Cerita Silat Kho Ping Hoo
Serial Pendekar Remaja
Jilid 04
PADA saat
itu, susiok dari Bouw Hun Ti yang bukan lain adalah Lu Tong Kui atau sute Ban
Sai Cinjin yang pernah menyerbu ke Beng-san untuk mencoba kepandaian Pok Pok
Sianjin kemudian dikalahkan oleh Nyo Tiang Le, sudah melepaskan pukulan ke arah
Lo Sian. Sungguh pun pukulan itu dilakukan dari tempat yang jauhnya lebih dari
setombak, akan tetapi Lo Sian sampai terhuyung ke belakang, terdorong oleh
sambaran angin yang luar biasa kuatnya! Lo Sian terkejut sekali dan cepat
mengerahkan tenaga pada kedua kakinya untuk menahan keseimbangan tubuhnya.
Melihat
betapa golok Bouw Hun Ti dapat terlepas dengan amat mudah oleh tali sutera yang
kecil, Lu Tong Kui menjadi terkejut dan juga marah. Ia cepat-cepat menengok dan
ternyata yang melepas tali sutera itu adalah seorang yang pakaiannya tidak
karuan dan yang kini telah berdiri dengan mata memancarkan cahaya berapi. Ada
pun Lo Sian yang melihat penolongnya, juga menjadi terkejut dan girang pula
karena yang menolongnya itu adalah orang yang disangka gila tadi!
“Bouw Hun Ti!”
terdengar orang itu berkata, suaranya tenang akan tetapi seperti juga pandang
matanya, suara itu sangat berpengaruh, “kebetulan sekali kita bertemu di sini.
Memang aku sedang mencari-cari kau dan hendak membunuhmu!”
Setelah
berkata demikian, kembali ia menggerakkan tangan kanannya dan sutera hitam yang
panjang itu meluncur bagaikan cambuk dan mengirim serangan totokan hebat ke
arah jalan darah di leher Bouw Hun Ti. Orang she Bouw ini cepat mengelak, akan
tetapi bagaikan bermata dan hidup, ujung sutera hitam itu meluncur dan mengejar
dan masih saja mengancam jalan darahnya.
Bouw Hun Ti
menjadi pucat, terpaksa menangkis dengan tangannya dan ia pun berteriak kaget
ketika merasa betapa tangannya seakan-akan beradu dengan mata pedang yang
tajam. Ia cepat menarik kembali tangannya dan sutera hitam itu meluncur terus
ke arah lehernya!
Pada saat
yang amat berbahaya bagi Bouw Hun Ti itu, Lu Tong Kui tidak tinggal diam. Ia
berseru keras dan sambil mencabut pedangnya ia lalu melompat dan membabat ke
arah sutera hitam itu.
Sutera hitam
itu bergerak mengelak dan tidak sampai terbabat oleh pedangnya, namun Bouw Hun
Ti terbebas dari bahaya maut. Sesungguhnya kalau sampai sutera hitam itu
menotok jalan darah pada lehernya, maka lehernya akan pecah dan ia akan binasa
pada saat itu juga!
“Eh,
sahabat, siapakah kau? Mengapa kau memusuhi Bouw Hun Ti?” tanya Lo Tong Kui
sambil melintangkan pedangnya pada dada.
Orang itu
tersenyum mengejek. “Lu Tong Kui, kau tentu tidak mengenalku, akan tetapi aku
tahu bahwa kau dan murid keponakanmu ini adalah orang-orang jahat yang patut
sekali dikirim ke neraka!”
“Bangsat!”
Lu Tong Kui memaki marah. “Apa kau kira aku takut kepadamu?”
“Majulah,”
orang itu berkata dengan suara yang masih tenang, “sesudah kau berhadapan
dengan Lie Kong Sian, tak perlu menjual banyak lagak lagi!”
Mendengar
nama ini, tidak saja Lu Tong Kui dan Bouw Hun Ti yang merasa kaget, akan tetapi
Lo Sian juga tertegun dan memandang dengan penuh perhatian dan kagum. Akan
tetapi ia merasa ragu-ragu karena sepanjang pendengarannya, pendekar yang
bernama Lie Kong Sian dan yang menjadi suami dari pendekar wanita Ang I Niocu
yang sangat terkenal, kabarnya berwajah tampan dan gagah. Mengapa orang ini
seperti orang gila dan berwajah muram?
Nama Ang I
Niocu sudah amat terkenal dan tak seorang pun di kalangan kang-ouw yang belum
mendengar namanya sungguh pun jarang yang pernah bertemu dengan pendekar wanita
itu. Kalau Ang I Niocu yang tersohor gagah perkasa itu kabarnya masih kalah
oleh suaminya yang bernama Lie Kong Sian, maka tentu saja nama ini menggetarkan
hati Lu Tong Kui dan Bouw Hun Ti!
Apa lagi
Bouw Hun Ti, oleh karena sebagai suheng dari Pendekar Bodoh yang sudah
diganggunya, dibunuh mertuanya dan diculik puterinya, tentu saja Lie Kong Sian
takkan memberi ampun kepadanya! Lo Sian menjadi girang sekali.
“Hemm,
kaukah yang bernama Lie Kong Sian, pendekar dari Pulau Pek-le-to itu? Tidak
kusangka bahwa orangnya ternyata hanya sebegini saja!” Lu Tong Kui mengejek
untuk memperbesar semangat sendiri, kemudian tanpa menanti jawaban ia menyerang
dengan pedangnya.
Lie Kong
Sian cepat-cepat mengelak sambil mencabut keluar pedangnya pula. Pedang ini
bersinar gemilang dan sangat tajam, karena ini adalah pedang Cian-hong-kiam
yang dahulu dia terima dari isterinya sebagai tanda perjodohan ketika belum
menikah. Dengan gerakan yang luar biasa cepat dan kuatnya, Lie Kong Sian
membalas dengan serangan hebat sehingga Lu Tong Kui harus mengerahkan seluruh
tenaga dan kepandaian supaya jangan sampai dirobohkan dengan mudah.
Bouw Hun Ti
yang melihat susiok-nya terdesak, lalu mengambil kembali goloknya yang tadi
terlepas dari pegangan, lalu membantu susiok-nya itu mengeroyok Lie Kong Sian.
Lo Sian
tentu saja tidak mau mendiamkan hal ini, maka dia pun bergerak maju sambil
berseru, “Bangsat pengecut, jangan main keroyokan!”
Akan tetapi
Lie Kong Sian lalu berkata kepadanya, “Sahabat, jangan kau turut campur!
Biarkan aku sendiri memberi hajaran kepada penculik rendah ini. Yang diculik
adalah keponakanku, maka aku yang berhak menghajar!”
Mendengar
suara ini, Lo Sian melangkah mundur lagi karena ia tidak mau menyinggung
perasaan pendekar gagah itu. Pula, dia melihat betapa Lie Kong Sian biar pun
dikeroyok dua, tapi masih dapat mendesak dua lawannya, dan maklum pula bahwa
kepandaiannya sendiri masih kurang kuat sehingga bantuannya malah hanya
merupakan gangguan saja bagi pergerakan Lie Kong Sian.
Memang ilmu
pedang dari Lie Kong Sian bukan main hebatnya. Pendekar ini adalah murid dari
mendiang Han Le Sianjin yang menjadi sute dari Bu Pun Su, maka tentu saja ilmu
kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi sekali.
Biar pun Lu
Tong Kui dan Bouw Hun Ti juga bukan sembarang orang dan kepandaian mereka sudah
termasuk tinggi dan lihai, namun menghadapi Lie Kong Sian, mereka tidak banyak
berdaya dan setelah bertempur kurang lebih tiga puluh jurus, maklumlah mereka
bahwa kalau dilanjutkan mereka tentu akan roboh di tangan pendekar besar dari
Pulau Pek-le-to ini.
Lu Tong Kui
adalah seorang yang licik dan juga pandai melihat gelagat. Dari pada roboh di
tangan Lie Kong Sian, lebih baik melarikan diri saja, pikirnya. Ia tak usah merasa
malu melakukan hal ini, karena kalah dalam pertandingan melawan seorang gagah
perkasa seperti Lie Kong Sian, bukanlah merupakan hal yang amat memalukan.
“Mari kita
pergi!” katanya dengan cepat sambil menyerang hebat ke arah kedua kaki Lie Kong
Sian.
Bouw Hun Ti
memang sudah mengeluarkan keringat dingin karena takut dan gelisahnya. Kini
mendengar ucapan susiok-nya yang dibarengi dengan serangan hebat sehingga Lie
Kong Sian tidak dapat menekannya, ia lalu melompat dari rumah makan.
“Bouw Hun
Ti, jangan lari sebelum lehermu kupatahkan!” Lie Kong Sian berseru sambil
menyampok pedang Lu Tong Kui dan tubuhnya lantas berkelebat keluar mengejar
Bouw Hun Ti.
Karena gerak
Lie Kong Sian gesit sekali dan ginkang-nya sudah mencapai tingkat tinggi, maka
dengan dua kali lompatan saja dia sudah dapat menyusul dan mengirim bacokan
dengan pedangnya dari belakang. Bouw Hun Ti bukanlah orang lemah dan mendengar
suara angin pedang dari belakang, dia cepat membalikkan tubuh dan menangkis
pedang itu dengan goloknya sambil mengerahkan seluruh tenaga lweekang-nya.
