
telah berubah aneh dan ganas bukan main.
Kwi Hong
merasa gentar, jantungnya berdebar dan melihat pemuda itu menggerakkan
pedangnya, ia menjadi pening, seolah-olah ia melihat lawannya menjadi tinggi
besar dan menakutkan, gerakannya menjadi luar biasa cepat dan kuatnya! Kalau
saja dia tidak sedikit-sedikit memetik gerakan kilat gurunya, tentu saja sudah
kena dicengkeram oleh tangan kiri Keng In yang menyelingi gerakan pedangnya!
"Hyaaahhh!"
tiba-tiba Keng In membentak, tubuhnya secara mendadak bergulingan dan pedangnya
membabat secara bertubi-tubi ke arah kedua kaki Kwi Hong. Dara ini cepat
meloncat-loncat dan menjauhkan diri, akan tetapi tiba-tiba lawannya bangkit dan
memukul dengan tangan kiri terbuka. Serangkum dorongan telapak tangan ini
menyambar ke arah dada Kwi Hong.
"Aihhhhh!"
Dara ini cepat melakukan gerak mendorong yang sama, dengan tangan kirinya,
didorongkan ke arah tangan lawan sambil mengerahkan tenaga Inti Es yang
dilatihnya di Pulau Es.
"Wesss...!"
Dua tenaga
raksasa bertemu di udara, di antara kedua telapak tangan yang terpisah berjarak
dua kaki saja. Tenaga panas bertemu dengan dingin dan akibatnya Kwi Hong
terjengkang ke belakang oleh karena pada saat tenaga itu bertemu, kembali Keng
In mengeluarkan gerengan yang menggetarkan jantung itu. Sebelum Kwi Hong sempat
meloncat, Keng In sudah menotok punggungnya dan begitu lengan Kwi Hong lemas,
cepat pedang Li-mo-kiam telah dirampasnya!
Walau pun
tubuhnya sudah menjadi lemah dan lumpuh, Kwi Hong masih mampu menggunakan
mulutnya untuk memaki-maki, "Pengecut! Curang engkau! Tidak tahu malu!
Pencuri busuk, hayo kembalikan pedangku dan kita bertanding secara bersih! Kau
menggunakan ilmu siluman, keparat busuk!"
"Ikat
dia dan bungkam mulutnya!" Keng In berkata sambil membelakangi Kwi Hong,
menyimpan Li-mo-kiam yang disatukan dengan Lam-mo-kiam, disembunyikan di balik
jubahnya. Dia berdiri dengan sikap sombong, menengok ke kanan kiri, tersenyum
mengejek sambil berkata, mengerahkan khikang-nya sehingga suaranya terdengar
sampai jauh.
"Haiiiiii!
Pendekar Siluman Si Kaki Buntung! Lihat, muridmu telah kutawan! Kalau kau
memang seorang gagah, datanglah dan bebaskan muridmu!"
Wajah para
anak buah Pulau Neraka menjadi pucat mendengar tantangan yang keluar dari mulut
Majikan Muda itu! Betapa pun lihainya Tuan Muda mereka itu, namun tidak
selayaknya menantang Pendekar Siluman seperti itu! Baru mendengar nama Pendekar
Siluman saja, wajah mereka sudah menjadi pucat, apa lagi ditantang oleh majikan
mereka!
"Kau
berani membuka mulut besar karena kau tahu bahwa Pamanku tidak berada di sini!
Kalau Pamanku berada di sini, tentu engkau tak berani bernapas! Jangankan
dengan Paman, dengan aku pun kalau engkau tidak berlaku curang, menggunakan
ilmu siluman, engkau takkan mampu menang. Pengecut busuk, manusia keparat tak
tahu malu!"
"Cepat
bungkam mulutnya!" Keng In membentak tanpa menoleh.
Seorang
wanita anggota Pulau Neraka yang bermuka biru muda cepat menggunakan sehelai
sapu tangan untuk menutup mulut Kwi Hong, diikatkan ke belakang leher, kemudian
dia melanjutkan pekerjaan mengikat tangan Kwi Hong yang dibelenggu dan
ditelikung ke belakang punggungnya. Dara itu dalam keadaan setengah lumpuh, tak
dapat meronta, hanya membelalakkan mata memandang ke arah punggung Keng In
dengan penuh kebencian dan kemarahan.
"Cepat
persiapkan orang-orang mengejar rombongan Thian-liong-pang! Puteri Ketua
Thian-liong-pang itu harus dapat kutaklukkan!" berkata Wan Keng In kepada
orang-orangnya.
"Bagaimana
dengan nona ini, Siauw-tocu...?" Wanita itu bertanya, matanya penuh
ketakutan memandang ke arah lubang kuburan ke arah peti yang masih tertutup
tanah, peti tempat datuk Pulau Neraka berlatih!
