Cerita Silat Kho Ping Hoo
Serial Sepasang Pedang Iblis
Jilid 09
"Anak
buahmu keok semua oleh Pendekar Siluman! Sudahlah, aku tidak perlu mendengar
lebih lanjut. Eh, apakah Locianpwe ini Majikan Pulau Neraka?"
Kakek itu
mengangguk. "Aku memang Ketua Pulau Neraka... ehhh, maksudku, bekas
ketua."
Bun Beng
tidak ingin tahu lebih banyak tentang pulau itu, maka ia lalu melorot terus
sambil berkata, "Sudahlah. Aku sudah mengaku namaku, sekarang aku akan
turun."
"Wah,
mana bisa? Kalau kau turun kemudian kau memutuskan tali layang-layang dari
bawah, bukankah aku yang cia-lat?"
Bun Beng
berhenti dan memandang ke atas, alisnya terangkat. "Apakah Locianpwe tidak
percaya kepadaku? Aku bukanlah orang yang curang seperti Locianpwe!"
"Heh-heh-heh,
siapa tahu? Engkau anak Setan Botak. Dalam hal kelicikan, kecurangan dan segala
macam sifat busuk ini, di dunia tidak ada yang menyamai dia, siapa tahu sifat
liciknya menurun kepadamu. Tunggu, aku pun akan turun!"
Bun Beng
tidak peduli dan melanjutkan usahanya merosot turun melalui tali layang-layang,
namun tiba-tiba kakek itu berteriak. "Wah, celaka tiga belas! Taufan
datang...!"
Teriakan itu
dikeluarkan dengan suara keras dan penuh rasa kaget, membuat Bun Beng menengok.
Dari jauh tampak awan hitam datang cepat sekali dan tidak lama kemudian,
layang-layang itu meliuk ke kiri dengan kekuatan yang hebat.
"Lekas
kita turun, Locianpwe!"
"Tidak
bisa, terlambat! Lekas kau naik ke sini kalau mau selamat!"
Bun Beng
tidak mau menurut dan hendak merosot terus, tetapi mendadak tali layang-layang
itu menegang dan bergetar hebat sehingga hampir saja ia tidak kuat bertahan
memeganginya karena telapak tangannya terasa nyeri bukan main. Maklumlah dia
bahwa kakek itu tidak membohong, sebab itu kini dia mulai merayap naik melalui
tali layang-layang.
"Cepat
pegang tanganku!" Kakek itu berkata, napasnya agak terengah karena dia
yang sekarang mengulurkan tangan untuk membantu Bun Beng naik harus
mengendalikan layang-layang yang menjadi liar itu dengan sebelah tangan saja.
Bun Beng memegang tangan itu dan dia ditarik naik.
"Berdiri
di sini dan pegang tali-temali di atasmu dengan tangan, hati-hati jangan banyak
bergerak dan jangan terlalu erat. Turut dan contoh saja aku!"
Kakek itu
tak dapat bicara banyak. Kini angin taufan telah mengamuk hebat, membuat
layang-layang itu menjadi seperti seekor kuda binal dan tidak dapat
dikendalikan lagi. Layang-layang itu kadang-kadang naik makin tinggi, tinggi
sekali sampai melengkung seperti akan membalik dari arah angin, lalu terdorong
kembali ke belakang dan talinya menegang, meliuk ke kiri sampai seperti tak
pernah berakhir, kemudian terdorong ke kanan dan ada kalanya menukik ke bawah
secara mengerikan karena kecepatannya luar biasa. Suara angin bercuitan
menulikan telinga, dan tali layang-layang itu juga mengeluarkan bunyi
berdering-dering seperti sehelai tali yang-kim ditabuh, suaranya kadang-kadang
rendah sesuai dengan tinggi rendahnya getaran yang disebabkan oleh tarikan
layang-layang yang terbawa angin taufan.
Kakek itu
memaki-maki Bun Beng. "Sialan! Engkau bodoh seperti kerbau! Begini lho!
Tekan kaki kanan ke depan, cepat. Bantu aku, dong! Bagaimana sih? Setan cilik
tolol kau! Dengar baik-baik, jangan sampai layang-layang terus menukik, dan
jangan sekali-kali menentang arah angin langsung. Bisa celaka kita! Pindahkan
tenaga ke kaki kiri, kaki kanan lepas, tangan kanan menarik tali di atas,
cepat! Nah, sekarang kaki kanan yang menekan, tangan kiri menarik. Hayo,
seperti bermain layar, akan tetapi jauh lebih sukar, seratus kali lebih
sukar!"
Payah juga
Bun Beng mengikuti gerakan serta perintah kakek itu. Tenaga yang harus
digunakan untuk melawan kekuatan angin ini merupakan tenaga seluruhnya, itu pun
hampir tidak ada artinya terhadap kekuatan angin yang maha dahsyat itu. Kini
kakek itu memerintahkan agar tenaga dirubah-rubah, bagaimana mungkin begitu
mudah? Hampir beberapa detik harus dirubah lagi. Bun Beng merasa seluruh
tubuhnya ngilu dan sakit-sakit, kedua kakinya menggigil dan kedua tangannya
gemetar, hampir tak kuat memegang tali-temali layang-layang lebih lama lagi.
"Tolol!
Jangan berhenti! Aku sendiri mana kuat mengemudikan layang-layang ini? Kalau
tidak ada engkau di sini, tentu aku dapat, akan tetapi ditambah beratmu, benar-benar
repot!"
Sementara
itu angin bertiup makin keras, kini malah disertai kilat menyambar-nyambar,
halilintar bermain-main di atas dan kanan kiri mereka. Cuaca menjadi gelap,
bahkan kini percikan air-air halus yang amat kuat sehingga seperti berubah menjadi
laksaan jarum-jarum kecil menerjang mereka.
"Celaka...
celaka...!" Kakek itu makin repot dan jelas bahwa dia ketakutan.
Bun Beng
yang biasanya senang menghadapi maut, menyaksikan sikap kakek itu jadi
ketularan rasa takut. Memang keadaan amat mengerikan, dibawa oleh layang-layang
dan dipermainkan angin taufan, halilintar dan hujan seperti itu!
"Dengar
baik-baik kalau kau tidak ingin mati turut perintahku dan pelajari agar jangan
sampai gagal. Taufan ini berbahaya sekali, untuk turun sekarang tidak mungkin.
Satu-satunya jalan hanya mengemudikan layang-layang ini sebaik mungkin agar
tidak sampai menukik turun atau talinya putus." Kakek itu sukar sekali
bicara dengan jelas karena kencangnya angin meniup terbang suaranya. Terpaksa
ia lalu merangkul Bun Beng dan berteriak. "Rangkul aku dan dekatkan
telingamu pada mulutku!"
Setelah Bun
Beng melakukan perintah ini, Kwi-bun Lo-mo lalu membisikkan pelajaran sedikit
demi sedikit caranya menggerakkan tenaga pada kaki dan tangan, mengatur bobot,
memindah-mindahkan tenaga dalam untuk mengimbangi serangan angin yang amat
dahsyat. Bun Beng mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian sekalian
mempraktekkan pelajaran itu mencontoh gerakan kakek aneh dan membantunya
mengemudikan layang-layang.
Dia sama
sekali tidak tahu bahwa dalam keadaan berbahaya itu dia telah menerima
pelajaran ilmu rahasia yang sangat hebat, yaitu Ilmu Hoan-sinkang (Memindahkan
Tenaga Sakti) yang tidak hanya dapat dipergunakan untuk mengemudikan
layang-layang melawan serangan angin taufan yang maha dahsyat, tetapi juga
merupakan ilmu yang dapat dipergunakan untuk menghadapi lawan berat yang
memiliki sinkang amat kuat! Ilmu ini merupakan ilmu tingkat tinggi yang
dimiliki Ketua atau Majikan Pulau Neraka, dan selain Si Ketua sendiri, hanya
kakek inilah orang kedua yang memilikinya, maka dia berani main-main dengan
maut di tempat berbahaya itu, yaitu bermain dan mengemudikan layang-layang.
Mati-matian
kedua orang itu bertempur dengan angin taufan, secara bersama-sama mengemudikan
layang-layang yang mereka paksa untuk menuruti kehendak mereka, melawan
kehendak angin. Sampai setengah hari lamanya angin taufan mengamuk dan selama
setengah hari itu merupakan latihan yang amat hebat bagi Bun Beng, latihan
terberat yang pernah ia alami selama hidupnya, akan tetapi karena keadaan yang
memaksa, demi menolong nyawa, dalam waktu sependek itu ia telah berhasil
memetik inti dari ilmu ini!
Menjelang
senja barulah angin taufan itu mereda, hujan pun berhenti. Dengan pakaian basah
kuyup kedua orang itu terengah-engah berdiri di atas tali dan berpegang pada
tali layang-layang yang juga basah semua dan luntur gambarnya. Mereka kehabisan
tenaga dan kini hanya mengandalkan kaki tangan yang sudah gemetar karena penat,
tubuh menggigil kedinginan dan kehabisan tenaga. Akan tetapi kakek itu
menyeringai tersenyum lebar memandang Bun Beng.
"Engkau
hebat, orang muda. Ha-ha-ha, tidak percuma engkau menjadi putera Gak Liat,
heh-heh-heh!"
Melihat
betapa kakek itu bicara sebenarnya, tidak mengolok-olok dan memaki-maki lagi,
Bun Beng berkata sungguh-sungguh. "Locianpwe yang hebat dan aku kagum
sekali. Sebetulnya, macam apakah mendiang Ayah itu?"
"Gak
Liat? Ya begitulah, seorang manusia seperti aku dan engkau ini," jawab
kakek itu seenaknya.
"Akan
tetapi banyak orang menyebutnya seorang jahat. Dan Locianpwe sendiri tadi
mengatakan dia seorang yang licik dan curang."
"Memang
dia licik dan curang, nomor satu di dunia mengenai kelicikannya. Akan tetapi
kalau tidak licik, mana mungkin dia menjadi datuk kaum sesat? Tanpa kelicikan,
mana mungkin dapat menonjol di dunia hitam?" Biar pun kakek itu mulai
memuji ayahnya, namun pujian ini mendatangkan rasa tak puas di hati Bun Beng. Bagaimana
hatinya akan senang dan puas kalau ayahnya dipuji sebagai seorang yang paling
licik di dunia, sebagai seorang tokoh, bahkan datuk kaum sesat?
"Sudahlah,
Locianpwe. Terima kasih atas pertolonganmu, aku hendak turun sekarang."
Setelah
berkata demikian, Bun Beng merosot turun dan biar pun kedua telapak tangannya
menjadi panas karena tenaganya sudah hampir habis, namun rasa nyeri itu bukan
apa-apa kalau dibandingkan dengan kesengsaraan selama setengah hari tadi dan ia
merosot terus.
"He,
tunggu! Apa kau kira aku selamanya akan tinggal di sini? Aku pun mau
turun!" Kakek itu bergegas turun pula dari tali layang-layang yang kini
terbang dengan anteng dibawa angin semilir halus.
Keduanya
lalu merosot turun melalui tali layang-layang yang amat tinggi itu. Demikian
tingginya layang-layang itu sehingga Bun Beng melihat pohon-pohon amat kecil di
bawah, seperti rumput saja. Ia bergidik. Bukan main kakek bermuka kuning itu,
main-main dengan maut seperti itu. Apa sih senangnya bermain-main dengan
layang-layang yang begitu tinggi? Memang menegangkan, seperti seekor burung
garuda terbang di angkasa, akan tetapi bagaimana kalau tali layang-layang
putus? Bagaimana kalau kehabisan angin dan layang-layang itu melayang turun?
Benar-benar permainan yang berbahaya dan gila!
"Ha,
Bun Beng, aku amat girang dapat bertemu denganmu. Aku akan dapat memenuhi
permintaan mendiang Ayahmu. Ikutlah bersamaku dan engkau akan memperoleh
kepandaian hebat, apa lagi kalau Pangcu kami bersedia membimbingmu. Ketua kami
adalah seorang yang memiliki kepandaian seperti..."
"Iblis!"
Bun Beng menyambung. "Ketua Pulau Neraka tentu seorang iblis."
"Ha-ha-ha!
Engkau seperti Ayahmu. Memang benar kepandaiannya hebat seperti iblis
sendiri."
Bun Beng
tidak menjawab dan mencari akal bagaimana dia akan dapat membebaskan diri dari
kakek yang melorot turun di atasnya itu. Dia tidak sudi menjadi anggota Pulau
Neraka seperti dia tidak mau menjadi anggota Thian-liong-pang. Biar dia dijanji
akan diberi pelajaran ilmu yang tinggi, yang tidak diragukannya lagi, akan
tetapi satu-satunya yang ia mau menjadi gurunya hanyalah Pendekar Siluman!
Kalau Pendekar Siluman yang mengajaknya ke Pulau Es, tentu dia tidak akan
menolak, bahkan akan menjadi girang sekali. Kini dia mencari akal bagaimana
dapat melarikan diri dari kakek itu. Dia mempercepat gerakan kaki tangannya
melorot turun, akan tetapi kakek itu tetap berada dekat di atas kepalanya!
Tiba-tiba
Kwi-bun Lo-mo berteriak sambil menggerak-gerakkan tangan ke bawah.
"Heiii...!
Bangkotan busuk, pengecut laknat, jangan curang kau! Tunggu sampai aku turun
dan kita boleh bertanding sampai selaksa jurus!"
Bun Beng
cepat memandang ke bawah dan ia juga terkejut sekali. Di bawah sana ia melihat
bahwa tali layang-layang itu oleh Si Kakek aneh diikatkan pada sebatang pohon
besar dan ujung tali malah dikaitkan kuat-kuat pada sebuah batu karang yang
kokoh. Kiranya setelah kakek itu berhasil menaikkan layang-layangnya sampai
tinggi sekali, ia mengikat tali itu di sana kemudian agaknya kakek itu lalu
memanjat ke atas melalui tali layang-layang untuk kemudian bermain-main di
atas!
Dan kini di
dekat pohon itu tampak seorang kakek bersorban dengan tubuh dibelit-belit kain
kuning seperti mendiang Kakek Nayakavhira pembuat pedang yang dulu datang
menunggang gajah dan juga pernah bertanding dengan kakek muka kuning ini! Di
belakang kakek ini tampak seorang laki-laki tampan, dan yang membuat Bun Beng
merasa terkejut adalah ketika melihat betapa kakek bersorban itu menghampiri tali
layang-layang dan agaknya hendak memutus tali itu!
"Ha-ha-ha!"
Kakek itu tertawa bergelak.
Agaknya
Kwi-bun Lo-mo baru tahu bahwa kakek bersorban itu bukanlah kakek India
penunggang gajah yang dulu pernah bertempur dengannya. Tentu saja Bun Beng
mengerti bahwa kakek di bawah itu bukan Nayakavhira karena biar pun hampir
sama, kakek di bawah itu lebih tinggi dan kurus, juga kulitnya lebih hitam.
"Setan
India! Jangan curang, tunggu aku turun kalau berani!" Kembali Kwi-bun
Lo-mo berteriak sambil melorot makin cepat mengikuti Bun Beng, akan tetapi
jarak antara mereka dengan tanah masih terlampau tinggi sehingga kalau sekarang
tali itu diputus, mereka akan celaka!
"Bun
Beng, kau melorot sambil bergantung. Jangan menghalangi aku. Kalau dia berani
memutus tali, akan kuarahkan jatuhku ke tubuh si keparat itu!" Kwi-bun
Lo-mo berseru dan Bun Beng melanjutkan gerakannya merosot sambil bergantung ke
bawah.
"Ha-ha-ha,
kalian berdua bermain-main dengan maut. Nah, mampuslah!" Orang India yang
tertawa-tawa itu meloncat dekat dan menggerakkan tangan hendak memutus tali
layang-layang.
Bun Beng
sudah merasa ngeri, apa lagi setelah kini mengenal kakek India itu sebagai
kakek sakti yang pernah bertanding melawan Pendekar Siluman, pertadingan yang
amat luar biasa di mana kedua orang sakti itu mempergunakan ilmu sihir sehingga
yang bertanding adalah bayangan atau semangat mereka!
Celaka,
pikirnya, andai kata mereka dapat turun juga, ia merasa ragu-ragu apakah
Kwi-bun Lo-mo mampu menandingi kakek yang memiliki ilmu sihir itu! Dan
laki-laki yang berada di belakang kakek bersorban itu pun dia kenal, karena
laki-laki itulah yang dahulu pernah menculik Kwi Hong, laki-laki berpakaian
sastrawan yang setengah gila dan yang mencuri pedang pusaka buatan Kakek
Nayakavhira!
Mendadak
berkelebat bayangan yang gesit sekali dibarengi bentakan halus, "Iblis tua
keparat!"
