Cerita Silat Kho Ping Hoo
Serial Pendekar Remaja
Jilid 15
KEDUA orang
muda itu tidak bergerak, menanti sampai ketiga orang penjahat malam itu turun
dari atas genteng. Akan tetapi sungguh mengherankan karena mereka bertiga itu
tidak turun, hanya berjalan hilir mudik beberapa kali seperti orang-orang yang
merasa ragu-ragu.
Tiba-tiba
saja terdengar bunyi genteng digeser, baik di atas kamar Hong Beng mau pun di
atas kamar Goat Lan. Kedua orang muda itu dengan urat saraf tegang lalu menanti
datangnya senjata rahasia, namun mereka tidak takut sama sekali. Hendak mereka
lihat bagaimana penjahat-penjahat itu akan bertindak terhadap mereka di dalam
kamar yang gelap itu.
Hong Beng
sudah bersiap-siap dengan hati-hati sekali. Ia mempunyai dua dugaan, yaitu
penjahat itu akan menyerang dengan senjata rahasia secara ngawur, atau mereka
akan melompat turun ke dalam kamarnya dari atas genteng. Dan tiba-tiba dari
atas melayang turun benda kecil, akan tetapi jauh dari tempat dia berdiri di
sudut kamar.
Dia hampir
tertawa melihat ketololan penjahat itu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika
benda itu jatuh di lantai, karena segera nampak asap mengebul. Dia hendak
melompat keluar melalui jendela, akan tetapi tiba-tiba ia mencium bau yang amat
wangi dan Hong Beng pun roboh terguling dalam keadaan pingsan! Ternyata bahwa
asap itu adalah asap yang mengandung obat memabukkan yang luar biasa kerasnya.
Goat Lan
mengalami peristiwa yang sama. Sebuah benda juga jatuh di dalam kamarnya dan
mengeluarkan asap. Akan tetapi, sebagai murid Sin Kong Tianglo yang berjuluk
Raja Obat atau Raja Tabib, gadis ini selalu mengantongi penolak racun. Begitu
dia melihat benda itu mengeluarkan asap, dia telah menjadi curiga dan cepat dia
memasukkan tiga butir pil merah ke dalam mulutnya, sehingga ketika dia mencium
bau wangi itu, dia tidak jatuh pingsan, sungguh pun dia merasa agak pening
juga.
“Bangsat
curang!” dia memaki dan cepat tubuhnya melayang ke atas melalui jendela
kamarnya.
Ia melihat
bayangan dua orang hwesio di atas genteng, maka langsung ia menyerang dengan
bambu runcingnya. Kedua orang hwesio itu bukan lain adalah Cu Tong Hwesio dan
Cu Siang Hwesio. Mereka ini datang bersama Ang Lok Cu setelah mendapat kabar
dari Bu Kwan Ji bahwa murid Sin Kong Tianglo telah datang membawa obat untuk
putera Kaisar. Mereka hendak mendahului kedua orang muda itu dengan cara
mencuri obat yang dibawanya.
Ang Lok Cu
yang mempunyai julukan Ngo-tok Lo-kai (Setan Tua Lima Racun) kemudian mengeluarkan
asap beracunnya yang sangat lihai untuk membuat kedua orang muda itu pingsan
agar memudahkan pekerjaan mereka. Sesudah mendengar Hong Beng roboh di dalam
kamarnya, Ang Lok Cu lalu melayang turun ke dalam kamar pemuda itu, ada pun
kedua hwesio kawannya itu masih menanti untuk mendengarkan suara robohnya gadis
di dalam kamar lain.
Akan tetapi
alangkah terkejutnya kedua orang hwesio jahat itu ketika mendengar suara angin
dan makian Goat Lan. Mereka lebih terkejut lagi pada saat melihat betapa dengan
gerakan yang luar biasa cepatnya gadis cantik itu sudah menyerang mereka dengan
dua batang bambu runcing yang menotok ke arah dada mereka.
Cu Tong
Hwesio dan Cu Siang Hwesio cepat-cepat mengelak sambil mencabut pedang mereka,
akan tetapi gerakan Cu Siang Hwesio kurang cepat sehingga satu tendangan
susulan dari Goat Lan membuat dia menjerit kesakitan dan tubuhnya lantas
terguling di atas genteng.
“Lihai
sekali!” seru Cu Tong Hwesio dan tanpa membuang waktu lagi, melihat gadis itu
benar-benar hebat sepak-terjangnya, segera hwesio ini menyambar tangan adiknya
dan membawanya melompat turun dari atas genteng dengan gerakan cepat sekali.
Goat Lan
tidak mau mengejar karena dia merasa kuatir akan keadaan tunangannya. Dia cepat
melompat turun dan sekali tendang saja jendela kamar Hong Beng terbuka. Asap
yang wangi keluar dari jendela itu.
Goat Lan
masih dapat melihat berkelebatnya sesosok tubuh manusia keluar dari kamar
tunangannya melalui lubang di atas genteng. Akan tetapi dia tidak mau mengejar,
terus menghampiri ke dalam kamar dan cepat mencari tunangannya.
Ternyata
bahwa tosu yang memasuki kamar Hong Beng itu sudah menyalakan lilin dan bahkan
sudah sempat memeriksa buntalan pakaian Hong Beng. Goat Lan yang melihat tubuh
tunangannya menggeletak di atas lantai, menjadi pucat.
Cepat dia
mengangkat tubuh tunangannya itu ke atas pembaringan dan tanpa sungkan-sungkan
lagi dia memeriksa. Dia menarik napas lega ketika mendapat kenyataan bahwa
tunangannya itu tidak menderita sesuatu, hanya pingsan akibat asap yang memabukkan
tadi. Dengan pertolongan air teh yang tersedia di atas meja, dia dapat membikin
Hong Beng segera siuman dari pingsannya.
Hong Beng
merasa malu sekali karena telah menjadi korban penjahat, akan tetapi Goat Lan
lalu mengeluarkan beberapa butir pil dan memberikan itu kepada tunangannya.
“Aku yang
kurang hati-hati,” katanya menghibur, “harusnya aku memberi beberapa butir obat
penolak ini kepadamu untuk penjagaan. Yang datang tadi adalah orang-orang yang
cukup pandai, meski pun bukan merupakan lawan yang harus ditakuti.” Kemudian
Goat Lan menceritakan bahwa yang datang adalah dua orang hwesio dan seorang
tosu.
“Aku tidak
dapat melihat jelas wajah mereka,” kata gadis gagah ini, “apa lagi yang sudah
memasuki kamarmu. Hanya kulihat ia adalah seorang yang berpakaian seperti tosu.
Aku hanya berhasil menendang roboh seorang hwesio, sayang bahwa mereka sudah
dapat melarikan diri. Gerakan mereka cukup cepat dan ringan sekali.”
“Sudah
terang bahwa maksud kedatangan mereka itu untuk mencuri dan mencari obat yang
kau bawa,” kata Hong Beng. “Agaknya mereka itu bukan kaki tangan perwira yang
galak tadi.”
“Kukira juga
bukan,” jawab Goat Lan, mungkin sekali mereka adalah ahli-ahli obat yang iri
hati pada mendiang Suhu, dan hendak merampas obat agar supaya nama Suhu tetap
tercemar.”
“Dugaanmu
betul. Melihat asap beracun tadi, tentulah mereka itu mempunyai kepandaian
tentang obat-obatan. Mungkin juga mereka hendak mencuri obat supaya mereka
dapat mengobati putera Kaisar dan merekalah yang akan berjasa.”
Demikianlah,
kedua orang muda itu bercakap-cakap dengan asyik. Tiba-tiba Goat Lan teringat
bahwa sudah terlalu lama dia berada di kamar Hong Beng, maka dengan wajah merah
dia lalu berdiri dan berkata,
“Koko, aku
harus kembali ke kamarku sendiri!”
Sebelum Hong
Beng menjawab, gadis itu melompat keluar dari jendela kamar itu, pergi
meninggalkan Hong Beng yang masih berdiri bengong saking kagumnya melihat wajah
tunangannya yang demikian manisnya tersinar oleh penerangan lilin! Ia menghela
napas lalu menutup kembali jendelanya, kemudian ia melompat naik ke atas
pembaringan dan rebah membayangkan wajah Goat Lan yang cantik manis!
Pada
keesokan harinya, Goat Lan dan Hong Beng sudah menghadap Bu Kwan Ji yang
menerima mereka dengan muka ramah sehingga kedua orang muda itu berlaku semakin
hati-hati sekali. Sikap ini bukan menyenangkan hati mereka, bahkan lantas
menimbulkan kecurigaan di dalam hati.
“Ji-wi telah
diterima oleh Hong-siang dan sekarang juga dipersilakan untuk menghadap,”
katanya dengan senyum manis dibuat-buat.
Dengan
dikawal oleh Bu Kwan Ji bersama dua belas orang perwira bayangkari yang gagah
dan berpakaian indah, sepasang orang muda itu memasuki istana yang luar biasa
indahnya. Bagaikan dua orang dusun yang baru pertama kali memasuki sebuah kota
besar, Hong Beng, dan Goat Lan memandang ke kanan kiri dan tiada habisnya
memuji dan mengagumi perabot yang memang luar biasa indahnya dan jarang dapat
terlihat oleh umum.
Mereka
diterima oleh Kaisar dan Permaisuri sendiri! Bukan dalam persidangan umum, di mana
sekalian hamba sahaya dan bayangkari menghadap Kaisar, melainkan pertemuan
tersendiri.
Mata Hong
Beng dan Goat Lan merasa silau oleh pakaian yang dipakai oleh Kaisar dan
Permaisuri, karena itu dari jauh mereka sudah menjatuhkan diri berlutut bersama
semua perwira yang mengawal mereka.
“Betulkah
kalian datang membawa obat untuk putera kami?” terdengar Kaisar bertanya.
Goat Lan
tidak berani menjawab. Dia merasa seakan-akan lehernya tersumbat, sehingga Hong
Beng yang mewakili.
“Benar,
Paduka yang mulia. Hamba berdua mewakili Yok-ong Sin Kong Tianglo, datang
membawa obat dan hendak mencoba mengobati putera Paduka, mudah-mudahan saja
Thian Yang Maha Kuasa akan memberi berkah-Nya.”
“Hemm, kami
telah mendengar akan kesombongan Raja Obat itu! Kami juga telah bosan mendengar
kesanggupan ahli-ahli obat. Tahukah kalian bahwa sudah ada empat orang ahli
obat kami jatuhi hukuman mati karena mereka tidak dapat memenuhi kesanggupan
mereka? Kami memberitahukan hal ini karena sayang melihat kalian yang masih
muda dan rupawan. Sekarang tinggalkan sebuah obatmu untuk kami cobakan kepada
putera kami, mudah-mudahan ada hasilnya.”