“Trangg…!”
Goloknya
beradu dengan pedang sedemikian kerasnya hingga telapak tangannya serasa akan
pecah kulitnya. Pada saat ia melihat, ternyata bahwa goloknya telah terbabat
putus menjadi dua oleh pedang lawannya! Dan pada saat itu pula pedang Lie Kong
Sian telah menyambar dengan cepatnya menusuk dadanya.
Dengan
sangat terkejut Bouw Hun Ti melempar tubuhnya ke belakang, akan tetapi ujung
pedang itu masih menyerempet pundaknya lantas melukai kulit pundak sehingga
pecah dan darah membasahi pakaiannya! Ia terhuyung-huyung ke belakang dan tanpa
tertahan lagi tubuhnya jatuh terjengkang!
Untung
baginya, pada saat Lie Kong Sian hendak menambahkan dengan tusukan maut, datang
Lu Tong Kui yang menyerang Lie Kong Sian dari belakang sehingga pendekar Pulau
Pek-le-to itu terpaksa membalikkan tubuh untuk menghadapi Lu Tong Kui.
Bouw Hun Ti
merangkak bangun dan ketika melihat musuh tangguh itu telah ditahan oleh
susiok-nya, ia lalu melarikan diri secepatnya pergi dari tempat itu!
“Bouw Huii
Ti, bangsat rendah, jangan lari!” seru Lie Kong Sian yang hendak mengejar
kembali, akan tetapi Lu Tong Kui menyerangnya sedemikian rupa sehingga dia tak
dapat melanjutkan niatnya mengejar musuh itu.
“Orang she
Lu, jangan kau terlalu mendesak!” kata Lie Kong Sian. “Aku tidak mempunyai
permusuhan denganmu dan tidak berniat membunuhmu. Yang hendak kubikin mampus
hanya bangsat rendah Bouw Hun Ti itu. Minggirlah!”
Akan tetapi
Lu Tong Kui tidak menurut, bahkan mendesak makin hebat.
“Kalau
begitu, agaknya kau pun telah bosan hidup!” teriak Lie Kong Sian marah.
Pedangnya
segera diputar cepat sekali. Gerakannya berubah dan sekarang pedangnya
merupakan seekor naga yang ganas sekali, menyambar-nyambar tak mengenal ampun.
Beberapa belas jurus Lu Tong Kui masih sanggup mempertahankan diri, namun
akhirnya dia berteriak ngeri dan roboh tak bernyawa pula karena dadanya sudah
tertembus oleh pedang di tangan Lie Kong Sian!
Pendekar
dari Pulau Pek-le-to ini untuk sesaat lamanya berdiri kesima dan merasa agak
menyesal sudah membunuh orang ini yang sesungguhnya di luar kehendaknya semula.
Kemudian ia teringat kepada Bouw Hun Ti, lalu mengejar secepatnya ke arah orang
she Bouw itu tadi melarikan diri.
Lo Sian yang
mengejar sampai di situ merasa kagum sekali dan berseru, “Lie Kong Sian
Taihiap...! Tunggu dulu! Lili sudah berada di tangan yang aman sentosa!”
Akan tetapi
Lie Kong Sian telah pergi jauh dan Lo Sian tidak dapat menyusul kecepatan lari
pendekar itu sehingga Si Pengemis Sakti ini hanya menggeleng-geleng kepala dan
kemudian pergi dari situ, tidak mengalami kesibukan karena terjadinya
pembunuhan ini.
“Bouw Hun Ti
telah berada di tempat ini dengan susiok-nya, maka tentu ia melarikan diri
menuju ke tempat tinggal gurunya yang tak jauh dari sini,” pikir Lo Sian dan ia
lalu berlari cepat menuju ke dusun Tong-si-bun, tempat tinggal Ban Sai Cinjin.
Hari telah
sore ketika ia tiba di dusun itu dan melihat betapa rumah Ban Sai Cinjin sunyi
saja. Dia lalu menuju ke hutan di mana dia bersama Lili menolong Thio Kam Seng
anak yatim piatu itu dari siksaan seorang hwesio kecil yang mendiami kuil megah
dari Ban Sai Cinjin.
Dugaannya
memang tepat sekali. Pada waktu dia tiba di dekat kuil itu, dia menyaksikan
pertempuran yang hebat sekali sedang berlangsung antara Lie Kong Sian dan Ban
Sai Cinjin sendiri! Seperti juga dulu, kembali ia mengintai dari balik
tetumbuhan yang rindang, menonton pertempuran luar biasa dahsyatnya itu.
Hwesio kecil
yang kejam dulu itu berdiri tidak jauh dari tempat pertempuran, sedangkan di
dekatnya berdiri pula Bouw Hun Ti yang bertolak pinggang. Tidak jauh dari
tempat itu berdiri pula seorang yang melihat dari keadaan pakaiannya, adalah
seorang dusun yang kebetulan lewat di situ dan telah menonton pertempuran
dengan mata terbelalak penuh kegelisahan dan ketakutan. Orang dusun ini rupanya
masih muda.
Lie Kong
Sian memang sudah mendapatkan jejak musuhnya dan mengejar terus sampai ke
tempat itu. Dia masih melihat berkelebatnya bayangan Bouw Hun Ti memasuki kuil
yang amat mentereng di dalam hutan itu. Lie Kong Sian ragu-ragu untuk masuk ke
dalam kuil, karena ia adalah seorang yang menghargai peraturan dan kesopanan.
Tak berani ia secara sembarangan memasuki kuil tanpa ijin kepala hwesio yang
menguasai kelenteng. Maka ia lalu berseru keras,
“Bouw Hun Ti
manusia jahat! Janganlah kau mengotori kelenteng suci dengan telapak kakimu
yang hitam! Keluarlah untuk menerima kematian secara laki-laki!”
Beberapa
kali Lie Kong Sian berteriak-teriak dari luar kuil dan tidak lama kemudian,
dari dalam kuil itu keluar seorang gemuk pendek yang sudah tua akan tetapi
wajahnya masih kemerah-merahan tanda bahwa ia sehat sekali. Pakaiannya amat
mengherankan karena mewahnya dan rambutnya yang sudah putih itu disisir rapi
dan dikuncir ke belakang.
Di luar
pakaiannya yang terbuat dari pada sutera halus dan mahal itu, dia mengenakan
sebuah baju luar terbuat dari pada bulu yang sangat halus dan mahal. Sepatunya
juga baru serta mengkilat dan pada tangan kanannya dia memegang sebatang huncwe
(pipa tembakau) yang panjang. Kepala huncwe itu masih mengepulkan asap tembakau
yang berbau harum, tanda bahwa tembakau yang diisapnya adalah tembakau yang
mahal.
Lie Kong
Sian berdiri tertegun. Dia belum pernah bertemu dengan orang ini, dan melihat
potongan tubuhnya dan huncwe yang luar biasa itu, ia menduga bahwa orang ini
tentulah Si Huncwe Maut yang terkenal pula dengan sebutan Ban Sai Cinjin. Akan
tetapi kenapa Ban Sai Cinjin yang disohorkan sebagai seorang pemeluk kebatinan
malah terlihat begini pesolek? Maka Lie Kong Sian merasa ragu-ragu dan hanya
memandang dengan mata menyinarkan cahaya tajam.
Sebaliknya,
kakek yang sebenarnya memang Ban Sai Cinjin dengan tenang keluar dari kuil
diikuti oleh seorang hwesio kecil berkepala gundul dan bermata liar, lalu dia
menjura kepada Lie Kong Sian dan berkata,
“Selamat
datang di kuilku ini, Pek-le-to Taihiap (Pendekar Besar dari Pulau Pek-le-to)!
Sungguh satu kehormatan besar sekali mendapat kunjungan seorang gagah seperti
kau. Hanya anehnya, sepanjang pendengaranku, Lie Kong Sian adalah pendekar
besar yang penyabar dan tenang, akan tetapi kenapa sekarang ia mengunjungi
sebuah kuil dengan pedang di tangan dan iblis maut membayang pada mukanya?”
Ucapan ini
sungguh pun cukup pantas dan merendah, akan tetapi mengandung ejekan, terutama
sekali tekanan kata-katanya.
Lie Kong
Sian juga menjura sebagai balasan penghormatan, lalu bertanya, “Kalau tidak
salah dugaanku, Lo-enghiong (Orang Tua Gagah) tentulah yang disebut Ban Sai
Cinjin si Huncwe Maut. Betulkah dugaanku ini?”
Ban Sai
Cinjin tertawa dengan suara ketawanya yang aneh. “He-he, he-he, he-he,
he-he-he, ha-ha-ha!”
Akan tetapi
dia tidak berkata sesuatu apa pun, hanya dengan amat tenangnya kemudian
mengetuk-ngetuk keluar abu tembakau dari kepala pipanya, lantas dengan masih
tenang seakan-akan sedang menikmati waktu senggang seorang diri, dia lalu
membuka kantong tembakau yang tergantung pada pipa itu, mengeluarkan tembakau
berwarna hitam yang dijemputnya dengan ibu jari, menutup kantong itu kembali
dan menggantungkannya lagi pada pipanya. Dengan mata meram-melek ia
menggelintir-gelintir tembakau itu di ibu jari dan telunjuk tangan kiri, lalu
dimasukkannya ke dalam mulut huncwe tempat tembakau.
