Cerita Silat Kho Ping Hoo
Serial Petualang Asmara
Jilid 21
KUN LIONG
tidak pedulikan seruan girang kakek berkumis melintang yang agaknya menjadi
pemilik perahu besar itu, dia lantas menyerbu ke depan. Seorang bajak
menyambutnya dengan bacokan golok. Kun Liong miringkan tubuhnya, kemudian
menampar lengan yang memegang golok.
Orang itu
berteriak kesakitan, goloknya terlepas, akan tetapi dia nekat dan menerjang Kun
Liong dengan tangan kanan mencengkeram ke arah leher. Kun Liong menyambut
tangan itu dengan tangkisan, kemudian kakinya menendang.
"Desss!"
Tubuh bajak ini pun terlempar keluar dari perahu besar.
Kun Liong
tahu bahwa pada saat itu pula ada golok menusuk dari belakang mengarah ke
punggungnya.
"Saudara
muda, hati-hati belakangmu...!" Kakek itu berseru.
Akan tetapi
Kun Liong yang sudah menangkap seorang bajak lain, tidak mempedulikan tusukan
itu tapi mengerahkan sinkang-nya. Ujung golok itu tepat mengenai punggungnya,
merobek bajunya sampai terbuka lebar, akan tetapi pada waktu mengenai kulitnya
yang terlindung sinkang dari dalam, golok itu langsung meleset. Kun Liong
melemparkan orang yang ditangkapnya, membalik dan tendangannya membuat orang
yang menusuknya tadi terjungkal, kemudian dia pun melemparkan orang ini ke luar
perahu.
Amukan Kun
Liong membuat para bajak yang terdiri dari orang Nepal berambut panjang dan
orang-orang Han yang kasar itu menjadi jeri. Mereka bersuit panjang dan seorang
demi seorang cepat melompat keluar dari perahu besar.
Para anak
buah perahu besar menjenguk ke luar, melihat betapa para bajak yang pandai
berenang itu saling bantu menyelamatkan diri dengan perahu-perahu kecil mereka
dan sebentar saja perahu-perahu itu lenyap ditelan kegelapan malam.
Kun Liong
dirubung oleh semua orang. Kakek asing itu memerintahkan supaya perahunya
mengambil arah ke utara, menjauhi sebuah pulau yang nampak pada sore tadi,
karena dia menduga bahwa agaknya bajak-bajak itu datang dari pulau itu, daratan
yang terdekat dari situ.
Kun Liong
menghapus peluh dan air laut yang membasahi muka, leher dan kepalanya yang
gundul. Dia dihujani pertanyaan oleh orang-orang yang merubungnya, akan tetapi
karena pertanyaan itu ditujukan dalam bahasa asing, dia hanya tersenyum, tidak
tahu apa yang mereka maksudkan.
"Kalian
telah menolong aku dari laut, sudah semestinya aku membantu kalian mengusir
bajak-bajak jahat itu," katanya berkali-kali karena dia menduga bahwa
agaknya mereka itu menyatakan terima kasih mereka.
Makin
bingunglah Kun Liong ketika muncul dara jelita bermata biru tadi bersama dengan
tiga orang wanita muda lain yang agaknya adalah pelayan-pelayannya. Tiga orang
wanita muda yang rambutnya memakai kerudung, wajahnya manis-manis, sikapnya
genit-genit itu pun menghujaninya dengan pertanyaan, senyuman serta kerling
mata penuh kagum, membuat Kun Liong tersenyum meringis dengan kemalu-maluan
sambil memandang ke arah dara jelita yang semenjak tadi memandangnya dengan
senyum dan pandang mata kagum.
"Ahhh,
ternyata engkau sebangsa pendekar yang sering kudengar diceritakan kakakku. Dan
engkau memang hebat, pendekar gundul...!" kata dara jelita itu.
Kun Liong
tersenyum-senyum sambil menggerak-gerakkan kepalanya yang gundul. Baru sekarang
ini gundulnya tidak dipergunakan orang untuk mengejek atau dianggap pendeta,
melainkan dijadikan sebutan pendekar gundul!
"Aaahh,
aku... aku biasa saja, Nona...!" katanya agak gagap karena sinar mata biru
itu benar-benar mempesona.
"Heiiii,
jangan dirubung seperti ini! Minggir, minggir!" Tiba-tiba kakek asing itu
datang dan sambil tertawa girang dia menyodorkan tangannya kepada Kun Liong.
Tentu saja
Kun Liong tidak mengerti dan memandang tangan yang disodorkan, bahkan otomatis
sinkang-nya bergerak ke arah perut dan dada karena dia mengira bahwa kakek itu
akan menyerangnya!
Sebetulnya
kakek asing itu mengajak ia bersalaman, tanda menghormat bagi bangsanya. Akan
tetapi persangkaan Kun Liong lain lagi. Melihat tangan yang besar dan terlihat
kuat itu diacungkan miring seperti hendak menyodoknya, otomatis ia ‘memasang’
sinkang-nya melindungi perut dan memandang kakek itu dengan sinar mata tajam
penuh selidik!
"Perkenalkan,
saya adalah Richardo de Gama. Siapakah nama Tuan Muda yang gagah perkasa dan
yang telah menolong dan menyelamatkan kami dari serbuan bajak laut?"
Mendengar
ucapan yang kaku akan tetapi jelas itu barulah Kun Liong mengerti bahwa dia
salah sangka, maka ketika tangan itu menjabat tangannya, dan
mengguncang-guncang, dia diam saja tidak menarik tangannya dan balas tersenyum
ramah. Apa lagi mendengar nama itu, teringatlah dia akan Yuan de Gama!
"Nama
saya Yap Kun Liong dan harap Tuan jangan bicarakan tentang pertolongan. Para
bajak itu memang jahat dan pantas diusir. Mendengar nama Tuan, apakah Tuan
masih ada hubungan dengan Yuan de Gama?"
"Yuan...?"
Terdengar seruan halus dan ternyata dara permata biru tadi yang berseru dan
memegang lengan Kun Liong, memandangnya penuh perhatian. "Yuan adalah
kakakku. Apakah engkau kenal dengan Yuan?"
Berseri
wajah Kun Liong. Kiranya dara jelita ini adalah adik perempuan Yuan de Gama.
Dengan mata terbelalak dan terpesona menatap wajah cantik dan mata biru itu,
dia lalu menggumam, "Engkau... Adik Yuan?"
Gadis itu
mengangguk. Manis sekali ketika tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi
putih mengkilap. "Aku Yuanita... Yuanita de Gama."
"Yuanita...!"
Nama yang
terdengar aneh, lucu dan indah bagi telinga Kun Liong, dan pada waktu dia
menyebut nama itu, logat lidahnya juga terdengar aneh dan lucu bagi Yuanita,
lucu akan tetapi menyenangkan sehingga dia tertawa geli.
"Aku
sudah pernah bertemu dan berkenalan dengan dia, seorang pemuda yang tampan dan
gagah perkasa," Kun Liong melanjutkan kata-katanya dengan tulus karena
memang demikianlah dia menyaksikan sikap Yuan de Gama yang pernah bertanding
dengannya dalam beberapa jurus dan pernah dilihatnya ketika pemuda itu
menyelamatkan Li Hwa.
"Ha-ha-ha!
Kiranya sahabat Yuan! Pantas saja begini hebat. Tuan Muda, ternyata engkau
merupakan seorang tamu kehormatan, seorang sahabat baik kami. Terima kasih
kepada Tuhan yang telah mempertemukan kami dengan engkau!"
"Ayah,
pakaian Yap-taihiap (Pendekar Besar Yap) basah semua dan robek-robek. Sudah
selayaknya seorang tamu agung disambut dengan hormat dan baik," kata
Yuanita.
"Ha-ha-ha!
Saking girang hatiku, aku sampai lupa. Terserah kepadamu!" kata kakek itu.
Yuanita
segera memberi aba-aba kepada tiga orang pelayannya. Tiga orang gadis yang
genit-genit itu tertawa, lalu mereka memegang kedua lengan Kun Liong dan
menarik-narik pemuda itu memasuki ruangan perahu di bawah.
"Eh-eh...
apa ini...? Ke mana...? Eh, mengapa menyeret saya...?" Kun Liong
membantah, akan tetapi dia pun tidak tega untuk mempergunakan kekerasan, maka
dia membiarkan dirinya ditarik-tarik oleh tiga orang pelayan muda itu, diikuti
suara ketawa bergelak dari Richardo de Gama dan anak buahnya serta senyum lebar
yang manis dari Yuanita.
Kun Long
yang tersenyum-senyum masam karena malu dan bingung itu ditarik oleh tiga orang
pelayan wanita muda dan genit-genit yang tertawa-tawa itu ke dalam sebuah kamar
di perahu itu.
"Ehh,
kalian ini mau apa?" Berkali-kali Kun Liong bertanya.
Akan tetapi
tiga orang wanita itu mengeluarkan ucapan dalam bahasa asing yang sama sekali
tidak dimengerti oleh Kun Liong. Mereka menunjuk-nunjuk ke sebuah tong kayu
besar bundar yang terisi air jernih.
Karena tidak
mengerti, Kun Liong menghampiri tong air itu dan menjenguk ke dalamnya. Airnya
jernih sekali, akan tetapi tidak ada apa-apanya yang aneh, maka dia tersenyum
menyeringai, memandang tiga orang gadis pelayan itu berganti-ganti lalu dia
mengangkat pundaknya.
"Ini
air... dalam tong, airnya jernih sekali, tapi ada apa?" Kun Liong
bertanya.
Tiga orang
itu saling pandang, lalu saling bicara ramai dalam bahasa yang bagi telinga Kun
Liong seperti kicau burung yang tidak karuan artinya. Kemudian seorang di
antara mereka, yang agaknya sudah dapat ‘memungut’ sepatah dua patah kata dalam
bahasa pribumi, menunjuk ke arah air di tong air itu sambil berkata kaku,
"Mandi...!