"Bawa
dia sebagai tawanan, kalau dia banyak rewel, seret dia! Jangan perbolehkan
gadis galak ini banyak tingkah!"
"Siauw-tocu...
akan tetapi... dia... dia..."
"Banyak
rewel kau!" Wan Keng In membentak, akan tetapi matanya terbelalak kaget
melihat wanita yang tadi bicara dan membelenggu serta membungkam mulut Kwi Hong
telah roboh terlentang dengan mata mendelik dan nyawa putus! Dan dia melihat
Kwi Hong duduk bersila dengan mata dipejamkan dan alis berkerut, seperti orang
yang sedang memperhatikan sesuatu.
Memang pada
saat itu Kwi Hong sedang mendengarkan suara yang berbisik-bisik di dekat telinganya,
suara gurunya, Bu-tek Siauw-jin seolah-olah bicara di dekatnya akan tetapi yang
sama sekali tidak berada di situ. Ketika tadi dia melihat wanita Pulau Neraka
itu tiba-tiba roboh terjengkang dan mendengar suara itu, tahulah ia bahwa
gurunya telah turun tangan!
"Bocah
tolol, mana patut menjadi muridku kalau tertotok dan terbelenggu seperti itu
saja tidak mampu melepaskan diri? Apa kau sudah lupa akan latihan membangkitkan
kekuatan secara otomatis dengan mengandalkan tenaga Inti Bumi yang baru saja kau
dapatkan dan yang menjadi dasar dari semua tenaga yang ada?"
Kwi Hong
memejamkan mata dan mengerahkan semua perhatian akan petunjuk gurunya yang
diberikan lewat bisikan-bisikan itu. Dia mentaati petunjuk itu dan... tiba-tiba
darahnya mengalir kembali dan totokan itu tertembus oleh hawa Inti Bumi dari
dalam! Setelah totokan terbebas, sekali mengerahkan tenaga belenggunya yang
hanya terbuat dari tali itu putus semua dan sekali renggut dia telah melepaskan
sapu tangan yang menutupi mulutnya, kemudian meloncat berdiri!
Wan Keng In
memandang dengan mata terbelalak. Totokannya adalah totokan yang tidak lumrah,
bukan totokan biasa melainkan totokan yang ia latih dari gurunya. Menurut
gurunya, tidak ada orang di dunia ini yang akan dapat memulihkan orang yang terkena
totokannya karena totokan itu mengandung rahasia tersendiri. Bahkan menurut
gurunya, Pendekar Siluman sendiri pun belum tentu mampu membebaskan orang yang
tertotok olehnya.
Bagaimana
sekarang gadis itu, tanpa bantuan, sanggup membebaskan? Kalau hanya memutuskan
belenggu itu, dia tidak merasa heran, akan tetapi dapat membebaskan diri dari
totokannya, benar-benar membuat dia menjadi ngeri! Tentu ada yang memberi
petunjuk! Otomatis dia menoleh ke kanan kiri dan hatinya menjadi kecut.
Jangan-jangan Pendekar Siluman yang ditantangnya telah berada di sekitar situ
dan memberi petunjuk kepada gadis itu lewat bisikan yang dikirim melalui tenaga
khikang!
"Pendekar
Siluman! Kalau kau sudah datang, mari kita bertanding sampai selaksa
jurus!" Dia menantang sambil meraba gagang pedang di balik jubah.
"Tutup
mulutmu yang sombong! Aku masih sanggup melawanmu!" bentak Kwi Hong dan
tiba-tiba dia menubruk maju, memukul dengan dorongan kedua tangannya ke arah
dada dan pusar. Pukulan yang hebat karena kalau tangan kirinya dia menggunakan
tenaga Swat-im Sin-ciang yang dingin, tangan kanannya yang menghantam ke pusar
dia isi dengan saluran tenaga Hwi-yang Sin-ciang yang panas.
Melihat ini
Keng In meloncat ke belakang, akan tetapi tiba-tiba Kwi Hong yang kedua
pukulannya luput itu telah jatuh ke atas tanah dengan terbalik, kemudian tanpa
disangka-sangka kedua kakinya menendang ke belakang dan tepat mengenai paha dan
perut Keng In. Tenaga tendangan model sepak kuda ini bukan main kuatnya
sehingga biar pun Keng In sudah mengerahkan sinkang, tetap saja terlempar sampai
lima meter jauhnya!
"Berhasil...!"
Kwi Hong bersorak sambil meloncat bangun.
Akan tetapi
ia segera kecewa karena mendengar bisikan gurunya mengomel. "Apa artinya
kalau hanya mampu membuat dia terlempar? Hayo lawan terus, pergunakan Tenaga
Inti Bumi!"