Setelah itu,
baru ia memandang kepada Lie Kong Sian yang menjadi gemas juga melihat sikap
yang angkuh dan memandang rendah ini.
“Kau menduga
dengan tepat. Aku telah kenal dengan mendiang gurumu, Han Le Sianjin! Lie Kong
Sian, apakah keperluanmu maka datang mengunjungi kuilku dengan pedang di
tangan?”
Lie Kong
Sian adalah seorang pendekar yang jujur, tabah dan tak suka menyembunyikan
perbuatannya sendiri. Ia tahu bahwa Lu Tong Kui yang terbunuh olehnya tadi
adalah sute dari Ban Sai Cinjin, maka tak perlu kiranya ia menyembunyikan
permusuhannya dengan Bouw Hun Ti dan pembunuhannya terhadap Lu Tong Kui tadi
Maka ia
berkata, “Ban Sai Cinjin, ketahuilah bahwa aku sedang mengejar muridmu Bouw Hun
Ti dan tadi kulihat ia bersembunyi di tempat ini.”
“Hemm,
memang ada muridku Bouw Hun Ti di ruangan dalam, akan tetapi mengapakah kau
mengejar-ngeiarnya dengan pedang di tangan?”
“Muridmu
telah melakukan perbuatan yang jahat! Dia tidak saja membunuh Yousuf yang
menjadi ayah angkat Nyonya Sie Cin Hai, akan tetapi juga ia telah menculik
puteri dari Pendekar Bodoh itu. Kau tahu bahwa aku adalah Suheng dari Pendekar
Bodoh, maka mendengar kekejaman ini tentu saja aku tidak bisa tinggal diam dan
berusaha membalas dendam. Oleh karena itu, perlu pula kau ketahui untuk kau
pertimbangkan, bahwa ketika aku mengejar muridmu tadi, sute-mu Lu Tong Kui ikut
menghalangiku. Sudah kukatakan bahwa aku tidak memusuhinya, akan tetapi ia
terus mendesak dan menyerang sehingga akhirnya ia tewas di ujung pedangku!”
Hampir
meledak rasa dada Ban Sai Cinjin mendengar hal ini, akan tetapi perasaannya ini
sama sekali tak nampak pada wajahnya yang masih saja tersenyum-senyum mengejek.
Akan tetapi, jari-jari tangannya yang masih memasuk-masukkan tembakau pada
kepala pipa itu gemetar sedikit tanda bahwa dadanya bergelora karena marah.
“Hemm, hemm,
jadi kau juga sudah membunuh Sute-ku? Lie Kong Sian! Agaknya kau mengandalkan
kepandaianmu untuk berbuat sesukamu terhadap murid dan Sute-ku. Kau berlaku
sebagai hakim sendiri untuk menghukum mereka. Apakah engkau sama sekali sudah
tak memandang mukaku lagi?”
“Ban Sai
Cinjin, harap kau orang tua suka mempertimbangkan secara baik-baik dan juga
menggunakan cengli (aturan). Muridmu itu sudah melakukan pembunuhan terhadap
diri Yousuf dan menculik pula puteri Sute-ku, berarti bahwa dia sengaja
memusuhi Pendekar Bodoh. Ada pun sute-mu Lu Tong Kui itu, dia mencari
kematiannya sendiri karena dialah yang mendesakku dan menghalang-halangiku
mengejar muridmu yang jahat.”
“Enak saja
kau bicara!” tiba-tiba Ban Sai Cinjin tidak dapat menahan sabarnya lagi dan
matanya bersinar-sinar, dadanya berombak, akan tetapi ia masih sempat
menyalakan api untuk membakar tembakau di kepala pipanya. “Bouw Hun Ti membunuh
Yousuf adalah urusannya sendiri. Mereka sama-sama dari Turki dan urusan antara
mereka tidak ada hubungannya dengan kita! Ada pun mengenai penculikan puteri
Pendekar Bodoh, belum tentu kalau muridku bermaksud buruk. Buktinya, manakah
anak yang diculiknya itu? Kau hanya menuduh secara membuta saja. Sekarang tak
perlu kau banyak cakap lagi, paling perlu kau harus membayar hutangmu dan
membalas kematian Sute-ku!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin menyedot
pipanya dan terciumlah bau asap yang sangat keras memusingkan kepala.
“Bagus!” Lie
Kong Sian berseru marah. “Kau pun hendak membela yang jahat? Majulah, jangan
kira aku takut kepadamu!”
Lie Kong
Sian yang sedang menderita kesedihan hati karena perginya isteri dan anaknya
itu memang adatnya berubah menjadi keras dan mudah marah. Keberaniannya semakin
bertambah-tambah karena ia tidak takut mati lagi setelah hidupnya mengalami
kegagalan dan kepahitan.
“Manusia
sombong! Gurumu sendiri belum tentu berani untuk bersikap sesombong ini di
hadapanku. Nah, kau mampuslah!”
Setelah
berkata demikian, Ban Sai Cinjin lalu menyemburkan asap hitam dari mulutnya.
Semburan ini bukanlah semburan biasa saja, akan tetapi yang dilakukan dengan
tenaga khikang sepenuhnya sehingga asap hitam itu menyambar cepat ke arah muka
Lie Kong Sian! Pendekar ini mengelak cepat karena tahu akan lihainya asap ini.
“Iblis tua,
kau tidak malu menggunakan kecurangan?!” Lie Kong Sian membentak marah dan
menyerang dengan pedangnya.
Akan tetapi
ketika Ban Sai Cinjin menangkis dengan huncwe-nya, diam-diam dia merasa
terkejut sekali karena ternyata bahwa tenaga lweekang dari orang tua pendek itu
bukan main hebatnya dan masih lebih tinggi dari pada tenaganya sendiri!
Maka
bertempurlah dua orang berilmu itu dengan hebatnya. Pedang di tangan Lie Kong
Sian bergerak cepat dan sebentar saja tubuhnya telah lenyap di dalam gulungan
cahaya pedangnya sendiri, sedangkan huncwe di tangan Ban Sai Cinjin benar-benar
luar biasa. Saking cepatnya gerakan huncwe itu, maka yang terlihat hanyalah
sinar kehitaman yang tebal dan kuat, merupakan benteng baja yang diliputi asap
hitam bagaikan kabut, yaitu asap yang keluar dari tembakaunya yang beracun!
Sesudah
pertempuran berjalan seru, barulah kelihatan Bouw Hun Ti keluar dari tempat
sembunyinya dan dengan bertolak pinggang dia lalu menonton pertempuran itu
bersama pendeta cilik gundul yang dahulu hendak membedah perut Thio Kam Seng.
Kebetulan
sekali pada saat itu di tempat itu terdapat seorang penduduk kampung muda yang
datang mencari kayu kering. Ketika ia mendengar suara senjata beradu, ia
tertarik dan datang pula ke depan kelenteng. Sekarang dia berdiri dengan mulut
melongo, ketika menyaksikan pertempuran yang luar biasa dan yang selama hidupnya
belum pernah dia saksikan itu. Ia tidak bisa melihat orang yang sedang
bertempur, hanya melihat gulungan sinar putih keemasan dari pedang Lie Kong
Sian serta gulungan sinar hitam dari huncwe Ban Sai Cinjin!
Dan pada
saat pertempuran telah berjalan lima puluh jurus lebih, datanglah Lo Sian yang
mengintai dari balik gerombolan pohon. Biar pun Lo Sian bukan seorang biasa dan
telah memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi menyaksikan pertempuran ini, ia
menjadi tertegun dan kagum sekali. Belum pernah selama hidupnya dia menyaksikan
pertandingan yang demikian seru dan hebatnya.
Lo Sian
selama ini mengagumi kepandaian suheng-nya, Mo-kai Nyo Tiang Le yang telah
mewarisi semua kepandaian mendiang suhu-nya. Akan tetapi ketika melihat gerakan
dua orang yang sedang bertempur ini, dia merasa ragu-ragu apakah kepandaian
suheng-nya itu dapat menandingi kepandaian Ban Sai Cinjin.
Sebetulnya,
dalam hal gerakan ilmu silat, Lie Kong Sian tak usah merasa kalah terhadap Ban
Sai Cinjin. Kalau saja kakek pesolek itu mempergunakan ilmu silat biasa,
agaknya tak mungkin ia akan dapat melawan Lie Kong Sian sampai sekian lamanya.
Akan tetapi,
Ban Sai Cinjin bukan seorang ahli silat biasa. Di samping ilmu silat dia telah
mempelajari ilmu hoat-sut (sihir) dari bangsa Mongol dan di dalam gerakan
huncwe-nya banyak terdapat gerakan-gerakan aneh yang mempengaruhi pandangan
mata lawan.