Mandi...!"
"Mandi...!"
Dua orang gadis lainnya bersorak dan menunjuk-nunjuk ke tong air.
Kun Liong
terbelalak, "Mandi...?" Dia bertanya dan memandang bingung.
Jadi dia
disuruh mandi? Dipandangnya pakaiannya yang basah kuyup dan robek, dan
hidungnya memang mencium bau amis air laut. Dilihatnya seorang di antara tiga
pelayan wanita muda itu menuangkan sesuatu dari dalam botol kecil dan
terciumlah bau wangi sekali ketika isi botol itu memasuki air di tong.
"Mandi...!"
Tiga orang dara itu berkali-kali mendesaknya.
Kun Liong
semakin bingung. Ahh, lebih baik diturut saja kehendak tiga siluman cantik ini,
pikirnya, kalau tidak tentu mereka tiada akan sudahnya mengganggu dirinya.
"Baiklah.
Aku akan mandi. Nah, kalian keluarlah dari kamar ini!" Telunjuknya
menuding ke arah pintu kamar itu.
Tiga orang
gadis itu saling pandang dan terlihat bingung. Mereka tampak menjadi hilang
sabar dan mendekati Kun Liong, mendorong-dorongnya dengan halus sambil
menunjuk-nunjuk ke arah tong air dan bibir mereka berkata dengan kaku dan
sukar,
"Mandi...
mandi... mandi...!"
Celaka tiga
belas, pikir Kun Liong. Kalau dia menolak dan memaksa diri lari keluar untuk
membebaskan diri dari desakan tiga orang gadis itu, tentu dia akan menghadapi
keadaan yang membuatnya tidak enak dan canggung. Betapa pun aneh dan asingnya,
jelas bahwa pihak tuan rumah bersikap hormat dan baik kepadanya. Agaknya karena
mereka tadi melihat pakaiannya kotor basah dan robek, dia dipersilakan mandi
lebih dulu. Akan tetapi mana mungkin mandi dijaga oleh tiga orang gadis pelayan
yang cantik-cantik, genit-genit, dan cerewet akan tetapi tidak dia mengerti
ucapannya itu?
"Baiklah!
Mandi ya mandi...!" Akhirnya dia berkata kesal dan serta merta dia
meloncat ke dalam tong air!
"Byuuurrr...!"
Air itu sungguh sejuk menyegarkan dan berbau harum!
Bagaikan
induk-induk ayam berkotek, petok-petok dengan sikap yang sibuk sekali, ketiga
orang gadis pelayan itu mengelilingi tong air. Mereka berteriak-teriak tanpa
dimengerti oleh Kun Liong, kemudian seorang di antara mereka agaknya ingat akan
hafalannya dan berkata,
"Pakaian...
pakaian...!"
"Hehh?
Apa? Pakaian...?" Kun Liong tidak mengerti dan tiba-tiba tiga orang gadis
pelayan itu menyerbunya, menarik-narik baju dan celananya dengan paksa untuk
menanggalkan pakaiannya!
"Heiii...
eh-ehh, heeiiittt... aduh bagaimana ini...?" Kun Liong berteriak-teriak,
akan tetapi tiga orang wanita muda itu tertawa-tawa dan tak mau melepaskan lagi
pakaiannya hingga akhirnya baju serta celananya terlepas dan ditarik lolos dari
tubuhnya.
"Wah,
kalian rusuh...! Kalian melanggar susila...! Wah, bagaimana ini...?"
Kun Liong
yang kini telanjang bulat itu merendam tubuh di dalam air dan menggunakan kedua
tangannya untuk menutupi bawah pusar. Hanya kepalanya yang gundul itu masih
kelihatan di atas permukaan air. Kepalanya menjadi merah mengikuti warna
mukanya, merah karena jengah, malu, dan juga bingung dan ngeri!
Akan tetapi
tiga orang gadis pelayan itu tidak mempedulikan semua protesannya. Mereka
melemparkan pakaian kotor itu di sudut kamar, kemudian dengan senyum manis
mereka menyerbu Kun Liong dan mulailah mereka memandikan pemuda itu. Ada yang
menyabuni tubuhnya, ada yang menggosok-gosok kepala gundulnya, dan ada yang
menggunakan air harum itu menyiram mukanya. Sabun itu pun wangi sekali.
Kini
mengertilah Kun Liong bahwa mereka itu ternyata benar-benar sedang memandikan
dirinya! Digosok-gosok dan dipijit-pijit pundaknya, terasa nyaman sekali
sehingga dia tidak meronta lagi. Dia hanya bersandar pada pinggiran tong itu
dengan kedua tangan masih melindungi anggota rahasianya dan matanya merem
melek, bukan karena keenakan saja melainkan karena kadang-kadang terasa pedas
kemasukan air sabun.
Mulutnya
mengomel panjang pendek, sungguh pun bukan omelan marah lagi. "Ihh, kalian
ini apa-apaan sih? Apakah aku ini dianggap bayi? Mentang-mentang kepalaku
gundul... masa ada bayi sebegini besarnya? Sudahlah, sudah... aku bisa mandi
sendiri!"
Akan tetapi
tentu saja tiga orang gadis itu tak mengerti ucapannya dan terus memandikan Kun
Liong sambil bicara sendiri dalam bahasa mereka, tersenyum-senyum dan
kadang-kadang, seorang di antara mereka yang termanis dan tergenit, menggunakan
telunjuk dan ibu jari tangannya mencubit paha Kun Liong.
Menghadapi
tiga dara yang berwajah cantik manis, bersikap lincah dan genit, mencium bau
harum dari air tong, sabun, dan bau harum yang keluar dari rambut dan pakaian
tiga orang pelayan itu, merasakan betapa jari-jari tangan yang amat halus itu
memijit-mijitnya dengan mesra, mendengar suara mereka bersenda-gurau meski pun
dia tidak mengerti artinya, semua ini mendatangkan perasaan aneh pada dirinya.
Debar
jantungnya semakin keras, menggedor-gedor seperti akan memecahkan dadanya,
tubuhnya pun panas dingin dan tegang. Keadaan dirinya ini membuat Kun Liong
menjadi makin bingung dan akhirnya dia maklum bahwa kalau tiga orang pelayan
itu tidak segera pergi, dia tak akan kuat bertahan dan entah akan apa jadinya!
"Sudah!
Sudah... cukuplah! Aku dapat mandi sendiri. Pergilah kalian, pergilah...!"
katanya sambil menggunakan sebelah tangan menepuk-nepuk air sehingga air memercik
ke arah muka tiga orang pelayan itu, sedangkan tangan yang sebelah lagi tetap
digunakan untuk menutupi tubuh bawah.
Karena Kun
Liong mempergunakan sinkang, maka tepukannya itu mengandung tenaga kuat sekali
sehingga percikan air itu terasa pedas dan panas ketika mengenai muka tiga
orang pelayan itu. Mereka menjerit dan mundur kemudian bicara dalam bahasa
mereka dan seorang di antara mereka mengeluarkan setumpuk pakaian yang
ditaruhnya di atas bangku.
"Keluar!
Keluarlah kalian!" Kun Liong berkata sambil menuding ke arah pintu.
Tiga orang
pelayan itu mengangkat pundak, menggerakkan kepala untuk memindahkan gumpalan
rambut yang terurai itu ke belakang, lalu sambil tersenyum dan tertawa-tawa
mereka keluar dari kamar itu.
Bukan main
lega hati Kun Liong. Cepat sekali, takut kalau mereka kembali, dia meloncat
keluar dari tong air. menyambar handuk dan menyusuti tubuhnya yang basah,
kemudian mencari-cari pakaiannya. Celaka, pakaiannya sudah tidak ada lagi, tentu
tadi diambil oleh gadis-gadis itu!
Karena takut
mereka itu kembali sebelum tubuhnya yang telanjang itu tertutup pakaian, dia
segera menyambar pakaian yang ditinggalkan oleh mereka di atas bangku. Ternyata
pakaian itu adalah sepotong celana dan sepotong baju yang bersih dan amat aneh
karena selain jubah berlengan panjang terdapat pula baju berlengan pendek dan
kain pelindung atau pembungkus leher. Terpaksa dia memakai pakaian itu dan
diam-diam dia mengeluh ketika dia melihat tubuh bawahnya yang sudah bercelana.
Celana itu
potongannya sempit sekali sehingga biar pun seluruh pakaiannya tertutup, dia
merasa seperti masih telanjang! Betapa pun juga, ini masih jauh lebih baik dari
pada tidak berpakaian sama sekali. Maka, sambil mengingat-ingat cara Yuan de Gama
berpakaian, dia lalu memakai rompi dan jubahnya, sedangkan pelindung leher itu
hanya dia kalungkan saja di lehernya.
Di ujung
kamar itu terdapat sebuah cermin. Ketika Kun Liong melihat bayangannya sendiri
di cermin itu, dia menyeringai. Betapa lucu keadaannya!
Daun pintu
kamar terbuka, dan terdengar suara halus, "Sudah selesaikah Taihiap mandi?
Kami telah menunggu-nunggu Taihiap untuk makan malam."
Kun Liong
cepat membalikkan tubuh dan memandang Yuanita. Sejenak dia terpesona. Dara ini
agaknya sudah bertukar pakaian. Pakaian dari sutera biru yang panjang sampai ke
kaki, rambutnya disanggul indah dan dihias permata. Teringatlah dia akan
keadaannya sendiri dan tiba-tiba mukanya telah menjadi merah sekali. Dara ini
demikian cantik jelita, sedangkan dia seperti badut!