Kwi Hong
melihat bahwa Keng In sudah meloncat turun dan biar pun sepasang mata pemuda
itu terbelalak penuh keheranan terhadap ilmu tendangan yang aneh dan tidak
patut itu, dia tidak terluka dan mukanya yang tampan membayangkan kemarahan.
"Engkau
sudah bosan hidup!" bentaknya dan tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat ke
depan dan tampak sinar kilat berkelebat ketika tangannya mencabut keluar
Li-mo-kiam. Sekali ini dia benar-benar mengambil keputusan untuk membunuh gadis
itu dengan pedang gadis itu sendiri yang tadi dirampasnya.
"Aahhh...!"
Tiba-tiba Keng In berdiri tak bergerak, pedang yang diangkat ke atas kepala itu
tidak jadi dilanjutkan gerak serangannya dan dia memandang ke depan dengan muka
pucat.
Di depannya
telah berdiri Bu-tek Siauw-jin, Si Kakek Pendek yang tahu-tahu telah berada di
depan pemuda itu dengan lengan kiri dilonjorkan, tangan terlentang terbuka
seperti orang minta-minta. "Kembalikan pedang muridku itu!"
Sejenak Keng
In terbelalak bingung, masih belum dapat menerima ucapan itu. Gadis itu murid
susiok-nya? Teringat ia akan anggota Pulau Neraka yang tewas secara aneh. Kini
mengertilah dia. Tentu Bu-tek Siauw-jin inilah yang telah membunuh wanita yang
membelenggu Kwi Hong, dan kakek ini pula yang membuat gadis itu tadi mampu
membebaskan diri dari pada totokannya!
Keng In
adalah seorang pemuda yang tidak mengenal takut, akan tetapi menghadapi paman
gurunya ini yang bahkan disegani oleh Cui-beng Koai-ong sendiri, dia tidak
berani melawan. Hanya keraguannyalah yang membuat dia masih belum menyerahkan
pedang yang diminta itu.
"Akan
tetapi... Susiok..."
"Masih
berani membantah dan tidak berikan pedang itu kepadaku?"
Cepat dan
gugup Keng In menyerahkan pedang itu yang diterima oleh Bu-tek Siauw-jin dan
dilemparkannya pedang itu kepada muridnya. Kwi Hong menyambut pedang itu dengan
hati girang sekali.
"Maaf,
Susiok. Teecu tidak tahu bahwa dia murid Susiok..."
"Hemmm,
sekarang sudah tahu!"
"Tapi...
dia adalah keponakan dan murid Pendekar Siluman!"
"Ha-ha-ha-ha-ha-heh-heh!
Dan engkau sendiri siapa, anak siapa? Heh-heh, setidaknya Pendekar Siluman
adalah Majikan yang tulen dari Pulau Es!"
Mendengar
ucapan ini, wajah Keng In menjadi merah sekali. Dia merasa terhina dan marah,
akan tetapi terpaksa dia menahan kemarahannya. Dengan ucapan itu, paman gurunya
yang ugal-ugalan itu hendak mengingatkan bahwa dia hanyalah putera dari seorang
Majikan atau Ketua Boneka dari Pulau Neraka! Sama saja dengan mengatakan bahwa
paman gurunya itu masih lebih baik dari pada gurunya dalam hal menerima murid
dan bahwa keponakannya atau murid dari Majikan Pulau Es masih lebih baik dari
pada putera dari Ketua Boneka Pulau Neraka!
"Susiok...!"
"Kau
mau apa?"
"Teecu
tidak apa-apa, akan tetapi teecu akan menceritakan kepada Suhu tentang keanehan
ini."
"Hemmm,
kalau engkau mengira akan dapat mempergunakan Gurumu sebagai perisai maka
engkau adalah seorang pengecut dan seorang yang bodoh!"
"Teecu
tidak bermaksud mengadu... hanya... teecu rasa Susiok telah salah menerima
murid..."
"Desssss!"
Tiba-tiba tubuh Keng In terpental sampai beberapa meter jauhnya. Tidak tampak
kakek pendek itu menyerang, akan tetapi tahu-tahu pemuda itu terlempar! Keng In
cepat meloncat berdiri lagi, diam-diam dia terkejut akan tetapi juga lega bahwa
susiok-nya yang aneh itu tidak melukainya.
"Kau
berani memberi kuliah kepadaku tentang bagaimana mengambil murid?" Bu-tek
Siauw-jin membentak.
"Maaf,
teecu mohon diri...!"
"Pergilah!
Dan ingat, kelak muridku ini yang akan menandingimu!"
Keng In
menjura dan meloncat pergi, loncatannya jauh sekali seperti terbang sehingga
mengagumkan hati Kwi Hong. Lebih terkejut lagi gadis ini ketika mendengar suara
bisikan yang halus dan jelas dari jauh, suara pemuda itu.