“Mohon maaf
sebanyaknya apa bila hamba berani membantah,” tiba-tiba Goat Lan nekad berkata.
“Menurut pesan terakhir dari Suhu, haruslah hamba sendiri yang meminumkan obat
itu kepada putera Paduka.”
Berkerutlah
kening Kaisar itu. “Apa? Apakah kau tidak percaya kepadaku? Tidak percaya
kepada ahli-ahli pengobatan yang berada di dalam istana?”
“Bukan
demikian, akan tetapi…”
“Cukup! Kau
ini anak gadis masih muda, sampai berapa tinggi kepandaian dan berapa banyak
pengalamanmu. Tabib-tabibku adalah orang-orang pandai yang berpengalaman.
Tinggalkan obat itu dan kalian harus tunggu di dalam kota raja, jangan
sekali-kali keluar dari kota raja sebelum ada hasil pengobatan itu!”
Bukan main
gelisahnya hati Goat Lan, akan tetapi dia tidak berani membantah. Suara Kaisar
itu dan keadaannya sungguh amat berpengaruh. Kemudian dengan kedua tangan
menggigil dia mengeluarkan sebutir buah Giok-ko.
“Hamba
mentaati perintah,” katanya kemudian. “Harap saja buah ini diberikan kepada
putera Paduka yang sakit untuk dimakan mentah-mentah.”
Kaisar
memberi tanda dengan tangannya dan Bu Kwan Ji maju untuk mewakili Kaisar
menerima buah itu. Bukan main mangkelnya hati Goat Lan. Mengapa Kaisar percaya
kepada orang macam ini? Akhirnya dia dan Hong Beng dipersilakan keluar dari
istana.
Sesudah
keluar dari istana yang mewah dan megah itu, Goat Lan membanting-banting
kakinya. “Kaisar bod...”
“Sssttt,”
kata Hong Beng mencegah.
“Kita lihat
saja bagaimana perkembangannya, Moi-moi. Marah saja tak akan ada artinya. Harus
kau ingat bahwa pengobatan dan segala jerih payahmu ini bukan khusus untuk
menolong Pangeran yang sedang sakit, melainkan untuk menjaga nama suhu-mu.”
Keduanya
lalu berjalan perlahan kembali ke hotel mereka. Mendadak terdengar seruan
girang, “Lihiap...!”
Mereka
menengok dan melihat seorang pemuda tanggung berusia kurang lebih empat belas
tahun yang berwajah tampan dan berpakaian indah sedang duduk di atas seekor
kuda putih, diiringi oleh empat orang pengawal berpakaian sebagai guru-guru
silat.
“Kau...?”
Goat Lan merasa kenal dengan pemuda bangsawan ini.
Ketika
pemuda tanggung itu melompat turun, teringatlah ia bahwa dia adalah Ong Tek,
putera Pangeran Ong yang dulu menjadi murid Ban Sai Cinjin dan yang telah
ditolongnya dari bahaya maut ketika diserang oleh gurunya sendiri!
“Lihiap, kau
hendak ke manakah? Sungguh sangat menggirangkan hati dapat bertemu dengan
penolongku yang tidak pernah kulupakan di tempat ini!”
Dengan sikap
masih kekanak-kanakan Ong Tek lalu menghampiri Goat Lan dan menjura dengan
hormatnya. Cepat Goat Lan membalasnya, karena banyak orang yang melihat mereka
dengan mata heran. Siapakah yang tidak merasa heran melihat putera pangeran
beramah-tamah dengan seorang gadis biasa?
“Lihiap,
marilah kau singgah di rumah orang tuaku, mereka telah merasa rindu dan ingin
sekali bertemu dengan penolongku.”
Menghadapi
keramahan anak ini, Goat Lan tidak dapat menolak dan dia menganggukkan
kepalanya. Ong Tek menjadi girang sekali dan ketika dia melihat Hong Beng dia
segera bertanya, “Lihiap, siapakah Twako yang gagah ini?”
“Dia
adalah... kawan baikku, dan kedatanganku juga bersama dia.”
Ong Tek yang
terpelajar itu lalu menjura dan memberi hormat kepada Hong Beng yang
membalasnya dengan tersenyum. Dia suka juga melihat anak yang sopan dan peramah
ini.
“Silakan
naik kuda pengawalku!” kata Ong Tek, yang menyuruh dua orang pengawalnya turun
dari kuda.
Akan tetapi
Goat Lan dan Hong Beng tentu saja menolaknya dan menyatakan lebih baik berjalan
kaki. Ong Tek tak dapat memaksa dan dia pun lalu menyuruh para pengawalnya
berangkat lebih dulu sambil membawa kudanya, mengabarkan bahwa penolongnya akan
datang ke rumahnya. Dia sendiri lalu berjalan kaki bersama dua orang muda itu!
Rumah gedung
Pangeran Ong Tiang Houw, ayah Ong Tek, sangat besar dan megah. Pangeran ini
cukup berpengaruh, oleh karena dia masih terhitung keluarga dekat dengan
Kaisar. Maka ia amat disegani. Akan tetapi oleh karena dia amat setia kepada
Kaisar dan tak mau berbaik dengan para pembesar durna, maka diam-diam banyak
pembesar yang membencinya.
Ketika Goat
Lan dan Hong Beng tiba di gedung itu, mereka merasa amat malu-malu dan sungkan
sebab ternyata bahwa Pangeran Ong Tiang Houw beserta isterinya menyambut mereka
sendiri sampai di depan pintu, diiringi oleh banyak sekali pelayan dan
pengawal!
Begitu
berhadapan, ibu Ong Tek lalu maju dan merangkul Goat Lan. Ia menatap wajah
pendekar wanita itu dengan kagum, lalu berkata, “Ahhh, melihat kau begini
cantik dan lemah-lembut, sukarlah bagiku untuk percaya cerita Tek-ji (Anak Tek)
bahwa kau adalah seorang pendekar wanita gagah perkasa yang telah menolong nyawa
anakku.”
Dengan muka
kemerah-merahan Goat Lan lalu mengucapkan kata-kata merendah. Juga Pangeran Ong
menyatakan kegembiraan dan kekagumannya.
“Nona,
siapakah sebenarnya namamu? Putera kami sendiri masih tidak tahu siapa nama
penolongnya.”
Dengan sikap
hormat dan manis Goat Lan segera memperkenalkan namanya dan juga nama Hong
Beng. Ketika mendengar bahwa Goat Lan adalah puteri Kwee An dan Hong Beng
putera Pendekar Bodoh, Pangeran Ong makin menghormat sikapnya. Kedua orang muda
itu lalu diajak masuk ke dalam di mana mereka diterima dengan jamuan makan yang
mewah serta percakapan yang amat ramah tamah dan meriah.
Pada saat
mereka sedang makan minum sambil bercakap-cakap, ditemani oleh beberapa orang
pengawal kepala yang duduk di meja lain, tiba-tiba seorang penjaga pintu datang
menghadap Pangeran Ong dengan wajah pucat.
“Taijin, di
luar ada utusan dari Hong-siang (Kaisar) yang minta agar Paduka dan tamu Paduka
keluar.”
Pangeran Ong
mengerutkan kening mendengar ini. Tidak biasa Kaisar mengutus orang pada saat
seperti ini, dan sepanjang ingatannya, tidak ada urusan penting di istana. Tapi
betapa pun juga, dia lalu berdiri dari tempat duduknya dan Hong Beng yang
mendengar ucapan penjaga itu pun segera bangun berdiri mengikuti tuan rumah
keluar dari ruangan dalam.
Ada pun Goat
Lan yang duduk bercakap-cakap dengan Nyonya Ong, hanya memandang ke arah Hong
Beng, seakan-akan ia menyatakan sudah cukup diwakili oleh tunangannya itu untuk
melihat apakah yang terjadi di luar gedung.
Ketika
Pangeran Ong dan Hong Beng tiba di luar, ternyata yang datang adalah Perwira Bu
Kwan Ji sendiri, diikuti oleh lima orang perwira lain. Melihat Pangeran Ong, Bu
Kwan Ji memberi hormat karena kedudukan Pangeran ini jauh lebih tinggi dari
pada kedudukan dia sendiri yang hanya sebagai kepala pengawal raja.
“Mohon
dimaafkan bila hamba mengganggu Taijin. Hamba mendapat keterangan bahwa kedua
orang muda yang lancang berani memberi obat palsu kepada Pangeran yang sakit
sedang berada di gedung Taijin, maka hamba datang hendak menangkap mereka.” Dia
memandang ke arah Hong Beng yang berdiri dengan tenangnya.
Pangeran Ong
memandang heran. Memang sesungguhnya Hong Beng dan Goat Lan tidak menceritakan
kepadanya tentang hal pengobatan itu.
“Bu-ciangkun,
apakah kau mengimpi? Memang ada kedua orang tamuku di sini, akan tetapi mereka
adalah pendekar-pendekar muda yang gagah perkasa. Inilah seorang di antaranya,
ia adalah putera dari Pendekar Bodoh, apakah ini yang kau maksudkan?”
Bu Kwan Ji
tertegun mendengar bahwa pemuda ini adalah putera Pendekar Bodoh, akan tetapi
dia dapat menetapkan hatinya dan berkata, “Betul, Taijin. Dia inilah dan
seorang gadis telah berani memberi obat palsu kepada Hong-siang dan setelah
diberikan kepada Pangeran yang sakit, ternyata obat itu membuat sakitnya lebih
berat!”
Hong Beng
melangkah maju, “Ciangkun, apakah bicaramu itu boleh dipercaya?”
“Kenapa
tidak? Hayo kau menyerah untuk kami tangkap! Kau dan kawanmu telah berani mati
mencoba meracuni Pangeran!” Sambil berkata demikian, Bu Kwan Ji bergerak maju
diikuti lima orang kawannya. Akan tetapi Hong Beng sudah marah sekali.
“Maaf,
Ong-taijin,” katanya kepada Pangeran Ong, “terpaksa hamba akan melayani para
perwira kasar ini.” Dia lalu menantang kepada Bu Kwan Ji dengan suara keras.
“Perwira she Bu, aku tidak percaya akan semua ucapanmu itu! Jika memang benar
kata-katamu, antarkanlah aku dan kawanku ke tempat Pangeran yang sedang sakit
berada, agar kami dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri!”
“Hemm,
penjahat muda. Apakah kau hendak datang dan membunuh Pangeran dengan kedua
tanganmu sendiri, setelah obat racunmu tidak berhasil membunuhnya?”