"Maaf...
aku... aku tentu kelihatan seperti seorang badut wayang!" Akhirnya dia
berkata ketika dia melihat betapa dara itu pun memperhatikannya.
Yuanita
tertawa. Tertawa dengan bebas lepas, tidak malu-malu atau menutupi mulut yang
tertawa dengan tangan seperti kebiasaan dara-dara pribumi. Namun anehnya,
kebebasan dara ini tidak membayangkan kekasaran, padahal tertawa seperti itu
kalau dilakukan oleh seorang gadis pribumi, tentu akan kelihatan kasar dan
tidak sopan!
Kun Liong
menjadi semakin kikuk, mengira bahwa dara itu tentu mentertawakan keadaan
pakaiannya yang lucu dan tidak cocok untuknya itu. "Aku seperti badut
dan... dan Nona... begitu cantik seperti bidadari...!"
Yuanita
menghentikan tawanya dan kini dia memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata
penuh kagum. "Yap-taihiap, engkau mengingatkan aku kepada seorang panglima
muda di Thian-cin yang menjadi utusan Kaisar menemui Ayah. Aku amat kagum
kepada panglima muda itu, tampan, gagah perkasa dan... seperti engkau. Hanya
bedanya, dia angkuh sedangkan engkau begini rendah hati. Hal ini membuat aku
merasa makin kagum kepadamu, Taihiap. Engkau sudah memperlihatkan kegagahan,
menolong kami, engkau begini gagah dan tampan akan tetapi engkau bahkan
merendahkan diri dan memuji-muji orang lain."
Kata-kata
ini membuat Kun Liong makin merasa canggung. "Ahhh, aku... aku orang biasa
saja... seorang gundul yang..."
Kembali
Yuanita tertawa dan melangkah maju, menggandeng lengan Kun Liong sambil
berkata, "Sudahlah, kalau engkau merendah terus seperti itu, aku bisa
menjadi bersedih dan menangis! Ayah sudah menanti kita di ruangan makan.
Hayolah!"
Jantung Kun
Liong berdebar tidak karuan. Sikap dara ini begini bebas. Mana ada seorang dara
jelita yang baru saja dikenalnya telah berani menggandeng-gandengnya seperti
itu. Lengan mereka saling bergandengan, pada saat berjalan kadang-kadang si
pinggul yang meliuk-liuk itu menyentuh pahanya.
Ketika
mereka memasuki ruangan di mana tampak Richardo de Gama sedang duduk menghadapi
meja besar, Kun Liong hendak merenggut tangannya. Apa akan kata ayah dara itu
apa bila melihat mereka bergandengan tangan seperti itu? Akan tetapi agaknya
Yuanita merasa akan gerakannya, maka dara itu menggandeng lebih erat lagi! Hal
ini membuat Kun Liong khawatir sekali dan dia memandang ke arah kakek asing itu
dengan bingung.
Akan tetapi
Richardo segera bangkit menyambutnya dengan tertawa lebar dan wajahnya
berseri-seri. "Aahhh... Yap Kun Liong-taihiap, engkau sudah berganti
pakaian kering? Kau gagah sekali. Silakan duduk dan mari kita makan
bersama."
Yuanita
melepaskan tangannya dan berkata kepada ayahnya, sengaja berbicara dalam bahasa
pribumi supaya tamunya mengerti, "Ayah, Taihiap terlalu merendahkan diri,
bikin orang penasaran saja!"
"Ha-ha-ha-ha,
demikianlah sikap seorang pendekar sejati dari negeri ini, Anakku! Dalam
bicaranya merendah sampai tidak kelihatan, akan tetapi sepak terjangnya
menonjol tinggi penuh kegagahan."
Kun Liong
duduk bersama ayah dan anak itu dan kembali dia merasa kikuk sekali ketika
harus makan dari piring dan menggunakan garpu, pisau dan sendok. Sambil
tertawa-tawa Yuanita mengajarinya, akan tetapi karena tetap kikuk sekali
akhirnya Richardo menyuruh pelayan mengambil sepasang sumpit. Barulah lega hati
Kun Liong dan dia dapat makan seperti yang dikehendakinya.
Mereka makan
sambil bercakap-cakap dan dalam pembicaraan ini Kun Liong mendengar bahwa
ternyata Richardo de Gama adalah pemimpin rombongan saudagar yang hendak
berdagang di Tiongkok. Malah setelah pemberontakan yang dibantu oleh beberapa
orang asing, hal yang tidak disetujui Richardo itu gagal, Richardo sendiri
kemudian mengajukan permohonan kepada Kaisar menemui pejabat, dan akhirnya
dapat bicara dengan utusan Kaisar sendiri serta memperoleh ijin untuk berdagang
di pantai Teluk Pohai.
"Kami
sekarang sedang mencari Kapal Kuda Terbang yang telah disewa oleh rombongan
Legaspi Selado," kakek itu melanjutkan.
"Yang
dipimpin oleh Yuan de Gama?" Kun Liong bertanya.
Kakek itu
menghela napas. "Benar dan itulah kesalahan kami. Kami sudah menyewakan
kapal itu kepada rombongan Selado yang ternyata amat jahat sehingga anakku Yuan
ikut pula terbawa-bawa dan terseret dalam petualangan Legaspi Selado. Mendengar
betapa Legaspi Selado sudah bersekutu dengan pemberontak, aku segera menyusul
ke sini dan hendak membatalkan kontrak persewaan Kapal Kuda Terbang itu karena
telah digunakan untuk pekerjaan buruk."
"Siapakah
sebenarnya Legaspi Selado yang berilmu tinggi itu?" Kun Liong bertanya
lagi.
Sebetulnya
dia adalah bekas seorang jenderal yang telah dipecat oleh pemerintah karena
perbuatannya yang kotor dan berkhianat. Sedangkan anak-anak buahnya itu pun
ternyata adalah orang-orang jahat yang menjadi buruan pemerintah di negara
kami. Anakku Yuan de Gama terpaksa terlibat karena selain dia mewakili aku
menjadi kapten kapal, juga dia menjadi murid Legaspi Selado."
Kun Liong
mengangguk-angguk dan sekarang mengertilah dia mengapa seorang pemuda sebaik
Yuan de Gama sampai membantu orang jahat seperti Legaspi Selado kakek botak
yang lihai itu. "Akan tetapi persekutuan pemberontak itu telah
dihancurkan, tentu Legaspi Selado tidak akan menyusahkan Yuan lagi."
Kakek itu
mengelus jenggotnya. "Hemm... siapa yang tahu isi hati orang seperti
Legaspi Selado? Selama dia masih menyewa Kapal Kuda Terbang, maka Yuan akan
terus terikat. Sebagai kapten kapal, tentu Yuan tidak akan dapat meninggalkan
kapalnya dan apa pun yang dilakukan oleh Legaspi Selado, berarti Yuan akan ikut
terseret."
Setelah
makan mereka bercakap-cakap dan Kun Liong merasa makin suka kepada kakek yang
luas pengetahuannya itu, sebaliknya Richardo juga kagum kepada Kun Liong yang
berwajah jujur dan polos, sepolos kepalanya yang gundul! Mereka bercakap-cakap
di dek perahu itu. Ketika Yuanita muncul, gadis itu berkata,
"Ahh,
kalian berdua bercakap-cakap sejak tadi tiada sudahnya. Ayah, biasanya Ayah
tidak berani terlalu lama terkena angin malam yang membuat Ayah sakit."
Dengan gaya manja gadis itu merangkul leher ayahnya.
Richardo
tertawa, kemudian bangkit berdiri. "Wah, asyik benar bicara dengan
Yap-taihiap, sampai aku lupa waktu. Yap-taihiap, aku hendak mengaso dahulu,
biarlah Yuanita yang menemanimu bercakap-cakap." Orang tua itu lalu
meninggalkan dek dan bangku tempat duduknya kini diduduki oleh Yuanita.
Berdebar jantung
Kun Liong menyaksikan kebebasan kedua orang ayah dan anak itu. Baru sekarang
dia melihat betapa seorang ayah meninggalkan anak gadisnya begitu saja untuk
menemani seorang pemuda bercakap-cakap di dek yang sunyi, pada waktu malam hari
lagi!
"Nona..."
Yuanita
menoleh kepada Kun Liong dan memandang dengan senyum, akan tetapi alisnya
berkerut ketika dia menegur pemuda itu, "Namaku Yuanita, dan setelah
menjadi sahabat, harap jangan menyebut nona lagi kepadaku, Taihiap."
Kun Liong
tersenyum. "Kau mau menang sendiri saja, Yuanita. Aku bukanlah pendekar
besar tapi kau selalu menyebutku taihiap, sedangkan kau, seorang nona yang
cantik dan kaya raya, lagi pula terpelajar dan pandai, begitu merendah minta
disebut namanya saja. Di mana keadilan kalau begini? Kau pun sudah tahu bahwa
namaku Kun Liong."
Yuanita
tertawa dan memegang tangan pemuda itu. "Kau lucu dan baik sekali, Kun
Liong. Aku sungguh merasa gembira dapat bersahabat denganmu. Sama sekali aku
tak mengira bahwa di antara bangsa pribumi di negara ini terdapat seorang
seperti engkau. Aku selalu membayangkan bahwa semua penduduk pribumi memandang
rendah pada semua orang asing, menganggap semua orang asing sebangsa manusia
biadab. Aku membayangkan bahwa semua orang yang disebut pendekar di negaramu
adalah orang-orang kejam yang mudah memainkan pedang memenggal kepala orang dan
mengirim kepala itu sebagai hadiah kepada keluarga musuhnya! Kiranya engkau
sangat baik dan rendah hati, engkau seperti seorang kanak-kanak yang berhati
tulus dan wajar..."
"Wah,
karena kepalaku gundul kau menganggap aku kanak-kanak?" Kun Liong tertawa.