"Kita
sama lihat saja apakah perempuan bodoh ini akan dapat menandingiku!"
Bu-tek
Siauw-jin mengerutkan alisnya dan menoleh kepada para anak buah Pulau Neraka
yang kini sudah menjatuhkan diri berlutut semua. "Lekas kalian pergi dari
sini, tinggalkan mayat-mayat itu biar dimakan burung gagak!"
Anak buah
Pulau Neraka itu menjura, kemudian bangkit dan pergi tanpa mengeluarkan
kata-kata lagi. Bu-tek Siauw-jin lalu berkata kepada muridnya, suaranya singkat
dan ketus, berbeda dengan biasanya yang suka berkelakar. "Mari kita
pergi!"
Kwi Hong
menurut dan berjalan mengikuti kakek pendek itu keluar dari tanah kuburan,
menuruni bukit kecil. Akan tetapi akhirnya dia tidak kuat menahan penasaran
hatinya dan berkata, "Suhu, bagaimana engkau bersikap begitu kejam,
membiarkan mayat anak buahmu terlantar di sana dan dimakan gagak?"
Mulut kakek
itu tidak kelihatan bergerak, akan tetapi terdengar suara ketawanya,
seolah-olah suara itu keluar dari perut melalui lubang lain, bukan mulut!
"Heh-heh-heh!
Engkau merasa kasihan kepada mayat yang tidak bernyawa lagi, akan tetapi tidak
kasihan kepada burung-burung gagak yang kelaparan!"
Kwi Hong
terbelalak. "Suhu! Biar pun sudah menjadi mayat yang tak bernyawa, akan
tetapi itu adalah mayat-mayat manusia! Teecu tidak biasa bersikap kejam, sejak
kecil diajar supaya berperi kemanusiaan oleh paman atau guru teecu!"
Tiba-tiba
Bu-tek Siauw-jin menghentikan langkahnya dan memandang muridnya dengan mata
lebar dan mulut menyeringai, kemudian dia tertawa bergelak, "Ha-ha-ha-ha!
Semenjak kecil, manusia diajar segala macam kebaikan! Manusia mana yang sejak
kecilnya tidak diajar dan dijejali segala macam pelajaran tentang kebaikan oleh
ayah bunda atau guru-gurunya? Agama bermunculan dengan para pendetanya.
Ahli-ahli kebatinan bermunculan saling bersaing, mereka semua berlomba untuk menjejalkan
pelajaran tentang kebaikan kepada manusia-manusia, semenjak manusia masih kecil
sampai menjadi kakek-kakek. Akan tetapi, adakah seorang saja manusia yang baik
di dunia ini? Setiap orang manusia, menurut ajaran agama masing-masing,
berlomba keras dalam teriakan anjuran agar mencinta sesama manusia, namun di
dalam hati masing-masing menanam dan memupuk perasaan saling benci, bahkan yang
pertama-tama adalah membenci saingan masing-masing dalam menganjurkan cinta
kasih antar manusia! Gilakah ini? Atau aku yang gila? Ha-ha-ha! Muridku, kalau
engkau melakukan kebaikan karena ajaran-ajaran itu, bukanlah kebaikan sejati
namanya, melainkan melaksanakan perintah ajaran itu! Engkau ini manusia ataukah
boneka yang hanya bergerak dalam hidup menurut ajaran-ajaran yang membusuk dan
melapuk dalam gudang ingatanmu?"
"Engkau
sendiri dalam pertandingan dengan enak saja membunuh manusia lain, sama sekali
tak merasa akan kekejaman perbuatanmu, tetapi baru melihat aku meninggalkan
mayat agar membikin kenyang perut gagak yang kelaparan, kau katakan kejam!
Ha-ha-ha, muridku. Pelajaran pertama bagi manusia umumnya, termasuk aku, adalah
mengenal wajah sendiri yang cantik, akan tetapi juga mengenal isi hati dan
pikiran kita sendiri yang busuk, jangan hanya mengagumi lekuk lengkung tubuh
sendiri yang menggairahkan akan tetapi juga mengenal isi perut yang tidak
menggairahkan!"
Kwi Hong
memandang gurunya dengan sinar mata bingung. Gurunya ini bukan manusia lumrah,
bukan orang waras. Tentu agak miring otaknya. Sekali bicara tentang hidup,
kacau balau tidak karuan. Maka dia diam saja, kemudian melanjutkan langkah
kakinya ketika melihat gurunya sudah berjalan kembali dengan langkah pendek.
"Kau
tentu tidak dapat menangkan Keng In sebelum engkau mahir betul menggunakan Ilmu
Menghimpun Tenaga Inti Bumi. Bocah itu telah berhasil mewarisi kepandaian
Suheng. Lihat saja warna mukanya tadi!"