Keadaan
menjadi tegang dan Pangeran Ong segera berlari masuk sambil berkata, “Baik
kupanggil Nona Kwee!” Sementara itu, dua orang pengawalnya berdiri menjaga di
pintu, sedangkan Hong Beng berdiri bertolak pinggang dengan sikap menantang.
Tiba-tiba
terdengar suara bergelak dari sebelah belakang para perwira itu dan tahu-tahu
seorang kakek tua yang berpakaian mewah dan membawa sebatang huncwe panjang
melangkah maju.
“Bu-ciangkun,
pemuda ini mengaku sebagai putera Pendekar Bodoh! Ha-ha-ha! Agaknya semua
penjahat muda suka menggunakan nama Pendekar Bodoh untuk menakut-nakuti orang.
Akan tetapi aku tidak takut! Biarlah aku menolong kalian menangkapnya!”
Orang tua
itu bukan lain adalah Ban Sai Cinjin! Walau pun Hong Beng belum pernah melihat
sendiri kakek ini, akan tetapi ia telah mendengar dari Goat Lan tentang kakek
ini. Pada saat Ban Sai Cinjin mengirim huncwe-nya ke arah Hong Beng, pemuda ini
merasa betapa ada angin yang keras menyambar ke arahnya.
Cepat ia
mengelak dan kini ia tidak merasa ragu-ragu lagi. Melihat kelihaian sambaran
huncwe tadi, ia maklum bahwa tentulah ini orangnya yang pernah bertempur dengan
Lili dan Goat Lan.
“Apakah ini
yang disebut Huncwe Maut?” katanya mengejek. “Biar kulihat sampai dimana sih
kepandaianmu maka kau bisa sejahat itu!”
Ban Sai
Cinjin merasa penasaran sekali ketika sambaran huncwe-nya dapat dielakkan
dengan secara mudah sekali oleh pemuda itu. Tadinya ia masih memandang rendah
dan sama sekali tidak percaya bahwa pemuda ini pun putera Pendekar Bodoh, maka
ia lalu maju menyerang dengan cepatnya.
Akan tetapi,
akhirnya ia merasa ragu-ragu dan terkejut sekali karena gerakan pemuda itu
benar-benar luar biasa sekali. Dengan ilmu ginkang yang ringannya bagai seekor
burung walet, pemuda itu dapat menghindarkan diri dari serangan-serangan
huncwe-nya, malah kini membalas dengan serangan pukulan tangan kosong yang luar
biasa sekali. Semakin besar rasa terkejutnya pada saat dia mengenal ilmu silat
pemuda ini sebagai Ilmu Silat Pat-kwa Ciang-hoat, yaitu satu-satunya ilmu silat
di dunia barat yang menjadi kepandaian seorang tokoh besar.
“Eh, dari
mana kau mencuri ilmu silat dari Pok Pok Sianjin?” bentaknya sambil mengayun
huncwe-nya.
“Tua bangka
rendah! Pok Pok Sianjin adalah Suhu-ku, kau mau apa?” maki Hong Beng sambil
mempercepat gerakannya.
Pertempuran
berjalan ramai sekali dan sungguh pun Hong Beng menghadapinya dengan tangan
kosong, akan tetapi dalam beberapa belas jurus ini belum kelihatan pemuda itu
terdesak, bahkan ia menggunakan kegesitan dan keringanan tubuhnya untuk
menyambar-nyambar dari atas dan mengirim pukulan dan tendangan ke arah kepala
lawannya!
Bukan main
terkejut dan marahnya Ban Sai Cinjin. Tadi ia telah menyombong di depan Bu Kwin
Ji dan ketiga orang tabib istana untuk menangkap dua orang muda yang hendak
mencoba mengobati Pangeran, akan tetapi sekarang baru menghadapi seorang di
antara kedua orang muda itu saja, ia tidak dapat menangkapnya, biar pun pemuda
itu bertangan kosong!
Ia berseru
keras dan dengan cepat ia menjemput tembakau hitam dari kantong tembakau yang
tergantung pada huncwe-nya, memasukkan tembakau itu pada kepala huncwe-nya yang
masih berapi. Tak lama kemudian mengepullah asap hitam dari huncwe-nya!
Akan tetapi
pada saat itu, berkelebat bayangan putih kemerahan dan tahu-tahu Goat Lan sudah
melompat dari dalam dan berdiri di depan kedua orang pengawal Pangeran Ong yang
berdiri menjaga di depan pintu masuk. Di belakangnya nampak Ong Tek
berlari-lari mengikutinya. Kini keduanya berdiri bengong memandang ke arah
mereka yang sedang bertempur.
Ong Tek
memandang dengan hati berdebar ngeri ketika mengenal bekas gurunya yang sedang
menyerang Hong Beng, ada pun Goat Lan juga merasa heran mengapa kakek ini
tiba-tiba saja bisa muncul di tempat itu. Akan tetapi ketika dia melihat huncwe
yang telah mengepulkan asap hitam, tak terasa pula ia mendekatkan telunjuknya
ke mulut. Hatinya gelisah dan ia memandang dengan hati kuatir sekali akan
keselamatan tunangannya.
“Hati-hati,
Koko, asap tembakaunya beracun! Biar aku menghadapi pesolek tua bangka ini!”
Setelah berkata demikian, dia mencabut sepasang bambu runcingnya dan melompat
ke kalangan pertempuran.
Bukan main
kagetnya hati Ban Sai Cinjin ketika ia melihat gadis yang pernah mengacau
kuilnya dulu. Dia cepat memutar huncwe-nya untuk menangkis bambu runcing yang
telah dikenal kelihaiannya itu.
Sungguh
sial, pikirnya. Keadaan pemuda itu saja sudah merupakan kesialan baginya,
karena tadinya ia tidak percaya bahwa pemuda ini benar-benar putera Pendekar
Bodoh dan memiliki ilmu silat sedemikian lihainya, bahkan ternyata masih murid
Pok Pok Sianjin pula! Dan sama sekali tidak pernah ia bermimpi bahwa gadis yang
membawa obat untuk Pangeran itu adalah Kwee Goat Lan yang lihai!
Menghadapi
kedua orang muda ini, dia tidak akan menang, pikirnya. Karena itu, setelah
menyemburkan asap hitam tembakaunya, dia lalu melompat mundur dan lari keluar
dari tempat itu! Goat Lan memutar sepasang bambu runcingnya untuk memukul buyar
asap hitam yang bergumpal-gumpal, sedangkan Hong Beng juga melompat mundur
sambil menggerakkan kedua tangannya supaya mendatangkan angin mengusir asap
berbahaya tadi.
Pada saat
keduanya memandang ke depan, ternyata rombongan perwira tadi pun sudah lenyap
dari sana! Pangeran Ong Tiang Houw sudah keluar pula dan Pangeran ini marah
sekali. Ia membanting-banting kakinya dan berkata dengan gemas,
“Terlalu
sekali si Bu Kwan Ji! Aku harus memprotes hal ini di hadapan Kaisar! Perwira
itu sudah sepatutnya diganti dengan orang lain! Sungguh kurang ajar, di rumahku
dia berani berlagak seperti itu!”
Ada pun Goat
Lan merasa marah sekali dan juga mendongkol. “Telah susah payah Suhu mencarikan
obat sampai mengorbankan nyawa dan aku melanjutkan usahanya mencari obat itu,
tidak tahu hanya begini saja terima kasih orang! Koko, apa gunanya mengobati
orang yang tidak tahu terima kasih? Aku mau pulang saja ke Tiang-an!”
Walau pun
telah dibujuk oleh Pangeran Ong, Goat Lan tetap tidak mau tinggal lebih lama di
gedung Pangeran itu dan bersama Hong Beng lalu keluar dari situ. Akan tetapi
Hong Beng berhasil membujuk Goat Lan agar jangan meninggalkan kota raja dulu.
“Moi-moi,
hatiku masih merasa amat curiga terhadap Bu Kwan Ji itu! Siapa tahu kalau dia
yang main gila dan bukan Kaisar yang menyuruh menangkap kita? Dan siapa tahu
pula kalau dia bermain gila dan mengganti obat buah mutiara itu dengan lain
buah?”
Terkejut
Goat Lan memandang kepada Hong Beng. “Mungkinkah ada orang berpangkat pengawal
istana yang menghendaki kematian Pangeran?”
“Siapa
tahu?” Hong Beng menggerakkan kedua pundaknya. “Menurut Ayah, di dunia ini
banyak sekali terjadi kejahatan-kejahatan yang amat mengerikan. Iblis telah berkuasa
di banyak hati manusia. Oleh karena itu, biarlah untuk sementara kita tinggal
di hotel dan menanti perkembangan selanjutnya. Kita tidak usah kuatir, meski
pun ada Ban Sai Cinjin yang membantu Bu Kwan Ji, kita tak perlu takut!”
Disebutnya
nama ini membuat Goat Lan mengerutkan keningnya. “Aku tidak takut pada Huncwe
Maut itu, hanya aku merasa heran sekali bagaimana kakek jahat itu bisa sampai
ikut campur tangan? Benar-benar aneh!”
Memang
ucapan Goat Lan beralasan. Mungkin para pembaca juga merasa heran seperti gadis
cantik itu. Bagaimanakah tahu-tahu Ban Sai Cinjin bisa muncul di kota raja dan
ikut membantu Bu Kwan Ji melakukan penangkapan?
Setelah
rumahnya menderita amukan Lie Siong yang membakar dan membunuh banyak anak
buahnya, diam-diam Ban Sai Cinjin menjadi terkejut dan mulai merasa khawatir.
Ternyata bahwa keturunan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya memiliki kepandaian
yang amat tinggi ilmu dan juga amat ganasnya.
Memang betul
bahwa dia telah berhasil mengundang pembantu-pembantu yang tangguh seperti
suheng-nya sendiri Wi Kong Siansu yang ilmu kepandaiannya belum tentu kalah
oleh Pendekar Bodoh, juga dia sudah berhasil mengundang Thai-lek Sam-kui, Tiga
Iblis Geledek dari Hailun yang juga memiliki ilmu kepandaian yang bisa
diandalkan dan hanya sedikit di bawah tingkat Wi Kong Siansu.
Dia lalu
mengadakan perundingan dengan suheng-nya dan tiga orang Iblis Geledek itu,
bagaimana cara untuk menghadapi musuh-musuh besarnya, yaitu Pendekar Bodoh dan
keturunannya serta kawan-kawannya.