Yuanita juga
tertawa. "Maaf, aku tahu kau bukan kanak-kanak lagi. Tiga orang pelayan
itu menceritakan sikapmu pada waktu kau mandi..."
Kun Liong
cepat menoleh ke kanan dan kiri. "Tiga orang wanita genit itu? Ihhh…,
mereka membikin aku merasa ngeri sekali. Mengapa ada kebiasaan seaneh itu pada
bangsamu, Yuanita?"
"Ah,
mereka hanya pelayan-pelayan dan mereka sudah biasa melayani majikan dan para
tamu pria yang manja."
"Aku
pun tadinya mendengar kabar yang menyeramkan tentang bangsamu, bangsa kulit
putih yang berambut berwarna dan bermata biru. Bahkan aku mendengar bahwa
mereka itu adalah bangsa biadab yang senang makan daging manusia, sebangsa
siluman yang berbahaya dan yang datang ke negeri kami hanya untuk menipu bangsa
kami saja. Akan tetapi setelah bercakap-cakap dengan ayahmu, aku mendapat
kenyataan bahwa ayahmu adalah seorang tua yang luas pengetahuannya, pandai dan
bijaksana. Apa lagi melihat engkau..."
"Bagaimana?"
Yuanita menyambung ketika Kun Liong tiba-tiba berhenti bicara. "Apakah aku
seperti siluman berambut kuning berkulit putih bermata biru yang suka makan
daging manusia?"
"Wah,
sama sekali tidak! Sungguh tolol aku kalau dulu pernah merasa ngeri mendengar
kabar bohong itu. Ternyata di antara bangsamu yang dikabarkan menakutkan itu
terdapat orang-orang seperti ayahmu yang amat bijaksana, seperti Yuan yang
tampan dan gagah berani, seperti engkau yang... yang begini cantik jelita,
jujur dan amat ramah dan baik hati."
"Benarkah
engkau menganggap aku cantik jelita? Bukankah karena perbedaan kulit dan warna
rambut serta mata akan membedakan pula selera pandangan terhadap kecantikan
seseorang?"
"Engkau
memang cantik sekali, Yuanita," berkata Kun Liong sambil memandang penuh
perhatian wajah yang tertimpa cahaya merah dari lampu gantung itu. "Dan
kurasa, cantik tidaknya seseorang tergantung dari rasa suka di hati. Kalau hati
merasa cocok dan suka, tentu kelihatan cantik, sebaliknya kalau tidak tentu
akan kelihatan buruk. Dan agaknya watak dan sikap seseoranglah yang menentukan
cantik tidaknya orang itu. Dan engkau... amat manis dan baik hati, siapa yang
tak akan merasa suka sehingga engkau kelihatan selalu cantik jelita?"
Dara itu
memandang dengan sinar mata bercahaya dan wajah berseri. "Wah, engkau
memang mengagumkan sekali, Kun Liong! Yuan tentu senang sekali denganmu, engkau
tentu menjadi sahabat baiknya!"
"Sayang
bahwa pertemuan antara kami hanya berlangsung sebentar saja," Kun Liong
lalu menceritakan pertemuannya dengan Yuan de Gama yang mengakibatkan mereka
untuk beberapa gebrakan mengadu tenaga.
"Ahhh,
kasihan sekali kakakku itu..." Yuanita berkata sesudah Kun Liong
menyelesaikan penuturannya. "Dia adalah seorang yang berhati baik, akan
tetapi karena dia terlalu suka mempelajari ilmu berkelahi, dia menjadi murid
Kakek Legaspi Selado yang mengerikan itu. Pada waktu kapal Ayah disewa oleh
rombongan Legaspi, Yuan menjadi kapten kapal menggantikan Ayah. Sama sekali
kami tidak tahu bahwa rombongan Legaspi terdiri dari orang-orang jahat. Juga
Yuan sama sekali tidak akan menyangka bahwa gurunya dan rombongannya yang
katanya hanyalah orang-orang pedagang itu bertualang di negaramu dan bersekutu
dengan pemberontak. Yuan terkenal sebagai seorang yang kuat, bahkan Hendrik,
pemuda sombong dan kejam putera Legaspi itu sendiri merasa sungkan kepada Yuan.
Akan tetapi aku tahu bahwa bertemu dengan engkau, dia kalah jauh!"
"Aahhh,
tidak begitu, Yuanita. Kakakmu itu kuat sekali, hanya di antara kami tidak ada
permusuhan, maka kami tak melanjutkan pertandingan itu. Aku hanya seorang biasa
yang bodoh, apa lagi mengenai pengalaman dan ilmu pengetahuan. Jika
dibandingkan dengan Yuan atau engkau, aku bukan apa-apa."
Yuanita
memegang tangan Kun Liong dan memandang dengan sungguh-sungguh.
"Engkau
terlalu merendahkan diri dan inilah yang membuat aku kagum sekali, Kun Liong.
Aku suka kepadamu, dan aku akan... kalau diberi kesempatan... mungkin bisa
jatuh cinta kepada seorang pria seperti engkau ini. Engkau telah menyelamatkan
aku, bukan hanya aku, melainkan juga Ayah serta semua anak-anak perahu ini.
Ayah sendiri yang berkata demikian kepadaku. Orang-orang Nepal itu sangat
ganas, kejam dan kuat, kalau tidak ada engkau, kami semua pasti menjadi korban.
Tetapi engkau masih selalu merendahkan diri. Betapa kuatnya kedua tanganmu yang
tidak kelihatan kasar ini, seperti tangan wanita..." Yuanita menarik kedua
tangan Kun Liong dan mencium tangan itu dengan bibirnya.
Dengan
bibirnya! Kun Liong merasa kecupan bibir hangat pada tangannya dan wajahnya
menjadi merah sampai ke kepalanya, jantungnya berdebar dan dia segera menarik
kedua tangannya.
"Ahhh,
engkau jangan berlebihan, Yuanita..." katanya agak terharu karena
perbuatan dara itu dianggapnya terlalu merendah.
Yuanita
bangkit berdiri sambil menarik tangan Kun Liong. Mereka berdiri berhadapan, dan
Yuanita merapatkan tubuhnya.
"Kun
Liong... kami sudah berhutang nyawa kepadamu dan sebagai tanda terima kasih,
baru mencium tanganmu saja engkau sudah merasa aku berlebihan. Kun Liong, aku
tahu bahwa orang seperti engkau ini, seorang pendekar dari bangsamu, seorang
jantan yang berhati lembut, tentu tak mungkin bisa jatuh cinta kepadaku,
seorang wanita asing yang serba kasar, tidak selembut wanita-wanita bangsamu
yang seperti batang pohon yangliu ditiup angin lembut, yang bersikap malu-malu
dan agung... akan tetapi, untuk menyatakan terima kasihku dengan setulus
hatiku, kau... kau boleh... kalau engkau suka... kau boleh menciumku, Kun
Liong."
Kun Liong
terkejut. Ucapan seperti ini sama sekali tak pernah disangka-sangkanya. Tak
pernah dia berani membayangkan untuk mencium dara itu, seorang dara asing,
puteri seorang hartawan besar dan puteri seorang yang bijaksana dan pandai
seperti Richardo de Gama!
Tentu saja
dia tidak tahu bahwa dara asing dari Barat ini mempunyai kesan lain terhadap
dirinya. Semenjak kecil, seperti anak-anak bangsanya yang lain, Yuanita telah
sering kali mendengar dongeng tentang ksatria-ksatria berbaju besi yang
menyelamatkan puteri dari tangan makhluk-makhluk buas, dan setiap kali seorang
ksatria membebaskan seorang puteri cantik dari tangan makhluk buas dari ancaman
mengerikan yang lebih hebat dari maut, Si Puteri akan menghadiahkan ciuman
mesra dan hal ini biasanya bahkan menjadi tuntutan setiap orangi ksatria!
Kesan ini
amat mendalam sehingga ketika melihat betapa dengan gagah perkasanya Kun Liong
menyelamatkan dia, bahkan juga ayahnya dan seisi perahu dari keganasan bajak,
apa lagi sesudah bercakap-cakap dan melihat sikap Kun Liong yang rendah hati,
timbul keinginan di hati Yuanita unluk bersikap seperti seorang puteri yang
tertolong oleh ksatria, dia menawarkan ciuman kepada pemuda gundul itu.
"Be...
benarkah pendengaranku tadi, Yuanita?" Kun Liong bertanya, suaranya
gemetar karena jantungnya sudah bergelora. Sejak tadi merasakan betapa bibir
yang hangat dan lunak itu mencium tangannya, jantung Kun Liong sudah berdebar
tidak karuan, apa lagi mendengar betapa dara yang mempunyai kecantikan aneh ini
menawarkan ciuman!
"Pendengaran
apa, Kun Liong?" Yuanita bertanya, mengangkat mukanya sehingga makin
mendekat dengan wajah pemuda itu, senyumnya menggoda, matanya setengah terpejam
sehingga bulu matanya hampir merapat dan menjadi tebal menimbulkan
bayang-bayang indah di atas pipinya ketika tertimpa sinar lampu.
"Aku
mendengar bahwa... bahwa... aku boleh menciummu?"
"He-hemmm...
kalau kau suka..."
"Kalau
aku suka...? Tentu saja aku suka..."
"Ihhh,
canggung benar kau..." Yuanita tersenyum lebar mendengar kata-kata dan
melihat sikap pemuda itu.
Kedua
lengannya bergerak merangkul leher Kun Liong dan dara itu dengan tarikan halus
membuat muka Kun Liong menunduk, maka tergetarlah seluruh tubuh Kun Liong ketika
merasa betapa dara itu yang menciumnya! Mencium bibir dengan penuh kemesraan
dan kehangatan.