Muncullah
seorang dara yang gerakannya gesit sekali. Bayangannya didahului sinar dari
pedangnya yang dia gunakan untuk menerjang kakek bersorban dengan gerakan luar
biasa. Pedangnya membentuk lingkaran pada ujungnya seolah-olah hendak
mengguratkan lingkaran pada dada kakek bersorban. Menghadapi serangan hebat
ini, kakek ini berseru kaget dan cepat meloncat mundur, tidak mendapat
kesempatan untuk memutus tali layang-layang. Namun dara itu terus menyerangnya
dengan gerakan luar biasa, pedangnya lenyap menjadi sinar bergulung-gulung yang
seolah-olah merupakan awan atau kabut menggulung tubuh kakek bersorban!
"Hayo
cepat turun!" Kwi-bun Lo-mo berseru.
Tanpa
diperintah pun Bun Beng sudah mempercepat gerakannya merosot turun dan bukan
main lega hatinya setelah kedua kakinya merasai tanah yang teguh dan kuat.
Hampir saja ia terhuyung karena setelah kini menginjak tanah, tubuhnya masih
terasa ringan seolah-olah tak berubah, seperti orang mabok arak. Akan tetapi
semenjak tadi pandang matanya tidak terlepas dari dara yang masih menyerang
kakek bersorban.
Bukan main
hebatnya terjangan gadis itu dan jantung Bun Beng berdebar tegang ketika ia
mengenal dara itu. Biar pun kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang amat
cantik, namun tidak salah lagi, dia itu adalah Giam Kwi Hong, murid atau juga
keponakan Pendekar Siluman! Kakek bersorban itu, yang Bun Beng tahu amat sakti,
sampai terdesak mundur, repot mengelak dari sambaran pedang di tangan Kwi Hong.
"Ha-ha-ha-ha,
kiranya engkau bukan tua bangka penunggang gajah!" Kwi-bun Lo-mo tertawa.
Pada saat
Maharya, kakek India itu mencelat ke kanan untuk menjauhi sinar pedang Kwi Hong
dan berada dekat dengannya, Kwi-bun Lo-mo cepat menghantam dengan kedua lengan
didorongkan ke depan. Terdengar bunyi bersuit dan angin menyambar ke arah kakek
bersorban yang cepat mendorongkan pula kedua tangannya menangkis.
"Dessss!"
Dua tenaga sinkang raksasa bertemu dan kedua orang kakek itu terpental ke
belakang.
"Wah-wah,
kau hebat juga...!" Kwi-bun Lo-mo berseru kaget.
"Mundurlah
kalian bertiga...!" Tiba-tiba Maharya membentak, suaranya menggeledek
penuh wibawa yang aneh dan bagaikan menanti perintah yang tak dapat dibantah
lagi karena segala kemauan hati mereka dikuasai perintah ini, Kwi-bun Lo-mo,
Kwi Hong dan Bun Beng otomatis meloncat mundur sampai lima meter!
"Locianpwe,
Nona Kwi Hong, awas dia mempunyai ilmu sihir! Jangan memandang matanya dan
jangan mendengar suaranya!" Bun Beng cepat berteriak, kemudian ia
mendahului menerjang laki-laki yang sejak tadi hanya menonton Maharya
bertanding dengan Kwi Hong.
Laki-laki
ini bukan lain adalah Tan Ki atau Tan-siucai yang tadi bengong memandang Kwi
Hong dengan penuh gairah. Dia tadi tidak membantu karena tentu saja ia percaya
penuh akan kesaktian gurunya. Akan tetapi melihat betapa dua orang yang secara
aneh turun dari tali layang-layang itu bukan orang sembarangan pula, apa lagi
kini Bun Beng meloncat maju dan menyerangnya dengan gerakan dahsyat, dia
terkekeh, memandang rendah pemuda itu dan mengelak sambil balas menyerang.
Bun Beng
menjadi heran melihat gerakan lawan yang luar biasa. Kedua kaki lawan tidak
meninggalkan tanah, akan tetapi tubuhnya bisa meliuk-liuk dengan lemas, seperti
sebatang pohon cemara pecut tertiup angin. Tubuh atas itu meliuk ke kiri,
kemudian membalik sambil balas menyerang dengan tangan kanan menghantam
perutnya. Ketika ia menangkis dan menggeser kaki kanan, tahu-tahu tangan kiri
lawan sudah mencengkeram kepalanya, hal yang luar biasa sekali mengingat bahwa
tangan kiri lawannya itu berada dalam posisi jauh. Tangan kiri itu tiba-tiba
memanjang, seperti karet yang dapat mulur dan tahu-tahu jari-jari-nya telah
dekat dengan kepalanya.
"Ehhh...!"
Ia berseru dan cepat meloncat mundur sambil melepas tendangan ke arah lengan
yang sudah ditarik kembali oleh Tan-siucai sambil terkekeh-kekeh.
Sementara
itu Kwi Hong yang terheran-heran saat mendengar pemuda tampan itu dapat
menyebut namanya, teringat bahwa Maharya memang pandai ilmu sihir, maka
otomatis ia pun mentaati peringatan pemuda itu, tidak mau memandang mata kakek
bersorban dan dengan kekuatan batinnya ia menulikan telinga agar jangan
mendengar bentakan Si Kakek tukang sihir yang mengandung penuh daya melumpuhkan
itu. Ia sudah menerjang maju lagi dengan tusukan pedangnya, disusul serangkaian
serangan hebat yang membuat Maharya kembali terdesak.
Kwi-bun
Lo-mo yang sekarang sudah dapat menguasai dirinya kembali setelah tadi
terpengaruh sihir Maharya, merasa kagum kepada Bun Beng yang semuda itu sudah
tahu akan ilmu kakek bersorban. Dia pun maklum bahwa ilmu sihir semacam
I-hun-to-hoat untuk mempengaruhi pikiran orang mengandalkan kekuatan pandang
mata dan getaran suara yang mengandung sinkang amat kuat, maka apabila dapat
mengelakkan pandang mata dan suara itu tentu sihir itu tidak akan mempunyai
daya kekuatan. Maka ia pun menutup pendengaran dan menghindarkan pertemuan
pandang mata, lalu tertawa mengejek.
"He-heh-heh,
kau dukun dari Himalaya yang busuk, tanpa sebab kau hendak memutus tali
layang-layangku. Sekarang kau kena kutuk para dewamu, bertemu dengan seorang
pemuda yang cerdik, seorang dara yang lihai sekali, dan aku yang akan mengirim
nyawamu kembali ke puncak Himalaya!"
Sambil
mengejek demikian, Kwi-bun Lo-mo maju pula menerjang, membantu Kwi Hong. Karena
tokoh Pulau Neraka ini pun maklum bahwa Maharya bukanlah seorang lemah, bukan
hanya mengandalkan ilmu sihirnya melainkan memiliki ilmu kepandaian hebat pula
dan bertenaga sinkang kuat sekali, maka begitu menyerang ia pun mengerahkan
tenaga dan menggunakan jurus khas dari Pulau Neraka.
Kedua
tangannya tiba-tiba berubah menjadi lunak seperti kapas, namun di balik telapak
tangan yang menjadi lunak ini tersembunyi kekuatan dahsyat yang akan merusak
sebelah dalam tubuh lawan jika bertemu dengan tangan lunak ini. Sesuai dengan
namanya yaitu Toat-beng-bian-kun (Tangan Lemas Mencabut Nyawa), ilmu ini adalah
ilmu baru yang diterimanya dari Ketua Pulau Neraka. Karena ilmu pukulan tangan
kosong ini telah digabung dengan ilmu khas keturunan Pulau Neraka, yaitu hawa
dan tenaga beracun yang membuat warna kulit mereka berubah, maka tentu saja
pukulan-pukulan tangan yang kelihatannya lemas tak bertenaga dan lunak itu
mengandung bahaya mengerikan dan setiap gerakan merupakan maut bagi lawan!
Maharya yang
biasanya memandang rendah setiap lawan, kini terkejut sekali. Biar pun tadi ia
kelihatan terdesak oleh gulungan sinar pedang Kwi Hong yang seperti kilat
menyambar-nyambar, namun dia tidak gentar dan menghadapi dengan tangan kosong
saja. Akan tetapi, setelah sekali menangkis dan lengannya tersentuh tangan
Kwi-bun Lo-mo yang mengandung Ilmu Toat-beng-bian-kun dan membuat lengannya
panas dan gatal, ia terkejut bukan main, berteriak keras dan melompat mundur
sambil menggerakkan kedua tangannya ke sebelah dalam pakaiannya.
Sekarang dia
telah memegang sepasang senjata yang amat aneh. Tangan kirinya kini telah
memakai sarung tangan yang berkilauan seperti emas, sedangkan tangan kanannya
memegang seekor ular putih yang kecil dan panjangnya hanya dua kaki, akan
tetapi ular putih itu masih hidup!
"Ha-ha-ha,
dukun hitam, apa engkau mau main sulap mencari uang kecil? Bukan di sini
tempatnya, melainkan di pasar! Aku tidak mempunyai uang kecil sepeser pun, apa
lagi yang besar!" Sambil tertawa mengejek, Kwi-bun Lo-mo menerjang lagi
dengan tangannya yang beracun, maklum bahwa pertemuan yang satu kali tadi, biar
pun tentu saja tidak akan melukai lawan yang begitu pandai akan tetapi
sedikitnya membuat hati lawan gentar.
Kwi Hong
yang tidak banyak bicara sudah menusukkan lagi pedangnya. Kini Maharya tidak
mengelak, melainkan menggerakkan tangan kiri yang bersarung tangan emas itu
menangkap pedang. Bukan main kagetnya Kwi Hong karena merasa pedangnya
tergetar. Ia menarik kembali pedangnya dan pada saat itu Maharya melepas pedang
sambil menggunakan tenaga sinkang mendorong.
"Aihhhhh!"
Hanya dengan melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik di udara sampai
lima kali Kwi Hong dapat menghindarkan diri dari tolakan tenaga sinkang yang
dapat melukai isi dadanya itu! Ia terkejut dan maklum bahwa selain sarung
tangan yang dipakai kakek India itu tidak mempan senjata, juga bahwa tenaga
kakek itu masih jauh melampaui tenaganya sendiri!
Kini Kwi-bun
Lo-mo sudah menerjang maju, menggunakan tangan kanan memukul dengan tangan
lunaknya yang beracun untuk memberi kesempatan gadis berpedang itu memulihkan
kedudukannya. Maharya mengangkat tangan kiri, menangkis pukulan itu dan tangan
kanannya digerakkan.
"Plakkk!"
Kedua tangan bertemu dan Kakek Kwi-bun Lo-mo terkejut karena tangan bersarung
emas itu kiranya sanggup menerima pukulan Toat-beng-bian-kun, dan kini secara
tiba-tiba ular yang dipegang ekornya itu melayang dan menyambar lehernya dengan
mulut terbuka lebar, mendesis dan menggigit! Ia cepat miringkan kepalanya akan
tetapi tetap saja ular itu dapat menggigit pundaknya.
"Mampus
kau!" Maharya berseru girang.
"Ha-ha-ha,
gigitan cacing itu enak sekali rasanya, menambah vitamin di tubuhku. Suruh dia
gigit lagi, dukun India! Ha-ha-ha!" Biar pun pundaknya mengeluarkan
sedikit darah, akan tetapi Kwi-bun Lo-mo masih tertawa-tawa. Di dalam tubuhnya
yang berkulit kuning itu telah mengalir darah yang penuh racun, mana dia takut
akan segala gigitan ular beracun?
Kakek India
itu terkejut sekali dan dengan marah dia lalu menyerang kedua orang
pengeroyoknya, bukan hanya ularnya yang terayun-ayun mengancam lawan dengan
gigitan beracun, juga tangan kirinya yang tidak takut menghadapi senjata tajam
atau pukulan beracun itu merupakan tangan maut yang setiap saat menyambar
hendak mencabut nyawa lawan.
Tan-siucai
yang tadinya memandang rendah Bun Beng, menjadi terkejut bukan main ketika
mendapat kenyataan bahwa pemuda itu benar-benar lihai sekali ilmu silatnya.
Tadinya ia menganggap bahwa seorang muda seperti itu akan mudah ia robohkan
dengan ilmunya ‘tangan panjang’, yaitu lengan yang dapat ia ulur sampai hampir
dua kali panjang normal. Banyak sudah lawan yang roboh oleh ilmunya ini karena
tidak menyangka-nyangka bahwa tangan itu dapat mulur seperti karet. Akan tetapi
pemuda itu hanya sebentar saja terkejut, kemudian sudah dapat menjaga diri dan
mengirim serangan dengan jurus-jurus yang dahsyat, yang mendatangkan angin
keras dan membuat Tan-siucai bingung.
Maklum bahwa
ia berhadapan dengan murid orang pandai, Tan-siucai berteriak keras dan
tampaklah sinar hitam ketika ia mencabut pedangnya, sebatang pedang hitam yang
mengeluarkan bau amis seperti telur itik membusuk. Dengan pedangnya ini ia
menerjang dan mengobat-abitkan pedang, merupakan sinar yang menyambar-nyambar
ke arah tubuh Bun Beng.
Bun Beng
memang tadinya terkejut menyaksikan lengan yang bisa mulur panjang. Akan tetapi
kemudian ia mendapat kenyataan bahwa lawannya itu biar pun bertenaga kuat dan
memiliki ilmu aneh, tidaklah seberat yang ia kira dan tidak memiliki dasar ilmu
silat yang tangguh. Maka ia sudah mendesak dengan jurus-jurus Siauw-lim-pai
yang kuat sehingga dua kali memukul bahu kanan dan menendang paha kiri lawan.
Biar pun pukulan dan tendangan ini meleset dan tubuh lawan memiliki kekebalan,
setidaknya lawannya menjadi panik sehingga mencabut pedang hitam!
Bun Beng
tidak menjadi jeri, bahkan ia makin lega hatinya. Gerakan pedang itu lebih
didorong rasa marah dari pada gerakan ilmu pedang yang tinggi nilainya, maka
baginya pedang hitam itu tidaklah sebahaya tangan kosong yang dapat mulur
mungkret tadi. Biar pun lengan itu masih dapat mulur, akan tetapi karena
disambung pedang, lebih mudah dapat dilihat arah gerakannya, tidak seperti
kalau kosong dapat mencengkeram, menangkap mendorong atau memukul, sukar sekali
diduga.
Namun, harus
ia akui bahwa lawannya mainkan pedang secara aneh dan istimewa, dengan ilmu
pedang yang tidak dikenalnya sama sekali. Pedang itu selalu datang menyerangnya
dengan tiupan angin, dan bukan hanya pedang yang menyerangnya melainkan selalu
dibarengi dengan pukulan atau tendangan, seolah-olah seluruh daya serang lawan
dikumpulkan untuk menghantamnya. Bun Beng harus mengandalkan kelincahan
tubuhnya yang segera pulih kembali begitu ia menghadapi bahaya. Kalau begini
terus, bagaimana aku bisa menang, pikirnya. Serangan lawan ini mengingatkan ia
akan serangan angin taufan ketika ia berada di atas layang-layang bersama
Kwi-bun Lo-mo. Serangan angin taufan!
Tiba-tiba ia
ingat akan pelajaran kakek Pulau Neraka itu untuk menghadapi serangan angin
taufan. Perhatikan dari mana angin menyerang, jangan ditentang, ikuti tiupannya
tetapi harus dapat kau kendalikan sehingga mudah untuk menyimpang. Pindahkan
hawa dan tenaga sakti sesuai dengan serangan angin, jangan biarkan kita
terseret akan tetapi berusaha selalu berada di atasnya, menunggang angin. Demikianlah
antara lain inti pelajaran yang ia terima di atas layang-layang sambil
mencontoh gerakan kakek Pulau Neraka. Kini, serangan-serangan lawannya dengan
pedang hitam itu seperti angin, mengapa tidak ia coba mengatasinya dengan
pelajaran baru di atas layang-layang?
"Wuuuutttt!"
Tan-siucai kembali menyerang dengan hebat, dengan semangat menyala dan
keyakinan bahwa ia tentu akan dapat membunuh pemuda yang sudah tak mampu balas
menyerang itu. Pedang hitamnya menusuk dada, tangan kirinya mendorong dengan pukulan
ke arah pusar, dan kaki kanannya telah siap menyusulkan tendangan!
Sekarang Bun
Beng tidak menggunakan cara mengelak seperti tadi. Dengan ilmu baru menundukkan
angin taufan, tubuhnya yang tadinya miring, dengan kaki kanan di depan itu, ia
pindahkan kaki dan tenaga pada kaki kiri, lalu kedua tangannya diangkat ke atas
seolah-olah ia memegangi tali-temali layang-layang dan tubuhnya meloncat ke
atas tinggi sekali sehingga pukulan dan tusukan lewat di bawah kakinya yang
ditekuk ke dada. Tendangan lawan menyusul, ia terima dengan kedua kakinya,
menginjak kaki lawan yang menendang dan meminjam tenaga ini ia ayun tubuhnya ke
atas dan meluncur ke depan melalui atas kepala lawan, kemudian membalik dan
memindahkan tenaga lagi ke kaki kiri yang turun menginjak lawan.