Sering kali
huncwe itu membuat gerakan rahasia sehingga tiba-tiba saja Lie Kong Sian merasa
matanya kabur dan pikirannya bingung. Hanya berkat lweekang-nya yang sudah
tinggi dan permainan pedangnya yang memang sudah mendekati kesempurnaan sajalah
yang masih menyelamatkan nyawanya karena lawannya tak dapat mudah membobolkan
pertahanan pedangnya.
Selain ini,
juga dalam tenaga dalam Lie Kong Sian harus mengaku kalah. Tenaga dalam yang
dimiliki oleh Ban Sai Cinjin bukanlah tenaga biasa, akan tetapi tenaga yang
sudah diperkuat pula dengan ilmu hitam dan mantera.
Sebaliknya,
Ban Sai Cinjin merasa kagum dan diam-diam juga merasa sangat penasaran sekali.
Ia adalah seorang yang belum pernah merasa dikalahkan orang, dan huncwe-nya
sudah dikenal oleh seluruh orang gagah di kalangan kang-ouw sebagai senjata
yang tak terlawan sehingga ia dijuluki Huncwe Maut. Akan tetapi, menghadapi
seorang jago muda saja sampai puluhan jurus belum juga ia dapat merobohkannya!
Jangankan merobohkan, bahkan mendesak saja dia pun tidak mampu. Maka, dengan
penuh kemarahan Ban Sai Cinjin membentak,
“Siauw-koai,
Lo-koai, semua tunduk padaku! Lie Kong Sian, ayahmu, kakekmu, gurumu, semua
tunduk kepadaku. Kau juga takut kepadaku!”
Ini adalah
ucapan yang mengandung mantera dan merupakan sihir yang luar biasa, oleh karena
mendadak Lie Kong Sian merasa berdebar-debar dan dalam pandang matanya, Ban Sai
Cinjin nampak sangat menakutkan dan mengerikan hati!
Kalau orang
lain yang menghadapi pengaruh ilmu hitam ini, tentu akan lemaslah seluruh
tubuhnya sehingga akan mudah sekali dirobohkan. Akan tetapi Lie Kong Sian
bukanlah orang sembarangan, tetapi telah bertahun-tahun dia tinggal menyepi
seorang diri di pulau kosong di tengah laut. Telah bertahun-tahun pula dia
melakukan tapa dan semedhi untuk memperkuat batin dan membersihkan pikiran.
Banyak sekali godaan-godaan setan yang dialaminya pada waktu ia menyepi di atas
pulau itu, dan semua rintangan dan godaan itu telah dapat dihadapinya dengan
baik.
Sekarang,
mendapat serangan luar biasa dari Ban Sai Cinjin dengan ilmu hitamnya, biar pun
hatinya berdebar serta rasa takut dan ngeri meliputi hatinya, akan tetapi dia
dapat memperteguh imannya dan permainan pedangnya tidak menjadi kacau.
“Lie Kong
Sian, lihat! Api neraka membakarmu!” teriak lagi Ban Sai Cinjin sambil
tiba-tiba menepuk pipa tembakaunya dengan tangan kiri sehingga api tembakau
lantas memancar keluar dari kepala pipanya itu, menyambar ke arah Lie Kong
Sian.
Pengaruh
ilmu sihir membuat api itu nampak besar bukan main dan menyambar ke arah
kepalanya. Akan tetapi Lie Kong Sian masih dapat berlaku gesit dan tidak
terpengaruh oleh teriakan yang mengandung hawa hitam itu. Dia cepat mengelak ke
kiri dan sungguh pun dia merasa terkejut sekali, namun dia masih sanggup
menyelamatkan diri dari pada serangan api tembakau beracun itu.
Tak terduga
sama sekali olehnya, bahwa diam-diam Bouw Hun Ti yang berwatak curang dan palsu
itu, melakukan kecurangan yang sangat memalukan. Pada waktu Bouw Hun Ti melihat
suhu-nya sangat sukar mengalahkan Lie Kong Sian, orang ini lalu mengeluarkan
gendewanya yang kecil akan tetapi kuat sekali. Melihat bentuknya, gendewa ini
berbeda dengan gendewa yang biasa digunakan orang Tiongkok, karena sesungguhnya
gendewa ini adalah gendewa model Turki.
Sambil
memegang gendewa dengan tangan kiri dan tiga batang anak panah pendek di tangan
kanan, Bouw Hun Ti segera bersiap-siap mencari kesempatan untuk membokong
musuhnya yang sedang bertanding melawan gurunya itu. Kesempatan itu tiba ketika
Lie Kong Sian diserang oleh api dari kepala huncwe Ban Sai Cinjin.
Bouw Hun Ti
melihat betapa Lie Kong Sian mengelak ke kiri dengan muka menunjukkan
kekagetan, maka ia cepat menggerakkan kedua tangannya dan…
“Serrr…!
Serrr…! Serrr…!”
Tiga batang
anak panahnya yang pendek kecil dan warnanya hitam itu meluncur cepat sekali ke
arah Lie Kong Sian. Tiga batang senjata itu menyerang ke arah leher, ulu hati,
dan bawah pusar!
Bukan main
kagetnya hati Lie Kong Sian melihat serangan yang tiba-tiba datangnya dan tak
tersangka-sangka ini!
“Bangsat
curang!” serunya marah dan berusaha menyelamatkan diri dengan mengelak cepat ke
kanan dengan miringan tubuhnya.
Memang
kecepatan gerakannya dapat menolong dirinya dari ancaman tiga batang anak panah
beracun itu, akan tetapi gerakannya ini disambut dengan serangan maut oleh Ban
Sai Cinjin yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selagi tubuh Lie Kong Sian
miring dan dalam posisi yang amat lemah, huncwe-nya menyambar dan...
“Takkk!” huncwe
itu dengan tepat sekali sudah mengetuk kepala Lie Kong Sian di bagian
ubun-ubunnya.
Lie Kong
Sian menjerit ngeri, tubuhnya terhuyung-huyung, terputar-putar dan pedangnya
terlepas dari tangan. Kemudian sesudah berputar beberapa kali, tubuh Lie Kong Sian
terjungkal dan roboh tertelungkup tak bergerrak lagi. Ubun-ubunnya sudah pecah
terkena pukulan huncwe yang hebat itu dan nyawanya melayang pada waktu itu
juga! Lie Kong Sian, suami Ang I Niocu, pendekar besar dari Pulau Pek-le-to,
kini sudah tewas dalam keadaan yang amat mengecewakan!
Lo Sian yang
mengintai dari balik pohon, mengerutkan kening dan meramkan matanya dengan hati
perih dan ngeri. Tanpa terasa pula dua titik air mata melompat keluar dari
sepasang matanya, turun di atas pipinya. Apakah dayanya? Kepandaiannya masih
tidak cukup kuat untuk menghadapi Bouw Hun Ti, apa lagi jika menghadapi
gurunya, Ban Sai Cinjin yang amat tangguh dan kejam itu.
Sementara
itu, Ban Sai Cinjin juga tercengang melihat kecurangan muridnya. Ia menegur
perlahan, “Hun Ti, kenapa kau lancang membantuku? Kau sudah merendahkan
derajatku dengan bantuan tadi dan hatiku tidak merasa puas sungguh pun aku
telah menang dan berhasil merobohkan Lie Kong Sian. Biar pun kau tidak
membantu, akhirnya Lie Kong Sian pasti akan roboh juga di tanganku. Mengapa kau
membantu dengan jalan curang?”
“Teecu tidak
tahan lebih lama lagi melihat orang yang telah membunuh Susiok ini!” jawab Bouw
Hun Ti, dan Ban Sai Cinjin terhibur juga mendengar ini.
Tiba-tiba
dia melihat pemuda kampung itu dan membentak, “Siapa dia itu?”
“Entah,
teecu juga tidak mengenalnya,” jawab Bouw Hun Ti.
“Dia adalah
seorang kampung yang mencari kayu, Suhu,” kata hwesio cilik yang ternyata murid
merangkap pelayan dari Ban Sai Cinjin.
“Celaka, dia
sudah melihat perbuatanku terhadap Lie Kong Sian tadi, dan apa bila hal ini
sampai diketahui orang luar, aku akan mendapat malu!” kata Ban Sai Cinjin.
Tiba-tiba
tubuhnya melompat dan tahu-tahu dia telah berada di hadapan orang kampung muda
yang masih berdiri terbelalak ngeri melihat pembunuhan tadi. Kini ia menjadi
makin ketakutan ketika melihat Ban Sai Cinjin telah berada di depannya dan
sebelum ia dapat melarikan diri, Ban Sai Cinjin menyemburkan asap hitam ke arah
mukanya.
Orang itu
mendekap muka dengan tangannya, terbatuk-batuk beberapa kali seakan-akan tak
dapat bernapas, kemudian tubuhnya terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh telentang
tak bernapas lagi. Mukanya menjadi hitam karena racun yang disemburkan melalui
asap tembakau itu! Dengan amat kejamnya, untuk menolong kehormatan dan namanya
agar jangan sampai ada lain orang tahu akan kecurangannya terhadapi Lie Kong
Sian tadi, Ban Sai Cinjin telah membunuh pemuda kampung itu begitu saja!
“Ha-ha-ha!”