Ketika dia
mencium bibir Hwi Sian dahulu itu, terdapat kecanggungan dan meski pun dia
senang melakukannya dengan Hwi Sian, namun karena dara itu sendiri pun takut
dan tidak tahu caranya, maka perbuatan mereka itu jauh sekali bedanya kalau
dibandingkan dengan apa yang dia alami sekarang.
Ciuman
Yuanita ini seolah-olah merupakan pertemuan lebih mendalam, antara kedua hati
dan kalbunya, seolah-olah dia merasa dilebur menjadi satu dengan dara ini,
seolah-olah tak ada pemisah lagi antara kedua tubuh mereka. Seperti naik
sedu-sedan dari dada Kun Liong, kedua lengannya mendekap tubuh itu, seluruh
tubuhnya menggigil dan dia tidak dapat menguasai lagi kedua kakinya yang
gemetar dan lemas, membuatnya terhuyung dan akhirnya dia jatuh berlutut sambil
memeluk Yuanita.
"Hmmm...
Kun Liong..." Yuanita berbisik, hanya untuk bernapas saja dan mereka sudah
berciuman pula, kini Kun Liong duduk di atas papan perahu dan dara itu dipangkunya.
Entah apa
yang akan terjadi dengan dua orang muda yang dilanda perasaan mesra yang
biasanya tentu akan membangkitkan birahi itu kalau dibiarkan terlalu lama dalam
keadaan seperti itu. Bagi Kun Liong, Yuanita merupakan seorang dara yang panas,
segar dan berani, seperti gelora air laut di luar perahu itu, merupakan seorang
makhluk aneh yang mempunyai kekuatan luar biasa sehingga membawanya terseret,
hanyut dan tenggelam.
Kun Liong
sudah tidak mampu menguasai hati dan pikirannya sendiri, yang sepenuhnya terasa
hanyalah kelembutan bibir yang mengecup bibirnya, kepanasan hawa dari mulut
yang memabokkan, kehangatan dan kepadatan tubuh yang merapat dengan tubuhnya,
dan dia pun mabuk dibuai alunan nafsu birahi yang belum pernah menyerangnya
sehebat itu!
Nafsu birahi
memang seperti api menjalar, begitu bertemu dengan bahan bakarnya, maka makin
dibiarkan makin menjadi, makin diberi makin menuntut dan tak akan pernah mau
berhenti, tak akan mau sudah kalau belum sampai titik terakhir.
Bagi Yuanita
sendiri Kun Liong merupakan seorang pemuda yang asing dan aneh, dan karenanya
mendatangkan daya tarik yang luar biasa. Sebagai seorang dara berbangsa
Portugis yang jauh lebih bebas dalam pergaulan antara pria dan wanita, sudah
tentu saja dia pernah berkenalan dengan teman pria dan ciuman bukan merupakan
hal baru dan aneh baginya.
Akan tetapi,
belum pernah Yuanita mengalami guncangan perasaan seperti saat itu. Hal ini
terdorong oleh rasa terima kasihnya, rasa kagumnya terhadap Kun Liong, ditambah
keadaan Kun Liong yang asing dan aneh yang membuat pemuda itu merupakan seorang
pemuda atau pria yang lain dari pada yang telah dikenalnya sebelum itu.
Karena itu
dia pun terhanyut oleh gelombang perasaannya sendiri sehingga bersama Kun Liong
dia pun hampir lupa segalanya, hampir tidak mempedulikan lagi segala hal yang
terjadi di luar mereka, dan yang ada hanyalah membiarkan diri terseret oleh
nafsu birahi yang membuai dan melayangkan mereka ke tengah-tengah awan
kenikmatan.
"Tuuuttt...
tuuuut... tuuutttt...!"
Suara bunyi
tanda peluit dari tempat penjagaan di atas ini mengejutkan sepasang orang muda
itu dan serentak Kun Liong melepaskan pelukannya. Untuk sejenak mereka saling
pandang, seperti baru sadar dari sebuah mimpi muluk dan pertukaran pandang ini
cukup menyadarkan mereka benar-benar.
"Ahh...
Yuanita... maafkan aku..."
"Bukan
salahmu... Kun Liong... aku pun membiarkan diriku terseret..."
"Untung
kita lekas sadar, Yuanita. Hampir saja...!" Kun Liong cepat merapikan
pakaiannya sendiri kemudian membantu merapikan pakaian dara itu yang dia
sendiri tidak ingat lagi bagaimana bisa menjadi tidak karuan dan setengah
terbuka seperti itu!
Yuanita
membiarkan dirinya digandeng dan ditarik ke atas. Mereka berdiri berhadapan dan
saling berpandangan. Yuanita memegang kedua tangan Kun Liong.
"Memang...
hampir saja, Kun Liong. Akan tetapi... andai kata terjadi pun, aku.. aku akan
merasa bahagia dan bangga, kalau... kalau... engkau menjadi pria
pertama..."
"Husshh...!
Bagaimana kau bisa bilang begitu, Yuanita? Kita bukan suami isteri, kita tidak
saling mencinta... betapa besar dosaku bila sampai terjadi. Engkau tentu akan
menyesal seumur hidup, dan aku... aku... selamanya akan merasa berdosa
kepadamu."
"Mungkin.
Akan tetapi, kurasa tidak akan sukar bagiku untuk belajar mencintamu, Kun
Liong."

Kun Liong
memandang bingung. Segala ucapan dara asing ini mendatangkan perasaan aneh dan
membingungkan. "Aku tidak tahu... apakah mungkin cinta itu dipelajari?
Betapa pun juga, maafkan aku, Yuanita, aku tadi lupa diri... dan percayalah,
selama hidupku aku tak akan melupakan engkau. Engkau akan selalu kukenang sebagai
seorang perempuan yang amat baik, ramah, lembut dan cantik, jelita, seorang
sahabatku yang luar biasa..."
"Tuut...
tuut... tuuuutttt…!"
Mereka
menengok ke atas kanan dan melihat penjaga di atas tali-temali layar meniupkan
terompetnya yang panjang.
"Ada
apakah?" Kun Liong tertanya, tidak mengerti apa artinya itu.
"Tentu
penjaga itu melihat sesuatu," kata Yuanita.
Terdengar
derap langkah sepatu ke luar dari dalam dan muncullah Richardo de Gama beserta
orang-orang lain. Kakek ini memandang kepada puterinya, kemudian kepada Kun
Liong sejenak, lalu bertanya, "Apa yang terjadi? Kenapa terompet ditiup?
Haiii! Ada apa?" Teriaknya ke atas dalam bahasanya sendiri.
Penjaga di
atas menjawab dengan teriakan parau, "Ada kapal di sebelah kiri!"
"Lekas
nyalakan lampu sorot!" Richardo de Gama memerintah.
Terjadi
kesibukan di situ dan tidak lama kemudian kapal besar itu tampak bayangannya,
seperti seorang raksasa muncul dari dalam kegelapan malam di tengah lautan.
Mula-mula terjadilah pertukaran isyarat melalui gerakan lampu kemudian sesudah
makin mendekat, antara kedua kendaraan air itu terjadi kontak dengan
menggunakan corong dan teriakan mulut.
Terdengar
sorak-sorai di kedua pihak dan semua orang di perahu yang ditumpangi Kun Liong
bergembira ria.
"Apakah
yang terjadi, Yuanita?" tanya Kun Liong kepada dara yang berdiri di
dekatnya.
Yuanita juga
berseri wajahnya ketika menjawab, "Kapal itu adalah Kuda Terbang!"
Tentu saja
Kun Liong terkejut dan juga gembira mendengar ini. "Dan aku akan dapat
berjumpa dengan Yuan di sana?" Dia menuding ke arah bayang-bayang hitam
besar itu.
Yuanita
mengangguk manis "Bukan hanya Yuan kakakku, juga di sana ada pula Legaspi
Selado dan isteri mudanya yang bernama Nina, dan puteranya bernama Hendrik, dan
masih banyak lagi karena semua bangsa kami yang berada di sini sudah berkumpul
di kapal itu."
Terjadi
kesibukan luar biasa ketika perahu besar dan kapal itu saling merapat. Sebuah
anak tangga dipasang dan Richardo de Gama mengajak Kun Liong serta Yuanita
untuk menyeberang ke Kapal Kuda Terbang yang jauh lebih besar dan lebih lengkap
itu.
Kun Liong
turut bergembira melihat Yuan de Gama yang menyambut ayahnya dan adik
perempuannya. Ia amat terharu melihat Yuanita berpelukan dengan kakaknya,
terkenang betapa beberapa saat yang lalu dara yang cantik itu sudah berpelukan
dan berciuman dengan dia! Pada waktu Yuanita membisiki sesuatu kepada kakaknya
dan menoleh, Yuan mengangkat muka memandang.
"Haloooo...!
Bukankah kau Yap Kun Liong-taihiap?" serunya sambil melepaskan adiknya,
kemudian melangkah lebar menghampiri Kun Liong dan mengulur lengan kanannya.
Kun Liong
tidak kaget lagi melihat ini. Dia sudah tahu sekarang bahwa cara pemberian
hormat, atau bersalaman dari orang-orang asing ini adalah dengan jalan berjabat
tangan dan mengguncang-guncangnya. Maka dia menyambut sodoran tangan itu dan
mereka pun berjabat tangan.
"Tuan
Yuan de Gama, sungguh tak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata
Kun Liong gembira.
Yuanita
telah mendekat dan dengan sibuk menceritakan dalam bahasanya sendiri kepada
kakaknya tentang pertolongan yang diberikan oleh Kun Liong kepada anak buah
Perahu Ikan Duyung, yaitu perahu ayahnya itu, ketika Perahu Ikan Duyung diserbu
penjahat.
"Ahhh,
terima kasih banyak, Yap-taihiap..."