"Plakk!
Augghhhh...!" pundak kanan Tan-siucai terkena injakan kaki Bun Beng,
lumpuh rasa seluruh lengan kanannya dan pedang hitam itu terlepas. Bun Beng
cepat turun menyambar dan pedang hitam telah berada di tangannya!
Tan-siucai
membalik dan matanya merah saking marahnya memandang Bun Beng yang kini
tersenyum-senyum memegang pedang hitam! Ia girang sekali karena dengan ilmu
barunya itu ia berhasil! Pemuda ini memang cerdik sekali sehingga dia dapat
menggunakan ilmu baru yang bagi orang lain tentu hanya dapat dipergunakan untuk
mengendalikan layang-layang melawan angin taufan itu untuk melawan musuh yang
lihai.
Sambil
tersenyum, ia lalu menubruk maju dan menyerang Tan-siucai dengan pedang hitam.
Tan-siucai memekik, tangan kirinya bergerak dan sinar putih yang amat terang
menyilaukan mata berkelebat menangkis pedang.
"Cringggg!"
kini Bun Beng yang kaget bukan main karena pedang hitam rampasan itu telah
patah menjadi dua!
"Hok-mo-kiam...!"
Ia berseru keras, cepat menjatuhkan diri bergulingan karena pedang putih yang
kini berada di tangan lawan itu, setelah membabat patah pedangnya, sinarnya
masih terus menerjangnya!
Ia meloncat
bangun dan memandang dengan mata terbelalak. Tak salah lagi, tentu itulah
Hok-mo-kiam, pedang yang dibuat oleh Kakek Nayakavhira dan yang dicuri oleh
pemuda sinting ini bersama gurunya, Kakek Maharya! Gentar juga hati Bun Beng
menyaksikan pedang bersinar putih yang mengandung penuh wibawa mukjizat itu,
dan ia siap siaga berkelahi mati-matian, mengandalkan kelincahannya karena apa
artinya pedang buntung yang toh patah lagi kalau bertemu dengan Hok-mo-kiam?
Dia tahu
bahwa Pendekar Siluman dan mendiang Kakek Nayakavhira memberi nama Hok-mo-kiam
(Pedang Penakluk Iblis) pada pedang itu, yang khusus dibuat untuk menundukkan
Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis). Teringatlah ia akan sepasang pedang
bersinar kilat yang ia simpan di dalam goa rahasia di tempat tinggal para
pemuja Sun-go-kong.
"Kembalikan
pedang itu!" Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Kwi Hong telah
meninggalkan Kakek Maharya, menyerang Tan-siucai dengan pedang di tangannya.
Serangan yang hebat sekali, dilakukan dengan tubuh masih melayang di udara,
dengan kecepatan seperti kilat menyambar didorong oleh tenaga sinkang yang kuat
sekali.
Biar pun
otaknya sinting, Tan-siucai mengenal serangan maut. Dia lalu menggeser kaki ke
kiri, menggerakkan pedangnya menangkis sambil mendorongkan tangan kirinya untuk
mencegah dara perkasa itu memukulnya.
"Trangggg!"
Tampak bunga api muncrat dan Tan-siucai memekik kaget, pedangnya terlepas akan
tetapi cepat-cepat ia sambar kembali karena gadis itu tidak sempat menyerangnya
lagi.
Ternyata
bahwa kini Kwi Hong juga hanya memegang sebatang pedang buntung, persis seperti
yang dialami Bun Beng. Dengan mata terbelalak, Kwi Hong memandang pedangnya dan
diam-diam ia merasa amat kagum akan keampuhan Hok-mo-kiam yang dibuat oleh
Kakek Nayakavhira itu. Pedangnya adalah pemberian pamannya, sebatang pedang
pusaka yang cukup ampuh, namun sekali bertemu dengan Hok-mo-kiam menjadi patah!
Padahal sudah jelas bahwa dia menang tenaga dan pedang di tangan Tan-siucai itu
sampai terlepas. Ia makin marah dan penasaran, bertekad untuk merampas kembali
pedang yang dulu dicuri oleh orang itu. Tubuhnya menerjang maju dengan
pukulan-pukulan kilat yang biar pun Tan-siucai memegang sebatang pedang pusaka,
akan berbahaya sekali bagi sastrawan sinting itu.
"Plakkkk!"
Pukulan Kwi Hong tertangkis oleh tangan Maharya yang bersarung tangan. Kiranya
kakek ini sudah meloncat meninggalkan Kwi-bun Lo-mo untuk melindungi muridnya,
terutama menjaga agar pedang pusaka itu tidak terampas lawan.
"Ho-ho-ho,
kau hendak lari ke mana, dukun keparat?" Kwi-bun Lo-mo tertawa dan
melompat pula mengejar.
Kini pertandingan
menjadi kacau-balau dan akhirnya kini Bun Beng dan Kwi-bun Lo-mo mengeroyok
Maharya, sedangkan Kwi Hong masih bertanding melawan Tan-siucai. Karena maklum
bahwa gadis itu berbahaya sekali, Tan-siucai memutar pedangnya dan berlindung
di balik gulungan sinar pedang. Benar saja, sinar pedang itu demikian hebat dan
mengandung wibawa yang amat kuat sehingga biar Kwi Hong lihai, gadis ini tidak
berani sembrono mendesak maju, melainkan berusaha mencari lowongan tanpa
terancam sinar pedang yang ia tahu amat ampuh.
"Nona
yang perkasa! Bun Beng, mundur!" Tiba-tiba Kwi-bun Lo-mo berteriak keras
dan terdengarlah ledakan disusul membubungnya asap hitam yang tebal,
menggelapkan keadaan di situ. Ternyata kakek Pulau Neraka ini telah melempar
sebuah senjata rahasia khas Pulau Neraka, senjata peledak yang mengeluarkan
asap hitam beracun.
Kwi Hong dan
Bun Beng melompat mundur, melihat betapa di tempat berdirinya dua orang lawan
itu kini tertutup oleh asap hitam. Ketika asap membuyar tertiup angin dan
mereka memandang, ternyata Tan-siucai dan Maharya telah lenyap dari tempat itu,
tanpa meninggalkan bekas.
Kwi-bun
Lo-mo mengerutkan alisnya, mengomel. "Sialan! Mereka benar-benar sangat
lihai mampu menyelamatkan diri dari asap beracun. Dukun India itu benar-benar
merupakan lawan yang lebih tangguh dari pada dukun penunggang gajah.
Hayaa...!"
Kwi Hong
melangkah maju dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek itu.
"Tua bangka lancang! Kenapa kau melenyapkan mereka?"
Tanpa
menanti jawaban, dengan pedang buntungnya Kwi Hong menyerang Kwi-bun Lo-mo.
Serangannya hebat sekali dan pedang buntungnya itu masih amat berbahaya,
membabat ke arah perut kakek itu yang tentu akan tersayat robek kalau-kalau
sampai terkena.
"Aihhhh...!"
Kwi-bun Lo-mo meloncat ke belakang dengan mata terbelalak dan balas menyerang
sambil memaki, "Gadis liar, siluman galak!"
Kwi Hong
miringkan tubuhnya dan membabat ke arah lengan yang memukulnya, akan tetapi
kakek itu dapat menarik kembali lengannya.
"Tahan...!"
Bun Beng berseru. "Nona Kwi Hong, dia bermaksud membantumu!"
"Membantu
apa? Dia... ah, mukanya berwarna, dia tentu iblis dari Pulau Neraka!"
"Hemm,
memang aku dari Pulau Neraka, habis kau mau apa?" Kakek itu menantang
dengan marah.
"Aku
mau membasmi orang-orang Pulau Neraka, dan engkau lebih dulu!" Kembali Kwi
Hong menyerang.
"Iblis
betina tak tahu diri!" Kwi-bun Lo-mo mengelak lagi.
Diam-diam
dia terkejut karena biar pun pedangnya sudah buntung, nona ini merupakan lawan
yang tangguh sekali. Gerakannya amat cepat, ilmu pedangnya aneh dan tenaga
sinkang-nya sangat kuat, dapat diduga dari suara bercuitan ketika pedang
buntung itu menyambar. Terpaksa dia mencelat lagi ke kanan untuk menghindar.
"Tahan!
Locianpwe, dia itu adalah murid Pendekar Siluman, To-cu dari Pulau Es!"
Bun Beng berseru.
"Apa...?"
Muka kakek itu berubah, matanya terbelalak. "Be... betulkah...?"
"Aku
mengenalnya, masa membohong?"
Kwi Hong
makin marah dan menuding dengan pedang buntungnya. "Kakek sialan! Apa kau
pura-pura tidak mengenal aku yang pernah kalian culik ke Pulau Neraka?"
Kakek itu
menggelengkan kepala. "Aku mendengar akan peristiwa itu, akan tetapi aku
sedang merantau keluar pulau, tidak tahu... maaf... aku tak berani mengganggu
murid Pendekar Siluman tanpa seijin To-cu kami..."
"Tidak
peduli, kau harus mampus!" Kwi Hong menyerang lagi.
Kwi-bun
Lo-mo meloncat jauh ke belakang, kemudian melarikan diri! Kakek ini pernah
merasai kelihaian Pendekar Siluman ketika ia bertanding melawan Nayakavhira,
maka kini mendengar bahwa gadis ini murid pendekar sakti itu, dia menyangka
bahwa tentu Pendekar Siluman berada pula di situ. Pula tanpa seijin To-cu,
majikannya, mana dia berani mengganggu murid Majikan Pulau Es?
Kwi Hong
hendak mengejar, akan tetapi Bun Beng meloncat menghadang dan berkata,
"Sudahlah, Nona, perlu apa mengejar orang yang tidak mau melawan? Dahulu
pun Pamanmu tidak mengejarnya."
Kwi Hong
berhenti, karena maklum bahwa dia pun tak dapat menyusul kakek yang lari
seperti terbang cepatnya itu, apa lagi kalau ia ingat bahwa kakek itu memiliki
senjata rahasia peledak yang mengandung asap beracun berbahaya.
"Hemmm,
aku mengenalmu sekarang," katanya sambil memandang wajah pemuda itu.
"Engkau Gak Bun Beng..."
Bun Beng
menjura sambil tersenyum. "Kuharap selama ini Nona dalam keadaan baik.
Kulihat bahwa Nona telah mewarisi ilmu kepandaian hebat dari Pamanmu.
Selamat!"
"Engkau
mengejek?" Kwi Hong membentak marah.
Bun Beng
melongo dan memandang dengan mata terbelalak. Kenapa Nona ini marah-marah? Dia
menggelengkan kepala tanpa dapat menjawab.
"Engkau
pasti mengejek, ya? Karena aku tidak mampu merampas kembali pedang itu, karena
pedangku patah, karena aku tidak mampu membunuh kakek Pulau Neraka!"
Pandang mata itu seperti mengeluarkan api yang menyerang Bun Beng.
Bun Beng
mundur ketika dara itu melangkah maju dengan muka merah saking jengkel oleh
kegagalannya.
"Hayo
katakan engkau mengejekku, biar aku mempunyai alasan untuk menyerangmu!"
"Tidak!
Tidak...! Wah, siapa mengejek, Nona? Sama sekali aku tidak mengejek. Bukan
salahmu kalau pedang Nona patah, dan kalau tidak dibantu gurunya, kakek India
itu, tentu Si Siucai gila sudah mampus olehmu dan pedangnya terampas."
Mendengar
kata-kata ini, agak berkurang kemarahan Kwi Hong. Ia membanting kaki dan
memandang pedangnya yang buntung, lalu membantingnya ke atas tanah sambil
mengomel. "Sialan! Tentu Paman akan marah kepadaku karena pedang
ini!"
Melihat
wajah cantik jelita yang menjadi merah, mata yang membayangkan penyesalan dan
kedukaan besar, hati Bun Beng tergerak. Teringatlah ia akan sepasang pedang
yang ditinggalkannya di goa rahasia di tempat para pemuja Sun-go-kong, maka
serta merta ia berkata, "Harap Nona jangan berduka, aku mempunyai sepasang
pedang pusaka yang hebat, bahkan yang diperebutkan oleh seluruh tokoh
kang-ouw."
"Sepasang
pedang yang di... Pedang Iblis?" Kwi Hong memotong, matanya terbelalak,
kedukaannya lenyap seketika.
Bun Beng
mengangguk. "Agaknya benar Sepasang Pedang Iblis yang kudapatkan secara
kebetulan sekali. Kini kusimpan di dalam goa rahasia. Kalau Nona suka, akan
kuberikan sebatang kepada Nona, yang pendek. Pedang itu mengeluarkan sinar
kilat yang mendirikan bulu roma sehingga aku tidak berani mencabut seluruhnya,
agaknya tidak kalah ampuh oleh pedang yang dicuri Tan-siucai tadi."
"Benarkah
itu? Paman juga lagi mencari-cari pedang itu! Benarkah akan kau berikan
kepadaku?" Sikap Kwi Hong telah berubah sama sekali, agaknya dia tidak
ingat lagi akan kemarahan dan kedukaan hatinya. Wajahnya berseri dan sepasang
matanya mengeluarkan cahaya, amat indah seperti sepasang bintang pagi dalam
pandangan Bun Beng.
"Benar,
Nona. Pedang itu sepasang, boleh untukmu sebatang dan untukku sebatang."
Tiba-tiba
wajah yang cerah itu kembali agak muram oleh berkerutnya sepasang alis yang
hitam kecil melengkung itu. "Bun Beng, bagaimana engkau bisa mendapatkan
Siang-mo-kiam? Seluruh dunia kang-ouw mencari dan memperebutkannya. Bagai mana
tiba-tiba kau bisa mengatakan kepadaku bahwa engkau menemukan pedang-pedang
itu?" Dalam pertanyaan ini terkandung keraguan dan ketidak percayaan.
"Aku
mendapatkannya secara kebetulan saja, Nona. Terjadinya ketika aku terjatuh ke
dalam pusaran maut di Sungai Huang-ho."
Dengan singkat
Bun Beng menceritakan semua pengalamannya, akan tetapi sengaja dia tidak
menyebutkan tempat ia menyimpan sepasang pedang itu, juga tidak tentang kitab
Sam-po-cin-keng. Kwi Hong mendengarkan dengan alis berkerut.
"Jadi
ketika kita saling bertemu itu engkau telah menemukan Siang-mo-kiam?"
"Benar,
aku tidak sempat bercerita, lagi pula pada waktu itu memang aku hendak
merahasiakannya dari siapa pun juga."
"Hemmm,
kalau begitu, mengapa kini mendadak engkau ingin memberikan sebatang kepadaku?
Apa sebabnya?" Sambil berkata demikian, Kwi Hong memandang dengan sinar
mata tajam penuh selidik.
Bun Beng
kagum bukan main. Ahhh..., mata itu... bukan kepalang indahnya! Sejenak ia
menentang pandang mata itu penuh kagum, namun sinar mata itu seperti sepasang
pedang iblis sendiri yang menusuk, menembus mata sampai ke jantung! Terpaksa ia
menundukkan pandang matanya.
"Mengapa...?
Aihhh, tak terpikir olehku... hemmm, agaknya karena melihat pedangmu patah,
Nona. Karena melihat engkau berduka tadi..."
"Heh,
omong kosong! Mengapa mendadak engkau menaruh perhatian seperti itu kepadaku?
Apa hubungannya kedukaanku denganmu? Engkau merasa kasihan? Alasan yang dangkal
dan kosong!" Kembali di dalam suaranya terkandung kecurigaan dan ketidak
percayaan.
Cepat Bun
Beng membantah. "Tidak! Tidak hanya itu, Nona. Sesungguhnya... pertama
karena Nona telah menyelamatkan nyawaku tadi. Kalau tidak Nona keburu turun
tangan, bukankah aku akan mati terjatuh dari atas kalau tali layangan itu
diputus oleh kakek tadi? Untuk membalas budi Nona yang telah menyelamatkan
nyawaku, apa artinya pemberian sebatang pedang? Pula, kedua memang aku merasa
amat kagum kepada Paman Nona, dan satu-satunya orang di dunia ini yang aku
ingin agar pedang yang diperebutkan itu dimilikinya, adalah Paman Nona,
Pendekar Super Sakti. Maka, kebetulan sekali aku bertemu dengan Nona, bahkan
Nona telah menolongku sehingga ada alasan bagiku untuk menyerahkan
pedang."
Kwi Hong
mengangguk-angguk, wajahnya kembali cerah dan ia mulai percaya kepada Bun Beng.