Kwi Hong
cemberut, dalam hatinya dia tidak senang dikatakan bahwa dia tidak akan menang
menghadapi Keng In. Kini mendengar disebutnya warna muka muda itu dia
mengingat-ingat. "Warna mukanya biasa saja. Mengapa, Suhu?"
"Justru
yang biasa itulah yang luar biasa!" Gurunya menjawab dan berjalan terus.
Kwi Hong
menoleh, terbelalak tidak mengerti. "Eh, apa maksudmu, Suhu?"
"Begitu
bodohkah engkau? Semua murid Pulau Neraka memiliki wajah yang berwarna, apakah
engkau lupa? Bahkan Ketua Boneka, ibu bocah itu sendiri, mukanya berwarna putih
seperti kapur! Itulah tanda orang yang memiliki tingkat tertinggi Pulau Neraka
yang menjadi akibat himpunan sinkang yang mengandung hawa beracun pulau itu!
Bahkan mendiang Sute Ngo Bouw Ek pun mukanya masih berwarna kuning, berarti
bahwa ibu bocah itu masih setingkat lebih tinggi dari padanya. Hanya aku dan
Suheng Cui-beng Koai-ong saja yang tidak terikat oleh warna muka, bisa mengubah
warna muka sesuka hati kami berdua. Hal itu menandakan bahwa kami berdua adalah
dapat mengatasi pengaruh hawa beracun Pulau Neraka, dan tingkat kami sudah
lebih tinggi. Kalau sekarang Wan Keng In sudah menjadi biasa warna kulit
mukanya, hal itu berarti bahwa dia pun sudah terbebas dari pengaruh hawa
beracun, berarti tingkatnya sudah lebih tinggi dari tingkat ibunya
sendiri!"
"Wah,
hebat sekali kalau begitu!" Diam-diam Kwi Hong bergidik. Kalau benar-benar
pemuda itu tingkatnya sudah melampaui tingkat kepandaian Majikan Pulau Neraka,
benar-benar merupakan lawan yang berat! "Teecu menerima gemblengan Suhu,
jangan-jangan muka teecu akan menjadi berwarna pula!"
"Heh-heh-heh,
jangan bicara gila! Kalau engkau berlatih di atas Pulau Neraka, tentu saja
engkau akan mengalami keracunan dan mukamu berubah-ubah sesuai dengan tingkatmu
sebelum engkau dapat mengatasi hawa beracun itu. Akan tetapi engkau kulatih di
luar Pulau Neraka. Pula, engkau telah memiliki dasar sinkang dari Pulau Es yang
amat kuat, kiranya engkau hanya akan terpengaruh sedikit dan setidaknya kalau
engkau berlatih di sana, engkau mendapatkan warna putih atau kuning. Sudahlah,
mulai sekarang engkau harus benar-benar mencurahkan perhatian, berlatih dengan
tekun. Melihat kemajuan dan tingkat bocah tadi, aku hanya akan menurunkan
ilmu-ilmu yang paling tinggi saja kepadamu. Ini pun hanya akan dapat kau
andalkan untuk memenangkan pertandingan melawan Keng In kalau engkau berlatih
dengan sungguh-sungguh hati dan mati-matian."
Mereka
berjalan terus dan sampai lama keduanya tidak bicara. Tiba-tiba Kwi Hong
bertanya, "Suhu, sebetulnya yang mempunyai kepentingan mengalahkan Wan
Keng In itu siapakah? Teecu ataukah Suhu?"
Kakek itu
berhenti dan menengok kepada muridnya, memandang dengan mata terbelalak
kemudian tertawa bergelak, "Ha-ha-ha, habis kau kira siapa?"
"Teecu
tidak mempuyai urusan pribadi dan tidak mempunyai permusuhan langsung dengan
pemuda Pulau Neraka itu, sungguh pun teecu tidak suka kepadanya. Kalau tidak
kebetulan bertemu dengannya, teecu tidak bertempur dengannya dan teecu juga
tidak akan mencari-cari dia untuk diajak bertanding. Hal itu berarti bahwa
kalau teecu mati-matian mempelajari ilmu sudah tentu bukan dengan tujuan untuk
semata-mata kelak dipergunakan untuk menandingi orang itu."
"Kalau
begitu, mengapa tadi engkau sudah enak-enak di dalam peti, tahu-tahu engkau
keluar dan menyerangnya?"
"Karena
teecu tidak ingin dia mencelakai dara itu."
"Hemm,
bocah puteri Ketua Thian-liong-pang itu! Mengapa engkau membantunya?"