Bouw Hun Ti tertawa girang. “Suhu telah membuat penyelesaian yang amat cepat
dan tepat!”
“Sudahlah,
kau kubur dua mayat itu agar jangan sampai ada orang melihatnya,” kata Ban Sai
Cinjin.
“Suhu,
mengapa menyia-nyiakan kesempatan baik ini?” tiba-tiba hwesio cilik itu berkata
kepada gurunya. “Jantung kedua orang ini masih segar dan mudah sekali diambil!”
Ban Sai
Cinjin tertawa dan berkata kepada Bouw Hun Ti, “Lihatlah, Sute-mu benar-benar
ingin mempelajari ilmu kebal itu dengan sempurna!”
Bouw Hun Ti
hanya tersenyum menyeringai. Dia maklum bahwa suhu-nya mempunyai ilmu kekebalan
yang dapat diturunkan kepada muridnya dengan jalan makan obat yang dicampur
dengan tiga buah jantung manusia!
“Jantung
orang kampung ini tidak bersih, tadi sudah terkena racun, karena itu tidak
dapat digunakan,” kata Ban Sai Cinjin. “Kalau jantung dia itu,” dia menunjuk ke
arah tubuh Lie Kong Sian yang masih menelungkup di atas tanah, “masih baik,
akan tetapi, dia seorang pendekar besar, aku tak sampai hati untuk membelek
dada mengambil jantungnya.”

“Biarlah murid
sendiri yang melakukan hal itu, Suhu,” kata hwesio cilik itu dengan suara
memohon, “setelah itu barulah teecu akan menguburkannya baik-baik.”
“Sesukamulah!”
akhirnya Ban Sai Cinjin berkata sambil tersenyum, dan masuklah dia ke dalam
kuilnya.
“Sute, biar
aku yang mengubur orang kampung ini. Setelah kau selesai dengan yang itu, kau
harus menguburkannya sendiri baik-baik.”
Hwesio cilik
itu mengangguk kepada suheng-nya, lalu dia menghampiri mayat Lie Kong Sian dan
diangkatnya menuju ke belakang kuil. Sedangkan Bouw Hun Ti lalu mengubur mayat
pemuda kampung itu secara sembarangan saja di tempat yang agak jauh dari kuil,
seperti orang mengubur bangkai anjing saja.
Hari sudah
mulai gelap dan suasana malam itu bertambah seram dengan terjadinya dua
pembunuhan itu. Di dalam kamar dekat dapur, hwesio kecil telah menelanjangi
mayat Lie Kong Sian dan juga sudah menyediakan sebilah pisau tajam dan sebuah
mangkok putih tempat jantung yang hendak diambilnya dari dalam dada Lie Kong
Sian.
Kemudian,
hwesio cilik ini mempergunakan pisaunya untuk memotong sedikit rambut dari
kepala Lie Kong Sian dan mengikatkan rambut itu pada sebatang sumpit gading
yang telah disediakan. Ia meletakkan sumpit itu di atas mangkok putih tadi,
lalu ia menyalakan tiga batang hio. Kemudian ia bersembahyang di depan mayat
itu dan berkata,
“Arwah orang
she Lie! Aku, Hok Ti Hwesio, dengan sungguh hati mengundangmu untuk mengajukan
beberapa pertanyaan!”
Dia lalu
membawa hio bernyala itu dan berjalan mengitari mayat Lie Kong Sian tiga kali,
kemudian dia menancapkan ketiga batang hio itu ke dalam mulut mayat Lie Kong
Sian. Sesudah itu, dia mengambil sumpit yang telah diikat ujungnya oleh rambut
Lie Kong Sian tadi, diputar-putarkan di atas hio agar terkena asap hio sambil
mulutnya berkemak-kemik membaca mantera. Lalu dia menaruh sumpit itu di atas
mangkok lagi dan berkata,
“Arwah orang
she Lie! Kalau kau sudah masuk ke dalam sumpit ini, berputarlah!”
Sungguh aneh
sekali dan sukarlah untuk diselidiki mengapa dapat terjadi demikian, akan
tetapi benar saja sumpit di atas mangkok itu lalu terputar-putar bagaikan
digerakkan oleh tangan yang tidak kelihatan!
Hwesio cilik
yang bernama Hok Ti Hwesio itu tersenyum girang.
“Arwah orang
she Lie! Perkenankanlah aku meminjam jantung dari tubuhmu yang sudah tidak ada
gunanya lagi untuk campuran obat membuat kebal tubuhku. Kalau kau setuju,
berputarlah satu kali, kalau tidak setuju, berputarlah tiga kali!”
Hwesio itu
dengan penuh gairah memandang ke arah mangkok dan sumpit. Dan sumpit itu mulai
bergerak memutar satu kali, lalu diam, akan tetapi lalu memutar sekali lagi dan
sekali lagi baru diam tak bergerak! Ternyata bahwa kalau memang benar yang
menjawab itu adalah arwah Lie Kong Sian, maka arwah pendekar itu tidak
menyetujui jantung dari tubuhnya diambil oleh hwesio cilik ini!
Hok Ti
Hwesio mengerutkan kening dan wajahnya menjadi muram. Ia segera mencabut tiga
batang hio itu dengan kasar dari mulut mayat Lie Kong Sian, lalu mengangkat hio
itu tinggi di atas kepalanya sambil berkata,
“Arwah orang
she Lie! Ketahuilah bahwa aku, Hok Ti Hwesio, akan merawat kemudian mengubur
jenazahmu baik-baik! Dengan demikian, aku sudah melepas budi kepadamu, maka
apakah kau tidak mau membalas budi itu untuk bekal naik ke sorga? Nah, sekali
lagi kuminta, arwah orang she Lie, berikanlah jantungmu dengan rela!” Sesudah
berkata demikian, ia lalu menancapkan kembali hio itu ke dalam mulut mayat itu.
Ia menghampiri sumpit di atas mangkok dan berkata lagi,
“Nah,
sekarang jawablah! Berikan jantung tubuhmu padaku, setuju atau tidak?” Kembali
sumpit itu berputar-putar dan masih tetap... tiga kali!
Hok Ti
Hwesio membanting-banting kakinya dengan gemas sekali. Dia mengambil pisau
tajam dari atas meja dan menghampiri mayat Lie Kong Sian yang bertelanjang
bulat dan telentang di atas meja panjang.
“Baik, kau
tidak setuju? Aku tetap akan mengarnbil jantung tubuhmu, hendak kulihat kau
bisa berbuat apa! Sudah mampus kau masih saja jahat dan memusuhi kami, orang
she Lie!”
Dengan muka
kejam hwesio cilik ini lalu mengangkat tangannya hendak menusuk dada mayat Lie
Kong Sian, akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba meniup angin besar dari jendela
dan api lilin menjadi padam! Hok Ti Hwesio terkejut bukan main dan menoleh ke
jendela. Wajahnya menjadi pucat sekali karena ia melihat sebuah kepala
tersembul di jendela dan karena sekarang penerangan lilin telah padam, maka
kepala itu nampak hitam dan besar mengerikan!
Hok Ti
Hwesio biar pun masih kecil, akan tetapi karena telah menerima latihan
ilmu-ilmu hitam, tidak merasa takut terhadap segala setan dan iblis. Akan
tetapi oleh karena tadi ia hendak memaksa membedah dada mayat itu biar pun
arwah si mayat tak menyetujuinya, tentu saja kini menyangka bahwa itu adalah
setan penasaran dari Lie Kong Sian yang datang mengganggu! Ia melemparkan
pisaunya ke bawah dan berlari berteriak-teriak.
“Tolong...
setan... tolong, Suhu... ada setan…!”
Kepala yang
tersembul di jendela itu ternyata memiliki tubuh dan kini tubuhnya bergerak
melompat ke dalam kamar, lalu memondong mayat Lie Kong Sian dan cepat dibawa
lagi keluar! Bayangan yang disangka setan ini ternyata adalah Lo Sian!
Sebagaimana
diketahui, Pengemis Sakti ini mengintai dan menyaksikan betapa Lie Kong Sian
terbunuh dan betapa orang muda kampung yang tanpa disengaja menyaksikan pula
pembunuhan itu, tadi telah dibunuh secara kejam oleh Ban Sai Cinjin. Lalu ia
mendengar tentang permintaan Hok Ti Hwesio yang hendak mengambil jantung dari
mayat Lie Kong Sian.
Lo Sian
tidak berani bergerak di hadapan Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin. Akan ketika
melihat hwesio cilik itu membawa mayat Lie Kong Sian ke belakang, ia lalu
mengikuti dan mengintai dari jendela. Sesungguhnya, perbuatan Lo Sian juga yang
memutarkan sumpit gading tadi, dengan mengerahkan khikang dan meniup dari
jendela, dan dia pula yang meniup padam api lilin!
Ketika mendengar
teriakan Hok Ti Hwesio, Ban Sai Cinjin dan Bouw Hun Ti cepat-cepat memburu dan
mereka masih melihat bayangan Lo Sian membawa lari mayat Lie Kong Sian. Mereka
cepat mengejar, akan tetapi Lo Sian telah menghilang di dalam kegelapan,
sebentar saja Lo Sian telah dapat meninggalkan kedua orang pengejarnya.