“Mereka itu
terlalu sombong dan mengandalkan kepandaian mereka,” berkata Ban Sai Cinjin,
“kalau kita tidak mengambil tindakan, akan hancurlah nama kita! Seorang pemuda
keturunan Pendekar Bodoh berani sekali membunuhi orang-orangku, tamu-tamuku dan
juga membakar rumahku, benar-benar hebat sekali! Ilmu kepandaian Bu Pun Su
ternyata telah diwarisi oleh orang-orang muda yang ganas dan kejam!”
Memang
mudahlah bagi mulut untuk mengatakan kejam kepada lain orang, sama sekali tidak
ingat akan kekekejaman sendiri yang dianggapnya selalu benar!
“Bagaimana
pikiranmu kalau aku pergi mengunjungi Pendekar Bodoh untuk menegurnya dan
sekalian menyampaikan undangan untuk pibu di puncak Thian-san tahun depan? Wi
Kong Siansu tiba-tiba bertanya.
Tentu saja
semua orang menyatakan persetujuan. “Akan lebih baik lagi kalau begitu. Kita
bisa mempersiapkan diri, dan kalau Suheng bertemu dengan kawan-kawan sehaluan
di tengah perjalanan, boleh sekalian minta bantuan mereka.”
Hailun
Thai-lek Sam-kui tertawa bergelak-gelak dan saling pandang. “Masih tahun depan?
Alangkah lamanya, kami kira sekarang akan diadakan pibu! Ah, kalau begitu
biarlah kami bertiga melancong dulu menghibur hati, nanti musim semi tahun
depan kami akan datang di Thian-san!” kata Thian-he Te-it Siansu, kakek yang
kate gemuk dan selalu membawa payung itu.
Tiga orang
ini termasuk orang-orang aneh yang tak dapat dihalangi kehendaknya, maka Ban
Sai Cinjin juga tidak bisa mencegah keberangkatan mereka. Ia amat mengharapkan
bantuan orang-orang ini dan kalau mereka sudah berjanji akan datang membantu
pada nanti tahun depan di puncak Thian-san, tentu mereka tidak akan melanggar
janji. Ia lalu memberi bekal banyak uang emas dan barang-barang berharga, yang
tentu saja diterima oleh Hailun Thai-lek Sam-kui dengan gembira.
Demikianlah,
Wi Kong Siansu dan muridnya, Song Kam Seng, lalu berangkat menuju ke Shaning
untuk mencari Pendekar Bodoh dan di tengah perjalanan, yaitu di Lianing, dia
bertemu dengan Lili dan Lo Sian seperti sudah dituturkan di depan dan
menyampaikan tantangan pibunya melalui gadis puteri Pendekar Bodoh itu.
Setelah
Thai-lek Sam-kui pergi, Ban Sai Cinjin yang ditinggal seorang diri merasa tidak
enak sekali. Diam-diam dia lantas memikirkan nasibnya yang seakan-akan
dikelilingi oleh lawan-lawan muda yang amat tangguhnya.
Dia tidak
merasa gentar, akan tetapi sesunguhnya ada perkara yang lebih penting dan besar
dari pada perkara permusuhannya dengan golongan Pendekar Bodoh. Dari para
sahabatnya di kota raja, dia mendengar tentang keadaan yang sangat genting di
dalam istana. Biar pun dari luar tidak terdengar sesuatu dan rakyat hanya
mengetahui bahwa Pangeran Mahkota telah sakit keras sekali, akan tetapi
sebetulnya di dalam istana terjadi perebutan kekuasaan yang hebat!
Ban Sai
Cinjin adalah seorang yang mempunyai cita-cita besar. Dia sangat haus akan
kedudukan tinggi dan kemewahan hidup, dan keadaannya yang telah kaya raya itu
masih belum memuaskan nafsunya. Alangkah baiknya kalau dia bisa menjadi
pembesar tinggi, menjadi bangsawan yang dihormati oleh laksaan orang!
Telah lama
ia menjadi sahabat Ang Lok Cu, tosu yang berjuluk Ngo-tok Lo-koai dan yang kini
tiba-tiba kejatuhan bintang dan menjadi tabib istana berkat pertolongan Bu Kwan
Ji. Ia lalu menghubungi sahabatnya ini dan diperkenalkan kepada Bu Kwan Ji.
Perwira yang
cerdik ini sangat gembira dapat berkenalan dengan Ban Sai Cinjin, karena orang
macam inilah yang amat dibutuhkan untuk membantunya mencapai cita-cita. Biar
pun ketiga orang ahli obat itu merupakan tenaga-tenaga yang cakap, akan tetapi
ilmu silat mereka kurang tinggi.
Semenjak
perkenalan itu, Ban Sai Cinjin selalu mengadakan hubungan dengan Bu Kwan Ji dan
semua kaki tangannya, atau lebih tepat lagi, dengan kaki tangan selir Kaisar
yang memiliki cita-cita untuk mengangkat puteranya sendiri menjadi pengganti
kaisar!
Persekutuan
gelap dibentuk, dan Ban Sai Cinjin sudah menyanggupi untuk menyiapkan pasukan
yang kuat dari Mongol apa bila sewaktu-waktu terjadi perang. Muridnya, Bouw Hun
Ti yang masih tinggal di rumah lalu melawat ke Mongol dan mengadakan hubungan
dengan kepala suku Mongol yang dikenalnya baik, yaitu Malangi Khan.
Kemudian Ban
Sai Cinjin teringat kepada bekas muridnya, yaitu Ong Tek. Dia merasa menyesal
sekali mengapa ia telah kehilangan Ong Tek, oleh karena ia tahu bahwa ayah Ong
Tek, yaitu Pangeran Ong Tiang Houw, adalah seorang pembesar yang amat besar
pengaruhnya di dalam istana. Dan sekarang ia justru telah menanam kebencian di
dalam hati Ong Tek yang tentu saja sudah menuturkan semua peristiwa yang terjadi
kepada ayahnya!
“Ong Tek
merupakan bahaya besar, Suhu,” kata Hok Ti Hwesio, murid satu-satunya yang amat
dipercaya oleh Ban Sai Cinjin. “Akan baik sekali kalau Suhu bisa mencari dan
membunuhnya agar ia tidak banyak membuka mulutnya memburukkan nama Suhu.”
Demikianlah,
dengan hati kesal setelah semua orang pergi, dia kemudian memesan Hok Ti Hwesio
agar supaya menjaga kuilnya, kemudian ia lalu berangkat ke kota raja, dengan
tujuan utama untuk mengadakan perundingan dengan Bu Kwan Ji tentang
perkembangan cita-cita mereka. Ada pun tujuan kedua ialah untuk mencari dan
bila mungkin membunuh bekas muridnya, yaitu Ong Tek!
Dan pada
saat dia tiba di gedung tempat kediaman Bu Kwan Ji itulah maka kebetulan sekali
Bu Kwan Ji sedang menghadapi urusan besar, yaitu datangnya dua orang muda yang
mewakili Sin Kong Tianglo membawa obat untuk Pangeran Mahkota yang sedang
sakit! Dengan lincahnya, Bu Kwan Ji berunding dengan selir Kaisar yang
menyampaikan kepada Kaisar tentang adanya dua orang muda yang mencurigakan dan
yang katanya datang membawa obat untuk Pangeran.
“Mereka itu
masih muda, mana mungkin memiliki kepandaian tinggi?” Kaisar dibujuk oleh
selirnya. “Boleh mencoba obat mereka, akan tetapi lebih baik mereka jangan
dibolehkan mendekati Pangeran, siapa tahu kalau mereka itu utusan para
pemberontak yang secara diam-diam hendak membunuh Pangeran?”
Bujukan itu
termakan oleh Kaisar dan sebagaimana dituturkan di bagian depan, Goat Lan dan
Hong Beng tidak diperbolehkan mendekati Pangeran, hanya buah Giok-ko saja yang
diterima oleh Kaisar. Mudah sekali diduga bahwa setelah obat itu diberikan
kepada tiga orang tabib istana untuk dicobakan kepada Pangeran yang sakit, obat
itu sudah dibuang dan diganti dengan obat lain yang tidak ada khasiatnya bahkan
yang merusak kesehatan Pangeran yang malang itu.
Kaisar
menjadi marah dan menyuruh Bu Kwan Ji pergi mencari serta memanggil kedua orang
muda yang telah membawa obat palsu!! Perwira she Bu ini karena merasa kuatir
kalau-kalau kedua orang muda itu melawan, kemudian mengajak Ban Sai Cinjin
pergi mengunjungi rumah gedung Pangeran Ong.
Sungguh hal
yang kebetulan sekali, pikir mereka, karena kedua orang muda itu ternyata kenal
baik dengan Pangeran Ong. Kesempatan bagus sekali untuk memfitnah keluarga
Pangeran Ong!
Siasat licin
dan akal busuk dijalin oleh para pengkhianat itu, dan Hong Beng bersama Goat
Lan merasa kuatir, tidak tahu apakah yang akan terjadi selanjutnya. Mereka
tidak tahu bahwa musuh-musuh tersembunyi sedang mengatur siasat yang jahat bagi
mereka dan keluarga Pangeran Ong!
Bu Kwan Ji
membawa Ban Sai Cinjin menghadap Kaisar. Dengan pandai sekali dia lalu
menuturkan bahwa dua orang muda itu telah dilindungi oleh Pangeran Ong Tiang
Houw, dan bahkan kedua orang yang berkepandaian tinggi itu melawan ketika akan
ditangkap.
“Baiknya ada
Losuhu ini yang menolong hamba, kalau tidak, hamba tentu akan binasa oleh
mereka,” kata Bu Kwan Ji menutup laporannya.
“Hamba sudah
tahu bahwa mereka itu adalah keturunan Pendekar Bodoh, seorang yang terkenal
sebagai pemberontak di masa pemerintahan ayah Paduka,” kata Ban Sai Cinjin
kepada Kaisar. “Agaknya Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya masih saja mempunyai
keinginan untuk memberontak dan bersekutu dengan para bangsawan yang memiliki
hati khianat!”
Bukan main
marahnya Kaisar mendengar ucapan-ucapan yang menghasut ini.
“Bagaimana
mungkin?” katanya ragu-ragu. “Ong Tiang Houw adalah seorang pembesar yang setia,
bahkan masih terhitung keluarga istana! Agaknya tak mungkin ia memiliki hati
khianat dan mengadakan perhubungan dengan segala pemberontak dan penjahat.
“Hamba tidak
berani menuduh,” kata Bu Kwan Ji, “hanya akan lebih aman dan baik sekali apa
bila Pangeran Ong dipanggil untuk memberikan keterangan.”