Kwi Hong tak
dapat menjawab. Tadi ketika membuka peti matinya dan melihat Milana, ia segera
mengenal dara itu sebagai Milana, puteri dari pamannya, puteri Pendekar Super
Sakti dan Puteri Nirahai! Akan tetapi, begitu mendengar bahwa dara itu adalah
puteri Ketua Thian-liong-pang, dia menjadi ragu-ragu, bahkan teringat bahwa
yang hampir mencelakainya ketika dia mengintai di rumah penginapan rombongan
Thian-liong-pang, yang menggunakan tali sutera hitam panjang, juga gadis
itulah! Benarkah gadis itu Milana? Kalau benar Milana, mengapa disebut puteri
Ketua Thian-liong-pang? Maka, kini pertanyaan gurunya tak dapat ia menjawabnya
sebelum dia yakin benar apakah dara itu Milana atau bukan.
"Teecu...
teecu tidak bisa diam saja melihat seorang gadis terancam bahaya."
"Ha-ha-ha,
cocok dengan semua pelajaran tentang kebaikan yang kau terima sejak kecil dari
Pamanmu?"
Disindir
demikian, Kwi Hong diam saja, hanya cemberut. Kemudian dia mendapat kesempatan
membalas. "Telah teecu katakan tadi bahwa teecu tidak mempunyai
kepentingan mengalahkan Wan Keng In. Akan tetapi Suhu agaknya bersemangat benar
untuk melihat teecu mengalahkan dia! Apakah bukan karena Suhu ingin bersaing
dengan Supek Cui-beng Koai-ong?"
Kakek itu
melotot, kemudian menghela napas dan membanting-banting kakinya seperti sikap
seorang anak-anak yang jengkel hatinya. "Sudahlah! Sudahlah! Engkau benar!
Memang demikian adanya. Suheng telah melanggar sumpah, mengambil murid! Maka
aku pun memilih engkau sebagai murid untuk kelak kupergunakan menandingi
muridnya agar Suheng tahu akan kesalahannya! Nah, katakanlah bahwa engkau tidak
mau membantu aku! Tidak usah berpura-pura!"
Kwi Hong
tersenyum. Suhu-nya ini benar-benar seorang yang amat aneh, luar biasa, agak
sinting, sakti seperti bukan manusia lagi, akan tetapi sikapnya menyenangkan
hatinya! Biar pun ugal-ugalan, akan tetapi entah bagaimana tidak menjadi benci,
malah dia suka sekali.
"Suhu,
sebagai murid tentu saja teecu akan membantu Suhu karena sebagai seorang guru
yang mencinta muridnya, tentu Suhu juga selalu ingin membantu muridnya seperti
teecu, bukan?"
"Wah-wah-wah,
dalam satu kalimat saja, engkau mengulang-ulang sebutan guru dan murid beberapa
kali sampai aku jadi bingung! Katakan saja, apa yang kau ingin kulakukan untuk
membantumu agar kelak engkau pun akan suka membantuku?"
Kwi Hong
tersenyum lebar. Biar pun kelihatan sinting, gurunya ini ternyata cerdik sekali
dan mudah menjenguk isi hatinya. Ia teringat akan urusan Gak Bun Beng, dan
teringat akan niatnya meninggalkan pamannya. Dia berniat pergi ke kota raja,
membantu Bun Beng menghadapi musuh-musuhnya yang berat, dan juga untuk merampas
kembali pedang Hok-mo-kiam yang dahulu dicuri oleh Tan-siucai dan Maharya.
Tanpa bantuan seorang sakti seperti gurunya ini, mana mungkin dia akan berhasil
menghadapi orang-orang sakti seperti Koksu Negara Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun
dan dua orang pembantunya yang hebat itu, sepasang pendeta Lama dari Tibet,
Thian Tok Lama dan Thai Li Lama. Belum lagi kalau berhadapan dengan Tan-siucai
dan gurunya yang sakti, Si Ahli Sihir Maharya!
"Suhu,
sebelum bertemu dengan Suhu, teecu telah lebih dulu menjadi keponakan dan murid
Pendekar Super Sakti. Berarti, biar pun teecu berhutang kepada Suhu, akan
tetapi teecu juga sudah berhutang budi kepada Pendekar Super Sakti yang belum
teecu balas. Benarkah pendapat ini?"
Betapa kaget
hati Kwi Hong ketika melihat gurunya itu menggeleng kepala kuat-kuat!
"Tidak benar! Tidak betul! Orang yang melibatkan diri dalam hutang-piutang
budi, baik yang berhutang mau pun sebagai yang menghutangkan adalah orang bodoh
karena hidupnya tidak akan berarti lagi! Katakan saja apa yang akan kau lakukan
dan apa yang dapat kubantu tanpa menyebut tentang hutang-piutang budi segala
macam!"