“Celaka,
bangsat Lo Sian telah mengetahui peristiwa itu, bahkan dia telah membawa lari
mayat Lie Kong Sian. Hal ini pasti akan berekor panjang sekali,” Ban Sai Cinjin
berkata sambil menghela napas.
“Biarlah,
apakah Suhu takut menghadapi kawan-kawannya?” kata Bouw Hun Ti. “Kalau Pendekar
Bodoh dan yang lain-lain datang, kita gempur mereka!”
“Takut sih
tidak, akan tetapi aku merasa segan untuk bermusuhan dengan orang-orang
kang-ouw. Hidupku biasanya senang dan aman, kini pasti akan menemui gangguan
dan semua ini gara-gara kau, Hun Ti! Karena itu, kau harus memperdalam
kepandaianmu. Aku sendiri sudah malas untuk mengajar dan jalan satu-satunya
bagimu adalah pergi ke tempat pertapaan Supek-mu.”
“Wi Kong
Siansu di Hek-kwi-san?” Bouw Hun Ti bertanya sambil membelalakkan kedua
matanya.
Ban Sai
Cinjin mengangguk. “Ya, selain supek-mu itu siapa lagi yang dapat memperkuat
kedudukan kita dan dapat memberi pendidikan ilmu silat lebih jauh kepadamu?”
“Akan tetapi,
bukankah Suhu pernah menceritakan bahwa Supek telah mencuci tangan dan
mengasingkan diri di puncak Hek-kwi-san, tidak mau turut mencampuri urusan
dunia lagi?”
“Benar,
akan, tetapi aku sudah tahu akan tabiat Supek-mu itu. Dia amat sayang kepada
mendiang Lu Tong Kui yang meski pun menjadi Sute, akan tetapi masih iparnya
sendiri. Ketahuilah rahasianya dulu, bahwa Enci dari Lu Tong Kui pernah
mengadakan hubungan dengan Supek-mu itu! Nah, apa bila kau membawa suratku,
lantas menceritakan tentang tewasnya Lu Tong Kui, tentu dia akan turun gunung
dan memperkuat kedudukan kita.”
“Akan
tetapi, Suhu. Pembunuh Lu Tong Kui adalah Lie Kong Sian sedangkan Lie Kong Sian
telah terbalas oleh Suhu.”
“Bodoh!
Jangan kau beritahukan bahwa pembunuh susiok-mu itu adalah Lie Kong Sian.
Beritahukan saja bahwa pembunuhnya adalah Pendekar Bodoh serta kawan-kawannya,
dan bahwa matinya akibat dikeroyok hingga tidak saja Suheng akan mendendam
kepada Pendekar Bodoh, akan tetapi juga kepada yang lainnya. Pendeknya, kalau
Suheng dapat dibujuk turun gunung dan tinggal di sini bersama kita, jangankan
baru Pendekar Bodoh, andai kata Bu Pun Su bangkit lagi dari kuburan, kita tak
usah takut menghadapinya!”
Bouw Hun Ti
merasa girang sekali. “Dan bagaimana dengan Lo Sian yang membawa lari mayat Lie
Kong Sian itu, Suhu?”
“Serahkan
dia kepadaku. Aku yang akan mencari dan menghajarnya. Kau berangkatlah besok
pagi-pagi ke Hek-kwi-san jangan ditunda-tunda lagi dan aku akan membuat surat
untuk Suheng.”
Demikianlah
pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bouw Hun Ti berangkat ke tempat
pertapaan Wi Kong Siansu, suheng dari Ban Sai Cinjin dengan membawa sepucuk
surat dari suhu-nya itu. Pendeta tua yang disebut Wi Kong Siansu dan yang
menjadi suheng dari Ban Sai Cinjin ini adalah seorang pertapa yang sakti.
Dulu pada
waktu mudanya dia terkenal sebagai seorang yang malang melintang di dunia
kang-ouw dan belum pernah menderita kekalahan di dalam setiap pertempuran.
Bahkan orang-orang ternama dan yang termasuk tokoh-tokoh terbesar di dunia
persilatan seperti Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swi Kiat
Siansu yang terkenal sebagai empat tokoh terbesar dari empat penjuru, merasa
segan untuk bentrok dengan Wi Kong Siansu.
Bukan karena
empat tokoh besar ini merasa jeri dari takut, akan tetapi oleh karena Wi Kong
Siansu terkenal memiliki kepandaian silat yang amat ganas dan dahsyat sehingga
setiap kali dia bertanding ilmu kepandaian dengan seorang lawan, lawan itu
tentu akan tewas di dalam tangannya! Bagi Wi Kong Siansu, hanya ada dua
keputusan dalam tiap pertandingan, yaitu menang atau kalah dan mati! Oleh
karena inilah, maka ia mendapat julukan Toat-beng Lo-mo atau Iblis Tua Pencabut
Nyawa!
Ada pun Ban
Sai Cinjin lalu mengadakan perjalanan pula untuk mencari dan menyusul Lo Sian
yang telah mengetahui rahasianya. Sebetulnya Ban Sai Cinjin tidak takut orang
mengetahui bahwa ia telah membunuh Lie Kong Sian, kalau saja pembunuhan ltu
terjadi dalam sebuah pertempuran yang adil. Yang membuatnya merasa kuatir apa
bila sampai diketahui orang adalah bahwa kekalahan Lie Kong Sian sebenarnya
karena kecurangan yang dilakukan oleh Bouw Hun Ti!
Ban Sai
Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal dan memiliki banyak
sahabat hampir di seluruh daerah. Karena itu dengan mudah dia dapat menyusul
dan mengetahui di mana adanya Lo Sian yang juga banyak dikenal orang.
Kita
mengikuti perjalanan Lo Sian yang membawa lari jenazah Lie Kong Sian. Sesudah
dapat melepaskan diri dari pengejaran Ban Sai Cinjin dan Bouw Hun Ti, Lo Sian
segera masuk ke dalam hutan pohon pek yang bersambung dengan hutan di mana
terdapat kelenteng tempat tinggal Ban Sai Cinjin.
Dia memilih
tempat yang baik, yaitu sebuah bukit kecil di tengah hutan yang amat baik hongsui-nya
(kedudukan tanahnya). Kemudian dengan penuh khidmat dia lalu mengubur jenazah
pendekar besar Lie Kong Sian.
Sampai lama
Lo Sian bersila, di depan gundukan tanah itu untuk mengheningkan cipta. Di
dalam hatinya dia menyatakan terima kasihnya kepada mendiang Lie Kong Sian, dan
juga menyatakan penyesalannya bahwa karena membela dia, pendekar besar itu
sampai menemui maut di tangan Ban Sai Cinjin. Kemudian Lo Sian lalu menanam
satu pohon kembang mawar hutan di depan gundukan tanah itu untuk menjadi tanda.
Sesudah itu,
Pengemis Sakti ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Beng-san untuk
menyusul suheng-nya yang membawa Lili beserta Kam Seng ke puncak bukit itu.
Sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa bahaya besar sedang mengancam dan
mengejar dirinya.
Siapakah
yang menyangka bahwa Ban Sai Cinjin hendak menyusul dan mencarinya? Ia hanya
mencuri mayat Lie Kong Sian dan hal ini bukanlah hal yang terlalu penting bagi
Ban Sai Cinjin. Lo Sian tidak tahu bahwa Ban Sai Cinjin mengejarnya karena ia
dianggap satu-satunya orang yang sudah mengetahui akan rahasia pembunuhan
curang atas diri Lie Kong Sian.
Beberapa
hari kemudian, baru saja Lo Sian keluar dari dusun, tiba-tiba saja di depannya
berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Ban Sai Cinjin telah berdiri di
depannya sambil tersenyum-senyum dengan huncwe mautnya mengebulkan asap hitam!
Ternyata bahwa kakek pesolek yang amat lihai ini telah dapat menyusulnya.
“Ha-ha-ha,
pengemis jembel!” kata Ban Sai Cinjin. “Apa kau kira kau dapat melarikan diri
begitu saja dariku setelah kau mencuri tubuh yang dibutuhkan oleh muridku?”
“Ban Sai
Cinjin,” Lo Sian berkata dengan gelisah, “aku tidak mengganggu muridmu dan
tentang jenazah Lie Kong Sian itu, memang aku yang telah mengambilnya untuk
dikubur sepatutnya. Dia adalah seorang pendekar besar dan sudah sepatutnya
kalau jenazahnya dikebumikan dengan baik. Apakah perbuatanku itu kau anggap
salah?”
“Hemm, Lo
Sian, kau pandai memutar lidah! Kau sudah berkali-kali mengganggu Bouw Hun Ti
mencampuri urusannya. Sekarang kau pun membawa pergi mayat Lie Kong Sian.
Dimanakah mayat itu sekarang?”
“Sudah
dikubur dengan baik,” jawab Lo Sian.
“Bagus, dan
jantungnya tentu sudah rusak. Kalau begitu, kau gantilah dengan jantungmu
sendiri. Hayo pengemis jembel, lekas kau serahkan jantungmu kepadaku, baru aku
mau memberi ampun!”