"Jangan
menyebutnya taihiap, dia bisa marah. Namanya Kun Liong!" Yuanita mencela
kakaknya.
"Dia
benar, Yuan. Kita adalah sahabat, sebut saja namaku," kata Kun Liong.
Yuan
memandang kepada adiknya, kemudian kepada Kun Liong, lalu tersenyum lebar.
"Apa pula ini? Eihhh, jangan main-main kau, Yuanita. Apakah kau hendak
mengatakan bahwa kau sudah menjatuhkan hatimu di depan kaki pendekar perkasa
ini?" Dia tertawa bergelak.
"Andai
kata benar demikian, apakah engkau tidak setuju?" Yuanita juga berkata
sambil tertawa.
"Tentu
saja!"
Kun Liong
benar-benar terkejut bukan main. Kelakar kakak beradik itu dianggapnya agak
keterlaluan dan luar biasa sekali sehingga muka dan kepalanya menjadi merah
semua. Mengapa mereka bicara demikian bebas, seakan-akan urusan cinta merupakan
hal yang boleh dianggap main-main?
Mereka
menghentikan senda guraunya ketika melihat Legaspi Selado dan seorang wanita
berusia tiga puluh tahun yang amat cantik dan berpakaian mewah, sedangkan
Hendrik Selado berjalan di sebelah wanita ini. Mata pemuda itu memandang kepada
Kun Liong dengan penuh perhatian.
Kun Liong
tidak mempedulikan yang lainnya, dia hanya menatap tajam ke arah Legaspi
Selado, kakek botak gendut yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian tinggi itu.
"Heiii!
Bukankah ini penjahat itu...?"
Tiba-tiba
Hendrik berseru ketika dia sudah datang dekat dan telunjuknya menuding ke arah
muka Kun Liong. "Tidak salah lagi, inilah dia Si Gundul yang dahulu
menolong dan melarikan mata-mata wanita di Ceng-to!"
Ucapan itu
dikeluarkan dalam bahasa asing sehingga Kun Liong tak mengerti maksudnya. Akan
tetapi karena sejak tadi pemuda ini memperhatikan Legaspi Selado maka dia dapat
melihat ketika kakek itu menggerakkan tangan yang memegang cambuk kuda.
"Tar-tar-tarrr...!"
Kun Liong
sudah mengelak cepat sehingga tiga kali serangan itu luput.
"Tuan
Selado, engkau tidak boleh menyerang dia!" Tiba-tiba saja Yuanita lari ke
depan, menghadang di depan kakek yang memegang cambuk itu dengan sikap
menantang dan membusungkan dadanya yang sudah membusung penuh itu.
Cepat sekali
Yuan meloncat ke depan sambil berteriak. "Hendrik, jangan...!" Pemuda
itu sudah memegang tangan Hendrik yang sudah mencabut pistolnya. "Jangan
ganggu dia, dia telah menyelamatkan Perahu Ikan Duyung, menyelamatkan ayahku
dan adikku!"
Menyaksikan
keributan ini Richardo langsung melangkah maju, kemudian segera terjadi
percakapan dan perbantahan antara orang-orang asing itu, ditonton dan
didengarkan oleh Kun Liong yang tidak mengerti artinya, namun dia dapat menduga
dengan mudah, bahwa terjadi perbantahan antara pihak Legaspi dan Hendrik
melawan pihak Richardo dan dua orang anaknya yang membela dia! Terutama sekali
yang sangat mengharukan hatinya adalah sikap Yuanita yang seperti sudah menjadi
seekor harimau betina, sepasang mata biru itu menyinarkan api, rambutnya yang
terkena angin laut itu berkibar-kibar, sikapnya penuh semangat.
Pada saat
terjadi percekcokan itu, nyonya muda cantik yang tadi datang bersama Legaspi
Selado dan Hendrik, mendekati Kun Liong dan menatap wajah pemuda ini dengan
penuh perhatian. Kun Liong dapat menduga tentu inilah yang bernama Nina Selado,
isteri muda Si Kakek Botak itu. Hemmm, seorang wanita yang cantik dan sikapnya
berani dan masak, pikirnya.
"Jadi
engkau adalah seorang yang biasa disebut pendekar-pendekar itu?" tanya
wanita itu dengan suara kaku namun suaranya yang basah dan agak parau
mendatangkan sesuatu yang memikat, juga menyeramkan bagi Kun Liong.
Kun Liong
tidak menjawab, hanya membalas pandang mata itu dengan waspada, karena dia
tidak tahu apakah wanita cantik ini berbahaya pula seperti Legaspi Selado.
Kakek itu
memanggil, "Nina...!" dan wanita itu pergi meninggalkan Kun Liong.
Kemudian, Legaspi Selado, Nina, dan Hendrik pergi memasuki kamar kapal dengan
sikap tidak puas.
Yuan dan
Yuanita menghampiri Kun Liong. "Kun Liong, untung Ayah berhasil menekan
kemarahan Tuan Selado," kata Yuanita. "Dan terutama sekali Yuan
sebagai kapten Kapal Kuda Terbang berkuasa penuh untuk menanggungmu sebagai
seorang tamu yang tidak boleh diganggu."
"Terima
kasih, Yuan. Engkau baik sekali. Akan tetapi, bukankah dia itu adalah gurumu?
Bagaimana engkau dapat menantang gurumu sendiri?"
"Sungguh
pun dia guruku, akan tetapi sebagai kapten kapal, akulah yang menjadi orang
pertama yang berkuasa menentukan segala yang terjadi di atas kapal ini. Aku
memberi tahukan guruku bahwa permusuhan antara dia dan kau terjadi ketika kami
masih bekerja sama dengan para pemberontak di Ceng-to. Karena kita semua berada
di kapal, tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah pemberontakan di darat, maka
saat itu engkau tak bisa dianggap musuh. Mari kita masuk ke kamarku dan kita
berunding bagaimana baiknya."
Kun Liong
mengikuti Yuan, Yuanita dan Richardo de Gama memasuki kamar Yuan yang cukup
luas dan mereka lalu duduk menghadapi meja sambil bercakap-cakap. Dari Yuan,
mereka semua mendengar penuturan mengenai pemberontakan yang gagal dan tentang
usaha pendekatan para pedagang asing itu terhadap pembesar pemerintah.
"Kaisar
sudah bersikap baik sekali kepada kami," Yuan menutup penuturannya dengan
menarik panjang. "Setelah keributan mereda, kami masih diperkenankan untuk
mendarat dan berdagang di sekitar pantai Teluk Pohai. Karena itu, maka aku
tadinya mengambil keputusan untuk kembali ke barat dan mengabarkan kepada para
pedagang yang berniat membawa berang dagangan ke timur. Akan tetapi yang masih
memusingkan adalah sikap guruku, Tuan Legaspi Selado bersama kawan-kawannya.
Mereka itu tidak merasa puas dengan keputusan dan kebijaksanaan Kaisar. Mereka
menganggap bahwa perdagangan di tempat terbatas, yaitu di pantai itu, tidak
akan mendatangkan cukup keuntungan, tidak seperti kalau kita dapat mendarat
sampai ke pedalaman dan langsung membeli rempah-rempah dari para penduduk
pribumi, juga secara langsung menjual barang-barang kepada mereka, tidak
melalui perantara-perantara yang akan memeras di pantai. Karena itu, aku
khawatir sekali akan timbul hal-hal tidak menyenangkan seperti pemberontakan
yang ke dua dan sebagainya..."
"Apa
pun yang akan mereka lakukan asal engkau tidak mencampurinya, Yuan. Lebih baik
engkau membentuk kelompok tersendiri dengan pedagang-pedagang yang jujur dan
yang memang beritikad baik, semata-mata untuk berdagang saja dan tidak ingin
mencampuri urusan pemerintah dan pemberontakan," kata Kun Liong.
"Apa
yang dikatakan Yap-taihiap memang benar, Yuan," kata Richardo de Gama.
"Sejak dulu kita bukan keluarga pemberontak dan petualang. Kita adalah
keluarga pedagang."
Yuan
mengangguk-angguk. "Aku pun tidak suka kalau terseret ke dalam
pemberontakan pribumi terhadap kaisar mereka. Akan tetapi sayang, hal itu telah
terjadi dan tentu kami sudah mendapatkan kesan buruk dari Kaisar. Andai kata
tidak pernah terjadi persekutuan dengan pemberontak terkutuk itu, agaknya pihak
pemerintah akan lebih longgar terhadap kita, apa lagi mengingat akan hubungan
pemerintah yang makin luas dengan luar negeri berkat pelayaran-pelayaran
Laksamana The Hoo yang bijaksana..."
"Ahhhh...
ada jalan untuk berjasa kepada Panglima Besar The Hoo!" Tiba-tiba Kun
Liong berkata, teringat akan bokor emas di Pulau Ular. "Bokor emas pusaka
milik Panglima The Hoo yang hilang itu terampas orang dan kini berada tidak
jauh dari tempat ini. Kalau saja engkau dapat mengembalikan bokor itu dan
menyerahkannya kembali kepada Panglima The Hoo, agaknya engkau akan berjasa
besar dan soal ijin perdagangan ke pedalaman tentu akan ditinjau kembali."
"Ha-ha-ha!
Pendapat yang bagus sekali! Aku setuju seratus persen. Di mana bokor itu?"
Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan tubuh gendut Legaspi Selado memasuki kamar
itu.
Yuan bangkit
berdiri. "Tuan, terpaksa saya menyatakan tidak setuju kalau Tuan hendak
membawa kita memperebutkan bokor emas yang menghebohkan itu, yang bukan menjadi
hak kita!"
Legaspi
Selado menggerakkan tangannya mencela. "Aihh, Yuan. Mengapa begitu bodoh?