Kwi Hong
menelan ludahnya sendiri. Sukar juga menentukan sikap menghadapi seorang
sinting dan kukoai (ganjil) seperti gurunya ini! Akan tetapi dia teringat akan
watak gurunya yang seperti kanak-kanak ketika mengadu jangkrik, yaitu gurunya
tidak bisa menerima kekalahan! Gadis yang cerdik ini segara berkata,
"Suhu,
urusan mengalahkan Wan Keng In adalah urusan mudah saja. Asalkan Suhu mau
mengajar teecu dengan sungguh-sungguh dan teecu akan berlatih dengan tekun, apa
sih sukarnya mengalahkan bocah sombong itu? Akan tetapi teecu mempunyai
beberapa orang musuh yang benar-benar amat sukar dikalahkan, amat sakti, jauh
lebih sakti dari pada sepuluh orang Wan Keng In. Bahkan, dengan bantuan Suhu
sekali pun teecu masih ragu-ragu dan khawatir apakah akan dapat mengalahkan
mereka...?"
"Uuuuttt!
Sialan kau! Aku sudah maju membantu masih khawatir kalah? Jangan main-main kau!
Siapa musuh-musuhmu itu? Asal jangan tiga orang pengawal Tong Sam Cong saja,
masa aku tidak mampu kalahkan?"
Yang
dimaksudkan oleh kakek itu dengan tiga orang pengawal Tong Sam Cong adalah tiga
tokoh sakti dalam dongeng See-yu, yaitu tiga orang pengawal Pendeta muda Tong
Sam Cong atau Tong Thai Cu yang melawat ke Negara Barat (India) untuk mencari
kitab-kitab Agama Buddha. Mereka itu adalah Si Raja Monyet Sun Go Kong, Si
Kepala Babi Ti Pat Kai dan See Ceng.
"Biar
pun tidak sesakti para pengawal Tong Thai Cu, akan tetapi teecu sungguh tidak
berani memastikan apakah dengan bantuan Suhu sekali pun teecu akan dapat
mengalahkan mereka. Mereka itu adalah Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, Thian Tok
Lama, Thai Li Lama dan Maharya!" Kwi Hong sengaja tidak menyebut nama
Tan-siucai karena untuk menghadapi orang ini tidaklah terlalu berat.
Kakek itu
tiba-tiba menjadi bengong. "Kau... bocah begini muda... telah menanam
bibit permusuhan dengan orang-orang macam mereka itu?"
"Harap
Suhu tidak perlu mengalihkan persoalan. Kalau Suhu merasa jeri dan tidak berani
membantu teecu menghadapi mereka teecu pun tidak dapat menyalahkan Suhu karena
mereka memang amat sakti. Hanya Paman Suma Han saja kiranya yang akan dapat
mengalahkan mereka."
Kakek itu
tersentuh kelemahannya. Mukanya menjadi merah sekali dan kedua lengannya
digerak-gerakkan ke kanan kiri. Terdengar suara keras dan empat batang pohon di
kanan kirinya tumbang dan roboh terkena pukulan kedua tangannya!
"Siapa
bilang aku jeri? Kalau Suma Han pamanmu yang buntung itu dapat menandingi mereka,
mengapa aku tidak? Hai, bocah tolol, kau terlalu memandang rendah Gurumu! Lihat
saja nanti, aku akan membikin empat orang tua bangka itu terkencing-kencing dan
terkentut-kentut minta ampun kepadamu! Haiii! Mengapa kau bermusuh dengan
mereka?"
"Pendeta
India yang bernama Maharya itu telah membunuh burung-burung garuda peliharaan
dan kesayangan teecu di Pulau Es bahkan telah merampas pedang pusaka yang teecu
amat sayang."
"Hemm,
aku akan hajar dan paksa dia mengembalikan pedang. Wah, kau mempunyai sebuah
pedang pusaka lain lagi? Apakah Pedang Iblis macam yang kau bawa itu?
Hati-hati, dengan segala macam pusaka seganas itu, jangan-jangan akan berubah
menjadi iblis!"
"Tidak,
Suhu. Pedang pusaka itu adalah sebatang pedang pusaka sejati yang amat ampuh
dan bersih."
"Heh-heh-heh!
Pedang dibuat untuk memenggal leher orang, menusuk tembus dada orang, merobek
perut sampai ususnya keluar, mana bisa dibilang bersih?"
"Ada pun
Bhong Ji Kun Si Koksu tengik itu, bersama dua orang pembantunya Thian Tok Lama
dan Thai Li Lama, mereka adalah orang-orang yang memimpin pasukan membakar
Pulau Es. Karena itu mereka adalah musuh-musuh besar teecu dan teecu hanya
dapat mengandalkan bantuan Suhu untuk dapat menghajar mereka."
"Uuuut!
Bocah bodoh. Setelah kau mempelajari ilmu dariku dengan tekun dan berhasil
baik, apa sih artinya beberapa ekor keledai-keledai tua itu? Tidak usah
kubantu, engkau sendiri sudah cukup, lebih dari cukup untuk mengalahkan
mereka."