Lo Sian tahu
bahwa kakek ini sengaja mencari perkara. Bagaimana orang dapat hidup kalau
jantungnya diambil? Ia lalu mencabut pedangnya dan berkata keras, “Kau inginkan
jantung? Inilah dia!” Sambil berkata demikian, Lo Sian lalu menyerang dengan
sebuah tusukan pedangnya yang dilakukan dengan nekad dan cepat, karena ia
maklum bahwa ilmu kepandaian Ban Sai Cinjin jauh berada di atas tingkatnya.
Si Huncwe
Maut tertawa geli. Huncwe di tangannya kemudian bergerak didahului oleh
semburan asap hitam dari mulutnya ke arah muka Lo Sian. Pengemis Sakti tahu
akan berbahayanya asap ini, maka ia cepat melompat ke kiri dan memutar
pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan lawan. Akan tetapi tiba-tiba
saja pedangnya berhenti berputar karena telah tertempel oleh huncwe pada tangan
Ban Sai Cinjin dan tidak dapat digerakkan lagi.
“Lepas!” Ban
Sai Cinjin membentak sambil ia memutarkan huncwe-nya sedemikian rupa sehingga
pedang di tangan Lo Sian ikut terputar, kemudian dengan tenaga tiba-tiba dia
membetot hingga terlepaslah pedang itu dari tangan Lo Sian tanpa dapat dicegah
lagi. Huncwe-nya segera meluncur dengan sebuah totokan hebat sehingga robohlah
Lo Sian tanpa dapat berdaya lagi karena jalan darahnya sudah kena tertotok oleh
huncwe yang lihai itu.
Ban Sai
Cinjin mengempit tubuh Lo Sian yang menjadi lemas itu dan membawanya lari
secepat terbang kembali ke kelentengnya! Setelah tiba di kelenteng yang mewah
itu, dia melemparkan tubuh Lo Sian ke atas lantai, lalu mengambil semangkok
obat yang biru kehitaman warnanya.
“Minum ini!”
katanya dan hwesio kecil muridnya itu memandang sambil menyeringai.
Biar pun Lo
Sian telah lemas dan tidak bertenaga lagi, namun hatinya masih cukup tabah dan
keras, maka dia diam saja. Meski pun mangkok itu telah ditempelkan pada
bibirnya, namun ia tidak mau meneguk obat itu.
“Ehh,
pengemis jembel!” Hok Ti Hwesio si hwesio kecil itu mengeiek. “Kau kelaparan
dan kehausan, minuman seenak ini mengapa tidak mau minum?” Sambil berkata
demikian, hwesio kecil ini menampar mulut Lo Sian yang tidak dapat mengelak
atau mengerahkan tenaga.
“Plakk!”
maka bibir Lo Sian pecah dan mengeluarkan darah.
“Buka mulut
anjing ini!” kata Ban Sai Cinjin kepada muridnya.
Hok Ti
Hwesio yang memang semenjak kecil mendapat pendidikan kekejaman itu sambil
tertawa-tawa kemudian menggunakan kedua tangannya membuka mulut Lo Sian dengan
paksa, lalu mengganjal mulut itu dengan kakinya yang bersepatu kotor sehingga
mulut Lo Sian kini ternganga diganjal sepatu dari hwesio cilik itu.
Ban Sai
Cinjin lalu menuangkan obat mangkok itu ke dalam mulut Lo Sian. Si Pengemis
Sakti mencoba untuk menutup kerongkongannya, akan tetapi Hok Ti Hwesio, si
hwesio kecil yang kejam dan penuh akal itu lalu memencet hidung Lo Sian dengan
kedua jari tangannya.
Lo Sian
terengah-engah dan terpaksa harus bernapas dari mulut dan masuklah obat itu ke
dalam perutnya! Obat itu terasa amat getir dan masam dan setelah masuk ke dalam
perut terasa amat dingin sehingga dia menggigil. Lo Sian berpikir bahwa obat
itu tentulah racun dan ia tentu akan mati, maka sambil meramkan mata ia menanti
datangnya maut. Tak lama kemudian pikirannya menjadi lemah dan sudah tak dapat
digunakan lagi, lalu ia menjadi pingsan tak sadarkan dirinya!
Sesudah dia
membuka mata kembali, ternyata dia telah berada di dalam sebuah hutan seorang
diri. Tidak nampak lain orang di sana dan pikiran Lo Sian masih tidak karuan.
Segala benda di depannya nampak berputar-putar dan sebentar kemudian dia berteriak-teriak,
“Pemakan
jantung...! Tolong... pemakan jantung...!”
Kemudian,
dengan beringas dia pun melompat bangun dan berlari terhuyung-huyung tak karuan
seperti orang mabok. Terdengar dia berteriak-teriak, sebentar menangis bagaikan
orang ketakutan setengah mati, kemudian dia tertawa dengan geli seakan-akan
melihat sesuatu yang amat lucu. Ternyata Lo Sian telah menjadi gila!
Obat yang
dipaksakan memasuki perutnya itu adalah semacam obat mukjijat yang dapat
merampas ingatannya dan membuat dia menjadi gila! Alangkah kejamnya Ban Sai
Cinjin dan muridnya Hok Ti Hwesio.
Ban Sai
Cinjin merasa tidak ada gunanya membunuh Lo Sian, maka timbul pikiran yang amat
keji dan juga cerdik. Ia membiarkan Lo Sian hidup, akan tetapi memberinya minum
racun yang membuatnya menjadi gila sehingga tak mungkin lagi Lo Sian bisa
membuka rahasia pembunuhan atas diri Lie Kong Sian!
Jangankan
mengingat akan hal itu semua, bahkan terhadap diri sendiri pun Lo Sian tak
ingat lagi. Dia tidak tahu lagi siapa adanya dirinya sendiri, dan tidak ingat
pula segala kejadian yang sudah lalu, yang terbayang di depan matanya hanyalah
jantung manusia yang dimakan orang!
Memang,
kasihan sekali nasib Lo Sian yang jatuh ke dalam tangan orang-orang berhati
iblis! Ia merantau tak tentu arah tujuan sebagai seorang gila.
****************
Pegunungan
Ho-lan-san memanjang dan menjadi tapal batas antara Mongolia dengan daratan
Tiongkok Propinsi Kansu. Walau pun pegunungan ini di kanan kirinya, terutama
sekali di bagian utara, merupakan padang pasir yang sangat luas, namun
pegunungan ini cukup kaya akan hutan-hutan dan pepohonan. Hal ini adalah berkat
mengalirnya Sungai Kuning, yang membuat lembah di sepanjang alirannya menjadi
subur.
Oleh karena
itu, tak heran apa bila di tempat yang jauh dari dunia ramai ini telah banyak
orang datang dan desa-desa yang cukup ramai terdapat di sepanjang sungai besar
itu. Dengan adanya Sungai Huang-ho yang tidak pernah mengering ini, lapangan
pencarian nafkah hidup bagi mereka tidak kurang.
Selain
bercocok tanam di lembah yang subur, para penduduk dapat pula bekerja sebagai
nelayan, sebab air sungai mengandung cukup banyak ikan. Selain ini, mereka
dapat pula mengambil hasil hutan terutama kayu-kayu yang keras dan baik untuk
pembangunan.
Pekerjaan
ini makin lama semakin ramai dan bahkan ada beberapa orang yang cukup memiliki
modal lalu mendirikan perusahaan kayu bangunan. Banyak tukang kayu disebar ke
hutan-hutan untuk menebang pohon yang baik kayunya, kemudian kayu yang sudah
menjadi balok-balok besar itu lalu ditumpuk di pinggir sungai, siap dikirim ke
mana saja datangnya pesanan. Untuk mengangkut kayu-kayu balok itu, air Sungai
Huang-ho selalu siap melakukannya tanpa menuntut bayaran sepotong uang pun!
Pada suatu
hari, tiga orang lelaki yang berusia tiga puluhan tahun, bertubuh tinggi tegap
dan nampak kuat, berjalan mendaki sebuah puncak di Pegunungan Ho-lan-san.
Mereka ini membawa alat-alat penebang kayu, yaitu tambang besar yang digulung
dan digantung pada pinggang, sebuah golok dan sebuah kapak besar yang berat dan
tajam.
Ketika
mereka sampai di luar sebuah hutan yang kecil akan tetapi liar dan gelap,
mereka berhenti mengaso dan duduk di atas rumput. Sambil bercakap-cakap mereka
memandang ke arah hutan yang angker itu. Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang
dari hutan itu, membuat bagian tanah di gunung ini nampak paling tinggi
menonjol.
“Sute, aku
masih saja merasa sangsi untuk memasuki hutan ini,” terdengar orang yang tertua
berkata. “Bukankah Suhu sudah berpesan agar kita lebih baik jangan mengganggu
hutan ini? Suhu sendiri katanya mengambil jalan memutar kalau melakukan
perjalanan lewat di sini. Menurut Suhu, bukan karena dia takut, akan tetapi
sungkan menghadapi permusuhan dengan sepasang setan itu.”