“Baik, kau
pergi dan panggil dia datang, juga seluruh keluarganya!” bentak Kaisar. “Dan
Losuhu ini, siapakah namanya?”
“Hamba
disebut orang Ban Sai Cinjin, seorang hamba sahaya biasa saja yang bersedia mengorbankan
tenaga dan nyawa untuk negara.”
“Bagus, kau
bantulah Bu Kwan Ji, nanti akan kupikirkan kedudukan yang sesuai dengan
jasamu!”
Bukan main
girangnya hati Ban Sai Cinjin mendengar ucapan Kaisar ini. Dia kemudian
mengundurkan diri untuk melakukan tugas yang diperintahkan oleh Kaisar. Untuk
kali ini, Bu Kwan Ji menerima surat kuasa yang berupa bendera lengki (bendera
tanda pesuruh kaisar).
Dengan
lengki di tangan, maka mudah saja bagi Bu Kwan Ji membawa Pangeran Ong
sekeluarganya, menggiring mereka semua ke tahanan, sambil menanti perintah
Kaisar untuk memeriksa mereka. Suara tangis riuh-rendah memenuhi tempat
tahanan, namun Pangeran Ong Tiang Houw dengan tenang berkata,
“Tak usah
menangis! Kita telah difitnah orang, akan tetapi mengapa gelisah? Tunggulah
sampai aku dapat bertemu dengan Kaisar, tentu aku akan sanggup menyadarkan
Kaisar yang agaknya dihasut oleh mulut jahat!“
Alangkah
terkejutnya hati Hong Beng dan Goat Lan pada saat mereka mendengar dari pelayan
hotel bahwa keluarga Pangeran Ong sudah ditangkap oleh perwira-perwira dari
istana! Hal ini adalah sebuah hal yang aneh dan mengejutkan orang, maka tentu
saja berita ini tersiar dengan cepatnya hingga pelayan itu pun mendengar lalu
menyampaikan kepada semua tamu hotel.
“Sungguh
aneh, agaknya dunia akan kiamat!” pelayan yang doyan cerita itu menutup
penuturannya. “Pangeran Ong adalah seorang yang sangat berpengaruh dan ditakuti,
ia selalu dekat dengan Hong-siang karena kabarnya ia merupakan saudara dari
Hong-houw (Permaisuri). Akan tetapi siapa yang tahu akan nasib orang? Ah,
kasihan, Pangeran Ong sekeluarga terkenal sangat dermawan dan budiman. Apa lagi
puteranya, Ong Kongcu yang suka sekali datang ke sini dan bercakap-cakap dengan
semua orang. Dia sangat peramah dan tidak sombong, naik kuda mengelilingi kota,
bergaul dengan semua orang, tidak seperti putera-putera bangsawan lain yang
besar kepala dan...”
Baru sampai
di situ kata-katanya, tiba-tiba saja dia menutup mulut dan wajahnya menjadi
pucat. Serombongan perwira berbaris menuju ke hotel itu dengan sikap amat galak
dan mengancam! Ributlah semua orang dan semua tamu langsung bersembunyi di
kamar masing-masing. Dengan kaki gemetar pelayan itu pun terpaksa menuju ke
pintu bersama pelayan-pelayan lain mengiringi pengurus hotel menyambut barisan
itu.
“Pelayan itu
terlampau lancang mulut, tentu dia akan ditangkap!” terdengar seorang tamu
berkata perlahan.
Akan tetapi
Hong Beng dan Goat Lan berpikir lain. Mereka saling pandang dan cepat masuk ke
kamar masing-masing. Sekejap kemudian mereka telah keluar pula dan sudah
menggendong semua barang-barang mereka, siap untuk meninggalkan tempat itu!

Benar saja
dugaan mereka, begitu mereka keluar dari kamar, pengurus hotel dan para pelayan
yang agaknya bercakap-cakap dengan para perwira, kemudian menudingkan jari
mereka ke arah Hong Beng dan Goat Lan. Tiba-tiba Bu Kwan Ji dan perwira-perwira
kelas satu dari istana maju menyerbu dan mengurung kedua orang muda itu!
Goat Lan
memandang kepada kedua orang hwesio yang seperti sudah dikenalnya itu, akan
tetapi dia lupa lagi di mana dia pernah bertemu dengan mereka. Dia tidak diberi
kesempatan untuk mengingat-ingat hal itu, karena mereka telah mengeroyok.
Kepandaian
mereka ternyata tidak boleh dipandang ringan. Ban Sai Cinjin sendiri sudah amat
tangguh, juga dua orang hwesio dan tosu itu merupakan tandingan-tandingan yang
tidak boleh dibuat main-main. Bu Kwan Ji dan tujuh orang perwira kelas satu
dari istana yang sudah menjadi kaki tangannya juga memiliki kepandaian yang
cukup hebat, maka Goat Lan dan Hong Beng cepat mencabut senjata mereka. Hong
Beng mengeluarkan tongkat hitamnya, yaitu tongkat tanda pangkat sebagai ketua
Hek-tung Kai-pang, ada pun Goat Lan lalu mencabut sepasang bambu runcingnya.
Tempat di
mana mereka bertempur itu sangat sempit, maka Hong Beng lalu berseru, “Hayo
kita keluar!”
Goat Lan
mengerti maksud tunangannya, maka dia lalu menerjang pengeroyoknya dan
merobohkan seorang perwira. Demikian pula Hong Beng berhasil mengemplang kepala
seorang perwira dan bersama Goat Lan cepat melompat ke halaman hotel. Di sini
tempatnya lebih luas sehingga mereka akan dapat melakukan perlawanan dengan
baik.
Akan tetapi
baru saja kaki mereka menginjak halaman hotel, mendadak puluhan batang anak
panah menyambar dari luar. Cepat mereka menggerakkan senjata dan memutarnya
melindungi tubuh. Ketika mereka memandang, ternyata bahwa tempat itu telah
dikurung oleh pasukan yang banyak sekali jumlahnya!
Jalan keluar
tidak ada lagi dan terpaksa Hong Beng dan Goat Lan lalu menghadapi lagi serbuan
Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang sudah mengejar pula sampai di situ. Hal
ini menguntungkan bagi kedua orang muda itu karena dengan adanya keroyokan para
perwira, maka pasukan pemanah itu tak berani menggunakan anak panah mereka
lagi.
Pertempuran
berjalan seru sekali. Yang sangat mendesak adalah Ban Sai Cinjin. Kali ini
karena banyak kawannya, Ban Sai Cinjin bertempur dengan semangat besar sehingga
huncwe-nya benar-benar merupakan senjata maut bagi Hong Beng dan Goat Lan.
Sekali saja mereka terkena pukulan huncwe yang selalu ditujukan ke arah kepala
mereka, akan celakalah mereka.
Pada waktu
kedua orang muda itu terpaksa hendak mempergunakan tangan besi dan membunuh
para pengeroyoknya untuk dapat mencari jalan keluar, mendadak terdengar
sorak-sorai dan lapat-lapat terdengar oleh Hong Beng dan Goat Lan.
“Bantu
pangcu kita...!”
Keadaan
pasukan yang tadinya mengurung tempat itu, tiba-tiba saja menjadi heboh dan geger.
Ternyata mereka secara tiba-tiba telah diserang dari belakang oleh serombongan
pengemis bertongkat hitam!
Ternyata
bahwa tadi ketika Hong Beng melompat keluar dari dalam hotel dan dikeroyok oleh
para perwira, ada beberapa orang anggota Hek-tung Kai-pang berada di luar hotel
itu. Melihat betapa pemuda gagah itu bersenjatakan tongkat hitam yang mereka
kenal sebagai tongkat pusaka dari Hek-tung Kai-pang, maka tahulah mereka bahwa
pemuda ini tentulah pangcu yang baru seperti sudah mereka dengar dari para
pemimpin cabang mereka.
Atas bunyi
siulan rahasia mereka, dalam waktu sebentar saja datanglah berpuluh-puluh
pengemis anggota Hek-tung Kai-pang, bahkan pemimpin-pemimpin yang berkedudukan
di kota raja secara sembunyi-sembunyi juga muncul kemudian melakukan
pengeroyokan terhadap para tentara kerajaan yang mengurung itu!
Hong Beng
merasa girang sekali. Bersama Goat Lan ia lalu melompat jauh dan mencari jalan
keluar dari tempat di mana para pengemis tongkat hitam itu menyerbu. Sambil
memutar tongkat hitamnya dan merobohkan beberapa belas tentara yang mengeroyok,
ia berseru,
“Aku pergi,
lekas kalian mencari jalan aman!” Setelah berkata demikian, ia dan Goat Lan
melompat ke atas genteng dan melenyapkan diri di balik wuwungan rumah-rumah
yang tinggi.
Kawanan jembel
yang setia itu lalu juga ikut melarikan diri ke sana ke mari, memecah rombongan
sehingga sukarlah bagi barisan kerajaan untuk mengejar mereka. Juga tidak ada
perintah mengejar para pengemis itu, sebaliknya Bu Kwan Ji hanya
berteriak-teriak memerintahkan anak buahnya untuk mengejar dua orang muda tadi!
Akan tetapi
kemanakah mereka harus mengejar? Dua orang muda itu melompat ke atas genteng
bagaikan dua ekor burung walet saja, dan biar pun para perwira mengikuti Ban
Sai Cinjin mengejar, akan tetap mereka ini lantas tertinggal jauh oleh Ban Sai
Cinjin yang gerakannya cepat sekali.
Setelah
mengejar agak jauh dan mendapatkan dirinya hanya sendiri saja, Ban Sai Cinjin
menjadi gentar. Kalau hanya seorang diri, andai kata dia dapat menyusul,
bagaimana dia akan mampu menangkap kedua orang muda yang lihai itu? Terpaksa
dia pun menunda kejarannya dan membiarkan kedua orang muda itu melarikan diri
dengan cepat.
“Tutup semua
pintu gerbang! Perkuat penjagaan! Jangan biarkan mereka lolos dari kota!” seru
Bu Kwan Ji dengan marah sekali. Di dalam kemarahannya terhadap Hong Beng dan
Goat Lan, perwira ini sampai lupa kepada para pengemis tongkat hitam yang tadi
sudah menolong kedua orang muda itu!
Hong Beng
dan Goat Lan lari terus sampai di ujung kota yang sunyi.
“Mari ikut
aku!” gadis itu mengajak tunangannya dengan suara tegas.
“Ke mana,
Moi-moi?” tanya Hong Beng.
“Ke istana,
mencari Pangeran Mahkota!”