"Akan
tetapi, teecu tidak percaya dan tidak akan tenang kalau tidak bersama Suhu.
Karena itu, marilah kita pergi ke kota raja mencari mereka, Suhu."
"Tapi
kau harus berlatih..."
"Sambil
melakukan perjalanan, teecu akan tekun berlatih."
"Tapi
aku harus mampir dulu ke kaki Gunung Yin-san, di dekat padang pasir."
"Ihh,
tempat itu tandus dan sunyi, mengapa Suhu hendak ke sana? Tentu di sana tidak
ada orangnya."
"Memang
tidak ada orangnya karena aku ke sana bukan untuk mencari orang."
"Habis,
mencari apa?"
"Mencari
kelabang!"
"Ihhhh...!"
"Kenapa
ihh? Engkau tidak tahu, kelabang di sana berwarna merah darah, panjangnya satu
kaki, besarnya seibu jari kaki!"
"Ihhhh...!"
Kwi Hong mengkirik, makin geli dan jijik.
"Eh,
masih belum kagum? Racun kelabang raksasa merah itu tiada keduanya di dunia
ini. Mengalahkan semua racun yang berada di Pulau Neraka!"
Kwi Hong
menahan rasa jijik dan gelinya agar tidak menyinggung hati gurunya yang
kadang-kadang aneh dan pemarah itu, maka dia berkata mengangguk-angguk,
"Wah, kalau begitu hebat. Akan tetapi, untuk apa Suhu mencari Kelabang
Raksasa Raja Racun itu?"
"Bulan
ini adalah musim bertelur, aku hendak menangkap seekor kelabang betina yang
akan bertelur. Sebelum telur-telur itu dikeluarkan, harus dapat kutangkap dia,
karena telur-telur yang masih berada di dalam perutnya itu mengandung racun
yang paling ampuh karena terendam di dalam sumber racun kelabang itu."
"Hemm,
menarik sekali," kata Kwi Hong memaksa diri. "Setelah ditangkap, lalu
untuk apa, Suhu?"
"Kupotong
bagian perut yang penuh telur itu, lalu kumasak dengan arak merah..."
"Wah,
perut penuh telur beracun ganas itu dimasak dengan arak?" Kwi Hong menelan
ludah, bukan saking kepingin melainkan untuk menekan rasa muaknya.
"Mengapa menyiksa betinanya yang sedang bertelur, Suhu? Bukankah kabarnya
kelabang jantan lebih hebat racunnya?"
"Memang
demikian biasanya, akan tetapi setelah tiba masa kawin disusul masa bertelur,
semua racun berkumpul di tempat telur. Kau tidak tahu, kelabang raksasa di
tempat itu mempunyai kebiasaan aneh dan menarik sekali. Di musim kawin, si
betina pada saat bersetubuh menggigit leher si jantan dan menghisap darah si
jantan berikut racunnya sampai tubuh si jantan itu kering dan mati! Diulanginya
perkawinan aneh ini sampai dia menghisap habis darah dan racun lima enam ekor
jantan, barulah perutnya menggendut terisi telur. Nah, di tempat telur itulah
berkumpulnya semua racun!"
Cuping
hidung Kwi Hong bergerak-gerak sedikit karena dia merasa makin muak.
"Suhu
mencari barang macam itu, memasaknya dengan arak, untuk Suhu makan?"
Kakek itu
menggeleng-geleng kepalanya perlahan. "Bukan...!"
Kwi Hong
memandang terbelalak. "Habis, untuk apa...?" Hatinya sudah tidak
enak.
"Untuk
kau makan!"
"Uuuukhhh!"
Kwi Hong mencekik leher sendiri menahan agar jangan sampai muntah, matanya
terbelalak memandang gurunya yang tertawa terkekeh-kekeh.
"Bocah
tolol! Jangan memikirkan jijiknya, akan tetapi pikirkan khasiatnya! Kalau
engkau makan itu, segala macam racun di dunia ini tidak akan dapat mempengaruhi
tubuhmu, baik racun yang masuk melalui darah atau melalui perutmu! Dan racun
itu cocok sekali untuk membangkitkan tenaga Inti Bumi yang kau latih!"
Kwi Hong
tidak dapat membantah lagi, akan tetapi setiap kali teringat akan perut
kelabang penuh telur beracun yang harus dimakannya, perutnya sendiri menjadi
mual dan dia kepengin muntah! Hal ini agaknya amat menyenangkan kakek itu
sehingga di sepanjang jalan Bu-tek Siauw-jin selalu mengulangi godaannya dengan
menceritakan tentang segala macam kelabang dan binatang-binatang menjijikkan,
hanya untuk membuat muridnya mual, jijik dan ingin muntah! Orang yang aneh luar
biasa pula...
Terima kasih telah membaca Serial ini
No comments:
Post a Comment