Siapa yang ingin merampas bokor? Segala yang sudah kita lakukan, dari
memperebutkan bokor sampai ikut pemberontak, tiada lain hanya untuk mendapat
kesempatan berdagang sebaiknya. Semua usaha kita gagal, sekarang sahabat muda
ini telah menunjukkan jalan yang sangat baik. Kita usahakan agar bokor emas itu
dapat kita peroleh, kemudian kita haturkan kepada Panglima The Hoo, tentu kita
mendapat jasa dan tentang perdagangan, akan mudah saja. Ha-ha-ha! Sahabat Yap
Kun Liong yang baik, di manakah bokor itu?"
Kun Liong
adalah seorang muda yang cerdik. Dia sudah terlanjur bicara, apa bila kini dia
merahasiakan, kakek aneh yang sakti ini tentu akan menjadi penghalang dan
musuh, dan sangat tidak enak kalau terjadi perpecahan di kapal itu. Kakek itu
lihai, baik sekali kalau diajak bersama-sama merampas bokor karena Pulau Ular
merupakan tempat yang amat berbahaya. Apa lagi dua orang datuk itu, Ban-tok
Coa-ong Ouwyang Kok dan puteranya, Ouwyang Bouw, dibantu lagi oleh Toat-beng
Hoatsu beserta semua anak buah mereka, bukan merupakan lawan ringan.
"Memang
kita harus bekerja sama," akhirnya dia berkata setelah semua duduk.
"Bokor emas itu berada di tangan dua orang datuk kaum sesat, yaitu Ouwyang
Kok yang berjuluk Ban-tok Coa-ong dan Toat-beng Hoatsu. Sekarang mereka bersama
anak buah mereka bersembunyi di Pulau Ular, tidak jauh dari sini, di sebelah
selatan Teluk Pohai."
Legaspi
Selado bangkit berdiri, "Yuan de Gama! Kalau begitu kita menunggu apa
lagi? Kita putar haluan, ke selatan mencari Pulau Ular!"
Kun Liong
menyambut pandang mata penuh pertanyaan dari Yuan itu dengan anggukan kepala,
maka Yuan lalu meneriakkan perintah melalui corong supaya kapal itu diputar dan
digerakkan ke selatan, sedangkan Perahu Ikan Duyung mengikuti dari betakang.
Sesudah Legaspi Selado yang kelihatan gembira dan bersemangat itu meninggalkan
kamar, Yuan de Gama berkata lirih.
"Kun
Liong, kenapa engkau membuka rahasia itu kepada guruku?"
"Ssttt...
dia dapat merupakan pembantu yang amat kuat, Yuan. Ketahuilah, bukan hanya
bokor emas itu yang penting. Kita memang harus menyerbu ke Pulau Ular,
sedangkan di sana terdapat dua orang datuk yang sakti bersama anak buah mereka
yang kuat."
"Aku
tidak inginkan bokor emas!"
"Hussshhh,
engkau tidak menginginkannya, akan tetapi kalau kau dapat mengembalikan kepada
Panglima Besar The Hoo, maka jasamu besar sekali. Selain itu, engkau tidak tahu
bahwa kita juga harus menolong Nona Souw Li Hwa..."
Wajah Yuan
de Gama berubah dan dia memegang lengan Kun Liong, mencengkeramnya erat-erat.
"Apa katamu?! Dia... dia... kenapa?"
Yuanita
membelalakkan mata. "Yuan! Siapakah nona itu?"
"Dia
sahabat baikku. Dia seorang panglima wanita yang hebat. Kun Liong, lekas
katakan apa yang terjadi dengan dia?"
"Aku
sendiri belum tahu, akan tetapi yang jelas, Nona Souw Li Hwa sudah melakukan
penyelidikan sendiri ke Pulau Ular yang berbahaya itu sehingga aku khawatir
sekali dia akan menghadapi mala petaka di sana. Karena itu, bukankah tepat
sekali kalau kita pergi ke sana, selain untuk membantu mendapatkan kembali
pusaka Panglima The Hoo, juga untuk melindungi Nona Souw Li Hwa?"
"Jika
begitu kita harus cepat ke sana!" Yuan de Gama kembali menyambar corong
untuk memerintahkan anak buahnya agar melakukan pelayaran secepatnya.
Richardo de
Gama menghela napas panjang, mendekati Kun Liong dan berbisik, "Apakah dia
sudah jatuh cinta kepada panglima wanita itu?" Kun Liong hanya mengangguk
sambil tersenyum, kemudian setelah minta diri, dia mundur dan memasuki kamarnya
yang sudah dipersiapkan untuk dia.
Kun Liong
meniup padam lilin di atas meja kamar kecil itu, lalu menanggalkan pakaian
luarnya dan sepatunya. Setelah dia merebahkan diri di atas pembaringan, dia
termenung. Sungguh banyak pengalaman yang dialaminya selama ini, pengalaman
yang aneh-aneh, terutama sekali pengalaman dengan wanita-wanita cantik. Masih
terasa olehnya saat-saat saling bertukar cumbu rayu dengan Yuanita.
Dalam
kegelapan kamarnya itu, terbayanglah wajah Yuanita yang cantik, juga terdengar
bisikan halus menggetar yang suaranya asing itu. Akan tetapi tak lama kemudian,
wajah wanita yang dibayangkannya ini sudah berganti rupa, berubah menjadi wajah
Yo Bi Kiok, kemudian berubah lagi menjadi wajah Souw Li Hwa, wajah Cia Giok
Keng, dan akhirnya berubah menjadi wajah Lim Hwi Sian yang tak akan pernah
dilupakannya! Diam-diam Kun Liong menghela napas panjang.
Kenapa
hidupnya terisi oleh pertemuan-pertemuan yang mengesankan dengan berbagai gadis
cantik itu? Dan mengapa setiap kali bertemu dengan dara jelita, dia merasa
tertarik dan suka? Apakah ini yang disebut mata keranjang? Apakah dia mata
keranjang? Adakah di dunia ini seorang pemuda yang tidak suka melihat dara
jelita? Apakah hanya dia yang selalu merasa tertarik, ingin bercakap-cakap
dengan mereka, ingin bersahabat dengan mereka dan ingin... mencium bibir yang
segar kemerahan itu? Kotorkah pikiran seperti ini? Dia tidak dapat menjawab dan
kembali dia menarik napas panjang.
Kau mata
keranjang, tolol, dan anak durhaka! Dia memaki diri sendiri. Sampai selama ini,
dia masih belum berhasil mendengar berita tentang ayah bundanya. Dan tak ada
sebuah pun di antara tugas-tugasnya yang dapat dia selesaikan dengan baik!
Mencari orang tua belum ada hasilnya. Urusan bokor emas yang sudah berada di
tangannya malah menjadi berlarut-larut dan makin sulit diperoleh. Usaha
mengembalikan pusaka Siauw-lim-pai dan minta pusaka itu kembali dari
Kwi-eng-pang juga belum berhasil. Sekarang ditambah lagi dengan tugas membantu
dan menyelamatkan Souw Li Hwa!
Sekali ini
dia harus berhasil. Meski pun Pulau Ular kabarnya berbahaya, akan tetapi Kapal
Kuda Terbang itu amat besar dan kuat, diperlengkapi pula dengan senjata meriam.
Juga dia memperoleh bantuan orang-orang pandai seperti Legaspi Selado, Hendrik,
Yuan dan semua anak buah mereka.
Kalau dia
berhasil membantu Li Hwa, apa lagi berhasil merampas kembali bokor emas,
berarti semua jerih payahnya tidak sia-sia. Dia harus segera menyelesaikan
urusan ini, kemudian dia harus mencari orang tuanya. Dia harus mengerahkan
seluruh perhatiannya untuk mencari jejak orang tuanya.
Urusan
pribadi ini sebetulnya paling penting dan jantungnya berdebar agak tegang penuh
kekhawatiran bila dia teringat akan ucapan Pendekar Sakti Cia Keng Hong. Bukan
hanya kekhawatiran kosong yang diucapkan supek-nya itu. Jika memang ayah
bundanya masih hidup di dunia ini, kenapa sampai sekian lamanya mereka diam
saja dan tidak ada kabar beritanya sama sekali? Orang-orang gagah perkasa
seperti ayah bundanya tidak mungkin menyembunyikan diri karena takut akan
sesuatu!
Malam mulai
larut dan Kun Liong yang tenggelam dalam lamunannya, mulai berselubung rasa
kantuk. Dia sudah memiliki pegangan atau rencana masa mendatang, yaitu setelah
selesai dengan urusan Pulau Ular, dia akan meninggalkan semua urusan lain
kemudian mencurahkan perhatian seluruhnya dalam mencari orang tuanya. Rencana
yang menjadi pegangan ini melegakan hatinya.
Dia hampir
tertidur pulas ketika tiba-tiba pintu biliknya dibuka orang dari luar.
Mula-mula, sesuai dengan ilmu silat yang telah mendarah daging dalam tubuhnya,
pada saat itu juga semua urat syarafnya telah menegang dalam kesiap siagaan
menghadapi suatu ancaman bahaya. Namun ketika melihat bayangan tubuh yang
tersorot penerangan dari luar kamar, ketegangannya menjadi meningkat tapi
sifatnya berubah, bukan tegang karena khawatir, melainkan karena heran.
Jelas tampak
sesosok bayangan tubuh yang berpinggang ramping, tubuh seorang wanita! Yuanita?
Dadanya berdebar keras. Benarkah Yuanita yang masuk? Alangkah beraninya
memasuki kamarnya yang gelap. Akan terulang lagikah peristiwa yang memabokkan
itu? Sekarang amat berbahaya karena mereka berada di dalam kamamya, kamar yang
gelap!