Hong Beng
mempunyai pikiran yang cerdas dan mudah menangkap maksud kata-kata orang, maka
dia diam saja dan keduanya lalu berlari menuju ke istana yang megah itu. Untung
bagi mereka bahwa semua penjagaan dikerahkan untuk menjaga seluruh pintu
gerbang dan merondai dinding kota sebagaimana yang diperintahkan oleh Bu Kwan
Ji, sehingga di dalam kotanya sendiri hanya ada beberapa orang perwira saja
melakukan penggeledahan di sana-sini. Senja hari telah mendatang dan keadaan
telah hampir gelap ketika keduanya telah tiba di dekat dinding tinggi yang
mengelilingi istana kaisar.
Tidak mudah
bagi kedua orang muda itu untuk dapat memasuki istana dan melalui dinding yang
tinggi sekali itu. Untuk masuk lewat depan tidak mungkin sekali dan masuk
dengan jalan melompati dinding yang begitu tinggi, juga sukar.
Mereka
berjalan ke sana ke mari mencari dinding yang agak rendah, akan tetapi sia-sia
belaka. Ada beberapa batang pohon yang cukup tinggi untuk menjadi jembatan,
akan tetapi pohon-pohon ini letaknya jauh dari dinding, sehingga melompat dari
pohon ke atas dinding, bahkan lebih sukar dari pada melompat dari atas tanah.
Mereka duduk
di bawah dinding dengan hati kecewa, keduanya tak mengeluarkan suara dan
termenung memutar otak. Tiba-tiba Hong Beng berkata girang,
“Ahh, aku
mendapat akal, Lan-moi! Kau tentu akan dapat masuk ke dalam dengan cara
melompat ke atas dinding.”
“Bagaimana
aku dapat melompati dinding setinggi itu, Koko?”
“Kau
melompat lebih dulu dan aku akan mendorongmu dari bawah! Dengan meminjam tenaga
dan tanganku, bukankah kau akan dapat melompat lagi ke atas?”
Untuk sesaat
Goat Lan memandang kepada tunangannya dengan sepasang matanya yang seperti mata
burung Hong itu, kemudian wajahnya berseri girang.
“Ahh, benar
juga kata-katamu, Koko. Mengapa aku tidak dapat berpikir sampai di situ?”
Tiba-tiba
Hong Beng mengerutkan keningnya. “Sayangnya, hanya kau saja yang dapat masuk ke
dalam istana untuk mencari Pangeran dan mengobatinya. Bagaimana hatiku bisa
tenteram apa bila membiarkan kau masuk seorang diri ke tempat berbahaya itu?
Dengan menanti kembalimu di luar dinding ini aku akan merasa seakan-akan
berdiri di atas besi panas!”
Kini Goat
Lan yang berkata dengan gembira, “Mengapa susah-susah? Pohon itu dapat
menolongmu!”
Giliran Hong
Beng yang sekarang memandang kepada tunangannya dengan mata bodoh karena
sungguh-sungguh dia tidak mengerti apa maksud gadis itu.
“Pohon itu
letaknya terlalu jauh dari dinding, bagaimana pohon itu bisa menolongku?”
“Koko, apa
kau tidak ingat kepada cabangnya yang panjang?” seru gadis itu yang segera
melompat ke arah pohon besar dan kemudian ia melompat ke atas, memilih cabang
yang panjang dan kuat. Dengan sekali renggut saja maka patahlah cabang itu yang
segera dibersihkan daun-daunnya sehingga merupakan sebatang tongkat panjang.
“Nah, bila
mana aku sudah berhasil sampai di atas, kau lemparkan tongkat ini kepadaku.
Kemudian kau melompat dan kuterima dengan tongkat ini, bukankah beres?”
Girang
sekali hati Hong Beng. Ia menangkap tangan Goat Lan sambil memuji, “Moi-moi,
kau benar-benar hebat! Kau cerdik sekali dan... dan... cantik manis!”
“Hushh,
bukan waktunya untuk bersenda gurau, Koko!” kata Goat Lan merengut sambil
mencubit lengan pemuda itu, akan tetapi kedua matanya bersinar bangga dan
kerlingnya menyambar hati Hong Beng, menyuburkan cinta kasih yang sudah berakar
di dalam hati pemuda itu.
“Nah,
sekarang melompatlah, Moi-moi. Melompatlah dengan lurus ke atas, dekat dinding,
kemudian tarik kakimu ke atas sehingga kalau aku sudah menyusul di bawahmu, kau
dapat mengenjotkan kakimu di atas tanganku!”
Goat Lan
mengangguk maklum, kemudian membereskan pakaiannya, mengikat erat tali pinggangnya
dan juga membereskan letak buntalan pakaian dan obat yang berada pada
punggungnya.
“Siap,
Koko!” kata gadis itu sambil menghampiri dinding.
Hong Beng
berdiri di belakangnya dan ketika gadis itu melompat ke atas, dia pun cepat
menyusul di bawahnya! Keduanya mempergunakan gerak lompat Pek-liong Seng-thian
(Naga Putih Naik ke Langit).
Tubuh Goat
Lan yang ringan itu meluncur pesat ke atas dan ketika dia merasa bahwa tenaga
luncurannya sudah hampir habis, dia lalu menarik kedua kakinya ke atas. Tepat
pada saat melayang turun kembali, dia merasa betapa kedua tangan Hong Beng yang
kuat telah menyangga sepasang telapak kakinya.
Goat Lan
diam-diam memuji tunangannya ini karena dengan gerakan ini ternyata bahwa
tenaga lompatan Hong Beng masih menang sedikit kalau dibandingkan dengan tenaga
loncatannya. Karena kini sudah mendapat tempat untuk sepasang kakinya, Goat Lan
lalu mengenjot lagi ke atas dan tubuhnya melayang makin tinggi sehingga ia
dapat mencapai dinding itu.
Tangannya
menyambar pinggiran dinding dan sekali ia mengayun tubuh ke atas, ia telah
berada di atas dinding yang tinggi itu! Dia memandang ke sebelah dalam dan
untung sekali bahwa mereka tiba di dinding yang menutupi sebuah taman bunga
yang sangat indahnya sehingga gadis ini menjadi takjub melihat sedemikian
banyaknya pohon-pohon bunga yang menyerbakkan keharuman.
Sayang bahwa
keadaan sudah agak gelap hingga ia tidak dapat menikmati tata warna yang luar
biasa dari taman bunga itu. Saking kagumnya, Goat Lan sampai lupa kepada Hong
Beng. Ia terkejut ketika mendengar seruan Hong Beng, “Moi-moi, terimalah
tongkat ini!”
Cepat dia
memutar tubuhnya dan menghadap keluar lagi. Dinding itu tebal sekali, lebar
permukaan dinding yang diinjaknya lebih dari dua kaki, sehingga ia boleh
berdiri dengan enak dan tetap di atas dinding itu.
Hong Beng
melempar tongkat panjang ke atas yang diterima oleh Goat Lan dengan mudahnya.
Ketika gadis itu duduk di atas tembok, tangan kiri merangkul tembok dan tangan
kanan memegang ujung tongkat yang diulurkan ke bawah maka ujung tongkat di
bawah telah mencapai tempat yang cukup rendah bagi Hong Beng untuk melompat dan
menangkapnya. Akan tetapi pemuda ini masih berkuatir kalau-kalau Goat Lan tidak
akan kuat menahan berat tubuhnya dengan tongkat itu, maka sebelum meloncat ia
berseru,
“Moi-moi,
kalau nanti terlalu berat bagimu, kau lepaskan saja tongkat itu, jangan sampai
kau ikut jatuh ke bawah!”
“Kau kira
aku ini orang macam apa?” bantah Goat Lan berpura-pura marah, akan tetapi
suaranya terdengar bersungguh-sungguh. “Kalau kau jatuh, aku pun ikut jatuh pula!”
“Eh, eh,
jangan begitu, Lan-moi. Kalau kau lepaskan tongkat itu, jatuhku tidak dari
tempat terlalu tinggi dan paling-paling aku hanya akan lecet-lecet saja. Akan
tetapi kau... dari tempat begitu tinggi!”
“Aku juga
tak akan mati jatuh dari tempat setinggi ini!”
Hong Beng
menjadi bingung. Dia ragu-ragu untuk melompat, karena dia maklum bahwa gadis
itu betul-betul takkan membiarkan ia jatuh sendiri! Tiba-tiba pemuda itu lalu
berlari ke tempat di mana terdapat pohon besar tadi.
Goat Lan
memandang heran, akan tetapi ia melihat pemuda itu telah melompat naik ke atas
pohon dan menggunakan pedangnya untuk membabat putus sebatang cabang yang
panjang. Ketika Hong Beng sudah tiba di tempat tadi, tahulah Goat Lan bahwa
pemuda itu telah mengambil dan membuat sebatang tongkat seperti tadi
panjangnya, hanya saja kini tongkat ini ujungnya ada kaitannya. Pemuda yang
cerdik ini telah mengambil cabang yang ada kaitannya dan kemudian ia berkata,
“Moi-moi,
taruh saja tongkat itu di atas dinding, dan kau pakailah tongkat yang ini!” Ia
melontarkan tongkat baru ini ke atas yang disambut dengan mudahnya oleh Goat
Lan.
Gadis ini
menjadi girang sekali, karena tentu saja dengan tongkat ini, dia tak usah
kuatir tunangannya akan jatuh kembali karena dia tidak kuat menahan berat tubuhnya.
Dia lalu memasang kaitan tongkat itu pada dinding, dan memegang kaitan itu
menjaga jangan sampai kaitannya terlepas.
“Lompatlah,
Koko!” teriaknya ke bawah.
Hong Beng
mengumpulkan tenaga pada kakinya, kemudian mengenjot tubuhnya ke atas. Ketika tangannya
dapat mencapai ujung tongkat yang tergantung di bawah, ia menangkap tongkat itu
dan dengan cekatan sekali dia lalu naik ke atas, merayap melalui tongkat.
Setelah tiba di atas dinding, ia mengomel kepada tunangannya,
“Lan-moi,
lain kali jangan kau main nekad begitu. Kalau aku tidak mendapat akal ini, aku
tak akan berani melompat naik dan membiarkan kau jatuh ke bawah.”
Goat Lan
tersenyum manis, kemudian teringat akan tugasnya lagi.
“Mari kita
turun ke dalam,” katanya, “baiknya ada dua buah tongkat ini yang akan dapat
membantu kita.”
Gadis yang
berani itu lalu melompat turun lebih dulu dengan tongkat yang dipegangnya
merupakan pembantu yang amat berguna. Sebelum tubuhnya tiba di tanah, ia lebih
dulu menancapkan tongkat itu sehingga dapat menahan tenaga luncurannya. Setelah
tenaga luncuran itu habis, dia baru melompat ke bawah dengan ringannya. Kedua
kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun juga.