Pemuda ini girang sekali menyaksikan perubahan wajah itu, memandang penuh kagum
wajah cantik jelita yang matanya menunduk itu. Tiba-tiba wajah itu diangkat,
pandang mata mereka saling bertaut dan dengan jantung berdebar Bun Beng melihat
betapa alis yang bagus itu kembali dikerutkan, lalu terdengar suara gadis itu
membentak marah.
"Aku
tidak percaya kepadamu!"
Mula-mula
Bun Beng tertegun, lalu menarik napas panjang, wajahnya membayangkan kekesalan
dan kedukaan hati. "Hemm, agaknya Nona curiga kepadaku?"
"Siapa
tahu kalau-kalau engkau ini amat licik, curang dan sengaja hendak
menipuku?"
Bun Beng
merasa jantungnya perih seperti ditusuk pedang. Dia mengangguk dan menjawab,
"Aku mengerti, Nona. Tentu Nona curiga kepadaku mengingat bahwa aku adalah
anak seorang tokoh hitam yang amat licik dan curang. Sudah banyak aku mendengar
makian itu."
"Tidak
peduli! Aku tidak mengatakan begitu dan tidak berpikir begitu. Hanya siapa mau
percaya kepada seorang yang telah gulang-gulung bergaul dengan seorang iblis
Pulau Neraka? Engkau datang bersama dia, tentu sahabat baiknya, atau siapa tahu
engkau sudah menjadi anggota Pulau Neraka. Mereka adalah iblis-iblis kejam,
tentu engkau juga bukan orang baik-baik. Bagaimana aku dapat percaya?"
Lega hati
Bun Beng. Nona ini satu-satunya orang yang tidak menyinggung ayahnya. Alasan
yang diucapkan untuk kecurigaannya memang tepat. Maka ia cepat-cepat menuturkan
pengalamannya semenjak ia ditawan oleh Thian-liong-pang sampai berhasil lolos,
dikeroyok ikan, diterkam rajawali yang kemudian bertempur melawan garuda dan
akhirnya terlepas.
"Ketika
melayang jatuh itulah aku tersangkut pada tali layang-layang yang dikemudikan
oleh kakek Pulau Neraka itu. Baru pertama itulah aku berkenalan dengan dia dan
kami sama-sama turun setelah terhindar dari angin taufan dan terancam maut oleh
kakek India yang akan memutus tali. Untung Nona muncul dan menyerangnya."
Penuturan
Bun Beng yang amat luar biasa seperti terjadi dalam dongeng itu membuat Kwi
Hong melongo.
"Wah-wah...
hebat sekali pengalamanmu!" Ia duduk di atas rumput. "Engkau menjadi
tawanan Thian-liong-pang? Bukan main! Dan berhasil lolos? Eh, ceritakanlah, Bun
Beng. Bagaimana kau bisa lolos dari Thian-liong-pang yang terkenal sekali amat
kuat itu? Aku mendengar banyak orang pandai dan sakti di sana, bahkan tidak
kalah saktinya oleh orang-orang Pulau Neraka!"
Melihat
wajah itu betul-betul sudah percaya kepadanya, sudah cerah dan bekas-bekas
kecurigaan dan ketidak-percayaan tidak tampak lagi, Bun Beng duduk pula di atas
rumput. Mereka duduk berhadapan, bercakap-cakap dan merasa seperti telah menjadi
sahabat lama.
Dengan terus
terang Bun Beng menceritakan pengalamannya ketika berusaha menolong Ketua
Bu-tong-pai dan melihat tokoh-tokoh kang-ouw itu diadu oleh Ketua
Thian-liong-pang untuk dicuri jurus simpanan mereka yang terpaksa digunakan
dalam pertandingan itu. Kemudian betapa dia diaku sebagai cucu keponakan Si
Muka Singa dan akan dijadikan anggota. Akan tetapi ia menolak dan akhirnya di
jebloskan dalam penjara di bawah tanah.
"Sama
sekali aku tidak tahu bahwa dinding itu menembus ke sungai yang besar di mana
banyak terdapat ikan raksasa yang hampir saja membunuhku. Kalau tahu begitu,
agaknya belum tentu aku berani membobol dinding itu. Heran, sungai apakah
itu?"
Kwi Hong
yang tertarik sekali berkata. "Apakah kau tidak tahu? Kini kita berada di
lembah Sungai Huang-ho, dan sarang Thian-liong-pang berada di kota Cie-bun, di
sebelah utara kota Cin-an. Sudah lama aku mendengar akan perbuatan
Thian-liong-pang menculik orang-orang kang-ouw. Sayang Paman melarang aku
bentrok dengan orang Thian-liong-pang, kalau tidak, tentu aku akan menyerbu ke
sana. Hemm... kalau Paman mendengar bahwa orang-orang kang-ouw itu diculik
untuk dicuri ilmu mereka tentu Paman akan tertarik sekali. Eh, Bun Beng, di
manakah adanya goa rahasia di mana engkau menyembunyikan Siang-mo-kiam?"
"Aku
tidak tahu namanya, hanya aku tahu jalan ke sana kalau sudah melihat bentuk
gunungnya. Kalau tidak salah, dekat dengan laut karang ketika aku dibawa
terbang burung rajawali yang kemudian bertanding dengan burung garuda yang
kunaiki itu, dan aku terlepas ke bawah, aku jatuh ke dalam laut."
Kwi Hong
memutar otaknya. "Hmm, tentu di Laut Utara. Mari kita cari ke sana. Sayang
burung kami telah dibunuh oleh siucai sinting dan gurunya, kalau tidak, tentu
dengan mudah kita bisa mencari sambil menunggang pek-eng."
"Apakah
tidak ada garuda putih lagi di Pulau Es? Aku tadi melihat burung garuda putih
menyerang rajawali yang mencengkeramku."
"Benarkah?
Tentu burung garuda liar. Kami tidak mempunyai garuda lagi. Aku baru saja
keluar dari Pulau Es, baru mendapat ijin dari Paman setelah berulang-ulang aku
minta supaya diijinkan merantau. Aku ingin ke kota raja mencari dan menengok
makam Ibuku. Akan tetapi sekarang bertemu denganmu, sebaiknya kita mencari
Siang-mo-kiam, baru akan pergi ke kota raja. Marilah kita berangkat sebelum
gelap, Bun Beng."
"Baiklah,
Nona."
Mereka
bangkit dan Kwi Hong berkata mencela. "Jangan sebut Nona, kenapa kau
begini merendah? Menjemukan benar!"
"Habis,
aku harus menyebut apa?"
"Apa
kau tidak tahu namaku? Kalau kau mau bersahabat denganku, jangan merendah
seolah-olah engkau ini orang bawahanku di Pulau Es. Sebut saja namaku!"
"Baiklah...
Kwi Hong." Hati Bun Beng girang sekali.
Dara ini
cantik menarik dan membuat hatinya berdebar aneh, membuat ia ingin selalu
berdekatan dan bercakap-cakap dengannya. Pula, gadis inilah satu-satunya orang
yang tidak menyebut-nyebut tentang kejahatan ayahnya. Dan yang lebih dari semua
itu, gadis ini adalah murid dan keponakan Pendekar Super Sakti, orang yang
dikagumi dan dipuja di dalam hati.
"Tempat
itu dahulu kutemukan setelah aku terjatuh ke dalam pusaran maut di Sungai
Huang-ho, sebuah gunung yang aneh dan terletak dekat laut. Tentu tidak jauh dari
muara sungai. Sebaiknya kita mencari jejak mulai dari pulau di tengah muara
sungai, dari mana aku terlempar dan jatuh ke dalam pusaran maut."
"Baik,
memang mestinya begitu. Kalau tidak dapat menemukan tempat itu melalui darat,
kita harus mengikuti jejakmu dahulu melalui pusaran maut."
Bun Beng
terbelalak. "Apa...? Wah, itu berbahaya sekali, Kwi Hong!"
Gadis itu
memandangnya dan menggeleng kepala. "Engkau pun tidak mati, bukan? Nah,
kalau di waktu masih kecil dahulu saja bisa sampai di tempat itu melalui
pusaran maut dengan selamat, mengapa sekarang tidak?"
"Ah,
dahulu lain lagi. Aku terlempar ke sana bukan atas kehendakku, dan aku setengah
pingsan ketika terbawa pusaran, agaknya memang Tuhan tidak menghendaki aku mati
di waktu itu. Kalau sekarang aku harus terjun ke sana, hiiiiiih... ngeri
sekali, aku tidak berani."
Kwi Hong
cemberut. "Kalau kau tidak berani, aku berani! Pedang Siang-mo-kiam itu
terlalu penting untuk dibiarkan di tempat itu. Terlalu berharga untuk dicari
dengan taruhan nyawa. Kalau bisa kudapatkan dan kuperlihatkan kepada Paman,
tentu dia akan girang sekali karena Paman pernah bilang bahwa kalau sepasang
pedang iblis itu sampai muncul di dunia dalam tangan orang-orang sesat, sukar
untuk ditundukkan dan dunia pasti akan kacau balau dan kejahatan merajalela.
Nah, kau tahu betapa besar artinya kedua pedang itu, dan betapa pentingnya
untuk didapatkan kembali."
Mereka mulai
melakukan perjalanan dan Kwi Hong yang menjadi penunjuk jalan sampai mereka
tiba di tepi Sungai Huang-ho. Akan tetapi malam sudah tiba ketika mereka sampai
di tepi sungai.
"Kita
bermalam di tepi sungai ini, besok baru kita melanjutkan," kata gadis itu.
Bun Beng
lalu mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun. Tepi sungai itu sunyi
senyap, akan tetapi menyenangkan sekali bagi Bun Beng. Tempatnya bersih,
tanahnya tertutup rumput hijau seperti permadani, pohon-pohon dan bunga-bunga
mendatangkan bau yang sedap dan segar, dan bulan hampir bulat muncul tak lama
kemudian, membuat tempat itu menjadi indah, romantis, dan menyenangkan. Tentu
saja ia tidak sadar bahwa yang membuat keadaan menjadi demikian indah adalah
hadirnya Kwi Hong karena kalau tidak ada gadis itu di sana, belum tentu tempat
sunyi ini akan tampak seindah malam itu!
Mereka duduk
menghadapi api unggun. Enak dan nyaman, hangat. Bun Beng duduk melamun, merasa
betapa selama hidupnya, baru sekarang inilah dia dapat mengalami kebahagiaan,
merasa betapa senangnya hidup!
"Eh,
Bun Beng, kenapa kau melamun saja?"
Bun Beng
terkejut dan sadar dari lamunannya yang mengangkatnya ke angkasa. Ia memandang
dan tidak dapat menjawab karena sepasang mata yang terkena sinar api unggun itu
kelihatan begitu indah dan tajam berkilau.
"Apa
perutmu tidak lapar?" Gadis itu bertanya saat melihat pemuda itu hanya
melongo.
Mendengar
ini, kontan perut Bun Beng berbunyi, seolah-olah menjawab pertanyaan itu.
Dengan gugup ia menekan perut dengan tangannya sambil memaki dalam hati kepada
perutnya yang tak tahu malu. Memang ia merasa lapar sekali. Apa lagi hawa
begitu nyaman, pemandangan begitu indah, membuat perut yang kosong terasa
sekali.
"Heiiii!
Bagaimana?" Gadis itu kembali bertanya sambil menahan geli hatinya karena
telinganya yang berpendengaran tajam dapat menangkap perut yang berkokok tadi.
"He?
Apa?" Bun Beng bertanya gugup, masih merasa malu oleh perutnya.
"Lapar
tidak?"
"Lapar
sekali, Kwi Hong, tapi... makan apa...?"
"Betapa
bodohnya! Ikan berkeliaran di dalam sungai masih bertanya makan apa?"
Bun Beng
teringat dan meloncat bangun. "Tepat sekali! Mengapa aku begitu bodoh dan
pelupa? Ikan-ikan yang mengeroyokku siang tadi! Aku harus membalas dendam,
setidaknya harus kutangkap seekor, kupanggang sampai matang dan kita ganyang
dagingnya!" Setelah berkata demikian, ia lari ke pinggir sungai dan
langsung meloncat ke sungai.
"Byurrrrrr!"
Air muncrat tinggi dan Kwi Hong terbelalak, kemudian tertawa terpingkal-pingkal
dan menggeleng-geleng kepala.
"Sungguh
orang aneh," gumamnya sambil berdiri di pinggir sungai menonton Bun Beng
yang menyelam hendak menangkap ikan begitu saja dengan kedua tangan, lengkap
dengan pakaiannya, bahkan sepatunya tidak dicopot!
Akan tetapi
ia kagum sekali ketika tak lama kemudian Bun Beng sudah muncul lagi, memondong
seekor ikan yang besarnya sebantal dan melemparkan ikan itu ke darat! Ikan itu
menggelepar-gelepar di darat dan Bun Beng sudah berenang ke pinggir lalu
mendarat pula, tersenyum lebar, pakaiannya basah kuyup, air menetes-netes dari
seluruh pakaiannya, rambutnya pun basah kuyup dan kuncirnya melibat leher.
"Aihh,
ikan sebesar ini mana bisa kita habiskan? Dan bagaimana pula membersihkan isi
perutnya. Kaulah yang melakukannya itu, nanti aku yang memanggangnya."
"Jangan
khawatir, Kwi Hong. Kalau tidak ada pisau, batu karang pun cukup tajam dan
runcing."
Dengan
gembira Bun Beng lalu mencari batu karang yang keras, menghampiri ikan. Sekali
pukul dengan batu pecahlah kepala ikan itu dan ia segera membelah perut ikan
dengan batu yang tajam, membuang isi perutnya ke sungai dan membersihkan kulit
ikan yang tak bersisik itu dengan gosokan batu karang.
Kwi Hong
sudah menyediakan sebuah ranting, menusuk ikan besar itu dari mulut sampai
menembus ekor, kemudian memanggangnya di atas api unggun sambil menanti Bun
Beng mencuci tangannya ke air sungai. Setelah pemuda itu duduk dekat api, dia
mencela.
"Kau
ini aneh sekali, mengapa menangkap ikan begitu saja dengan memakai pakaian
lengkap? Lihat, pakaian dan sepatumu basah kuyup, tentu dingin sekali.
Sebaiknya kau buka dan peras pakaianmu, panggang dekat api biar kering."
Muka Bun
Beng tiba-tiba berubah merah. Bagaimana dia bisa menanggalkan pakaian di depan
gadis itu? "Biarlah, diperas begini pun bisa, dan kalau aku duduk dekat
api, sebentar juga kering."
Ia memeras
rambut dan pakaiannya, melepas sepatunya dan menggeser duduknya dekat api.
Beberapa kali Kwi Hong melirik kepadanya dengan pandang mata penuh rasa heran.
Pemuda ini aneh sekali. Kadang-kadang pendiam dan canggung, akan tetapi
gerak-geriknya amat menarik hatinya.
Bau sedap
daging ikan dipanggang menusuk hidung, langsung merangsang selera mulut dan
menambah lapar perut. Setelah matang, kedua orang itu lalu menyerbu daging ikan
yang terasa sedap dan gurih sekali. Hanya separuh termakan oleh mereka.
Terpaksa sisanya mereka buang lagi ke sungai.
"Sayang
air sungai begitu kotor, bagaimana bisa minum?" Kwi Hong bertanya sambil
mencuci tangannya yang penuh minyak ikan, juga mengusap bibirnya dengan air
sungai, kemudian menggosoknya dengan sapu tangan.
"Aku
akan mencari buah!" Sambil berkata demikian, Bun Beng meloncat dan lari
pergi, mencari-cari pohon yang ada buahnya. Sampai jauh ia meninggalkan tepi
sungai itu dan untung bahwa bulan bersinar terang sehingga akhirnya setelah
payah mencari-cari, ia datang lagi membawa beberapa butir buah yang sudah
masak.
Kemudian,
keduanya duduk menghadapi api unggun yang menjadi makin besar setelah ditambah
daun kering dan kayu oleh Kwi Hong. Hawa yang hangat, perut yang kenyang,
membuat gadis itu merasa mengantuk dan ia menguap di belakang telapak
tangannya.
"Ahh,
aku ingin tidur. Bun Beng, kau berjagalah dulu, sambil mengeringkan pakaianmu.
Nanti aku giliran menjaga dan kau tidur. Di tempat seperti ini, apa lagi baru
saja kita bertemu dengan siucai sinting dan gurunya, tidak boleh kita berdua
tidur semua tanpa ada yang menjaga."
"Baik,
kau tidurlah, Kwi Hong. Aku tidak mengantuk dan aku akan menjagamu."