“Ah,
Twa-suheng,” kata yang termuda, “mengapa kita harus percaya akan segala tahyul
bodoh dari orang-orang dusun? Mereka itu hanya menyiarkan kabar bohong yang
belum pernah mereka buktikan sendiri. Siapakah orangnya yang pernah melihat
sepasang iblis itu? Aku tidak percaya. Kalau Suhu lain lagi, karena Suhu adalah
seorang pendeta yang menghormati kepercayaan orang lain. Kita adalah
orang-orang muda yang datang dari kota dan memiliki kepandaian, kenapa kita
harus takut terhadap segala tahyul bohong?”
Orang ke dua
menyambung. “Ucapan Sute memang ada benarnya, akan tetapi melihat keadaan hutan
yang demikian liar dan angker, timbul juga perasaan tidak enak di dalam hatiku.
Dunia ini memang aneh dan banyak hal-hal yang belum kita mengerti. Bagaimana
kalau kabar itu ternyata tidak bohong? Bagaimana kalau benar-benar muncul setan
di tengah hari dan menyerang kita?”
“Mengapa
takut?” berkata pula yang termuda. “Percuma saja kita mempelajari ilmu silat
sampai beberapa tahun lamanya, dan percuma pula kita menjadi murid Pek I
Hosiang yang namanya telah terkenal di dunia kang-ouw! Lagi pula, kita bukan
bermaksud buruk. Kita memasuki hutan hanya untuk menebang pohon dan mencari
kayu besi yang amat dibutuhkan. Kui-loya (Tuan Kui) berani membayar kita tiga
kali lebih banyak dari pada kayu-kayu biasa.”
Tiga orang
yang nampak kuat dan gagah ini adalah tiga orang di antara begitu banyak
penebang pohon yang banyak bekerja di daerah ini. Mereka adalah murid-murid
dari Pek I Hosiang, seorang hwesio yang menjadi ketua dari sebuah kelenteng di
dalam dusun tempat tinggal mereka.
Hwesio ini
memang berkepandaian tinggi dan ia mempunyai banyak sekali murid. Boleh
dibilang, lebih tiga puluh orang penebang kayu yang muda-muda dan kuat-kuat
menjadi muridnya! Para penebang pohon ini kemudian menjual kayu yang mereka tebang
kepada perusahaan-perusahaan kayu yang banyak didirikan orang di tempat itu dan
di antaranya yang terbesar adalah perusahaan kayu milik orang she Kui yang
berasal dari kota besar di daerah timur.
Telah
menjadi semacam dongeng yang selama bertahun-tahun amat dipercaya oleh para
penduduk di daerah Pegunungan Ho-lan-san, bahwa daerah puncak yang penuh dengan
pohon-pohon tinggi, jurang-jurang dalam dan goa-goa yang angker itu menjadi
tempat tinggal sepasang siluman atau iblis yang amat jahat. Sebenarnya, belum
pernah terjadi pembunuhan atau penganiayaan terhadap manusia yang dilakukan
oleh sepasang iblis itu, akan tetapi karena perasaan takut mereka, maka
orang-orang lalu bercerita bahwa iblis-iblis yang menjadi penghuni hutan itu
amat jahat dan mengerikan!
Hanya satu
kali terjadi peristiwa yang membuktikan bahwa di hutan itu memang terdapat
makhluk yang sakti, sungguh pun orang tak dapat membuktikan dengan nyata bahwa
makhluk itu adalah iblis atau siluman. Terjadinya peristiwa itu telah dua tahun
lebih, yaitu ketika serombongan piauwsu mengantar seorang hartawan bersama
keluarganya yang melakukan perjalanan. Ketika rombongan ini tiba di tengah
hutan, tiba-tiba, entah dari mana datangnya, terdengar suara bergema di empat
penjuru dan suara ini berkata tegas, “Lekas keluar dari hutan ini!”
Para piauwsu
yang mengawal rombongan ini merupakan orang-orang gagah yang sudah banyak
pengalaman. Mereka tidak gentar menghadapi perampok-perampok dan bahkan jarang
ada perampok berani mengganggu mereka. Akan tetapi, peristiwa ini baru sekali
mereka alami, yaitu adanya suara yang melarang mereka melalui sebuah hutan.
Kepala rombongan itu lalu menjura ke empat penjuru dan menjawab,
“Mohon maaf
sebesarnya dari Tai-ong kalau kami berani berlaku kurang ajar dan melalui
wilayah Tai-ong (Raja Besar, sebutan untuk kepala rampok) tanpa mendapat ijin
terlebih dulu. Kami bersedia membayar uang sewa jalan apa bila Tai-ong
kehendaki, akan tetapi harap Tai-ong perkenankan kami melalui jalan ini”
Untuk
beberapa lama tak terdengar suara sesuatu, akan tetapi mendadak terdengar lagi
suara yang berlainan dengan suara pertama. Jika suara pertama yang mengusir
mereka keluar dari hutan tadi terdengar halus dan nyaring seperti suara wanita,
kini terdengar suara yang juga halus dan nyaring akan tetapi lebih besar
seperti suara seorang pemuda.
“Jangan
banyak cakap! Kami tak butuh segala uang sewa jalan! Pergilah lekas dari hutan
ini!”
Para piauwsu
yang jumlahnya tujuh orang itu menjadi amat penasaran. Mereka mencabut senjata
masing-masing dan memandang ke sekeliling dengan sikap menantang.
“Kalau kami
tidak mau pergi dan tetap hendak melanjutkan perjalanan kami melalui hutan ini,
kau mau apakah?” tanya kepala piauwsu itu dengan marah.
Kini yang
menjawab adalah suara pertama yang masih terdengar halus akan tetapi amat
berpengaruh.
“Terpaksa
kami akan menggunakan kekerasan! Kami memberi waktu sampai ada ayam hutan
berkokok, itulah tanda bahwa kami akan bergerak apa bila kalian belum keluar
dari sini!”
Seorang di
antara para piauwsu itu yang terkenal sebagai ahli senjata rahasia secara
diam-diam mengeluarkan beberapa batang senjata piauw, dan tiba-tiba ia
menyambitkan tiga batang piauw ke arah daun-daun pohon besar dari mana suara
tadi datang.
Akan tetapi
hanya terdengar berkereseknya daun terbabat senjata-senjata piauw itu, dan
selain itu tidak nampak tanda-tanda bahwa di pohon itu terdapat manusianya!
Yang lebih mengherankan, ketiga batang piauw tadi tidak turun lagi ke bawah,
seakan-akan lenyap ditelan oleh daun-daun yang lebat itu.
Para piauwsu
itu saling pandang dengan heran, sedangkan keluarga hartawan itu duduk
berkumpul di dekat kereta dengan muka pucat.
“Tidakkah
lebih baik bila kita mengambil jalan memutar saja?” tanya hartawan itu kepada
kepala piauwsu. Akan tetapi yang ditanya menggeleng kepala.
“Wan-gwe
(sebutan hartawan) tidak tahu. Hal ini adalah soal kehormatan bagi
piauwsu-piauwsu seperti kami. Apa bila kami mengalah begitu saja terhadap
segala penggertak, bagaimana kami dapat menjadi piauwsu?”
Mereka
menanti dengan hati penuh ketegangan dan tiba-tiba saja mereka terkejut ketika
mendengar suara yang mereka nanti-nanti, yakni kokok seekor ayam hutan dari
jauh.
“Waktunya
sudah habis, kalian harus pergi!” tiba-tiba seru suara tadi.
Dan entah
dari mana datangnya, bagaikan meluncur dari atas awang nampak dua sosok
bayangan berkelebat cepat menubruk tujuh orang piauwsu tadi. Para piauwsu itu
terkejut sekali dan cepat memutar senjata untuk menyerang dua sosok bayangan
itu, akan tetapi alangkah terkejut hati mereka ketika bayangan itu lalu
bergerak dengan amat cepatnya, merupakan sinar putih dan merah dan tahu-tahu
semua senjata di tangan para piauwsu itu terlempar jauh!
Sebelum
ketujuh orang piauwsu itu sempat memandang, tahu-tahu mereka merasa sakit
sekali pada pundak mereka. Terdengar jerit mereka susul-menyusul lantas tubuh
mereka roboh tak dapat bangun kembali karena mereka telah terkena tiam-hoat
(ilmu totok) yang lihai. Setelah itu, hanya nampak bayangan dua sosok tubuh
berpakaian merah dan putih berkelebat lenyap di balik serumpun alang-alang!
“Itulah
hukuman bagi tujuh orang piauwsu sombong!” tiba-tiba saja terdengar suara yang
halus itu dari atas pohon. “Naikkan tujuh tikus itu ke atas kereta dan
kembalilah kalian keluar dari hutan ini!”
Dengan
perasaan ketakutan setengah mati, rombongan itu lalu menolong para piauwsu,
menaikkan dan menumpuk tubuh mereka yang lemas itu ke atas kereta lalu
rombongan itu membalap keluar dari hutan!
Maka
tersiarlah berita ini sehingga nama kedua iblis penghuni hutan sangat terkenal
dan sejak saat itu, tidak ada seorang pun berani melangkahkan kaki memasuki
hutan. Siapa orangnya yang tak akan merasa takut dan ngeri mendengar betapa
tujuh orang piauwsu ternama dibikin tak berdaya oleh sepasang siluman yang lihai
itu?.....
Terima kasih telah membaca Serial ini
No comments:
Post a Comment