Hong Beng
segera meniru gerakan kekasihnya ini dan kini mereka berdua telah berada di
dalam taman.
“Aduh
indahnya kembang ini...,” kata Goat Lan sambil menghampiri sekelompok bunga
seruni kuning yang amat indah. Gadis ini bagaikan seekor kupu-kupu. Dengan
lincah dan gembira dia berlari-larian dari satu ke lain bunga, riang gembira
seperti anak-anak.
“Lan-moi,
apakah kita masuk ke sini hanya untuk bermain-main di taman bunga ini?” tanya
Hong Beng menegur tunangannya dengan pandang mata kagum karena sungguh cocok
sekali bagi seorang gadis cantik berada di taman indah penuh kembang.
“Koko, bunga
ini cocok sekali untukmu!” Goat Lan seakan-akan tidak mendengar ucapan Hong
Beng.
Ia memetik
setangkai bunga seruni dan membawa bunga itu kepada Hong Beng. Dengan sikap
yang menyayang ia lalu memasukkan tangkai kembang itu ke lubang kancing pada
dada Hong Beng.
Terharu juga
hati pemuda ini melihat kelembutan tunangannya. Ia meremas tangan Goat Lan,
kemudian tanpa berkata-kata dia lalu memetik pula setangkai seruni merah yang
ditancapkannya di atas rambut kekasihnya.
“Hayo kita
mencari Pangeran,” katanya kemudian.
Ucapan ini
mengusir hikmat taman bunga dan kasih sayang mesra. Keduanya segera berjalan
dengan hati-hati sekali sampai ke ujung taman bunga di mana terdapat sebuah
pintu. Tiba-tiba mereka mendengar suara orang bercakap-cakap di belakang pintu
itu.
Ketika
mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan tahu bahwa yang bercakap cakap
itu hanyalah dua orang penjaga pintu belakang, cepat kedua orang muda perkasa
ini lalu membuka pintu dengan tiba-tiba. Dua orang penjaga yang memandang
dengan celangap itu tidak diberi kesempatan membuka suara. Begitu tangan Goat
Lan dan Hong Beng bergerak, keduanya telah kena ditotok sehingga menjadi kaku
tak dapat bergerak mau pun bersuara lagi.
Hong Beng
mencabut tongkatnya. Sesudah membebaskan salah seorang penjaga dari totokannya,
dia menempelkan ujung tongkat pada leher orang itu sambil berkata,
“Hayo
katakan terus terang di mana kamar Pangeran Mahkota!”
Penjaga itu
biar pun tubuhnya menggigil, mukanya pucat, dan bibirnya gemetar namun ia
menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak, tidak! Kami telah banyak menerima
budi Hong-siang (Kaisar), dan Putera Mahkota amat budiman. Biar pun aku akan
kau bunuh, aku tidak akan mengkhianati Putera Mahkola! Kau tidak boleh
membunuhnya!”
Tersenyum
Hong Beng mendengar ini. Dia suka dan kagum melihat kesetiaan penjaga pintu,
pegawai rendah ini. Tiba-tiba dia mendapat pikiran yang baik sekali.
“Dengar,
sahabat. Kami berdua datang sama sekali bukan membawa niat jahat. Kami datang
hendak mengobati Putera Mahkota, akan tetapi kami niat kami dihalang-halangi
oleh Bu Kwan Ji si jahanam. Maukah kau membantu kami menolong pangeranmu itu?”
Penjaga itu
memandang kepada Hong Beng dengan curiga. “Siapa tahu betul tidaknya bicaramu
ini?” tanyanya.
Goat Lan
turun tangan dan berkata, “Dengarlah, Lopek (Uwa). Aku adalah murid dari
Yok-ong (Raja Obat) Sin Kong Tianglo dan aku benar-benar datang hendak menolong
Pangeran Mahkota. Kau percayalah dan tunjukkan kepadaku di mana tempat Pangeran
itu.”
Melihat Goat
Lan, maka lenyaplah kecurigaan penjaga itu. Gadis secantik dan seramah ini
dengan sepasang mata yang indah dan halus itu tak mungkin jahat.
“Baiklah,
aku akan membantumu. Kalau aku salah duga dan ternyata kau datang hendak
melakukan kejahatan, biarlah kelak nyawaku akan menjadi setan yang selalu
mengejar-ngejarmu! Pada waktu ini, Pangeran Mahkota berada di ruangan belakang,
tidak jauh dari sini. Baiknya tiga orang tabib yang biasa selalu menjaganya
kini tengah keluar, kabarnya untuk menangkap pemberontak-pemeberontak! Yang
menjaga hanyalah inang pengasuh dan para pelayan saja. Mari kalian ikut
padaku!”
Penjaga yang
seorang lagi tidak dibebaskan dari totokan, bahkan Hong Beng kemudian
melepaskan ikat pinggang orang itu dan mengikat kedua tangannya agar jangan
sampai terlepas dan menimbulkan ribut. Ketiganya lalu berjalan ke sebelah dalam
dan tidak lama kemudian mereka tiba di ruang yang dimaksudkan.
Di sana
terdapat lima orang pelayan wanita, dua orang pelayan banci (thai-kam) serta
empat orang penjaga yang kokoh kuat tubuhnya. Alangkah kaget semua orang ini
ketika melihat penjaga itu masuk bersama dua orang muda yang elok. Empat orang
penjaga itu cepat melompat menghampiri mereka dengan golok di tangan.
“Siapa
kalian dan perlu apa masuk tanpa dipanggil?” bentak seorang di antara mereka.
“Kami datang
hendak mengobati Pangeran!” kata Hong Beng.
“Tak seorang
pun boleh mengobati Pangeran di luar tahunya ketiga tabib istana! Kalian
orang-orang jahat harus ditangkap!”
Hong Beng
dapat menduga bahwa empat orang penjaga ini pun tentulah kaki tangan Bu Kwan
Ji, maka ia memberi tanda kepada Goat Lan. Pada saat tubuh kedua orang muda
perkasa ini berkelebat dan kedua tangannya bergerak, keempat orang penjaga itu
roboh dengan tubuh lemas tak berdaya lagi! Tentu saja dua orang thaikam dan
kelima orang pelayan wanita itu menjadi ketakutan dan berdiri dengan muka pucat
dan tubuh gemetar.
“Kami datang
bukan dengan niat jahat,” kata Hong Beng. “Kami datang untuk mengobati
Pangeran! Akan tetapi, siapa saja yang berani menghalangi kami pasti akan
kuhancurkan kepalanya!” Sambil berkata demikian, Hong Beng lalu mencabut
tongkatnya yang hitam mengkilap sehingga mereka semua menjadi takut.
“Siapakah
yang membuat ribut-ribut itu?” tiba-tiba terdengar suara yang halus dan lemah.
Goat Lan
cepat menengok ke arah suara itu, maka terlihatlah pangeran Mahkota yang sedang
berbaring di tempat tidurnya yang indah. Pangeran ini masih muda sekali, paling
banyak baru empat belas tahun, tubuhnya amat kurus dan wajahnya pucat sekali.
Goat Lan
melompat dan berlutut di depan Pangeran yang sekarang sudah duduk di atas
pembaringannya itu.
“Hamba Kwee
Goat Lan, murid dari Yok-ong Sin Kong Tianglo. Hamba datang hendak melanjutkan
usaha mendiang Suhu untuk mencoba mengobati Paduka.”
Pangeran
kecil itu membuka kedua matanya lebar-lebar. “Bukankah kau yang kemarin
dinyatakan hendak meracuniku? Obat apa yang kau kirim ke sini itu? Rasanya
pahit dan masam! Membuat perutku muak!”
Goat Lan
bangkit berdiri. “Paduka telah ditipu. Orang-orang jahat mengelilingi tempat
ini. Yang diberikan bukan obat dari hamba, akan tetapi sudah ditukar dengan
obat lain yang jahat!” Dia cepat mengeluarkan buah Giok-ko dan
memperlihatkannya kepada Pangeran itu. “Buah inilah yang kemarin hamba
persembahkan kepada Hong-siang, apakah ini pula yang Paduka makan?”
Pangeran itu
menerima buah yang berkilauan bagaikan mutiara itu dengan kagum dan heran.
“Bukan, bukan ini, akan tetapi buah hijau yang baunya tidak enak. Buah ini
wangi sekali.”
“Nah,
silakan Paduka makan buah ini, dan demi Thian Yang Maha Adil, kalau Paduka
percaya, penyakit Paduka pasti akan lenyap!”
Pangeran itu
memandang kepada Goat Lan sampai lama, kemudian ia tersenyum lemah dan berkata,
“Kau cantik dan gagah, aku percaya kepadamu!” Dan ia lalu makan buah itu. Baru
saja satu gigitan, ia berseru girang, “Manis dan wangi sekali!” Sebentar saja
habislah buah itu semua.
“Kalau masih
ada, aku ingin makan lagi!” Sambil berkata demikian dengan tangan kanan,
Pangeran itu menutup mulut menahan kuapnya, karena ia tiba-tiba merasa
mengantuk sekali.
“Sekarang
harap Paduka suka beristirahat, karena baru besok pagi Paduka boleh makan
sebuah lagi,” kata Goat Lan.
Akan tetapi
Pangeran itu telah merebahkan diri dan sebentar saja ia tertidur pulas terkena
pengaruh Giok-ko yang sangat manjur itu. Goat Lan segera menyuruh seorang
pelayan menyediakan perabot untuk memasak daun To-hio sebagaimana yang telah
dipesankan oleh Thian Kek Hwesio.
Pada saat
Goat Lan sedang sibuk memasak obat itu, tiba-tiba saja Hong Beng berseru
terkejut, “Celaka, Hong-siang bersama para pengiringnya sedang menuju ke sini!”
Memang sudah
menjadi kebiasaan Kaisar untuk menengok keadaan putera yang tercinta itu
sebelum tidur. Seperti biasa, malam hari itu Kaisar juga datang diantar oleh
lima orang pengawal pribadinya!
Hong Beng
yang menjaga pintu menjadi bingung, namun Goat Lan lalu berkata, “Koko, kurasa
lebih baik lagi apa bila Hong-siang berada di dalam kamar ini untuk menyaksikan
bagaimana kita menolong puteranya!”