Kwi Hong
mundur agak menjauhi api unggun, kemudian merebahkan dirinya, miring
menghadapkan mukanya ke api unggun dan memejamkan kedua matanya. Bun Beng kini
berani menatap wajah itu sepuas hatinya. Entah mengapa dia sendiri tidak
mengerti, menyaksikan wajah yang kemerahan, dengan rambut yang agak mawut dan
sebagian terurai menutup pipi dan dahi, melihat bulu mata yang menjadi panjang
dan tebal membentuk bayang-bayang di pipi, hidung yang mancung dan cupingnya bergerak
sedikit ketika bernapas dalam-dalam, bibir yang merah dan mengkilap terkena
minyak daging ikan, ia merasa terharu sekali.
Ia
membandingkan wajah ini dengan wajah Ang Siok Bi, puteri Ketua Bu-tong-pai yang
pernah menarik hatinya. Keduanya sama cantik dan memiliki daya tarik
masing-masing. Akan tetapi, melihat Kwi Hong tertidur tak jauh di depannya, ia
harus mengaku bahwa Kwi Hong lebih cantik jelita. Teringatlah ia betapa dalam
keadaan menghadapi maut, hanya tiga wajah orang yang terbayang olehnya. Wajah
Kwi Hong, wajah Siok Bi dan wajah Milana! Akan tetapi, ketika itu ia
membayangkan wajah Kwi Hong dan Milana di waktu mereka masih kecil. Betapa jauh
perbedaannya setelah ia bertemu dengan Kwi Hong sekarang, demikian cantik dan
menarik.
Di dalam
batin tiba-tiba Bun Beng mengutuk diri sendiri. Mengapa ia membayangkan wajah
wanita-wanita cantik? Celaka, inikah yang membuat ayahnya dulu memperkosa
ibunya? Ia bergidik ketika merasa betapa ada hasrat di hatinya untuk memeluk
tubuh wanita yang berbaring di depannya itu, ingin mencium pipi itu, bibir itu!
Keparat! Ingin ia menghantam kepalanya sendiri, menghancurkan kepala yang
berisi pikiran busuk itu.

Apakah ia
mewarisi watak ayahnya? Tidak! Ayahnya telah disebut datuk kaum sesat, tentu
merupakan seorang yang sesat kelakuannya. Buktinya sampai memperkosa ibunya!
Dia tidak akan melakukan hal seperti itu! Biar pun dia tertarik akan
wanita-wanita cantik, dia akan memerangi perasaannya sendiri dan mencegah agar
jangan sampai ia melakukan perbuatan terkutuk! Ia harus memilih seorang di
antara mereka, bukan untuk diperkosa, bukan untuk dipermainkan, melainkan untuk
dijadikan isteri! Kwi Hong ini! Ah, betapa akan bahagia hatinya kalau ia dapat
memperisteri Kwi Hong.
Kwi Hong
mengeluh perlahan dan menghela napas panjang, agaknya mimpi. Keluhan lirih dan
helaan napas itu membuat dara itu tampak makin menarik sehingga Bun Beng
terpaksa membuang muka, tidak kuat memandang lebih jauh karena jantungnya sudah
berdenyut keras.
Memang tidak
dapat terlalu disalahkan kalau Bun Beng diamuk nafsu birahi dan cinta. Usianya
sudah cukup dewasa, sudah dua puluh dua tahun lebih. Dalam usia sebanyak itu
tentu saja timbul perasaan ini dan masih mengagumkan bahwa dia dapat menahan
diri kalau diingat bahwa sejak kecil dia tak pernah menerima pendidikan tentang
susila, tidak pernah menerima pendidikan ayah bunda sendiri.
Untung bahwa
ia digembleng oleh hwesio-hwesio Siauw-lim-pai sehingga batinnya cukup kuat,
biar pun darahnya, darah ayahnya yang panas membuat ia condong untuk melakukan
perbuatan menyeleweng. Namun, justeru nama buruk ayahnya membuat ia berkeras
hati untuk menebus semua kesalahan ayahnya dengan perbuatan baik, bukan justru
menambah kotor nama ayahnya dengan perbuatan seperti yang pernah dilakukan
ayahnya.
Betapa
bahagianya kalau ia dapat menjadi suami Kwi Hong, pikirnya lagi setelah hatinya
tenang dan dia berani lagi memandang wajah Kwi Hong. Gadis itu kini telah rebah
terlentang sehingga nampak tonjolan dadanya yang turun naik kalau bernapas
lembut. Bibir itu setengah terbuka, seperti tersenyum menantang!
Betapa
cantik jelitanya, betapa gagah perkasanya. Tadi pun sudah dia saksikan sendiri
betapa lihai gadis ini. Dia sendiri meragukan apakah dia akan mampu melawan Kwi
Hong. Betapa tidak gagah perkasa dan lihai kalau diingat bahwa dara ini adalah
keponakan dan murid Pendekar Super Sakti!
Tiba-tiba
Bun Beng tertegun dan mengerutkan alisnya. Keponakan Pendekar Siluman! Aihhh,
dia telah melamun terlalu jauh. Bagaimana mungkin dia dapat menjadi suami
keponakan Majikan Pulau Es? Mentertawakan! Dia, seorang anak yatim-piatu,
bahkan disebut anak haram, putera mendiang datuk kaum sesat yang disebut Setan
Botak, mana mungkin berjodoh dengan keponakan Majikan Pulau Es yang
berkedudukan tinggi?
"Aihhhh,
pikiran yang bukan-bukan," dia menarik napas panjang, berusaha mengusir
keinginan hati yang tak mungkin terpenuhi itu.
Ia memaksa
diri untuk mengalihkan keinginan hatinya. Bagaimana kalau Milana? Lebih tidak
masuk di akal! Tanpa disengaja, ia telah menyaksikan peristiwa hebat yang
mungkin menjadi rahasia Pendekar Siluman, Milana adalah puteri Pendekar Siluman
itu! Puterinya dari seorang ibu yang amat cantik dan amat sakti! Lebih tidak
mungkin lagi. Baik Kwi Hong, apa lagi Milana, tidak mungkin menjadi jodohnya.
Kedudukan mereka terlalu tinggi baginya, seperti merindukan bintang-bintang di
langit saja! Tinggal seorang lagi, Ang Siok Bi! Dia itulah yang tidak begitu
tinggi kedudukannya, akan tetapi hal ini kalau dibandingkan dengan Kwi Hong atau
Milana, kalau dibandingkan dengan dia, bahkan Siok Bi masih terlalu tinggi
untuknya. Puteri Ketua Bu-tong-pai! Aihh, dia mimpi di siang hari! Tidak ada
harapan seujung rambut pun!
"Dasar
engkau manusia tak tahu diri!" Bun Beng berbisik dan menjambak kuncirnya,
merasa terpukul dan rendah. Lama dia merenung memandang api unggun, diam-diam
mengeluh dan menyalahkan ayah bundanya yang telah tiada.
"Sudahlah,
aku manusia yang tiada harganya. Akan tetapi akan kubuktikan kepada mereka
semua, kepada dunia kang-ouw, bahwa walau pun ayahku seorang manusia yang
sejahat-jahatnya dan serendah-rendahnya, aku tidaklah serendah itu. Aku akan
membuktikan bahwa aku mampu melakukan hal-hal yang layak dilakukan seorang
pendekar besar!"
Pikiran ini
sedikitnya menghibur hatinya yang perih. Terhiburlah dia bahwa kini dia akan
menyerahkan sebuah di antara Siang-mo-kiam kepada murid dan keponakan Majikan
Pulau Es. Sepasang pedang itu diperebutkan oleh orang sedunia kang-ouw, bahkan
Pendekar Siluman sendiri mencari-cari tanpa hasil. Sekarang justru dia yang
berhasil menemukannya dan menyerahkan sebuah di antaranya kepada murid dan
keponakan Majikan Pulau Es, bukankah hal ini sudah merupakan jasa yang besar?
Dan dia akan melangkah lebih jauh lagi. Dia akan melakukan hal-hal yang besar,
biar pun saat itu dia belum tahu apa gerangan hal-hal yang besar itu.
Bun Beng
menambahkan kayu kering sehingga api unggun membesar. Pakaiannya sudah kering
dan ia merasa tubuhnya hangat. Malam telah amat larut, akan tetapi dia tidak
mau membangunkan Kwi Hong. Biarlah dia yang berjaga sampai pagi. Tidak tega dia
mengganggu gadis itu yang tidur dengan nyenyaknya. Ia bersandar pada batang
pohon, kadang-kadang menambah kayu pada api unggun, menjaga agar api itu tidak
padam.
Pada
keesokan harinya ketika terdengar kokok ayam hutan dan kegelapan malam mulai
terusir oleh sinar matahari pagi yang kemerahan, Kwi Hong bangun dari tidurnya.
Ia mengusap kedua matanya dan begitu membuka mata, melihat bahwa malam telah
berganti pagi, melihat pula Bun Beng masih duduk bersandar pohon dekat api
unggun, ia meloncat bangun dan membentak.
"Bun
Beng, kau terlalu sekali!"
Bun Beng
tersenyum, dia tidak merasa aneh lagi menyaksikan sikap gadis yang begitu mudah
berubah seperti angin ini, tiba-tiba saja marah, kemudian marahnya berganti
sikap ramah. Benar-benar seorang gadis yang penuh semangat berapi-api,
"Maaf, Kwi Hong, apakah salahku?"
"Masih
bertanya apa salahnya lagi! Enak-enak duduk semalam suntuk, membiarkan orang
tertidur sampai pagi. Mengapa tidak kau bangunkan aku agar aku berganti
melakukan penjagaan?"
"Aah,
tidak mengapa, Kwi Hong. Aku tidak mengantuk dan kau... tidurmu enak benar,
tidak tega aku membangunkanmu."
Gadis itu
memandang aneh. "Mengapa kau menyiksa diri untukku? Kau tidak tidur sama
sekali?"
Ucapan
‘karena aku cinta padamu’ sudah berada di ujung lidah Bun Beng, namun cepat
ditelannya kembali. "Aku duduk beristirahat sama dengan tidur. Urusan
kecil ini masa mesti dibesar-besarkan?"
"Biar
pun urusan kecil, akan tetapi aku tidak mau dikatakan tidak adil. Lain kali aku
tidak mau begini, engkau harus tidur lebih dulu. Kau membikin aku merasa tidak
enak saja!" Dengan uring-uringan Kwi Hong lalu pergi mencari sumber air
untuk mencuci muka. Setelah ia kembali, ia melihat Bun Beng sudah mencuci muka
di air Sungai Huang-ho.
"Mari
kita melanjutkan perjalanan," kata Kwi Hong dan berangkatlah mereka menuju
ke jurusan timur, ke arah muara Sungai Huang-ho. Tak lama kemudian Bun Beng
mengenal daerah di mana dahulu dia dan suhu-nya, mendiang Siauw Lam Hwesio, berperahu
menuju ke muara sungai. Peristiwa beberapa tahun yang lalu seperti terjadi
kemarin saja dan teringat akan nasib gurunya, mukanya menjadi berduka dan ia
menarik napas panjang.
"Mengapa
kau berduka?" Tiba-tiba Kwi Hong bertanya, tidak galak lagi seperti tadi
melainkan halus dan menaruh khawatir.
"Tiba-tiba
aku teringat pada mendiang Guruku, Siauw Lam Hwesio. Dia tewas secara
menyedihkan sekali." Dia lalu menceritakan tentang kematian gurunya di
tangan koksu negara dan kaki tangannya, lalu menutup ceritanya, "Aku harus
membalas kematian Suhu. Kelak aku harus mencari Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun
beserta tiga orang pembantunya yang ikut membunuh Suhu, Thian Tok Lama, Thai Li
Lama dan Bhe Ti Kong!"
Kwi Hong
mendengarkan penuh perhatian, kemudian menghela napas panjang. "Wah,
musuh-musuhmu bukanlah orang sembarangan. Menurut Paman, dua orang pendeta Lama
itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, apa lagi Im-kan Seng-jin! Lawan-lawan yang
amat berat dan sakti."
"Aku
tidak takut dan aku harus mencari mereka."
"Aku
pun tidak takut, hanya bilang bahwa mereka lihai. Kelak aku akan membantumu,
Bun Beng."
Bun Beng
menoleh dan mereka berpandangan. Melihat sinar mata penuh rasa syukur dan
berterima kasih dari pemuda itu, Si Dara membuang muka dengan perasaan jengah.
"Biar pun mereka bukan musuhmu, aku pun akan menentang mereka dan
Thian-liong-pang, juga Pulau Neraka!" katanya menambahkan, seolah-olah
hendak mengalihkan perhatian Bun Beng bahwa dia menentang mereka bukan
semata-mata untuk membantu Si Pemuda.
Mereka berjalan
terus, berjalan cepat karena mereka kini mempergunakan ilmu lari cepat setelah
Bun Beng mengatakan bahwa pulau di muara sungai itu tidak jauh lagi.
"Nah,
itu dia pulaunya, dan di sanalah pusaran maut itu!" Bun Beng berteriak
menuding dan mereka berlari cepat menghampiri pantai dari mana tampak pulau
kecil di tengah muara yang dahulu menjadi medan pertempuran. Dari pantai itu
tampak pula pusaran air dan Bun Beng masih bergidik ngeri melihat air
berputar-putar itu, teringat akan pengalamannya beberapa tahun yang lalu.
"Lihat,
Kwi Hong. Ketika terjadi pertandingan di pulau itu, aku terlempar dari atas
tebing itu, tepat jatuh di pusaran maut."
Kwi Hong
mengerutkan alisnya. "Hemmm..., dan setelah kau keluar dari lorong air kau
mendarat di lambung gunung katamu dahulu? Gunung yang dekat dengan muara ini
hanya sebelah sana itu. Kita harus menyeberang!"
Tempat itu
sunyi sekali, akan tetapi dari jauh tampak layar-layar perahu nelayan pencari
ikan. Bun Beng yang lebih senang kalau mencari pedang-pedang itu tidak melalui
pusaran air, cepat berlari ke bawah dan akhirnya dapat memanggil seorang tukang
perahu. Dengan biaya ringan mereka dapat diseberangkan oleh nelayan itu dan
melanjutkan perjalanan mendaki gunung karang yang sukar dilalui. Namun berkat
kepandaian mereka, mereka dapat juga mendaki dan setelah tiba di sebuah puncak
batu karang yang tinggi, Bun Beng meloncat naik dan memandang ke sekeliling,
mencari-cari.
Akhirnya ia
berseru girang. "Nah, di sana itu agaknya, di seberang jurang lebar itu.
Benar, tidak salah lagi, itu yang tampak seperti gerombolan tentulah
hutan-hutan di mana mereka mencari akar dan daun obat! Dari sanalah aku
diterbangkan rajawali. Nah, sungai berada di sana dan gunung yang puncaknya
tinggi itulah tempat aku melayang... ahhh, tidak salah lagi. Mari kita ke
sana!"
Akan tetapi,
kegirangan Bun Beng yang mengenal tempat itu harus ditebus mahal sekali untuk
menjadi kenyataan. Perjalanan amat sukar. Kadang-kadang mereka harus menuruni
jurang yang amat dalam, melalui perjalanan yang curam dan kadang-kadang mereka
harus mendaki batu karang yang runcing tajam mengakibatkan luka-luka pada
telapak tangan. Sepatu mereka juga pecah-pecah.
Malam itu
terpaksa mereka harus bermalam di antara batu-batu karang gundul dan terpaksa
melalui malam dingin sekali tanpa api unggun karena di daerah di mana mereka
bermalam itu tidak terdapat sepotong pun kayu. Juga perut mereka lapar bukan
main, namun semangat mereka tetap tinggi. Kini Kwi Hong memaksa Bun Beng supaya
tidur lebih dulu, akan tetapi betapa mendongkol dan menyesal hati Bun Beng
ketika dia terbangun, ternyata hari telah menjadi pagi dan dara itu ‘membalas
dendam’ tidak mau membangunkannya dan berjaga semalam suntuk. Ia mendongkol dan
juga terharu sekali. Mereka baru saja melakukan perjalanan yang melelahkan
namun gadis itu bersikeras berjaga semalam suntuk.
"Aihh,
Kwi Hong. Mengapa kau begini sungkan, sedangkan kita telah menjadi sahabat dan
mengalami kesukaran bersama?"
"Tidak
akan puas hatiku kalau belum membalas. Aku paling tidak suka kalau merasa diri
tidak adil. Setelah membalas, tentu saja hatiku lega dan lain kali kau harus
tidak bersikap mengalah dan sungkan pula seperti yang kau lakukan malam
kemarin."
Mereka
melanjutkan perjalanan. Makin dekat tempat itu, makin yakinlah hati Bun Beng
bahwa dia tidak keliru. Lewat tengah hari, kedua orang muda ini mendaki tebing
tinggi menuju ke daratan di atas di mana dahulu para pemuja Sun-go-kong
menyerahkan keranjang-keranjang obat kepada burung-burung rajawali dari Pulau
Neraka! Baru saja mereka meloncat ke puncak yang datar itu, tiba-tiba menyambar
banyak senjata rahasia yang ternyata adalah batu-batu karang kecil dari depan.