Timbul
kekhawatiran dalam hati Kun Liong. Dia ingin melompat, ingin menyalakan lampu
di kamarnya, ingin membujuk agar Yuanita tidak melanjutkan niatnya, agar dara
itu keluar dari kamar, pergi meninggalkannya. Akan tetapi semua keinginannya
itu tertunda ketika dia mendengar suara lirih, suara wanita yang basah merdu,
"Tuan...
kekasihku..." Suara yang basah parau namun lunak merdu, suara Nina!
Kun Liong
terpesona dan seperti seekor kelinci mencium bau harimau, dia bangkit duduk,
kemudian mengambil keputusan untuk cepat meninggalkan kamar itu karena
keadaannya amat ‘berbahaya’. Tanpa berkata apa-apa dia lalu meloncat dan lari
dari kamarnya.
Akan tetapi
baru saja keluar dari pintu, dia sudah diserbu wanita itu, dirangkul dan
ditarik kembali ke dalam kamar yang gelap! Wanita itu melempar daun pintu
tertutup, kemudian terdengar langkahnya mendekatinya, membuat Kun Liong
menggigil dan duduk di atas pembaringannya, tak dapat mengeluarkan suara
sedikit pun.
"Yuan...
gelap amat..." wanita itu berbisik lagi.
Akan tetapi
kini dua buah tangan meraba pundak Kun Liong. Dua buah lengan merangkul dan
sebuah tubuh yang lunak hangat mendekapnya, sepasang bibir yang basah dengan
napas terengah-engah menjelajahi mukanya untuk kemudian berhenti mengecup
bibirnya dalam sebuah ciuman yang membuat Kun Liong hampir pingsan!
Tak pernah
Kun Liong dapat membayangkan akan ada ciuman seperti itu! Yuanita sudah
merupakan pengalaman luar biasa ketika menciumnya, akan tetapi dibandingkan
dengan ini, Yuanita bukan apa-apa! Ciuman wanita ini seolah-olah menembus
jantungnya, terasa sampai di tulang sumsum sehingga membuat seluruh tubuh Kun
Liong panas dingin, kaki tangannya menggigil, kepalanya berdenyut dan pandang matanya
berkunang! Dahsyat!
"Haiiiii...!"
Mendadak Nina berteriak lirih, tangan wanita yang halus itu membelai, meraba
muka dan kepala yang gundul, kemudian terdengar wanita itu menahan tawa,
terkekeh genit. "Kaukah ini...? Kau... pemuda yang katanya seorang
pendekar yang sakti? Ahhh, aku mendengar bahwa seorang pendekar memiliki
kekuatan yang luar biasa... aku kagum padamu..."
Kun Liong
gelagapan ketika wanita itu merayunya, membelai, memeluk dan menciumnya. Ucapan
Nina dalam bahasa daerah bercampur bahasa asing membuatnya bingung. Bau minyak
wangi yang aneh memabokkannya, dan terutama sekali tubuh wanita yang hidup
mendekapnya itu membuat Kun Liong kehilangan akal.
"Jangan...
Nyonya... jangan... maafkan aku, harap suka tinggalkan aku, aku... aku takut
kalau ketahuan orang..." katanya gagap.
"Hi-hik-hik,
beginikah pendekar? Mengapa penakut? Tidak sukakah kau kepadaku? Tidak
senangkah kau kucium seperti ini?"
Nina kembali
menciuminya, mencium kepalanya, mukanya, bibirnya dan kedua lengannya merangkul
ketat sehingga tubuh Kun Liong menjadi panas dingin dibuatnya.
Kun Liong
hanyalah seorang manusia biasa, seorang pria muda yang tentu saja berdarah
panas. Menghadapi rayuan yang amat luar biasa itu, hampir dia tidak mampu
menahan dirinya. Tubuhnya panas dingin dan gemetar, dan seperti seorang yang
mabok, pandang matanya berkunang.
Tubuh wanita
yang masak itu kelihatan luar biasa menariknya tersorot cahaya remang-remang
dari sinar lampu yang memasuki kamar itu melalui celah-celah jendela dan pintu.
Akan tetapi dia masih teringat bahwa wanita ini adalah isteri dari Legaspi
Selado, bahwa merupakan perbuatan terkutuk untuk berjinah dengan isteri orang
lain! Ingatan ini lantas mengeraskan hatinya dan dia mendorong tubuh wanita itu
dengan halus.
"Nyonya,
jangan lakukan ini! Jangan lanjutkan perbuatan gila ini!" katanya lirih.
"Ahhhh...
berani engkau menolak aku? Engkau yang sudah menggigil penuh nafsu ini...
hi-hi-hik, orang muda yang kuat, jangan kau berpura-pura alim..."
Mereka
seperti bergulat. Kun Liong mencegah ada pun wanita itu hendak menggelutinya.
Pada saat itu terdengar suara Yuan,
"Kun
Liong, dengan siapakah kau di dalam?"
Kun Liong
terkejut bukan main. Apa lagi pintu kamar itu terbuka dari luar dan Yuan de
Gama masuk membawa sebuah lampu! Kun Liong cepat meloncat menjauhi Nina dan
membetulkan kancing bajunya yang hampir terlepas semua. Wanita itu hanya
tersenyum dengan mulut agak terengah, matanya seperti mata seekor singa
kelaparan!
"Yuan...
dia... dia ini..." Kun Liong berkata gagap.
Yuan
mengangguk. "Aku tahu, Kun Liong. Karena itu aku masuk ke sini untuk
menolong dan membebaskanmu dari harimau betina kelaparan!"
Lega rasa
hati Kun Liong. Dia memandang kepada sahabatnya itu penuh terima kasih,
kemudian tanpa berkata apa-apa dia meloncat keluar dari kamar, langsung menuju
ke dek kapal untuk mencari ‘hawa segar’.
"Nina,
sungguh kau terlalu sekali! Dia adalah penolong dan tamu terhormat, mengapa kau
begitu tidak tahu malu untuk..." Yuan de Gama menegur wanita muda yang
kini duduk di pembaringan Kun Liong dengan baju atas setengah terbuka
membayangkan dada yang membusung penuh, yang tersenyum dengan muka kemerahan,
dengan mata mengerling basah ke arah Yuan, senyum yang penuh ejekan dan
tantangan!
"Yuan,
kau tidak tahu. Semua ini gara-gara engkaulah! Betapa rinduku kepadamu hampir
tak dapat aku menguasai diriku lagi, dan kau selalu berpura-pura, selalu
menjauhkan diri setelah dahulu..."
"Cukup,
Nina! Satu kali itu saja sudah cukup. Aku pernah gila, akan tetapi semua adalah
karena bujuk rayumu. Aku tidak akan mengulanginya lagi perbuatan terkutuk kita
itu!"
"Hi-hi-hik,
Yuan! Ketahuilah, aku tidak sengaja masuk ke kamar ini. Siapa sudi bercumbu
dengan Si Gundul itu kalau ada engkau di sini? Kukira ini kamarmu, aku lupa
bahwa kau memberikan kamar ini kepada Si Gundul. Aku salah masuk, dan karena
sudah terlanjur, untuk menutupi maluku, aku... hemmm... dia pun..."
"Sudahlah,
Nina. Tak perlu kau berpura-pura. Aku mengenal pemuda seperti Kun Liong,
seorang pendekar sakti, seorang jantan sejati yang tak mungkin akan sudi
mengganggu seorang wanita kalau tidak kau bujuk rayu. Keluarlah dari kamar ini
sebelum Tuan Selado mengetahuinya sehingga terjadi hal yang memalukan."
Tetapi Nina
malah bangkit, dengan melenggang-lenggok menggairahkan dia menghampiri Yuan de
Gama, merangkulnya dan berkata dengan sikap dan suara manja. "Yuan, tidak
kasihankah kau kepadaku? Aku rindu kepadamu, aku cinta kepadamu..."
"Diam!"
Yuan merenggutkan tubuhnya terlepas dari pelukan wanita itu. "Orang
seperti kau tidak patut bicara tentang cinta! Dan aku tidak cinta kepadamu!
Ketahuilah, hanya ada seorang wanita saja di dunia ini yang benar-benar patut
kucinta, yang kucinta sepenuh nyawaku. Dia adalah Souw Li Hwa!"
Kun Liong
yang sudah kembali dan mendengar dari luar, terkejut dan menyelinap pergi, akan
tetapi dia tidak mengira bahwa pemuda asing itu akan terang-terangan mengaku di
depan Nina bahwa dia hanya mencinta Li Hwa seorang. Diam-diam Kun Liong merasa
terharu dan kasihan kepada Yuan de Gama.
Li Hwa
adalah seorang gadis gagah perkasa dan keras hati, murid tunggal Pendekar Sakti
The Hoo yang berkedudukan tinggi. Mungkinkah seorang dara seperti Li Hwa akan
dapat membalas cinta seorang pemuda asing seperti Yuan de Gama?
Terjadi
kegaduhan di kamar itu karena dengan berkeras Yuan menolak bujuk rayu Nina.
Akhirnya tampak oleh Kun Liong yang menyelinap bersembunyi betapa Nina berlari
keluar dari kamar itu sambil terisak menangis. Diam-diam Kun Liong merasa
kasihan juga pada wanita itu, maka dia menyelinap dan membayangi dari jauh
untuk melihat apa yang akan terjadi dengan wanita yang dianggapnya bernasib
malang itu.
Biar pun dia
sendiri belum berpengalaman, namun dia dapat merasakan bahwa wanita itu
tersiksa oleh nafsunya sendiri, nafsu yang mendesak-desaknya sehingga
membutuhkan penyaluran. Akan tetapi celaka bagi wanita itu, dua orang pria muda
yang ditemuinya, dia sendiri dan Yuan de Gama, tidak bersedia melayaninya...
Terima kasih telah membaca Serial ini.
No comments:
Post a Comment