Hong Beng
memutar otak dan cepat dia berkata kepada semua pelayan di situ, “Awas, semua
orang tidak boleh membikin ribut. Diam-diam saja seperti tak terjadi sesuatu
apa pun sehingga Hong-siang tidak akan kaget dan curiga. Kalian telah melihat
sendiri bahwa kami benar-benar hendak mengobati Pangeran, dan seperti kataku
tadi, siapa saja yang akan menghalangiku, akan kuhancurkan kepalanya!”
Pemuda itu
lalu bersembunyi di balik daun pintu, menanti masuknya Kaisar, sedangkan Goat
Lan tetap memasak obat tanpa mempedulikan keadaan di luar kamar. Untung sekali
bagi kedua orang muda itu bahwa tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam
kamar pangeran. Maka ketika tiba di luar pintu, hanya Kaisar sendiri yang masuk
ke dalam, sedangkan lima bayangkari menjaga di luar pintu itu dengan golok di tangan!
Kaisar masuk dengan wajah muram karena ia memikirkan keadaan puteranya.
Alangkah terkejutnya ketika ia melihat seorang gadis yang tak dikenalnya sedang
memasak obat.
“Siapa kau?”
tanyanya.
Goat Lan
menengok dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar. “Hamba akan
menerima hukuman dari kelancangan hamba masuk ke tempat ini, akan tetapi mohon
diberi kesempatan lebih dulu untuk menyembuhkan penyakit Putera Mahkota!”
Ketika
melihat wajah gadis ini, Kaisar menjadi makin terkejut.
“Bukankah
kau yang mengaku murid Yok-ong dan yang sudah mencoba untuk meracuni puteraku?”
Cepat Kaisar
menengok untuk memanggil penjaga dan bayangkari, akan tetapi ia makin pucat
ketika melihat bahwa pintu telah ditutup dan kini seorang pemuda yang
dikenalnya sebagai kawan gadis ini, kini telah berdiri dengan gagahnya di
tengah pintu itu, menjaga dengan tongkat di tangan. Ketika dia melirik ke kiri,
di sudut rebah empat orang penjaga pangeran dalam keadaan lemas tak berdaya.
“Hemm, jadi
kalian berdua ini benar-benar putera-putera Pendekar Bodoh yang hendak
memberontak? Apakah kehendak kalian sekarang? Mau membunuh puteraku atau aku?
Kalian kira mudah saja melakukan hal itu?”
Akan tetapi,
walau pun masih memegang tongkatnya, Hong Beng lalu menjatuhkan diri berlutut
di tempat penjagaannya.
“Ayah hamba,
Pendekar Bodoh, tidak pernah menjadi pemberontak, dan demikian pula hamba
berdua. Sesungguhnya hamba datang hanya hendak mengobati Putera Mahkota, bukan
mengandung niat jahat. Mohon Hong-siang sudi mempertimbangkan dan memberi
ampun.”
“Buah obat
yang kalian berikan kemarin telah dimakan oleh puteraku, akan tetapi bahkan
menambah penyakitnya. Bukankah itu bukti yang nyata?”
“Maafkan
hamba,” kata Goat Lan. “Itulah sebabnya mengapa hamba berdua terpaksa mengambil
jalan masuk secara lancang ini. Buah dari hamba itu telah ditukar orang dan
yang diberikan kepada Pangeran adalah buah yang berbahaya. Baru tadi putera
Paduka telah makan sebutir buah dari hamba dan sekarang telah dapat tidur
nyenyak.”
“Hamba
berdua meminta waktu sampai tiga hari, dan sebelum lewat tiga hari, terpaksa
hamba berlaku kurang ajar dan menahan Paduka di kamar ini! Hal ini terpaksa
hamba lakukan untuk mencegah gangguan dari tiga tabib durjana, pengkhianat Bu
Kwan Ji, dan Huncwe Maut Ban Sai Cinjin yang amat jahat dan berbahaya.” Hong
Beng menyambung kata-kata Goat Lan.
Kaisar
memandang dari Goat Lan ke Hong Beng berganti-ganti, kemudian ia tersenyum.
“Baiklah,
kuberi waktu tiga hari, akan tetapi bila mana di dalam waktu itu ternyata
kalian membohong, awaslah, jangan kau berani main-main dengan Kaisar!” Sesudah
berkata demikian, Kaisar lalu menghampiri puteranya yang sedang tidur nyenyak
dengan napas teratur dan tenang.
“Lucu...
lucu... !” kata Kaisar setelah menghampiri kembali Goat Lan dan Hong Beng, lalu
duduk di atas sebuah kursi gading. “Baru kali ini selama hidupku aku mengalami
ditahan oleh orang luar, orang biasa. Ha-ha-ha! Benar-benar menggembirakan dan
mendebarkan hati! Aku ingin sekali mengetahui bagaimana perkembangan
selanjutnya dari peristiwa aneh ini!”
Akan tetapi,
karena hari sudah malam dan Kaisar itu merasa mengantuk sekali, dia lalu pergi
tidur di atas sebuah pembaringan biasa yang berada di tempat itu, dilayani oleh
lima orang pelayan wanita itu dengan penuh penghormatan.
“Koko, aku
sekarang teringat bahwa hwesio-hwesio yang ikut Bu-ciangkun menyerbu kita di
hotel, adalah hwesio yang datang menyerang kita pada malam hari kemarin dulu!”
Hong Beng
mengangguk-angguk. “Sekarang mulai terang bagiku. Sudah jelas bahwa tabib-tabib
istana yang menjaga Pangeran ini telah sengaja menghalangi penyembuhan
Pangeran, dan agaknya hal ini ada hubungannya pula dengan Bu Kwan Ji. Mungkin
tiga orang tabib itu telah bersekongkol dengan perwira she Bu itu, dibantu pula
oleh Ban Sai Cinjin! Kita harus dapat meyakinkan Kaisar bahwa mereka itu adalah
sekomplotan orang jahat yang menghendaki nyawa Pangeran Mahkota, entah apa
sebabnya!”
“Jalan
satu-satunya untuk meyakinkan dan mendapatkan kepercayaan Kaisar hanyalah
penyembuhan puteranya.”
“Mudah-mudahan
saja obat yang kau bawa itu berhasil!”
“Pasti
berhasil!” kata-kata ini diucapkan oleh Goat Lan dengan suara yang tetap penuh
kepercayaan. “Obat ini adalah petunjuk dari Suhu, bagaimana bisa salah?”
Malam hari
itu, Pangeran Mahkota terjaga dari tidurnya dan Goat Lan lalu memberinya minum
obat Daun Golok yang sudah dimasak. Karena merasa betapa tubuhnya sangat enak,
Pangeran itu percaya penuh kepada Goat Lan dan tanpa ragu-ragu lagi minum
semangkok masakan obat daun itu. Kemudian, gadis ini dengan kedua tangannya
sendiri memasakkan sedikit bubur untuk Pangeran itu dan memaksanya untuk
mengisi perut dengah bubur itu.
Sudah tiga
hari Pangeran itu tidak mau makan, akan tetapi sekarang, semangkok bubur masih
belum memuaskan seleranya hingga dia minta tambah. Akan tetapi dengan suara
halus Goat Lan mencegahnya, kemudian gadis ini sambil duduk di dekat
pembaringan, lalu menceritakan dongeng-dongeng kuno mengenai kegagahan sehingga
pangeran itu merasa tertarik sekali dan akhirnya dia melupakan rasa laparnya
dan tertidur kembali.
Pada
keesokan harinya, Kaisar bangun pagi-pagi sekali dan dia merasa sangat heran
mengapa ia dapat tidur demikian nyenyaknya! Biasanya, di dalam kamarnya sendiri
yang bagus, di atas pembaringan terhias emas dan permata, setiap malam pasti
dua tiga kali dia terjaga. Akan tetapi kali ini, tidur di tempat peristirahatan
puteranya, hanya di atas pembaringan biasa, bahkan sebagai seorang tawanan dari
dua orang muda aneh itu, ia dapat tidur pulas dan enak!
Ketika dia
memandang, ternyata bahwa Goat Lan sudah bangun pula. Gadis ini bersama Hong
Beng bergiliran menjaga pintu, akan tetapi mereka tidak tidur, hanya duduk
bersila sambil bersemedhi saja.
“Jadi aku
belum boleh keluar dari kamar ini?” Kaisar bertanya sambil tersenyum kepada
Hong Beng yang masih berdiri menghadang di pintu dengan tongkat di tangan.
“Terpaksa
hamba akan menghalanginya, demi keselamatan putera Paduka!” jawab Hong Beng
dengan suara tetap.
Kaisar
tersenyum. “Apakah kau kira aku dapat bertahan tanpa makan sampai tiga hari?
Bodoh! Minggirlah, biar aku memberi perintah supaya membawa makanan dan air
untuk kita mencuci muka!”
Suara Kaisar
amat berpengaruh dan karena ia percaya penuh kepada Kaisar ini, Hong Beng lalu
melangkah ke samping. Kaisar membuka daun pintu dan berkata kepada lima orang
bayangkari yang semalam suntuk menjaga di depan pintu tanpa berani pergi atau
masuk!
“Jangan
perbolehkan siapa pun juga masuk ke kamar ini! Atur penjagaan kuat secara
bergilir dan suruh pelayan wanita menghidangkan makanan dan minuman. Juga air
untuk mencuci muka. Laporkan kepada Hong-houw (Permaisuri) bahwa selama tiga
hari ini aku akan berada di dalam kamar pangeran untuk menjaga dan menyaksikan
sendiri Sang Pangeran menerima pengobatan!” Sesudah berkata demikian, Kaisar
lalu menutup pintu kembali.
Lima orang
bayangkari itu saling pandang dengan bingung. Perintah dari Kaisar cukup jelas,
hanya mereka merasa bingung sebab siapakah yang sedang mengobati Pangeran?
Mereka tidak melihat ada orang masuk, sedangkan ketiga orang tabib istana pun
belum masuk ke kamar itu!
Akan tetapi,
oleh karena sudah jelas bunyi perintah Kaisar, mereka mengerjakan dengan
seksama dan taat. Semua perintah Kaisar dikerjakan dengan cepat sekali, dan
sebentar saja di depan kamar itu sudah terjaga oleh dua belas orang bayangkari
pengawal pribadi Kaisar. Kalau andai kata Permaisuri sendiri hendak memasuki
kamar itu, tanpa perkenan dan persetujuan Kaisar, para bayangkari itu tentu
takkan mau memberi jalan masuk!
Kaisar
memiliki dua puluh empat orang pengawal pribadi yang dipilih oleh Kaisar sendiri
dan kesetiaan mereka sudah dipercaya serta diuji benar-benar. Kepandaian mereka
juga cukup tinggi......
Terima kasih telah membaca Serial ini
No comments:
Post a Comment