Dengan mudah keduanya mengelak dan Bun Beng berteriak.
"Harap
Cu-wi tidak menyerang! Aku Gak Bun Beng!"
Dari balik
semak-semak bermunculan delapan belas orang. Ketika mereka melihat Bun Beng,
orang-orang itu berteriak sambil lari menghampiri dan semua menjatuhkan diri berlutut
di depan kaki pemuda itu. "Ah, kiranya Gak-inkong yang datang! Kami
bersyukur sekali, In-kong. Kami melihat betapa In-kong diterbangkan burung
rajawali dan mengira Gak-inkong sudah tewas...!"
Bun Beng
tersenyum lebar. "Memang nyaris aku tewas, tetapi syukurlah Tuhan belum
menghendaki demikian. Apakah Cu-wi baik-baik saja?"
"Terima
kasih, In-kong. Semenjak peristiwa dahulu itu, kami tidak lagi mengalami
gangguan, agaknya Dewa Sun-go-kong melindungi kami."
Mendengar
ini, Bun Beng melirik kepada Kwi Hong dan gadis ini yang sudah mendengar
tentang para pemuja Siluman Kera itu tersenyum. Gadis ini sebagai murid
Pendekar Super Sakti, berhati polos dan jujur, maka tanpa ragu-ragu lagi ia
berkata,
"Sun-go-kong
hanyalah tokoh dalam dongeng See-yu, mengapa kalian menyembah dan memujanya?
Betapa bodohnya kalian ini orang-orang tua memuja tokoh dongeng
kanak-kanak!"
Delapan
belas orang yang kini sudah bangkit berdiri memandang kepada Kwi Hong dengan
alis berkerut tanda tidak senang hati. "Hemm, Nona yang masih muda...,
kalau saja engkau tidak datang bersama Gak-inkong dan menjadi sahabatnya, tentu
kami tidak membiarkan engkau berkata selancang itu. Semua dewa yang dipuja
memang hanyalah tokoh dongeng. Yang penting bukanlah tokoh dongengnya,
melainkan hati si pemujanya! Gak-inkong, apakah Nona ini sahabatmu? Kalau
bukan, dia tidak kami perkenankan berada di sini!"
Bun Beng
diam-diam merasa menyesal mengapa Kwi Hong berlancang mulut, namun dia pun
tidak dapat menyalahkan dara itu yang memang suka bicara terang-terangan
menurutkan kata hatinya. "Dia sahabat baikku, harap Cu-wi suka
memaafkannya."
Wajah
delapan belas orang itu menjadi cerah kembali dan mereka sudah memaafkan Kwi
Hong. Bahkan seorang di antara mereka, yang termuda, maju dan berkata sambil
tertawa, "Sahabat baik Gak-inkong? Ha-ha cocok sekali. Cantik jelita dan
patut menjadi sisihan In-kong yang tampan..."
"Plak!
Aduh!" Orang itu terguling dan meraba pipinya yang sudah menjadi bengkak
oleh tamparan Kwi Hong. Gerakan tangan dara itu cepat bukan main sehingga orang
yang ditamparnya hampir tidak tahu bahwa dia ditampar, disangkanya ada
halilintar menyambar pipinya!
Teman-temannya
menjadi marah dan mereka sudah mengepal tinju, siap mengeroyok Kwi Hong sungguh
pun diam-diam mereka terheran-heran. Mereka telah mempelajari Ilmu
Sin-kauw-kun-hoat yang diberikan oleh Dewa Sun-go-kong kepada mereka, dan ilmu
silat ini mengutamakan kegesitan sehingga mereka semua adalah ahli-ahli
mengelak pukulan. Mengapa teman mereka tadi begitu mudah kena ditampar oleh
dara ini?
"Tahan,
Cu-wi sekalian! Nona ini adalah murid Pendekar Super Sakti, To-cu Pulau Es,
harap Cu-wi tidak menimbulkan pertentangan!"
"Murid
Pendekar Siluman...?" Terdengar seruan-seruan mereka dan semua orang
memandang dengan mata terbelalak. Sebagai pejuang, tentu saja mereka sudah
mendengar nama Pendekar Siluman yang dulu pernah menggegerkan musuh di Se-cuan.
Orang tertua
dari mereka segera mengangkat tangan memberi hormat kepada Kwi Hong sambil
berkata, "Mohon maaf, karena tidak mengenal kami bersikap kurang hormat
kepada Lihiap."
Kemudian ia
menghadapi Bun Beng dan bertanya, "Setelah bertahun-tahun In-kong
meninggalkan kami, sekarang In-kong datang dengan tiba-tiba, apakah yang dapat
kami lakukan untuk membantu In-kong dan Lihiap ini?"
Bun Beng
tersenyum. "Terima kasih atas kebaikan Cu-wi sekalian. Aku datang hanya
untuk menengok dan terutama sekali untuk mengambil sesuatu yang dahulu kusimpan
di tempat ini. Harap Cu-wi tidak repot dan aku bersama Nona ini akan mencari
dan mengambil sendiri benda yang kusimpan itu."
Orang-orang
itu saling pandang. Mereka tidak tahu benda apakah yang disimpan oleh Bun Beng
di situ, akan tetapi orang tertua dari mereka menjawab, "Silakan
In-kong."
"Mari,
Kwi Hong!" kata Bun Beng dengan sikap gembira.
Nona itu pun
merasa gembira dan hatinya tegang, melompat dan mengikuti Bun Beng meninggalkan
tebing itu, berlari-lari ke arah gunung di mana terdapat goa-goa batu yang
sebagian besar tertutup alang-alang tinggi dan lebat.
Dengan hati
berdebar Bun Beng mengajak gadis itu pergi ke daerah goa ini yang jauh juga
dari tebing sehingga sekumpulan orang pemuja Sun-go-kong itu tidak tampak lagi,
kemudian dengan mudah ia mencari goa kecil yang ia tutup dengan tumpukan batu
sehingga sama sekali tidak kelihatan dari luar. Tanpa berkata sesuatu ia
membongkar batu-batu itu, dibantu oleh Kwi Hong yang juga menjadi tegang
hatinya. Siapa yang tidak berdebar hatinya kalau mengingat bahwa Sepasang
Pedang Iblis itu berada di belakang tumpukan batu? Sepasang Pedang Iblis yang
diperebutkan orang sedunia kang-ouw, bahkan yang dicari-cari tanpa hasil oleh
pamannya!
Setelah
tumpukan batu yang menutupi goa itu terbongkar semua, Bun Beng berseru girang
melihat bungkusan kain yang kuning dan kotor. Ia mengenal itu, sehelai baju
yang dipakai membungkus sepasang pedang. Baju itu sudah rusak dan kotor sekali,
akan tetapi dengan penuh gairah Bun Beng menariknya dan dengan kedua tangan
gemetar ia membuka bungkusan kain butut. Ternyata sepasang pedang itu masih
utuh, sebatang agak pendek, sebatang lagi lebih panjang, akan tetapi bentuk
gagang dan sarung pedangnya serupa. Ia menyerahkan yang pendek kepada Kwi Hong
tanpa bicara. Bersama-sama mereka meneliti pedang itu dan membaca huruf-huruf
kecil yang terukir di dekat gagang.
"Yang
pendek ini adalah Li-mo-kiam (Pedang Iblis Betina)...," kata Kwi Hong
setelah membaca huruf-huruf di pedangnya.
"Dan
ini adalah Lam-mo-kiam (Pedang Iblis Jantan)...," kata Bun Beng.
"Tepat
seperti yang diceritakan Paman, ini adalah sepasang..."
"Sepasang
Pedang Iblis! Ha-ha-ha, harus diberikan kepadaku!"
Bun Beng dan
Kwi Hong terkejut bukan main mendengar suara di belakang mereka itu. Mereka
cepat membalikkan tubuh dan ternyata yang tertawa dan bicara tadi adalah kakek
India bersorban bersama muridnya Si Siucai Sinting! Bun Beng maklum bahwa
mereka menghadapi bahaya besar dan dalam beberapa detik saja otaknya bekerja
cepat, lalu ia berbisik kepada Kwi Hong. "Kau bawa semua pedang ini,
serahkan Pamanmu, biar aku menahan..."
"Tidak..."
Kwi Hong berbisik pula dan menolak pedang panjang yang diangsurkan kepadanya,
"kita pergunakan pedang ini untuk melawan bersama. Pula, kalau kita
masing-masing memegang satu, pedang itu berpencar dan kalau terampas orang
tidak keduanya."
"Ha-ha-ha-ha!
Orang-orang muda, sudah lama aku mencari Sepasang Pedang Iblis, dan melihat
gerak-gerikmu kemarin, aku sudah sangat curiga, maka diam-diam kami membayangi
kalian. Siapa kira, benar saja kalian telah menemukan Sepasang Pedang Iblis,
ha-ha-ha-ha!"
"Maharya!"
Tiba-tiba Kwi Hong membentak marah. "Seorang tua bangka macam engkau ini
apakah tidak tahu peraturan dunia kang-ouw? Dalam berlomba mencari pusaka,
siapa yang mendapatkannya berarti sudah berjodoh! Kami sudah mendapatkannya dan
pusaka ini adalah milik kami!"
"Ha-ha-ha!
Bocah perempuan, sungguh tajam matamu dapat mengenal aku! Akan tetapi engkau
tidak tahu riwayat Sepasang Pedang Iblis. Sepasang pedang itu adalah hak
milikku. Karena itu, sudah semestinya kalian berikan kepada Maharya!"
kakek India yang kini sudah pandai bicara bahasa daerah itu berkata dengan
lidah kaku.
"Sombong
dan pembohong besar engkau! Sepasang Pedang Iblis ini adalah milik pribadi
Pendekar Wanita Sakti Mutiara Hitam yang menjadi pujaan Pamanku, To-cu dari
Pulau Es. Kemudian pusaka-pusaka ini diwariskan kepada kedua muridnya, kemudian
ditemukan oleh Paman dan dikubur bersama jenazah kedua murid Mutiara Hitam.
Setelah itu lenyap dan akhirnya kami yang menemukannya kembali. Bagaimana kau
berani bilang menjadi milikmu? Tak tahu malu!"
Sastrawan
sinting itu meloncat ke depan. "Ah, dia ini keponakan Suma Han si jahanam
keparat? Guru, kita tangkap dia dan siksa sampai mati, biar terasa oleh Suma
Han siluman keparat itu!"
Kwi Hong
mendelik saking marahnya dan telunjuk kirinya menuding ke arah sastrawan itu.
"Engkau Tan Ki orang gila! Paman sudah menceritakan kepadaku tentang
engkau! Tunanganmu, Lu Soan Li tewas dalam perjuangan sebagai seorang wanita
pendekar yang gagah perkasa, akan tetapi engkau ini manusia gila telah
menyalahkan Paman, bahkan menjadi murid kakek iblis ini membunuh Kakek
Nayakavhira dan mencuri pedang Hok-mo-kiam. Sekarang harus kau kembalikan
pedang pusaka itu atau kau akan mampus di tanganku!"
"Ha-ha-ha!
Bocah ini sombong sekali! Eh, bocah yang manis dan galak, engkau tidak tahu.
Biar pun Sepasang Pedang Iblis itu dibuat atas perintah Mutiara Hitam, akan
tetapi pembuatnya adalah Kakekku Mahendra, maka akulah yang berhak memilikinya.
Lebih baik kalian berikan sepasang pedang itu dan aku akan dapat membujuk
muridku untuk membebaskan kalian berdua."
"Singggg!"
"Sratttt!"
Tampak dua
sinar berkilat ketika Bun Beng dan Kwi Hong mencabut pedang masing-masing.
Sinar ini amat terang sehingga mengejutkan Bun Beng dan Kwi Hong sendiri.
Maharya terbelalak kagum dan tertawa lebar saking girangnya. "Sadhu!
Sepasang Pedang Iblis yang mulia!" Ia berkata, kemudian menoleh kepada
muridnya, "Pergunakan Hok-mo-kiam, mari kita rampas sepasang pedang
ini!" Ia sendiri sudah memakai sarung tangan emas dan mengeluarkan senjata
hidupnya, yaitu ular putih yang berbahaya.
"Kwi
Hong, kau hadapi Siucai gila itu dan coba rampas pedangnya, biar aku menghalau
kakek iblis ini!" kata Bun Beng dan tanpa menanti jawaban ia sudah
menerjang maju, menyerang Maharya dengan Lam-mo-kiam yang mengeluarkan sinar
seperti kilat menyambar.
Maharya
terkejut dan cepat meloncat ke belakang. Dia tidak berani sembarangan menangkis
sebab maklum bahwa pedang buatan kakeknya itu benar-benar merupakan sebatang
pedang yang amat ampuh. Bun Beng tidak memberi hati, meloncat ke depan dan
melakukan serangan bertubi-tubi. Dia harus dapat menahan kakek ini untuk
memberi kesempatan kepada Kwi Hong menghadapi Tan-siucai yang lebih lemah
dibandingkan dengan gurunya yang sakti ini.
Sementara
itu, Tan-siucai sudah mencabut Hok-mo-kiam dan tampak sinar kilat yang lebih
terang dari pada sinar Sepasang Pedang Iblis, akan tetapi tidak mendatangkan
wibawa yang mendirikan bulu roma seperti sepasang pedang itu yang telah
menghisap darah entah berapa ribu manusia. Kwi Hong cepat menerjang maju dengan
Li-mo-kiam di tangan, melakukan tusukan dan girang sekali ketika merasa betapa
pedang itu seolah-olah menambah tenaga pada tangannya, begitu ringan dan
seperti telah mendahului jurus yang ia mainkan untuk menyerang, seperti
mempunyai nyawa dan terbang sendiri menuju ke arah lawan! Benar-benar sebatang pedang
yang amat luar biasa!
"Cringggg...!"
Bunga api
berpijar menyilaukan mata ketika Li-mo-kiam bertemu dengan Hok-mo-kiam dan Kwi
Hong terkejut karena merasa betapa pedangnya tergetar, seolah-olah menggigil
dan takut setelah bertemu dengan pedang lawan. Padahal dia merasa bahwa dia
masih menang tenaga menghadapi Tan-siu-cai. Maka ia menjadi waspada dan
teringat bahwa pamannya dan mendiang Kakek Nayakavhira memang sengaja
menciptakan Hok-mo-kiam untuk menghadapi dan melawan Sepasang Pedang Iblis!
Di lain
pihak, Tan-siucai terkejut sekali. Pedangnya hampir terlepas dari tangannya
ketika beradu dengan pedang lawan, lengannya tergetar dan ia maklum bahwa ia
harus berhati-hati sekali menghadapi keponakan Pendekar Siluman yang memiliki
sinkang yang amat kuat itu.
Setelah kini
bertanding satu lawan satu dengan Kakek Maharya, Bun Beng harus mengaku dalam
hati bahwa tingkat kepandaiannya masih belum cukup untuk menandingi lawan yang
sakti ini. Pantas saja kakek ini dahulu berani menghadapi Pendekar Siluman, kiranya
memang memiliki gerakan aneh dan setiap gerakan tangannya mengandung hawa yang
panas dan di balik hawa panas ini masih ada pengaruh mukjizat yang membuat bulu
tengkuk meremang, seperti bukan manusia yang ia lawan, melainkan iblis sendiri.
Bau harum aneh
memuakkan yang keluar dari tubuh kakek tinggi kurus itu benar-benar membuat
pikiran menjadi kacau. Untung bahwa sekali ini Bun Beng bersenjatakan
Lam-mo-kiam yang juga memiliki wibawa amat mukjizat seolah-olah dalam pedang
itu ada penghuninya sehingga pengaruh pedang iblis ini sedikit banyak dapat
mengimbangi pengaruh kakek India. Kalau dia tidak memegang senjata ampuh ini,
agaknya dia tidak akan mampu melawan sampai lama menghadapi kakek yang selain
mahir ilmu silat aneh juga mahir ilmu sihir itu.
Bun Beng
mainkan jurus-jurus ilmu pedang Siauw-lim-pai, mengerahkan seluruh tenaga dan
mainkan jurus-jurus pilihan yang jarang tandingnya, namun kakek itu selalu
dapat mengelak dan menangkis dari samping dengan tangan kiri yang bersarung
emas, sedangkan ular putih yang berbahaya itu terus menyambar-nyambar hendak
menggigit, bahkan menyemburkan uap putih dengan suara mendesis-desis. Karena
maklum bahwa semburan uap putih itu berbisa, Bun Beng kadang-kadang menahan
napas dan mendorong dengan tangan kiri menggunakan hawa sinkang untuk mengusir
uap putih.
Pertandingan
berlangsung makin seru dan mati-matian. Bun Beng melihat mulut kakek itu
berkemak-kemik, kemudian terdengar suara kakek itu tertawa bergelak. Ia
terkejut bukan main, merasa betapa suara ketawa itu seolah-olah terdengar dari
belakang punggungnya dan mendatangkan rasa dingin seperti es memasuki tulang
punggung. Ia mengerahkan sinkang untuk menahan perasaan itu, dan saat ia
memecah tenaganya, kakek itu mendesak dengan serangan kedua tangannya. Ia menjadi
sibuk dan tiba-tiba ketika kakek itu kembali tertawa, ia terdorong oleh rasa
yang amat kuat untuk ikut tertawa! Bun Beng yang cerdik masih ingat bahwa kakek
ini mempergunakan sihir, maka ia melawan sekuat tenaga namun tetap saja
mulutnya tersenyum!
Mendadak
sekali, suara ketawa kakek itu berubah menjadi tangis dan Bun Beng merasa
jantungnya seperti disayat-sayat, perasaan terharu meliputi seluruh hatinya dan
betapa pun ia bertahan kuat-kuat, dua titik air mata jatuh ke atas pipinya. Ia
makin kaget dan diam-diam berseru, "Celaka!"
Maklum dia
bahwa dia tidak akan menang menghadapi kakek ini dan biar pun dengan pedang
Lam-mo-kiam ia akan dapat mempertahankan diri sampai lama, tetapi akhirnya ia
akan kalah juga. Ia amat khawatir, bukan mengkhawatirkan dirinya melainkan
mengkhawatirkan diri Kwi Hong.
"Kwi
Hong...!" Ia berteriak, terengah-engah dan cepat membabat ke arah ular
yang sudah mengancam leher. Ular itu ditarik kembali dan kini tangan yang
bersarung emas itu mencengkeram ke arah pusarnya.
"Cringg!"
Pedangnya menangkis dan kakek Maharya berteriak kaget karena tangannya yang
terlindung sarung tangan itu terasa panas.
"Kwi
Hong, larilah cepat! Beri tahu Pamanmu...!" Bun Beng berteriak sambil
memutar pedangnya melindungi tubuh secepatnya.
Ia mengerahkan
kekuatan batinnya untuk menulikan telinga terhadap suara yang keluar dari mulut
Maharya, akan tetapi tidak mungkin ia menutup matanya sehingga kadang-kadang
sinar matanya bersilang dengan sinar mata Maharya yang seolah-olah mengeluarkan
api bernyala-nyala!
Kwi Hong
mendengar teriakan Bun Beng, akan tetapi dia sama sekali tidak mau peduli. Mana
mungkin dia melarikan diri? Dia sedang mendesak Tan-siucai yang biar pun
memegang Hok-mo-kiam, namun tingkat ilmu silatnya masih kalah jauh olehnya.
Kalau Sastrawan sinting itu tidak memegang Hok-mo-kiam, tentu sudah sejak tadi
mampus di ujung Li-mo-kiam.
Apa lagi
ketika gadis ini mengerling dengan sudut matanya dan melihat betapa Bun Beng
terdesak hebat oleh Maharya, dia makin tidak mau melarikan diri. Dia harus
merobohkan Tan-siucai agar dapat membantu Bun Beng mengeroyok kakek yang sakti
itu. Dia harus merampas Hok-mo-kiam dan hal ini amat penting, tidak kalah
pentingnya dengan mempertahankan Sepasang Pedang Iblis, bahkan lebih penting
dari pada keselamatan Bun Beng yang terancam oleh kakek iblis yang sakti. Maka
ia terus mendesak Tan-siucai yang kini memutar pedang Hok-mo-kiam sehingga
berubah menjadi gulungan sinar kilat yang menyelimuti tubuhnya, membuat Kwi
Hong agak sukar untuk menembusnya.
Tiba-tiba
Tan-siucai tertawa aneh dan terdengar suaranya, "Ha-ha-hi-hi, Nona manis,
engkau melawan siapa? Aku sudah lenyap, bayanganku tidak tampak olehmu, siapa
yang kau lawan? Apakah kau gila?"
Kwi Hong
terkejut bukan main karena benar-benar bayangan lawannya itu lenyap dan tidak
tampak olehnya. Yang tampak hanya gulungan sinar pedang Hok-mo-kiam yang terang
seperti cahaya sinar matahari. Hampir saja sinar pedang mengenai lehernya kalau
ia tidak cepat-cepat menjatuhkan diri karena dalam keadaan kaget dan bingung
mencari musuhnya tadi ia bersikap lengah. Terdengar suara tertawa Tan-siucai
dan sukar bagi Kwi Hong untuk menentukan dari mana datangnya suara tertawa ini
karena bayangan orangnya tidak kelihatan.
Ia teringat
bahwa sebagai murid kakek sakti ahli sihir itu Tan-siucai pandai pula main
sihir, maka ia mengerahkan sinkang sekuatnya, sinkang yang dilatihnya di Pulau
Es sehingga ia dapat menggabungkan hawa Im dan Yang di tubuh, menguatkan
hatinya dan kini tampaklah olehnya bahwa Tan-siucai masih berada di tempatnya
yang tadi, memutar pedang dan mendesaknya.
"Cring-trang-trang...
aihhh...!" Tan-siucai terkejut dan untung ia masih dapat menangkis sambil
terhuyung ke belakang. Ia maklum bahwa gadis itu dapat melihatnya, maka ia
mengerahkan seluruh ilmu sihirnya sehingga kini bayangannya kadang-kadang
lenyap, kadang-kadang tampak oleh Kwi Hong.
Hal ini
membuat Kwi Hong terdesak hebat dan timbul rasa gentar di hatinya. Yang
dilawannya memiliki ilmu setan, bagaimana ia dapat melawan orang yang pandai
menghilang? Sedikit saja ia mengurangi pengerahan sinkang-nya, bayangan lawan
lenyap. Terpaksa ia membagi tenaganya, sebagian untuk melawan pengaruh sihir
sehingga kadang-kadang ia dapat melihat bayangan lawan, kadang-kadang tidak.
"Kwi
Hong, larilah cepat... laporkan Pamanmu...!" Kembali ia mendengar teriakan
Bun Beng.
"Ha-ha-ha,
heh-heh, benar sekali. Kalau kau sudah mati nanti, terbangkan rohmu kepada Si
Keparat Suma Han, suruh dia ke sini menerima kematian, ha-ha!"
"Iblis
busuk!" Kwi Hong menyerang cepat sekali ketika ia dapat melihat bayangan
Tan Ki yang tertawa-tawa. Siucai itu cepat menangkis, akan tetapi Kwi Hong
hanya melakukan serangan tusukan sebagai pancingan saja, karena cepat sekali
kakinya menendang.
"Desss!
Aduhhh... keparat!" Tan-siucai terkena tendangan di samping pinggulnya dan
terlempar ke belakang. Kwi Hong cepat mengejar, akan tetapi karena tendangan
itu tidak tepat kenanya dan hanya melemparkan tubuh Tan-siucai dan mengagetkan
saja, maka Tan-siucai sudah dapat memutar pedang melindungi tubuhnya sambil
meloncat bangun.
"Siapa
yang kau serang? Aku lenyap sama sekali dari penglihatanmu!" Ucapan ini
berulang kali diucapkan Tan-siucai dengan suara menggetar dan kembali Kwi Hong
kadang-kadang kehilangan bayangan lawan, membuat ia terdesak lagi.
"Kwi
Hong... kau larilah... lekas...!" Bun Beng yang sudah pening oleh pengaruh
sihir Maharya, berteriak sekuat tenaga.
Ia
mengandalkan ilmu pedang Siauw-lim-pai, mainkan bagian yang bertahan sehingga
tubuhnya terlindung gulungan sinar pedang kilat. Dia dapat menahan serangan
ular dan tangan bersarung emas, akan tetapi tekanan kekuatan mukjizat dari
sihir Maharya benar-benar membuat dia pening dan hanya dengan kebulatan
tekadnya dan kemauannya saja untuk mempertahankan diri, pedang Lam-mo-kiam dan
terutama melindungi Kwi Hong maka ia masih dapat bertahan.
Tiba-tiba
terdengar suara hiruk-pikuk dan delapan belas orang pemuja Sun-go-kong yang
mendengar pertempuran dan teriakan-teriakan Bun Beng kini telah berada di situ.
Tanpa diminta dan tanpa komando, delapan belas orang ini sudah menerjang maju
membantu Bun Beng dan Kwi Hong!
Namun,
begitu sebagian besar mereka mengeroyok Maharya, kakek itu mengeluarkan
gerengan keras yang menggetarkan seluruh urat syaraf, dan terdengarlah
teriakan-teriakan mengerikan dan lima orang sudah roboh susul-menyusul terkena
hantaman tangan kiri bersarung emas sehingga pecah kepalanya dan sebagian
terkena gigitan ular putih di tangan kanan kakek itu! Mereka yang mengeroyok
Tan-siucai juga mengalami hal yang menyedihkan. Mereka menyerbu, tidak tahu
akan keampuhan sinar pedang Hok-mo-kiam sehingga begitu kena disambar sinar
ini, tiga orang roboh dan tewas seketika!
Delapan
belas orang maju dan dalam sekejap mata saja delapan orang dari mereka tewas!
Sisanya, yang sepuluh orang, menjadi kaget, berduka dan marah bukan main
menyaksikan teman-teman mereka tewas sedemikian mudahnya, maka dengan nekat
mereka maju untuk membalas dendam atau untuk tewas sekalian.
"Cu-wi,
mundur...!" Bun Beng mencegah, akan tetapi sia-sia, mereka malah makin nekat.
"Ha-ha-ha,
kalian yang sudah kehabisan tenaga dan setengah lumpuh masih mau
melawanku?" Maharya berteriak.
"Jangan
dengarkan!"
Bun Beng
yang melihat kakek itu membuka mulut lebar memperingatkan, namun terlambat.
Sepuluh orang itu tiba-tiba merasa kedua kaki mereka lemas tak bertenaga dan
pada saat itu, menyambarlah sinar-sinar hitam dari tangan Tan-siucai dan
Maharya. Itulah jarum-jarum hitam beracun dan tentu saja sepuluh orang yang
sudah terpengaruh sihir itu tidak mampu mengelak lagi. Mereka mengeluh dan
roboh dengan muka berubah menghitam dan nyawa melayang menyusul delapan orang
teman mereka. Dalam sekejap mata saja, seluruh pemuja Sun-go-kong, bekas
pejuang yang gigih tewas di tangan Maharya dan Tan-siucai dengan amat mudah dan
secara sia-sia!
"Kakek
iblis yang kejam!" Bun Beng berteriak marah, dan tiba-tiba permainan
pedangnya berubah, ia telah mainkan ilmu rahasia yang dipelajarinya dari Kitab
Sam-po-cin-keng, dan ternyata akibatnya hebat sekali. Maharya berteriak kaget,
berusaha menangkis dengan tangan kirinya karena lingkaran-lingkaran aneh yang
dibuat oleh sinar pedang Bun Beng membuat dia menjadi bingung.
"Brettt...!
Ihhh!" Kakek Maharya mencelat mundur, wajahnya sebentar pucat sebentar
merah, kemarahannya memuncak ketika ia melihat betapa sarung tangannya terobek
sedikit dan telapak tangannya berdarah!
"Lihat
api...!" Kakek itu membentak.
Karena
girang melihat hasil serangannya, Bun Beng menjadi lengah sehingga ia mendengar
suara ini, melihat pula betapa kakek itu menggerakkan tangan kiri sambil
mendorong ke arahnya dan... ia melihat pula api berkobar meluncur ke arah
tubuhnya. Bun Beng terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi bola api itu terus
mengejarnya dari atas. Bun Beng cepat memutar pedangnya dan pada saat ia sibuk
melawan bola api yang seperti hidup itu, tiba-tiba tangan bersarung emas telah
menghantam bagian punggungnya dengan sebuah tamparan keras.
"Plakkk!"
Bun Beng berseru kaget dan tubuhnya terguling-guling, napasnya seperti
tersumbat. Sadarlah dia bahwa kembali dia menjadi korban sihir, dan bola api
itu sebetulnya tidak ada maka dia sampai kena dipukul. Dengan marah ia melompat
bangun dan jurus pertahanan dari Sam-po-cin-keng telah menutup tubuhnya
sehingga Maharya tidak dapat menyusulkan serangan maut kepada lawan yang telah
terluka itu.
"Kwi
Hong... lari...!" teriakan Bun Beng sekali ini terdengar lirih karena
dadanya sesak dan napasnya terengah. Kwi Hong terkejut sekali, menoleh dan
melihat betapa pemuda itu makin terdesak hebat. Ia marah bukan main karena
belum juga mampu mengalahkan Tan-siucai.
Tiba-tiba
terdengar suara ketawa nyaring dari atas disusul menyambarnya bayangan hitam
yang besar. Bunyi kelepak sayap bercampur dengan pekik melengking dan tertawa
nyaring memenuhi udara ketika bayangan hitam itu menyambar ke arah Bun Beng dan
Maharya yang sedang bertempur. Sinar putih panjang dua buah, seperti dua ekor
ular putih yang amat panjang, menyambar ke arah tangan Bun Beng sedangkan paruh
besar burung rajawali menyambar ke arah tangan Maharya yang memegang ular
putih.
Bun Beng
berteriak kaget ketika tiba-tiba tangan kanannya menjadi lemas terkena totokan
sinar putih dan selagi dia belum sempat mengembalikan tenaga untuk memegang
gagang pedang erat-erat, Pedang Lam-mo-kiam telah terlibat tali putih dan
terlepas dari tangannya. Juga Maharya berseru keras ketika tiba-tiba ia
diserang oleh pukulan sayap dan selagi ia mengelak, ular putih telah terlempar
dari tangannya. Dua orang yang sedang bertanding ini melompat mundur, memandang
ke atas dan tampaklah oleh mereka seorang pemuda tampan menunggang seekor
rajawali raksasa sedang tertawa-tawa memegangi pedang Lam-mo-kiam di tangan
kanan dan ular putih yang dirampas rajawali di tangan kiri!
"Iblis
cilik dari Pulau Neraka!" Bun Beng memaki. "Kembalikan
pedangku!"
Pemuda di
atas punggung rajawali itu hanya tertawa mengejek dan pada saat itu, segumpal
asap hitam yang dilepas oleh Maharya secara diam-diam menyerang muka Bun Beng.
Pemuda ini gelagapan, menyedot asap hitam dan seketika kepalanya pening,
pandang matanya gelap dan ia terhuyung-huyung.
"Desss!"
Kembali punggungnya dihantam tangan kiri Maharya dan ia roboh terguling. Namun
ia masih sempat berteriak, "Kwi Hong, lari...!"
Kemudian ia
merangkak bangun duduk bersila memejamkan mata dan berusaha mengusir pengaruh
asap beracun yang membuatnya pening dan lemas, apa lagi punggungnya yang telah
dua kali dihantam oleh tangan kiri Maharya yang lihai membuat napasnya sesak.
Maharya yang
tadinya menyangka bahwa pemuda di punggung rajawali yang datang itu mungkin
akan mengeroyoknya, telah merobohkan Bun Beng lebih dulu, kemudian kini ia
mengacungkan tangannya ke atas. "Bocah setan, tak peduli engkau dari Pulau
Neraka, turunlah sebelum engkau dan rajawalimu mampus di tangan Pendeta Sakti
Maharya!"
Pemuda itu
bukan lain adalah Wan Keng In, putera To-cu Pulau Neraka. Ia tertawa dan
memainkan ular putih di tangan kirinya. "Heh-heh, setan tua. Ular putihmu
ini baik sekali, tentu kau dapatkan di Himalaya, bukan?"
Diam-diam
Maharya terkejut juga. Ular putihnya itu adalah seekor binatang yang racunnya
ampuh sekali. Jarang ada orang sakti yang akan mampu menahan racun binatang itu
dan sudah bertahun-tahun ia memelihara dan melatihnya sehingga ular itu akan
menjadi ganas kalau dipegang orang lain. Mengapa kini di tangan pemuda itu,
ularnya menjadi jinak sekali? Namun tidak peduli anak setan dari mana pemuda
itu, dia harus merampas kembali Pedang Lam-mo-kiam dan ular putih. Ia
menggerakkan tangannya dan sinar hitam menyambar ke arah burung rajawali yang
terbang rendah.
Pemuda itu
memutar pedang Lam-mo-kiam dan burung rajawali mengibaskan sayapnya, namun
tetap saja ada sebatang jarum mengenai kaki burung itu sehingga burung itu
memekik keras dan terhuyung.
"Crakk!"
Pedang Lam-mo-kiam bergerak dan kaki burung yang terkena jarum hitam itu telah
dibuntungi penunggangnya!
"Setan
tua itu membikin kakimu putus, hek-tiauw (rajawali hitam), hayo kita bunuh
dia!" Pemuda itu berseru dan rajawali itu telah menyambar turun dengan
penuh kemarahan.
Disambar
oleh cakar dan paruh, dihantam oleh sayap yang besar, serta ditambah lagi
serangan pedang Lam-mo-kiam dan ular putihnya sendiri benar-benar membuat
Maharya menjadi kaget bukan main. Ia menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dan
hanya dengan jalan bergulingan ini ia terbebas dari bahaya maut.
Sementara
itu, saat Kwi Hong melihat penunggang burung rajawali, mukanya berubah dan ia
merasa gelisah sekali. Tentu saja dia mengenal Wan Keng In dan maklum bahwa
pemuda Pulau Neraka itu merupakan musuh besar, sehingga tentu akan menambah
lawannya.
Saat itu ia
melihat Bun Beng terguling dan mendengar pesan terakhir pemuda itu. Tidak baik
melawan terus, pikirnya. Melawan berarti akan kalah dan pedang Li-mo-kiam akan
terampas pula. Apa artinya melawan kalau tidak akan dapat menolong Bun Beng dan
merampas kembali Pedang Lam-mo-kiam dan Pedang Hok-mo-kiam? Lebih baik seperti
yang diminta Bun Beng, melarikan diri selagi ada kesempatan, kemudian melapor
kepada pamannya karena kalau bukan pamannya sendiri yang turun tangan,
bagaimana mungkin pedang-pedang itu dapat dirampas kembali?
Alisnya
berkerut dan hatinya terasa sakit sekali ketika mengerling ke arah Bun Beng
yang terpaksa harus ia tinggalkan. Ia berseru keras, pedangnya menyerang ganas
sehingga Tan-siucai kaget dan meloncat mundur. Ketika ia memandang ke depan,
gadis lawannya itu telah meloncat-loncat jauh dan melarikan diri, akan tetapi
tiba-tiba ia mendengar gurunya berteriak,
"Tan
Ki... bantu aku...!"
Ia menengok
dan terkejut sekali melihat pemuda yang menunggang burung rajawali itu sambil
terkekeh-kekeh menyerang gurunya dari atas, menyambari gurunya seperti seekor
burung mempermainkan tikus! Ia menjadi marah dan maju menyerang dengan
pedangnya ketika pemuda di atas punggung rajawali itu kembali turun menyambar.
"Trangggg...!
Bukkk!" Pemuda di atas punggung rajawali itu berseru kaget, sementara
rajawalinya memekik kesakitan dan terbang tinggi. Pemuda itu kaget karena
pedang laki-laki yang menangkisnya itu ternyata dapat membuat Lam-mo-kiam
terpental dan tangannya tergetar, sedangkan pukulan tangan kiri bersarung emas
Maharya telah mengenai paha rajawali itu.
Wan Keng In
yang sudah memeriksa pedangnya dan maklum bahwa secara tidak terduga-duga dia
telah mendapatkan sebatang di antara Sepasang Pedang Iblis yang dicari-cari
ibunya, tidak mau menempuh bahaya menghadapi dua orang di bawah yang ternyata
lihai itu, apa lagi kini rajawalinya terluka berat, sebelah kakinya buntung dan
bercucuran darah, sedangkan pahanya juga terluka oleh hantaman kakek sakti itu.
Belum tentu rajawalinya akan kuat membawanya terbang ke Pulau Neraka, maka ia
lalu menyuruh rajawalinya terbang tinggi dan kembali ke Pulau Neraka.
Maharya
menyumpah-nyumpah. "Anak Iblis! Keparat jahanam! Dia sudah membawa lari
ularku!"
"Dan
Lam-mo-kiam juga dirampasnya. Semua ini kesalahan pemuda sialan itu! Kita bunuh
saja dia!" Ia melangkah lebar dan mengayun Hok-mo-kiam ke arah leher Bun
Beng yang masih duduk bersila mengatur pernapasan. Karena tidak sanggup membela
diri lagi, Bun Beng tetap tidak bergerak, menyerahkan nasibnya kepada Tuhan.
"Jangan!"
Tiba-tiba Maharya berteriak dan Tan Ki menahan pedangnya, menoleh dan memandang
gurunya dengan heran.
"Mengapa?
Apakah Guru menaruh kasihan kepada bedebah ini?"
"Ha-ha-ha,
hatiku sakit sekali karena gara-gara dia sarung tanganku robek, ularku lenyap
dan Lam-mo-kiam juga hilang. Aku senang bukan main melihat dia mampus, akan
tetapi amat enaklah kalau kau membunuhnya begitu saja. Kita harus membuat dia
mati perlahan-lahan, biar dia menderita sampai empat puluh hari, mati tidak
hidup pun bukan, baru benar-benar mampus, ha-ha-ha!"
Tan-siucai
tertawa geli. "Maksudmu bagaimana, Guru?"
"Begini!"
Maharya menghampiri Bun Beng dari belakang dan tangan kirinya yang memakai
sarung tangan bergerak, jari-jarinya menusuk. Bun Beng maklum bahwa dirinya
diserang, akan tetapi tubuhnya lemas, tenaganya habis sehingga melawan pun
hanya akan menyiksa diri, maka dia diam saja menerima hantaman maut.
"Cusss!
Cusss!"
Dua kali
Maharya menggerakkan jari-jarinya yang menotok di belakang pinggang, kanan kiri
tulang punggung. Bun Beng tidak merasakan sesuatu, hanya rasa pegal di tempat
yang ditotok.
"Ha-ha-ha,
aku mengacaukan jalan darahnya, menindas hawa pusar dan membalikkan hawa
kundalini. Dia akan keracunan, kedua kakinya akan lumpuh, darahnya
perlahan-lahan akan kotor dan menghitam dan dia setiap hari akan menderita
hebat, sedikit demi sedikit nyawanya terancam, sampai empat puluh hari. Dia
mati sekerat demi sekerat, ha-ha-ha!"
Tan-siucai
juga tertawa-tawa, akan tetapi hatinya tidak puas ketika melihat betapa dua
kali totokan gurunya itu tidak membuat Bun Beng kesakitan. "Terlalu enak
kalau dia tidak diberi rasa, dan hatiku tidak puas kalau tidak menyiksanya
tanpa membunuhnya."
Gurunya
mengangguk. "Asal jangan kau gunakan sinkang agar tidak membunuhnya,
sesukamulah."
"Kalau
tidak gara-gara dia, kita tidak kehilangan dan tentu keponakan Pendekar Siluman
sudah dapat kubekuk. Biar dia tahu rasa!" Tan-siucai mengayun kakinya,
tanpa menggunakan tenaga sinkang menendang ke arah ulu hati Bun Beng.
"Ngekkk!"
Walau pun tidak menggunakan sinkang, namun tendangan yang keras itu membuat Bun
Beng terjungkal dan ia muntahkan darah segar.
"Desss!"
Kini pipi kanan Bun Beng yang mukanya rebah miring itu diinjak sepatu. Ketika
injakan yang keras ini membuat Bun Beng menggerakkan kepala sehingga bangkit
duduk lagi, Tan-siucai menendang yang kiri.
"Desss!"
Tendangan keras sekali ini membuat tubuh Bun Beng terjengkang, kepalanya
pening, bibirnya berlepotan darah segar, mukanya bengkak-bengkak dan membiru.
Tan-siucai
tertawa-tawa girang akan tetapi ia masih belum puas. Dengan langkah lebar ia
menghampiri Bun Beng, dua kali kakinya bergerak ke arah kedua lutut Bun Beng,
menendang keras sekali.
"Krak!
Krak!"
Tanpa
mengeluh Bun Beng terguling pingsan, sambungan kedua lututnya terlepas!
"Cukup,
kalau terlalu berat dia tidak akan menderita sampai empat puluh hari. Mari kita
pergi. Sayang sekali Sepasang Pedang Iblis terlepas dari tangan kita. Kita
kejar bocah perempuan itu!" Guru dan murid itu sambil tertawa-tawa puas
lalu berlari, bayangan mereka berkelebat dan tempat itu menjadi sunyi sekali.
Tubuh Bun
Beng menggeletak menelungkup dalam keadaan pingsan, sedangkan tak jauh dari
situ delapan belas buah mayat para pemuja Sun-go-kong malang-melintang!
Menyeramkan sekali keadaan di situ, apa lagi ketika tampak beberapa ekor burung
gagak hitam beterbangan dan berputaran di atas tempat itu, agaknya mereka sudah
mencium bau mayat dan darah.
Bun Beng
sadar dan membuka matanya ketika ia merasa pipinya sakit seperti ditusuk-tusuk
pedang. Betapa mendongkol dan marah hatinya ketika ia melihat dua ekor burung
gagak mematuki darah dari pipinya. Sekali mengibas dengan tangan, dua ekor
burung itu terpental dan mati seketika. Gerakan ini membuat burung-burung gagak
yang lain terbang ke atas dan Bun Beng bergidik. Burung-burung keparat itu
pesta mematuki mayat-mayat, makan daging dan darah dari luka-luka di tubuh
mayat-mayat itu.
Dengan hati
terharu ia memandang ke sekeliling. Hatinya merasa sengsara sekali menyaksikan
delapan belas orang itu telah menjadi mayat, dan lebih sakit lagi hatinya
karena dia tidak dapat mengubur jenazah mereka. Kedua kakinya tak dapat ia
gerakkan, sambungan lutut kedua kakinya terlepas dan rasa nyeri yang amat hebat
menusuk tulang-tulangnya. Ia mengeluh dan bangkit duduk. Dengan jari tangannya
ia menotok jalan darah di paha untuk melenyapkan rasa nyeri di lututnya,
kemudian sedapat mungkin ia mengurut lutut-lututnya. Kemudian ia menggerakkan
kedua tangannya, mengesot dan setengah merangkak meninggalkan tempat itu.
Dia harus
pergi dari situ, tidak tega ia menyaksikan mayat-mayat itu dimakan burung.
Mereka telah mati dalam membelanya. Ia menoleh sebentar dengan air mata
membasahi bulu matanya, dia berbisik, "Sahabat-sahabatku sekalian, aku
bersumpah kalau masih dapat sembuh dan hidup, aku akan membalas kematian kalian
kepada Maharya dan Tan Ki." Kemudian ia merangkak terus meninggalkan
tempat itu. Akan tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama sekali dada dan
perutnya. Ia maklum bahwa ia telah terluka hebat dan jalan darahnya menjadi
kacau-balau, membuat setiap buku tulang terasa seperti ditusuki jarum.
Susah payah
Bun Beng merangkak. Bagaimana ia dapat menuruni bukit yang terjal itu? Ah,
bagaimana pula nasib Kwi Hong? Mudah-mudahan dia dapat melarikan diri, pikirnya
dan ia menjadi agak lega. Biar pun dia mati, tentu Pendekar Super Sakti akan
membalaskan sakit hatinya. Bertambah pula musuh-musuhnya, musuh yang amat
sakti.
Musuh-musuh
pertamanya, Koksu Negara Im-kan Seng-jin dan para pembantunya sudah merupakan
lawan yang berat dan belum dapat ia jumpai, kini muncul pula musuh-musuh yang
tidak kalah saktinya, yaitu Tan Ki dan gurunya yang pandai ilmu sihir! Dan dia
maklum bahwa guru dan murid itu telah membuat dia menjadi seorang cacad dan
tinggal menunggu maut. Pukulan beracun itu takkan dapat ia obati, apa lagi
dengan kedua kaki tak dapat dipakai berjalan, apa dayanya? Namun dia tidak
putus asa, tidak mau putus asa. Selagi ia masih hidup, dia akan berusaha
menyembuhkan luka-lukanya, berusaha pergi dari tempat berbahaya ini!
Malam itu
Bun Beng mengalami malam yang paling sengsara. Ia berusaha duduk bersila
bersiulian, namun tetap saja ia tidak dapat mengerahkan tenaganya. Begitu ia
mengerahkan sinkang, perutnya terasa panas seperti dibakar dan seluruh tubuh
terasa gatal-gatal. Ia hanya dapat melatih pernapasan, menghirup udara segar,
itu pun tidak dapat ia tarik ke pusar seperti biasa karena hal ini juga
menimbulkan rasa nyeri yang sama.
Semalaman ia
tidak tidur dan kalau ia teringat akan malam penuh bahagia bersama Kwi Hong, ia
tersenyum pahit. Baru kemarin ia mengalami malam yang paling bahagia selama
hidupnya, duduk menghadapi api unggun, menatap wajah gadis itu yang tidur
nyenyak dan merasa betapa dunia menjadi amat indah. Kini perubahan itu seperti
sorga dan neraka. Ia teringat akan wejangan Siauw Lam Hwesio bahwa memang
demikianlah hidup. Sorga dan neraka penghidupan muncul dan lenyap saling
berganti!
Pada
keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah terang tanah, Bun Beng melanjutkan
usahanya menuruni bukit dengan merangkak perlahan-lahan. Betapa ia dapat
melakukan perjalanan cepat kalau ia hanya mengandalkan kedua tangannya untuk
menarik tubuhnya secara mengesot?
Tubuhnya
terasa makin panas. Darah yang mengalir ke kepalanya seolah-olah membakar
kepala dan menjelang tengah hari ia tidak kuat lagi. Ia rebah di bawah sebatang
pohon dalam keadaan setengah pingsan. Ketika ia meletakkan pipinya yang masih
membengkak dan nyeri berdenyut-denyut itu ke atas tanah berumput yang dingin
basah, ia merasa betapa nikmatnya tidur seperti itu. Ingin ia tidak dapat
bangun kembali, rebah seperti itu untuk selamanya!
Sebuah kaki
bersepatu membalikkan tubuhnya yang menelungkup. Ia terlentang dan pandang
matanya berkunang. Dalam keadaan setengah pingsan ia melihat beberapa orang
berdiri mengelilinginya dan jantungnya berdebar penuh kemarahan ketika ia
mengenal seorang di antara mereka adalah pemuda Pulau Neraka, si penunggang
rajawali! Bagaimana pemuda ini bisa muncul kembali?
Pemuda yang
datang bersama dua orang anggota Pulau Neraka bermuka merah tua itu adalah Wan
Keng In. Pemuda ini tadinya hendak kembali ke Pulau Neraka menunggang rajawali
yang terluka parah. Hatinya girang mendapatkan Lam-mo-kiam, akan tetapi juga
kecewa karena dia tidak dapat mengalahkan kakek India dan sastrawan yang
menjadi murid kakek itu. Kecewa karena dia tidak bisa mendapatkan pedang
Li-mo-kiam karena ibunya tentu akan girang sekali kalau dia bisa mendapatkan
Sepasang Pedang Iblis itu, bukan hanya yang jantan, pula, dia pun ingin sekali
mendapatkan pedang Si Sastrawan yang mampu menandingi Lam-mo-kiam.
Dengan hati
girang Wan Keng In melihat seekor burung rajawalinya terbang di udara. Ia
bersuit nyaring dan ketika rajawali itu terbang dekat, ia lalu pindah ke atas
punggung rajawali yang sehat. Ketika ia terbang rendah di pantai, ia melihat
sebuah perahu hitam, perahu Pulau Neraka. Cepat ia turun dan ternyata perahu
itu adalah perahu yang ditumpangi dua orang anggota Pulau Neraka bermuka merah.
Biar pun ia agak kecewa mendapat kenyataan bahwa yang berada di perahu hanyalah
dua orang anggota rendahan yang tidak dapat banyak diandalkan, namun ia girang
juga dan cepat mengajak mereka untuk pergi ke bukit itu. Dia harus menyelidiki
bukit itu. Siapa tahu pusaka-pusaka yang yang lain berada di situ.
Demikianlah,
ketika di tengah jalan ia melihat Bun Beng yang menggeletak setengah pingsan,
alisnya berkerut. "Inilah orangnya yang memegang pedang yang kurampas.
Kepandaiannya lumayan juga. Eh, orang yang terluka parah, aku akan mengobatimu
sampai sembuh, akan tetapi katakanlah, dari mana engkau mendapatkan
Siang-mo-kiam? Dan mana yang sebatang lagi?"
Mendengar
pertanyaan ini, Bun Beng menggeleng kepala tanpa menjawab. Biar pun benar-benar
pemuda Pulau Neraka ini akan dapat menyembuhkannya, dia tetap tidak sudi
memberi tahu kepada pemuda yang dibencinya itu tentang sepasang pedang iblis
yang kini telah dirampasnya sebatang. Lebih baik dia mati dari pada memberi
tahu bahwa pedang yang sebuah lagi dipegang Kwi Hong. Kalau pemuda ini naik
burung rajawali mengejar dan mencari Kwi Hong dari atas, gadis itu bisa
terancam bahaya...
Terima kasih telah membaca Serial ini
No comments:
Post a Comment